Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Chapter 2 update! Ichiruki scene mulai banyak disini...Makasih banyak untuk para reviewer, membuatku semangat untuk meneruskan fic ini and.. juga for all readers yang tidak mereview~ Arigatou, minna-san ^^ Happy reading..hihiihi

~000*000~

Chapter 2 : Spring Scene Two

Kelopak bunga sakura yang berguguran di luar jendela membuat hari ini semakin terasa menyenangkan. Cuaca cerah dan berlangit biru, sungguh latar yang sempurna untuk musim semi ini—musim yang sangat kusukai. Cuaca hangat dan sejuk, tidak membuat tubuhmu bergidik kedinginan ataupun gerah kepanasan. Musim yang paling normal dari semua musim yang ada di Jepang, itu menurutku. Segera kubereskan meja belajarku sambil mendengar dentangan bel sekolah yang menandakan jam belajar telah usai. Kumasukkan beberapa buku ke dalam tasku dan beberapa sengaja kutinggal di loker meja untuk pelajaran esok hari. Aku mulai merencanakan daftar apa yang akan kulakukan setelah pulang sekolah nanti. Karena jam kerja part-time hari ini libur, jadi aku bisa menghabiskan waktuku di rumah, menyelesaikan cerita bergambar Chappy-ku dan mengajak Hisana nee-san berkebun. Beberapa bunga di pekarangan rumah belum sempat ditata kembali sehabis musim dingin kemarin, kami bisa menghabiskan waktu sore bersama sambil meminum teh caramel hangat buatan nee-san—benar-benar hari yang sempurna.

"Kau kenapa senyum-senyum sendiri, Rukia?"

Aku terlonjak kaget dengan teguran orang di sebelahku, Rangiku-san. Dia sudah membangunkanku dari lamunan indahku—perencanaan waktu senggang Kuchiki Rukia di musim semi.

Aku mengerutkan alisku, memberi tatapan sedikit sinis pada senpai yang sekarang sudah menarik perhatian beberapa orang di kelasku—sebagian besarnya murid laki-laki. Gelar siswi terpopuler yang disandangnya tidak membuatnya sadar, bahwa dia selalu menjadi pusat perhatian seluruh murid sekolah—entah karena sifatnya yang cuek atau karena kepolosan yang sering dibuat-buatnya untuk menarik perhatian beberapa laki-laki. "Rangiku-san..ada apa?"

"Kau kosong hari ini?" tanyanya dengan senyum lebar, jenis senyum yang menyembunyikan sesuatu dibaliknya.

"Ya, tapi aku—"

"Bagus! Kau ikut denganku!" tiba-tiba saja dia menarik lenganku dan menyeretku keluar kelas.

"Tu..tunggu Rangiku-san! Kita mau kemana?" tanyaku panik. Sekarang jadwal soreku terancam batal karena ulahnya.

"Pokoknya ikut saja! Momo akan segera menyusul kita begitu urusannya dengan Ukitake-sensei selesai."

"Momo? Kalau kau berencana pergi untuk mengincar laki-laki yang akan menjadi korbanmu berikutnya, aku tidak ikut," kataku tegas, berusaha menepis tangannya, tapi sia-sia.

"Oh, ayolah Rukia. Aku tidak mengincar korban untuk hari ini, kok. Lagipula kau masih berhutang padaku!" katanya sambil memasang tampang memelas, tapi itu tidak akan berhasil kepadaku.

Aku melipat tanganku di depan dada, memasang sikap defensif sambil menatapnya tajam, "Setiap kali kau berkata tidak itu artinya iya, Rangiku-san. Dan apa maksudmu aku berhutang padamu?"

"Heh..jadi kau tidak ingat kalau aku sudah membantumu waktu itu? Mengenalkanmu pada Kurosaki Ichigo." Sekarang dia memasang tampang liciknya sambil tertawa geli.

"I..Ichigo? Membantu dari mananya? Kau melanggar aturan kerja, Rangiku-san!" kataku kesal, jantungku langsung berdetak kencang. Entah kenapa begitu mendengar namanya atau mengingat wajah si rambut orange itu selalu mengusik detak jantungku, mukaku yang memanas tiba-tiba, bahkan konsentrasiku seringkali terpecah.

"Melanggar aturan kerja apanya? Kau terlalu kaku, Rukia. Ngomong-ngomong bagaimana hubungan kalian? Sudah bertukar nomor?"

"Rangiku-san!" teriakku kesal, tapi malah membuatnya semakin tertawa geli.

"Rukia! Rangiku-senpai!" suara Momo memecah percakapan tidak penting kami. Dia berlari dari ujung koridor ke arah kami sambil melambaikan tangan. Berbeda dengan orang di sampingku, Hinamori Momo adalah gadis yang polos sekaligus kikuk, tidak seperti Rangiku-san yang berani dan selalu menjadi pusat perhatian orang—karena tubuhnya yang bagaikan model dan dadanya yang...diatas rata-rata ukuran normal. Kadang aku dan Momo selalu dibuat minder olehnya, melihat ukuran tubuh kami yang berbanding terbalik dengan Rangiku-san—terlalu kurus dan pendek. Olahraga dan minum susu setiap paginya tidak membuat tubuhku berkembang, kadang membuatku jengkel dan melampiaskannya dengan makanan—tragisnya juga tidak membuat berat badanku bertambah.

"Bagaimana? Rukia juga ikut ke Athle—"

Tiba-tiba Rangiku-san menutup mulut Momo, membuatku semakin mencurigai tindak lakunya. "Kenapa kamu menutup mulutnya?"

"Tidak ada apa-apa! Ayo kita pergi! Berdiri disini dan terus berdebat akan membuang banyak waktu," katanya antusias dengan nada suara yang dibuat-buat. Rangiku-san langsung menarik lenganku dan Momo sebelum aku sempat berkomentar dan segera melangkah keluar dari sekolah.

(..)

(..)

(..)

Sudah kuduga dia akan membawaku ke tempat yang diinginkannya—tanpa persetujuanku—dan aku tidak menyangka akan datang kesini. Gerbang sekolah Athlethic Society High School menjulang tinggi di depanku, terkesan lebih elit daripada Society High School—sekolahku. Dua sekolah yang sama, terpisah hanya karena jurusan atlit yang lebih diutamakan oleh ketua yayasan, sekaligus menjadi keunggulan utama Society High School. Aku tidak memiliki bakat atlit sejak awal, hanya menempati sekolah yang mengedepankan akademiknya saja. Tidak bisa disangkal kalau nama Society High School kembali terkenal karena prestasi Athlethic Society High School yang gemilang, walaupun hanya sebuah sekolah baru dan 'anak' dari Society High School.

Perasaan kesal tidak bisa kutahan lagi. Kupelototi Rangiku-san disebelahku yang sejak tadi hanya senyum-senyum sendiri. "Jadi ini maksudmu?" tanyaku ketus.

"Oh, ayolah Rukia. Muka cemberutmu sungguh membuatmu jadi terlihat jelek. Bagaimana kalau Kurosaki Ichigo melihatmu?"

"Rangiku-san!" teriakku kesal. Sikapnya yang selalu menggoda orang semakin membuatku kesal. Kulangkahkan kakiku dengan hentakan keras, segera pergi dari tempat ini dan pulang ke rumah.

"Tunggu Rukia! Jangan pergi! Tolong temani aku, hanya sebentar," pinta Rangiku-san sambil menahan tanganku.

"Ada Momo yang menemanimu," jawabku ketus.

"Momo akan menemui Toushiro-chan, pacar kesayangannya."

"Ra..Rangiku-senpai!" teriak Momo sambil tersipu-sipu.

Benar juga, aku bahkan sampai lupa kalau Toushiro sekolah disini. Seorang atlit basket muda yang tidak bisa diremehkan hanya dengan melihat tubuh kecilnya. Banyak orang mengira kalau Toushiro adalah anak SMP, apalagi saat dia dan Momo berjalan berduaan—sungguh lucu.

"Kau tidak tertarik untuk melihat mereka berdua bertemu?" bisik Rangiku-san sambil melihat Momo dengan tatapan liciknya. "Kalau kau menemaniku hari ini, nanti akan kutelaktir es krim Chappy di depan stasiun. Bagaimana?"

Es krim Chappy? Es krim berbentuk Chappy yang imut yang harganya terbilang cukup mahal dan hanya terdapat di cafe depan stasiun—cafe yang selalu ramai oleh antrian panjang anak-anak sekolah. "Kau serius, Rangiku-san?"

"Tentu saja! Pegang janjiku!" katanya sambil menyodorkan tangannya.

"Deal!" kataku semangat dan menjambat tangannya sebagai tanda persetujuan. Lagipula, melihat Momo dan Toushiro merupakan tontonan yang menarik—ditambah Rangiku-san yang selalu menggoda mereka berdua. Dua pasangan yang jarang sekali bertemu, dan sekali bertemu mereka selalu terlihat kikuk.

"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Momo terlihat khawatir. Sepertinya dia sudah mengetahui rencana licik Rangiku-san.

"Tidak ada. Ayo, kita temui pacar tersayangmu!" Rangiku-san langsung menggait lengan Momo dan berjalan memasuki gerbang sekolah yang memang sudah terbuka lebar. Aku berjalan di belakang mereka, menikmati guguran bunga sakura yang berjatuhan tepat di depan sekolah atlit ini. Maaf, nee-san, aku tidak bisa menemanimu hari ini..

Kami berjalan melewati jalan masuk utama sekolah yang terbilang cukup rumit karena seringkali terbagi dalam beberapa cabang. Letak gedung di sekolah ini tidak seperti sekolah-sekolah lain yang kebanyakan hanya terdiri dari satu gedung utama dan beberapa gedung tambahan seperti hall olahraga atau gedung pertemuan. Athlethic Society High School memiliki banyak gedung yang terpisah-pisah, sesuai dengan cabang-cabang olahraganya yang cukup banyak. Setiap cabang memiliki fasilitas tersendiri yang terpisah cukup jauh dari cabang lainnya, yang terlihat seperti sebuah tempat wahana permainan. Gedung utamanya terletak jauh di belakang, terpisah jauh dari gedung-gedung fasilitas olahraga. Karena penataan letak gedung seperti inilah, banyak siswa-siswa dari sekolah lain sering berkunjung kesini, sekedar melihat para atlit muda berlatih.

Beberapa siswi berlari di sebelahku dengan terburu-buru, siswi dari sekolah lain. Mereka berlari ke arah sebelah kiri, yang dilihat dari tanda penunjuk arah merupakan fasilitas untuk atlit pelari. Lagi-lagi wajahnya terlintas di benakku, wajah Kurosaki Ichigo yang tersenyum kepadaku tempo hari di cafe. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menepis ingatan itu dari kepalaku.

"Kenapa Rukia? Kau mau menemuinya?" tanya Rangiku, terlihat bersemangat.

"Jadi hubunganmu dengan Kurosaki-san sudah sedekat itu ya?" tanya Momo dengan wajah polosnya. Sepertinya dia sudah terpengaruh oleh bualan dan gosip Rangiku-san, ditambah Yumichika yang ada di cafe—sumber segala masalah berawal.

"Tidak! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya dan aku tidak mau menemuinya."

"Tidak berarti iya. Ayo kita lihat sebentar saja," ucap Rangiku dan lagi-lagi tidak bisa kubantah karena dengan cepatnya dia menarik lenganku—berjalan cepat menuju tempat latihan atlit pelari.

Kami berjalan diikuti iringan siswi-siswi yang semakin lama bertambah banyak. Campuran siswi-siswi luar sekolah mulai memenuhi lapangan latihan atlit—tentu saja hanya diluar lapangan, terhalang oleh pagar besi kawat yang menjulang tinggi. Beberapa dari mereka berteriak histeris, menerikkan nama yang tidak kuketahui siapa.

"Jadi Kurosaki Ichigo tidak berlatih hari ini?" tanya seorang siswi di sebelahku.

"Katanya dia tidak masuk hari ini, apa dia sakit?" tanya temannya tidak kalah antusias.

"Tidak! Yang kudengar dia bolos latihan."

"Apa mungkin seorang atlit berbakat seperti dia mulai meremehkan lawan-lawannya?"

"Tidak mungkin Ichigo bersikap seperti itu! Aku yakin dia tidak memafaatkan ketenarannya sekarang hanya untuk kepentingan pribadi."

"Dia sungguh tampan! Aku ingin menjadi pacarnya!"

"Hei, jangan egois! Kalau itu aku juga mau!"

"Benar-benar obrolan tidak penting," celetuk Rangiku-san, memecah konsentrasiku pada obrolan para siswi itu. "Kurosaki Ichigo itu atlit, bukannya tokoh idola."

"Kau benar Rangiku-san. Tapi, itu kebebasan mereka juga , bukan?" balas Momo dengan tatapan prihatin.

"Kadang sifat mereka yang terlalu pemuja itu membuatku frustasi," keluh Rangiku-san sambil menghela napas. "Jadi, dimana si pemujamu itu, Rukia?" suara Rangiku-san yang cukup keras berhasil menarik perhatian beberapa siswi. Tatapan sinis mereka membuatku panik dan sedikit risih, bisa saja mereka menerjang kami dan mulai menginterograsi—dimana gosip, kebohongan dan realita menjadi bagian dari kehidupan mereka.

"Ssst..Rangiku-san, pelankan suaramu," kata Momo sambil menarik-narik lengan Rangiku-san.

"Sebaiknya kita pergi ke tempat Toushiro saja," bisikku sambil menarik Rangiku-san, keluar dari tempat para karnivora gosip itu.

"Kau sudah mengganti tipemu? Toushiro memang sepantar dengan dirimu, tapi dia sudah punya Momo," celetuk Rangiku.

"Bukan itu maksudku Rangiku-san!" lagi-lagi dia membuatku kesal dengan sikap sok-polosnya. Kami berjalan ke arah jalur hall basket, melewati beberapa pohon teduh yang memperlihatkan bercak-bercak sinar mentari di kulitku. Sebuah pohon sakura menarik perhatianku, jauh di belakang sebuah gedung yang aku tidak tahu tempat apa itu. Pohon sakura itu tidak seperti kebanyakan pohon lainnya, karena terlihat besar dan batangnya yang sudah tua terlihat sangat kokoh—membuatku ingin melihatnya sebentar.

"Bagaimana kalau kalian duluan saja? Aku akan menyusul nanti," kataku pelan tanpa mengalihkan pandanganku dari pohon sakura itu.

"Kau mau kemana, Rukia?" tanya Momo.

"Aku ingin melihat pohon itu sebentar," tunjukku ke arah pohon sakura itu. "Tidak akan lama, lagipula aku tahu jalan ke hall basket, kok." Ini ketiga kalinya kami datang ke sini dan aku tidak lupa arah jalan ke hall basket—karena itu salah satu tempat tujuan kami ke sini sejak dulu.

"Baiklah, jangan lama-lama ya. Aku tidak mau kalau harus mencarimu yang tersesat di sekolah seluas ini," goda Rangiku sambil menarik Momo menjauh, kembali ke jalur mereka.

"Tidak akan!" teriakku sambil berjalan cepat ke arah pohon sakura, yang aku yakin bisa merubah moodku yang buruk ini.

Aku berjalan cepat, tidak sabar untuk menyentuh kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan di bawah pohon besar itu. Kuhentikan langkahku tepat beberapa meter sebelum mencapai pohon, ketika kulihat jeruji besi di sebelah kanan pohon itu—sebuah lapangan lari. Lapangan yang bisa dibilang tidak terurus lagi, terlalu banyak tanaman liar yang belum terpangkas bersih. Namun, trek larinya bisa dibilang masih layak untuk berlatih. Dan sekelebat bayangan cepat menarik perhatianku, warna orange yang terlintas di depan mataku. Seseorang sedang berlari disana, yang memacu jantungku berdetak cepat. Kulangkahkan kakiku mendekati pagar jeruji dan melihatnya berlari cepat mengitari trek panjang tanpa menyadari keberadaanku. Ya, Kurosaki Ichigo yang berlatih sendirian di sebuah lapangan terbengkalai di belakang sekolahnya..

Kukaitkan jari-jariku di jeruji pagar, mencengkramnya erat. Sebelah tanganku kuletakkan di dada kiriku, merasakan detak jantung yang kian berdetak cepat. Apa sebenarnya ini? Mengapa begitu melihatnya selalu membuatku tidak tenang? Kupejamkan mataku, berusaha mengatur napasku dan detak jantungku agar kembali stabil. Ini semua karena dirinya, karena Ichigo yang tiba-tiba hadir dalam keseharianku yang sudah kembali tenang. Dialah yang memunculkan kembali badai dalam diriku, dalam kehidupanku.

"Rukia!" teriakan yang membuatku terlonjak kaget dan membuka mataku secara refleks. Ichigo meneriakkan namaku dari seberang lapangan.

Bagaimana ini? Kehadiranku sudah diketahui olehnya, sesuatu yang tidak kuharapkan terjadi. Apa sebaiknya aku segera meninggalkan tempat ini, berpura-pura tidak melihatnya dan segera pergi ke tempat Rangiku-san dan Momo?

"Kuchiki Rukia!" teriaknya lagi, kali ini dia berlari ke arahku dan semakin membuatku terpatung kaku di tempat. Astaga, dia datang kemari! Tenanglah Rukia, dia hanya manusia, bukan alien...

Sekarang Ichigo tepat beberapa meter di depanku, berjalan perlahan ke arahku dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat membasahi dahi, leher, hingga ke kaos olahraga putihnya, terpasang pas di tubuh tegapnya—kurus namun terlihat atletis. Dia memakai celana olahraga hitam diatas lutut dan sepasang sneakers Nike berwarna putih beraksen merah. Kini dia tepat berdiri di depanku, hanya terhalang pagar jeruji yang menjulang tinggi di depan kami.

"Hai, Rukia. Sedang apa kau disini?" tanyanya santai, mengubah ekspresi seriusnya menjadi lebih lembut. Namun, alis tajam itu tetap terlihat berkerut di tengah dahinya—ciri khasnya.

"Oh..hai.." kataku ragu sekaligus gugup. Apa yang harus kukatakan padanya?

"Kau mencariku kesini?"

Aku melotot karena kaget, mendengar kata-katanya yang terdengar sangat yakin. "Hah? Kau terlalu percaya diri! Aku kesini bukan karena mencarimu, tawake."

Ichigo hanya tertawa kecil dan kemudian mencengkram jari-jariku yang masih mengait erat di jeruji pagar, "Kau mau menemaniku berlatih?"

Wajahku terasa panas, debaran jantungku semakin bertambah parah karena ulahnya. "Eh? A..aku tidak bisa. Rangiku-san dan Momo menungguku di hall basket. Aku..harus pergi," kataku terbata-bata dan berusaha melepaskan tanganku, tapi sia-sia. Jari-jari panjangnya mencengkram jariku erat.

"Aku akan menemanimu kesana selesai aku berlatih, hanya sebentar tidak akan lama, kok." Ichigo tersenyum, jenis senyum yang tidak mungkin tidak bisa kutolak. Matanya menatapku lekat, membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan selain ke mata hazel terangnya yang memikat.

"Baiklah...hanya sebentar," kataku pelan membuat senyum Ichigo semakin melebar.

"Masuklah, pintunya ada di sebelah sana." Ichigo menunjuk arah kananku, ke sebuah pintu jeruji yang sudah terbuka lebar. Aku berjalan pelan ke arah pintu, diikuti oleh langkahnya yang mengikutiku dari seberang jeruji—seperti bayangan pada sebuah cermin.

"Jadi..apa yang kau lakukan disini bersama temanmu?" tanyanya memecah keheningan.

"Untuk menemani temanku menemui pacarnya, Hitsugaya Toushiro. Kau kenal?"

"Ah..Toushiro si pendek yang jago bermain basket. Dia punya pacar?" nadanya seperti dibuat-buat agar terkesan dramastis.

Aku memicingkan mataku, melihat dirinya yang terkesan semakin angkuh, "Biarpun pendek tapi dia lebih laku daripada dirimu." Aku melangkah masuk melalui pintu jeruji dan kini kami berjalan berdampingan.

Ichigo menatapku dengan mata terbelalak dan kemudian tawanya pecah. "Ke..kenapa kau tertawa?" tanyaku bingung.

"Kau benar-benar jujur, sama seperti si bocah itu, Toushiro."

"Jadi kaupikir karena ukuran tubuh kami sama, kami memiliki sifat yang sama, begitu?"

"Mungkin juga. Wah, aku menemukan sebuah teori baru!" candanya dan kukembalikan dengan tendangan di tulang keringnya.

"Aw! Kau menendangku?" tanyanya tidak percaya sambil mengelus-elus kakinya dan membuatku tersenyum puas.

"Ya, karena kau mengejek tinggi badanku. Itu tidak sopan, tawake!"

"Aku tidak mengejekmu, hanya mengatakan bahwa tinggi badan mungkin mempengaruhi sifat—"

Kukepalkan tanganku dan mengambil ancang-ancang untuk menendangnya lagi. Dengan cepat Ichigo mengelak ke belakang, "Baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Jangan tendang kakiku lagi, ini aset berharga untukku, kau tahu?"

"Kau terlalu lemah untuk ukuran atlit profesional,heh.." dengusku mengejek sambil melipat tanganku di depan dada.

"Kau seharusnya masuk ke klub judo, memanfaatkan bakatmu," balasnya sambil mengacak-acak rambutku. Sebelum aku membalasnya dia sudah pergi berlari dariku, kembali ke dalam treknya.
"Bisa tolong kau catat waktu lariku? Stopwatchnya ada di bangku sebelah sana,"pintanya sambil menunjuk sebuah deretan bangku di pinggir lapangan. Entah apa yang membuat diriku merasa tenang di sampingnya, padahal beberapa saat yang lalu perasaanku seperti diterpa badai topan begitu melihat dirinya yang hanya berdiri di depanku. Perasaan ini nyaman, seakan-akan kami memang sudah kenal sejak lama, dia sudah menemaniku sejak awal kehidupanku. Ya, seandainya saja begitu, mungkin aku tidak perlu mengalami kesusahan maupun kesuraman pada masa laluku.

Kuraih stopwatch yang tergeletak di samping jaket olahraganya dan mengatur waktunya kembali ke angka nol."Kau sudah siap?" tanyaku dari pinggir lapangan, memperhatikannya memasang ancang-ancang berlari.

"Kapanpun kau siap!" balasnya dengan raut wajah serius. Aku sedikit terkejut melihat perubahan dalam ekspresinya, keseriusannya kembali muncul setelah mencakup hal yang berarti bagi dirinya—berlari.

"Baiklah...3..2..1..!" teriakku dan kutekan tombol untuk memulai perhitungan waktu. Ichigo lari begitu cepat di depanku, memperlihatkan sekelebat rambut orange nyentriknya yang menjadi bayangan cepat melesat jauh. Kelopak sakura yang tertiup angin mengiringi lari cepatnya seperti tetesan air hujan, hanya saja warnanya pink muda. Aku kembali memandangi pohon sakura di luar lapangan, alasan mengapa aku datang kesini. Pohon sakura yang kulupakan karena kedatangan Ichigo yang diluar dugaan, menarikku seperti Pied Piper of Hamelin (1)...

(..)

(..)

(..)

Ichigo memakai jaketnya dan mulai berjalan bersamaku ke luar lapangan, setelah berlari dua kali putaran yang ternyata mencatat waktu gemilang—di luar dugaanku. Dia mengambil botol minum dari tasnya dan meneguk perlahan. Kuamati wajahnya yang memiliki struktur tulang yang tegas, hidung mancung, alis berkerut, mata yang...tiba-tiba menatapku. Segera kupalingkan wajahku darinya, malu karena ketahuan memandanginya diam-diam.

"Kau tertarik kepadaku?" bisa kurasakan kalau dia tersenyum melihatku yang malu setengah mati.

"Sudah kubilang jangan terlalu percaya diri, nanti kau cepat botak!"

"Hah? Memangnya aku kakek-kakek? Aku masih terlalu muda untuk menjadi botak."

"Aku bisa membantunya dengan menjambak rambutmu,"balasku sambil menatapnya sinis.

"Coba saja kalau kau bisa, tubuhmu terlalu pendek untuk menggapai rambutku." Dia menepuk-nepuk kepalaku lembut yang semakin membuatku jengkel.

"Kau memang terlihat manis kalau sedang marah," celetuknya dengan wajah polos, mengamati wajahku lekat. Kuurungkan niatku untuk melompat dan menarik rambutnya. Segera kulangkahkan kakiku untuk menjauh darinya—menyembunyikan wajahku yang semakin memanas dan berubah merah.

"Rukia! Kau mau kemana? Arahnya kesini, bukan kesana!" teriaknya di belakangku.

Sekarang aku semakin malu, berharap ada lubang hitam di bawahku yang segera menenggelamkanku jauh ke dasar—menjauh sejauh-jauhnya dari Ichigo.

"Rukia!" teriak seseorang dari kejauhan. Kupalingkan wajahku dan melihat Rangiku-san sedang berjalan santai jauh di depan Ichigo, bersama Momo dan Toushiro. Raut wajahnya berubah geli, ketika dia melihat Ichigo di depannya, masih terpaku dengan kekikukkanku.

"Ra..Rangiku-san.." balasku terbata-bata sambil berjalan ke arahnya.

"Kau ini, sudah kubilang kan jangan terlalu lama. Kupikir kau tersesat," celetuk Rangiku-san sambil berkacak pinggang, memasang ekspresi yang aku yakin dibuat-buat olehnya.

"Kami bermaksud mencarimu, Rukia," tambah Momo disamping Toushiro. Tangannya tergenggam oleh tangan Toushiro, entah kenapa terkesan seperti kisah dongeng Hansel and Gretel (2).

"Dia bersamaku tadi, kau tidak perlu mengomelinya. Kami bermaksud untuk pergi ke tempat kalian,
jelas Ichigo disampingku, terkesan protektif.

"Kurosaki Ichigo," panggil Rangiku-san, seperti baru menyadari kehadirannya di sebelahku. "Ahahaha..kupikir si mungil ini hilang entah kemana, ternyata bersama denganmu. Kalau tahu begitu, aku tidak perlu mencarimu, Rukia-chan," kata Rangiku-san dengan wajah sumringah.

"Rangiku-san!" protesku kesal. Dia tidak membuat keadaan semakin membaik.

"Kurosaki, kupikir kau tidak masuk hari ini." Tiba-tiba Toushiro memotong perdebatan kami. Ternyata dia memang kenal baik dengan Ichigo.

"Ah..Toushiro. Aku sedang berlatih di lapangan belakang. Lapangan lari utama terlalu penuh oleh siswi-siswi sekolah luar, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi penuh," jelas Ichigo.

"Mereka kan penggemarmu. Grimmjow selalu mengomel dan menganggu latihan di hall basket, ini semua karenamu, Kurosaki."

"Hah? Kenapa kau malah menyalahkanku?" Sekarang Ichigo dan Toushiro lah yang mulai berdebat. Momo memandangi kekasihnya dengan tatapan bingung sekaligus prihatin.

"Kau memang banyak penggemar ya, Kurosaki-kun. Rukia juga salah satu penggemarmu, loh!" lagi-lagi Rangiku-san memulai masalah baru. Kucubit tangannya sekeras-kerasnya.

"Aw! Rukia! Kau ini..sakit tahu!" protes Rangiku-san sambil mengusap-usap tangannya yang mulai memerah.

"Kau yang memulai duluan! Sudah kubilang jangan—"

Chachachacha..chachalata...chahaha.. tiba-tiba lagu latar Anime Chappy terdengar keras, hpku berbunyi. Dengan sigap kubuka tasku dan mencari hp yang mulai berkedip-kedip menyala. "Maaf, itu hpku," jelasku sambil memperhatikan raut-raut wajah orang di depanku yang kebingungan.

"Kau harus mengganti ringtone anehmu, Rukia," celetuk Ichigo. "Itu benar-benar membuat orang kaget—"

Segera kuinjak kakinya keras-keras sambil menjawab panggilan teleponku. Ichigo meringis kesakitan untuk kedua kalinya, yang entah kenapa membuatku sedikit puas. "Moshi-moshi."

"Rukia, kau ada dimana? Sudah jam segini tapi kau belum pulang. Apa kau masih ada di sekolah?" tanya Hisana nee-san dari seberang telepon. Nee-san mengkhawatirkanku, seperti biasanya.

"Aku sedang pergi bersama Rangiku-san dan Momo. Maaf aku tidak mengabarimu dulu, nee-san," ucapku penuh penyesalan.

"Oh, begitu. Sebaiknya kau cepat pulang. Hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi Byakuya akan pulang. Kau tidak mau terkena omelannya lagi,kan?" goda nee-san. Byakuya nii-sama akan segera pulang?

"Aku pulang sekarang!" kataku buru-buru sambil menutup telepon. Dan sekarang aku mendapati pandangan mereka terpaku padaku.

"Kakakmu, ya?" tanya Rangiku-san, memastikan.

Aku membalasnya dengan anggukan pelan."Maaf, aku harus segera pulang."

"Hee...padahal aku bermaksud mengajakmu ke cafe depan stasiun," keluh Rangiku-san, tapi itu tidak akan berhasil membujukku sekarang. Omelan Byakuya nii-sama lebih menakutkan daripada apapun, termasuk es krim Chappy—walaupun aku sangat menginginkannya.

"Aku tidak bisa..mungkin lain kali. Sampai bertemu besok, Rangiku-san, Momo," lambaiku kepada kedua temanku.

"Sampai bertemu, Rukia," balas Momo sambil tersenyum.

"Ah, sampai bertemu lagi, Toushiro." Tidak lupa aku mengucapkan salam perpisahan pada Toushiro yang sejak tadi terdiam di samping Momo. Dia membalas lambaianku tanpa berkomentar apapun.

Dan pandanganku beralih kepada Ichigo, yang memandangku dengan alis berkerut. "Dah, Ichigo," kataku singkat.

"Hanya itu? Tidak ada kata 'sampai bertemu lagi'?" protes Ichigo yang sudah kutinggal pergi di belakangku.

Mukaku memerah, sebenarnya aku terlalu malu untuk mengatakan hal itu. Tapi tidak ada salahnya kuucapkan hal itu kali ini. Dia sudah berbaik hati mau mengantarku ke hall basket, yah walaupun itu tidak terwujud, "Sampai bertemu!" teriakku tanpa kupalingkan wajahku ke belakang.

Kata-kataku dibalas dengan suara tawa Rangiku-san yang menggema keras di belakangku. Aku yakin dia akan mulai menginterograsiku besok, mungkin malam ini...

*(((to be continued...)))*

Author's note:

(1) Pied Piper of Hamelin adalah dongeng yang berasal dari Jerman. Menceritakan seorang peniup seruling yang meniup seruling ajaibnya di kota Hamelin (Jerman) dan membawa anak-anak kecil keluar dari kota itu untuk mengikutinya, seperti menghipnotis.

(2) Sebutan Hansel and Gretel untuk Toushiro dan Momo, kenapa harus itu? Karena ukuran tubuh Toushiro dan Momo yang mungil, jadi terlihat seperti dua saudara dari dongeng Hansel and Gretel, yang memang masih anak-anak..hahhaha (*author maksa XD..)

Byakuya's fact : Kadang Byakuya sering mengomeli Rukia kalau pulang terlambat, ini karena sifat Byakuya yang terlalu protektif pada adik iparnya. Mungkin bisa disebut brother-complex..hahhaha (ini yang mana kakak kandungnya ya? Hisana apa Byakuya? Wkwkkw). Dia sayang pada Rukia, tapi masih terlihat kesan cueknya, seperti yang ada di cerita aslinya Kubo-sensei..

Rukia's fact : Bunyi ringtone Chappy nya hp Rukia itu asli buatan author sendiri..hahahaha entah kenapa yang kebayang kata-kata itu..XD. Di fic ini, Chappy adalah tokoh Anime anak kecil yang sangat terkenal, makanya sampai ada es krim nya segala. Rukia itu sister-complex pada Hisana. Rukia memanggil Rangiku dengan sebutan –san, bukan –senpai, karena mereka sudah kenal dekat semenjak bertemu di cafe (sesama pekerja part-time), kemudian setelah lulus SMP Rukia pindah ke sekolahnya Rangiku, Society High School.

Aturan kerja yang dimaksud Rukia itu, adalah tidak boleh memberikan keterangan pribadi kepada pelanggan selama sedang bekerha. Sebenarnya bukan aturan yang mengikat, karena Unohana sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, asalkan tidak menelantarkan tugasnya. Itu hanya karena sifat Rukia yang terlalu kaku dan disiplin (terlalu malah...hahhaa)

Yumichika dan Hisagi berbeda sekolah dengan Rukia, Rangiku, dan Momo. Yumichika sepantar dengan Rukia dan Momo, sedangkan Hisagi merupakan kakak kelas mereka (sepantar dengan Rangiku). Yumichika dan Hisagi menempati sekolah Seireitei High School, yang akan dijelaskan di chapter berikutnya~

Balasan untuk anonymous reviewer :

Chappy : makasih udah review! Oce, ini sudah di-update! ^^ hihiihih salam kenal~

Kazuko Nozomi : Wah, makasih banyak udh review n for your like..^^ n salam kenal~

Thanks for reading, all...dan silahkan review ^^