Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Miryo feat Sunny (SNSD)-I love You I Love You, Gummy-As a Man, Boa-Only One, SISTAR-Loving U, Owl City-The Saltwater Room, Rookiez is Punk'd-Song for…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Oc, chapter yang menguras emosi…hihihihi… Semoga feelnya dapet ya, sedih sekaligus menenangkan. Emosi Rukia yang berubah-ubah membuat author emosi dan frustasi tengah malem..wkwkwkk Maaf klo chapter ini tidak begitu memuaskan untuk para readers, karena penjelasan konflik yang membuat bingung..eheheh.. Konflik baru disini by the way, just check it out~ Happy reading~

Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^

~000*000~

Chapter 8 : Summer Scene Four

Kulangkahkan kaki dengan lemas menuju counterku bekerja. Sinar matahari yang terik menusuk kulitku hingga terbakar, juga mulai mengusik diriku. Udara yang panas membuat kepalaku pening, ditambah masalah kemarin malam. Ichigo…menciumku. Seharusnya, aku tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Kenapa..kenapa tidak terlintas di kepalaku untuk mendorong tubuhnya ke belakang atau menginjak kakiknya lagi, atau mungkin menamparnya—seandainya aku bisa melakukan hal itu. Tatapan teduhnya, mata hazel-orange nya yang menenangkan malam kemarin membuatku tidak bisa memproses otakku, bahkan bernapas sekalipun rasanya sulit sekali. Kenapa matanya bisa seindah itu, ya atau mungkin matanya memang indah—tidak bisa kusangkal begitu saja. Tidak bisa kusalahkan Ichigo atas apa yang terjadi kemarin, itu semua adalah salahku. Batas yang kubuat selalu bisa dilanggarnya berulang kali, dilewatinya tanpa merasa adanya beban. Itu karena aku yang melonggarkan diri, membuang batas yang sudah kubuat dengan tekad yang sekeras baja—awalnya. Tapi, satu pertanyaan yang selalu mengusikku selama ini, kenapa dia bisa tertarik padaku?

Kenapa dia bisa tertarik dengan diriku yang kikuk ini, bodoh, tidak manis, pendek, tidak menarik, bahkan bentuk badanku yang seperti anak sekolah dasar—tidak berkembang. Apakah aku ini pantas untukmu, kepala orange? Kupikir tidak…sangat tidak pantas. Ichigo yang hanya dengan berdiri saja sudah menarik perhatian para gadis, seperti seorang idola papan atas—sungguh berbeda dengan diriku yang kecil ini. Kenapa kau tidak bisa lepas dariku, Ichigo? Walaupun aku selalu memanggilmu bodoh, memarahimu, menginjak kakimu… Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuatmu menjauh dariku?

Seharusnya…seharusnya aku tidak menerima tawaran baiknya mengantarku pulang, mengajakku pergi—yang dia sebut sebagai 'kencan'—menemaniku berbincang sepanjang sore di café, menciumku di beranda café… Ini semua karena kebodohanku! Sikapku yang tidak tegas bisa membuatnya terpuruk, memilih pilihan yang salah. Kau tidak bisa memilikiku, Kurosaki Ichigo. Ini semua demi kebaikan dirimu, bukan untuk diriku semata…

"Kuchiki-san!" tangan seseorang menahan tubuhku untuk berhenti. Mataku terfokus pada apa yang ada didepanku, pintu counter yang belum terbuka. "Kau mau menabrakkan dirimu begitu saja?"

Aku mendongak dan mendapati Coyote-san menatapku bingung."Coyote-san…"

"Kau sakit?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya di dahiku.

"Ti..tidak..aku tidak apa-apa. Maaf merepotkanmu, Coyote-san,"kataku canggung sambil berusaha menurunkan tangannya dari wajahku.

Coyote-san mendesah sesaat dan kemudian mulai kembali rileks. Tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambutku. "Kalau kau kurang sehat, sebaiknya kau mengajukan cuti pada Retsu-san."

"Co..Coyote-san," tegurku, berusaha mengatur kembali rambutku yang mulai menghalangi pandanganku. "Sungguh, aku tidak apa-apa. Sekarang kita bisa berganti shift." Walaupun aku enggan untuk bekerja dan mendapati Ichigo duduk kembali di depanku seperti biasa. Entah apa yang harus kukatakan padanya. Yang bisa kuharapkan hanyalah ketidakhadirannya untuk tidak kembali mengusik hatiku. Mungkin, aku harus mengambil langkah mundur,begitu pula dirinya. Semuanya kembali ke awal, mungkin itu lebih baik…

"Kalau kau butuh apa-apa, aku ada di ruang istirahat," kata Coyote-san yang membuatku teralih padanya lagi. "Hari ini aku bekerja sampai sore, itu permintaan Retsu-san."

"Be…begitu ya…" kataku lemas sambil membuka pintu counter dan melirik kertas pesanan pada meja counter. "Mohon bantuannya, Coyote-san."

Coyote-san hanya tersenyum sekilas dan kembali berjalan menuju ruang istirahat. Partner untuk hari ini, mungkin tidak buruk juga. Seandainya Ichigo datang berkunjung, Coyote-san bisa menjadi pengalih perhatian untukku. Tunggu…jangan berharap Ichigo akan datang, Kuchiki Rukia…

Segera kuambil gelas dan mengisinya dengan es batu—seperti biasa di pertengahan musim panas. Kumasukkan bubuk cocoa dan mencampurnya bersama dengan susu putih sambil mengocoknya hingga menyatu. Rasanya ada yang kurang selama aku bekerja hari ini. Entahlah, tanganku terasa kaku sekaligus lemas. Bahkan, mengocok ramuanku saja rasanya seperti mengangkat beban berat 10 kilogram. Mungkin, sebaiknya aku mengambil cuti saja?

"Rukia."

Deg! Suara itu mulai menggema di telingaku. Apa dia ada di belakangku sekarang? Duduk di tempat yang sama seperti biasanya?

"Rukia?" tegurnya lagi, membuat napasku tercekat. Dengan enggan aku berbalik, meninggalkan minumanku yang setengah jadi. Kudapati sosok Ichigo yang menatapku , memang itulah yang seharusnya terpasang di wajahnya—kekecewaan. Aku membuatnya kecewa, bukanlah kemauan dan tujuanku. Ini salahku, kesalahan yang kubuat karena sikapku yang lemah ini. Seharusnya dia tidak perlu menunjukkan ekspresi itu padaku, seperti meminta belas kasihan. Rasanya…hatiku seperti tertusuk pedang tajam…terhujam…

"I..chigo.." balasku serak. Aku mulai menunduk, menghindari pandangannya yang seperti mengintrograsi itu. Sekaligus, aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya.

"Kau…sakit?" tanyanya ragu. Matanya mencari-cari kesalahan yang ada dalam diriku. Kenapa kau masih bisa mengkhawatirkanku, Ichigo? Setelah apa yang kulakukan padamu.

Aku hanya bisa menggeleng, tidak bisa maju maupun mundur. Kutautkan jari-jariku bersamaan, saling meremas hingga memperlihatkan buku-buku jari yang menonjol. Kupejamkan mataku, menahannya agar tidak terus tertahan pada hazel-orange yang menghipnotisku dan bisa merubah pendirianku—terikat padanya. Kugigit bibir dalamku, memaksa mulutku mengunci diam. Jangan meminta maaf padanya, Rukia…Jangan biarkan dirimu kembali padanya, pada Kurosaki Ichigo…

"Rukia.."

Kutundukkan wajahku dan berbalik, berusaha untuk kembali dalam pekerjaanku. Itulah tujuanku datang kemari.

"Rukia…jangan sakiti dirimu lagi."

Tanganku tiba-tiba terasa kaku—tidak bisa bergerak. Mataku menatap gelas yang terasa tidak fokus. Yang bisa kulihat, kudengar, kurasakan sekarang hanyalah diri Ichigo. Kenapa?

"Ruki—"

"Ichigo!" teriakan itu mengagetkanku, membuat sekujur tubuhku merinding. "Wah, tidak kusangka bisa bertemu denganmu disini!"

"Ri..Riruka?" kata Ichigo terdengar bingung bercampur kaget.

Riruka? Kenapa…

Segera kubalikkan tubuhku dan mendapati dua orang gadis yang sedang berdiri di samping Ichigo. Gadis berambut panjang dan berwarna pink-maroon menyala, menggaet tangan Ichigo sambil menatapnya mesra. Dan di sebelahnya, gadis berambut ungu gelap tergerai hingga ke bahu, menatap si gadis berambut pink dengan wajah cemburu dan kesal. Riruka dan Senna… Riruka Dokugamine… Kenapa masalah terus menerus menghantamku?

"Eh? Kau—" ucap Riruka dengan nada tingginya, seperti biasa. Aku menatapnya ragu, sekaligus takut. Menatap masa lalu yang ingin sekali kututup rapat-rapat. Tapi, masa lalu itu menatapku balik dengan seringaian liciknya. "Kuchiki Rukia…"

Ichigo menatap Riruka bingung dan rasa ingin tahunya tidak bisa menghentikan sikap diamnya. "Kau kenal Rukia?"

Riruka menatap balik Ichigo, kali ini terlihat rasa bersemangat di matanya—membuat seluruh tulangku terasa linu. "Aku? Tentu saja! Kita saling mengenal baik, bukan begitu Rukia-chan?"

Aku terpaku, mendengar debaran jantungku yang kian berdetak cepat—bertalu-talu dalam dadaku. Tanganku terkepal erat di samping tubuhku, menekan kuku-kukuku ke telapak tanganku. Rasanya, napasku tercekat hebat—diambang penderitaan yang kembali muncul ke permukaan. Kenapa Riruka bisa ada disini? Bagaimana kalau Ichigo tahu—

"Eh? Kuchiki-chan, kenapa kau terdiam? Kau tidak kangen dengan kami?" tanya Senna, yang ikut menyeringai lebar.

Aku hanya bisa terdiam, berusaha meredam kembali emosiku. Sekarang aku sedang bekerja, tidak seharusnya aku melanggar etiketku sebagai pegawai.

"Kau bekerja disini? Tunggu…kenapa kau tidak menawari kami? Kami kan pelangganmu," lanjut Senna dengan nada merajuk.

Kubulatkan tekadku untuk membalas perkataan mereka. Aku tidak bisa menyerah sekarang, "Ah..itu—"

"Ichigo! Kau kenal dengan Rukia—chan?" tanya Riruka yang memotong kalimatku. Dia semakin memeluk lengan Ichigo lekat, membuatku ingin melemparkan sebongkah es batu ke kepala pink nya…

"Hah? Ah..iya..dia temanku," jawab Ichigo terlihat bingung. Jawabannya membuat hatiku kembali terasa ngilu. Kenapa? Kenapa aku merasa tersiksa seperti ini? Bukankah itu jawaban yang kuinginkan untuk keluar dari mulutnya? Teman.

"Teman? Heh…." Riruka menatapku tajam, membuatku bergidik di tempat. "Seharusnya kau tidak berteman dengannya."

Tidak..tunggu! Jangan..jangan membahas masalah itu sekarang, Riruka! "Riruka—"

"Kau tahu, Rukia bukanlah perempuan baik-baik? Muka polosnya itu benar-benar menipu," jelas Riruka, memulai aksinya. "Dia merebut pacar orang, Ichigo."

Jangan sekarang! "Riruka!"

"Dan parahnya lagi, laki-laki itu adalah pacarku," jelasnya menghiraukanku. Matanya menatap rendah diriku yang mulai bergetar karena amarah. "Dia merebut pacarku dan hampir membunuhnya! Dasar rendah—"

"Hentikan!" teriakku kesal, berusaha menutup telingaku. Café terasa hening, seperti dunia yang terasingkan. Napasku terasa memburu, memaksa keluar dan masuk melalui tenggorokanku. Kueratkan genggamanku, berusaha menahan tangisku keluar. Kuberanikan diri untuk menatap balik Riruka, masa lalu yang seharusnya kulawan sekarang. Tapi, yang kudapatkan adalah tatapan Ichigo yang menatapku kaget, ketidakpercayaan, kekecewaan… Aku membuatnya tersakiti, benar kan? Ini semua salahku.

Kulangkahkan kakiku cepat-cepat menuju pintu karyawan, menahan tangisku untuk keluar. Kudorong pintu karyawan, meninggalkan orang-orang yang memanggil namaku, seperti mencemooh. Kutarik napas kuat-kuat sambil bersender pada pintu karyawan yang kukunci dari dalam. Kudapati Coyote-san yang sedang berbaring di sofa, melihatku kaget.

"Kuchiki?" tanya Coyote-san sambil bangkit dari tidurnya.

"Co..Coyote-san..tolong..gantikan aku.." kataku terbata-bata, terengah-engah karena napasku yang memburu—panik. "Maaf…"

Segera kulangkahkan kakiku lagi—memaksanya lari menuju pintu keluar. Kurasakan sengatnya mentari yang masih terasa di sore ini, menghujaniku seperti ribuan jarum. Yang harus kulakukan sekarang adalah lari..lari…kemanapun…dimanapun Ichigo tidak terlihat…

(..)

(..)

(..)

Tidak bisa lagi kutahan tetesan air yang jatuh dari mataku, mengalir turun melalu pipiku. Isakan keras yang terdengar seperti suara robekan kertas yang memekikkan telinga—ya…tangisanku sendiri. Rasanya benar-benar sakit, seperti sesuatu menarikku kembali ke dalam luka yang bernanah. Sakit, terintimidasi. Sakit, melihat kekecewaan yang menelanku hidup-hidup. Kenapa Riruka muncul? Kenapa dia muncul di depan Ichigo? Kenapa dia bisa mengenal Ichigo? Kenapa dia menguak kisah masa laluku di depan Ichigo? Apakah…ini takdir? Kupeluk kedua lututku, membenamkan wajahku ke dalam kegelapan—berharap kegelapan menelanku sampai habis hingga ke tulang.

Kusenderkan bahuku pada pohon sakuraku, merasakan kulit lapuknya yang menekan bahuku keras. Daun-daun hijau kering yang berjatuhan di depanku seperti kisah rusakku yang berjatuhan, menghunjam diriku yang kecil ini. "Pohon sakura…aku tidak bisa bangkit lagi ya?" gumamku mengeluarkan suara serakku, masih terisak.

"Apa yang harus kulakukan? I..Ichigo membenciku…dia melihat semuanya…mengetahui semuanya…" Kubenamkan lagi kepalaku semakin dalam. Kukuku tertancap keras pada lututku, berharap memberikan rasa sakit yang sepadan dengan rasa kecewa Ichigo—seandainya bisa.

"Rukia!"

Langsung aku terbangun dari dudukku, begitu mendengar suara itu mendekat. Tidak mungkin bukan? Tidak mungkin dia mengejarku.

"Rukia!" teriaknya lagi, kali ini sosoknya terlihat dari semak-semak, berlari ke arahku dengan napasnya yang terputus-putus. "Rukia!"

Segera kulangkahkan kakiku yang terasa lemas, segera berlari menghindarinya. Kutembus semak-semak yang mengarah ke dalam hutan bukit yang belum pernah kujelajahi ini. Lebih baik aku tersesat di dalamnya, daripada menghadapi Ichigo yang sekarang mulai meneriakkan namaku dalam kesedihannya.

"Rukia! Tunggu!"

Kulangkahkan kakiku melewati batang pohon yang menghalangi jalanku, menapaki tanah yang berkerikil tidaklah mudah. Kudengar langkahnya mulai mendekat, mengikuti langkah brutalku. Kudorong batang pohon di sekitarku, berharap memajukan tubuhku lebih jauh darinya—sejauh mungkin. Tiba-tiba kakiku menghantam sesuatu yang membuatku terjatuh ke depan, membentur tanah. Aku berusaha untuk berdiri lagi, mulai berlari lagi, tapi kakiku tidak bisa kugerakkan—rasa sakit menyengat mulai terasa.

"Rukia!" Ichigo terlihat panik, berjongkok di sampingku sambil mengulurkan tangannya. "Kau tidak apa—"

"Jangan sentuh aku!" teriakku mengancamnya, masih dengan muka tertunduk ke bawah. "Tinggalkan aku sendiri!"

"Rukia—"

"Biarkan aku sendiri!"

"Diam Rukia!" teriakknya, membuatku tersentak kaget. Sekujur tubuhku mulai bergetar, kelelahan sekaligus mendengar suaranya yang berubah tajam. Tiba-tiba tangannya terulur, mengangkat tubuhku dari tanah—cekatan namun kasar. Aku mengernyit sakit, begitu kakiku digerakkan secara paksa. Ichigo menghiraukan hal itu, melingkarkan tangannya pada bahuku dan lututku—menggendongku. Aku tertunduk dalam diam, enggan menatap matanya yang mungkin berubah tajam. Jantungku berdetak kian cepat, akibat pelarianku sepanjang sore ini sekaligus rasa frustasi yang kurasakan. Ichigo menggendongku dalam diam, di bawah daun-daun pepohonan yang rimbun—menciptakan bercak mentari sore pada kulitku. Angin dingin mulai berhembus, menandakan musim panas yang mulai menghilang—tergantikan. Rasanya benar-benar dingin, menusuk tulang dan sulitnya untuk bernapas.

Ichigo berhenti melangkah begitu mencapai pohon sakuraku, berjongkok dan menaruhku di bawah pohon dalam diam. Tangannya perlahan turun ke arah kakiku, menyentuh pergelangan kaki yang membuatku mengernyit menahan sakit. Tiba-tiba tangannya menekan lukaku hingga membuatku berteriak keras.
"Ichigo!"

"Kenapa kau lari?!" tanyanya marah sekaligus kecewa. Sekarang dia menatapku dengan mata nanar. Alisnya bertaut begitu tajam, memperlihatkan rasa marah bercampur rasa kecewanya secara jelas. "Kalau kau tidak lari, kau tidak mungkin terluka seperti ini!"

Aku hanya bisa terdiam. Lagi-lagi…airmataku mengalir keluar. Isakan tidak bisa lagi kutahan, rasa kecewa dan putus asa kembali lagi kurasakan—begitu pekat. Kedua tangan Ichigo terulur ke arah pipiku, membelainya lembut sekaligus menyapu air mataku. Dia menarikku lembut ke dalam pelukannya, membuat tangisku kian pecah—tak tertahankan.

"Maaf…" ucapnya lembut pada telingaku. "Maaf Rukia..maaf…"

Kucengkram bajunya kuat-kuat, berusaha menahan isakanku kian menjadi. "Ke..kenapa kau..meminta..maaf?" Kurengut bahu lebarnya, mencengkramkan kukuku disana. "Ini…salahku…"

"Kenapa kau berpikir ini salahmu? Kau tidak melakukan apa-apa!"

"Kau tidak dengar…apa yang dikatakan Riruka?!" Kudorong tubuhnya menjauh, menatapnya marah. "Seandainya…seandainya aku tidak membiarkanmu mendekat…kau tidak perlu mengalami hal ini, Ichigo! Kau tidak perlu…kecewa…marah…ataupun kesal..karena diriku. Yang bisa kulakukan hanyalah menyakitimu!"

"Sudah kukatakan, kenapa kau berpikir ini salahmu?!" balasnya, mempertajam suaranya. Kedua tangannya mencengkram erat bahuku, hampir mengguncangnya. "Kenapa kau terus menyalahkan dirimu, menyakiti dirimu? Akulah yang memilih untuk mendekatimu, berteman denganmu, Kuchiki Rukia."

Aku terdiam, kembali tertunduk lemas. Kata-katanya seakan mendengung di telingaku—bergema.

"Asal kau tahu, Rukia," tangannya mengelus pipiku lembut, meraih daguku dan memaksaku lembut untuk menatapnya. "Aku tidak akan menyerah padamu, sampai kau menyerah padaku! Dan yang kulihat sekarang, kau sama sekali belum menyerah padaku."

Kata-katanya kembali menghunjam jantungku, memaksanya kembali untuk tetap hidup. Kenapa laki-laki di depanku ini bisa membaca semua yang ada di dalam otakku, bahkan hatiku—yang selama ini kusangkal mentah-mentah? Dia…membuka perasaanku secara perlahan, kembali hidup. Jadi inikah yang rasanya menyukai seseorang, hingga membuatmu tidak berkutik saat melihat ke dalam matanya? Membuatmu seakan tenggelam ke dalam pelukan hangatnya, berharap untuk terus bergantung disana? Kehangatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya…

"Ichigo…kenapa?" suara serakku membuatnya fokus melihat mataku yang berkabut karena airmataku. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kenapa kau tidak mau melepaskanku begitu saja, setelah apa yang dikatakan Riruka—"

"Aku tidak percaya apa yang dikatakannya tadi," potong Ichigo, terdengar ngotot. "Aku hanya percaya apa yang kaukatakan saja, Rukia. Maksudku…kau tidak perlu mengatakannya kalau kau tidak mau, aku tidak memaksa. Tapi, aku bisa menunggu, sampai kau yang menjelasakannya sendiri padaku."

"Ichigo—"

"Kau bisa mengandalkanku, Rukia…kapanpun. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya?" ucapnya seperti berbisik.

Ichigo terlalu baik, tidak seperti gosip yang beredar di sekitarnya. Dia adalah orang baik, tidak seperti apa yang Yumichika katakan. Apapun tentang dirinya, membuatku hanya ingin mempercayai apa yang dilihat oleh mataku saja. Ya..itu adalah matanya, yang sekarang menatapku hangat. Apa yang Ichigo berikan padaku, harus kukembalikan dengan sepadan, dengan perasaan yang telah dia berikan.

"Yang kuharapkan darimu hanyalah kepercayaan, Rukia. Seperti kepercayaan yang kuberikan padamu," ucapnya lagi seraya menghapus sisa-sisa air mata yang hampir mengering di wajahku. Aku hanya bisa mengangguk, menangkup kedua tangannya yang hangat—berharap kehangatannya tidak cepat menghilang ketika matahari terbenam.

"Terima kasih..Ichigo..atas kepercayaan yang kau berikan padaku," ucapku serak dan memperlihatkan senyum lepasku pada Ichigo, hanya pada Ichigo. "Walaupun…aku tidak bisa memberikan apapun padamu sekarang. Membalas semua kebaikan yang kauberikan padaku."

Ichigo memajukan tubuhnya dan perlahan wajahnya mendekat ke arah wajahku. Bibirnya mengecup keningku lembut, memberikan perasaan nyaman padaku—terlindungi. "Tidak apa, aku akan menunggunya sampai kau siap," bisiknya. Kupejamkan mataku, merasakan kehangatan mentari sore, juga kehangatan yang Ichigo berikan padaku, menyerap itu semua seperti halnya bernapas. Tangannya beralih untuk menggapaiku lebih, memelukku lembut. Kubenamkan wajahku pada bahunya, seraya dia mengangkat tubuhku dalam pelukannya.

"I..Ichigo!" protesku panik dalam gendongannya. Ichigo tersenyum jahil padaku, melihat ekspresiku yang panik dengan sikap tidak terduganya ini. "Tu..turunkan aku!"

"Kakimu terkilir, kan? Kau tidak bisa berjalan," katanya lembut sambil melangkah keluar, menuju jalan sempit ke arah tangga bukit.

"Tapi..jangan seperti ini!" protesku lagi, berusaha meronta tapi tidak berpengaruh pada tubuh kekarnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku, membuatku semakin panik.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya sambil mengalihkan wajahnya ke arahku, memperdekat jarak di antara kami. "Rukia?"

"Terlalu dekat, tawake!" teriakku dan mengalihkan wajahnya dengan sebelah tanganku. "Ge..gendong aku di punggungmu!"

(..)

"Ichigo? Kita mau..kemana?" tanyaku canggung sambil mengeratkan tanganku pada lehernya. Dia tidak mengambil jalan menuju rumahku yang hanya beberapa blok dari sini, tapi malah memutar jauh menuju arah keluar komplek perumahan Seireitei.

"Rumahku. Ayahku seorang dokter, dia bisa segera memeriksa dan mengobati kakimu," jelasnya santai yang malah membuatku semakin panik.

"Ru..rumahmu?! Ti…tidak perlu! Itu terlalu jauh, kita ke rumahku saja!" kataku buru-buru, sebelum kami sampai ke jalan raya yang dipenuhi orang berlalu-lalang.

"Tapi kakimu perlu diperiksa, Rukia. Bagaimana kalau lukanya parah?" katanya terdengar ngotot, tidak memperlambat langkahnya.

"Nee-san bisa mengobati lukaku, Ichigo. Sekarang, berbalik!"

"Tidak."

"Berbalik!" kataku tidak kalah ngotot.

"Tidak!"

"Berbalik, Ichigo!"

"Sekali tidak tetap tidak, Rukia!" Ichigo malah mempercepat langkahnya, semakin membuatku panik. Secara paksa kueratkan pelukanku di lehernya, membuatnya sedikit tercekik. "Ru..Rukia! Kau mau…membunuhku?!"

"Berbalik sekarang, tawake!" teriakku tidak memperlonggar pelukanku sebelum dia berhenti melangkah. Akhirnya Ichigo mengalah, langkahnya terhenti seraya mengambil napas yang sudah terengah-engah sekarang.

"Baiklah…kita ke rumahmu," katanya pasrah sambil berbalik menatapku. Aku tersenyum lebar, ternyata tidak begitu sulit mengalahkan Kurosaki Ichigo. "Kenapa kau berubah cepat sekali, sih?" Ichigo mulai berbalik arah, mengganti jalur yang sudah di ralatnya.

"Hah?"

"Beberapa puluh menit yang lalu kau menangis, lalu tersenyum, dan sekarang…tersenyum mengerikan seperti itu. Kau membuatku merinding, tahu?"

Dengan kesal kukepalkan tanganku dan memukul kepala orange bodohnya itu. "Apa katamu?"

"Aw! Rukia! Hentikan!"

"Kau benar-benar menyebalkan, Kurosaki Ichigo!"

"Kalau kau tidak berhenti, akan kucium lagi—"

Tiba-tiba memori itu kembali muncul dalam benakku. Malam festival. Kembang api warna-warni. Ichigo dalam keremangan cahaya bulan. Matanya yang indah, membuatku sulit bernapas. Tangan besarnya menangkup wajahku lembut. Bibirnya di bibirku… Lagi-lagi wajahku terasa panas, memerah. Dengan enggan aku berhenti memukuli kepala orangenya, kembali memeluk lehernya dan membenamkan wajahku di belakang punggungnya.

Ichigo tertawa geli menanggapi sikapku, membuatku mengerutkan alisku kesal. Kuperhatikan langkahnya dalam diam, tidak gentar maupun tidak ragu. Cahaya lampu jalan mulai menyala, menggantikan mentari yang hampir sepenuhnya terbenam, menyisakan warna ungu bercampur orange di ujung cakrawala. Perasaan gundah dan sakitku mulai tersembuhkan, dengan adanya Ichigo di sampingku. Rasanya bergantung pada seseorang tidak buruk juga, membalas kepercayaan dengan kepercayaan. Walaupun terdengar mudah, nyatanya cukup sulit untuk mengerti arti sebenarnya dari kata itu dan mewujudkannya begitu saja. Semuanya butuh waktu— waktu untuk memproses. Dan Ichigo memberikan waktu itu untukku, menunggu. Yang bisa kulakukan adalah untuk tidak mengecewakannya, membuatnya kembali memperlihatkan wajah kecewanya, kesedihannya. Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, menyakitinya, menyakiti diriku. "Kenapa kau terus menyalahkan dirimu, menyakiti dirimu?"

"Hei, Rukia," tegur Ichigo, membuatku kembali fokus kepadanya.

"Hmm?" gumamku, masih menyenderkan kepalaku pada punggung lebarnya. Rambut orangenya menusuk-nusuk wajahku lembut.

"Janganlah berubah, apapun yang terjadi. Tetaplah seperti dirimu sekarang, diri Kuchiki Rukia yang kukenal," ucapnya, mempererat gendongannya. Aku tersenyum lembut, yang tidak bisa dilihatnya sekarang. Tunggulah, Ichigo…tunggu aku bisa memantapkan diriku dan membalas semua yang telah yang kauberikan padaku…

"Ah, tentu," jawabku singkat, mempererat pelukanku. Kami kembali berjalan dalam kesunyian yang menenangkan, serasa dunia ini memberikan seluruh keindahannya di sekitar kami—melingkupi.

(..)

"Aw!" keluhku lagi, ketika tangan Ichigo menyentuh kakiku yang membengkak parah. "Pelan-pelan!"

"Sudah kubilang kan untuk pergi ke rumahku? Lihat, kakimu parah seperti ini," gerutu Ichigo sambil mengompres kakiku dengan handuk yang berisi es batu.

"Kenapa kau bisa terluka seperti ini, Rukia?" tanya nee-san terlihat khawatir, tidak melepas tatapannya pada kaki bengkakku.

"Itu…aku..jatuh dari tangga..di café," jelasku ragu-ragu sambil melirik Ichigo, berusaha membuatnya bekerja sama denganku. Aku tidak mau merepotkan nee-san lebih dari ini.

"Jatuh dari tangga? Bagaimana bisa?" sekarang nee-san melirik Ichigo, meminta penjelasan. Dan benar saja, Ichigo terlihat kebingungan sambil menatapku diam.

"Ah, karena kecerobohannya sendiri, dia menginjak air yang ditumpahkannya secara tidak sengaja ke lantai kayu. Untung saja jaraknya tidak jauh dari lantai satu, jadi kakinya hanya bengkak parah seperti ini," jelasnya asal. Kupelototi Ichigo yang tersenyum lebar, merasa bangga akan penjelasan konyolnya yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Hanya bengkak katanya? Bengkak yang bisa membuatku tidak bisa berjalan sepanjang hari, bahkan di musim liburan ini!

"Ah…begitu.." Nee-san terlihat sedikit sulit untuk memproses apa yang sudah dijelaskan oleh Ichigo. Matanya menatapku bingung, memperhatikan sesuatu yang tidak kumengerti. Keringat dingin mulai terasa di tengukku, berharap nee-san tidak menanyakan hal yang aneh-aneh. "Jadi, kau langsung kemari dari cafe tanpa melepas celemek kerjamu? Kenapa kau tidak segera menuju..ke rumah sakit misalnya, lalu menghubungiku atau Byakuya? Lalu…kenapa matamu bengkak, Rukia? Kau menangis?" tanya nee-san bertubi-tubi yang langsung membuatku merinding seketika.

"Kau menangis?" celetuk suara yang terdengar familiar, memasuki ruangan. Bulu kudukku bergidik ngeri, melihat nii-sama melihatku tajam, beralih ke kakiku yang bengkak, beralih ke Ichigo yang terlihat bingung untuk memahami situasi yang sedang terjadi, beralih lagi ke mataku. Nii-sama…terlihat…kesal?

"Nii…nii-sama," ucapku terbata-bata, takut untuk membalas pertanyaannya.

"Ah, Byakuya, okaeri. Aku tidak mendengarmu masuk," kata nee-san santai, tersenyum lebar ke arah nii-sama datang.

"Kuchiki-san, konbanwa," sapa Ichigo yang langsung dibalas tatapan tajam dan mengintimidasi nii-sama.

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi disini dari awal, Rukia?" tanya nii-sama yang mulai terlihat kesal, karena tidak bisa mengerti apa yang dilihatnya sekarang. Ditambah lagi keberadaan Ichigo, yang masih mengompres kakiku dengan tenangnya. Kutelan ludahku dan menarik napas dalam-dalam, berharap suaraku tidak bergetar saat menjelaskan kembali situasi kikuk yang sedang berlangsung…

*(((to be continued…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note :

Ok, sampe disini aja ya..hihihiihi. Penjelasan Rukia pada nii-samanya tidak bisa aku jelaskan secara detail, karena nanti bisa kepanjangan chapternya. Dan tidak bisa dijelaskan di chapter berikutnya, karena sudah berganti season ke musim gugur ^^; gomen ne…jadi, bayangkanlah sendiri ya..hohoho

Masih ingat dengan kata-kata ramalan Coyote Starrk sebelumnya pada Rukia? Nah, itu terbukti di chapter ini sama sebelumnya, sikap Ichi yang berubah serius dan lebih agresif. Aku lupa nulis note di chapter sebelumnya…hihihiih

Hanya mau menjelaskan, bahwa di chapter ini Ichigo belum menyatakan perasaan sukanya pada Rukia (nembak ya istilahnya). Karena, kondisi Rukia yang masih terguncang gara-gara Riruka, jadi Ichigo memberi waktu buat Rukia untuk tenang dan memikirkan perasaannya sendiri (gomen bagi yang udah berharap…^^;). Jadi bisa dibilang hubungan mereka tuh udah deket banget, tapi belum bisa disebut pacaran (hubungan tanpa status ya?). Agak ribet ya, apa mungkin aku buat chapter tambahan untuk menjelaskan perasaan Ichigo ke Rukia (spesial POV Ichigo gitu..)? Readers sekalian bisa beri jawabannya di review atau PM langsung ya..hihihi..ditunggu~ Kalau sudah jelas dan tidak perlu, akan author lanjutkan langsung ke season berikutnya XD

Riruka dan Senna muncul disini, tokoh antagonis yang mulai menimbulkan konflik ke depannya…fufufu.. Gomen bagi yang menyukai kedua chara ini, yang aku buat jadi antagonis (walaupun ga sepenuhnya mereka benar-benar jahat ^^;). Sebenarnya, aku suka sama chara Riruka di cerita Bleach aslinya, yang udah bikin aku nyengir pas dia ngeliat Ichigo pertama kalinya (langsung kepincet XD). Kalau Senna, aku ga terlalu suka sama karakternya (mana Ichigo ngikutin dia terus lagi -_-), tapi sayang nasibnya berakhir tragis di Movienya…

Oc, segitu aja mungkin, bingung mau ngetik apa lagi..hihihihi..^^ Kalau ada pertanyaan, review or PM ya!

Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^