Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Miryo feat Sunny (SNSD)-I love You I Love You, Gummy-As a Man, Boa-Only One, Owl City-The Saltwater Room, Rookiez is Punk'd-Song for, Ed Sheeran- Cold Coffee, Lego House, Kasey Musgraves- Merry Go'Round, JYJ-In the Heaven…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Hi, aku update cepat nih..hihhihi XD Cuman mau ngasih tau, kalau chapter ini benar-benar kerasa hurtnya. Ichirukinya ga gitu banyak disini..lagi-lagi.. Jangan salahkan Grimmjow dan Kaien ya..hahaha *plak* Oke, tidak lupa author mengucapkan terima kasih kepada para readers yang masih setia membaca dan juga bagi yang baru membaca! Juga reviewers yang sudah memberikan semangat buat terus melanjutkan fic ini, walaupun ceritanya masih belum memuaskan kalian semua..gomen ne~ Yang sudah me-fave dan me-alert..arigatou gozaimasu! Hehehe XD

Happy reading all!

~000*000~

Chapter 11 : Autumn Scene Two

Kuperhatikan langkah-langkah cepat yang diambil oleh kaki Ichigo—orang yang sudah memaksaku untuk datang lagi ke sini—menciptakan kepulan debu ringan di belakangnya. Tatapannya fokus ke depan, sama sekali tidak terusik oleh hal apapun di sekitarnya. Dia berlari sangat cepat, secepat panther mengejar mangsanya…ah..bukan panther…si rambut biru itulah binatang buasnya. Selama ini aku sama sekali tidak mempercayai orang-orang yang mengatakan hal seperti, 'seseorang yang berkelakuan seperti binatang buas'. Itu sebelum bertemu dengan Grimmjow-san. Belum pernah aku menemukan orang dengan tatapan setajam itu, apalagi tubuh besarnya yang mendukung. Dan di Jepang ini, orang seperti Grimmjow-san bisa dibilang langka. Kupikir tatapan Ichigo yang paling menakutkan, dengan kerutan alis permanen yang hampir bertemu di tengah dahinya. Tapi…

"Kenapa kau menatapku seperti itu, mungil?" tanya Grimmjow-san melirikku tajam, menghentikan peregangan tubuhnya. Aku langsung bergidik ngeri, mengalihkan tatapanku darinya dengan menunduk. Jangankan membentaknya, berbicara dengannya saja sudah membuatku berkeringat dingin.

Grimmjow-san tertawa ringan, membuatku mengerutkan alisku kesal. Aku ingin sekali membentak, menendang kakinya, atau bahkan menjambak rambut birunya itu. Tapi, dia bukan Ichigo. Entah apa yang akan kualami bila melakukan hal berbahaya seperti itu.

"Grimmjow!" teriakan Ichigo membuatku menatap dirinya, masih berlari tapi dengan tatapan mengancam yang diarahkannya kepada Grimmjow-san. Dan, tegurannya itu tidak dihiraukan oleh si panther biru, yang sudah melanjutkan peregangannya sambil bersiul ringan.

Aku kembali menyibukkan diri dengan menatap Ichigo yang sudah kembali fokus—begitu cepatnya. Sosoknya yang berlari memang bisa membuat nafasku tercekat hebat, mengagumi sesuatu yang tidak kusadari selama ini. Seperti kau melihat awan bergumpal berbentuk Chappy di siang hari atau menemukan pelangi di sore hari dengan latar jingga di langit. Hal yang bisa dibilang jarang, tapi tetap bisa memacu adrenalin. Tanpa pikir panjang, aku langsung melirik langit yang sudah bercampur antara biru dan orange, mencari awan-awan bergumpal yang tidak sengaja lewat di hadapan mataku. Apa benar ya aku bisa menemukan awan berbentuk Chappy?

"Rukia?" tegur seseorang, memecah lamunanku. Kulirik melalui sudut mataku dan menemukan sosok Kaien-san yang sedang berjalan santai sambil melambaikan tangannya. Aku langsung berdiri dari dudukku dan membalas lambaian tangannya canggung.

"Ka…Kaien-san! Ohisashiburi," sapaku, mendapati Kaien-san yang tersenyum lepas. Senyumnya benar-benar membuat jantungku berdetak semakin cepat, apalagi melihat wajahnya yang mirip dengan Ichigo. Aku menunduk malu, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahku.

"Rukia, apa yang sedang kaulakukan disini?" tanyanya, berhenti di depanku sambil melihat ke sekeliling. "Melihat Ichigo?"

Aku menganggukkan kepalaku cepat. Rasanya benar-benar canggung, sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya. Dia dan Ichigo seakan-akan menghilang begitu saja dari jadwal tetapnya mengunjungi Arc Café. Aku melirik baju olahraga yang dipakainya, sepertinya Kaien-san juga sedang berlatih hingga sore hari?

"Mereka benar-benar semangat berlatih ya…."celetuknya sambil duduk di bangku yang kududuki tadi. Spontan aku mengikutinya duduk, memperhatikan Ichigo dan Grimmjow-san yang sedang berlari di trek lari. Seperti kejar-kejaran antara dua binatang buas dengan latar hutan belantara.

"Kaien-san sendiri? Bagaimana dengan latihannya?" tanyaku, membuka topik perbincangan. Kaien-san juga salah satu atlet berpotensi disini, di cabang olahraga lompat tinggi.

Kaien-san melirikku dan mulai mengganti posisinya menghadapku. "Aku? Ah..aku sedang istirahat. Rasanya lelah juga harus berlatih setiap hari. Pekan olahraga akan dimulai sebentar lagi."

"Pekan olahraga?" tanyaku bingung.

"Kau tidak tahu? Itu semacam pertandingan olahraga antar SMA yang rutin diadakan setiap musim gugur. Setiap tahunnya acara itu sudah seperti deadline bagi murid-murid disini. Kau bisa membayangkan seperti apa sibuknya," jawabnya sambil menghela napas. Beban yang mereka tanggung memang berat, apalagi ini adalah sekolah yang terkenal di bidang atletik—tidak bisa main-main dengan pilihan yang kau ambil.

"Ka…Kaien-san," panggilku gugup.

"Ya?" Kaien-san menatapku dengan tatapan polosnya, membuat degup jantungku kembali memacu cepat. Bagaimana bisa tatapannya itu juga ikut mengusik hatiku? Ichigo saja sudah membuatku hampir sering terkena serangan jantung mendadak dan sekarang Kaien-san…

"Emm..eeto..ga..ganbatte ne, Kaien-san!" ucapku sambil berusaha tersenyum padanya dan langsung mendapat tatapan bingung dari Kaien-san.

Lalu, dengan cepat tatapannya kembali melembut, diiringi oleh suara tawa nyaringnya. "Kukira kau mau mengatakan apa, Rukia. Wajahmu lucu sekali!" Kaien-san menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tawanya yang tidak kunjung berhenti. Dan itu membuatku malu setengah mati. Kau benar-benar kikuk, Kuchiki Rukia.

Tangannya mengelus kepalaku lembut, mengacak-acak rambutku. Aku mendongak hendak memprotes, namun kuurungkan niatku, begitu melihat wajah senang Kaien-san. Entah apa yang membuat moodnya berubah secepat ini, membuatnya berubah tenang. Aku tersenyum, lega melihat Kaien-san yang tidak lagi terlihat lelah karena pertandingan rutin itu.

"Terima kasih, Rukia," ucapnya sedikit berbisik, melirikku dengan menundukkan kepalanya. "Kau seperti malaikat mungil yang—"

Ucapan Kaien-san terpotong karena hentakan tiba-tiba di kepalanya. Aku mendongak dan mendapati Ichigo menjulang tinggi di hadapan kami, memukul kepala Kaien-san dengan sebelah tangannya. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Kaien?" tanya Ichigo, terlihat terusik.

"Ichigo! Kau ini!" protes Kaien-san sambil mengelus-elus kepalanya dan membuatku menatap Ichigo marah.

"Kenapa kau ikut memelototiku?" tanya Ichigo, memicingkan matanya.

"Kenapa kau memukul Kaien-san?" tanyaku balik, mengerucutkan bibirku kesal.

"Aku hanya memberinya pelajaran sedikit," balas Ichigo sambil melipat kedua tangannya di depan dada—sikap defensif.

"Itu karena mainan mungilnya diambil oleh makhluk peganggu satu ini," tiba-tiba Grimmjow-san muncul di belakang Ichigo, sambil menunjuk Kaien-san dengan jempol jarinya. "Kau benar-benar pelit, Ichigo!"

"Apa yang kau maksud, hah? Grimmjow!" Ichigo terlihat semakin kesal melihat Grimmjow-san yang ikut mengganggu. Dan Grimmjow-san hanya tersenyum mengejek, membalas tatapan sengit Ichigo.

Apa yang sekarang mereka lakukan? Benar-benar tidak bisa tenang semenit saja. Ketiga orang ini tidak bisa disatukan dalam satu tempat seperti ini, yang bisa menimbulkan peperangan mendadak. Aku semakin terusik dengan ketiga orang ini yang mengabaikanku dan mulai perdebatan mereka sendiri. Kudesahkan nafasku pasrah dan berusaha bangkit dari dudukku. Kalau aku terus disini dan menunggu mereka selesai, nii-sama akan segera sampai ke rumah sebelum kepulanganku. Dan aku tidak mau mengambil resiko itu tanpa menghiraukan konsekuensi yang akan aku terima nantinya. Ini benar-benar membuatku bergidik ngeri…

"Ru..Rukia! Kau mau kemana?" tegur Ichigo yang keluar dari perdebatan itu, menghalangi langkahku untuk keluar lapangan segera.

"Pulang," jawabku singkat sambil berusaha menghindarinya.

"Aku antar—"

"Rukia? Kau sudah mau pulang?" tegur Kaien-san, menepis Ichigo di sampingnya dan berusaha…menarik tanganku? "Aku bisa mengantarmu kalau kau—"

"Wah wah wah..kalian akan meninggalkanku begitu saja disini? Sendirian? Kau benar-benar beruntung, gadis mungil!" potong Grimmjow-san sambil mengacak-acak rambutku…lagi…

"Jangan mengacak-acak rambutku, pink panther!" protesku kesal, dan langsung saja kututup mulutku dengan kedua tanganku. A..Apa yang sudah kukatakan tadi? Kenapa aku bisa sebodoh itu, menyamakan Grimmjow-san dengan si pink panther yang nyentrik itu? Grimmjow-san menatapku tidak percaya, mulutnya menganga—hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata yang keluar. Tiba-tiba suara tawa terbahak-bahak menggema di lapangan kosong ini. Ichigo dan Kaien-san tertawa tidak tertahankan, menghiraukan Grimmjow-san yang masih mematung.

"A..aku..aku tidak..bermaksud," ucapku gugup.

Tangan besar Grimmjow-san menangkap kepala kecilku, membuat bulu kudukku bergidik ngeri.
"Apa yang barusan kau katakan tadi, mungil?" Grimmjow-san terlihat marah, menatapku dengan tatapan tajamnya sambil tersenyum lebar. Kakiku tiba-tiba saja terasa lemas.

"Jangan ganggu dia, Grimmjow!" Ichigo menepis tangan Grimmjow dan menarikku untuk berdiri di belakangnya. "Kau membuatnya takut!"

"Iya, jangan menakuti malaikat mungil yang polos ini, pink panther!" ucap Kaien-san, yang langsung memicu kemarahan Grimmjow-san padanya.

"Jangan ikut-ikutan kau!" Grimmjow-san memulai peperangan lagi sekarang…babak kedua telah dimulai dan ini semua karena salahku…

(..)

(..)

(..)

Aku melangkahkan kakiku ragu untuk memasuki lapangan tempat Ichigo berlatih. Sejak kejadian kemarin, aku takut sekali untuk berhadapan dengan Grimmjow-san. Bagaimana kalau kami bertemu lagi nanti? Apa yang harus kukatakan padanya?

Kuintip lapangan dari balik jeruji besi, memperhatikan Ichigo yang sedang berlari tanpa menyadari keberadaanku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling lapangan, mencari-cari si rambut biru mengerikan itu. Sepertinya dia tidak berlatih hari ini, itu sungguh membuatku bisa bernapas lega sejenak.
"Rukia!" Aku bergidik ngeri ketika mendengar namaku dipanggil lantang. Kubalikkan tubuhku perlahan dan mendapati Kaien-san berjalan ke arahku. "Kau datang lagi."

"Ah..Kaien-san," balasku menyapanya sambil tersenyum lega—untung saja bukan Grimmjow-san yang muncul.

Kaien-san melirik lapangan lari, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Sejenak aku merasakan perasaan aneh yang mengancam dari tatapannya. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya. "Kaien…san?" tegurku ragu sambil mencengkram tas sekolahku dengan kedua tangan.

Kaien-san melirikku, tatapannya berubah lembut, tidak lagi mengancam. Dia tersenyum—jenis senyum yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu di baliknya. "Rukia, boleh aku berbicara denganmu sebentar?"

"Eh? Aku?"

Kaien-san mengangguk cepat dan kembali menatap lapangan trek yang sedang dilalui Ichigo tanpa terusik sama sekali. "Ya, sebentar saja. Sebelum…kau menemui Ichigo."

Aku menatap lapangan ragu. Aku sudah berjanji pada Ichigo untuk segera datang kemari setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Dan sekarang Kaien-san ingin berbicara denganku, yang kukhawatirkan akan membuat Ichigo bingung. Aku tidak mau melanggar janjiku pada Ichigo dan membuatnya kembali khawatir. Tapi..arghh! Ini hanya Kaien-san, Kuchiki Rukia bodoh! Dia bukan si pink—ah biru maksudku, si panther biru yang menyeramkan itu.

"Rukia?" tegur Kaien-san sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.

"Ah, iya! Tidak apa-apa, Kaien-san. Lagipula, Ichigo bisa menungguku," jawabku lantang, terbangun dari lamunan anehku.

Kaien-san terlihat bingung sejenak, namun cepat digantikan oleh senyum menawannya. Dia memang benar-benar tampan, seperti seorang pangeran dari negeri dongeng. Yah, walaupun Ichigo jauh lebih unik kalau dikatakan sebagai pangeran. Mana ada pangeran berambut orange nyentrik dan bermata tajam seperti dirinya itu? Dia bisa membunuh putri Snow White tanpa memakan apel racunnya terlebih dahulu… benar-benar mengerikan…

Kaien-san mulai melangkah pergi, diikuti oleh langkah kecilku di sampingnya. Kami berjalan menjauhi lapangan, menjauhi Ichigo yang menurutku sama sekali tidak menyadari keberadaan kami. Jadi tidak mungkin dia mengikuti kami, kan?

(..)

"Duduklah, Rukia," pinta Kaien-san sambil menepuk kursi di sebelahnya. Aku menurutinya untuk duduk di sampingnya sambil menghela napas lega. Disini terasa tenang sekali, taman belakang sekolah yang cocok untuk dipakai tidur siang. Pohon-pohon rindang yang mulai menggugurkan daun-daun keringnya, melapisi jalan berbatu dengan karpet coklat jingga yang lembut. Burung-burung berkicau merdu, mempersiapkan apa yang dibutuhkannya sebelum musim dingin datang. Langit biru jingga yang lagi-lagi memukau pandangan, terlihat bersih tanpa adanya awan-awan putih besar yang menutupi. Aku tersenyum lega, mendapati musim gugur yang begitu menenangkan di depanku.

"Rukia?"

"Eh? Ah..maaf Kaien-san.." ucapku buru-buru. Kenapa aku bisa menghiraukan keberadaan Kaien-san di sebelahku ini? Dengan mudahnya aku terhanyut ke dalam duniaku sendiri, benar-benar bodoh kau Kuchiki Rukia!

Kaien-san tersenyum geli, sambil berusaha melihat pemandangan yang kutatap tadi. "Kau suka musim gugur?"

Aku mengangguk pelan sambil kembali tersenyum lebar. "Aku suka suasananya."

"Begitu," ucapnya sambil kembali terdiam, seperti sedang berkutik dengan pikiran pribadinya. Kaien-san terlihat berbeda sekarang, terlihat lebih tegang dan kaku. Padahal pembawaannya yang santai dan ramah selalu menghangatkan suasana café selama ini—hal yang kusukai darinya. Apa dia sedang ada masalah? Sesuatu yang mengusik ketenangannya?

"Rukia."

"Ah..ya?"

Kaien-san menatapku tajam sekaligus tegas, sedikit membuatku bergidik terkejut. "Aku ingin mengatakan sesuatu."

Aku menatapnya ragu, memikirkan kemungkinan apa yang akan dikatakannya. "Ya?"

"Aku…" Kaien-san kembali terlihat bingung, sedikit kalut. Apa mungkin masalah ini begitu besar bagi dirinya untuk ditanggung seorang diri? Kenapa dia tidak mengatakannya kepada Ichigo saja? Mereka kerabat dekat, bukan? "Aku..aku menyukaimu."

Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak, membiarkanku untuk tidak merasakan tanahku berpijak selama seperkian detik. Semuanya terasa seperti berputar terbalik, membuat gravitasi seakan berputar arah. Kaien-san membuat dinding di sekitarku runtuh seketika, memaksa menghadapi kenyataan yang ada di depanku sekarang.

"Maukah, kau menjadi kekasihku?" lanjutnya, yang semakin membuat tubuhku lemas seketika. Apa aku sedang tidak bermimpi? Seorang pangeran berkuda putih menyatakan cintanya padaku sekarang?

Dan sekelebat memori langsung menghujam kepalaku seperti badai topan. Tangannya, kehangatan tubuhnya, matanya, senyumnya, rambut orangenya…Ichigo… Semua yang sudah Ichigo lakukan untukku, hutangku padanya, perasaan yang dia percayakan padaku. Apakah aku akan membuang itu semua begitu saja?

"Ru..kia?" Kaien-san berusaha memanggilku lagi dengan suara lembutnya. Tangannya membelai rambutku lembut, tapi terasa berbeda. Ya, berbeda karena itu bukan Ichigo, bukan sentuhan hangat Ichigo yang biasa diberikan padaku. Bukan tatapan hazel-orangenya yang indah, bukan senyum congkak manisnya, bukan… Ini terasa mengganjal, rasanya benar-benar salah. Aku tidak bisa merasakan apapun pada perhatian yang Kaien-san berikan, tidak seperti yang aku rasakan kalau orang itu adalah Ichigo. Ichigo?

"A..aku.." dan sekarang lidahku terasa kelu, tidak bisa mengucapkan kata-kata yang ingin kukeluarkan dari mulutku. "Kaien..san.."

"Aku baru menyadarinya, Rukia. Perasaanku padamu ternyata memang tidak biasa," jelasnya lembut. "Keberadaanmu memang sudah mengubah hidupku sejak awal, sejak pertama kali aku melihatmu di café. Kau berbeda, unik, dan berhasil menawan perhatianku sepenuhnya untuk melihatmu sepanjang hari, bahkan tanpa berkedip. Aku menyukai caramu menatapku, caramu tersenyum, segalanya yang ada pada dirimu, Rukia. Dan—"

Kata-katanya terhenti, kembali terdiam beberapa saat. Kaien-san kembali menerawang jauh, memikirkan apa yang tidak bisa kutebak. Dan?

Kaien-san menghela nafas sebelum menjelaskan lagi penjelasannya yang tertunda. Seperti alunan melodi lembut di telingaku. "Dan..Aku tahu aku harus mengatakan ini sebelum Ichigo..sebelum Ichigo mendahuluiku."

"I..Ichigo?" tanyaku bingung. Kenapa Kaien-san membawa Ichigo dalam hal ini?

"Ichigo seperti tidak rela aku merebutmu darinya," jelas Kaien-san tersenyum kecut. "Kalian memang terlihat sangat dekat dan ini membuatku bingung memikirkan cara untuk mendekatimu. Dan kupikir aku memang tidak akan pernah bisa. Hubungan kalian memang tidak bisa kuganggu sepenuhnya, memasukkanku paksa untuk menggantikan posisi Ichigo untukmu. Kami memang berbeda, walaupun fisik kami terlihat hampir serupa. Maka dari itu, aku harus mencuri langkah darinya secepat mungkin. Hanya inilah jalan satu-satunya yang kupunya, Rukia."

Aku terdiam lagi, berusaha memproses perkataan Kaien-san. Rasanya benar-benar rumit, karena selama ini aku memandangnya tanpa memikirkan perasaan sebenarnya dari Kaien-san padaku. Kupikir hubungan kami hanya sebatas teman biasa?

"Kaien-san…maaf..aku," aku memejamkan mataku, takut untuk menatap kekecewaan yang akan menghantuiku mulai saat ini. "Aku..tidak bisa membalas perasaanmu."

"Rukia," panggilnya lemah. Tangannya menangkup pipiku dan mendongakkan wajahku untuk menghadapnya. "Lihat aku."

Aku membuka mataku perlahan, mendapati kesedihan yang begitu terasa pada tatapan hangatnya. Aku..membenci perasaan ini, perasaan menyakiti orang lain. "Maaf, Kaien-san. Apa yang kurasakan ternyata tidak sama dengan apa yang Kaien-san rasakan. Aku—"

"Seperti yang kuduga, kau akan menolakku," katanya memotong kalimatku dan berusaha tersenyum tulus. Mataku terbelalak kaget melihat reaksinya, kupikir dia akan terus memaksaku, atau mungkin berusaha meyakinkanku, atau…

"Maaf Rukia, aku sudah membuatmu kaget ya?" katanya sambil kembali mengelus kepalaku. "Aku tahu kau tidak bisa menerima perasaanku. Hanya saja..perasaan ini seperti terus menghantuiku sepanjang waktu. Kupikir untuk tidak menemuimu beberapa saat akan mengapus perasaan ini secara perlahan. Tapi, begitu melihatmu lagi kemarin, perasaan ini malah semakin bertambah parah. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku menyukaimu, Kuchiki Rukia. Maafkan keegoisanku, ya."

"Ka..Kaien-san! Kau tidak perlu meminta maaf," ucapku buru-buru sambil menggenggam kedua tangannya erat. "Aku sungguh senang kau sudah memberitahu perasaanmu sesungguhnya padaku, Kaien-san. Walaupun aku tidak bisa membalasnya, itu tidak berarti aku membencimu."

Tatapan sendunya perlahan berubah cerah, walau hanya sedikit. "Kau..tidak membenciku?"

"Tentu saja tidak! Lagipula, kenapa aku harus membencimu? Kau tidak melakukan hal yang jahat, Kaien-san," ucapku lantang sambil tersenyum lebar untuk sedikit menghiburnya, si pangeran berkuda putih yang sedang terpuruk sedih.

Kaien-san tertawa geli yang membuatku kembali bingung. Memangnya aku mengatakan sesuatu yang lucu? "Kau..kau benar-benar membuatku semakin menyukaimu, Rukia!"

Hee? Aku? Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?

"Tapi, aku tidak bisa memaksamu terus menerus seperti ini, karena kau sudah punya Ichigo."

"Eh? I..Ichigo?" Sekarang aku mulai panik. Kenapa Kaien-san terus menerus membahas Ichigo disini?

"Kau menyukainya, kan?" katanya sambil tersenyum miris, memiringkan kepalanya ke satu sisi sambil berusaha memperhatikan reaksiku. "Jangan membohongi perasaanmu, nona Kuchiki."

"Heee?!" tanpa sadar aku berteriak panik dan membuat Kaien-san ikut terlonjak kaget. "Ka..Kaien-san! Kenapa kau berpendapat seperti itu? A..Aku.." dan sekarang wajahku memerah sepenuhnya.

"Kenapa? Aku tidak sebodoh itu, Rukia. Melihat caramu menatap Ichigo sungguh membuatku merasa iri. Seandainya saja aku yang ditatap seperti itu oleh gadis pujaanku."

Bagaimana bisa Kaien-san mengatakan hal seperti itu, sementara aku..aku sendiri belum bisa memutuskan perasaanku pada Ichigo… Bolehkah aku menyukainya, seperti rasa suka Kaien-san yang diberikannya padaku? Apakah aku akan menyakitinya? Apakah masa laluku…Kibune-san…apa yang sudah kulakukan itu bisa meyakinkan Ichigo untuk terus berada di sisiku? Apakah dia akan..membenciku? Membenciku ketika kuceritakan masa laluku yang kelam…nee, Ichigo?

(..)

Aku melangkah lemas menapaki jalan menuju lapangan dimana Ichigo masih berlatih. Memikirkan apa yang Kaien-san katakan tadi sungguh membuat kepalaku terasa pusing. Rasa takut kembali menyelimutiku pekat. Kenapa aku bisa seyakin ini? Setelah apa yang sudah Ichigo berikan padaku, apakah itu berarti dia pasti menerimaku untuk terus berada di sisinya? Seandainya Ichigo menolakku, apa yang harus kulakukan?
Kudapati Ichigo yang sedang duduk termenung di pinggir lapangan, menenggak air minum dengan santainya. Apa yang akan Ichigo tanyakan ya, setelah keterlambatanku datang kemari?

"Ichigo," panggilku ragu, berusaha menepis pikiran aneh yang mulai mondar-mandir tidak tenang di benakku. Apa yang harus kulakukan sekarang adalah menghadapinya. Ichigo sudah mempercayakan perasaannya padaku, bukan? Rasa takut itu, walaupun itu benar-benar terjadi, harus bisa kuhadapi dengan kekuatanku sendiri.

Ichigo menoleh padaku, namun dengan cepat membuang tatapannya ke arah lain. Apa dia marah? Mungkin karena aku datang terlambat dan tidak mengabarinya? Tapi, setelah kucek hpku tadi, tidak ada pesan masuk ataupun telepon dari Ichigo. Apa memang mungkin dia sedang badmood?

"Maaf, aku terlambat datang," ucapku hampir berbisik, berdiri di samping Ichigo yang masih duduk termenung. Tiba-tiba dia berdiri dan menatapku tajam. Tatapan yang sebelumnya sudah membuatku bergidik ngeri, sekarang dia tunjukkan lagi padaku.

"Rukia," ucapnya dengan suara berat, membuat degup jantungku berdetak kencang karena takut. "Bisakah, kau tidak datang lagi kemari?"

Eh? Apa yang sudah dikatakannya barusan? Aku…tidak salah dengar…bukan? "I..chigo?"

"Aku harus fokus pada latihanku mulai sekarang. Pertandingannya sebentar lagi akan dimulai dan aku harus mempertahankan rekorku sekarang."

"Ta..tapi..bukankah kau yang juga memintaku datang…kemari?" tanyaku frustasi. Kenapa seenaknya dia yang memutuskan segalanya? Kenapa dia bisa bersikap dingin seperti itu, tanpa penjelasan yang jelas?

"Itu kesalahanku, seharusnya aku tidak mengundangmu datang kemari," jelasnya sambil menghela nafas. Tatapannya kembali menerawang jauh, menatap hal lain selain menatapku yang mulai menatap marah dirinya. "Kau menggangguku, Rukia."

Jantungku, serasa seperti ditikam belati. Napasku seperti tercekik hebat, memutuskan jalur oksigen menuju paru-paruku. Kepalaku…seperti terhantam batu besar dan mengeluarkan isi pikiranku selama ini. Mengeluarkan perasaanku yang kurasakan selama ini pada Ichigo dan menghancur leburkannya dengan kekecewaan. Kata-katanya itu..serasa menyuruhku untuk keluar dari kehidupannya. Semudah itukah kau mengatakannya, Kurosaki Ichigo?

Ichigo mulai melangkah pergi, kembali meneruskan latihannya dan membiarkanku berdiri terpaku disini. Aku tidak mau seperti ini! Tidak semudah ini kau bisa melepaskanku, Ichigo! Tidak sebelum aku mendengarkan penjelasanmu…"I..Ichigo!" kupanggil namanya sambil berusaha berlari, mengejarnya. "Ichigo! Tunggu!"

Ichigo sama sekali tidak membalas panggilanku. Terus berlari meninggalkanku di belakang. Nafasku mulai memprotes hebat, menginginkan udara lebih untuk menghidupkan paru-paruku yang kempis. "Ichigo!"

"Pulanglah Rukia!" balasnya berteriak keras. Suara itu tidak seperti suara Ichigo selama ini. Tajam, mengancam, dan membuatku hampir terjatuh lemas. "Jangan ganggu aku lagi, Kuchiki Rukia!"

Aku berusaha untuk menyeimbangkan langkahku, berlari dari sini—menjauhi Ichigo secepatnya. Otakku tidak bisa memproses kata-kata yang masuk, menyelaraskannya dengan perasaanku. Hanya rasa sakit yang kurasakan sekarang, rasa sakit yang kembali kurasakan—yang seharusnya sudah mulai berangsur pulih karena kehangatan yang Ichigo berikan. Tapi, kehangatan itu sudah hilang sepenuhnya, memunculkan kembali luka lama, seperti mengikatku kepada rantai kekelaman yang tidak berdasar. Aku tidak menyukai aura pekat yang mulai mengintimidasiku sekarang, seakan menyalahkanku tanpa sebab. Yang penting sekarang, aku berlari keluar,berlari secepatnya menuju tujuan yang tidak tentu. Kemanapun sebelum air mataku mulai menetes keluar…

*(((to be continued…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Hueee..beneran ga tega nulisnya! Gomen, Rukia! TwT..Ichigo ga bermaksud membencimu kok! Dia memang ga benci Rukia, tapi… alesannya akan dijelaskan di chapter selanjutnya ya! *author langsung digebukin mendadak*

Grimmjow juga ga benci Rukia kok, dia tidak seganas binatang buas di luar sana..hahahha *mulai garing* Sebutan pink panther buat dia tuh cuman sekedar humor lewat dari author, kok! Hehehhee.. garing ya? ^^; Kebetulan aja ada ide masukin sebutan itu, begitu mendengar imoutoku nyebut nama pink panther..hehe.. Btw, pada tau pink panther, kan? Coba deh cari di google..film kartun lama itu..

Kesan Kaien nembak Rukia agak sedikit memaksa ya? Tapi memang rencana author memasukkan adegan ini, kok..hihihii Akhirnya mereka ga jadian, cuman sebatas teman aja kok, karena Rukia hanya menganggap Kaien sebagai idolanya saja, ya semacam rasa kagum gitu. Coba baca ulang waktu Rukia bilang kalau Kaien itu ibarat pangeran berkuda putih…wkwkkwk..maksud author tuh si Rukia ga punya perasaan suka ke Kaien, selain perasaan kagum kalau Kaien menyerupai pangeran negri dongeng. XD

Perasaan Rukia ke Ichigo bakal terkuak di chapter depan! Janji deh! Soalnya Rukia baru nyadar begitu mendengar kata-kata Kaien disini.. Rukia masih galau sebenarnya, apalagi takut kalau masa lalunya bakal terulang lagi. Oya, masa lalunya belum jelas ya..aku bahas di chapter depannya lagi ya..hahahha *author mulai ga jelas gini..^^;

Balasan untuk anonymous and no-login reviewer :

Guest : Makasih udah review ya! Ni udah aku update, maap kalau agak mengecewakan T-T Makasih semangatnya ya~ XD

Oce~ Segitu aja dariku..lanjut ke chapter depan ya~ ditunggu review kalian ya XD

Kalau ada pertanyaan dan ketidakjelasan dari chapter ini, bisa ditanyakan langsung lewat PM and review..^^ Jaa ne~