Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Gomen! Lagi-lagi update lama..T-T Sekarang udah masuk hari lliburan, jadi aku sedikit senggang buat meng-update fic ini..hihihihi..Untuk chapter berikutnya, aku usahain update cepat! Disini 'lawan' Ichigo udah muncul, yah walaupun masih belom masuk konflik ^^;..Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^

Oc..Happy reading, minna-san!

~000*000~

Chapter 4 : Spring Scene Four

" Satu Cappuccino dan satu Latte Macchiato untuk meja 11," teriakku sambil meletakkan kedua minuman itu di meja depanku. Momo segera datang menghampiriku sambil membawa nampan yang dipegang erat didepan tubuhnya. Dia tersenyum sekilas kepadaku sambil mengambil kedua pesanan itu.

"Baiklah, segera untuk meja 11," ucapnya seraya pergi ke arah meja tamu.

Kuhembuskan napasku sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Langit sedikit memperlihatkan tanda-tanda akan berubah gelap, walaupun warna jingga masih mendominasi. Jingga, ya.. ingatanku kembali kepada beberapa hari yang lalu. Ichigo yang menghabiskan waktunya denganku, mengobrol di bawah pohon sakura. Dia jugalah yang menyelamatkanku dari tangan orang jahat yang kebetulan lewat di komplek rumahku. Tangannya yang besar menggenggam lenganku kuat, tubuhnya memberikan sikap defensif—melindungi tubuhku yang kecil dari tatapan orang keji itu. Masih bisa kurasakan hangat tubuhnya ketika mendekapku erat, kedua tangannya yang seakan-akan tidak bisa lepas dari jangkauanku. Tunggu dulu, kenapa aku bisa seenaknya berpikiran seperti itu? Dia adalah temanku, tidak lebih. Walaupun, semenjak dia memberikan nomornya padaku, hampir setiap harinya dia mengirimiku pesan. Ya, sebagian besar pesan yang tidak penting, hanya sekedar menanyakan keadaanku. 'Apa kau sudah makan? Apa yang sedang kaulakukan? Cepatlah tidur, tidak baik untuk pertumbuhan tubuhmu...'

Aku mendesah lagi, untuk yang kedua kalinya. Sekarang perasaan bersalah menggelayutiku, mungkin akan terasa hingga beberapa hari kedepan. Tidak seharusnya aku berpikiran macam-macam tentang Ichigo." Dia adalah temanku... dia tidak lebih dari sekedar teman... Kurosaki Ichigo adalah teman Kuchiki Rukia..." ucapku berulang kali dalam hati.

"Apa yang sedang kau pikirkan, mungil?"

Sontak aku bergidik kaget mendengar suaranya, suara yang kupikir tidak akan kudengar hari ini. Piring cangkir yang kupegang terjatuh ke atas meja dengan bunyi 'kelontang' yang sedikit bising. Cepat-cepat kuraih piring itu dan mendekapnya erat di depan dadaku.

Kubalikkan tubuhku perlahan ke belakang, mendapati Ichigo yang menatapku geli, "I..Ichigo!"

"Hai, Rukia. Maaf, aku mengagetkanmu," katanya sambil menahan tawanya.

"Maaf? Lalu kenapa kau tertawa?" balasku sinis sambil mengerutkan alisku.

"Aku tidak mengira kau akan sekaget itu," ucapnya sambil menopang dagu menggunakan sebelah tangannya. Senyumnya tidak bisa lepas dari wajahnya kali ini.

"Apa pesananmu?" tanyaku sedikit kikuk, menghindari tatapannya untuk menyembunyikan mukaku yang mulai terasa panas.

"Cappucino saja. Sampai kapan shiftmu berakhir?"

"Kira-kira dua jam lagi. Jam 6 sore adalah jam tutup cafe, tapi kami harus membersihkan cafe dan menata meja-meja pelanggan," jawabku sambil mulai membuat pesanan.

"Begitu? Kau pulang sendiri?" tanyanya lagi.

"Ya, bisa dibilang begitu. Tapi, rumahku searah dengan rumah Rangiku-san, jadi kami selalu berjalan pulang bersama." Kuletakkan cangkir berisi kopi pada mesin espresso dan menunggu air mengalir melalui saringan mengisi kopi.

"Rukia-chan!" teriak Rangiku-san tiba-tiba. Kenapa dia bisa muncul di saat yang tidak tepat.

Rangiku-san melirikku dan Ichigo bergantian. Ada senyum aneh yang terpasang di wajahnya, membuatku bingung sekaligus risih.

"Eehh... halo Kurosaki-kun. Menemui Rukia lagi?" tanya Rangiku-san terus terang dan membuatku mendelik padanya.

"Rangiku-san," sapa Ichigo sambil memamerkan senyumnya. "Ah, aku sekedar mampir sebentar."

"Oya Rukia, gomen. Hari ini aku tidak bisa menemanimu pulang. Temanku mengajakku pergi setelah shift cafe selesai," ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan muka, pertanda permintaan maaf. Dan, sekilas aku melihat matanya melirik Ichigo, apa maksudnya?

"Apa... kau ada yang bisa menjemputmu? Aku khawatir penjahat tempo hari muncul lagi, kau melihat beritanya kan di televisi," lanjut Rangiku-san.

"Tidak apa, aku bisa pulang sendiri," balasku sambil memberikan secangkir Cappucino ke depan meja Ichigo. "Lagipula, penjahat itu sudah tertangkap kemarin. Jadi, tidak apa-apa aku pulang sedikit larut."

"Aku akan mengantarmu," sela Ichigo sambil menyeruput kopi panasnya. Dan perkataannya membuat mataku terbelalak lebar.

"Tu..tunggu, Ichigo. Kau tidak perlu mengantarku, rumah kita kan berlawanan arah," balasku cepat dan mendapat tatapan aneh lagi dari Rangiku-san.

"Tidak apa-apa, lagipula aku sedang senggang. Tidak baik pulang larut bagi gadis sepertimu, mungil," balas Ichigo tanpa melihatku, masih sibuk dengan kopinya dan kali ini hp ditangannya.

"Mu.. Jangan memanggilku mungil!" kataku sinis.

"Bagaimana kalau ada orang seperti tempo hari menyergapmu? Tubuh mungilmu tidak akan bisa melawan orang yang besarnya dua kali lipat darimu." Lagi-lagi Ichigo menentangku, keras kepalanya benar-benar membuatku jengah.

"Eh...Rukia-chan disergap orang jahat?" tanya Rangiku-san ingin tahu, dengan sengaja dia membuat nada suara aneh yang merajuk paksa. "Kau bersama Rukia-chan, Kurosaki-kun?"

"Ah.. aku tanpa sengaja bertemu dengannya tempo hari. Saat aku mengantarnya pulang, tiba-tiba saja orang jahat itu muncul," jelas Ichigo yang tidak tahu maksud licik dari pertanyaan Rangiku-san.

"Wah, kau benar-benar telah menolong Rukia-chan, Kurosaki-kun! Aku berterima kasih telah menolong temanku yang sedikit kikuk dan kecil ini." Rangiku-san menundukkan kepalanya sambil tersenyum padaku. Tatapannya menjelaskan, 'Kau harus segera menjelaskan ini padaku! Segera!'

"Eh..sama-sama. Tidak ada salahnya mengantar seorang teman untuk pulang, kan?" kata Ichigo sambil kembali melirikku. Senyumnya tersembunyi di balik cangkir kopi yang menutupi mulutnya. "Kau tidak usah cemas, Rangiku-san. Aku akan mengantarnya pulang setelah shift kerjanya selesai."
"Benarkah? Maaf sudah merepotkanmu, Kurosaki-kun!" kata Rangiku-san girang.

"Tunggu dulu! Kenapa kalian yang memutuskan?" tanyaku kesal sambil menekankan kedua telapak tanganku di atas meja. "Terserah padaku aku pulang sendiri atau tidak. Dan aku tidak suka merepotkan orang lain hanya sekedar mengantarku pulang. Lagipula, rumahku tidak jauh dari halte bus!"

Rangiku-san memasang tampang memelas dan terlihat kecewa—lagi-lagi berakting, "Kau sudah menolak niat baik orang lain, Rukia-chan. Itu tidak baik."

Ichigo mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti menyetujui apa yang Rangiku-san katakan. Sejak kapan mereka mulai bersekongkol? "Aku memaksa, Rukia. Dan benar apa yang Rangiku-san katakan. Kau sama sekali tidak merepotkanku, karena aku yang menawari lebih dulu."

Dua orang ini benar-benar membuatku sakit kepala. Kukerutkan alisku dan memberengut kesal. Sebagian karena memang benar-benar dibuat kesal oleh mereka dan sebagian karena aku sudah kalah. Aku tidak bisa membalas perkataan mereka, sekaligus menuruti perasaan yang seharusnya tidak kukeluarkan sekarang. Perasaan yang aneh dan mengusik disaat Ichigo mengucapkan kata-kata itu, memberikan waktunya untuk mengantarku pulang bukanlah hal yang bisa kuterima. Tapi, perasaan senang dan berharap tidak bisa kututupi untuk diriku sendiri. Dia mengantarku pulang, membuatku tidak sabar untuk menunggu jam berdetak lebih cepat—sekedar mempercepat waktu yang terasa berjalan lama.

(..)

(..)

(..)

Kulap meja yang sebenarnya sudah bersih mengkilap ini, hanya sekedar mencari-cari waktu yang tersisa sedikit lagi. Perasaan tidak sabar akan menunggu waktu tadi tiba-tiba hilang begitu saja. Dan sekarang rasanya aku ingin sekali menghindar darinya—dari Ichigo yang menungguku dari tadi di meja depanku. Dia terus terduduk disana, memandangku, mengajakku berbincang, memainkan hpnya, membaca buku pelajaran yang dibawanya, berbincang dengan Rangiku-san ataupun Hisagi-san dan Yumichika yang mengambil pesanan, dan terus berulang—hanya sekedar mengisi waktu luang untuk menungguku. Kadang aku merasa dia akan bosan menungguku dan mencari-cari alasan untuk pergi meninggalkanku. Tapi, itu hanya sekedar pikiran burukku. Ichigo sama sekali tidak merasa bosan ataupun jengah, senyumnya tidak bisa lepas dari wajah bodohnya itu selama hampir dua jam berlalu. Dan itu berhasil membuatku kikuk, hampir saja aku salah lupa memasukkan susu pada cangkir pesanan.

Ichigo menungguku di beranda luar, sedang menelepon seseorang sejak beberapa menit yang lalu. Seharusnya aku sudah menyusulnya sekarang, berjalan pulang bersama Ichigo. Tapi ada sesuatu yang menghambatku untuk tetap berdiri disini, enggan menghampiri dan berusaha tersenyum padanya. Lebih tepatnya, apakah aku bisa tersenyum kepadanya, setelah semua yang dilakukannya padaku? Menerima kebaikannya seperti menelan sebongkah batu dan tersangkut di kerongkonganku—merasa semua itu tidaklah benar.

"Rukia?" Unohana-san menghampiriku dan memandangku bingung. "Kau tidak pulang?"

"Ah, Unohana-san..eh..aku masih membereskan meja," kataku terbata-bata, entah apa yang ada di pikiranku sekarang—sulit rasanya untuk sedikit berkonsentrasi pada pekerjaan.

"Sejak tadi kau membersihkan meja yang memang sudah terlihat bersih, Rukia," ucap Unohana-san sambil tersenyum geli. Spontan aku memberhentikan kegiatan mengelapku dan merasa malu. "Dan sejak tadi dia menunggumu, Rukia. Kau..tidak merasa kasihan pada pacarmu itu?" Unohana-san menunjuk jendela depan dengan telunjukknya, menunjuk Ichigo yang masih sibuk menelepon.

"Eh?! Pa..pacar? Bukan, Unohana-san! Dia hanya temanku! Ya, dia memang temanku," jawabku kikuk dan kaget bukan main, bagaimana bisa Unohana-san menganggap kami sebagai sepasang kekasih?

"Bukan? Oh, aku salah mengira ya. Kupikir kalian memiliki..hubungan khusus. Dia seringkali datang kemari dan duduk tepat di depanmu." Unohana-san tersenyum ramah padaku dan entah kenapa aku merasa dia memiliki senyum yang sama dengan Rangiku-san.

"Kau sudah boleh pulang, Rukia. Terima kasih atas kerjasamanya," lanjut Unohana-san. "Tidak baik membuatnya menunggu terlalu lama di luar."

"Ah..Ya.. Terima kasih, Unohana-san," balasku sambil menunduk dan cepat-cepat menuju pintu karyawan untuk berganti pakaian.

(..)

Kugantung celemek dan pakaian kerjaku di dalam loker dan segera mengunci loker tanpa berpikir panjang. Kuraih tas sekolahku dan bergegas keluar melewati pintu karyawan, enggan menemui Rangiku-san dan Yumichika yang masih sibuk membereskan bangku-bangku pelanggan. Aku memutar ke arah gang belakang menuju jalan depan dengan langkah tergesa. Seharusnya aku melakukan hal ini daritadi, tidak membiarkan Ichigo menunggu selama ini.

Aku berhenti begitu melihat Ichigo yang terdiam di depan cafe. Kuhembuskan napasku perlahan, membulatkan tekad dan keberanianku untuk menghadapinya sekarang. Ichigo menyadari kedatanganku dan tersenyum kepadaku, bukan sebaliknya.

"Kau lewat belakang?" tanyanya sambil melirik gang gelap yang telah kulewati tadi.

"Ya, ruang karyawan tepat berada di belakang cafe. Kami melewati pintu belakang untuk berganti shift," jelasku sambil mulai berjalan meninggalkan cafe. Ichigo mengikutiku dan berjalan berdampingan denganku. "Maaf sudah membuatmu menunggu."

"Tidak apa-apa. Lagipula kau keluar setengah jam lebih cepat."

Aku mengangguk perlahan, "Ya, Unohana-san menyuruhku pulang cepat. Dan..tidak baik..membuat..mu menunggu."

Ichigo hanya menanggapiku dengan senyum lebarnya dan tangannya yang terulur untuk mengusap kepalaku lembut. "Kau bisa mengandalkanku kapanpun, Rukia."

Tangannya menggenggam tanganku erat, lebih seperti mencengkram daripada bergandengan tangan. "I..Ichigo?"

"Hanya mencegahmu hilang tiba-tiba. Tubuh mungilmu bisa lepas dari pengawasanku kapan saja," ucapnya lembut.

Spontan kuinjak lagi kakinya keras-keras. "Aw! Bukankah kita sudah berteman? Kenapa kau masih menginjak kakiku?"

"Karena kau terus memanggilku mungil!" balasku kesal. Dan genggaman Ichigo tidak mau lepas dari tanganku.

Tiba-tiba saja pandanganku teralih pada sosok seorang laki-laki paruh baya yang terlihat seperti orang kantoran sedang melirikku dengan tatapan aneh. Dia terus melihatku dengan tatapan yang membuatku bergidik, tapi pandangannya teralih pada sesuatu yang mengusiknya. Dengan cepat dia berhenti melirikku dan pergi dari hadapanku dengan langkah seribu. Kukerutkan alisku bingung dan menatap Ichigo di sampingku yang berubah tegang. Matanya kembali tajam, seperti tempo hari saat aku berjalan bersamanya. Dia..memelototi laki-laki paruh baya tadi? Jadi paman itu kabur karena..Ichigo?

"Itulah sebabnya aku mengantarmu pulang, menggenggam tanganmu. Tidak apa kan begini hingga sampai ke rumahmu?" tanyanya sambil memperlihatkan tautan tangan kami ke depan wajahku.
"Eh..ya.. Terima kasih, Ichigo," kataku canggung sambil menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang memerah.

Kami berjalan bersamaan hingga mencapai halte bus. Tangan Ichigo tidak pernah melepas tanganku, seakan-akan tangannya merekat erat dan terkena lem kuat pada tanganku. Sikap defensifnya yang datang tiba-tiba selalu membuatku kaget sekaligus sedikit takut—melihat tatapan matanya yang berubah tajam dan mengancam. Apakah matanya selalu begitu, bila ada sesuatu yang menganggu dirinya? Apakah dia akan menunjukkan ekspresi itu kepadaku suatu saat nanti, melihatku dengan tatapan asing dan menakutkan? Memikirkannya saja sudah membuat tubuhku sedikit bergetar dan tidak nyaman, seperti disiram air dingin tiba-tiba.

"Kau tidak apa-apa, Rukia?" tegur Ichigo. Kami terus berjalan diselimuti keheningan distrik 6 komplek rumahku.

Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat wajah bingungnya, kedua alisnya bertaut di tengah dahinya—menciptakan kerutan-kerutan yang semakin terlihat berkerut di tengah dahinya. "Aku? Aku tidak apa-apa."

"Mukamu terlihat...tidak tenang. Kau sedang memikirkan apa? Sesuatu yang buruk?"

Aku menggelengkan kepala dengan cepat, sekaligus mengenyahkan pikiran anehku tadi. "Tidak. Hanya saja..ada sesuatu yang mengusikku. Tapi bukan hal penting, kok. Kau tidak perlu khawatir," jawabku sambil menunjukkan senyumku pada Ichigo, berusaha membuatnya tenang.

Ichigo membalas senyumku dan menggenggam tanganku semakin erat, "Baguslah kalau begitu."

Tidak berapa lama, kami tiba di depan rumahku. Sepertinya nii-sama pulang larut lagi malam ini, melihat mobilnya belum terparkir di halaman rumah. Aku membuka gerbang rumah dengen bunyi berdecit, masih dengan tangan Ichigo yang enggan melepas tanganku.

"Terima kasih, Ichigo, kau sudah mengantarku sampai sini," ucapku berusaha melepas tangannya, tapi sepertinya sia-sia. "Kau..mau mampir dulu?"

Tiba-tiba suara pintu depan rumahku berdecit terbuka. Nee-san melirik kami dari balik pintu dengan mata lebarnya, sama seperti mataku. "Rukia?"

"Ah..nee-san, tadaima," kataku canggung dengan Ichigo yang masih berdiri dekat di sampingku. Dan lagi-lagi tangannya masih menggenggam erat tanganku.

"Okaeri, eh...kau bersama..temanmu?" ucap nee-san sedikit bingung, tapi senyumnya tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.
"Selamat malam, Kuchiki-san. Saya Kurosaki Ichigo, teman Rukia," kata Ichigo sambil melepas genggamannya, meninggalkan kehangatan di telapak tanganku yang menjalar cepat menuju wajahku.

"Selamat malam. Aku kakak Rukia, Kuchiki Hisana," balas nee-san menunjukkan senyum lebarnya. "Terima kasih sudah mengantar Rukia pulang. Kau mau bergabung untuk makan malam bersama kami?"

"Ah..kupikir ini sudah malam. Mungkin lain kali, Hisana-san," ucap Ichigo. "Terima kasih atas tawarannya."

Mukaku sedikit memberengut begitu menatap Ichigo yang memperlihatkan tatapan penyesalannya. Kupikir setidaknya dia akan tinggal lebih lama disini.

"Aku pulang dulu ya, Rukia. Gomen, tidak bisa menemanimu malam ini," katanya lembut seraya menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya sebelum dia beranjak pergi. "Selamat malam, Hisana-san."

"Selamat malam, Ichigo-kun. Hati-hati di jalan," kata nee-san sambil melambaikan tangannya pada sosok Ichigo yang melangkah pergi.

"Terima kasih, Ichigo," ucapku buru-buru, tersentak dari lamunan bodohku—membuatku mematung diam sejak tadi. "Hati-hati!"

Ichigo hanya tersenyum padaku dan kembali berjalan pergi meninggalkanku di belakang. Lagi-lagi senyumnya membuat jantungku berdetak cepat, kenapa dia bisa tersenyum seperti itu, sih? Tawake!

"Ehem..Rukia, kau tidak masuk," tegur nee-san yang masih berdiri di depan pintu. Cepat-cepat aku memasuki gerbang rumah dan berjalan ke arah pintu masuk. Nee-san menatapku dengan tatapan aneh, setengah tersenyum dan setengah tidak percaya.

"Jadi...dia itu temanmu?" tanyanya.

"Iya, dia temanku," balasku sambil mengganti sepatu sekolahku dengan sendal rumah.
"Dimana kau bertemu dengannya?"

"Dia seorang atlet lari di Athlethic Society High School. Aku tidak sengaja bertemu dengannya disana." Entah kenapa aku merasa tidak tenang menanggapi pertanyaan-pertanyaan nee-san.

"Ow...hanya..teman?"

Aku memberengut kesal, hampir setiap orang menanyakan pertanyaan itu padaku. "Dia temanku, nee-san," jawabku sambil berusaha menunjukkan senyum lebarku.

Nee-san mengerutkan alisnya bingung dan mendesah panjang, "Kau tahu, Rukia, tidak banyak laki-laki di luar sana yang seperti Ichigo-kun. Kau salah satu yang beruntung menemukan sosok seperti diri Ichigo. Kupikir tidak ada salahnya kau yang memulai duluan, bukan?"

Aku membelalakan mataku lebar, setengah tidak percaya, "A..Apa..maksud nee-san? Kami hanya berteman! Dia temanku!" Entah sudah keberapa kalinya aku mengucapkan kata 'teman' hari ini.

"Tadi aku melihat dia menggandeng tanganmu."

Tiba-tiba aku seperti disiram air dingin, tepat mengenai punggungku. "Ah..itu..dia.." tenggorokanku rasanya seperti tercekat. Sesuatu yang bisa kujelaskan secara langsung entah kenapa tertahan di dalam kerongkonganku.

Nee-san tersenyum lagi, kali ini senyumnya mirip yang diperlihatkan Rangiku-san dan Unohana-san. "Mungkin aku harus menceritakannya pada Byakuya—"
"Jangan!"

(..)

(..)

(..)

Aku membolak-balikkan teks buku bahasa Inggris di pangkuanku. Tidak ada satu kata pun yang bisa menempel ke dalam otakku. Pikiran mengenai kejadian malam kemarin terus mengusik pikiranku. Beruntung saja nee-san tidak menceritakan tentang Ichigo pada nii-sama. Bagaimana jadinya kalau nii-sama tahu hal ini? Seorang laki-laki nyentrik mengantar adiknya pulang ke rumah. Laki-laki bermata tajam dan berambut orange. Tatapan serius seperti gangster, tubuh tinggi kurus tapi terlihat atletis... Aku mengacak-acak rambutku kesal, berusaha menepis pikiran aneh yang terus menghantuiku sepanjang hari. Memikirkan ceramahan nii-sama yang mungkin akan terus berlanjut sepanjang minggu, bahkan berbulan-bulan. Ditambah lagi, mungkin aku tidak diperbolehkan bekerja part-time disini lagi.

Kututup buku di pangkuanku dan meletakannya di rak laci bawah counter. Suasana cafe hari ini terbilang sepi, hanya beberapa pengunjung yang menghiasi kursi pelanggan di depan. Saking lenggangnya, aku jarang menerima pesanan hari ini—menghabiskan sebagian besar waktuku dengan membaca buku pelajaran yang tidak bisa kutangkap arti dari setiap hurufnya. Otakku dipenuhi oleh berbagai hal aneh, mulai dari nii-sama hingga Ichigo. Senyumnya terus terpatri jelas pada benakku, kadang membuatku senyum-senyum sendiri dan tidak bisa tidur sepanjang malam. Ada apa denganku hari ini?

Aku melirik mengitari cafe, mencari-cari seseorang ataupun pelanggan yang setidaknya memesan kopi sore ini. Tidak ada yang berubah. Kulepaskan celemekku dan menyampirkannya di counter, hendak beristirahat sejenak di belakang untuk menghapus pikiran penatku.

"Hi, ah..cafenya sudah mau tutup ya?" tanya seseorang dari belakangku. Cepat-cepat aku menyambar celemekku lagi dan memasangnya pada tubuhku.
"Tidak tuan, jam tutup kami masih dua jam lagi. Karena tidak ada pelanggan aku bermaksud istirahat sebentar," jelasku buru-buru dan memasang sikap siap di depan counter. "Apa pesanan anda, tu—"

Wajah laki-laki itu terpaku padaku, menduduki tempat yang biasanya dipakai Ichigo. Berambut hitam mencuat dan bermata tajam. Memiliki tulang rahang yang sedikit lebih tinggi dari Ichigo dan senyum lebih lebar. Dia..mirip Ichigo..sangat mirip. Hanya rambutnya yang terlihat jauh berbeda dari Ichigo—hitam segelap bulu gagak.

"Nona?" tanyanya, membangunanku dari lamunanku.

"Ah...iya, maaf tuan. Kami menyediakan menu pilihan untuk musim semi. Diantaranya adalah unggulan dari cafe kami, seperti Cappucino, Macchiato, Espresso con panna, Marocchino, dan Americano," jelasku sambil memasang senyum ramah.

"Aku pesan Americano saja," jawabnya sambil melihat daftar menu. Ternyata dia berbeda selera dengan Ichigo, walau wajahnya terlihat sama.

"Maaf, kalau boleh aku bertanya, kau pekerja part-time disini?" tanyanya tiba-tiba.

"Ya, saya bekerja part-time disini, tuan," jawabku seadanya sambil menyaring bubuk kopi.

"Kau...masih sekolah?"

"Ya, saya bersekolah di Society High School."

"High School?" tanyanya tidak percaya dan membuatku kesal. Tidak sedikit yang salah mengira kalau aku bukanlah anak SMA. Kebanyakan dari mereka menebak SMP bahkan SD. "Ah, maaf...kupikir kamu..."

"Tidak apa, tuan. Banyak yang salah mengira begitu," jawabku buru-buru dan memasang senyum ramah—berusaha memasang tepatnya.

"Society High School ya," lanjutnya tidak terganggu oleh sikapku. "Apa itu berdekatan dengan Athlethic Society High School?"

Sekolah Ichigo? "Ah ya, sekolah itu berdekatan, hanya terpaut beberapa meter saja."

"Begitu? Mulai besok aku akan bersekolah di Athlethic Society High School," katanya antusias.

Setelah menaruh cangkir pada mesin espresso, aku membalikkan tubuhku padanya. "Kau murid baru?"

"Ya..ah maaf, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Shiba Kaien, mulai hari ini aku tinggal di Karakura," ucapnya. Ternyata nama keluarganya berbeda dengan Ichigo. Dan entah kenapa kesan urakannya terlihat mirip dengan Ichigo.

"Aku..Kuchiki Rukia. Salam kenal," balasku.

"Rukia ya? Nama yang bagus." Kata-katanya membuat wajahku tiba-tiba memanas. Sikap menggodanya mirip dengan Ichigo.

"Kaien?" Seseorang menegur laki-laki di depanku ini. Setelah kusaring dan meletakkan cangkir kopi di depan Shiba-san, aku menangkap sosok Ichigo berdiri tidak jauh di belakang Shiba-san. Tatapannya terlihat kaget sekaligus bingung menatap Shiba-san.

"Ichigo," kataku dan Shiba-san bersamaan, tidak disengaja.

"Kau kenal Ichigo?" kata Shiba-san menatapku, sambil menunjuk orang yang masih terpatung di belakangnya.

"Kau kenal Rukia?" balas Ichigo yang mulai melangkah dan duduk di sebelah Shiba-san.

Mereka berdua membuatku bingung harus menjawab apa. Aku hanya terpaku diam dan melihat pandangan menakjubkan di depanku. Dua orang serupa, tapi tak sama. Seandainya saja rambut Ichigo berwarna hitam...

"Kalian..kembar?" tanyaku bingung.

"Hah?" jawab Ichigo bingung dan menatap bingung Kaien. "Semirip itukah aku dengannya? Setiap orang selalu menanyakan hal yang sama."

"Ichigo adalah saudara sepupuku. Ibu kami kakak adik," jelas Shiba-san singkat. Pantas saja nama keluarga mereka tidak sama. "Lama tidak bertemu, Ichigo."

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau seharusnya berada di Rio?"

Rio? Rio De Janeiro? Brazil?

"Aku baru pulang seminggu yang lalu. Kuputuskan untuk sekolah di Jepang daripada harus menetap di Brazil. Lagipula, sudah lama aku tidak mengunjungi kalian, bagaimana kabar Isshin oji-san?"

Ichigo terdiam sejenak, terlihat sedang mencerna kata-kata Shiba-san, "Ah..begitu.. Ayah baik-baik saja, lebih sehat daripada sebelumnya, "katanya terlihat ketus.

"Hahahah..begitu ya..Oji-san selalu terlihat bersemangat seperti biasa. Karin dan Yuzu-chan?"

"Mereka baik-baik saja. Kadang Yuzu menanyakan kabarmu. Akhir-akhir in kau jarang membalas emailnya. Bagaimana kabar bibi disana?"

"Gomen, aku sibuk menyelesaikan masalah pemindahanku ke Jepang. Ibuku baik-baik saja disana. Kadang Ukitake ji-san mengunjungi kami sebulan sekali," ucapnya sambil mengaduk-aduk kopi hitamnya.

Aku hanya terpaku melihat kedua laki-laki di depanku ini, sibuk berbincang dan larut dalam dunia mereka sendiri. Wajar saja mereka berbincang begitu lama, saudara yang sudah sekian lama tidak bertemu. Seandainya saja aku memiliki saudara lain di luar sana, selain nee-san yang sudah seperti ibu bagiku..

Pandangan Ichigo beralih padaku, seperti baru menyadari keberadaanku di depannya. Dia tersenyum lembut dan tatapannya terlihat memelas," Gomen, Rukia, aku melupakanmu sesaat. Aku pesan yang seperti biasa saja."

Belum sempat aku menanyakan pesanannya, dengan sigap dia mengatakannya lebih dulu. "Baiklah, satu Cappucino dengan gambar kelinci," kataku ketus.

"Eh? Kelinci lagi?"

"Kau kenal dengan Kuchiki-san?" tanya Kaien ingin tahu.

"Ah, dia temanku. Aku seringkali datang kemari," balas Ichigo dengan cepat. Bisa kurasakan tatapannya menusuk punggungku yang membelakanginya.

"Teman ya?" gumam Shiba-san dan setelah itu terjadi keheningan mendadak. Aku segera menyelesaikan pesanan Ichigo dan menggambar Chappy di atasnya. Senyumku kembali merekah, melihat hasil karyaku yang lagi-lagi bisa dibilang berhasil.

"Satu Cappucino dengan gambar Chappy!" teriakku sambil menyodorkan cangkir kopi ke depan Ichigo.

"Cha..Chappy?!"

"Apa itu Chappy?" tanya Shiba-san dengan tatapan polos.

"Kelinci alien—"

"Chappy itu salah satu karakter anime yang sedang populer di Jepang, Shiba-san!" jelasku cepat memotong perkataan si bodoh orange ini.

"Panggil saja Kaien,"ucap Shiba-san sambil menatapku ramah.

"Eh? Ah...Kaien-san," kataku ragu. Mukaku terasa panas dan lagi-lagi membuatku kikuk.

Ichigo menatap tajam Kaien-san, sedikit mirip dengan tatapan tajamnya kemarin malam. Aku sedikit bergidik ngeri, kenapa dia bisa memberikan tatapan seperti itu pada saudaranya sendiri?

"Kalian terlihat akrab," ucap Ichigo ketus sambil menyeruput kopinya.

Tiba-tiba suasana terasa canggung—hening mendadak. Kaien-san menatap bingung Ichigo yang enggan menatap lawan bicaranya itu. Aku hanya terdiam sambil meremas-remas celemekku. Ada apa dengan Ichigo? Sikap ramahnya tiba-tiba saja menghilang.

"Ehem..boleh aku memanggilmu Rukia?" kata Kaien-san memecah keheningan yang janggal.

"Eh? Ah ya..silahkan, Kaien-san," ucapku terbata-bata.

"Apa kau..sudah punya pacar?" Ucapan Kaien-san membuatku terbelalak lebar dan Ichigo tersedak kopinya sendiri.

"Kaien!" teriak Ichigo kesal. Dia memelototi Kaien-san sambil mengusap mulutnya yang basah dengan tisu.

"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh bertanya?" tanyanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

"Justru pertanyaanmulah yang tidak masuk akal! Apa-apaan kau ini?" Ichigo semakin memberengut kesal menghadapi sikap Kaien-san yang terang-terangan dan terkesan cuek.

"Bagaimana, Rukia?" tanyanya lagi sambil menghiraukan Ichigo. Dia menatapku lekat dan tersenyum hangat padaku.

"Kaien!"

"Itu..ah.." aku melirik Ichigo sekilas yang masih terlihat kesal. Dia menatap mataku intens, membuat jantungku semakin berdetak cepat. Kita hanya sekedar teman... "Aku belum punya," bisikku malu.

"Begitukah? Baguslah!" katanya girang sambil meminum kopinya lagi.

Ichigo tidak melepas tatapannya padaku, malah semakin menatapku tajam. Aku tidak bisa menatapnya lebih lama, menghindarinya dengan berpura-pura mengelap meja di belakangku. Jantungku tidak mau berhenti berdetak cepat—rasanya seperti mau meledak dari dadaku. Ada apa sebenarnya dengan diriku ini?

*(((to be continued...)))*

Author's note :

Kaien akhirnya muncul di chapter ini! Hihihih... Seperti yang sudah aku jelasin, dia tuh saudara sepupu Ichigo. Ceritanya tuh ibu mereka kakak-adik, jadi maklum nama keluarganya beda (di Jepang nama keluarga istri berubah mengikuti nama keluarga suaminya setelah menikah.) Dulu Kaien sempat tinggal di Jepang, tapi pindah karena ayahnya yang harus bekerja di Rio (ayahnya blasteran Jepang-Brazil). Ayah-ibu Kaien adalah OC di fic ini, jadi tidak muncul di cerita Bleach aslinya (hanya sekedar karangan author ^^). Ayah Kaien meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, karena itu dia dan ibunya menetap di Rio.

Ukitake adalah saudara dari ayah Kaien (ribet ya ^^') jadi dia seringkali berkunjung untuk menengok Kaien dan ibunya yang tinggal berdua di Rio. Ukitake tinggal di Buenos Aires, cukup jauh dari Rio.

Kaien lebih suka kopi hitam pahit (Americano) daripada kopi manis. Berbanding terbalik sama Ichigo yang ga suka kopi hitam..^^'

Ichigo cemburu? Yah..bisa dibilang begitu..wkwkkw Ichi masih nganggep Rukia teman kok, tapi sebenarnya perasaan dia udah mulai berubah tuh.. Di fic ini Ichi rada telmi dan ga peka sama perasaannya sendiri.

Penjelasan mengenai jenis kopi (sumber dari wikipedia) :

Cappucino: terdiri dari 1/3 espresso, 1/3 air panas, dan 1/3 microfoam (USA). Kadang juga dicampur bubuk cocoa sesuai selera.

Macchiato: Terdiri dari Caffe Macchiato dan Latte Macchiato. Kalau Caffe adalah espresso yang diberi steamed milk diatasnya. Kalau Latte sebaliknya, steamed milk yang diberi espresso diatasnya.

Espresso con panna :Memiliki arti espresso dengan cream di atasnya.

Marocchino : Campuran espresso, steamed milk, dan bubuk cocoa.

Americano : Campuran espresso dan air panas, biasanya memiliki perbandingan yang sama besar antara pencampuran kedua bahan itu. Memiliki rasa pahit yang sama seperti kopi long black.

Terima kasih banyak untuk para readers yang masih setia membaca! Dan yang baru pertama kali baca, salam kenal ^^ Wkwkwk.. And, silahkan review~