Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Gomen, updatenya kelamaan nih..hihiihhi.. tapi akhirnya bisa update juga, mengingat tugasku banyak banget sampe menggunung, masih berlanjut sampai akhir tahun..wkwkwk XD Ini chapter yang full banget sama ichiruki, sedikit ada konflik tapi bukan konflik utama dan maaf keliatan maksa banget (karena ide dadakan yang tiba-tiba muncul waktu ngetik)..XD
Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^
Oc..Happy reading, minna-san!
~000*000~
Chapter 3 : Spring Scene Three
"Kakak! Aku pergi dulu," kataku sambil melangkahkan kakiku ke pintu depan, mengganti sendal rumahku dengan sepatu bootsku semata kaki.
"Rukia, jangan pergi terlalu lama. Hari ini Byakuya pulang cepat," balas Hisana nee-san. Aku berbalik ke arahnya, melihat nee-san yang masih menggunakan celemeknya—menyiapkan makan malam spesial bagi kami. Kepulangan Byakuya nii-sama yang bisa dibilang jarang sekali saat jam makan malam dimulai, membuatku dan nee-san harus makan berdua saja tanpa menunggu kepulangannya. Kadang hal itu membuat nee-san sedikit kecewa, namun harus tetap diterimanya sebagai suatu 'kewajiban' seorang istri. Kesibukan Byakuya nii-sama di pabrik wine-nya kadang harus membuatnya bolak-balik Itali-Jepang, hanya untuk membantu proyek pembuatan anggur terbaik yang hanya dihasilkan di Jepang. Nee-san mendukung sepenuhnya pekerjaan suaminya itu, sebagai wakil direktur sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan wine milik keluarga besar Kuchiki—walaupun belum sepenuhnya alih perusahaan diberikan kakek kepada nii-sama.
Nee-san memandangku dengan senyumnya yang memang selalu terpasang di wajahnya, "Kita akan makan sukiyaki hari ini."
Aku membalasnya dengan senyuman. Sukiyaki, tidak buruk juga, walaupun nee-san selalu memberikan sebagian besar porsi jamur kepadaku—kadang membuatku sedikit mual. "Baiklah! Aku akan pulang lebih awal, nee-san!"
"Itterashai, Rukia. Hati-hati di jalan."
"Ittekimasu!" Kini aku melangkahkan kakiku keluar pintu rumah, menyambut sinar mentari yang sebentar lagi mulai meredup jingga.
Komplek perumahan Seireitei distrik 6 terbilang cukup sepi di siang menjelang sore. Jarang sekali ada aktifitas yang dilakukan tetangga-tetangga di hari yang bisa dibilang terlalu pagi untuk sore hari. Kebanyakan dari kami menghabiskan waktu di rumah ataupun dengan urusan pekerjaan masing-masing. Walaupun hari ini adalah hari yang cerah di musim semi, pergi hanami adalah kegiatan alternatif di hari libur,namun tidak bisa dipungkiri bahwa distrik ini tetaplah seperti distrik tidak berpenghuni. Beberapa rumah terlihat menjulang tinggi bagaikan istana yang tidak berpenghuni, namun terurus rapi. Hal tersebut kadang membuatku bingung, kapan si pemilik rumah membersihkan rumahnya itu?
Aku berbelok ke arah jalan belakang yang memutar ke bukit di belakang distrik 6, bisa juga menjadi jalan pintas menuju distrik 5 dan 7. Dan hingga sekarang, aku belum menjumpai 1 orang pun di jalan—hanya cahaya matahari yang sedikit terik menyinari jalan aspal di bawahku, memperlihatkan butiran-butiran cahaya seperti kerlipan mutiara di jalur yang kutempuh. Kini kulangkahkan kakiku sedikit lebih cepat, begitu melihat kelopak sakura yang jatuh tertiup angin. Hampir sampai...
(..)
(..)
(..)
Tangga tinggi menjulang ke atas bukit, terhalang oleh ranting-ranting pohon yang tumbuh secara liar. Suara burung bernyayi dari balik pohon-pohon tinggi di sisi kiri dan kanan tangga, membimbingmu ke dalam sebuah tempat sakral yang menenangkan—sebuah kuil kecil yang sedikit tidak terurus di atas bukit. Aku berjalan perlahan melangkahi anak tangga sambil menghitung dalam hati, menghitung anak tangga yang selalu kulewati sejak dari kecil. Sebuah jalan yang sudah kuingat di luar kepala, membawaku menuju sebuah tempat yang keindahannya tidak bisa dibandingkan dengan taman tengah kota sekalipun. Kelopak bunga sakura lagi-lagi terbang di depan mataku. Kutangkup dengan lembut menggunakan kedua tanganku, memperhatikan warnanya yang sangat lembut—musim semi barulah dimulai untukmu, sakura.
Kulangkahkan kakiku di anak tangga teratas, segera berjalan cepat menuju belakang kuil. Dan disanalah aku menemukannya, pohon sakura milikku. Bukan milikku dalam arti aku yang menanam, tapi menjadi tempatku menghabiskan sebagian besar waktuku di musim semi, memikirkan berbagai hal dengan ditemani pohon sakura yang sangat besar. Dia sudah seperti temanku, milikku sejak aku masih berumur 12 tahun—mengingat tidak ada orang lain selama aku berkunjung kesini. Aku tersenyum puas melihat pohon sakura yang sudah tua ini mekar sepenuhnya, menciptakan warna pink lembut berlatar pohon maple hijau. Kurentangkan telapak tanganku ke batang pohon yang terlihat kuat ini, merasakan kehangatan matahari pada permukaan kasarnya. "Hai, kau sudah mekar sepenuhnya sekarang, kerja yang bagus.."ucapku lembut.
Tiba-tiba suara cekikan membuatku terlonjak. Kupalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang mengganggu waktu senggangku—waktu senggang Kuchiki Rukia bersama pohon sakura miliknya. Tidak ada apapun, ataupun siapapun. Tapi anehnya suara itu semakin jelas terdengar.
"Si..siapa?" tanyaku ragu, masih mencari-cari suara itu berasal.
"Disini," balasnya, membuatku kaget—tidak kuduga kalau dia akan membalas pertanyaanku. Dan sekarang sosoknya terlihat, warna orange terang bercampur biru tua—warna jaket yang digunakannya, terlihat kontras.
"I..Ichigo," ucapku, kaget bercampur bingung melihatnya berjalan ke arahku. "Bagaimana kau bisa ada disini?"
Dia mengerutkan alisnya, namun senyumnya makin melebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Memangnya hanya kau saja yang bisa datang kesini, Alice (1)?" sindirnya.
Aku membelalakan mataku kaget, dia memanggilku apa? "Ma..maksudku, ini tempat terpecil. Sejak dulu aku tidak pernah menemukan orang yang datang kesini, ya..kecuali diriku sendiri, Cheshire!"
Dia melangkah mendekatiku, namun berhenti tiba-tiba sambil memandangku penuh tanya. "Cheshire? Memangnya tidak ada yang lebih bagus daripada kucing aneh itu?"
"Saat kau tersenyum tadi kau mirip kucing Cheshire!" sindirku sambil memperlihatkan setengah senyumku. Alhasil, raut wajahnya terlihat sedikit memberengut karena kesal.
"White Rabbit masih jauh lebih baik daripada kucing belang-belang yang seperti terserang penyakit langka itu!"
"W..White Rabbit?!" membayangkan kelinci putih yang lucu itu diperankan olehnya, sungguh menjengkelkan. " Tidak boleh! Apapun selain kelinci putih itu!"
"Ke..kenapa kau marah?" Ichigo terlihat bingung dengan sikapku yang sekarang berubah kesal.
Aku memelototinya sebagai balasan, menatap berani mata hazel-orange mudanya. Ichigo mendesah kesal, terlihat mengalah dengan sikap ngototku."Baiklah, kembali ke topik utama. Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Itu pertanyaanku!" dengusku kesal.
Senyumnya kembali di wajahnya, anehnya membuat kekesalanku sedikit menghilang. "Aku melihatmu berjalan ke arah sini, lalu kuikuti. Kau tidak menyadarinya?"
Jadi sekarang dia menjadi penguntitku? "Kau mengikutiku?" dengan memasang wajah terlihat jijik, menganggap orang di depanku ini sebagai ancaman baru sekarang.
"Aku bukan penguntit! Aku mau memanggilmu, hanya saja kau sedang sibuk sendiri, menyenandungkan lagu aneh yang seperti suara ringtone hpmu. Dan tanpa kusadari kau sudah menghilang ke arah sini," jelasnya yang kini sudah berdiri tepat di depanku.
"Lagu aneh? Itu lagu Chappy! Dan itu memang bunyi ringtone-ku, tawake!"
Ichigo berusaha menahan tawanya dan kuhadiahi dengan menginjak kakinya.
"Aw! Haruskah kaulakukan itu setiap kali kita bertemu?" gerutunya.
"Setiap kali? Kita baru bertemu dua kali."
"Tiga, dengan yang di cafe seminggu lalu."
Aku terkejut dengan dirinya yang masih mengingat jelas awal pertemuan kami, seminggu yang lalu. Kupikir dia hanya mengerjaiku, seperti memanggil orang secara acak di tengah kepenatan jalan tengah kota.
"Yah, terserah kau saja," bisikku sedikit malu dan mengalihkan wajahku darinya.
Ichigo melangkah ke sampingku dan menyentuh pohon sakura besar itu. Kudongakkan wajahku untuk melihat wajah takjubnya melihat pohon keajaiban di depan kami. "Pohon ini besar sekali."
"Ini pohon sakura yang sudah berumur ratusan tahun dan setiap musimnya selalu mekar sehebat ini."
"Kau kemari setiap tahun?" tanyanya. Pandangannya kembali ke padaku, namun tangannya masih menyentuh batang pohon itu, seperti sudah tertempel lem yang merekat kuat pada keduanya.
Aku mengangguk sebagai jawabannya dan mengambil posisi duduk di bawah pohon sakura. "Pohon ini begitu menakjubkan, tapi tidak ada orang lain yang datang kemari selain aku. Itu yang kutahu," jelasku lanjut.
"Hmm...begitu. Tempatnya begitu tersembunyi di belakang kuil yang sudah tidak terurus, jadi wajar saja tidak ada orang yang datang kemari." Sekarang Ichigo ikut terduduk di sampingku, melipat kedua kakinya membentuk posisi duduk bersila. "Kau beruntung, Rukia."
"Bisa dibilang begitu," kataku puas, sedikit bangga dipuji olehnya.
"Dan sekarang aku juga termasuk salah satunya," jelasnya lagi dan membuat alisku kembali berkerut penuh tanya.
"Kamu? Salah satunya?"
Ichigo menatapku dengan mimik wajah dibuat-buat, terlihat polos. "Sekarang aku sudah mengetahui letak harta karun ini, bukan? Jadi tidak ada salahnya aku ikut bergabung denganmu."
"Tidak boleh!" teriakku kesal, kembali memelototinya. Ichigo malah membalasku dengan sebuah senyuman—jenis senyuman yang lagi-lagi membuat jantungku berdebar kencang. "Ke..kenapa kau malah tersenyum?" tanyaku sedikit takut. Apa mungkin kepala orang ini sempat terbentur tadi?
"Ternyata memang benar, kau makin terlihat manis saat kau marah," ucapnya lembut dan membuat wajahku makin terasa panas.
"K..Kau..sudah pernah mengatakannya...tawake!"
"Apa ada orang lain yang pernah mengatakannya selain aku?" Ichigo menghiraukan omelanku, malah menanyakan pertanyaan yang semakin membuatku bingung menanggapi sifat anehnya.
"Hah? Tentu saja tidak ada!" Mana ada orang yang mengatakan hal aneh seperti dia.
Tiba-tiba Ichigo mendekatkan wajahnya padaku yang membuatku kaget setengah mati. Aku mundur menghindarinya, tapi punggungku menabrak batang pohon. Kini aku terjebak, menghadapi sikap terang-terangannya yang membuatku risih, membuatku ingin menyentuh wajah yang terpahat sempurna di depanku.
Ichigo berhenti, jarak wajahnya hanya tinggal beberapa senti saja dari wajahku, membuatku tidak bisa berkedip. "Baguslah kalau begitu. Aku orang pertama yang mengatakan hal itu padamu," katanya lembut, napasnya membelai pipiku. Matanya yang indah dan menakjubkan seperti menghinoptisku untuk terus menatapnya.
Ichigo mulai menjauhkan wajahnya dariku, kembali bersender di batang pohon. Aku menunduk, enggan menatapnya yang sudah berhasil membuatku hampir terkena serangan jantung mendadak. Apa yang sebenarnya dipikirkan orang ini, mengatakan hal seperti itu begitu mudahnya? Apa mungkin karena itu sudah menjadi kebiasaannya, mengingat Ichigo selalu dikelilingi siswi-siswi penggemarnya dari sekolah lain?
"Aku menyukaimu, Rukia," celetuknya dan membuat jantungku berhenti berdetak sekejap. Dengan segera aku meliriknya dengan tatapan bingung bercampur kalut. Sekarang dia sudah mengatakan hal yang menurutku tabu. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutku. Lidahku terasa kelu dan wajahku kembali terasa panas. Apa dia serius? Apa yang harus kulakukan sekarang?
"Berada di dekatmu membuatku merasa nyaman.." lanjutnya." Kau berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah kutemui selama ini, yang sebagian besar hanya mengejar kelebihan yang kumiliki. Mereka menganggapku sempurna, sesuatu yang patut dipuja dan kupikir aku tidak setenar yang mereka pikir. Tapi, kaulah orang pertama yang menyebutku bodoh, melihatku dengan pandangan berbeda dari para perempuan itu." Kini Ichigo menatapku tajam, namun ada kelembutan di baliknya. Matanya selalu membuat perasaanku tidak karuan, kadang kalut dan malu, kadang juga merasa...nyaman?
"Rukia, maukah..kau berteman denganku?"
DEG! Te..teman? Jadi yang dia maksud adalah pertemanan, bukan hal aneh yang kupikirkan sejak awal? Sesuatu yang melilit dadaku dari tadi tiba-tiba saja terlepas, sedikit membuatku merasa lega. Tapi, entah kenapa ada hal aneh yang mengusik diriku. Berteman dengannya? Jadi yang dia inginkan hanya itu?
"Rukia?" tanyanya sambil mulai mengelus rambutku, membuatku langsung terbangun dari lamunanku.
"Eh..eh? Ah..teman ya?"
Ichigo mengangguk penuh semangat sambil tersenyum lembut padaku. Tangannya masih membelai kepalaku lembut. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Rukia. Kupikir, kalau hanya sekedar kenal saja tidaklah cukup."
Aku masih termangu menatapnya bingung. Teman? Dan mengapa dia harus meminta persetujuan dariku dulu? "Ehm..boleh saja. Aku..tidak keberatan..kok.."
"Terima kasih, Rukia." Tangannya tiba-tiba turun ke pipiku, membelainya lembut sekejap. Jadi, inikah yang namanya teman? Berteman dengan laki-laki aneh ini, Kurosaki Ichigo?
(..)
(..)
(..)
Kami menghabiskan waktu berdua di bawah pohon sakura, menikmati kelopak-kelopaknya yang bertaburan ke atas pangkuan dan sebagian ke atas tanah berumput lebat. Berbincang-bincang membahas hal-hal umum, sebagian besar Ichigo lah yang bertanya kepadaku— makanan apa yang kusuka, jenis musik apa yang kusuka, apa yang kadang aku lakukan di waktu senggang, apa jenis film favoritku, lalu bagaimana rasanya sekolah di sekolah swasta umum yang tentunya berbeda dengan sekolah atletiknya, bagaimana keadaan cafe dan pekerjaan part-time ku... Pertanyaan yang sekedar membahas kehidupan pribadi, tapi Ichigo terlihat sangat menikmatinya—menghabiskan waktu bersama denganku yang terkadang terlihat kikuk menanggapi pertanyaannya. Dan terkadang tangannya membelai rambutku lembut, mengambil kelopak sakura yang jatuh ke atas kepalaku. Lagi-lagi dia berhasil membuat wajahku memerah, hasil dari menanggapi gerak tubuhnya yang tidak terduga.
"Sudah sore," ucapku sambil melihat langit yang berubah jingga, seperti warna rambut orang di sebelahku. "Cantiknya..."
"Apa?"
"Eh? Tidak, tidak apa-apa! Aku harus segera pulang," lanjutku buru-buru, mengalihkan pandanganku dari Ichigo dan segera berdiri. Kurapikan rok yang jatuh di atas lututku dari kelopak sakura yang tersisa. Ichigo mengikutiku bangun, berdiri di sampingku sambil terus mengamatiku.
"Kuantar, ya," ucapnya.
"Eh?"
"Kenapa daritadi kau selalu mengatakan 'eh'? Apa kau sulit untuk mendengar, mungil?" godanya sambil menunjukkan seringaian menyebalkannya.
"Mu..mungil katamu?" kataku kesal.
"Tubuhmu memang mungil, mau menggenakan seragam ataupun baju bebas masih terlihat sama." Kali ini tatapannya mengamati tubuhku dari atas sampai bawah, spontan aku menginjak kakinya kuat-kuat. "Awww! Rukia!"
"Dasar mesum!"
"Me..mesumm?!"
"Apa-apaan tatapanmu itu? Tidak sopan, baka!"
"Aku hanya melihat, memangnya tidak boleh?" balasnya tidak mau kalah sambil masih mengusap-usap kakinya yang kuinjak.
"Mau kuinjak lagi, sekalian dengan tanganmu itu?" Kuangkat kakiku untuk segera menginjak si bodoh satu ini.
"Jangan! Aku minta maaf!" ucapnya buru-buru. Aku tersenyum puas dan beranjak pergi meninggalkannya yang masih terpaku diam.
"Tunggu, aku akan mengantarmu, Rukia!" teriaknya dari kejauhan. Derap langkahnya mulai menyusulku.
"Tidak perlu, rumahku tidak jauh dari sini," balasku dan dengan cepat menuruni anak tangga yang berderet di bawahku.
"Karena itu aku mengantarmu, daerah ini terlalu sepi."
"Memang daerah ini sepi, jarang sekali orang yang lewat," kataku membenarkan ucapannya.
"Bagaimana kalau ada orang jahat yang tiba-tiba lewat?"
"Aku selalu melewati jalan ini hampir setiap harinya dan tidak pernah kutemukan orang jahat seperti yang kaupikirkan, Ichigo," balasku mulai kesal.
"Apa kau tidak dengar berita, kalau daerah distrik 7 mulai tidak aman? Ada pencuri yang berkeliaran disana dan sudah beberapa orang yang menjadi korbannya."
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, setelah melangkahi anak tangga terakhir. "Tapi itu di distrik 7 dan rumahku di distrik 6."
"Bagaimana kalau dia berkeliaran disini? Distrik 7 bersebelahan dengan distrik 6, lagipula ini sudah mulai malam," jelasnya ngotot.
Aku mendesah kesal, sulit sekali menghadapi sikap kerasnya itu. "Hanya perlu berjalan 5 menit ke rumahku, tidak terlalu jauh."
"Aku mengantarmu," katanya tegas dan mulai melangkah sambil menggandeng tanganku.
"I..Ichigo, tunggu!" aku mulai panik begitu dia menyentuh tanganku, menggenggamnya begitu erat. Jantungku kembali tidak tenang, menanggapi perlakuannya yang di luar dugaan. Ichigo orang yang baik, tapi terlalu keras kepala...
Kami berjalan dalam diam, diiringi oleh sinar mentari sore di belakang kami yang mulai tenggelam oleh gelapnya malam. Bayangan kami terlihat jelas di jalanan aspal, terlihat saling berdekatan karena jarak yang hanya disisakan oleh tangan yang bergandengan. Tentu saja bayangan Ichigo jauh lebih tinggi dariku yang lebih mirip kakak dan adik, dibandingkan sepasang kekasih. Tunggu..apa yang sedang kupikirkan?
Tiba-tiba Ichigo berhenti melangkah, tubuhnya terlihat lebih tegap karena siaga. Matanya menatap lurus ke depan, terlihat sangar dan tajam.
"I..Ichigo, ada apa?" tanyaku sedikit takut dengan perubahan suasana. Tangannya kian menggenggam tanganku erat. Tatapannya semakin menatap tajam, tapi bukan kepadaku. Kuikuti arah pandangannya, ke jalan di depan kami.
Ada seorang laki-laki yang menggenakan pakaian hitam tertutup dari atas hingga bawah, menggunakan topi kupluk berwarna hitam, dan masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Dia terdiam memandangi kami yang berdiri tidak jauh darinya. Kuperhatikan tatapannya yang tidak kalah tajam dari Ichigo, menatap...aku? Dia tidak menatap Ichigo, melainkan menatapku tajam.
"I..Ichigo.."kini aku mulai takut. Ichigo menarikku mundur ke belakang tubuhnya, menyembunyikan tubuh kecilku. Kugenggam jaket birunya erat, enggan menatap pria menyeramkan itu.
Beberapa saat berlalu dalam diam dan kemudian Ichigo menarikku lembut. "Rukia?"
"Apa..dia..sudah pergi?"
"Iya. Sudah tidak apa-apa," katanya lembut. Kini tatapannya berubah lembut, seakan-akan dia tidak pernah merubah raut wajahnya dari tadi.
"Apa dia..orang jahat yang kau maksud?"
"Mungkin." Kini Ichigo sibuk merogoh kantong celananya, mengeluarkan hp hitamnya dan mulai sibuk menekan nomor-nomor. "Dia sudah berdiri sejak tadi...menatapmu."
Aku menelan ludahku, semakin bergidik. Jadi yang dia incar adalah aku? Bagaimana jadinya kalau tidak ada Ichigo tadi?
Ichigo sibuk berbicara dengan seseorang dari sebrang telepon, seperti sedang beragumen. Sebelah tangannya merangkul pundakku erat. Kueratkan tanganku pada jaket miliknya, entah kenapa aku merasa aman dan terlindungi.
"Aku sudah menghubungi temanku, pamannya seorang letnan kepolisian. Seharusnya polisi akan mulai berpatroli di daerah sekitar sini mulai besok. Kau jangan keluar rumah sendirian, Rukia."
Aku mengangguk pelan, tenggorokanku yang seperti tercekat menghambatku untuk berbicara.
"Ayo, aku akan mengantarmu," ucapnya sambil mulai melangkah. Aku mulai mengikutinya, berjalan dalam jingga yang mulai berganti gelap.
Setelah melewati 3 belokan, kami sampai di depan pagar rumahku. Aku masih tertunduk diam, memandangi pagar rumah dengan pikiran yang masih kalut.
"Rukia,"panggil Ichigo.
"Ya? Apa?" balasku bingung, menatap matanya yang lebih terlihat protektif sekarang.
"Boleh pinjam hpmu?" tanyanya.
Dengan menurut kukeluarkan hpku dari saku mantelku dan menaruhnya di tangan yang sudah dia sodorkan. Ichigo mengetik sesuatu dengan cepat dan kemudiam mengembalikannya ke tanganku. "Aku sudah memasukkan nomor hpku, kalau kau ada sesuatu yang mengganggumu, hubungi saja aku."
Aku mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum padanya. "Ichigo...terima kasih."
"Tidak masalah, kapanpun kau butuh bantuanku," ucapnya lembut sambil mengelus kepalaku. "Masuklah, hari sudah mulai malam."
"Kau..tidak mampir dulu?" tanyaku, sebenarnya enggan melepasnya pergi.
"Maaf, mungkin lain kali. Aku ada urusan dengan temanku di sekitar sini."
"Kau tidak tinggal di komplek Seireitei?"
"Tidak. Aku tinggal di pusat kota Karakura," jelasnya.
Pusat kota? Itu sedikit memakan waktu hingga sampai kesini. "Ichigo..jangan pulang terlalu malam.."
"Jangan khawatirkan aku, nah sekarang masuklah."
Aku mengangguk pelan dan memperlihatkan senyum terakhirku padanya sebelum memasuki pagar rumah.
"Oya, Rukia," panggilnya lagi, membuatku kembali menoleh padanya. "Apa perlu aku menjemputmu besok pagi?"
"EH?!" Menjemputku hanya untuk mengantar ke sekolah dan walaupun sekolah kami berdekatan, tapi jarak rumah kami berjauhan dan berlawanan arah. "Tidak perlu! Aku tidak mau merepotkanmu, Ichigo. Lagipula, nii-sama bisa mengantarku besok pagi." Jelasku. Selama ini nii-sama bersikeras mengantarku ke sekolah, tapi selalu kutolak. Agak sedikit canggung bila berdekatan dengan nii-sama, disamping aku tidak mau merepotkannya juga. Walaupun nii-sama mengantarku menggunakan mobilnya, bukan seperti Ichigo yang harus menaiki bus dan berjalan kaki kesini..
"Baiklah. Tapi, bila ada sesuatu yang mengganggumu, telepon aku."
"Hmm.." anggukku cepat dan segera membuka pintu rumahku. "Hati-hati, Ichigo."
"Ya. Sampai bertemu lagi, Rukia."
Kututup pintu rumahku perlahan, meninggalkan sosoknya yang sudah mulai beranjak pergi meninggalkanku.
"Rukia?" nee-san memanggilku dari belakang, membuatku sedikit terlonjak kaget.
"Nee..nee-san.. Tadaima."
"Okaeri, Rukia..Tadi kau sedang berbicara dengan siapa? Temanmu?"
Aku hanya mengangguk pelan sambil mengganti sepatuku dengan sendal rumah. "Dia..mengantarku tadi."
"Kenapa tidak kau ajak masuk? Sekalian dia bisa makan malam disini."
"Dia sedang ada urusan, mungkin lainkali."
"Begitu," ucap nee-san sambil tersenyum ramah. "Bisa kau bantu aku? Byakuya sebentar lagi akan pulang."
"Oh...baiklah," balasku. Untung saja nii-sama belum pulang ke rumah, membuatku sedikit lega untuk tidak mendengar ceramahnya...
*(((to be continued...)))*
Author's note:
(1)Alice yang dimaksud itu dari dongeng Alice in Wonderland, dimana si tokoh utama masuk ke dalam dunia mimpinya. Maksud Ichigo disini, Rukia tenggelam di dalam dunianya sendiri (bersama si pohon sakura XD) dan sampai tidak menyadari keberadaan Ichigo di belakangnya. Begitu juga dengan sebutan Chesaire dan White Rabbit, mereka adalah tokoh-tokoh dari dunia Alice.
Komplek perumahan Seireitei yang ditempati Rukia merupakan komplek perumahan yang cukup elit, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Rumah yang Rukia tempati tidak begitu terlihat mewah, tapi tetap saja termasuk kalangan elit XD *plakk! author bikin bingung..wwkkwkkw
Komplek Perumahan Seireitei terdiri dari 13 bagian (disebut distrik disini) karena daerahnya cukup luas kalau disebut komplek I, komplek II..hehehe.. 13 bagian seperti 13 divisi di Seireitei yang terdapat di cerita asli Bleach.
Rukia's fact: mengenai perasaan Rukia di chapter ini, sebenarnya dia sudah mulai ada rasa suka pada Ichigo, tapi belum disadarinya (maklum, masih chapter awal, nanti kecepetan lagi..hihihiih). Tapi disinilah awal perasaan suka Rukia mulai berkembang hingga chapter-chapter berikutnya..XD
Ichigo's fact: kalau perasaan Ichigo pada Rukia, sebenarnya belum kelihatan ya. Niat dia ingin berteman dengan Rukia di chapter ini tuh benar-benar niat berteman, ga lebih (maaf bagi para readers yang kecewa..^^;) soalnya Ichi tuh ceritanya rada pemilih, apalagi kalau urusan teman perempuan. Fans-fans nya kan banyak, jadi susah juga buat nyari temen (serasa boyband kali ya..*plakk!). Tapi di chapter-chapter berikutnya Ichigo bakalan nyadar kok. Siapa ya yang bakalan nyadar duluan, Ichigo atau Rukia? Baca terus ceritanya ya, kalau dikasih tau sekarang ga rame..wkwkkwkwk *plakk! Dasar author hobi bikin bingung..hihiihih
Terima kasih banyak untuk para readers yang masih setia membaca! Dan yang baru pertama kali baca, salam kenal ^^ Wkwkwk.. And, silahkan review~
