Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Miryo feat Sunny (SNSD)-I love You I Love You, Gummy-As a Man, Boa-Only One, JYJ- In Heaven, Ed Sheeran- Cold Coffee, Lego House, Rookiez is Punk'd-Song for…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Oc! POV Ichigo's here! Makasih buat saran-sarannya ya minna-san! Aku nemu lagu yang menurutku cocok banget buat penggambaran karakter Ichigo di ficku, lagunya Ed Sheeran yang judulnya Cold Coffee. Readers bisa download kalau mau tahu lebih jelas, atau cari saja lyric nya di Google…hihihihi
Sebelumnya, mohon maaf buat Chappy-san! Aku benar-benar lupa buat membalas reviewmu! T_T gomen ne..tapi ini sudah lanjut kok, fic nya…Aku usahain cepet update~ hihihihi.. Dan terima kasih buat Sakura-Yuki15 yang sudah beberapa kali mengkritik kesalahan yang aku buat tanpa sengaja! Hontou ni arigatou ^^ Aku terima kritikan readers sekalian dengan senang hati kok, kalau kalian menemukan kesalahan di fic ini..
Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^
Happy reading all~ Enjoy the story…
Chapter 9 : Summer Scene Special
~The Happiness and Misery…~
"Tunggu, Rukia! Kau mau kemana?" tanyaku buru-buru, melihat sosoknya yang sudah melangkah jauh menuju tangga di belakang café.
"Melihat kembang api," balasnya kesal, tedengar ketus. Sungguh, sikap cuek sekaligus menyebalkannya itu sama sekali tidak mengusik diriku. Bahkan, langkahnya yang mengetuk-ketuk keras anak-anak tangga pun berhasil membuatku tersenyum geli. Sifatnya yang seperti itu, yang apa adanya dan tidak memandang orang dengan sebelah mata—membuatku tertarik dan terasa tidak bisa lepas untuk menatapnya. Kuchiki Rukia, gadis kikuk yang aneh dan tidak biasa, tidak berusaha menarik perhatianku seperti gadis-gadis pada umumnya—yang kadang sungguh membuatku jengkel dan jengah dengan tingkah berlebihan yang mereka berikan. Kuchiki Rukia…yang begitu kulafalkan namanya di mulutku, terasa seperti sebuah mantra yang bisa melepaskan beban berat di pundakku dengan ajaib. Membuat sudut-sudut mulutku seperti tertarik dan membentuk sebuah senyuman lepas. Memacu jantungku untuk terus berdetak lebih cepat, yang rasanya tidak seletih sehabis berlari di trek latihan di siang hari. Membuat kedua tanganku ingin menggapai pipi mulusnya, menengadahkan wajahnya untuk menatapku sepanjang hari. Hanya dengan melihat mata besarnya—mata violet senja hari yang bisa membuat jantung berhenti mendadak—tidak pernah membuatku bosan dan rela untuk menuruti segala permintaannya sekalipun. Kuchiki Rukia…kau benar-benar telah menusukku telak di jantung, kau tahu?
Kami tiba di sebuah ruangan gelap, di lantai dua café yang sudah bisa dibilang tutup ini. Rukia melangkahkan kakinya tanpa ragu, menembus kegelapan di depannya dan membuka pintu beranda dengan kedua tangan mungilnya. Dia berhenti disana, bersender di beranda sambil melihat langit—menunggu sesuatu yang berwarna-warni muncul dan mengejutkannya tiba-tiba. Sebegitu tertariknyakah dia dengan kembang api? Lalu, kenapa dia menolak untuk pergi ke festival bersama dengan yang lainnya? Apakah hanya untuk…menghindariku?
Kulangkahkan kakiku perlahan, berdiri di sampingnya dalam diam. Aku tidak bermaksud untuk mengusik perasaanya sekarang, yang bisa kapanpun dikeluarkannya dalam bentuk beragam, seperti…menginjak kakiku misalnya. Kuperhatikan wajah mungil bulatnya yang tertutup oleh sebagian besar rambutnya dari arah yang kulihat. Dia sama sekali tidak terusik dengan keberadaanku, jadi aku mulai bertanya pun tidak ada salahnya, bukan?
"Rukia…kau marah?" tanyaku hati-hati, berusaha membuatnya tetap terlihat tenang.
"Tidak," jawabnya singkat dan sama sekali tidak menoleh ke arahku—benar-benar gadis keras kepala.
"Kau marah," kataku, lebih seperti memastikan keadaan yang ada. Memang dia marah, bukan? Aku lebih menghargai perasaan tulusnya, seperti memarahiku saat dia memang sedang marah atau kesal. Bukan seperti ini, hanya terdiam dan termangu menatap langit gelap. Seakan-akan keberadaanku sama sekali tidak berarti untuknya, membuat dadaku seperti teriris pisau tajam.
"Tidak," balasnya lagi terdengar ketus—tidak menghiraukanku yang mulai sedikit menekannya.
Apa boleh buat…apapun akan kulakukan untuk membuat kedua mata bulat itu melirikku, walaupun hanya beberapa detik saja. "Kau menyukaiku?"
"Ti—" Rukia ragu untuk meneruskan kata-katanya, yang membuatku tersenyum lebar melihat tingkahnya. Jadi, dia sama sekali tidak terusik dengan keberadaanku, ya? Jadi, masih ada kesempatan untuk tetap berada di sampingnya, sedikit lebih lama, bukan? Kenapa kau tidak langsung saja mengatakan isi hatimu, Rukia? Tidak membuatku menunggu lama seperti ini, yang hampir membuatku menjadi setengah gila karena penolakan ragu-ragumu itu.
"Aku berusaha menarik perhatianmu, ternyata berhasil ya?"
Tiba-tiba dia memelototiku dan menginjak kakiku sekuat tenaga, membuatku mengernyit sakit. "Aw!Rukia!" kutarik kata-kataku barusan. Mengeluarkan perasaannya dikala sedang marah kepadaku, sepertinya bukanlah pilihan yang bagus . Kakinya itu bisa membuatku terancam dikeluarkan dari sekolah Athlethic !
"Berisik! Tawake!" katanya memberengut kesal dengan mengembungkan kedua pipinya dan berbalik ke posisi awalnya—bersender di beranda sambil menatap langit. Sikap kesalnya benar-benar lucu, memperlihatkan ekspresi wajah yang polos—tidak dibuat-buat.
"Oi, Rukia," panggilku lagi, berusaha membujuknya untuk kembali menatapku.
"Apa?" balasnya tanpa mau untuk melirikku lagi.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah," desahku menyerah, tapi sama sekali tidak ditanggapinya. Hening. Jadi, kau benar-benar membuatku harus melakukan pemaksaan untuk mengalihkan kedua matamu itu menatapku lagi, Kuchiki Rukia?
"Rukia."
Tidak menjawab, membuat rencanaku untuk terus mendesaknya semakin tersulut.
"Apa boleh aku menciummu?" tanyaku lagi, tidak tahan dengan sikap angkuhnya itu. Dan kembali tidak ada jawaban. Kau benar-benar memancingku ya, mungil?
"Boleh itu aku artikan sebagai 'iya'?" Dan dia sama sekali tidak bergeming, memberengut kesal dengan mengembungkan pipi mulusnya itu. Kau sama sekali tidak memberikan pilihan padaku, Rukia, membuat kedua tanganku gatal untuk menyentuhmu, memelukmu tanpa pernah melepaskannya lagi. Melihat kedua mata indahmu itu, hingga kau merasa bosan untuk menatapku balik—tidak, kuharap kau tidak akan pernah bosan.
Kuulurkan kedua tanganku untuk meraih pipinya, menolehkan wajahnya menghadapku tanpa perlawanan darinya. Mata violetnya terbelalak lebar, terlihat mempesona dan membuat jantungku seakan mati mendadak. Bibirnya yang mungil dan penuh, membuatku ingin mendominasi sepenuhnya—menjadikannya milikku. Ciuman pertamaku dengan seorang perempuan selama hidupku ini, membuat tanganku hampir gemetaran dan jantungku kembali bertalu cepat, meminta perlawanan. Namun, tatapan polos dan jernihnya itu seakan menenangkanku tanpa syarat, membuat semuanya menjadi terbalik. Tubuhku seakan tertarik ke arahnya, seperti magnet yang menuntut untuk menyatu. Tanpa ragu, aku mengecup bibirnya lembut—terdiam disana untuk beberapa detik tanpa bergerak. Yang kurasakan hanyalah nafasnya yang tersentak, berhembus lembut ke wajahku. Bibirnya yang terasa lembut dan pas di bibirku—membuatku ingin melumatnya habis.
Kembang api kembali terlihat di sampingku, warnanya yang menerangi kegelapan malam di beranda sunyi ini. Kutarik wajahku menjauh, sekedar untuk mengambil nafas sesaat dan melihat reaksinya. Wajah mungilnya menegang, terlihat dari matanya yang semakin membesar dan alisnya yang bekerut bingung. Bibirnya terbuka, terlihat seperti akan memprotes, tapi tidak ada kata yang keluar dari sana. Wajahnya diterangi oleh cahaya kembang api yang terus menerus menyala semakin terang, membuat pemandangan di depan kedua mataku ini semakin terlihat…cantik. Apakah Rukia memang secantik yang kulihat sekarang?
Tanpa pikir panjang aku mendekatkan kembali wajahku ke arahnya, ingin merasakan bibir mungil itu menyentuh kembali bibirku—mengisi kekosongan serasa seperti mencekat nafasku. Yang kuinginkan sekarang hanyalah dirinya, jatuh ke dalam pelukanku, tanpa menyangkal perasaan yang kuberikan kepadanya. Begitu bibir kami bertemu kembali—untuk yang kedua kalinya—tiba-tiba tubuhku dipaksa menjauh dari tubuh mungilnya. Kedua tangan Rukia mendorong tubuhku kuat, yang tidak kusangka bisa dilakukan tubuh kecilnya itu. Matanya menatap nanar kepadaku, seperti meminta pertanggung jawaban sekaligus kepedihan. Aku terdiam sesaat, terpaku dengan ekspresi yang diberikannya—begitu mendadak. Ekspresi yang kuharapkan—wajah memerah dan mata yang menatap malu—seakan tidak nyata dan perlahan menghilang dalam benakku. Rukia menatapku bingung dan sedih, dengan nafasnya yang terputus-putus—meminta oksigen lebih.
Tiba-tiba saja dia berlari menjauh, meninggalkanku yang masih terpaku bingung dan..kecewa? Apakah aku sudah melakukan suatu kesalahan kepadanya? Kenapa?
"Rukia!" panggilku, berteriak tanpa pikir panjang dan berusaha melangkahkan kakiku yang terasa berat seperti tertimpa batu besar. "Tunggu…Rukia!"
(..)
(..)
(..)
*(000)*
~The Torment and Satisfaction…~
. "Dia merebut pacarku dan hampir membunuhnya! Dasar rendah—"
"Hentikan!" teriakan Rukia membuatku tersentak kaget, menatapnya bingung sekaligus sedih. Entah apa yang menghantam jantungku hingga terasa sakit berdenyut, begitu melihat kedua mata yang kupuja itu hampir meneteskan air mata. Nanar dan tersakiti. Apa Rukia akan menangis? Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, untuk menghentikan air kesedihan itu menetes keluar—menghancurkan pertahanan yang selalu dia banggakan selama ini? Apa yang dimaksud dengan bualan bodoh Riruka tadi? Dengan begitu mudahnya kah kau menyakiti Rukia yang polos ini?
Aku berniat memprotes Riruka, tapi terhenti begitu melihat tatapan Rukia jatuh ke arahku. Yang kulihat darinya adalah penyesalan, kesedihan, dan keterpurukan. Semua hal itu membuatku ingin menangkap tubuh mungilnya, mendekapnya dalam pelukanku. Mengatakan bahwa, semua ini akan baik-baik saja. Tapi, apakah itu mungkin? Apakah keberadaanku ini bisa menenangkan dirinya sekarang, menjadi obat baginya?
Tiba-tiba dia berlari lagi, berlari menghindariku. Sebenarnya apa yang kausangkal selama ini, Rukia? Kenapa kau selalu lari dariku? "Rukia"
"I..Ichigo?" Riruka menjangkau pergelangan tanganku, menarik tubuhku yang sudah setengah berdiri. "Kau mau kemana?"
"Tentu saja mengejar Rukia, bodoh!" teriakku kesal bukan main, membuat Riruka terperanjat kaget dan melonggarkan pegangannya. Semua gadis sama saja, selalu menyusahkan! Kecuali…gadis mungil yang lari dari jangkauanku sekarang—menghilang dari pengawasanku.
"Rukia!" teriak Rangiku-san, mendahului langkahku dan mencapai pintu di belakang café. "Terkunci!"
"Rukia, buka pintunya!" perintah si mata lentik yang ikut menggedor pintu dengan panik. Tiba-tiba saja pintu terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki barista yang seringkali kulihat membantu Rukia di counter.
"Co..coyote-san! Mana Rukia?" tanya Rangiku-san panik.
"Dia..keluar lewat pintu belakang…ada apa sebenarnya?"
Tanpa perlu bertanya aku berlari ke arah pintu keluar café, meninggalkan kerumunan orang yang mulai meributkan keberadaan Rukia. Kuharap aku masih bisa mencegahnya kabur di mulut gang sebelah café.
"Kurosaki—"teriak seseorang, yang kukenal dari suaranya mungkin si mata lentik. Kuhiraukan panggilannya, terus berlari menghindari orang-orang yang mulai berkerumunan di depan café, segera mencapai pintu keluar.
Cahaya matahari langsung menusuk kulitku tajam, tanpa adanya angin dingin yang lembut bertiup. Kulangkahkan kakiku ke arah mulut gang, tidak mendapatkan satu sosokpun keluar dari sana. Mungkin, Rukia sudah pergi dari tadi—benar-benar cepat untuk ukuran tubuh mungilnya itu. Mataku mencari-cari ke sekitar jalan di depan café, berharap menemukan sosoknya yang masih berlari dari sini. Tapi, tetap saja nihil. Kurogoh hpku dari kantong celana dan langsung menelepon Rukia tanpa pikir panjang. Jantungku semakin berdetak cepat, panik…frustasi… Apa yang disembunyikan Rukia dariku selama ini? Apakah peranku ini penting dalam kehidupannya? Dan..kenapa dia memberikan tatapan itu padaku tadi? Kenapa dia lari begitu saja dariku?
Nada dering yang menganggu telingaku tidak kunjung berubah, hanya memberikan bunyi nyaring yang sama berulang kali. Dia tidak mengangkat panggilanku. Apa mungkin hpnya tertinggal di café? Kenapa nasibku sungguh sial kali ini? Dengan cepat kulangkahkan kakiku, berlari tak tentu arah. Yang penting sekarang adalah bergerak, daripada terdiam tanpa menghasilkan suatu kemajuan sekalipun. Otakku mulai berpikir keras, kemana kiranya Rukia pergi? Rumahnya? Sepertinya tidak mungkin. Sifatnya yang keras dan kadang sok kuat itu bukanlah tipe orang yang akan terus bergantung pada orang-orang di sekelilingnya. Mungkin dia pergi ke tempat yang sepi, menyendiri, dunia yang hanya dimilikinya sendiri… Alice! Pohon sakura itu! Tiba-tiba saja pikiran itu terbersit kuat di dalam benakku. Seluruh perasaanku mengatakan, bahwa dirinya sedang menuju ke sana—ke tempat dimana kami bertemu tanpa sengaja, wonderland nya. Kupercepat langkahku, berlari menuju tempatnya berada…Rukiaku…
(..)
(..)
(..)
"Rukia!" teriakku begitu melihat sosoknya meringkuk di bawah pohon sakura yang tidak lagi berbunga.
Tiba-tiba tubuhnya tersentak kaget, segera berdiri begitu melihatku mendekat. Dia berlari lagi, berlari menghindariku. Kenapa dia begitu keras kepala?
"Rukia!" panggilku lagi, frustasi sekaligus lelah karena langkah cepatku yang mungkin bisa menciptakan rekor baru untukku. Tanpa mempedulikan untuk sekedar bernafas sebentar saja, aku terus berlari cepat, ingin segera menjangkau tubuh mungilnya.
Rukia masuk lebih dalam ke arah semak-semak, menuju hutan di kaki bukit. Segera aku menyusul langkahnya, tanpa berhenti untuk memanggil namanya. Jangan lari, Rukia! Jangan lari dariku!
Dan tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke depan, menghantam tanah. Dengan panik aku berlari ke arahnya yang tersungkur, namun masih bersikeras untuk berdiri lagi. Dasar, gadis bodoh! "Rukia!" Aku segera berjongkok, berniat melihat luka di kakinya yang mungkin saja parah. "Kau tidak apa—"
"Jangan sentuh aku!" teriaknya frustasi, menghindari tatapanku. "Tinggalkan aku sendiri!"
Suaranya yang bergetar, mulai menyulut emosiku. Dirinya yang lemah, menangis, menanggung beban seorang diri, dan terus saja berusaha kabur. Kenapa setidaknya kau bergantung padaku, sedikit saja memberikan bebanmu itu padaku?
"Rukia—"
"Biarkan aku sendiri!"
"Diam Rukia!" Tanpa sadar aku berteriak, memarahinya. Sungguh bodoh, kenapa emosiku bisa keluar begitu saja, disaat seperti ini? Tanpa pikir panjang aku mengulurkan kedua tanganku, mendekap tubuhnya dalam pelukanku. Aku menggendongnya erat, yang kupikir tidak mungkin dia bisa berjalan begitu saja setelah mendapat luka cukup parah seperti itu. Dan semakin kueratkan pelukanku, berharap dia tidak akan kabur lagi dariku. Rukia mengernyit sakit, begitu aku berbalik menuju pohon sakuranya tadi. Kuperhatikan luka di kakinya, pergelangan kaki yang mungkin terkilir—tidak bisa kulihat jelas di balik sepatunya itu. Yang penting sekarang adalah keluar dari hutan mengerikan ini.
Kuturunkan tubuhnya, untuk bersender kepada batang pohon sakura, sementara aku memeriksa luka di kakinya. Kutekankan tanganku lembut di pergelangan kaki kanannya, yang langsung membuatnya berteriak keras. "Ichigo!"
"Kenapa kau lari?!" kataku kesal, meminta jawaban darinya. Kutatap matanya tajam, berusaha memahami apa yang dipikirkannya sekarang. "Kalau kau tidak lari, kau tidak mungkin terluka seperti ini!"
Dan tiba-tiba saja air matanya keluar lagi, dari mata merah bengkaknya itu. Dia menangis terisak, yang membuatku merasa semakin bersalah. Emosiku yang tidak bisa kutahan, telah membuatnya semakin menderita seperti ini. Aku benar-benar bodoh!
Kupeluk tubuh mungilnya yang mulai bergetar. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitinya seperti ini…"Maaf," ucapku lembut, berusaha untuk membuatnya tenang. "Maaf Rukia..maaf…"
Rukia balas memelukku erat, masih dengan suara terisak, "Ke..kenapa kau..meminta..maaf?" Dia membenamkan wajahnya pada pundakku, terasa karena nafasnya yang hangat berhembus lembut. "Ini…salahku…"
"Kenapa kau berpikir ini salahmu? Kau tidak melakukan apa-apa!" balasku sengit, tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan gadis kikuk ini.
"Kau tidak dengar…apa yang dikatakan Riruka?!" katanya tidak kalah ngotot, sambil mendorong tubuhku menjauh. Mata berairnya menatapku garang sekaligus kesal. "Seandainya…seandainya aku tidak membiarkanmu mendekat…kau tidak perlu mengalami hal ini, Ichigo! Kau tidak perlu…kecewa…marah…ataupun kesal..karena diriku. Yang bisa kulakukan hanyalah menyakitimu!"
"Sudah kukatakan, kenapa kau berpikir ini salahmu?!" Kucengkram bahu mungilnya kuat, membenamkan perasaanku disana. Apa kau tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, Rukia? Saat melihatmu seperti ini di depan mataku. "Kenapa kau terus menyalahkan dirimu, menyakiti dirimu? Akulah yang memilih untuk mendekatimu, berteman denganmu, Kuchiki Rukia."
Rukia terdiam, termangu lagi dalam lamunannya. Pendiriannya yang keras selalu tidak ingin bergantung pada orang lain—lebih memilih menanggung sendirian walaupun itu menyakiti dirinya sendiri. Dan aku benci akan hal itu. Benci melihatnya menangis dan terlihat putus asa seperti ini…
Kusentuh lagi pipinya yang mulai memerah dan meninggalkan jejak kering dari air matanya yang mengalir. "Asal kau tahu, Rukia…aku tidak akan menyerah padamu, sampai kau menyerah padaku! Dan yang kulihat sekarang, kau sama sekali belum menyerah padaku."
Matanya terbelalak melihatku—terkejut. Ekspresi yang membuatku semakin ingin melindunginya. Terlalu polos..terlalu lugu… Kuchiki Rukia yang terlihat kuat dan keras kepala bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Sifat aslinya yang terlihat rapuh dan terluka telah berhasil disembunyikannya selama ini dariku. Dan sekarang dia menunjukkannya padaku, tanpa berusaha untuk menutup-tutupinya lagi. Kupikir, ini adalah hal yang bagus—bagimu, Rukia. Kau memerlukan tanganku untuk bangkit, untuk menhapus air matamu, untuk menggendong tubuh mungilmu itu. Dan aku akan memberikannya tanpa mengharapkan imbalan darimu, ya…kecuali perasaanmu—hatimu.
"Ichigo…kenapa?" suaranya terdengar serak dan terkesan dipaksakan. Lagi-lagi, keraguanlah yang keluar dari mulutnya. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kenapa kau tidak mau melepaskanku begitu saja, setelah apa yang dikatakan Riruka—"
"Aku tidak percaya apa yang dikatakannya tadi. Aku hanya percaya apa yang kaukatakan saja, Rukia. Maksudku…kau tidak perlu mengatakannya kalau kau tidak mau, aku tidak memaksa. Tapi, aku bisa menunggu, sampai kau yang menjelasakannya sendiri padaku," jelasku , memotong kata-katanya.
"Ichigo—"
"Kau bisa mengandalkanku, Rukia…kapanpun. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya?" ucapku lembut, memutuskan untuk tidak mengeluarkan perasaanku yang sesungguhnya pada Rukia. Aku tidak bisa memaksakannya sekarang, di dalam kondisinya yang masih kalut seperti ini. Tapi, tidak apa-apa. Aku masih bisa menunggu gadis kecil ini untuk menerima uluran tanganku sepenuhnya, jatuh ke dalam pelukanku. Walaupun, aku harus mengerahkan tenaga lebih lagi. Menghadapi sikap keras kepalanya sungguh membuatku frustasi bukan main, tapi begitu melihat tatapan polosnya itu, rasa frustasinya tiba-tiba saja menghilang—tergantikan dengan perasaan yang hangat dan keinginan untuk mendapatkannya sebagai milikku. Hah? Sebegitu terobsesinya kah aku terhadap sosok Kuchiki Rukia ini? Tidak..bukan terobsesi…tapi…
Kembali mata itu menatapku lembut, terdiam. Rukia masih terlihat bingung, sepertinya masih bersikeras mengartikan apa yang kukatakan barusan. Itu hanya kata-kata, Rukia…bukan kode aneh dengan tulisan Latin kuno…
Kuhela napasku sambil membalas tatapannya. "Yang kuharapkan darimu hanyalah kepercayaan, Rukia. Seperti kepercayaan yang kuberikan padamu," ucapku, berharap dia akan mengerti sepenuhnya sekarang. Kuhapus air mata yang masih membekas di matanya. Tiba-tiba tangan Rukia menangkup tanganku lembut, hingga terhenti di pipi lembutnya. Dia mengangguk perlahan, sambil mengeratkan pegangannya pada tanganku. Aku tersenyum lega, melihat perasaanku tidak ditolak olehnya.
"Terima kasih..Ichigo..atas kepercayaan yang kau berikan padaku. Walaupun…aku tidak bisa memberikan apapun padamu sekarang. Membalas semua kebaikan yang kauberikan padaku."
Rukia tersenyum, senyum lembut yang akhirnya bisa terukir di wajahnya. Dia sangat cantik ketika tersenyum seperti itu. Senyum tulus yang tidak pernah kulihat dari orang-orang di sekitarku, gadis-gadis berisik yang selalu mengerumuniku seperti semut. Kecuali, senyum ibuku…ibu yang sudah menjadi bintang di langit…
Kukecup dahinya lembut, memberikan kelembutan lebih pada Rukia. Memberikan kehangatan untuk mencegahnya dari rasa sakit, kehilangan, bagiku dan juga baginya. Aku tidak ingin..mengulang penyesalan yang sama untuk kedua kalinya. Tidak akan.
"Tidak apa, aku akan menunggunya sampai kau siap," jelasku lembut, tidak memaksa. Kupeluk lagi tubuhnya hingga terbenam sepenuhnya ke arah tubuhku. Kurasakan kehangatan dari tubuh kecilnya, aroma tubuhnya yang lembut perlahan menenangkan diriku. Aku bisa menahannya, menunggunya, asalkan Rukia tidak menghilang dari hadapanku…
*(((Ichigo POV's end…)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note :
Ichigo sempat mengatakan kata Alice, yang dimaksud memang Alice in Wonderland. Kalau yang lupa bisa lihat chapter Spring Scene Three, dimana Ichigo dan Rukia bertemu tanpa sengaja di bawah pohon sakura Rukia. ^^ Disitu Ichigo memanggil Rukia dengan sebutan Alice…
Ichigo words : "Hah? Sebegitu terobsesinya kah aku terhadap sosok Kuchiki Rukia ini? Tidak..bukan terobsesi…tapi…"
Tapi? Kata-kata Ichigo terputus disitu bukan tidak di sengaja kok, tapi memang aku sengaja buat seperti itu...hihihiih belum saatnya Ichi ngucapin 'kata' itu...
Gomen! Maaf kalau POV Ichigo ini tidak seperti yang readers harapkan…T0T Memang sulit ya menggambarkan POV Ichigo, apalagi disini dia OOC banget! Wkwkwkwk Semoga, perasaan Ichigo disini bisa tergambarkan dengan jelas ya..hhihhihih
Balasan anonymous and no login reviewers :
Seo Shin Young : makasih udah review ya~ salam kenal sebelumnya…hihihi Kalau masa lalu Rukia, akan segera dijelaskan beberapa chapter kedepan lagi, ditunggu ya. Kenapa Ichiruki ga jadian? Moga bisa kejawab ya di chapter ini..special POV Ichigo XD..makasih semangatnya.. Kamsahamnida… ^^
Oc, segitu aja mungkin, bingung mau ngetik apa lagi..hihihihi..^^ Moga udah kejawab di dalam fic ini ya.. Kalau ada pertanyaan, review or PM ya!
Dan terima kasih untuk para reviewer yang sudah mau mereview fic ini, juga untuk para readers yang masih setia membaca walaupun tidak sempat mereview..hontou ni arigatou! ^^
