Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Gomen karena update yang lama banget! T-T maaf ya, author sedang berlibur, jadi susah banget buat ngelanjutin ngetik fic ini. Semoga adegan Ichirukinya tidak mengecewakan ya ...Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^
Happy reading all! And Happy New Year! Hope be a better year for all of us~ hihihihi...
~000*000~
Chapter 6 : Summer Scene Two
"Rukia?"
Suaranya membuatku kaget setengah mati. Cepat-cepat aku bangun dari posisi jongkokku di bawah counter dan tanpa sengaja kepalaku terbentur ujung meja counter dengan suara keras—lagi-lagi. Kepalaku berdenyut keras, linu rasanya sekaligus sakit yang pasti menimbulkan benjolan besar di balik rambut hitamku. Kuelus-elus kepalaku dengan canggung dan mendapati Ichigo sedang melirik ke bawah counter dari tempatnya duduk. Spontan aku terkejut dan jatuh terduduk sambil menatapnya.
"Kau...tidak apa-apa? Apa perlu kubantu—"
"Tidak apa-apa!" seruku sambil segera berdiri, masih memegangi kepala benjolku. "Ini..tidak separah yang kaukira, kok." Suaraku terasa canggung ketika mata kami bertemu. Sudah beberapa hari dia tidak datang kemari, sejak kejadian Ichigo bertemu dengan Hirako-san. Dan setelah aku mengetahui kisah masa lalu Ichigo—cerita yang bagaikan panas teriknya matahari, memberikan sengatan tajam menyengat pada kulitku.
Kuallihkan pandanganku darinya. Sebenarnya, tidak perlu aku menghindarinya seperti ini. Ichigo adalah Ichigo, itulah yang kutetapkan dalam hatiku sejak aku mengetahui segalanya. Walaupun, kadang aku takut Ichigo yang sekarang sedang menatapku bingung ini tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang tidak kuketahui siapa dirinya itu. Tatapan hangatnya yang berubah tajam sekaligus asing. Senyum menawannya yang menghilang dari wajah tegasnya, membuat hatiku sakit teriris. Aku tidak mau hal itu menjadi nyata, berharap semua yang sudah kuketahui hanyalah mimpi belaka. Tapi, tidak bisa, bukan? Kenyataan masa lalu Ichigo yang sudah terjadi. Dan juga sudah membuat dirinya seperti saat ini—tegas, tajam, terlihat mengancam, namun lembut. Hal tersebut sudah bergulir sesuai rancangan takdir dari Yang Diatas sana. Setiap orang memiliki kelemahan, memiliki kegelapan, sisi yang tidak bisa disangkalnya. Begitu halnya dengan diriku, masa kelam diriku, bukan?
Kenyataan yang tidak kupermasalahkan, namun kadang seringkali mengganggu jalan pikirku, tidak berada dalam zona nyamanku. Tapi, mau bagaimanapun hal itu ada, aku harus bisa menerimanya. Ichigo adalah temanku, tempatku berteduh selama ini. Dia tidak mempermasalahkan tindakan kasarku yang sama sekali tidak manis, bahkan dia rela menghabiskan waktunya untuk membantuku—orang yang bisa dibilang baru dalam hidupnya. Dan sekarang aku meragukan dirinya? Bukankah itu tidak adil bagi Ichigo? Bukankah itu hanyalah keegoisanku semata?
"Rukia?" dia memanggilku lembut, membuatku berpaling lagi padanya. Matanya terlihat lembut menatapku dan khawatir. Tangannya menekan meja counter—ragu untuk berdiri atau tetap duduk di tempatnya.
Aku menghela napas dan memulai ritual pikiranku. Ichigo adalah orang baik, Kurosaki Ichigo adalah orang baik... Mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak boleh lagi ragu pada perasaanku sendiri. Kuberikan senyum lebarku, membalas tatapan bingungnya tadi. "Aku tidak apa-apa, Ichigo. Sungguh!"
"Tapi tadi...kau...suaranya keras sekali.." katanya, masih terlihat ragu.
Aku menggelengkan kepalaku cepat sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja—selama benjolnya tidak mengeluarkan darah. "Kepalaku keras kok! Aku sudah pernah mengatakannya padamu, bukan?"
Ichigo terlihat sedang berpikir sesaat dan kemudian senyumnya kembali menghisasi wajahnya yang masih berkedut bingung," Hmm..kau benar. Kepalamu sekeras batu, bahkan tubuh mungilmu juga. Kau ingat saat kita pertama kali bertemu? Tubuhmu terbentur meja?" Ichigo menunjuk meja counter di belakangku dengan telunjuknya sambil tersenyum jahil.
Aku menatapnya kesal sambil mengigit bibir bawahku. "Kau mengejekku?"
"Hah? Bukankah bagus memiliki tubuh yang kuat? Apalagi badanmu mungil begitu," balasnya terlihat bingung—pura-pura bingung tepatnya.
"Kau mengatakan hal itu pada seorang gadis? Tidak sopan!" seruku keras sambil melipat tanganku di depan dada. Ichigo hanya tersenyum geli dan tiba-tiba tawanya pecah, membuatku semakin kesal menatapnya. Tapi, inilah Ichigo—Ichigo yang kukenal. Ichigo yang selalu tersenyum, walaupun kadang membuatku kesal setengah mati dan ingin sekali menjambak rambut orangenya itu.
"Rukia-chan! Kau dipanggil Unohana-san di kasir depan," celetuk Rangiku-san menghampiri counterku sambil melirikku dan Ichigo secara bergantian. "Kalian kenapa?"
Ichigo berhenti tertawa dan melirik Rangiku-san yang sudah berdiri di sampingnya. "Rukia terbentur—"
"Apa lucunya kepalaku terbentur meja? Tawake!" gerutuku sambil berjalan ke arah pintu counter dengan menghentakkan kakiku kesal.
"Terbentur? Lagi? Astaga, Rukia! Kepalamu benar-benar keras, ya!" kata Rangiku-san dan berhasil membuat Ichigo tersenyum geli. Kuhiraukan kedua orang menyebalkan itu dan segera berjalan pergi ke arah kasir depan.
(..)
(..)
(..)
"Rukia-chan!"
Teriakan itu membangunkanku dari posisi tengkurapku di lantai kayu dan membuat kepalaku membentur mulut meja counter—lagi!
"Aw! Bisakah kau tidak mengagetkanku!" gerutuku kesal sambil mengelus-elus kepalaku yang menambah jumlah benjol menjadi dua. Kupelototi Rangiku-san yang tersenyum geli sambil bersender di meja counter. Rambut ikal panjangnya terurai di sisi wajahnya, membingkai wajah cantiknya yang tersenyum geli—membuatku kesal dan seringkali memelototinya sepanjang hari.
"Kau ini! Bagaimana bisa kau terus-terusan terkena sial seperti ini? Kau tidak tahu kalau disana ada mulut meja yang menanti kepala mungilmu itu?" sindir Rangiku-san.
"Itu karena kau mengagetkanku, Rangiku-san! Dan ini benar-benar sakit!" gerutuku kesal.
Rangiku mendesah sesaat sambil menata rambutnya ke atas, membentuk sebuah gelungan di atas kepalanya. "Dan...apa yang sedang kau lakukan disana? Kupikir kau sedang tidak ada di counter."
Aku mengerutkan alisku kesal sambil menunduk menatap lantai. Walaupun sudah kutengok beberapa kali ke bawah meja, tapi tetap saja itu tidak ada disana. "Gantungan hpku hilang. Kupikir, terjatuh disini kemarin."
"Eh? Gantungan hp? Kau sudah menanyakan pada Unohana-san?"
Aku menganggukan kepalaku lemas, masih berharap gantungan kelinci pemberian nii-sama akan muncul di pangkuanku, "Tapi, Unohana-san tidak menemukan apapun, dari semalam maupun pagi ini. Sudah kutanyakan ke pegawai lainnya, tapi tetap saja nihil."
Rangiku-san menyenderkan lengannya di meja counter sambil menatapku prihatin. "Mungkin..terjatuh di rumahmu?"
"Sudah kucari ke seluruh sudut rumah," jawabku lemas.
Hening sesaat. Seandainya saja aku tidak seceroboh ini dan menyulitkan orang-orang di sekitarku. Tatapan mereka hampir serupa, melihatku prihatin lalu segera menghiburku bahwa semua ini akan baik-baik saja. Aku ingin berharap sama, seandainya saja bisa. Tapi perasaanku berkata lain, mungkinkah ini perpisahanku dengan kelinci kecilku—kelinci Itali pemberian nii-sama?
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, Rukia-chan! Kau pasti akan segera menemukannya! Yakinlah!" celetuk Rangiku-san memberiku semangat. Aku hanya menganggukkan kepalaku lemas dan segera berdiri dari dudukku.
"Apa pesanannya?" kataku lemas sambil menyodorkan tanganku, meminta kertas pesanan.
Rangiku-san menatapku ragu, meremas kertas pesanan di tangannya. "Apa kau benar-benar baik-baik saja? Kau seperti...mayat hidup. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu!"
Aku hanya mengangguk dan mengambil paksa kertas dari genggaman Rangiku-san. Membaca pesanan selanjutnya dan segera menempelkan kertasnya di meja kerjaku. "Aku mencarinya sepanjang malam..kelinciku..."
"Baiklah! Setelah jam kerja selesai, aku akan membantumu mencarinya!" kata Rangiku-san semangat sambil menatapku tajam. "Dan sampai saat itu, kau harus memasang senyummu sepanjang sore!"
"Terima kasih Rangiku-san," jawabku seadanya sambil tersenyum lemas.
Tiba-tiba perhatian Rangiku-san teralih dengan derap langkah seseorang yang mendekat ke meja counter. Ya, Ichigo datang lagi kali ini, dengan senyum menawannya. Aku mulai menyibukkan diriku dengan pesanan yang menunggu, sementara Rangiku-san masih senyum-senyum sendiri memperhatikan Ichigo.
"Lihat! Pacar kerenmu datang! Semangatlah, Rukia-chan!"
"Dia bukan pacarku!" balasku sengit memelototi Rangiku-san yang mulai bersiap meninggalkan counter sambil merapikan dirinya.
"Ah, Kurosaki-kun! Aku serahkan Rukia-chan padamu!" kata Rangiku-san girang dan mulai melangkah meninggalkan counter, menghiraukan kekesalanku.
Ichigo hanya tersenyum ringan dan mulai duduk di kursinya. Dia menyederkan tangannya di counter sambil menatapku lembut, namun perlahan raut wajahnya berubah bingung. "Kau kenapa, Rukia? Alismu berkerut."
"Tidak ada apa-apa." Aku menghiraukannya dan mulai berbalik untuk mengisi cangkir esku. Yang kuinginkan sekarang hanyalah kelinciku, bukan bicara dan menunjukkan keprihatinan. Kukerjakan pesanan berikut dengan sedikit memakan waktu lama, hanya ingin membuat pikiranku tenang dengan kesibukanku sendiri.
Kuletakkan dua pesanan pada sisi meja counter dan mulai menghirup napas dalam-dalam, bersiap untuk berteriak memanggil pelayan yang lewat di sekitarku. "Pesanan meja 6," teriakku dan lebih terdengar seperti suara serak seorang nenek-nenek tua. Aku berdeham, berusaha membersihkan tenggorokan gatalku dan melirik Ichigo yang masih menatapku bingung.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja, Rukia."
Aku mendesah dan berusaha mencari-cari seseorang yang lewat, tapi tidak juga kudapatkan. "Aku memang tidak baik-baik saja."
"Ada apa?" tanya Ichigo sedikit bersemangat. "Itu..kalau kau ingin menceritakannya padaku."
Aku berpikir sebentar, menimbang-nimbang apakah perlu kuceritakan pada Ichigo. Ichigo akan membantuku, bukan? Atau, apakah itu memang hal yang kuharapkan?
"Itu..gantungan hpku..hilang.." gumamku sedikit berbisik.
"Gantungan apa?"
"Gantungan hp! Berbentuk kelinci bermata besar dan berbulu putih!" jelasku kesal harus mengulang kata-kataku. Ichigo terlihat terkejut dengan sikap kasarku—lagi-lagi aku merusak semuanya. "Maaf..bukan maksudku—"
Ichigo merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu—kelinci berbulu putih dan bermata besar. "Apa yang kau maksud ini?"
"Kelinciku!" teriakku girang dan berusaha menggapainya dengan tanganku, tapi terlambat. Dengan cepat Ichigo menariknya menjauh dari jangkauan tanganku.
"Jadi ini yang membuatmu kesal?" katanya polos sambil mengoyang-goyangkan gantungan hpku di dekat wajahnya.
"Kembalikan!" gerutuku kesal, masih berusaha menggapai kelinci di tangannya sekuat tenaga.
"Tidak begitu saja," balas Ichigo, sekarang menyembunyikan kelinciku di belakang tubuhnya.
"Apa maksudmu?" tanyaku sambil menatapnya kesal.
"Aku akan mengembalikannya dengan satu syarat," jelas Ichigo.
Aku terdiam sambil mengerutkan alisku kesal. Benar-benar tipikal Ichigo, dia tidak akan puas hingga mendapatkan sesuatu dariku. Si jeruk keras kepala! "Apa itu?!"
"Pergilah denganku besok. Besok kau libur, kan?"
Aku terdiam memandangnya kosong. Dia mengajakku pergi? Kupikir dia meminta sesuatu yang lebih, seperti kopi gratis selama seminggu atau mengantarku pulang setiap malam atau bahkan menjemputku setiap siang... "Baiklah, kau ingin kutemani kemana?"
"Sepanjang hari—"
"Apa?!" gerutuku lagi. Tidak mungkin kan? Sepanjang hari dia bilang? "Tapi—"
"Tidak ada tapi, kalau kau ingin kelincimu kembali. Dan, bagusnya, kau yang menentukan kemana kita akan pergi besok, seharian."
Aku terdiam, bergelut dengan diriku sendiri. Di satu sisi aku merasa kesal, di satu sisi aku ingin...pergi dengan Ichigo. Dia belum pernah mengajakku pergi sebelumnya dan kesempatan ini membuatku tegang sekaligus canggung.
"Aku...harus..kah.." ucapku terbata-bata, tapi sulit sekali menyelesaikannya tanpa tidak merasakan ketegangan di sekujur tubuhku. Kulirik Ichigo yang menatapku lembut, jenis tatapan yang membuat hatiku luluh sekaligus membuat wajahku panas. Tatapan hangat yang selalu dimilikinya, sehangat dan sepanas mentari musim panas.
"Kusarankan kau pergi ke Karakura Aquatic, itu hanya saranku," celetuk Yumichika sambil mengambil pesanannya di meja counter. Dia melirikku sesaat sambil tersenyum lebar, jenis senyum yang mengatakan, 'berterimakasihlah padaku nanti!'
(..)
(..)
(..)
Kulirik jam tanganku untuk kesekian kalinya dan mengecek hpku, sekedar melihat email yang tiba-tiba akan masuk. Sudah beberapa kali aku berusaha menepis rasa tegangku yang semakin terasa setiap detiknya. Kuremas rok renda cream pendekku hingga berkerut. Hampir dua jam kuhabiskan membongkar lemari pakaianku, hanya sekedar mencari baju yang cocok dan tidak mengecewakan Ichigo. Tapi, mau seperti apapun gaya berpakaianku, tidak bisa menepis kenyataan tubuhku yang mungil, rata, dan sama sekali tidak menarik. Apalagi bila dibandingkan dengan Rangiku-san yang seperti model papan kelas atas.
"Rukia!" teriakan dari kejauhan menarik perhatianku. Aku melihat Ichigo yang sedikit berlari menghampiriku yang sudah berdiri di depan pintu masuk Karakura Aquatic. Ya, tempat yang disarankan oleh Yumichika lah yang akhirnya aku ambil. Aku ingin sekali datang kemari, tapi tidak bisa menyempatkan diri karena waktu kerjaku yang padat, ditambah lagi nee-san yang membutuhkanku untuk membantunya di rumah.
Sekarang Ichigo berdiri di depanku, menggunakan kaos putih polos yang pas sekali dipakai oleh badan atletisnya, dipadukan dengan celana jeans hitam dan boots coklat. Dirinya yang memang menarik dan...tampan, berhasil menarik perhatian wanita-wanita yang berjalan di sekitar kami—sekedar melirik Ichigo dan berharap dirinya melirik mereka balik. Tapi, sepertinya itu hanyalah hal yang sia-sia. Ichigo tidak mengalihkan tatapannya dariku, melihatku seakan sedang menilai sesuatu yang berdiri hidup di hadapannya. "Ini pertama kalinya aku melihatmu memakai rok, selain seragam sekolahmu. Manis," katanya santai dan membuat wajahku memerah seketika.
Aku menunduk malu menghindari tatapan jahilnya. Dan tiba-tiba saja aku teringat kedatanganku kemari, untuk menghabiskan waktuku bersama Ichigo. "Mana..gantungan hpku?" kataku sedikit memaksa sambil menyodorkan telapak tanganku—meminta.
Ichigo melirik tanganku dan tersenyum geli. Tiba-tiba tangannya menyentuh tanganku dan menarikku untuk berjalan dengannya. "Setelah kencan kita selesai, tentunya."
"Ke..kencan?!" tanyaku tidak percaya dan membuat Ichigo tertawa terbahak-bahak.
"Anggap saja seperti itu, Rukia."
(..)
Kutempelkan kedua telapak tanganku pada aquarium besar di hadapanku dan melirik ikan-ikan besar yang berenang di hadapanku dengan santainya. Ikan ini...benar-benar besar! Walaupun bentuk fisiknya tidak lucu seperti si nemo kecil, tapi ukurannya benar-benar membuatku takjub. Bagaimana cara menangkapnya?
"Rukia, kau ini sedang apa?" tanya Ichigo bingung sambil diam memperhatikanku di sampingnya. Kuhiraukan tatapannya padaku, masih terfokus pada ikan-ikan besar yang berenang melewatiku.
"Ikan ini besar sekali, Ichigo! Bagaimana cara memakannya?" tanyaku ingin tahu.
"Ini ikan langka, tidak mungkin kau memakannya. Lagipula, tidak semua ikan bisa kaumakan. Bagaimana kalau ikan itu beracun?" jelas Ichigo sambil berusaha menahan tawanya. Kukerutkan alisku kesal dan menatapnya sinis.
"Tidak lucu, tawake!" gerutuku kesal. Ichigo mengelus kepalaku lembut dan meraih tanganku yang masih tertempel di kaca aquarium.
"Jangan terus menggerutu seperti itu, kau jadi terlihat tidak manis lagi, nona Kuchiki. Ayo, ke tempat berikutnya," ajaknya sambil menarikku lembut. Mukaku kembali lagi memanas dan ini semua karena ulahnya itu.
Kami berjalan berdampingan, sambil sebentar berhenti untuk melihat-lihat aquarium yang menampilkan jenis-jenis ikan yang berbeda. Kebanyakan Ichigo yang menjelaskan ikan-ikan tersebut padaku, yang tentu saja dibacanya dari petunjuk di sebelah aquarium kaca. Sedangkan aku sibuk untuk sekedar menangkap perhatian ikan-ikan yang berenang lewat di depanku.
"Kau tidak bisa menarik perhatiannya begitu saja, ya kecuali ikan yang itu," tunjuk Ichigo pada aquarium selanjutnya di sebelahku. Aku berjalan perlahan dan melirik ke dalam aquarium yang ditunjuk Ichigo, melihat ikan-ikan berukuran sedang yang berenang dalam bentuk berkelompok. Kulambaikan tanganku pada ikan yang kebetulan berenang melewatiku dan aku mendapati tatapan tajam darinya. Giginya bergerigi tajam, seperti paku-paku tajam yang tertancap di rahangnya. Aku bergidik ngeri dan mundur beberapa langkah,tanpa sengaja menabrak tubuh Ichigo.
"Itu..ikan apa?" tanyaku menunjuk si ikan sangar di depanku. Tangan Ichigo menahan pundakku, terasa hangat dan aman. Tangannya yang besar selalu melindungiku selama ini, membuatku nyaman setiap kali berada di dekatnya—terlindungi.
"Itu ikan piranha. Mereka hidup berkelompok dan termasuk karnivora, sekaligus kanibal. Mereka memakan daging apa saja, bahkan manusia sekalipun."
"Ma..manusia?" tanyaku kaget, membalikkan tubuhku menghadap Ichigo. Ichigo menatapku lembut sambil mengusap kepalaku lagi.
"Baiklah, kita ke tempat selanjutnya yang jauh lebih menyenangkan," jelasnya sambil mendorong tubuhku lembut. "Ikan ini terlalu mengerikan."
Kali ini aku setuju dengannya, segera melangkahkan kakiku dan berhenti menatap lorong kecil yang diselimuti aquarium kaca di sekelilingnya—kiri, kanan, hingga bagian atas lorong. Banyak orang-orang memasuki lorong itu, yang sebagian besar didominasi oleh anak-anak kecil. Aku tertarik untuk melihatnya dan segera menarik lengan Ichigo di pundakku.
"Ayo kita masuk kesana!" kataku antusias.
"Tunggu, Rukia—"
Kupercepat langkahku dan begitu kutapaki lantai lorong, aku melihat pemandangan yang sebelumnya belum pernah kulihat. Rasanya seperti berenang di bawah laut tanpa kesulitan bernapas, tanpa merasa basah. Lorong ini diselimuti air biru yang jernih, terselimuti oleh ikan-ikan kecil hingga besar, bahkan terumbu karang yang beraneka ragam. Kulangkahkan kakiku perlahan sambil terbelalak lebar, mengagumi keindahan di sekelilingku dengan takjub. Ichigo meremas tanganku perlahan yang membuatku menoleh kepadanya. Tidak kusadari, aku menarik tangannya sejak tadi dan menyeretnya paksa kemari.
"Kau menyukainya?" tanyanya, enggan melepas genggaman tanganku. Lagi-lagi mukaku terasa panas, memerah.
Aku hanya mengangguk cepat, sebagai jawaban pertanyaannya. Ichigo mengangkat tanganku hingga searah dengan wajahnya, dan tiba-tiba mengecup punggung tanganku tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Baguslah kalau begitu."
Aku terdiam terbelalak sesaat. Dengan cepat kutarik tanganku dari genggamannya dan berbalik arah, berusaha menyembunyikan wajahku yang sudah seperti tomat panas. "Tawake!" gerutuku kesal sambil melangkah pergi. Ichigo tertawa kecil dan segera menyusulku, menggandeng lagi tanganku tanpa perasaan bersalah maupun canggung. Aku berusaha untuk tidak menatap matanya sekarang—mata orange-hazelnya yang seakan-akan bisa menawanku untuk terus menatapnya sepanjang waktu.
Ujung lorong berakhir pada sebuah aula luas yang lumayan dipadati banyak orang. Begitu aku dan Ichigo melewati pintu keluar lorong laut itu, kami disambut akuarium raksasa yang memperlihatkan ikan-ikan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Aku menganga lebar tidak percaya, bagaimana caranya mereka memasukkan ikan-ikan itu disini?
"Ichigo! Ikan ini lebih besar dari yang sebelumnya!" tunjukku pada aquarium besar di depan kami, menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Di sana terdapat beberapa anjing laut yang berenang bebas bersama kawanannya. "Anjing laut!"
"Kau suka anjing laut?" tanya Ichigo lembut sambil mengikutiku, menempelkan kedua tangannya pada aquarium besar. Anjing-anjing laut itu berenang melewati kami sambil melirik sesaat. Mereka benar-benar binatang yang menggemaskan!
"Aku ingin memilikinya!" kataku sambil melambai-lambaikan tanganku pada anjing laut yang lewat selanjutnya.
"Hah? Mereka bukanlah hewan yang bisa kaupelihara di rumah," balas Ichigo.
"Tapi mereka benar-benar lucu! Aku ingin sekali memeluknya!"
"Mereka akan melahap kepalamu begitu saja, mungil," sindir Ichigo dan dengan cepat kuinjak kakinya keras-keras karena sudah merusak momen menyenangkan bagiku. "Aw! Rukia!"
"Jangan seenaknya mengejekku! Tawake!" gerutuku sambil berjalan pergi menuju aquarium besar selanjutnya di belakang sana. Ada satu aquarium yang menarik perhatianku, karena tidak ada seorangpun yang tertarik untuk melihatnya. Aquarium kosong yang tidak memperlihatkan ikan apapun di berjalan perlahan menghampirinya, menempelkan kedua telapak tanganku ke kaca sambil berusaha melirik ke dalam—mencari sesuatu yang bergerak melewati pandangan. Tiba-tiba saja ikan-ikan kecil berenang cepat melewatiku, seperti sebuah komet yang melintas cepat membentuk koloni. Aku terkesiap dan mundur beberapa langkah tanpa mengalihkan pandanganku. Ikan-ikan kecil itu menari-nari berkelompok, kesana kemari dengan begitu bebasnya. Cahaya lampu yang berkelap-kelip beraneka warna mewarnai tarian itu dari luar aquarium. Aku terpana menyaksikan kekompakkan itu tanpa menyadari sosok Ichigo yang berdiri santai di sampingku.
"Indahnya," gumamku sambil menikmati pertunjukkan bawah laut yang memanjakan mata.
"Mereka selalu hidup berkelompok. Menari-nari seperti itu untuk menakut-nakuti musuh yang mendekat," jelas Ichigo.
"Benarkah?" tanyaku memastikan sambil menatap Ichigo di sampingku. Dia memandangku lembut dan tajam, di bawah keremangan ruangan yang dipenuhi oleh kilatan-kilatan cahaya berwarna warni. Cahaya itu memantul pada kulitnya, wajahnya, dan rambut orangenya. Matanya semakin bercahaya, memantulkan warna orange terangnya yang membuat jantungku semakin berdetak kencang. Apakah...Ichigo terlihat setampan ini?
Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya, melihat pertunjukkan ikan-ikan kecil dihadapanku sambil berusaha menstabilkan napasku. Ikan-ikan yang berenang cepat, seperti detak jantungku yang berdetak cepat tidak karuan. Apakah perasaanku selalu terasa seperti ini? Apakah Ichigo...berhasil menarik perasaanku yang sudah terpendam dalam di sudut kegelapan hatiku? Apakah...
Tiba-tiba sesuatu yang lembut menyentuh kulit pipiku. Kurasakan napasnya menyapu wajahku, rambut orangenya yang menggelitik lembut. Ichigo...mencium..pipiku. Dengan cepat aku menghindar kesamping, memegangi pipiku yang dikecupnya tadi sambil menatapnya bingung. Jantungku semakin berdetak kencang, seperti bom waktu yang akan meledak seperkian detik lagi. Wajahku terasa panas, sedikit membuat tubuhku bergetar kaget. Dan, Ichigo hanya menatapku lembut sambil tersenyum jahil?
"A..apa..kau..tadi..." Kata-kata yang tidak jelas kulontarkan dari mulutku yang bergetar. Tidak mempercayai apa yang sudah terjadi tadi, Ichigo...apa yang sudah dia lakukan?
"Kau seperti menghindariku dan masuk kedalam duniamu sendiri..lagi. Jadi...aku bermaksud membangunkanmu tadi," jelasnya dengan wajah sumringah.
Membangunkanku dengan sebuah ciuman? Memangnya ini cerita dongeng?
Aku masih termangu kaku, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Seharusnya tidak begini, bukan? Ichigo adalah temanku, tapi... Apakah teman juga melakukan hal seperti ini?
"Ayo, kita pergi. Kau tidak lapar?" tanya Ichigo sambil menggandeng tanganku lagi, menggenggamnya erat. "Tubuh mungilmu butuh asupan gizi yang cukup."
"Kau—" sebelum aku menggerutu lagi, Ichigo menarikku untuk berjalan mengikutinya ke arah pintu keluar. Dia selalu tahu kapan untuk menghindar, benar-benar menyebalkan.
(..)
"Terima kasih..untuk hari ini," bisikku sambil mendekap erat boneka anjing laut putih di pelukanku. Ichigo lah yang membelikannya untukku, sebagai hadiah darinya karena sudah menemani waktunya sepanjang hari ini. Kami menghabiskan waktu di Karakura Aquatic, makan di restoran di tengah kota, berjalan menikmati angin laut sore hari di pinggiran kota, dan terakhir mengantarku pulang tepat sebelum nii-sama datang. Untunglah nii-sama pulang larut—hal yang tidak kusesali untuk saat ini.
"Sama-sama, Rukia. Masuklah, langit sudah gelap," bujuknya sambil mengulurkan tangannya pada kepalaku, mengelusku lembut. Aku tertunduk malu sambil memeluk erat si singa laut tidak bersalah. Entah sudah keberapa kalinya Ichigo membuat wajahku memerah dan perasaanku meloncat-loncat tidak tenang. Jantung berpacu cepat dan kadang keringat di tengukku semakin membuat tubuhku terasa merinding. Bukan hal yang mengerikan, hanya saja ini terasa tidak nyaman untukku. Aku lebih suka sikap protektifnya padaku seperti tempo hari, memberiku rasa aman dan nyaman dalam waktu bersamaan. Bukan seperti sekarang, memaksaku untuk terus menatap mata tajamnya hingga bisa membuatku mati berdiri dengan mata yang masih terbuka lebar.
"Ya..hati-hati, Ichigo," balasku, lebih tepatnya berbisik. Kupaksa wajahku menengadah, menatap raut wajah Ichigo yang masih terlihat bersemangat, namun lembut. Tangannya menyentuh pipiku lembut, sambil menundukkan tubuh tingginya—menyamaiku. Tiba-tiba saja, dengan cepatnya Ichigo mengecup lembut keningku. Tubuhku terasa merinding lagi, seperti tersengat listrik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa menggelitik di perut memaksa keluar dan membuatku semakin mencengkram boneka anjing laut kuat-kuat. Perlahan aku melangkah mundur sambil menunduk malu. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa reaksi dia selanjutnya. Apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Sifat bebasnya tidak bisa membohongi ataupun menjanjikan sesuatu pada orang lain tanpa kepastian yang ada.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak," bisik Ichigo dengan masih membelai kepalaku lembut dan tersenyum ringan padaku. Tiba-tiba saja pintu rumah di belakangku terbuka dengan bunyi decitan keras. Kuberbalik dan mendapati nii-sama sedang berdiri disana, dengan nee-san yang mengikuti di belakangnya.
"Rukia," panggil nii-sama dengan nada kerasnya, namun terdengar datar dan biasa. Hanya saja tatapannya sangat mematikan, hingga membuatku sulit untuk mengambil napas. Nii-sama terlihat sedang kesal, entah karena alasan apa.
"Kau pulang selarut ini," lanjut nii-sama tanpa menungguku yang mematung untuk merespon. Apa yang harus kukatakan padanya sekarang?
"Maaf, Kuchiki-san. Saya Kurosaki Ichigo, teman Rukia. Saya yang mengajak Rukia pergi hari ini. Mohon maaf karena mengantarnya terlalu malam," jelas Ichigo sambil menundukkan kepalanya, mendahuluiku bicara. Ichigo terlihat tidak takut pada perubahan suasana karena kedatangan nii-sama—mengeluarkan aura ancaman dan penekanan yang kuat pada sekeliling kami.
"Ah, Ichigo-kun. Tidak apa-apa, justru kami berterima kasih sudah mengantar Rukia pulang," balas nee-san yang mulai maju mewakili nii-sama. Berbeda dengan nii-sama, nee-san terlihat santai sambil tersenyum lebar pada Ichigo yang masih terlihat bingung dengan perlakuan nii-sama yang terkesan cuek.
Nii-sama menatap nee-san bingung sesaat, "Kau..mengenalnya, Hisana?"
"Ichigo-kun pernah mengantar Rukia pulang sebelumnya. Kau tahu kan, saat penjahat itu masih berkeliaran di komplek ini?" tanya nee-san sambil menatap lembut nii-sama—suami tercintanya—dan merangkul lengannya mesra. Kadang kedua orang ini seringkali membuatku bingung, perpaduan kelembutan dan kehangatan dengan 'si tangan besi' yang tegas dan memaksa. Positif dan negatif...
Nii-sama terdiam sebentar, memikirkan sesuatu yang dianggapnya menganggu—terlihat dari raut wajah dan tatapan tajamnya padaku dan Ichigo di sebelahku. Nii-sama mendesah sesaat dan berusaha merubah raut wajahnya sedikit melembut, "Masuklah Rukia, ini sudah malam."
Aku terdiam dan berbalik menghadap Ichigo, merasa sedikit canggung dengan perhatian nii-sama yang berlebihan. "Aku harus segera masuk. Sekali lagi terima kasih...dan hati-hati di jalan," ucapku sambil menatap hangat Ichigo yang masih tersenyum lembut sejak tadi.
"Sama-sama, Rukia," ucapnya lembut. "Saya mohon diri, Kuchiki-san. Selamat malam." Ichigo menatap nii-sama dan nee-san sambil berusaha untuk tidak berhenti tersenyum lembut, tapi tetap saja raut wajah tajamnya masih terlihat jelas—memang sudah terpatri seperti itu sejak awal.
"Selamat malam Ichigo-kun. Hati-hati, ya," balas nee-san sambil melambaikan tangannya. Sedangkan nii-sama, masih tetap terdiam seribu bahasa—hanya menatap Ichigo sesaat dan segera membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Nee-san mengikuti jejak nii-sama, diikuti denganku. Aku berbalik untuk terakhir kalinya, melihat Ichigo yang sudah berjalan menjauh. Tubuh tegapnya sama sekali tidak terlihat lelah, selalu siap dan waspada pada suasana sekitarnya. Aku mendesah lemas dan segera memasuki rumah sambil tetap memeluk anjing lautku erat.
Di dalam rumah, nee-san menyambutku dengan senyuman lebarnya, sedangkan nii-sama sudah hilang entah kemana. "Kupikir...nii-sama belum pulang. Mobilnya tidak terparkir di depan," kataku, meminta penjelasan singkat dari nee-san.
"Mobil Byakuya perlu di service hari ini, jadi dia pulang menggunakan kendaraan umum," jelas nee-san yang membuatku takjub. Nii-sama...naik kendaraan umum? Bus dan kereta bawah tanah?
"Ehem!" Nee-san berusaha menarik perhatianku lagi dengan berdeham. "Jadi..adikku ini sudah mendapatkan pangeran impiannya?"
"Nee-san! Bu..bukan seperti itu!" kataku kaget, berusaha menjelaskan kesalahpahamannya. Kutarik sepatu yang membelit kakiku dan menggantinya dengan sendal rumah.
"Aku melihat dia menciummu." Penjelasan nee-san membuatku melotot kaget.
"Jadi...tadii.. Bu..bukan! Ichigo tidak menciumku! Dia hanya...mengecup keningku.."
"Eh? Bukankah itu sama saja?" tanya nee-san polos.
"Tidak! Itu sama sekali berbeda!" protesku balik sambil merasakan semburat merah muncul di pipiku, terasa panas.
"Rukia, aku ingin bicara denganmu," kata nii-sama tiba-tiba, muncul dari ruangan tengah dan menatapku tajam. "Di ruang tengah."
Aku hanya menunduk, sambil berpegang pada boneka baruku—boneka pemberian Ichigo. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang kulupakan sejak tadi, sesuatu yang berperan penting akan kegiatan jalan-jalanku dengan Ichigo. "Kelincinya!" teriakku kaget, memikirkan gantungan hp kelinciku yang masih ada di tangan Ichigo.
"Kelinci apa, Rukia?" tanya nee-san bingung. Nii-sama menatapku dengan tatapan aneh, yang tentunya meminta penjelasan lebih dariku. Semua ini karena kebodohan dan kelemahan mulut bawelku.
*(((to be continued...)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note :
Ya..seperti yang sudah dijelaskan, gantungan hp kelinci Rukia masih ada di Ichigo..hahahhaa.. Gantungan hp kelinci yang dibelikan Byakuya untuk Rukia (made in Italy ^^;) menjadi benda kesayangan Rukia. Walaupun keras dan tegas (cuek juga) Byakuya sayang banget sama adiknya ini, seperti di cerita Bleach aslinya...hohohoo
Ichigo dan Byakuya...hmm..Ichigo di fic ini sebenarnya ga takut sama Byakuya, hanya saja sedikit canggung karena sikap tegas dan sinis Byakuya si sister-complex..fufuufu..(nah loh, author bikin bingung ini *plak*)
Arc Cafe tidak buka sepanjang minggu, tapi tutup pada hari-hari tertentu (Senin dan Selasa adalah waktu liburnya. Minggu buka setengah hari saja, tapi pegawai seperti Rukia dkk yang masih sekolah diliburkan...^^)
Ok..segitu aja notenya..bingung mau nulis apa lagi..hahahha *plak* kalau ada pertanyaan, silahkan review saja..hihihihii
Terima kasih banyak untuk para readers yang masih setia membaca! Dan yang baru pertama kali baca, salam kenal ^^ Wkwkwk.. And, silahkan review~
