Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Gummy-As a Man (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Update cepat..hihihi..ini chapter yang hampir bisa dibilang 'naiknya' hubungan Ichigo dan Rukia. Aku mendengarkan lagu Electroboyz feat Hyorin nya SISTAR yang berjudul Ma Boy 2, ga tau kenapa dapet banget feel Ichirukinya . Atau Loving U nya SISTAR.. Disarankan para readers yang tau lagu itu, bisa mendengarkan sambil baca chapter ini..hihihi.. Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^

Aku juga mau mengoreksi untuk chapter sebelumnya, hontou ni arigatou buat uzumaki. kuchiki yang peka banget sama kesalahan penulisanku. Tentang anjing laut di chapter sebelumnya, ada kesalahan penulisan di tengah-tengah cerita, yaitu berubah menjadi singa laut ^^; yang aku maksud sebenarnya itu anjing laut. Gomen~ hihihihi

Oc, happy reading all~

~000*000~

Chapter 7 : Summer Scene Three

Aku menggigit roti panggangku dengan sedikit tidak bernafsu, mengunyahnya hanya sebagai rutinitas pagi belaka. Menelan gumpalan roti yang sudah hancur, seperti menelan sebuah bongkahan kertas tanpa rasa—masuk begitu saja ke dalam tenggorokanku menuju ruang lambung. Aku mendesah sesaat dan segera mengambil susu hangatku untuk membersihkan tenggorokan yang terasa cekat.

"Rukia, makanlah sarapanmu dengan benar," tegur nii-sama, tanpa beralih dari koran paginya. Aku terdiam sesaat sambil mengigit bibir dalamku. Tata krama selalu menjadi prioritas nomor satu bagi nii-sama, mengingat keluarga Kuchiki adalah keluarga bangsawan terkemuka sejak jaman Heian. Begitulah yang selalu dikatakan nee-san padaku dulu, seperti sebuah dongeng yang menemani tidur malamku.

Aku menunduk, memeriksa hp flipku yang tidak memberikan tanda-tanda kehidupan—pesan masuk. Ichigo sama sekali tidak membalas pesan maupun telepon dariku, seakan-akan dia menghindari diriku sejak perpisahan malam kemarin. Yang aku inginkan hanyalah gantungan kelinciku kembali, sekarang. Rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam diriku, merengutnya hingga membuat dadaku terasa terpilin. Perut menegang tidak nyaman dan napas terkadang berhembus tidak teratur. Ini semua karena si kepala orange! Kurosaki Ichigo bodoh yang terlalu lamban, cuek, suka seenaknya, keras kepala, angkuh, terlalu percaya diri—

"Rukia, sudak kukatakan berapa kali untuk tidak membuka hpmu saat di meja makan?" tegur nii-sama lagi, sekarang nadanya terasa lebih menusuk. Kukerucutkan bibirku sambil menaruh hpku di atas meja dan mengambil gelas susuku kembali. Nee-san yang sedang memasak telor dan sosis panggang tadi sudah duduk dan menatapku prihatin.

"Byakuya, kau tidak perlu memarahinya lagi, bukan?" kata nee-san lembut sambil menatap lembut nii-sama. Dan sekilas kudapati tatapan nii-sama yang berubah lembut, saat menatap nee-san di sebelahnya. Kuseruput gelas susuku— yang memang sudah habis— hingga menimbulkan suara berisik di ruang makan ini. Kenapa ini terasa tidak adil bagiku? Nii-sama hanya berlaku baik pada nee-san, tidak pernah memarahi bahkan memelototinya, tapi malah sebaliknya—menatap lembut bahkan tersenyum pun bukan hal yang terbilang jarang!

"Rukia," tegur nii-sama, lagi, sambil memelototiku. Aku menaruh gelasku yang sudah kosong dan mulai mengambil rotiku lagi—mengunyahnya kembali seperti mengunyah kertas. Nii-sama memang tidak pernah puas untuk menceramahi dan menegurku, bahkan sejak kejadian tadi malam, suasana hatiku belum juga membaik—malah semakin memburuk...

(***) flashback...

Kami terdiam di ruang tengah, terduduk di sofa yang empuk tapi berubah menjadi keras sekarang. Nii-sama terduduk di sebelahku, terpisah di sofa yang diperuntukkan satu orang saja. Nee-san duduk disampingku, mengelus pundakku lembut sambil menatapku lembut. Dan aku, duduk meringkuk di sofa sambil menekan kedua lututku—kutundukan kepalaku ke bawah hanya untuk menghindari tatapan tajam nii-sama.

"Jadi, siapa bocah tadi, Rukia?" tanya nii-sama yang membuatku bergidik hanya dengan mendengar suaranya saja. Bo..bocah? Ichigo yang setinggi dan segarang itu dibilang bocah?

"Byakuya," tegur nee-san, berusaha menenangkan suasana yang sudah kelewat tegang. "Dia hanya teman Rukia. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya mengantar Rukia pulang kemari dan Ichigo-kun bukanlah orang yang seperti kaukira. Dia anak yang baik."

Nii-sama tidak merubah ekspresinya, masih menatapku tajam. Penjelasan nee-san benar-benar tidak berguna sekarang. "Hanya teman? Dengan mencium gadis di bawah umur di depan rumahnya? Dan rambut orange berandalnya itu...aku sama sekali tidak mempercayai bocah itu," kata nii-sama tidak menggunakan nada tinggi yang berlebihan, tapi tetap saja terdengar mengancam di telingaku.

"I..Ichigo bukan berandal," kataku gugup, memberanikan diri. 'Rambutnya? Kenapa nii-sama hanya melihat Ichigo dari penampilan luarnyasaja? Padahal, akusama sekali tidak mempermasalahkannya! Dan aku bukanlah anak di bawah umur! Aku sudah 17 tahun!' Sayangnya kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutku.

"Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan kalau dia bukanlah berandal. Kau harus menjauhi bocah itu," kata nii-sama, mendesakku untuk menatapnya dengan mata nanar. Menjauhi Ichigo? Itu..tidak mungkin bisa kulakukan

"Nii..nii-sama.. Ichigo bukanlah anak berandal seperti yang nii-sama pikirkan," kataku, lebih terdengar ngotot. "Dia pernah menolongku dari orang jahat yang berkeliaran di sekitar komplek waktu itu. Di..dia yang melaporkannya pada polisi."

Nee-san mencengkram pundakku. Dia terlihat kaget sekaligus bingung. "O..orang jahat? Kau bertemu dengannya, Rukia? Di komplek ini? Astaga." Nee-san merangkulkan tangannya ke pundakku, memelukku lembut. "Kenapa kau tidak menceritakannya pada kami? Seharusnya, kita berterima kasih pada Ichigo-kun. Benar kan, Byakuya?" Nee-san menatap nii-sama penuh harap, begitu pula denganku. Aku mengerahkan seluruh kemampuanku, ikut menatap memohon pada nii-sama yang terlalu kerasa kepala.

Nii-sama menatap kami bingung, terlihat raut ragu-ragu di wajah kakunya. Sesaat dia mendesah dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Lain kali kau harus lebih berhati-hati dan jangan pulang terlalu malam," jelas nii-sama sambil berdiri dari dudukknya. "Jagalah kelakuanmu, Rukia. Kau ini perempuan dan aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi, di depan rumah."

Tiba-tiba aku teringat akan kejadian itu, Ichigo mengecup pipi dan keningku. Mukaku terasa panas dan mulai memerah lagi. Tapi...tunggu..Nii-sama tidak menyangkut tentang diri Ichigo lagi? Apa maksudnya..dia tidak mempermasalahkan Ichigo lagi?

"Rukia?" tegur nii-sama, terdiam sambil menatapku serius—meminta jawaban.

Aku tersentak dan segera berdiri dari dudukku. "Ah..baik nii-sama!" Kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan kembali menatap nii-sama meyakinkan.

"Dan aku tidak mau melihat wajah bocah itu lagi saat aku pulang kerja," tambah nii-sama yang membuatku mematung tiba-tiba pada posisi berdiriku.

Nii-sama berlalu pergi, meninggalkanku dan nee-san di ruang tengah, bersama dengan suasana tegang dan canggungnya. Aku mengerucutkan bibirku dan menekuk alisku dalam-dalam, tidak menyukai sikap nii-sama pada ...tidak adil! Ichigo sudah menolongku dan bersikap baik, tapi nii-sama sama sekali tidak menanggapinya dengan baik, malah sebaliknya. Penilaiannya jatuh pada penampilan Ichigo, ya...rambut nyentriknya itu. Apa perlu aku bilang pada Ichigo untuk mewarnai rambutnya menjadi hitam?

"Hee? Wajahmu jelek sekali, Rukia. Seperti kucing kecil yang memberengut kesal," kata nee-san dan mencubit pipiku.

"Ne..nee-san! Sakit!" kutepis tangan nee-san dan mengusap pipiku yang mulai memerah.

Nee-san menatapku geli sambil tersenyum lebar, "Tapi, bagus bukan? Byakuya tidak melarangmu bertemu dengan Ichigo-kun. Asalkan kau pulang lebih cepat dari Byakuya..."

Bagus darimana? Rasanya seperti seorang buronan, berlari cepat sebelum bertemu dengan polisi kejam dan tidak ada ampun!

(***)

Aku mendesah lagi, menghabiskan potongan terkahir dari rotiku. Kudorong kursiku dan beranjak pergi, setidaknya mencari udara segar sekarang. "Aku pergi dulu, nii-sama, nee-san."

"Eh? Kau bekerja di shift pagi?" tanya nee-san sambil memotong sosis dan roti yang disediakannya untuk nii-sama.

"Hari ini cafe tutup lebih awal, karena festival kembang api yang diadakan di tengah kota. Jadi kami tutup lebih awal, shift sore dipindahkan ke shift pagi dan siang," jelasku sambil mengambil piring kotorku untuk segera dicuci.

"Pesta kembang api ya..kau berencana untuk pergi ke festival? Bersama Ichigo-kun?" celetuk nee-san yang membuatku bergidik ngeri. Benar saja, nii-sama menurunkan koran paginya dan menatap nee-san bingung, menatapku tajam.

"Maksudku, juga bersama teman-temanmu yang lain?" tambah nee-san sambil menatap lembut nii-sama. "Ayolah, Byakuya. Rukia butuh liburan bersama teman-temannya."

Nii-sama terdiam sesaat, sambil meneguk teh panasnya. Aku memegang piringku kuat-kuat, bingung harus menjelaskan darimana. "I..itu..aku tidak bermaksud..menonton festival," jelasku. "Aku bermaksud untuk berlatih di cafe bersama Unohana-san sore ini. Jadi, kemungkinan aku pulang agak malam." Mungkin saja nii-sama mengizinkanku berlatih dan ini tidak menyangkut Ichigo sama sekali.

"Dan tidak ada bocah rambut orange itu?" tanya nii-sama mendesakku.

"I..Ichigo? Ah, dia tidak ada! Hanya bersama Unohana-san!" jelasku buru-buru sambil tergagap. Apa yang nii-sama pikirkan sebenarnya? Selalu saja menyangkut Ichigo, si bodoh itu...

(..)

(..)

(..)

"Ichigo!" teriakku yang mengagetkan rambut orange itu. Ichigo terdiam sebentar dan melihatku bingung. Beberapa orang pengunjung menatapku bingung, tapi tidak kuhiraukan. Yang penting si orange itu mengembalikan kelinciku!

"Ru..rukia? Kau mengagetkanku," tegur Ichigo yang sudah menarik kursinya dan duduk di depan counterku. Aku tetap memandangnya sinis sambil menyodorkan tanganku—meminta.

"Kembalikan kelinciku, tawake!"

"Hah?"

"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau juga tidak membalas pesan maupun teleponku—"

"Rukia?" tegur seseorang di samping Ichigo, yang kini sudah duduk di kursi counter. Kaien-san menatapku bingung.

"Ka..kaien-san! Ohisashiburi," sapaku. Sudah cukup lama Kaien-san tidak datang berkunjung ke café. Sebenarnya, aku sedikit merindukannya. Keberadaan Kaien-san selalu memberikan sentuhan hangat dan nyaman, tidak seperti si orange di sampingnya ini. Kaien-san orang yang ramah dan senang sekali berbincang. Tidak sulit untuk menemukan topik perbincangan baru bila berdekatan dengannya, tidak seperti Ichigo. Bernapas saja kadang sulit bila si orange itu menatapku, bahkan jantung terasa berpacu kian cepat.

"Oh! Hisashiburi, Rukia," sapanya balik. "Lama tidak bertemu juga, Ichigo," sapa Kaien-san yang dihadiahi tatapan sinis Ichigo—lagi-lagi.

"Yo…Kaien," balas Ichigo seadanya dan mengalihkan kesibukannya dengan menatapku tajam.

Ichigo hendak mengatakan sesuatu, membuka mulutnya. Tapi, yang kudengar bukanlah suaranya, melainkan suara Kaien-san. "Rukia, kau mau pergi ke festival malam ini?"

"Eh?" Festival? Kaien-san mengajakku ke festival? "Itu…aku.." Aku melirik Ichigo sekilas yang langsung dibalas dengan tatapan tajamnya. Dengan cepat kualihkan pandanganku pada Kaien-san yang menatapku lembut—sungguh berbeda dengan Ichigo. Menatap Ichigo sekarang selalu membawaku kepada kejadian kemarin malam, saat dia mengecup keningku lembut. Tu..tunggu..kenapa aku tiba-tiba mengingat hal memalukan itu lagi? Sekarang mukaku kembali terasa panas dan mulai memerah. Bodoh sekali aku ini..di depan Kaien-san yang sedang bertanya padaku.

"Rukia?" panggil Kaien-san.

"Eh..Kaien-san…maaf, aku tidak bisa pergi. Aku sudah ada janji dengan Unohana-san hari ini," kataku sambil menunduk malu.

"Begitu? Wah..sayang sekali ya, seandainya aku lebih cepat mengajakmu," gumam Kaien-san yang membuat Ichigo memelototinya lagi. Aku tersentak dengan pengakuan Kaien-san, membuatku kembali menunduk malu dan mengalihkan tatapan dengan mengelap meja counter.

"Ehem!" Rangiku-san mengalihkan perhatianku seketika. Dia bersender di counter sambil menatapku aneh—aku tahu apa maksudnya. Yumichika menemani Rangiku-san di sebelahnya, tersenyum dengan maksud yang sama. "Ah, kebetulan ada Kurosaki-kun dan Shiba-kun!" kata Rangiku-san terlihat senang.

"Matsumoto-san," sapa Kaien-san balik sambil tersenyum ramah. Sedangkan Ichigo…masih memberengut kesal sambil memainkan hpnya.

"Kudengar kalian akan ke festival kota malam ini? Bagaimana kalau kita bergabung?" tanya Rangiku-san lagi, sambil disertai anggukkan Yumichika.

"Kalian juga akan pergi ke festival?" tanya Kaien-san terlihat antusias. "Wah, kebetulan sekali. Kau juga ikut, Ichigo!" Kaien-san merangkulkan tangannya di pundak Ichigo, yang kembali dihadiahi tatapan sinis Ichigo.

"Kurosaki-kun, kau juga ikut!" ajak Rangiku-san di sampingnya sambil tersenyum lebar. "Momo dan pacar kecilnya itu juga akan ikut. Kudengar pacar imutnya itu mengajak beberapa teman dari sekolah kalian untuk bergabung?" Ya…tentu saja Rangiku-san tidak akan melepaskan kesempatan ini. Selama disana ada laki-laki incarannya, dia pasti akan datang—walau hujan badai menerpa kota di musim panas ini sekalipun.

"Eh? Ah..iya, si pendek mengajakku juga untuk bergabung," kata Ichigo yang langsung dibalas senyuman lebar Rangiku-san. Yumichika di sampingnya menatap bingung sekaligus pasrah.

"Rukiaaa-chhannn! Pesanan meja 5," kata Hirako-san menembus kerumunan di depan counterku dan memberikan secarik kertas pesanan padaku. Yumichika yang tersingkir ke samping karena ulahnya langsung menatap Hirako-san kesal.

"Shinji!" tegur Ichigo yang dibalas tatapan datar Hirako-san.

Ah ya..dua orang ini. Aku tidak mengetahui bagaimana hubungan kedua orang ini, semenjak peristiwa itu—Ichigo kesal dengan kehadiran Hirako-san dan segera pergi meninggalkan café, menghiraukanku. Diam-diam aku mencuri pandang, menatap mata orange terang Ichigo, mengharapkan perubahan disana. Tidak ada kekesalan maupun kebencian, digantikan dengan tatapan bingung dan sedikit terganggu pada pancaran matanya. Jadi..hubungan mereka sudah membaik ya… Itu lebih baik sekarang..

"Jangan senyum-senyum sendiri, Rukiaa-chaannn…ini pesanannya," kata Hirako-san dengan nada anehnya dan melambai-lambaikan kertas di tangannya padaku. Segera saja aku mengambil kertas pesanan dan menempelnya pada meja counter.

"Eh? Ichigo? Sejak kapan kau ada disana?" tanya Hirako-san lagi, menatap bingung Ichigo.

"Aku sudah ada disini sejak tadi!" jawab Ichigo kesal, dihiraukan oleh Hirako-san tadi.

"Hirako! Kau mau ikut ke festival malam ini? Melihat kembang api?" tawar Rangiku-san terlihat bersemangat—terlalu bersemangat.

"Ya, kau mau ikut tidak, poni rata?" tanya Yumichika, lebih tepatnya menyindir.

"Selama kau tidak ikut, aku ikut, mata lentik," balas Hirako-san yang tidak mau kalah dengan Yumichika. Lagi-lagi dua orang nyentrik ini memulai perdebatan tidak penting mereka.

Rangiku-san menyingkir dari dua orang itu yang masih berdebat, bertengger di samping Ichigo sambil menatap genit. Kukerutkan alisku kesal, tidak menyukai sikap Rangiku-san yang selalu tebar pesona seenaknya. "Jadi, kau ikut bergabung, Kurosaki-kun?" tanyanya manja dan melirikku sekilas. Sikapnya semakin membuatku kesal. Kuraih gelas kosong dan mengisinya dengan es batu hingga menimbulkan bunyi berisik.

"Aku?" Kudengar Ichigo sedikit bingung dari nada suaranya. Tidak bisa kulihat wajahnya dari posisiku yang membelakanginya—mungkin itu lebih baik. "Aku akan ikut, kalau Rukia ikut."
Kata-katanya membuat gelas di tanganku hampir jatuh ke lantai. Kenapa si orange ini terus berulah? Kenapa setidaknya dia membiarkanku sendirian saja, tidak mengangguku sepanjang hari? Dan kenapa sikapnya itu sulit sekali ditebak,selalu membuatku seperti terkena serangan jantung mendadak setiap kali dia berbicara?

(..)

(..)

(..)

Aku mendesah lega, selesai membuat hiasan kopi yang ternyata membutuhkan ketelitian lebih dari yang sebelumnya. Gambar kembang api telah selesai dibuat pada cangkir kopi di depanku, di sebelahnya adalah gambar baling-baling yang mencerminkan musim panas, di sampingnya lagi gambar bunga matahari sebagai perlambang musim panas, di sampingnya lagi gambar bunga yang memiliki kelopak banyak menyerupai bunga hibiscus, dan di sampingnya lagi tidak ketinggalan gambar Chappy yang memakai bikini musim panas. Mungkin yang terakhir merupakan gambar paling sulit yang kubuat. Menggambar si tokoh Chappy dengan ekspresi semangatnya menyambut musim panas sambil menggunakan bikini manis yang bercorak polkadot. Sungguh lucu…

Aku tersenyum puas dengan hasil kerjaku. Kusenderkan tubuhku pada meja counter, menunggu Unohana-san yang sedang ada keperluan mendadak dan meninggalkanku sendirian di café. Sekarang cahaya yang bisa kuandalkan pada ruangan hanyalah cahaya lampu di dalam café, walaupun tidak semuanya dinyalakan karena tidak adanya pengunjung café. Langit di luar sudah berubah gelap, dihiasi bintang-bintang di langit yang menandakan langit bebas dari awan-awan yang menghalangi. Mungkin, sebentar lagi langit akan dihiasi kembang api? Apa mereka semua sudah sampai di festival tengah kota?

Dengan tidak enak hati, aku menolak tawaran baik mereka untuk bergabung menikmati festival malam. Janjiku pada Unohana-san tidak bisa kubatalkan begitu saja. Lagipula…disana terlalu ramai. Aku tidak suka untuk berdesak-desakkan, bertabrakan dengan orang-orang yang berlalu lalang. Disamping memang tubuhku termasuk kecil dari ukuran rata-rata. Kadang kelemahan ini tidak berguna dalam keadaan tertentu.

Kuregangkan badanku dan mengambil secangkir kopi buatanku, yang bergambar Chappy memakai bikini. Kubawa ke meja di sudut café, tempat yang menurutku menjadi tempat favoritku—bila aku yang menjadi pengunjung disini. Di samping meja yang terlihat cukup besar, terdapat kaca besar yang dihiasi sticker tempelan kaca bertema musim panas. Di dinding belakangku, terdapat papan tulis besar yang biasa dihias oleh para pegawai, memperlihatkan menu-menu unggulan café ini. Di samping papan tulis terdapat gambaran tanganku—si Chappy pelaut yang sedang membawa sebuah pancingan ikan. Tenang dan sepi terasa menyelimuti café. Rasa panas yang seharusnya aku rasakan di musim panas ini berganti dengan rasa dingin kesendirian.

Tiba-tiba ringtone hpku berbunyi. Segera aku bangkit menuju counter dan mengambil hp dari tas ranselku. 1 pesan untukku dari Unohana-san… 'Maaf Rukia, mungkin urusan disini agak lama. Kau bisa pulang duluan, tidak perlu menungguku. Taruh saja kunci café di bawah pot seperti biasa. Maaf ya merepotkanmu.'

Jadi, aku bisa pulang sekarang ya? Tapi, rasa tenang ini membuatku tidak ingin cepat-cepat melangkahkan kaki keluar dari café. Jarang sekali aku bisa mendapati waktu untuk sendirian, melakukan sesuatu hanya untuk diriku. Kulirik jam di hpku yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku harus segera mengabari nee-san dan juga membalas pesan Unohana-san. Tinggal sedikit lebih lama tidak ada salahnya, bukan?

Setelah selesai mengetik pesan dan menutup hpku, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang kurang disana. Rasanya hpku terasa lebih ringan..tungguu.. Gantungan hp kelinciku! Kurosaki Ichigo! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan gantungan hp yang masih tertinggal di tangan Ichigo? Kubuka lagi hpku dan segera mengetik pesan singkat pada Ichigo. Tapi, tunggu dulu…Ichigo sedang ada di festival sekarang. Menyuruhnya kemari yang memakan waktu cukup lama bisa membuatnya melewatkan pesta kembang api. Dan aku mungkin mengganggu waktu berkumpulnya bersama teman-temannya. Bukankah itu tidak adil?

Kuurungkan niatku mengetik pesan pada Ichigo dan segera menutup hp flipku. Kutaruh hpku kembali ke dalam tas ransel dan segera kembali duduk di kursiku semula—menikmati kopi malamku. Lalu, tidak lama suara gemerincing bel di pintu terdengar nyaring di dalam ruangan yang terasa sepi. Seseorang masuk ke dalam café, meninggalkan bunyi langkah yang terdengar berat. Apakah Unohana-san sudah kembali secepat ini?

Tiba-tiba warna orange muncul dari kegelapan yang ditinggalkan di bagian depan café. Ichigo menatapku lembut sambil tersenyum tipis. "Ternyata kau masih ada disini, ya?"

"I…Ichigo? Kau..apa yang kaulakukan disini?" tanyaku tergagap bercampur bingung. Orang yang sedang kucari tiba-tiba muncul begitu saja di depanku.

"Aku?" kata Ichigo sambil menaruh kedua tangannya di kantong celananya. "Ah, aku mau memberikan ini." Sebelah tangannya mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyodorkannya padaku—gantungan hp kelinciku. Dia mengingatnya? Jadi, sekarang dia berubah menjadi sinterklas di musim panas, ya?

Kubelalakan mataku tidak percaya sambil menyodorkan tanganku untuk mengambilnya, tapi dengan cepat Ichigo menariknya kembali. "Boleh aku meminta satu permohonan lagi?"

"Lagi?!" kataku tidak percaya dan memberengut kesal.

Ichigo tertawa melihatku dan perlahan menarik sebelah tanganku, meletakkan boneka kelinciku. "Aku hanya bercanda. Ini, aku kembalikan."

Aku memandangi kelinci di tanganku, masih terlihat sama seperti sebelum aku menghilangkannya. "Terima kasih," ucapku sambil tersenyum lembut padanya.

"Ah.." balasnya lembut dan mengambil tempat duduk di seberangku. Tangannya disenderkan di atas meja sambil memperhatikan ke sekeliling café. "Kau sendirian disini?"

"Ya..Unohana-san sedang ada keperluan, jadi aku berlatih disini sendirian. Unohana-san menyerahkan jam tutupnya café padaku," jelasku sambil memain-mainkan gantungan kelinci di tanganku. "Kau…bukankah seharusnya kau ada di festival bersama yang lainnya?"

"Oh..itu..aku menyelinap pergi," katanya cuek sambil melirik kopiku di meja. "Dan ternyata disini lebih nyaman dan tenang—hei, itu gambar apa?" tunjuk Ichigo pada gelas kopiku.

"Ini? Ini gambar baru yang aku buat tadi. Judulnya Chappy di musim panas!" jelasku antusias sambil membalikkan gelas kopi menghadapnya. "Chappy yang terlihat antusias menyambut musim panas dengan memakai bikini lucunya—"

"Iya iya, aku mengerti. Apa tidak ada gambar lain?" potong Ichigo berusaha mengalihkan perhatiannya.

Sebagai balasan aku memelototinya, tidak menghargai hasil karyaku. "Hei, aku belum selesai menjelaskan!"
"Dengan sekali lihat juga aku sudah mengerti," balasnya.

"Kamu…benar-benar menyebalkan! Tawake! Apa kau tidak bisa melihat betapa lucunya Chappy yang kubuat?"

Ichigo terlihat menahan tawanya keluar, tapi tetap terlihat di sudut mulutnya yang tersenyum geli. "Gambaranmu seperti gambaran anak kecil,"ucapnya berusaha menahan tawa.

"Rambut orange bodoh!" teriakku kesal. Tiba-tiba suara keras terdengar dari luar, suara letusan kembang api. Apa perayaan kembang apinya sudah dimulai?

"Sudah dimulai ya? Tapi kita tidak bisa melihatnya dari sini," kata Ichigo sambil menyeruput kopiku.

"Hei! Itu kopiku! Kau merusak Chappyku!" teriakku tambah kesal.

"Aku haus, lagipula kopi itu untuk diminum, bukan dipandangi saja," jelasnya tidak merasa bersalah. "Ini kau mau?"

Dan sekarang dia menyodorkan kopinya padaku—kopi yang sudah diminumnya tadi. Apa dia tidak mempermasalahkannya, berbagi kopi dengan orang lain? I..itu bisa dibilang ciuman tidak langsung bukan?

"Rukia? Kenapa kau melamun?" tegur Ichigo dengan senyum jahilnya.

Aku kembali memelototinya yang sudah bersikap seenaknya dan sekarang menjahiliku. "Aku tidak mau! Tawake!"

Ichigo kembali lagi tersenyum geli. Dengan kesal, aku melangkah menjauh, menaiki tangga yang terletak di belakang café. "Tunggu, Rukia! Kau mau kemana?"

"Melihat kembang api!" balasku kesal dengan menapaki anak tangga dengan langkah keras. Terdengar suara langkah Ichigo mengikuti di belakangku. Derap langkah yang seirama dalam kesunyian café dan terkadang diiringi suara kembang api yang membuat dada bergemuruh. Aku menapaki anak tangga terakhir dan mendapati ruangan gelap yang diterangi cahaya kembang api dari kejauhan dan juga cahaya bulan. Ruangan yang cukup luas, terdiri dari beberapa meja dan kursi yang tersusun rapi. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kertas tentang pendapatan dan data pengurusan café. Tempat yang biasanya dipakai untuk rapat pegawai dan ruangan kantor kebendaharaan ini terlihat lebih luas dan dingin. Aku menapaki lantai kayu yang berdenyit kecil, menuju beranda luar yang dipisahkan oleh pintu kaca. Kembang api terlihat cukup jelas dari sini, walaupun jaraknya tidak terlalu dekat dari daerah pinggiran sini. Untung saja bangunan di sekitar café tidak memliki tinggi yang sama, lebih pendek dan memberikan jangkauan luas untuk melihat daerah sekitar dari sini. Aku bersender di beranda sambil menikmati angin hangat yang berhembus lembut, diiringi suara jangkrik yang nyaring terdengar. Ichigo melangkah di sebelahku, ikut bersender di beranda sambil berusaha menarik perhatianku, yang berusaha kuhiraukan.

"Rukia..kau marah?" tegurnya lembut, berusaha untuk tidak melampaui batas yang kubuat.

"Tidak," jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari langit, menunggu kembang api selanjutnya diluncurkan.

"Kau marah," balasnya terdengar kecewa.

"Tidak."

"Kau membenciku?"

"Tidak."

"Kau menyukaiku?"

"Ti—" Apa yang barusan dia katakan? Kupelototi Ichigo yang menatapku dalam diam. Matanya berubah lembut, namun menusuk. Perubahan suasana yang tiba-tiba ini terasa menekanku begitu kuat. Aku bermaksud membalas kejahilannya itu, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku.

Seulas senyum terukir pada wajahnya, senyum lembut yang sekaligus membuat jantungku berdetak kian cepat. "Aku berusaha menarik perhatianmu, ternyata berhasil ya?"

Jadi..dia hanya bercanda tadi? Si bodoh ini! Kuinjak kakinya keras-keras, berharap bisa meremukkan kakinya. "Aw! Rukia!"

"Berisik! Tawake!" Aku memberengut kesal dan kembali bersender pada tembok beranda, berharap kembang apinya kembali muncul. Ichigo masih meringis kesakitan dan kembali berusaha menarik perhatianku. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya kali ini.

"Oi..Rukia," sapanya lagi.

"Apa?" balasku ketus, tidak mau melihatnya.

"Aku tidak bermaksud membuatmu marah."

Aku terdiam, tidak mau membalas kata-katanya saat ini. Sebelum keinginan menginjak kakinya kembali muncul, lebih baik aku menghiraukannya saja.

"Rukia?"

Tidak mau menjawab…

"Apa boleh aku menciummu?"

Tetap tidak mau menjawab…

"Boleh itu aku artikan sebagai 'iya'?"

Terserah kau saja..tawake!

Tiba-tiba tangannya mengelus pipiku lembut, membuatku menoleh cepat ke arahnya. Tatapan matanya tidak menatapku jahil, tapi terlihat lebih lembut dan membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Warna hazel-orange nya terlihat lebih terang di tengah kegelapan malam, hanya sinar bulan yang menerangi tempat ini. Kedua tangannya menangkup kedua pipiku lembut dan wajahnya semakin terlihat dekat—mendekat perlahan. Dan sesuatu menyentuh bibirku lembut, bibir Ichigo. Napasku tiba-tiba terasa tercekat dan jantungku berdetak kian cepat. Kedua tanganku membeku di samping tubuhku, tidak bisa kugerakkan. Kedua mataku tidak bisa menutup, memperhatikan mata Ichigo yang terpejam perlahan terbuka, melihatku intens. Napasnya terasa lembut di wajahku, membuatku mengigil tiba-tiba.

Cahaya kembang api muncul di angkasa malam, menerangi sebagian wajahnya yang membuat napasku kembali tercekat. Semua terpahat sempurna di depan mataku, sesuatu yang seharusnya tidak bisa kusentuh tapi malah menyentuhku dengan kelembutannya. Wajahnya menjauh, menarik napas dan meninggalkanku yang rasanya bernapas adalah hal yang langka. Sebelah tangannya menyentuh tengukku lembut yang tanpa bisa kuhindari menarikku kembali mendekat padanya—mencium bibirku untuk yang kedua kalinya. Dengan cepat aku merespon, mendorong kedua tanganku pada dada bidangnya, membuatku mundur menghindarinya. Dan sekarang aku bisa bernapas, membuat paru-paruku berpacu cepat menginginkan pasokan udara yang lebih. Secara paksa aku melangkahkan kakiku menjauh, berlari ke dalam dan menuruni anak tangga secepat mungkin. Di belakangku, Ichigo berulang kali memanggil namaku, disertai suara ledakan kembang api yang terdengar semakin keras. Cepat-cepat aku mengambil tas ranselku di meja counter dan berlari ke arah pintu depan. Sesuatu menabrakku keras, lebih tepatnya seseorang.

Unohana-san menahan bahuku lembut sambil menatapku bingung. "Rukia?"

"Ah..Unohana-san, maaf. Aku harus pergi sekarang," kataku cepat dan menunduk singkat sambil terus berlari, menghindari Ichigo yang terus memanggilku dari arah dalam café. Yang kubutuhkan sekarang adalah kesendirian dan angin dingin untuk menghilangkan kehangatan di sekujur tubuhku. Aku tidak butuh kehangatannya, seharusnya aku menyadarinya dari awal. Tanpa sadar aku sudah melangkah terlalu jauh…bodoh…

*(((to be continued…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Byakuya sebenarnya ga benci sama Rukia, kok. Dia termasuk sister-complex, terlalu sayang sama adik perempuannya ini (walaupun ga sedarah..) Makanya dia kesal banget saat melihat Ichigo mencium kening Rukia, di depan rumahnya lagi…hihiihi

Rangiku sempat menggoda Ichigo, sebenarnya ga serius, hanya ingin memancing-mancing Rukia aja (yang menurut Rangiku, Rukia itu sama sekali ga peka sama perasaannya sendiri..) Tapi sepertinya rencana Rangiku belum bisa berhasil di chapter ini ^^;

Iyeey..akhirnya hubungan Ichigo dan Rukia berubah drastis dari chapter ini. Semoga penulisanku bisa menjelaskan perasaan Rukia yang tiba-tiba dicium Ichigo ya…hihihihii Terus, kenapa Rukia malah lari setelah dicium Ichigo? Itu bakalan aku jelasin di chapter berikutnya..tunggu ya~

Hubungan Hirako dan Ichigo bisa dibilang sudah membaik. Aku ga menjelaskan hubungan kedua orang ini lebih lanjut karena mau lebih memfokuskan pada Rukia dan Ichigo saja..gomen ne~

Akhirnya Kaien muncul lagi..hihihiih..tapi disini porsi keluarnya sedikit..(hint: dia termasuk salah satu chara berpengaruh yang nantinya berhubungan dengan hubungan Rukia dan Ichigo di chapter-chapter berikutnya)

Chapter depan awal konflik mulai muncul! Ini menyangkut masa lalu Rukia loh..hohohoo

Untuk balasan anonymous dan no-login reviewers:

hikary cresenti : Makasih dah review… gapapa kok, aku bales disini aja hihihi..ini aku udah update.. sekarang makin serius hubungannya XD

chappy : Makasih dah review ya..hihiih gapapa kok, aku bales disini aja ya..wkwkk iya, gantungan hpnya ketinggalan lagi tuh.. ini sudah diupdate! XD

lantana 'chaori' pinkblond : Makasih dah review.. Iya, akhirnya diupdate..hihihih… Yumichika jutek2 tapi baik kok, wkwkwk.. aku suka sama chara satu ini.. makasih semangatnya ya! XD

krabby paty : Makasih ya dah review..Ichi udah ada perasaan ma ruki sebenarnya, keliatan nih di chapter ini. Cuman belum sempet 'nembak'nya nih..Tunggu chapter2 berikutnya aja

Terima kasih banyak untuk para readers yang masih setia membaca! Dan yang baru pertama kali baca, salam kenal ^^ Wkwkwk.. And, silahkan review~