Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
It's Summer Time~Update cepat nih! Hihihii..ngebut nulis n akhirnya kelar juga.. Pertama-tama gomen kalau chapter ini agak gaje, karena lebih memfokuskan pada masa lalu Ichigo. Dan sepertinya penataan bahasaku agak sedikit berantakan..hahahaha.. tapi udah aku usahain buat ngasih suasana tegang disini, maaf kalau ga berasa..T_T Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^
Oc..Happy reading, minna-san!
Oya, sekalian mau ngucapin Selamat Natal bagi yang merayakan. Merry Christmas all~ hohohoho.. And Happy Holiday~
~000*000~
Chapter 5 : Summer Scene One
"Rukia-chan!" suara itu bergumandang begitu kubuka pintu belakang karyawan. Rangiku-san dan Yumichika sedang terduduk di sofa sudut ruangan dengan santainya.
"Rangiku-san, Yumichika," sapaku sambil berlalu jalan ke loker bajuku.
"Hari ini panas sekali!" celetuk Yumichika sambil mengipas-ngipaskan kipas lipat berukuran besarnya tepat di depan wajahnya. Musim panas memang selalu menjadi musim terburuknya dan bisa membuatnya menggerutu sepanjang hari di cafe.
"Itu sudah kesepuluh kalinya kau mengatakan hal yang sama," balas Rangiku-san sambil berusaha menggambil kipas dari genggaman Yumichika, tapi berhasil ditepisnya.
"Tapi hari ini memang panas! Dan jangan berani-beraninya kau merebut kipasku!"
"Memangnya kau mau bekerja dengan kipas itu ditanganmu seharian? Lagipula, di cafe ada pendingin ruangan, kan?"
"Tetap saja tidak membantu!" balas Yumichika sambil terus mengipas-ngipaskan kipasnya sekuat tenaga dan membuat Rangiku-san kesal.
Setelah selesai memakai celemek di atas seragam bebasku, kutaruh tasku dalam loker dan menguncinya. "Pergantian shift sudah berjalan dan sampai kapan kalian berdua akan terus berdebat?" tanyaku jenuh. Musim panas juga bukan musim favoritku. Panasnya matahari seringkali membuat kepalaku berdenyut pusing dan membuat tubuhku lemas seharian. Beruntung saja di rumah ada pendingin ruangan baru, membuatku betah seharian di rumah sepanjang liburan musim panas.
"Hai hai! Biarkan saja Yumichika menggerutu seharian disini!" kata Rangiku-san sambil berdiri dari sofa dan menyusulku ke arah pintu menuju cafe. "Kau tahu kan kalau Unohana-san tidak akan memberi ampun bagi karyawan yang terlambat?"
"Konnichiwa!" tiba-tiba pintu belakang karyawan terbuka lebar. Seorang laki-laki berambut kuning dan berpotongan rata muncul disana, sambil menenteng tas berukuran sedang di sebelah tangannya.
"Hirako!" teriak Rangiku-san di sebelahku.
Ah..ternyata dia Hirako Shinji yang nyentrik itu. Rangiku-san sering kali membahas tentang dirinya, seorang laki-laki nyentrik namun juga sedikit berbahaya. Senpai berambut kuning berponi rata yang sudah menduduki bangku kuliah, disamping otaknya yang cemerlang dia adalah salah satu orang berpengaruh dalam dunia fashion Jepang.
"Ah..Rangiku," balas Hirako-san sambil berjalan santai ke dalam ruangan.
"Tutup pintunya! Udara panas bisa masuk ke ruangan ini!" omel Yumichika sambil terus mengipas-ngipaskan kipasnya, yang aku khawatir sebentar lagi kipasnya akan segera rusak karena tenaga supernya itu.
"Kau berisik sekali, mata lentik!" balas Hirako-san tidak kalah sangar. Di balik poni ratanya, aku bisa melihat alisnya yang bertaut kesal.
"Kenapa kau ada di shift sore, Hirako?" tanya Rangiku-san, menghiraukan pertengkaran baru antara dua orang nyentrik itu.
"Hah? Ah.. Shuuhei meminta pergantian shift denganku. Lagipula, sekarang aku sedang senggang," jawabnya terkesan cuek.
Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Hirako-san menatapku bingung dan buru-buru aku menundukkan kepalaku, memberi salam, "Halo, Hirako-san. Namaku Kuchiki Rukia, barista yang bertugas di shift sore. Mohon kerjasamanya."
"Eh? Si kecil ini barista?" tanyanya bingung dan membuatku sedikit emosi. Dia menilai kemampuanku hanya dari ukuran tubuhku?
"Rukia adalah anak didik Unohana-san. Jangan kau remehkan kemampuannya, Hirako!" balas Rangiku-san sambil menyampirkan lengannya di bahuku.
Hirako-san hanya berdiri terdiam disana, sambil terus memandangiku dengan tatapan anehnya. "Baiklah, terserah kau saja," katanya sambil menghembuskan napas dan mulai berjalan ke salah satu loker karyawan. "Mohon kerjasamanya."
"Yumichika! Sampai kapan kau akan terus duduk disana?" omel Rangiku-san sambil mendorongku ke arah pintu depan.
Yumichika menatapnya kesal sambil menggerutukan sesuatu yang tidak jelas. Dengan enggan dia berdiri, masih dengan mengipas-ngipaskan kipas besarnya. Kuraih kenop pintu dan segera menuju counterku. Udara dingin langsung menyeruak masuk dan menggelitiki kulitku yang panas. Pendingin ruangannya benar-benar bekerja, tidak masalah bila aku harus bekerja disini seharian. Kulangkahkan kakiku ke arah counter kopi dan menemukan seseorang disana, mengisi tempatku sebagai barista.
"Coyote-san?" tanyaku memastikan. Pria berambut hitam itu langsung menengok ke arahku sambil mengelap cangkir-cangkir di tangannya.
"Kuchiki," balasnya dengan sikap coolnya. Dia memang selalu terlihat diam bila tidak ditanya, tapi menjadi barista unggulan cafe ini selain Unohana-san. Pembawaannya yang santai dan wajahnya yang tampan menjadikannya pekerja favorit para siswi hingga wanita muda pengunjung disini. Dan Coyote-san seringkali membantuku—mentorku selain Unohana-san.
Kubuka pintu counter sambil melihat ke sekeliling cafe. Pengunjung terlihat memadati ruangan dan hampir semua meja terisi penuh. Bahkan, meja di counter kopipun terisi oleh beberapa orang pengunjung. Padahal, biasanya hanya Ichigo atau Kaien-san yang menjadi pengunjung tetap disana.
"Sudah pergantian shift, ya?" tanya Coyote-san sambil meregangkan badannya yang tinggi seperti model. Kadang aku penasaran, kenapa dia lebih memilih bekerja sebagai barista di cafe ini. Penampilan fisiknya yang di atas rata-rata bisa mendukungnya untuk bekerja di dunia hiburan, bahkan penghasilannya pun lebih terjamin.
"Ya," jawabku lantang sambil menundukkan kepalaku. "Terima kasih atas kerja kerasnya."
"Jangan bekerja terlalu keras, Kuchiki," balasnya sambil menepuk pelan kepalaku dan mengacak-acak rambutku.
"Coyote-san!" protesku sambil berusaha membereskan rambutku yang sekarang tertata asal-asalan.
Coyote-san hanya tersenyum ringan dan berhenti sebentar sebelum membuka pintu counter, "Dan hati-hati dengan para pengunjung, terutama para pria. Mereka terlihat lebih agresif bila musim panas tiba."
"Hah?" kataku bingung sambil memandang kepergiannya dalam diam. Coyote-san memang sering mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Dan sikapnya itu kadang-kadang seperti seorang cenayang dan disegani beberapa karyawan disini. Aku pun menjadi salah satu 'pelanggan' tetapnya dan kejadian besar menimpaku tepat setahun yang lalu. Di saat Coyote-san berkata, 'Hati-hati dengan langkahmu' yang awalnya tidak kutanggapi serius. Benar saja, saat jam tutup kafe tanpa sengaja aku menendang meja counter hingga kakiku membengkak. Hari berikutnya kakiku tertimpa kursi counter yang tanpa sengaja—karena kecerobohanku menarik kursi yang salah posisi. Dan, seminggu kemudian kakiku terinjak oleh Yumichika tanpa sengaja. Mungkin hari-hari itu aku memang sedang sial, tapi Yumichika dan Hisagi-san menyangkal hal itu. Mereka terus beranggapan kalau Coyote-san memiliki semacam 'kemampuan lebih' dan sering memanggilnya dengan sebutan 'si cenayang tampan'.
Begitu Coyote-san meninggalkan counter dan berganti shift denganku, aku segera menuju meja kerjaku dan mulai meregangkan badanku. Mungkin ini akan menjadi sore yang sibuk, disamping matahari yang bersinar terik di luar sana.
"Ah, Rukia, kau sudah berganti shift dengan Coyote-san, ya." Momo menyapaku dengan senyum manisnya. Dia sudah datang lebih dulu daripada aku ternyata—terlihat kecil di antara pengunjung yang berlalu-lalang membuatku tidak menyadari keberadaannya.
" Momo," sapaku sambil mengambil lap untuk menyelesaikan pekerjaan Coyote-san tadi—membersihkan cangkir-cangkir yang tersisa. "Hari ini cafe terlihat penuh."
"Iya, para pengunjung terus berdatangan sejak pergantian shift tadi," kata Momo sambil menyodorkan kertas pesanan padaku. "Ini pesanan pertamamu, dua Iced Latte Macchiato dan satu Iced Green Matcha untuk meja 12," jelasnya sambil menaruh nampan di depan dadanya, menjadi kebiasaannya sehari-hari.
Aku membaca pesanan dan segera menempelkan kertas pada meja counter, "Baiklah, segera untuk meja 12."
Momo berlalu pergi untuk melayani pelanggan berikutnya yang menunggu, sementara aku menyiapkan peralatanku untuk memulai tugasku. Produk Ice selama musim panas memang menjadi menu utama kami, apalagi menjelang siang hingga sore hari. Kebanyakan para siswa yang berlibur di musim panas lebih menyukai kopi dingin daripada kopi panas. Dan beberapa menu khusus musim panas seperti matcha dan chocolate menjadi menu pilihan populer. Tidak terlalu sulit untuk membuatnya, disamping pekerjaan utamaku sebagai barista cafe. Untuk minuman sederhana lainnya, seperti teh dan cocktail segar telah menjadi pekerjaan lain Unohana-san, selain menjadi kasir utama cafe.
"Rukia," panggil seseorang yang membuat punggungku merinding. Suara yang sudah lama tidak kudengar, selain mendengarnya dari seberang hp. Ichigo sudah terduduk di meja tetapnya. Entah kenapa dia terlihat lebih menarik dari biasanya, memakai kaos hitam berlengan pendek yang terasa begitu pas di badannya. Tubuh atletisnya memang memiliki kelebihan tersendiri yang menjadikan kepopulerannya selalu meningkat.
"Ichigo," sapaku sambil berlalu pergi membelakanginya untuk mengambil es batu. Lagi-lagi mukaku terasa panas, kali ini bukan karena udara musim panas.
"Part-time selama musim panas? Pekerjaanmu tidak berkurang ya," katanya sambil melihat-lihat menu di tangannya.
"Aku tidak mengambil libur, lagipula, tidak ada yang bisa kulakukan selama musim panas ini," balasku sambil menenteng gelas yang sudah penuh oleh es batu. "Apa pesananmu hari ini?"
Ichigo tersenyum padaku sambil menaruh menunya kembali di atas meja, "Iced Cappucino saja."
Aku mengerutkan alisku bingung. Setiap kunjungannya kemari, dia selalu memesan menu yang sama—hanya berbeda antara panas dan dinginnya saja. "Kau maniak Cappucino?"
"Tidak juga. Cappucino berada di tengah-tengahnya, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit," jawabnya sambil melipat kedua tangannya di meja.
Oh...jadi dia tidak suka yang terlalu manis dan terlalu pahit. Standard...
"Rukia!" sapa suara yang kukenal, Kaien-san. Dia melambai padaku dari belakang Ichigo, yang spontan membuatku membalasnya juga dengan lambaian.
"Kaien," celetuk Ichigo yang sekarang perhatiannya teralih pada Kaien-san.
"Yo, Ichigo. Kau juga datang kesini," balas Kaien-san dengan nada girangnya.
"Kau juga," kata Ichigo singkat, terdengar kesan cuek pada dirinya. Sungguh berbeda dengan saat dia berbicara denganku tadi.
"Apartemenku terletak di dekat sini. Kupikir tidak ada yang bisa kukerjakan hari ini, jadi aku bermaksud mampir untuk bertemu Rukia."
Lagi-lagi suasana tegang terasa, seperti pertemuan pertamaku dengan Kaien-san. Setelah itu, Kaien-san seringkali datang berkunjung untuk sekedar membeli kue manis dan kopi. Dan hampir setiap kunjungannya itu menerima tatapan aneh dari Ichigo, yang dengan setia bertengger di counterku setiap sore. Segera kuberbalik arah meninggalkan dua kembar tak serupa itu untuk menyelesaikan pesanan yang tertunda. Kuambil 'ramuan-ramuan' ku dan mencampurnya ke dalam gelas plastik khusus minuman tiga minuman pertamaku hanya dalam waktu beberapa menit dan segera berbalik untuk memanggil pelayan yang lewat, "Pesanan meja 12!"
"Kau terlihat semangat sekali, Rukia." Kaien menatapku lembut dan tersenyum padaku. Berbeda dengan sikap Ichigo yang terang-terangan dan sekarang berubah suram.
"Ah, Kaien-san. Ini pesanan pertamaku hari ini. Dan, apa pesananmu Kaien-san?" tanyaku memperlihatkan senyum ramahku.
Kaien-san memperhatikan menu sambil menimbang-nimbang pesanan apa yang akan dia pilih. "Hmm..aku pesan Iced Chocolate saja dan Death-Chocolate Cake."
Ichigo menatapnya dengan heran, memperlihatkan kerutan dalam di dahinya, "Kau memesan coklat untuk makanan dan minuman? Kupikir kau tidak suka makanan manis," tanyanya bingung.
"He? Aku suka coklat, kok,terutama dark-chocolate. Hanya itu saja makanan manis yang bisa kumakan."
Aku membelalakan mataku, sedikit takjub. Hanya coklat yang bisa Kaien-san makan. Apa mungkin dia mencampurkan coklat ke dalam makanan utamanya bersamaan dengan nasi?
"Pesanan 12!" kata Hirako-san yang menarik perhatianku.
"Ah, Hirako-san. Ini pesanan meja 12, dua Iced Macchiato dan satu Iced Green Matcha," kataku sambil menyodorkan pesanan dari dalam counter.
"Shinji?" tanya Ichigo menatap Hirako-san dengan tatapan bingung dan terlihat familier. Ichigo kenal dengan Hirako Shinji?
"Ichigo? Hisashiburi," balasnya santai sambil memindahkan minuman ke nampan yang dia pegang.
"Hanya itu? Setelah lama tidak bertemu?" celetuk Ichigo memandangnya kesal. "Kemana saja kau selama ini?"
"Kuliah," balas Hirako-san santai. Kesan cueknya membuat kekesalan Ichigo semakin terlihat.
"Bukan itu yang kumaksud! Kami kehilangan kontak denganmu dan sekarang kau bersikap seperti tidak terjadi apa-apa?" tanya Ichigo.
"Hah? Memangnya ada kejadian apa?"tanya Hirako-san polos dan semakin membuat kerutan di dahi Ichigo terlihat. "Nanti saja bicaranya, sekarang aku sedang bekerja."
Hirako-san pergi meninggalkan Ichigo yang masih mematung marah. Aku menatap Ichigo penuh tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Ichigo dan Hirako-san? Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Dan perubahan drastis pada diri Ichigo...sedikit mengusik diriku...
"Kau..kenal Hirako-san?" tanyaku memberanikan diri memecah keheningan mendadak, memperhatikan kerutan di dahinya yang perlahan menghilang. Tatapannya beralih padaku, tapi masih terlihat sedikit mengancam. Mata orange terangnya terlihat lebih tajam dan menyala terang.
"Dia teman lamaku, semasa SMP. Si nyentrik itu sudah lama bekerja disini?" tanyanya sambil menujuk sosok Hirako-san yang sudah pergi menjauh.
Aku mengangguk sebagai jawaban, "Ya..Hirako-san seharusnya bekerja di shift siang. Hanya saja hari ini dia bertukar shift dengan Hisagi-san. Dan, Hirako-san baru masuk bekerja sekitar dua bulan yang lalu."
Ichigo menghela napas dan kembali menyenderkan tangannya di atas meja. Dia terdiam sesaat dan terlihat sedang berpikir keras, tanpa menghilangkan kerutan-kerutan di dahinya. Kaien-san menatapnya bingung, tapi dengan cepat perhatiannya teralih lagi kepadaku.
"Jangan khawatirkan Ichigo. Dia memang selalu seperti itu, kau lihat kan kerutannya? Aku selalu khawatir kalau dia bisa bertambah tua dengan cepat," sindir Kaien-san sambil menunjuk Ichigo di sebelahnya.
"Kaien!" gerutu Ichigo yang mulai kembali terusik dengan keberadaan Kaien-san di sampingnya. Padahal, sesaat tadi dia terdiam seperti masuk ke dalam dunianya sendiri—tidak menyadari keberadaanku dan Kaien-san di dekatnya. Dan, perasaan khawatir sekaligus takut terasa di perut dan dadaku—memilin linu dan sakit. Ada apa dengan masa lalu Ichigo? Apakah Ichigo yang sekarang kukenal ini adalah sosoknya yang sebenarnya?
Pertengkaran ringan antara dua orang itu kembali dimulai, sedikit membuatku lega daripada melihat Ichigo terdiam mengancam. Kuhela napas sesaat dan berbalik lagi, berusaha mengumpulkan konsentrasiku yang menguap mendadak—menyelesaikan shiftku hari ini secepat mungkin.
(..)
(..)
(..)
Kuregangkan badanku di atas kasur empukku. Bekerja di cafe selama musim panas memang benar-benar melelahkan—cuaca panas dan para pengunjung yang tidak henti-hentinya berdatangan. Dan masalah lain datang kali ini, mengusik pikiranku hampir sepanjang sore. Si rambut orange yang selalu terlihat ramah dan berusaha tersenyum di depanku, kali ini terlihat...kesal. Kesal bukan seperti saat aku menginjak kakinya, ataupun menonjok lengannya. Kesal yang lebih seperti marah, bercampur kecewa dan terganggu. Belum pernah sekalipun aku melihat wajahnya seperti itu, memandangku sinis seperti bukan diri Ichigo. Walaupun Kaien-san berusaha menarik perhatian Ichigo untuk kembali melunak, tetap saja perasaanku yang terusik tidak bisa kusembunyikan. Hal tersebut terlihat lebih buruk ketika Ichigo pergi pulang begitu minumannya habis, melenggang pergi dan hanya tersenyum tipis kepadaku. Perasaan bersalah bertambah mengusikku, begitu Kaien-san yang berusaha mengajakku mengobrol kutanggapi dengan lamunan bodohku.
Bunyi ringtone hpku membuatku terlonjak kaget dan segera berguling ke samping untuk mengambilnya. Satu pesan dari Yumichika. Yumichika? Tumben sekali dia mengirimkan pesan padaku. Kubuka pesannya yang kucurigai sebagai keluhan curhatannya sepanjang hari tadi di cafe dan ternyata mendapati pesan yang berbeda. 'Temui aku besok lebih awal. Ada yang harus kita bicarakan. Berdua! Ini tentang pacar tampanmu itu.' Aku terdiam sesaat, berusaha mencerna apa yang dimaksudkan Yumichika pada pesan itu. Pacar? Siapa? Ichigo?
Kututup hpku flip-ku keras-keras dan membantingnya ke ranjang. Kukerutkan alisku, kesal bercampur kalut. Apa yang dimaksud Yumichika? Ichigo pacarku? Yang benar saja! Dan, hal apa yang ingin Yumichika katakan padaku, mengenai Ichigo? Apakah perasaanku yang terusik ini bisa terjawab besok?
Kuambil bantal empukku dan menekannya ke atas wajahku sambil berteriak sekeras-kerasnya. Sedikit lebih lega menumpahkan kekesalanku pada bantal tidak berdosa ini—metode yang diajarkan Momo ini sedikit bekerja padaku. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar, tapi tidak membuatku berhenti mendekap bantalku erat-erat.
"Rukia saatnya makan—apa yang sedang kaulakukan?" tanya nee-san dengan suara meninggi satu oktaf. Terdengar suara langkah nee-san yang mendekat ke ranjangku dan bisa kubayangkan wajahnya sekarang, bingung sambil berkacak pinggang.
"Kasihan sekali adikku ini, seperti kucing kecil frustasi tidak berdaya yang tertimpa bantal tepat di wajahnya. Sungguh, kau terlihat jelek sekali, Rukia," kata nee-san, terdengar nada canda di kata-katanya itu. Dengan enggan kutarik bantalku turun, hanya untuk memelototi nee-san yang tersenyum jahil di atasku.
"Jangan merajuk seperti itu, sebelum kupanggil Byakuya untuk menarikmu ke bawah," katanya lanjut sambil tetap tersenyum. Aku menggerutu kesal, sambil berguling ke samping untuk bangun dan menyusul nee-san yang sudah beranjak pergi di depan pintu kamarku. Kurapikan rambutku yang kusut secara asal-asalan. Kuambil sendal Chappy pinku dari bawah ranjang dan memakainya dengan enggan sambil menyeretnya perlahan.
"Byakuya!" panggil nee-san lembut dari arah luar kamarku. Dengan cepat kulangkahkan kakiku keluar kamar sambil menutup pintu kamarku keras-keras—membiarkan suaranya terdengar oleh nee-san yang sudah berubah seperti malaikat menyeramkan itu.
(..)
(..)
(..)
"Apa...maksud...pesanmu, Yumichika?" tanyaku langsung sambil mengatur napasku perlahan. Berlari dari stasiun bus ke cafe bukanlah hal yang mudah di cuaca sepanas ini. Pesan mengancam yang kuterima dari si lentik di depanku ini, membuatku untuk memaksa kakiku berlari. 'Tiga menit lagi aku tidak melihat tubuh mungilmu itu, aku akan segera memberitahu hubungan rahasiamu dengan Kurosaki Ichigo kepada seluruh pengunjung cafe!'
"Kau lama! Sudah kukatakan bukan, kita perlu bicara berdua! Bagaimana kalau Matsumoto ataupun Momo segera datang?" katanya ketus sambil terus mengipas-ngipaskan kipas besarnya itu—kipas keramat. "Dan tutup pintunya. Kau seperti orang bodoh mematung disana dengan mata besarmu itu."
Dengan keras kututup pintu karyawan dan duduk di samping Yumichika. Mataku yang memelototinya sama sekali tidak mengusik sikap santai berlebihannya itu. "Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan. Dan, Ichigo bukan pacarku!"
Yumichika menghela napas sambil tersenyum kecut, "Semua sudah memandang kalian sebagai sepasang kekasih. Bahkan, Unohana-san tertarik untuk menyaksikan drama langsung kalian di counter kopi hampir setiap sore!"
Kukerutkan alisku kesal sambil memberengut melihatnya, "Baiklah! Terserah kau saja! Nah, sekarang katakan ada masalah apa?" tanyaku sambil bergerak tidak sabaran dalam dudukku. Jantungku semakin berdetak cepat, efek dari lari marathon dadakan dan bersiap mendengar berita tentang Ichigo.
Raut wajah Yumichika sedikit berubah serius, tanpa memberhentikan tangannya untuk mengipas. Dia menatapku, seperti menilai sesuatu. "Aku..mendapat berita dari temanku. Dan ini tentang Kurosaki Ichigo."
"Ichigo?" tanyaku membeo, semakin membuatku antusias mendengarnya.
Yumichika menganggukkan kepalanya perlahan dan mulai menghela napas. "Ikkaku, teman lamaku yang bersekolah di sekolah yang sama dengan Ichigo. Tanpa sengaja kami bertemu beberapa hari yang lalu. Kami berbincang sebentar dan tanpa sadar aku menanyakan si orange-mu itu padanya. Yah, kupikir sedikit mengorek informasi tidak ada salahnya."
Si tukang gosip, sumber semua informan. Tidak aneh kalau Yumichika selalu 'gatal' untuk menanyakan segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan sekarang akulah yang menjadi korban berikutnya. "Lalu?" tanyaku sambil memicingkan mata.
"Ikkaku adalah teman SMP Ichigo," katanya dan membuatku sedikit tersentak. Ingatan tentang kemarin kembali menghantui kepalaku. Hirako-san adalah teman Ichigo juga, apa mungkin semua hal ini saling berkaitan?
"Ini bukan berita baik, tapi aku berpikir kau seharusnya mendengar hal ini, "lanjutnya. "Ichigo..bukanlah orang yang sama seperti yang kaulihat sekarang, masa SMP nya adalah masa terburuknya. Pergaulannya tidaklah baik, dia seringkali terlibat pertengkaran dengan anak-anak berandal saat itu. Ikkaku salah satu teman terdekatnya, sesama orang beringas yang tidak bisa mengontrol emosi. Dan, yang kudengar Hirako juga sempat dekat dengan Ichigo, sebagai partner melawan grup berandal terbesar di Karakura."
Tiba-tiba saja jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, menyisakan rasa sakit yang terasa di rongga dadaku. Ichigo terlibat perkelahian dan tidak bisa mengontrol emosi. Itu..bukan Ichigo yang kukenal. Ichigo yang merangkulkan tangannya padaku, melindungiku dari bahaya. Ichigo yang selalu tersenyum padaku dan tidak pernah melihatku dengan tatapan mengerikan. Ichigo yang...
"Kau tidak apa-apa Rukia?" tanya Yumichika terlihat khawatir sambil menyentuh pundakku lembut. "Kupikir kita selesaikan saja—"
"Tidak, ceritakan lebih lanjut. Aku..ingin mendengar semuanya," kataku langsung dan memandangnya penuh harap. Aku ingin mengetahui semuanya, tentang Ichigo. Siapa diri sebenarnya dari Kurosaki Ichigo.
Yumichika terlihat sedikit menimbang-nimbang, namun mulai kembali rileks dalam duduknya. "Baiklah. Bisa dibilang dia..bukanlah orang yang baik dulu. Sampai saat itu tiba," lanjutnya sambil berdeham membersihkan tenggorokannya. "Ikkaku menemukannya suatu hari, di depan makam ibunya."
Aku bergidik ngeri dalam dudukku, merangkul lengan Yumichika begitu erat. Yumichika tersenyum tipis padaku sambil terus melanjutkan ceritanya, "Ibunya sudah lama meninggal semenjak dia masih kecil, mungkin masih berumur 6 tahun. Tapi, entah kenapa dia terduduk diam di makam ibunya saat itu, terpaku walaupun hari sedang hujan deras. Ikkaku enggan mendekatinya, membiarkan Ichigo termenung sendirian. Mungkin..bisa dibilang hari itu adalah dimana Kurosaki Ichigo mengalami pemutaran titik balik dalam hidupnya. Dalam sekejap dia berubah," kata Yumichika sambil menggerakkan tangannya meniru gemerlapan bintang-bintang. "Bahkan, Ikkaku pun takjub melihatnya. Ichigo yang selalu berkelahi hampir setiap harinya mulai terlihat melunak. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih lari jarak jauh dan meninggalkan pergaulan buruknya saat itu. Dan hubungannya dengan Hirako tiba-tiba saja terputus."
"Terputus..begitu saja?" tanyaku dengan suara sedikit serak.
"Entahlah. Menurut Ikkaku, Hirako meninggalkan Ichigo tanpa kabar. Selain umur mereka yang terpaut beberapa tahun, Hirako pergi untuk melanjutkkan impiannya tanpa sepengetahuan Ichigo. Tentu saja itu membuat Ichigo kesal, sulit sekali melakukan kontak dengan Hirako yang tiba-tiba pergi ke Perancis."
"Pe..Perancis?!" kataku kaget.
"Aku sendiri juga kaget mendengarnya. Bayangkan, pusat mode dunia yang berkumpul dalam satu kota kecil di Eropa! Ingin sekali aku menginjakkan kakiku—"
Aku memelototi Yumichika yang sudah mulai keluar jalur pembicaraan. Yumichika terkesiap dan mulai mengipas-ngipaskan kipasnya lagi secara hebat.
"Baiklah nona Kuchiki, mari lanjutkan cerita pacar tampanmu itu! Kau benar-benar tidak sabaran ya. Sampai dimana tadi? Oh ya, Hirako pergi ke luar negri dan memutus kontak dengan Ichigo. Bukan berarti dia membenci Ichigo, hanya saja dia sedikit..unik. Entah apa yang dipikirkan di dalam kepala kuningnya itu, sampai dia kembali ke Jepang setahun yang lalu."
Diam sesaat, keheningan yang hanya dilatari suara kipasan kipas Yumichika. "Hanya..itu?" tanyaku bingung.
"Ya..the end, selesai, tamat, tidak bersambung." Katanya sambil tersenyum puas telah selesai menceritakan dongeng musim panasnya.
"Itu..terlalu singkat." Tidak seperti dugaanku sebelumnya. Tapi, pantas saja sih Ichigo kesal melihat Hirako-san yang tiba-tiba saja muncul di depannya sebagai pelayan kafe. "Tunggu..dia ke Perancis dan pulang ke Jepang. Kenapa tiba-tiba dia menjadi pelayan kafe?"
"Nah, hal itu juga mengganggu pikiranku sampai kutanyakan pada orang yang bersangkutan. Dia hanya menjawab 'aku butuh uang.'" Kata Yumichika sambil meniru wajah datar Hirako-san. "Mungkin kepala kuningnya itu mempengaruhi jalan kerja otaknya."
Aku tersenyum kecut mendengarnya. Yumichika selalu mengatakan apa yang terlintas di otaknya secara gamblang, bahkan mengejek orang adalah salah satu keahliannya, yang kadang tidak ragu memandang umur.
"Dan Rukia," lanjut Yumichika sambil merangkulkan tangannya lagi di bahuku. "Aku ingin kau berhati-hati menghadapi Ichigo. Ikkaku juga sempat khawatir kalau dia bisa kembali seperti dulu, tidak bisa mengontrol emosinya."
Kata-katanya membuatku kembali tegang, mencengkram celana jeansku sekuat tenaga. "Kupikir..Ichigo..tidak akan.."
"Aku tahu, aku tahu. Ichigo yang sekarang tidak seperti Ichigo yang dulu. Dan kehadiranmu ikut membantu perubahan baiknya itu, kupikir. Dia...seperti anak anjing bila ada di dekatmu."
"Hah?" kataku bingung sambil berusaha membayangkan Ichigo berubah menjadi anak anjing golden retriever.
"Bukan anak anjing sungguhan, mungil! Tapi sifatnya seakan melunak. Kau lihat kerutan-kerutan di dahinya? Kerutan itu seakan berkurang begitu dia melihatmu walaupun dari jarak 100 meter!" katanya melebih-lebihkan. "Saranku..percayalah apa yang ada di dalam hatimu."
Aku memandang Yumichika takjub, dia memang teman baikku. Walaupun perkataannya seringkali ketus dan menusuk, tapi dia bisa dijadikan sebagai tempat mencari solusi yang baik. Kuberikan senyum manisku pada Yumichika seraya berdiri dari dudukku.
"Terima kasih ceritanya, Yumichika. Dan terima kasih atas sarannya juga," kataku lantang sambil menundukkan tubuhku sebagai ungkapan rasa terima kasihku. Entah apa yang akan terjadi bila Yumichika tidak menceritakan tentang Ichigo tadi. Perasaan yang mengikat erat kepala dan tubuhku terasa sedikit melonggar, walaupun kisah kelam Ichigo sempat membuatku sedikit...sedih. Apa yang kupercaya sekarang adalah Ichigo orang yang baik. Tidak baik menilai orang hanya dari keburukannya, bukan?
"Kapanpun kau membutuhkanku, mungil." Yumichika menepuk-nepuk kepalaku sambil beranjak berdiri. "Dan, kemana si Hisagi? Bukankah seharusnya dia shift sore ini? Aku sudah muak dengan si kepala kuning aneh itu!"
Tiba-tiba pintu karyawan terbuka, memperlihatkan rambut kuning rata yang sekarang menatap sinis Yumichika. "Siapa yang kau sebut kepala kuning aneh?"
Aku melotot kaget dan segera berlari menuju lokerku, sebelum perang antara dua orang nyentrik ini dimulai.
*(((to be continued...)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note:
Karena ini hari libur musim panas, jadi pakaian kerja para staf di Arc Cafe dibebaskan, selama masih memakai pakaian sopan (atasan kemeja atau kaos bebas dan bawahan celana panjang). Berbeda saat mereka bekerja setelah pulang sekolah, biasanya di loker karyawan tersedia baju ganti berupa kemeja putih dan celana hitam panjang.
Akhirnya bisa ngeluarin dua chara baru! Coyote Starrk dan Hirako Shinji. Shinji disini memang sedikit nyentrik, tapi bukan nyentrik aneh. Stylenya lebih mirip style G-Dragon Big Bang (ada VIP disini?), dan kalau aku perhatiin Shinji mirip GD loh *plakk! (mohon maaf sebesar-besarnya bagi para VIP! Ini hanya penafsiranku saja kok..hihiihi XD) Dan Coyote Starrk juga salah satu fave charaku. Aku kepingin nampilin sikap coolnya itu, tapi terlihat agak sedikit misterius. Mungkin disini dia terkesan OOC ya, soalnya udah lumayan lama juga aku baca Arc Arrancar, jadi sedikit lupa sama karakternya..hihiihi Tapi yang pasti dua chara ini baik kok..
Maaf kalau chapter ini terkesan singkat dan gaje dibanding chapter-chapter sebelumnya. Soalnya Ichigo lagi sedikit galau juga setelah bertemu dengan Shinji (ceritanya tuh dia kembali inget sama kisah kelam masa lalunya.) Jadi bagian ichirukinya ga terlalu disorot..Gomen .
Dan mengenai si cenayang Coyote Starrk (fufufuufu) bakalan terlihat seperti apa di chapter depan. Chapter ini lebih terkesan seperti pemanasan dulu..hihiihi
Balasan untuk anonymous reviewer :
Chappy : makasih udah review~ ini udah aku update..hihihihi XD
Terima kasih banyak untuk para readers yang masih setia membaca! Dan yang baru pertama kali baca, salam kenal ^^ Wkwkwk.. And, silahkan review~
