Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Brad Paisley-Find Yourself, Whiskey Lullaby, Ai Otsuka-Planetarium, SCANDAL-Harukaze, BENI-Heaven's Door…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Oce..update cepat ini! Hhhihiihi.. Bagi yang berharap ichiruki disini, maaf ga bisa keluarin banyak di chapter ini. Chapter ini full membahas masa lalu Rukia! Finally! Wkwkwkkwkwk… Buat bikin chapter ini aku terus menerus mengulang lagu Planetarium nya Ai Otsuka di laptop, benar-benar lagu yang menurut aku pas untuk chapter ini (walaupun sempet galau juga *abaikan* XD)… Dan aku sangat sangat berterima kasih pada para readers yang masih setia membaca, juga bagi yang baru mulai membaca, salam kenal~ Dan kepada reviewers yang mereview fic ini, yang me-fave n alert fic ini, sungguh membuatku terharu sekaligus semangat untuk menyelesaikan fic ini, segera! Hontou ni arigatou gozaimasu! .

Oce..here we are..the new chapter..hope u like it! Happy reading~

~000*000~

Chapter 13 : Autumn Scene Four

Daun-daun momiji menghampar seperti karpet monokrom orange dan merah di sepanjang jalan taman. Aku memain-mainkan beberapa helai daun di kakiku, mengangkatnya dan kemudian daun-daun itu jatuh kembali ke tempat asalnya. Angin dingin kembali berhembus, membuatku semakin merapatkan jaket tebalku untuk menghalau rasa dingin yang terus menerpa kulitku. Kulirikkan mataku ke kanan dan kiri jalan, mencari-cari sosok kepala orange yang seharusnya sekarang sudah nampak di depan mataku. Namun, hasilnya nihil—hanya beberapa orang saja yang melewati jalan taman ini dan tidak bisa kutemukan warna orange di antaranya, ya kecuali warna daun. Kurogoh tas ranselku dan mengambil hp bergantungan kelinci putih kesayanganku. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih dua puluh menit. Aku menghela napas, menimbulkan kepulan asap putih dari mulutku. Cuaca benar-benar dingin dan aku harus menunggu si bodoh itu lebih dari dua puluh menit sekarang.

Kusenderkan tubuhku di kursi taman ini, sambil memandang daun-daun pohon di atas kepalaku. Aku harus memulai darimana, ya? Menceritakan masa laluku pada Ichigo ternyata tidak semudah yang kupikirkan kemarin malam. Bagaimana kalau aku tiba-tiba gugup? Atau bagaimana kalau Ichigo tidak sependapat dengan apa yang kupikirkan sekarang? Bagaimana kalau seandainya…dia menjauh? Kupejamkan mataku kuat-kuat, berusaha menghalau rasa frustasi yang kembali muncul ke permukaan. Aku tidak boleh berpikiran seperti ini. Bukankah Ichigo selalu percaya kepadaku? Tidak mungkin dia langsung menilai orang hanya dengan sebelah mata saja.

Kurogoh lagi isi tas ranselku, mengambil buku sketsa dan pensil yang selalu kubawa kemana pun. Kumulai lagi aktivitas rutinku, menggambar Chappy edisi musim gugur—berharap ini bisa menghalau pikiran-pikiran yang mulai menyabotase otakku. Kugambar si Chappy musim gugur yang sedang sibuk memain-mainkan daun momiji, alis berkerut, mata tajam, ah..Chappy nya harus berwarna orange. Kuhentikan tanganku yang sedang sibuk menggambar, menyadari kesalahan bodohku. Yang kugambar ini bukan Chappy si musim gugur, tapi Chappy..Ichigo? Kutahan tawaku yang hampir meledak. Ternyata kepintaranku memang berguna di saat-saat seperti ini. Gambar ini bisa kugunakan untuk menghias cream kopi di café nanti, spesial untuk Ichigo. Tidak bisa kubayangkan reaksi apa yang akan dihasilkan wajah berkerutnya itu.

"Wah wah…apa yang sedang kau lakukan disini, nona Kuchiki?"

Suara melengking itu langsung menyadarkanku dari rencana Kuchiki Rukia di Musim Gugur, mendapati warna pink yang berlatarkan orange-merah. Riruka?

Kupicingkan mataku untuk menatapnya. Kenapa dia selalu muncul di saat yang tidak tepat? Dan selalu saja tidak berhenti untuk menggangguku. Riruka memakai pakaian yang tidak biasa. Mantel tebal berbahan bulu selutut, menyembunyikan baju yang dipakai di dalamnya. Sepatu hak tinggi, terlalu tinggi untuk dipakai di siang hari. Tas mewahnya bergantung aman di samping tubuhnya, mungkin tas bermerek yang tidak bisa kubeli dengan seluruh uang jajanku selama sebulan penuh. Gadis angkuh ini berniat pamer?

"Apa yang kaulihat?" tanya Riruka sinis, memelototiku. Langsung kubuang wajahku, mencari-cari objek lain untuk dilihat selain si nona kaya raya angkuh satu ini.

"Bukan urusanmu," celetukku kesal. "Dan bisakah kau berhenti menggangguku?"

"Tidak."

"Apa—"

"Tidak selama kau belum menjauhi Ichigo!" teriaknya sambil menunjukku dengan telunjuk tangannya. Spontan kumundurkan tubuhku, menghindari tangannya yang mendominasi dan memerintah.

"Aku mendekati Ichigo atau menjauhinya itu bukan urusanmu. Ichigo bukan barang."

"Kau tidak pantas untuk Ichigo, gadis kampungan!"

Oke..kesabaran seseorang ada batasnya. Dan kesabaranku sudah hampir melebihi batasnya. "Kau memang selalu menilai orang dari penampilannya, ya?" Memang, aku tidak semenarik dan secantik Riruka. Dia yang selalu tampil modis dan memakai apapun yang memiliki label harga melebihi kapasitas penghasilan rata-rata penduduk di Jepang ini.

"Karena itu, kau tidak pantas di samping Ichigo!" katanya, terlihat semakin mendesakku. "Juga untuk Makoto-san!"

Tiba-tiba perasaanku kembali terdesak. Rasanya aku benar-benar tersudut, kembali ke masa itu. Perasaan ganjil dan seperti terhantam ini, sungguh tidak enak. "Jangan…membawa-bawana Kibune-san disini."

"Memangnya kenapa? Bahkan, kau sudah menyakiti Makoto-san sampai seperti itu. Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan Ichigo—"

"Riruka, hentikan." Suara khas yang terdengar mengancam itu membuatku dan Riruka mengalihkan pandangan sengit kami kepada orang ketiga yang ikut masuk ke dalam pembicaraan kami. Ichigo berdiri di belakang Riruka, menatap tidak suka kepada gadis yang sekarang terlihat ketakutan itu.

"I..Ichigo…" Wajah Riruka terlihat melembut, tidak seganas kucing liar seperti tadi. Dia berusaha mendekati Ichigo, namun sama sekali tidak mendapat perhatian dari orang yang bersangkutan.

"Pergilah, Riruka. Sudah kukatakan bukan, kalau kau mengganggu Rukia lagi kau akan berurusan denganku," kata Ichigo ketus, sama sekali tidak mau memandang Riruka.

"Rukia..dia hanya teman bagimu, kan? Lalu kenapa kau—"

"Dia pacarku."

Aku langsung memelototi Ichigo kaget. Dia selalu saja seenaknya seperti itu, bahkan di saat serius seperti ini. Kutatap Riruka yang tidak lagi berkomentar. Matanya terbelalak kaget, tidak sanggup mengeluarkan kata-kata dari mulutnya yang sedikit ternganga itu. Ichigo menatap Riruka seperti orang yang merasa terganggu, tatapannya seperti mengatakan 'segera pergi dari sini sebelum kesabaranku habis'. Riruka mengernyit kesal, menatapku tajam dalam diam dan segera pergi meninggalkanku dan Ichigo.

Ichigo mendesah lega dan akhirnya menatapku yang sedang terduduk kesal. Tatapannya melembut dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Maaf Rukia, aku datang terlambat. Tadi ada urusan—"

Belum selesai dia berbicara, langsung saja kutendang kaki si bodoh itu. Ichigo mengernyit kesakitan sambil menatapku bingung. "Ke..kenapa kau.."

"Itu karena kau berbicara seenaknya, tawake!"

"Hah?"

"Kau..kau bilang..aku pacarmu?" tanyaku sengit, malu sekaligus marah.

"Memang seperti itu, bukan?" balasnya dengan tatapan polosnya itu, membuat kekesalanku kembali tersulut.

"Itu hanya pendapat satu arah!" Aku memicingkan mataku kesal dan dibalas oleh tatapan jahil Ichigo.

Ichigo mengambil tempat duduknya di sampingku, berusaha mempersempit jarak di antara kami. "Jadi…kau membenciku?"

Aku terdiam, tahu akan niat dan akal liciknya. Ichigo memalingkan wajahnya menghadapku, menatapku dalam diam. Tidak ada jawaban, tidak ada pertanyaan lagi dari dirinya. Hanya kesunyian yang dilatari oleh angin yang berhembus dingin dan suara nafas yang semakin terdengar jelas.

"Kau memang membenciku, ya?" katanya terdengar terpukul dan mulai beranjak berdiri. Dengan cepat aku menggapai tangannya, menahannya untuk beranjak pergi.

"Tidak!"

"Jadi?"

"A..aku tidak membencimu," gumamku kalut, tidak berani menatap matanya.

"Kau menyukaiku?"

Jantungku semakin bertalu cepat. Mukaku terasa panas, memerah yang tidak wajar di cuaca sedingin ini. Ichigo memang benar-benar makhluk orange yang sulit untuk kusudutkan, bahkan ini malah sebaliknya. Dengan mudahnya kau menyudutkanku secara paksa—dasar jeruk bodoh!

"Kau tahu akan seperti ini..kan?" balasku kesal, menatapnya tajam.

Ichigo tersenyum lebar—licik. "Jawab saja."

"Aku..me..menyu… Pokoknya aku tidak membencimu!" ucapku kesal dan menutup mataku karena malu setengah mati. Ichigo tertawa terbahak-bahak di sampingku, yang membuatku semakin malu dan ingin sekali kusembunyikan diriku ini dibawah daun-daun momiji yang berserakan itu.

"Kau ini...mukamu lucu sekali! Seharusnya kufoto saja tadi," katanya sambil berusaha menghentikan tawa gelinya. Spontan aku meninju tangannya sambil memberengut kesal.

"Kau ini benar-benar keras ya, Kuchiki Rukia," protesnya sambil mengusap-usap lengan yang kutinju tadi. Seharusnya aku memukulnya lebih keras tadi, bodohnya baru kusesali sekarang. "Jadi, kenapa kau memanggilku kemari?"

Tatapanku kembali terfokus kepadanya, menatap hazel-orangenya dengan serius. Aku sudah memantapkan hatiku, seharusnya aku tidak boleh takut seperti ini lagi. Kugenggam sebelah tanganku kuat-kuat, menghalau gemetar takut dan dingin yang mulai menyelimutiku perlahan. "Aku..ada yang ingin kubicarakan denganmu," kataku berubah serius. Kutatap daun-daun momiji yang tertepa angin, membawanya ke arah dan tempat yang berbeda—terombang-ambing seperti perasaanku sekarang.

"Ada apa?" tanya Ichigo melembut, mengusap kepalaku perlahan. "Apa yang mengganggumu sampai seperti ini, Rukia?"

Aku terdiam, berusaha menimbang-nimbang apa yang harus kukatakan selanjutnya. Tangan besar Ichigo menggapai tanganku dan mengambilnya dalam genggaman hangatnya. Dia mengusap-usap ibu jarinya di atas punggung tanganku, berusaha menenanganku. Ichigo…ternyata dia orang yang bisa membaca perasaan?

"Ini..tentang Kibune-san. Tentang masa laluku," ucapku perlahan. Kutatap mata Ichigo yang berubah tajam, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak kumengerti.

"Orang yang mengganggumu waktu itu?"

Aku mengangguk pelan dan menarik nafas untuk memulai kisah kelamku. "Kupikir, kau seharusnya tahu tentang aku, Riruka, dan Kibune-san. Kau selalu membantuku selama ini, padahal sama sekali tidak mengerti jelas masalah di antara kami. Maaf...aku baru mengatakannya sekarang."

Tangan Ichigo tidak berhenti memainkan tanganku dalam genggamannya. Dia beringsut mendekat, memberikan kehangatan yang memang kubutuhkan sekarang ini. "Tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak memaksamu. Akan kudengarkan apapun yang sanggup kau ceritakan," ucapnya lembut.

Aku tersenyum miris menanggapi sikap Ichigo yang terlalu baik seperti ini untukku. Walaupun sikapku yang keras dan tertutup di depannya ini, dia sama sekali tidak memaksa untuk menerobos tembok kokoh yang kubuat dengan sengaja selama ini. Namun, tembok itu berhasil runtuh karena dirinya. Keberadaan dirinya lah yang tanpa sadar membuatku merobohkan tembok yang sudah kubangun susah payah dalam waktu yang cukup lama ini—sungguh tragis.

"Baiklah," ucapku, berusaha kuat untuk apapun reaksi yang akan diberikan Ichigo setelah mendengar apa yang kukatakan.

(..)

(..)

(..)

~The Remorse and Sorrow~

The flashback

Kibune Makoto mengulurkan tangannya padaku yang masih jatuh terduduk. Dia sama sekali tidak terlihat terganggu atau marah setelah tidak sengaja kutabrak tadi. Dia..tersenyum padaku. Tatapannya yang ramah dan hangat membuat wajahku langsung memerah. Benar-benar tidak terduga, aku menabrak Kibune-san—si murid populer dengan julukan 'si pangeran kamus berjalan'—dan mendapatkan perlakuan baik darinya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut, senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. "Maaf, aku menabrakmu."

"Eh? Ah, aku tidak apa-apa. Justru aku yang menabrakmu," kataku buru-buru sambil menunduk malu.

"Kau tidak berdiri? Apa kakimu sakit?"

Dengan sigap aku mendongak dan mendapati tangan Kibune-san masih terjulur untukku. Kikuk dan malu yang kurasakan sekarang dan berusaha tenang untuk menerima uluran tangannya. "Terima kasih."

"Kibune Makoto."

"Eh?"

"Itu namaku," katanya sambil menahan tawanya. Mukaku kembali memerah, kali ini karena kebodohanku sendiri.

"Kuchiki Rukia. Salam kenal, Kibune-san," ucapku kikuk dan berusaha menunjukkan senyumku padanya.

(..)

"Makoto-san!"

Kulirik jendela dan mendapati pemandangan mengejutkan di bawahku. Seorang gadis berambut pink maroon mendekati dan menggandeng tangan Kibune-san. Dia terlihat gembira bersanding dengan Kibune-san, begitu pula sebaliknya. Jadi, itu ya Riruka Dokugamine, kekasih Kibune-san.

Aku mendesah kesal, perasaan ini kembali mengganggu diriku. Mereka memang pantas sebagai pasangan yang serasi. Wajah cantik dan tubuh yang seperti model majalah fashion ternama, membuat Riruka diincar banyak siswa di sekolah, tidak terkecuali Kibune-san. Dia sungguh beruntung mendapatkan Kibune-san yang ramah dan baik hati, seseorang yang bisa menjaganya dengan baik. Seandainya aku yang ada di posisi Riruka sekarang dan menjadi pacar Kibune-san...ah! Itu tidak mungkin, Kuchiki Rukia. Gadis kikuk seperti diriku tidak mungkin pantas bersanding dengan seorang pangeran seperti diri Kibune-san. Sungguh mustahil.

(..)

"Aku menyukaimu, Kuchiki."

Rasanya...waktu seakan berhenti sekarang. Meninggalkanku sendirian di dunia ini, tanpa siapa pun. Tanpa Kibune-san yang sekarang berdiri di depanku. Ini tidak mungkin terjadi, bukan? Kibune-san...mengatakan rasa sukanya padaku? Jantungku berdetak begitu cepat dan mulutku mulai terasa kelu. Tanahku berpijak terasa tidak terbayang dan membuat tubuhku terasa melayang. Semuanya terasa ringan, bahkan kepalaku pun terasa seperti kotak kosong yang tidak berisi apapun. Tidak bisa berpikir.

"Kuchiki, maukah..kau menjadi kekasihku?"

Aku bergidik kaget, mendengar pernyataannya selanjutnya. Kibune-san ingin menjadi pacarku? Bagaimana mungkin aku melepaskan kesempatan ini begitu saja? Tapi...tunggu dulu...bukankah Kibune-san masih berpacaran dengan Riruka?

Aku menelan ludahku dan mengeratkan kedua telapak tanganku kuat-kuat di samping tubuhku. Kuusahakan otakku untuk memulai kerjanya kembali. Saat ini aku benar-benar membutuhkan akal sehatku. "Ki..Kibune-san..tapi..bukankah..Riruka—"
"Memang, aku masih berpacaran dengan Riruka."

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi saat ini? "Kibune-san..tapi.. kenapa kau..meminta untuk menjadi...pacarku?"

Kibune-san menundukkan wajahnya sesaat, terlihat sedang berpikir keras. Tiba-tiba kedua tangannya mencengkram pundakku erat, membuatku terlonjak kaget. Tatapannya melembut, namun serius dan ada sesuatu yang tidak biasa disana. Entahlah, tapi aku merasakan perasaan aneh dari matanya yang menatapku tajam. "Aku..aku mungkin egois. Aku tidak bisa memutuskan Riruka begitu saja, karena dia masih mencintaiku. Dan aku tidak tega membuatnya terluka, Kuchiki. Tapi, aku juga tidak bisa berbohong, kalau aku sangat menyukaimu. Aku mencintaimu, Kuchiki Rukia."

Aku terdiam, mulutku terkatup rapat. Perasaan sukaku pada Kibune-san selama ini tiba-tiba saja menguap—menghilang. Aneh. Tapi, aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Seharusnya aku senang begitu mendengar pernyataan Kibune-san ini, tapi ini terasa tidak benar. Sama sekali tidak benar. "Jadi...aku menjadi pacarmu..juga? Ini tidak mungkin Kibune-san..Riruka kan masih—"

"Hubungan kita tidak perlu diketahuinya," kata-kata Kibune-san semakin menghantamku tajam dan cengkramannya di pundakku semakin erat—seperti cakar seekor burung gagak. "Kita..bisa menjalin hubungan diam-diam. Jadi, Riruka tidak akan mengetahui hal ini."

Begitu. Jadi dia ingin aku menjadi pacar gelapnya? Di balik hubungannya dengan Riruka? Juga tidak diketahui oleh setiap populasi di sekolah ini? "Kibune-san—"

"Kau menyukaiku, kan? Kuchiki?" katanya, lebih seperti berbisik lembut. Matanya tidak lepas menatapku, seperti menghipnotis. "Kupikir, kita bisa melalui semua ini. Tanpa perlu bantuan orang lain. Tanpa gangguan Riruka."

Spontan kudorong tubuhnya menjauh, melepaskan cengkramannya pada pundakku. Aku melotot, marah, kesal, namun tidak bisa kukeluarkan secara langsung di depannya. Aku...terlalu lemah bila berhadapan dengan Kibune-san. "Maaf, Kibune-san. Aku...aku tidak bisa!"

Kibune-san menatapku terkejut. Tangannya masih kaku terdiam di posisi pundakku tadi, melayang di udara tanpa pijakan lagi. "Kuchiki—"

"Aku..aku menghargai perasaanmu, Kibune-san. Tapi kita tidak bisa membohongi Riruka seperti itu. Aku tidak mau membohongi orang-orang di sekitarku, teman-temanku... Sungguh, maaf Kibune-san." Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, meminta maaf, sebelum beranjak pergi meninggalkan Kibune-san yang masih berdiri terpaku di belakangku.

(..)

Brak! Tubuhku menabrak dinding begitu kuat, hingga membuat pundakku berdenyut nyeri. Kutatap Riruka marah, berusaha membalasnya. Tapi cengkramannya begitu kuat menahan tubuhku di dinding.

"Jangan seenaknya berulah, Kuchiki Rukia!" teriaknya marah, membuatku mengernyit sakit karena luka di pundakku. Teman-temannya mendukung Riruka di belakangnya, ikut menatapku kesal.

"Apa maksudmu, Riruka?" kataku berusaha meronta, tapi tidak berhasil. Dia kembali menubrukkan tubuhku ke dinding batu, membuat lukaku semakin terasa sakit. Lorong sekolah sudah sepi, tidak ada siapapun yang lewat sekarang. Mungkin aku berteriak sekalipun tidak ada yang mendengar sekarang. Sungguh ironis.

"Makoto-san itu pacarku! Jangan seenaknya kau merebutnya dariku!"

"Aku tidak merebut Kibune-san darimu!" balasku teriak, mendorong tangannya di pundakku dan menghindar darinya. Riruka menatapku kesal, seperti menatap mangsanya yang berusaha kabur.

"Makoto-san sendiri yang mengatakannya padaku kalau kau menyukainya! Kau pikir siapa dirimu, hah? Menyandang nama Kuchiki langsung membuatmu bisa bertingkah seenaknya? Jangan bermimpi!"

Aku terpaku, tidak bisa mengeluarkan kata-kataku untuk menyerang Riruka. Jadi...Kibune-san berbohong pada Riruka? Bukankah dia yang mengatakan suka padaku? Tapi, kenapa dia mengatakan hal yang sebaliknya pada Riruka? Sepengecut itukah diri Kibune Makoto?

"Jangan pernah mendekati Makoto-san lagi, sebelum aku menyebarkan hal yang tidak ingin kau dengar, Kuchiki!" teriaknya sambil tersenyum lebar, membuatku jijik dan ingin menjambak rambut pink bodohnya itu. Namun, aku tidak bisa bertindak seenaknya, sesuka hatiku. Aku harus bisa berpikir dengan kepala dingin. Itulah yang diajarkan nii-sama padaku. Tenanglah Rukia...

"Apa maksudmu, Riruka? Kau tidak bisa mengancamku."

"Memangnya kau tidak tahu tentang gosip dirimu dan kakak iparmu? Gosip yang mengatakan bahwa kau menyukai kakak iparmu sendiri, begitu pula sebaliknya. Tidakkah kau sadar kalau kau menyakiti kakak kandungmu sendiri, Rukia? Sungguh rendah!"

Sudah cukup kesabaranku bertahan. Hal yang kulakukan selanjutnya adalah berlari secepat-cepatnya dan berusaha menggapai rambut pink itu dalam genggamanku—sekuat-kuatnya. Tidak ada yang boleh merendahkan nii-sama ataupun nee-san seperti itu. Tidak akan kubiarkan.

(..)

"Kau mengecewakanku, Rukia." Nii-sama sama sekali tidak mau melihatku. Tatapannya terus tertuju ke arah lain, selain diriku yang merengut kesal dan marah di sofa ini. Nee-san terus menerus mengusap pundakku lembut, berusaha menghilangkan rasa sakit yang berdenyut di sana. Namun sakitnya sekarang bertambah. Ya...di dalam hatiku. Perasaanku.

"Apakah kau tidak tahu tentang keluarga Dokugamine? Mereka bisa langsung mengeluarkanmu dari sekolah itu—"
"Tapi nii-sama, aku tidak bisa membiarkan dia seenaknya menghina keluarga ini begitu saja! Dia menjelek-jelekkan keluarga Kuchiki dan—"

"Cukup Rukia."

Aku terdiam tidak percaya. Nii-sama tidak mau membelaku sama sekali. Bahkan, nee-san sama sekali tidak berkomentar apa-apa sejak tadi. Pembelaanku yang habis-habisan seperti ini, bahkan hampir membuat mulutku robek dan penuh luka, sama sekali tidak mendapat dukungan dari keluargaku sendiri?

Nii-sama menghela nafas dan tiba-tiba matanya menatapku. Sedih. Iba. Entah apa yang terpatri disana hingga membuatku ingin menghantamkan kepalaku sendiri ke dinding. "Ini bukan berarti aku tidak mendukung pendapatmu, Rukia. Gosip buruk tentang keluarga ini akan hilang dengan sendirinya, kalau memang itu tidak terbukti benar. Yang harus kau lakukan hanyalah mengangkat kepalamu dan bersikap tenang. Selama kau yakin kau benar, orang-orang di sekitarmu tidak akan berani untuk membantahmu. Kau sudah masuk ke dalam keluarga Kuchiki, Rukia. Seharusnya kau tahu akan hal itu."

Aku menundukkan kepalaku, malu sekaligus kesal. Memang benar apa yang dikatakan oleh nii-sama. Seharusnya aku bisa berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan emosi.

(..)

"Rukia, dengarkan aku!" Kibune-san menarik lenganku paksa, menghentikan langkahku untuk menuruni tangga dan segera pergi dari sini.

"Apa lagi yang harus kudengar? Kau membohongi Riruka, Riruka menyudutkanku, aku memukulnya, dan sekarang aku mendapat hukuman dari sekolah. Seharusnya kau menjauhiku, Kibune-san!"

"Aku menyukaimu!" balasnya, memaksa. Tangannya sama sekali tidak mau melepaskan tanganku bebas.

"Kalau kau menyukaiku, kenapa kau berbohong?" kataku sinis, menatapnya penuh amarah.

Kibune-san berusaha mengajakku berkompromi dengannya. Dia sama sekali tidak terlihat marah maupun kesal. "Maaf, Kuchiki. Aku tidak bermaksud membohongimu maupun Riruka. Ini hanya kesalahpahaman."
Ya..terserah kau saja, Kibune-san. Aku sama sekali tidak peduli dengan sikapmu.

"Jadilah pacarku!"

Kupelototi Kibune-san tidak percaya. Kenapa dia masih membahas masalah itu? "Kau? Kenapa kau tidak menghentikan sikap konyolmu itu?!"

"Kuchiki?"

"Jangan bersikap bodoh! Seharusnya orang sepertimu bisa membaca situasi sekarang! Dan jangan membuat masalahku bertambah rumit—"

Tiba-tiba tangannya mencengkram pundakku—lagi—dan mendorongku ke dinding di belakangku. Matanya berubah tajam, mengerikan. Sikap hangatnya sudah hilang sama sekali—lenyap. Ini bukanlah diri Kibune-san. Bukan 'si pangeran kamus berjalan yang ramah itu'. Bukan orang yang menolongku saat aku terjatuh menabraknya waktu itu. Tidak...inilah diri Kibune Makoto yang sebenarnya.

"Jaga mulutmu, Kuchiki!" ancamnya berbisik. "Kau hanya perlu mengatakan 'iya' dan menerima perasaanku, kenapa itu terasa sulit bagimu?"

Aku terdiam, terlalu takut untuk menghadapi amarahnya sekarang. Benar-benar membuatku tersudut dan tidak bisa berkutik.

"Aku benar-benar menyukaimu! Mencintaimu! Jadi, inikah yang kuterima darimu, Kuchiki Rukia?" katanya sambil menundukkan wajahnya, menyembunyikan serigaian putus asanya. Dia tertawa, miris. Dan itu benar-benar membuatku bergidik ngeri. "Bahkan mengancammu dengan gosip itu pun tetap membuatmu tidak jera, Kuchiki."

"Apa...maksudmu—"

"Akulah yang menyebarkan gosip miring tentang keluargamu. Tidak kupercaya akan cepat tersebar secepat ini!"

Jadi... "Jadi...kau yang melakukannya. Tapi..kenapa?"

"Karena kau menolakku. Kau merendahkanku. Kau menjauhiku. Sebenarnya apa maumu?"

Sebenarnya apa maumu, Kibune Makoto? "Kau benar-benar...rendah..." gumamku marah, mengatupkan mulutku kuat-kuat—berusaha menahan amarah. "Kau—"

Dia menghantamkan tubuhku lagi ke dinding, membuat luka di pundakku semakin terasa sakit. Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh, tapi tidak berhasil. Lagi-lagi dia menghantamkan tubuhku, sambil mencengkram kerah bajuku kuat-kuat.

"Dengar, Kuchiki. Seharusnya kau bisa menggunakan pikiranmu saat itu. Kau tidak perlu menolakku dan mengikuti apa yang kupinta. Menjadi kekasihku. Apa sulitnya kau mengatakan hal itu? Kau menyukaiku selama ini, bukan?"

"Kau gila—"

"Aku selalu mendapatimu melirikku dari jauh. Wajahmu yang memerah saat kusodorkan tanganku untuk menolongmu. Benar-benar gadis polos. Karena itulah aku menyukaimu, tidak seperti Riruka yang manja dan selalu mengganggu itu."

"Lepaskan aku—"

"Sekarang, maukah kau menuruti perintahku? Menjadi kekasihku? Dengan senang hati aku akan membantumu menghapus gosip buruk tentang keluargamu itu. Aku memiliki koneksi yang luas, tidak sulit untuk melakukan hal itu."

"Lepaskan aku!" teriakku keras dan berusaha mendorong tubuhnya. Kibune-san membalasku dengan mencengkram kerah kemejaku dan menariknya kuat-kuat hingga beberapa kancingnya terlepas. Mataku terbelalak kaget dan berusaha mencakar tangannya kuat-kuat. Tapi, seringaian di wajahnya itu semakin melebar, seakan-akan bisa terus melebar sampai mulutnya robek.

"Kau benar-benar keras kepala, Kuchiki!" Tangannya semakin menarik bajuku kuat-kuat, melepas kancing yang tersisa disana. Panik, takut, marah, mulai melandaku bersamaan. Spontan aku menendang kakinya dan mendorong tubuhnya kuat-kuat. Dia hilang keseimbangan, terjatuh dan kupikir inilah kesempatanku untuk lari dari sini. Tapi, tubuhnya tidak membentur lantai, namun jatuh bebas ke arah anak-anak tangga di belakangnya. Aku terdiam di posisiku. Melihat tubuhnya yang berguling membentur anak-anak tangga dan kemudian berakhir dengan tergeletak di bawah sana tanpa bergerak...sedikitpun. Suara teriakan membuatku terbangun dari tatapan terpakuku pada tubuh Kibune-san. Dan yang kusadari selanjutnya adalah kerumunan beberapa siswa di bawah sana dan seseorang menarik tanganku menjauh, meneriakan namaku berulang kali.

(..)

(..)

(..)

"Guru-guru menginterogasiku secara bergilir dan menyatakan bahwa semua itu adalah kesalahanku. Semua teman-temanku mulai menjauhiku, tidak mau mendekatiku sedikitpun. Bahkan, nii-sama…sungguh sangat kecewa melihat sikap bodohku itu. Lalu, Kibune-san harus dirawat di rumah sakit selama sebulan lebih dan aku dikeluarkan dari sekolah itu tanpa keringanan yang diberikan sedikitpun. Tentu saja, Dokugamine berpengaruh besar sebagai yayasan sekolah dan sosok Riruka yang mendukung seratus persen pengeluaranku dari sekolah sama sekali tidak—"

Tangan Ichigo membuatku tertegun kaget, mengelus pipiku lembut, menghapus air yang mengalir dari pipiku. Air? Airmata? Aku...menangis?

"Rukia," panggilnya lembut dan memelukku erat dalam kehangatannya.

"Kenapa...kau memelukku?" kataku datar. Airmata terus mengalir dari mataku, tanpa emosi. Anehnya, itu seperti hal alami yang keluar dari mataku dengan sendirinya, tanpa perasaan sedih, kesal, kecewa. Hanya kehampaan.

"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari awal?" tanyanya terdengar emosi. "Seandainya saja kau menceritakannya lebih cepat, Rukia. Dia sudah kupastikan tidak akan bisa berjalan selama—"

"Ichigo!" protesku, tidak mau mendengar ancamannya lebih jauh lagi. Aku tidak mau dia terus melakukan hal ini untukku. "Jangan..jangan melakukan hal bodoh seperti itu. Kumohon." Kucengkram lengan jaketnya kuat-kuat, sambil membenamkan wajahku di pundaknya.

"Bahkan Riruka pun membohongiku. Dia—"

"Riruka tidak bersalah. Dia juga..dibohongi Kibune-san."

Ichigo kembali terdiam. Tubuhnya menegang dan tidak tenang sama sekali sejak awal aku bercerita. Pelukannya semakin mengerat, membawa tubuhku mendekat dan bersender pada dada bidangnya. Hangat. Itulah yang kurasakan sekarang.

"Terima kasih...Ichigo."

"Untuk apa?" tanyanya, masih terdengar emosi. Nafas hangatnya menggelitik leherku lembut. Wajahnya semakin terbenam dalam leherku, membuat tanganku secara spontan membelai kepala orange nya lembut.

"Memelukku. Memberiku kehangatan. Sekarang...tidak terasa dingin lagi," ucapku, berbisik.

Ichigo menarik dirinya dari tubuhku. Tangannya menangkup wajahku dan mendorong wajahnya ke arahku. Bibirnya melumat bibirku cepat, membuatku mendesah tidak bisa berkutik. Hangat, hasrat, kepercayaan, emosi, ketergantungan, kesedihan. Semua itu bercampur aduk dalam ciumannya kali ini, tidak seperti sebelumnya. Dia menjauhkan wajahnya, sesaat sebelum aku mati kehabisan nafas. Dahinya menempel pada dahiku, enggan untuk menjauh. Matanya menatapku lekat, membuatku rela untuk menatapnya sepanjang waktu tanpa perlu berkedip. Kenapa matamu bisa seindah ini, Kurosaki Ichigo?

"Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu, Rukia. Mulai saat ini dan seterusnya," ucapnya lembut, membuat jantungku berdenyut nyeri. Ichigo, ingin melindungiku. Ini benar-benar sesuatu yang tidak kuharapkan selama ini. Perasaan yang selama ini kututup, takut untuk kukeluarkan lagi. Takut untuk menyakiti lagi. Takut Ichigo terluka karena kebodohanku, karena sikap penolakanku. Namun, itu sama sekali tidak berguna sekarang. Rasa takut itu lenyap karena hazel-orange yang menatapku sekarang. Tidak. Sejak awal, rasa takut itu memang tidak ada. Sejak pertama kali aku menatapnya dari balik counter café. Rasa takut itu hanyalah kemunafikan dari diriku.

Dia berbeda. Ichigo berbeda dengan Kibune-san. Dia tidak akan menyakitiku. Aku tidak akan menyakitinya. Itu karena aku menyukainya. Aku menyukainya hingga perasaan ini meluap tidak tertahankan. "Aku mencintaimu, Kurosaki Ichigo."

*(((to be continued...)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note :

Apa perasaan Rukia bisa tersampaikan dengan jelas? I hope so...hehehhehe.. Benar-benar susah buat menjelaskan apa yang dirasakan Rukia pada Ichigo. Tapi, yang jelas, disini dia sudah mengakui perasaan sukanya pada Ichigo. Selama ini dia tidak bisa menyatakan perasaan sesungguhnya, karena takut Ichigo tidak menyukai dirinya dan tidak percaya saat Rukia menceritakan masa lalunya. Dia takut dinilai buruk sama Ichigo...hohohoh

Rukia memang trauma dengan perlakuan Kibune pada dirinya, juga karena kejadian itu, dia jadi dikucilkan orang banyak. Bahkan, nii-sama nya pun kecewa karena Rukia tidak mendengar kata-kata kakaknya itu sebagai salah satu anggota keluarga Kuchiki. Oya, keluarga Kuchiki disini berpengaruh cukup besar di Jepang, karena usahanya di bidang mengimport-ekspor wine-wine ternama di dunia. Jadi bukan karena gelar bangsawan seperti di anime nya saja..hohohooh..

Kibune itu sedikit..psycho ya..bisa dibilang begitu. Ada yang pernah nonton episode Kibune di anime nya? Disitu dia diceritakan begitu ambisius dan terobsesi buat mendapatkan kekuatan, tanpa menghargai kerjasama kawan-kawannya. Nah, sifat ambisius yang berlebihannya itu aku ambil dari animenya, bedanya disini dia terobsesi sama perasaan sukanya ke Rukia. Intinya, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya..creepy TwT

Riruka disini bukan antagonisnya ya, dia murni bodoh dan diperalat Kibune buat menyudutkan Rukia. Riruka memang cinta mati sama Kibune, di fic ini, jadi percaya aja apa yang dibilang Kibune ke dirinya... Tapi dia belum sadar kalau dirinya itu jadi korban disini, makanya waktu ketemu Rukia di cafe (beberapa tahun setelah kejadian masa lalu itu) dia kembali menyudutkan Rukia, karena dia pikir Rukialah yang bersalah..

Balasan untuk anonymous and no-login reviewers :

Rukichigo : Makasih udah review ya..hihihi.. oya? Jadi malu..eheheheh *plak!* makasih banyak XD

krabby patty : Makasih ya udah review! Hihihihih…eh? Aku ga kepikiran sampe kesananya..hahahha ada2 aja XD Ichi jauhin Ruki bukan karena cemburu aja, kok. Itu karena dia mau ngasih kelonggaran buat Ruki yang nentuin perasaannya sendiri..hohoho.. Iya, Grimm ga sama Ruki disini, xixiiixi.. Om? Wkwkkwk ak ngakak si Kibune dibilang om! Setuju! Soalnya aku ga suka sama dia..hahahhaa.. dia keungkap kok perannya di chapter ini..^^

Oce..kalau ada pertanyaan, kritik, dan saran, silahkan di review atau bisa lewat PM.. Ditunggu ya! XD