Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Miryo feat Sunny (SNSD)-I love You I Love You, Rookiez is Punk'd-Song for, Ed Sheeran- Cold Coffee, Lego House, Kasey Musgraves- Merry Go'Round, Brad Paisley-Find Yourself, Whiskey Lullaby…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Gomen minna! Khususnya bagi para reviewer yang sudah kujanjikan untuk update cepat…Maaf baru update sekarang ya.. T-T Aku tidak sempat menulis chapter ini karena tugas yang mulai menumpuk banyak, ditambah kemarin sakit tidak terduga. Sebenarnya, jalan cerita ini sudah kuketik sejak lama, tapi belum bisa mengetik keseluruhan chapternya. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian ya, maaf kalau terlihat klise dan memaksa. Tapi aku sudah berusaha keras untuk merasakan perasaan Ichigo dan Rukia disini, sebisa mungkin aku jelaskan menurut pandangan dan perasaan mereka dari chapter-chapter sebelumnya. Semoga kalian suka ya~

Tidak lupa author berterima kasih bagai para readers yang selalu setia membaca fic ini! Dan yang bagi baru membaca, salam kenal~ hihihihii..Juga…para reviewers yang selalu memberi kritik, saran, semangat, dan berbagai ide lainnya..I love u all~ ^^ Kalian benar-benar sumber semangat untukku! TwT

Oce..happy reading all~ Dan ada POV Ichigo lagi disini, di tengah-tengah cerita. Dan ada konflik baru! Lagi!XD

~000*000~

Chapter 12 : Autumn Scene Three

"Pesanan meja 4!" teriakan itu membangunkanku dari lamunan senduku, saatnya kembali lagi ke dalam realita kehidupanku. Sesaat tadi aku tenggelam begitu saja dalam kekelaman yang perlahan menggerogoti diriku dari dalam dan kemudian menghilang begitu seseorang memanggilku untuk membuat pesanan. Aku kembali lagi ke dalam kegiatanku, menyibukan diriku dari sesuatu yang mengusik diriku. Dan kemudian aku kembali lagi ke awal, kembali lagi merenung seperti seekor kelinci yang sedang meringkuk di pojok ruangan, menunggu hujan untuk segera berhenti. Itulah siklusku hari ini, juga hari-hari sebelumnya. Terus berulang tanpa berhenti, mengulang luka yang tidak akan pernah menutup ini. Mengulang suaranya yang menyayat hatiku saat itu, suaranya yang mengancam diriku untuk pergi menjauh. Suara Ichigo yang tidak mau lagi aku mengganggu kehidupannya.

"Rukia?" tanya Momo melirikku dari meja counter, menatapku bingung. "Apa..setidaknya kau istirahat saja?"

Aku memaksakan diriku untuk setidaknya tersenyum kecil, menandakan bahwa diriku masih terlihat baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa, Momo. Aku harus segera menyelesaikan pesananku," kataku segera menghindar darinya dan mulai membuat pesanan dari kertas yang disodorkan Momo. Dua Caffe Macchiato dan satu Americano…Dua Caffe Macchiato dan satu Americano…

"Ini semua karena Ichigo, kan?" celetuk Yumichika terdengar sinis dari belakangku. Aku menoleh menghadapnya, berusaha memasang ekspresi wajah datar, tapi tidak berhasil. Wajahku berubah pucat sekarang, rasanya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sedang mengutil barang di supermarket.

"Yumichika," tegur Momo berusaha meredakan suasana, sambil menarik-narik lengan baju Yumichika.

"Kau selalu bersikap seperti itu sejak beberapa hari yang lalu. Dan ini lebih buruk dari saat kau kehilangan gantungan hp milikmu itu. Ada apa sebenarnya?" Yumichika terlihat semakin tidak sabaran, alisnya berkerut kesal, tapi masih belum cukup untuk membuatku bergidik takut karenanya. Berbeda dengan tatapan mengintimidasi dari Ichigo…yang bisa membuat kakiku terasa lemas seketika.

Aku terdiam, tidak menanggapi perkataan Yumichika, kembali merenung dalam pikiranku yang selalu mengotak-atik perasaanku sedemikian rupa. Hancur, terpukul, kecewa, terbuang, apa lagi yang kurang?

"Kau menyedihkan…" Yumichika mendesah dan berjalan menjauh dari counter, yang membuatku semakin terpuruk karena ucapannya itu. Ya…memang benar…aku benar-benar menyedihkan.

"Ru…Rukia..jangan pikirkan apa yang dikatakan Yumichika. Dia hanya terbawa emosi, ya..memang seperti itulah dirinya. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu, Rukia," kata Momo sambil berusaha tersenyum, namun mata berkaca-kacanya berkata lain. Aku benar-benar bodoh, membiarkan temanku ikut merasakan perasaan yang seharusnya aku tanggung sendiri.

"Maaf Momo…aku tidak bermaksud—"

"Rukia! Pergilah!" teriak Rangiku-san lantang sambil menggebrak meja counter, membuatku dan Momo bergidik kaget.

"A…Apa—"

"Pergi, gadis kikuk! Sekarang Ichigo sedang berlomba di tengah kota! Kau harus pergi untuk menyemangatinya!" seru Rangiku-san sengit, melihatku dengan tatapan tajamnya.

Aku melirik ke sekitar café, memperhatikan para pelanggan yang sama sekali tidak terusik dengan keributan disini. Jadi, inilah keuntungannya counter kopi berada jauh di sudut café, ya. "Apa yang kau katakan, Rangiku-san?"

"I-CHI-GO! Kau ini tidak mengerti juga ya, gadis bodoh! Memangnya kalau dia meninggalkanmu, kau akan diam begitu saja? Menuruti apapun yang dia katakan? Dengar, Rukia, aku tahu masalahmu memang begitu rumit. Tapi ini tidak seperti dirimu, Rukia. Aku tahu kau tidak akan menurut dan diam begitu saja," kata Rangiku-san berusaha meredam emosinya. Baru kali ini aku melihat keseriusan di dirinya. Padahal, begitu kuceritakan masalahku dengan Ichigo padanya—setelah aku menangis seperti orang bodoh sepanjang malam—dia sama sekali tidak seemosi dan semarah ini padaku. Kupikir Rangiku-san akan selalu menghiburku, memberiku semangat seperti yang dilakukan Momo—walaupun aku tidak mengharapkan itu semua.

"Aku..tidak bisa—"

"Apa yang perasaanmu katakan sekarang, Rukia?" tanya Rangiku-san lembut, menatapku penuh harap. Aku terdiam, berusaha untuk mengerti jelas apa yang dimaksud oleh Rangiku-san. Perasaanku? Perasaanku pada Ichigo…

Bodoh kau Kuchiki Rukia! Kenapa kau tidak menyadarinya dari kemarin? Masih ada hutang yang harus segera kuselesaikan dengan Ichigo, sesuatu yang harus segera kukatakan padanya. Dan karena kebodohanku, aku hampir saja melupakannya, kan? Ichigo mempercayakan perasaanya padaku, aku membuatnya menunggu, dan sekarang aku mengecewakannya. Ini semua karena kesalahanku, bukan Ichigo. Aku tidak berhak untuk menghakiminya, membuatnya terlihat bersalah dan menggantikan posisiku. Ichigo adalah orang baik, itulah yang selalu aku percaya selama ini. Dan yang membuatnya marah padaku tempo hari adalah murni kesalahan bodoh yang kubuat. Seandainya, aku bisa mengatakannya lebih cepat. Apakah itu semua karena aku ragu? Apakah aku takut karena masa laluku kembali muncul? Karena Kibune-san?

"Rukia…sesuatu yang pasti dan bisa kukatakan sekarang hanyalah agar kau percaya dengan apa yang kau rasakan. Ingatlah, selama ini Ichigo selalu menemanimu, Rukia. Juga saat itu, saat kau berlari kalut meninggalkan café, dia mengejarmu. Aku sendiri terkejut melihat Ichigo panik seperti itu." Rangiku-san tersenyum lemah padaku dan kembali menjauh, menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Momo melirikku sesaat dan memberiku senyum semangatnya sebelum ikut beranjak pergi—meninggalkanku sendirian untuk kembali bergelut dengan pikiran dan perasaanku.

Aku tersenyum kecut, menyadari sifat keras dan egoisku yang lebih mendominasi. Aku takut akan masa lalu yang kembali terulang dan dengan egoisnya aku melarang Ichigo untuk mendekat padaku. Ichigo memberikan kehangatan padaku dan dengan egoisnya aku pergi menjauhinya begitu saja. Ichigo memberikan uluran tangannya untuk melindungiku dan dengan egoisnya aku melupakan perbuatan baiknya. Sesuatu yang basah turun membasahi pipiku—air mataku. Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja sekarang. Aku harus kuat, karena selama ini aku terlihat lemah di depan Ichigo dan membiarkannya selalu menjadi tamengku. Aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri dan alasan bodohku untuk tidak melibatkan Ichigo dengan kehidupan pribadiku. Aku rindu tatapan hangatnya, senyum lebarnya, tangannya yang mengelus kepalaku, dan kata-katanya yang membuat wajahku memerah sekaligus membuatku kesal setengah mati padanya. Aku rindu untuk menendang kakinya. Aku…bisa menaruh perasaanku sepenuhnya padamu, Ichigo. Aku…menyukaimu?

(..)

(..)

(..)

~The Excited and Miserable…~

Ichigo's POV

Rukia? Apa yang dia lakukan dengan Kaien? Aku memberhentikan langkahku dan mengatur nafasku yang tidak teratur. Kutatap punggung Rukia dari kejauhan, menjauhiku dan berjalan bersama Kaien di sampingnya. Perasaan aneh menggelayuti dada dan perutku—terasa mengganjal. Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui sebelumnya, selain perasaan Kaien yang selalu terpatri jelas di wajahnya. Dia..menyukai Rukia. Aku tahu itu.

Kukepalkan kedua tanganku di samping tubuhku, berusaha meredam amarah yang mulai mengambil alih. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku pada Rukia. Aku harus menunggu. Aku tidak mau menakutinya dan lebih memilih keegoisanku mendominasi. Kutarik nafas dalam-dalam dan mulai melangkahkan kakiku keluar lapangan. Apapun yang terjadi aku harus siap menghadapinya. Dan langkah yang kupilih ini sepenuhnya adalah pilihanku. Perasaan menusuk ini membuatku tidak bisa diam saja. Sesuatu akan segera terjadi, bukan?

Menapaki jalan ini membuatku seperti sedang menunggu eksekusi. Jantungku berpacu begitu cepat, seakan-akan bisa keluar begitu saja dari dadaku. Mataku tidak bisa berhenti untuk mencari-cari sosok Rukia, setidaknya memastikan dia aman di samping Kaien. Bukannya aku tidak percaya dengan sikap Kaien, hanya saja dirinya membuatku khawatir. Khawatir dia akan mengatakan perasaannya pada Rukia. Dan Rukia akan memilihnya, dibandingkan memilih diriku ini. Apabila itu memang benar terjadi, aku harus bisa menerimanya. Asal Rukia bahagia dan tatapan tulusnya selama ini pada Kaien memang terbukti benar.

Aku menertawakan diriku sendiri. Betapa begitu tidak bergunanya diriku. Begitu menyedihkan.

"Ichigo?"

Aku melirik ke balik bahuku, mendapati Senna sedang memanggilku dari balik pohon.

"Apa yang kaulakukan disana?" tanyaku, mendapati wajah Senna terlihat bingung dan kaget.

"Mmm..kupikir kau harus melihat ini," panggilnya sambil menunjuk ke balik pohon di belakangnya. Aku mengikuti tempat persembunyiannya, terlihat aman di balik pepohonan tinggi ini. "Apa kau..sedang mencari Rukia?"

Aku tertegun mendapati Senna mengetahui tujuanku. Apa mungkin dia akan mulai berulah lagi sama seperti Riruka?
"Tunggu, aku tidak seperti Riruka. Aku tidak mau mencari masalah lagi dengan Rukia, karena kupikir itu masalah Riruka dengan Rukia. Aku hanya tidak sengaja mendapati Rukia disana," katanya sambil menunjuk ke depan, terhalang oleh pohon. "Dia dan Kaien sedang berbicara sesuatu yang tidak bisa kudengar."

Aku menolehkan kepalaku ke balik pohon dan mendapati Rukia sedang duduk bersama Kaien, terlihat dekat. Dan sayangnya jarak kami terpaut cukup jauh, aku tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan.

"Mungkin…Kaien akan menyatakan perasaannya?" tebak Senna dan membuatku memelototinya. "Aku hanya menduga. Itu karena mereka berdua terlihat begitu dekat dan serius." Senna menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.

Aku kembali melirik Rukia dan Kaien, yang membuat jantungku berdetak tidak karuan. Kumohon, jangan sampai terjadi hal yang tidak kuinginkan. Jangan pergi dariku, Rukia..

Aku melihat Rukia menundukkan wajahnya dan tiba-tiba tangan Kaien menangkup wajahnya untuk mendongak menghadapnya dan…menciumnya? Rasanya punggungku seperti disiram air es dan dadaku terhujam ribuan belati yang menyayat tanpa henti. Jadi…Rukia menyukai Kaien ya? Bahkan, dia tidak menolak ciuman darinya. Mungkin itu bukan hal aneh yang seharusnya aku kagetkan. Selama ini Rukia selalu baik pada Kaien dan kemarin dia bisa tersenyum tulus seperti itu padanya. Dengan mudahnya. Tidak dengan diriku yang harus menunggu Rukia dengan sabar. Betapa bodohnya aku ini, mengharapkan Rukia akan menyatakan perasaan yang sama denganku. Aku terlalu berharap, bahkan tidak menyadari perasaan Rukia yang sebenarnya. Aku tidak bisa mengekang gadis itu terus menerus. Mungkin memberikannya kebebasan dan jarak adalah jalan yang harus kupilih. Aku tidak bisa berharap dan menunggu lagi jawaban darinya.

"I..chigo?" Senna memecah keheningan disini yang tidak kuhiraukan sama sekali. Aku memutar tubuhku dan berjalan pergi kembali ke lapangan. Harus kupersiapkan hatiku untuk menghadapi Rukia nantinya. Asalkan gadis itu bahagia, apapun akan kulakukan. Asalkan Rukia tidak lagi menangis dan terpuruk karena masa lalunya yang sama sekali tidak kumengerti. Aku akan melepasmu bila kau melepasku, Rukia. Itulah janji yang selalu kupegang selama ini.

Ichigo's POV end

(..)

(..)

(..)

Aku terus berlari, tidak lagi mempedulikan paru-paruku yang memaksa akan oksigen lebih. Hari sudah menjelang sore dan sebentar lagi perlombaan akan berakhir. Setelah semua shiftku kuberikan pada Unohana-san dengan begitu mudahnya—bahkan mendapat dukungan darinya—tanpa pikir panjang aku terus berlari dari café menuju arena perlombaan lari jarak jauh di dekat pusat kota. Hampir saja kuterobos lampu merah dan menabrak orang-orang yang menghalangi jalanku. Aku sama sekali tidak peduli, untuk kali ini. Yang terpenting sekarang hanyalah sampai ke tempat Ichigo dan member tahunya akan jawaban dari perasaanku ini. Aku tersenyum lebar, seakan sedang menghadapi hari baru bagiku. Aku tidak lagi takut, tidak lagi bila Ichigo ada di sampingku.

Di depanku terlihat pos lari yang tidak kuketahui pos keberapa tepatnya. Aku berlari ke arah kerumunan orang itu, melihat beberapa pelari dari tim-tim berbeda sedang beristirahat. Mataku langsung mencari rambut orange nyentrik yang seharusnya tidak sulit kutemukan sekarang. Dan yang kutemukan bukanlah warna orange, melainkan warna biru. Aku mendapati Grimmjow-san sedang terduduk di bangku yang disediakan di bawah tenda, tertunduk dengan dibasahi keringat di sekujur tubuhnya. Jadi, Ichigo tidak berhenti disini ya. Itu sedikit membuat perasaanku semakin gelisah. Kudekati sosok Grimmjow-san yang sedikit membuatku takut, mengingat kejadian saat itu—dimana aku salah menyebutkan namanya. Si panther biru.

"A..ano..Grimmjow-san," sapaku terbata-bata. Grimmjow-san langsung menoleh dan sedikit terkejut melihatku menatapnya. Lalu, dengan cepat seringainya terpasang di wajahnya.

"Ah…si mungil. Sedang apa kau disini?" tanyanya yang membuatku langsung menatapnya sinis. "Kau ikut lomba juga? Nafasmu terengah-engah seperti itu."

"Eh? Ah..aku..tidak. Maksudku, aku kemari untuk mencari Ichigo," kataku sambil berusaha menarik oksigen untuk segera masuk sebanyak-banyaknya.

"Ichigo? Dia tidak ada disini. Kau bisa menemuinya di pos akhir," jelasnya sambil mengambil botol minum di bawahnya dan meneguknya cepat.

"Dia pelari terakhir," gumamku, menyadari kenyataan bahwa aku harus berlari lagi.

"Sebaiknya kau bergegas, mungil. Kau harus segera menyadarkan si bodoh itu." Grimmjow-san melirikku sambil menyeringai aneh. "Mungkin dengan melihatmu, dia akan segera kembali sadar."

"Memangnya…Ichigo kenapa?" tanyaku takut.

Grimmjow-san mendesah dan menyenderkan bahunya di bangku kecilnya. Badannya benar-benar terlihat besar, bahkan lebih besar dari Ichigo. "Dia…sepertinya ada yang mengganggu pikirannya saat ini. Dia tidak bisa serius berlatih dan aku ragu dia bisa menduduki posisi juara satu hari ini."

Aku bergidik ngeri. Kalau Ichigo kalah, karirnya yang selama ini sudah dibangunnya bisa hancur seketika. Si bodoh itu, apa yang sedang dia pikirkan?

"Te..terima kasih Grimmjow-san. Aku harus pergi sekarang," kataku buru-buru sambil menunduk sesaat dan segera berlari untuk tidak membuang waktu. Aku mengambil jalan pintas menuju pos terakhir yang sudah kuketaui letaknya dari koran di pagi hari. Ternyata ada gunanya juga membaca koran sesekali, seperti yang selalu dilakukan oleh nii-sama.

(..)

Kulangkahkan kakiku secepat yang kubisa. Aku mengambil jalur memutar, yang mengarah dari garis finish untuk kembali ke pos terakhir. Kuambil kesempatan apapun untuk segera membawaku ke tempat Ichigo. Aku harus menemuinya, sebelum dia menuju garis finish. Aku harus membuatnya menang, apapun yang terjadi pada si bodoh itu.

Dan aku memang bukan pelari yang baik. Tenggorokanku terasa seperti terbakar, membakar hingga dadaku. Aku lelah, terasa di kakiku yang otot-ototny mulai menegang hebat. Tapi tekadku tidak bisa menghentikan langkahku. Bahkan, ini semakin memacuku untuk terus berlari. Kuhiraukan peluh yang menetes di dahiku, turun ke arah wajahku. Jantungku bertalu cepat begitu melihat jalan raya di depanku, melihat trek perlombaan yang sedang dilalui beberapa pelari cepat. Spontan aku mencari rambut orange yang melintas dan anehnya tidak kutemukan. Aku berhenti di ujung jalan, memperhatikan lintasan lomba di depanku. Para pelari itu sudah berlari menjauh ke arah kiriku, yang tepatnya menuju garis finish. Kulirik jalan di sebelah kananku, menuju area pos terakhir. Seharusnya aku tidak salah mengambil jalan. Seharusnya Ichigo sudah terlihat sekarang.

Jalan raya di depanku terlihat sepi, tidak ada orang yang lewat. Kutelusuri jalan yang menuju pos terakhir, menjauhi garis finish. Apa Ichigo digantikan oleh pelari lain? Seharusnya itu tidak mungkin, karena dia adalah pelari andalan kelompoknya. Apa mungkin…dia terluka?

Aku melihat sekelebat bayangan yang sedang berlari dari balik belokan jalan di depan sana. Rambut orang yang berlari perlahan menuju ke arahku. Itu Ichigo, terlihat kelelahan dan sama sekali tidak menyadari keberadaanku yang mematung disini. Kukuatkan tekadku sambil menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak bisa mundur sekarang. Aku harus segera menyadarkan si bodoh itu.

"Ichigo!" teriakku lantang, masih mengatur nafasku yang tidak teratur. Ichigo langsung menoleh dan terkejut menatapku yang berdiri di depannya.

"Se..sedang apa kau disini?" tanyanya kebingungan, tapi tidak memperlambat larinya. Aku kembali memacu kakiku, mengikutinya berlari dari samping jalan.

"Mencarimu, tawake!" teriakku kesal. "Kau benar-benar bodoh…Kurosaki Ichigo!"

"Hah?! Apa yang sedang kau bicarakan?" balas Ichigo terlihat kesal. Dia menatapku tajam, yang membuatku sedikit gentar untuk melihatnya. "Pulanglah, Rukia. Sebaiknya kau temani Kaien saja, bukan mencariku disini."

"Ka..Kaien-san? Kenapa kau membawa-bawa Kaien-san?" tanyaku bingung dengan ucapannya yang mulai melantur.

Ichigo hanya terdiam menatap jalanan di depannya. Dia benar-benar membuatku kesal, membicarakan hal yang tidak kumengerti tanpa penjelasan yang jelas. Aku bukanlah alat pendeteksi pikiran orang, tawake!

"Kau menyukainya, kan?" celetuknya kemudian, tanpa melirikku. "Apa kalian sudah pacaran?"

Lagi-lagi dia membuatku bingung. Dia menganggap aku dan Kaien sebagai sepasang kekasih? Apa kepalanya sudah terbentur aspal tadi?

"Aku lihat dia menciummu. Dan..kau tidak menghindarinya sama sekali. Kau tidak perlu lagi membo—"

"Sebenarnya apa yang sedang kaukatakan, Ichigo?!" teriakku kesal bukan main sambil berlari frustasi. Ini benar-benar menjengkelkan. Kenapa aku harus berlari di saat seperti ini? Tepatnya, kenapa aku harus memarahi si bodoh ini di saat dia sedang bertanding? "Aku dan Kaien bukan sepasang kekasih, tawake! Dan dia tidak menciumku!"

Ichigo terlihat terkejut mendengar perkataanku, tapi berusaha ditutupinya. "Jadi..kau—"

"Kaien-san memang menyatakan perasaanya padaku hari itu…" kataku berusaha merendahkan nada suaraku, sebelum aku kehabisan nafas disini. "Aku menolaknya, Ichigo. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, selain sebagai seorang teman dan idola. Dia bagaikan pangeran berkuda putih untukku, tapi hanya sebatas itu."

Ichigo terdiam, seperti sedang berkelut dengan pikirannya sendiri. Mungkin, ini waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang kurasakan sekarang padanya.

"Dan, Ichigo, aku bisa mengatakannya sekarang," jelasku cepat, sambil menatap Ichigo yang sudah kelelahan di sampingku. Bajunya benar-benar basah oleh keringat dan dia terlihat sangat lemah—dibandingkan dengan saat dia berlatih di lapangan belakang sekolah. "Aku..apakah aku..bisa mempercayakan juga perasaanku padamu, Ichigo?"

Sekarang Ichigo benar-benar menatapku—terkejut. Aku tersenyum puas, melihat dia terpaku pada perkataanku. "Kau sudah…mempercayaiku…mempercayakan perasaanmu padaku..dan sekarang giliranku, Ichigo. Aku membutuhkanmu, tawake. Kupikir…aku menyu..kaimu," kalimatku perlahan berubah menjadi sebuah bisikan. Mukaku terasa benar-benar panas. Aku malu, bahkan untuk menatap wajahnya saja aku tidak berani. Apa yang sedang kaulakukan sekarang, Kuchiki Rukia?

"Kau…tidak berbohong…kan?" tanyanya serak, terdengar menuntut. "Kau tidak..berbohong padaku..Kuchiki Rukia?"

"Aku tidak berbohong, tawake! Bagaimana mungkin aku bisa berbohong padamu disaat seperti ini! Aku lelah!" teriakku kesal. Dia benar-benar terlalu bodoh!

Ichigo tersenyum lebar, yang membuatku seakan meleleh begitu melihatnya. Dia Ichigo yang kukenal, sekarang. Dia sudah kembali. "Kau menyukaiku, Rukia. Kau benar-benar mengakuinya."

"Hah? A…Aku bilang 'kupikir', jadi..aku belum begitu yakin—"

"Aku menyukaimu, Rukia," balas Ichigo, yang membuatku kaget setengah mati. Mukaku kembali memerah begitu melihat mata hazel-orange itu melirikku hangat.

Ichigo tertawa lepas begitu melihat ekspresi anehku. Kutundukan wajahku, berusaha menghindari tatapan jahilnya. "Pergilah, tawake! Kalau kau tidak menjadi juara hari ini, aku benar-benar akan membunuhmu!"

"Heh? Apa—"

"Pergi cepat! Kau tidak boleh kalah begitu saja! Lari, Ichigo!"

Ichigo sekilas tersenyum padaku, sebelum berlari cepat menuju garis finish di depannya. "Tunggu aku di garis finish!" teriakknya menjauh. Aku berhenti dari lari marathon dadakanku dengan nafas terengah-engah. Tenggorokanku benar-benar kering, aku butuh air…segera!

(..)

Kulangkahkan kakiku perlahan menuju garis finish yang sudah dipenuhi kerumunan orang. Jantungku masih berdetak begitu cepat, efek samping dari lari cepatku dan tidak sabar untuk segera menemui Ichigo. Kutemukan sekelompok orang sedang merayakan kemenangan mereka. Kulirik rambut orange yang ikut dalam kerumunan itu. Ichigo..juara? Dia benar-benar berhasil ya.. Senyumku langsung merekah begitu melihat wajah bahagia Ichigo. Teman setimnya benar-benar antusias melihat rekan bodohnya itu memegang medali emas kebanggaan mereka. Ichigo memang benar-benar berbakat sebagai atlit. Cheetah kebanggaan Karakura.

Aku berjalan santai menuju tempat Ichigo, memberi waktu lebih untuk merayakan kemenangannya. Mungkin, setelah ini hubungan kami akan berubah 180 derajat. Apakah aku siap menghadapinya?

"Rukia?"

Aku melirik ke sumber suara di sampingku, mendapati seseorang yang membuatku bergidik takut. Rambut coklatnya tertata rapi, memperlihatkan jelas wajahnya yang memakai kacamata tebal. Wajahnya masih terlihat sama, ramah dan menawan seperti dulu. Namun, senyumnya mengandung arti lain—yang sanggup membuatku bergetar ketakutan karena senyum dan tatapan tajamnya. Aku mundur, berusaha menjaga jarak lebih darinya. "Ki..Kibune-san…"
"Sudah lama ya, Rukia. Bagaimana keadaanmu?" Senyumnya membuat tenggorokanku terasa tercekik oleh tangan kasat mata. Aku ingin segera pergi dari sini, secepatnya.

"A..Apa yang kaulakukan disini?" tanyaku takut, berusaha untuk menghindar. Di sisi lain, aku tidak mau lagi untuk menghindari masa laluku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan juga Ichigo. Selama ada Ichigo, aku bisa menghadapinya seorang diri.

"Aku? Ah..aku panitia dari Sekolah Kasumiouji. Kau sendiri?"

Aku terdiam, menatapnya tajam begitu dia berjalan mendekat. Kulangkahkan kakiku mundur, namun diikuti oleh langkahnya yang ikut maju mendekat. Tanganku mulai bergetar, yang langsung kukepalkan kuat-kuat di samping tubuhku.

"Kau kenapa, Rukia? Kau terlihat..pucat," katanya terdengar sinis. Tangannya terulur menuju wajahku. Aku bergidik melihatnya, terpatung begitu kejadian beberapa tahun yang lalu itu kembali menghantuiku. Tiba-tiba seseorang menarikku ke belakang, membuatku menabrak tubuhnya dengan punggungku.

"Yo, Rukia," sapa Ichigo, melingkarkan tangannya di bahuku. Aku meliriknya di belakangku, terasa begitu lega begitu tangannya kembali melindungiku. Ichigo sudah memakai jaket olahraga putihnya dan menyenderkan tubuhnya padaku. "Siapa kau?"

"Eh? Dia temanmu?" tanya Kibune-san melirikku tajam. Aku memundurkan tubuhku, merapatkan diriku pada pelukan Ichigo di belakangku.

"Aku pacarnya. Kau ada perlu apa dengan Rukia?" tanya Ichigo, terdengar mengancam di belakangku. Dagunya menyentuh kepalaku dan tangannya memelukku erat dalam pelukannya. Aku tidak bisa melihat ekspresi Ichigo dari sini, tapi melihat Kibune-san yang raut wajahnya terlihat sedikit pucat, kupikir Ichigo…mengancamnya?

"Aku hanya menyapa…teman lamaku. Sampai bertemu lagi, Rukia," katanya sambil berlalu pergi, meninggalkanku dan Ichigo. Aku mengeratkan lenganku pada lengan jaket Ichigo, mencengkramnya begitu erat.

"Kau kutinggal dan ada musang licik yang siap menerkammu. Siapa dia?" tanya Ichigo, melirikku dari samping wajahku. Nafasnya terasa hangat, berhembus di pipi kananku.

Aku terdiam, takut mengetahui reaksi Ichigo selanjutnya. "Itu..dia.."

"Hmm? Dia menggaggumu?" tanyanya ingin tahu. Mendesakku.

"Dia..Kibune..Makoto.."

Ichigo terdiam, mungkin dia tidak ingat dengan nama yang Riruka sebutkan tempo hari. Apa mungkin dia ingat?

"Mantan..Riruka…"gumam Ichigo, lebih terdengar memastikan dirinya sendiri. Aku hanya menunduk lemas, lelah sekaligus takut.

Ichigo mengecup kepalaku lembut, membuat bulu kudukku meremang. Wajahku kembali memerah dengan perlakuan anehnya ini. Sebegitu cepatnya kah dia berubah?

"I..Ichigo!" protesku sambil berusaha keluar dari cengkramannya.

"Kau tidak mau kupeluk?" tanyanya jahil, membuatku kembali lagi ke dunia nyata—dunia tenang dimana Ichigo berada.

"Jangan..didepan umum!" teriakku kesal, melihat pandangan beberapa orang menatap kami geli.

"Memangnya apa salahnya? Kau kan pacarku."

Tunggu…tadi sebelumnya Ichigo pernah mengatakan hal yang serupa. Saat dia mengancam Kibune-san? Aku kembali bergidik ngeri. "Pa..pacar?"

"Kau kan sudah bilang kalau kau menyukaiku. Aku juga menyukaimu, mungil. Jadi apa salahnya kalau—"

"Aku bilang kalau aku 'pikir aku menyukaimu'! Jadi, itu belum pasti aku benar-benar menyukaimu, tawake!" kataku kesal dan terlepas dari pelukan eratnya. Aku berjalan menjauh darinya, menghentakkan kakiku kuat-kuat.

"Kau mau kemana?" tanya Ichigo mengikutiku.

"Pulang."

"Aku belum mendapatkan hadiahku," celetuknya, berusaha menyambar tanganku.

"Kau kan sudah mendapat medalinya!" kataku kesal sambil menunjuk medali emas di lehernya.

"Bukan yang ini, tapi yang ini," balasnya sambil menarik tanganku. Tangannya menangkup pipiku dan bibirnya dengan cepat menyentuh bibirku lembut—menciumku.

*(((to be continued…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note :

Yumichika sebenarnya bukan marah dan benci ke Rukia, kok. Dia sebenarnya kecewa dengan sikap Rukia yang lemah, karena selama ini dia melihat Rukia kuat di depan Ichigo. Oiya..tentang masa lalu Rukia aku kasih tahu hintnya: Tidak ada yang tahu tentang kisah Rukia di masa lalu, kecuali Riruka, Senna dan Rukia sendiri. ^^;

Ichigo sebenarnya belum rela melepaskan Rukia (gara2 beranggapan Rukia suka Kaien), tapi dia memberi jarak antara dirinya dan Rukia (bisa dibaca di POV Ichigo, ada kata-kata dia member kebebasan dan jarak buat Rukia). Dia sendiri galau dengan perasaannya. Kalau dia mendekat, dia takut Rukia bakal menolaknya lagi (sama seperti kejadian saat Ichigo mencium Rukia pertama kali).

Aku kaget sendiri sama ending di chapter ini, tiba-tiba kepikiran untuk menulis bagian itu. Senang juga, tapi romance nya belum terasa ^^; Chapter depan bakal ada lebih banyak deh, soalnya hubungan Ichiruki mulai naik ke tahap selanjutnya….hohoho

Buat sistem perlombaan larinya, ini adalah lari jarak jauh per tim.. Bisa dilihat di film Jepang yang berjudul Naoko, dibintangi oleh Juri Ueno dan Haruma Miura. Sebenarnya memang aku ambil dari film ini buat referensi olahraga lari jarak jauhnya..hhehhehe ^^

Balasan untuk anonymous and no-login reviewers :
Guest : Makasih sudah review ya~ Agak maksa ya pernyataan cintanya..hahhaha aku sebenarnya agak lupa juga sama si Kaien, soalnya focus ke Ichiruki sih..XD Ini sudah diupdate, maaf baru sekarang ya..semoga tidak klise..hehe..

Mikyo : Makasih sudah review ya~ Iya, aku update cepat..hehehhe Ichigo cemburu, nih kebaca di chapter ini..hhihhhi Makasih semangatnya ya XD

Rukichigo : Makasih udah review~ ini aku udah update..kalau tamatnya masih agak lama sepertinya..sabar ya..hhihhhii XD

Oce..kalau ada pertanyaan, kritik dan saran, bisa langsung di review atau PM! Hihhhihi…. It''s 3 AM in the morning (not 2AM, kyaaa JinWoon! XD *plak*) so, I missed my pillow so much..XD