Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: Lifehouse- Between the Raindrops (feat Natasha Bedingfield), It is What It is, Mika- Underwater…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Oce! Masuk ke season baru! Winter season XD Gomen sebelumya, janji untuk update cepat, tapi malah lama… Semoga para readers suka dengan chapter ini…hihhhhi… Selama pembuatan chapter ini, aku bener-bener cuman dengerin lagunya Between the Raindrops nya Lifehouse . Apalagi untuk ngebayangin perasaan Rukianya..sedikit susah buat ngebayanginnya, menurutku (little bit complicated…) Dan juga referensi dari Hell Verse Bleach, movie ke empatnya, benar-benar miris liat Ichigo disitu TwT.. Disini aku berusaha menjelaskan melalui normal' POV (author POV ya?) dan ini pertama kalinya aku buat selama aku menulis di fic..hehehhee..maaf kalau agak aneh..
Juga tidak lupa author berterima kasih banyak buat para readers! Terima kasih untuk yang masih setia membaca, juga bagi yang baru membaca, salam kenal smua .! Juga para reviewers yang sudah mereview TwT, yang sudah me-follow, me-fave, bahkan me-alert author..yang selalu memberi semangat…hontou ni arigatou gozaimasu, minna-san! Ureshii~
Oce..happy reading all, hope u all like it! XD
~000*000~
Chapter 15 : Winter Scene One
"Jadi…apa yang dia katakan itu benar, Rukia?" suara nii-sama seakan mendesakku untuk menceritakan segala yang sudah terjadi, beberapa saat yang lalu. Dan perasaan tertekan sekaligus terpojok ini, membuatku enggan untuk membuka mulutku—sekedar melindungi hubunganku dengan Ichigo di depan nii-sama. Menggantikan mulutku untuk berbicara terbata-bata sekalipun, tanganku mencengkram Chappy besar yang memang sudah ada di dalam pelukanku sejak awal. Pelampiasaan ketidakberdayaanku. Kupikir, menjelaskan apapun sekarang tidak akan mengubah keadaan. Nii-sama benar-benar…terlihat kesal.
"Rukia?" Sekarang nii-sama melirikku sinis, membuatku semakin ingin menyembunyikan wajahku dibalik Chappy lembutku ini.
"Byakuya, kau menakuti Rukia," tegur nee-san lembut sambil mengelus kepalaku yang sekarang sudah terbenam di balik kepala Chappy. "Tidak apa-apa kan kalau Rukia menyukai Ichigo-kun?"
"Jangan terlalu memanjakannya, Hisana. Lagipula, aku tidak mempercayai bocah itu."
Aku semakin mengkerutkan alisku, tidak suka mendengar nii-sama memanggil Ichigo dengan sebutan bocah. Nii-sama memergokiku menatapnya tajam, dengan cepat kusembunyikan lagi wajahku di balik Chappy.
Nii-sama mendesah sesaat, sama sekali tidak terdengar mengurangi kekesalannya. "Kau benar-benar keras kepala, Rukia. Apa benar kau menyukai bocah itu?"
Kuangkat kembali wajahku dan mendapati raut serius di wajah nii-sama. Sikapnya masih terkesan tegas, duduk tegap di hadapanku yang memang terlihat jelas sebagai kepala keluarga ini—terlihat dominan dan berkuasa. Nii-sama yang sedang bersikap biasa saja dan yang sedang dalam kondisi serius ini sama sekali tidak ada perbedaan yang terlihat kentara. Keluarga Kuchiki benar-benar menyeramkan.
"Tidak apa-apa, Rukia. Byakuya tidak akan memarahimu," kata nee-san di sebelahku, sambil mengusap-usap punggungku. "Aku jamin."
Aku melihat nii-sama sedikit mendelik pada istri kesayangannya ini. Membuatku ingin tertawa geli sekarang. Tapi, kuurungkan niatku, sebelum membuat nii-sama semakin jengkel terhadap sikapku. "Ni..nii-sama," ucapku sedikit bergetar dan mendapati tatapan nii-sama kembali fokus padaku. "Aku..aku benar-benar menyukai Ichigo. Karena itu, kumohon..jangan bersikap buruk padanya, nii-sama."
Nii-sama terdiam, matanya terpejam. Dia mulai memikirkan sesuatu, yang aku tidak tahu apa pendapatnya mengenai diriku dan Ichigo. Aku hanya bisa menahan napas, menghadapi keheningan tegang yang sekarang tiba-tiba muncul mendadak di ruangan keluarga ini. Jam dinding berdetik nyaring, memakan waktu secara perlahan. Seandainya waktu berpihak padaku sekarang, aku ingin sekali memutar waktu kembali lebih cepat dari biasanya. Membuatku untuk bisa segera berlari ke kamar, tidur bersama Chappy baruku, dan melirik hp ku setiap beberapa menit sekali—menunggu pesan yang akan dikirim oleh Ichigo. Tunggu..Ichigo bukanlah tipe orang yang akan mengirimkan pesan setiap malam sebelum menjelang tidur, bahkan selama ini jumlah pesan yang dikirimnya padaku bisa kuhitung dengan jari—sungguh tidak banyak. Baiklah, mungkin dia akan meneleponku sebelum aku tertidur. Tapi…itu juga kemungkinan tidak akan dilakukannya. Dia bukanlah tipe orang yang akan menelepon setiap saat, kecuali kalau itu memang hal yang penting. Mau tidak mau, aku harus merubah jadwal yang sudah tertera di otakku? Segera berlari ke kamar, tidur bersama Chappy baruku, dan…tidur. Hanya tidur dan berharap Ichigo bisa ikut menemaniku tidur dalam mimpiku. Itu tidak buruk juga…bukan?
"Apa yang kausukai darinya?" tanya nii-sama lagi, menghancurkan lamunanku begitu saja. Dan kembali kedalam ketegangan yang menungguku sejak awal.
"A..aku.." Sekarang suaraku benar-benar bergetar hebat. Apa yang kusukai dari Ichigo? Mata hazel-orange hangatnya? Senyum menawannya? Kelembutan dari tangannya? Kehangatan pelukan yang diberikannya? Suara beratnya yang berbisik di telingaku? Tawanya yang membuatku ingin sekali menendang kakinya setiap saat? Bibirnya yang mencium bibirku lembut? Ti..tidak mungkin kukatakan itu semua pada nii-sama!
"Rukia? Wajahmu memerah," tegur nee-san sambil mengusapkan jarinya pada pipiku yang terasa panas. Sekarang aku mulai panik. Benar-benar panik.
"Apa karena boneka kelinci yang dia berikan padamu itu?" lanjut nii-sama yang melirik Chappy di dalam pelukanku.
Nee-san tertawa geli, yang sama sekali tidak mencairkan suasana sekarang. "Byakuya, Ichigo-kun tidak bermaksud membeli perasaan Rukia hanya dengan sebuah boneka kelinci."
Nii-sama terdiam, memandang nee-san dengan tatapan bingung. Nii-sama benar-benar tahu kalau aku menyukai Chappy yang sudah seperti bagian dari kehidupanku ini. Sumber nafasku. Jadi, nii-sama berpikir kalau Chappy ini…
"Bukan seperti itu, nii-sama! Ichigo tidak memaksaku untuk menyukainya, dengan membelikan Chappy ini untukku!" kataku antusias sambil mengangkat Chappy besar dari pangkuanku. "Ini..aku yang..memintanya."
Nii-sama mengangkat alisnya bingung. Tangannya masih saling terlipat di depan dadanya dan posisi duduknya sama sekali tidak berubah sejak tadi. Berbeda denganku yang sama sekali tidak merasa nyaman untuk duduk disini sekarang. Déjà vu?
"Begitukah?" ucap nii-sama. "Kupikir kita sudahi pembicaraan ini sampai disini, ini sudah malam. Tidurlah, Rukia."
"Eh? Ta..tapi—"
"Jangan membantah, Rukia," balas nii-sama tegas.
Aku mendesah pasrah, bangun dari dudukku dan segera berjalan menuju kamarku dengan lemas. Ini tidak berarti nii-sama melarang, maupun merestui hubunganku dengan Ichigo. Tapi, tetap saja diantara kedua jawaban itu semakin membuatku tidak tenang. Nii-sama belum 'mengetuk palu' nya untuk menuntaskan masalah ini.
"Selamat malam, nii-sama, nee-san," kataku sambil menundukkan tubuhku—memberi salam selamat malam formal, yang sudah menjadi kebiasaanku di samping kewajiban sikap seorang Kuchiki. Benar-benar sulit.
"Dan..nii-sama.." ucapku sebelum lupa mengatakan hal penting ini padanya, walaupun rasanya seperti menggali liang kuburku sendiri—mencari masalah dengan kepala keluarga Kuchiki. "Dia…bukan bocah. Namanya Kurosaki Ichigo."
(..)
(..)
(..)
Normal's POV
Sesaat setelah Rukia menaiki tangga menuju kamarnya, Byakuya menghela nafas frustasi sekaligus lega. Frustasi karena hubungan adik iparnya dengan bocah berambut tidak biasa itu. Dan lega karena masalah ini harus ditundanya sekarang, untuk menghindari sakit kepala yang mulai berdenyut pelan di pelipisnya. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya dan masalah baru mulai muncul sekarang. Begitu beratnya menjadi kepala keluarga. Itulah yang disadarinya sekarang ini.
"Byakuya, kupikir kau harus segera istirahat," bujuk Hisana yang tersenyum lembut melihat suaminya masih terus berkutik dalam pikirannya sendiri. "Kau tidak perlu memaksakan diri sampai seperti itu."
"Bagaimana menurutmu, Hisana?" balas Byakuya, yang ternyata masih enggan untuk segera bangkit dari duduknya dan kembali menuju tempat peristirahatannya. "Bocah itu benar-benar tidak bisa kupercaya."
"Ichigo-kun? Menurutku tidak ada salahnya kau merestui hubungannya dengan Rukia," jawab Hisana tenang, masih memasang senyum lembut di wajah mungilnya. Byakuya kembali memandang bingung istrinya yang ternyata sangat mempercayai bocah—yang menurutnya tidak berbeda jauh dengan anak-anak berandal di luar sana. Yang bisa membawa Rukia ke dalam pergaulan buruk.
Tidak lagi, pikir Byakuya. Dia tidak mau melihat adik iparnya kembali menangis dan terlihat frustasi, sejak kejadian yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Byakuya benar-benar merasa kecewa dengan perbuatan yang dilakukan Rukia, mencoreng nama baik keluarga Kuchiki karena sikap buruk Rukia yang membuatnya harus dikeluarkan dari sekolah. Namun, rasa kecewa dan marahnya itu hilang begitu saja, ketika dia melihat rasa takut dan tatapan Rukia yang tidak lagi mau menatap dirinya. Rukia seakan menjadi orang luar di rumah Kuchiki ini. Jarang sekali keluar kamar, tidak mau berbicara maupun menatap kakak iparnya lagi, dan terlihat murung sepanjang hari—seperti zombie di film-film Amerika yang membuat Byakuya selalu mengerutkan alisnya bingung, setiap kali Rukia menontonnya di tivi ruang tengah mereka. Mayat hidup yang bergerak tidak menentu arahnya, hanya darah dan daging manusialah yang menjadi tujuan utama mereka dalam 'hidup'. Dalam hal Rukia, yang membuatnya bisa kembali 'hidup' adalah Chappy. Konyol, pikir Byakuya. Seekor kelinci yang bisa merubah perasaan Rukia, sedikit demi sedikit, walaupun tidak banyak. Tapi, inilah yang menjadi kesempatan Byakuya untuk kembali mendapat perhatian dari Rukia. Sesekali dia membawakan oleh-oleh kelinci—dalam bentuk boneka bahkan hingga sebuah kaca rias besar berbentuk kelinci— dari Itali ataupun Perancis, selama dia bertugas di luar negeri untuk beberapa hari. Dan ajaibnya, Rukia perlahan mulai kembali menatap dirinya. Kembali untuk berbicara dengannya. Kembali untuk sedikit memberontak kepadanya. Tidak buruk, walaupun sedikit membuat Byakuya kembali pusing menghadapi tingkah kekanak-kanakannya.
Dan, muncullah bocah orange itu, yang membuat Byakuya takut untuk kehilangan sosok Rukia lagi— sosok Rukia yang perlahan sudah mulai kembali menjadi dirinya yang dulu. Walaupun, sebagian diri Rukia menghilang dan tidak lagi muncul di depan Byakuya. Bagaimana kalau bocah itu—Kurosaki Ichigo—membawa sebagian diri Rukia itu, yang sudah kembali muncul di hadapannya? Bagaimana kalau Rukia kembali lagi menjadi zombie seperti di film konyol itu? Haruskah dirinya memenggal kepala orange itu dengan tangannya sendiri, hanya sekedar meminta kembali diri Rukia yang mungkin akan menghilang..selamanya?
"Kau terlalu banyak berpikir, Byakuya," celetuk Hisana, yang menyentuh lengan suaminya itu. Byakuya sedikit terkejut, menyadari dirinya terlalu terhanyut dengan pikirannya sendiri. "Jangan biarkan masa lalu mulai mempengaruhimu, Byakuya."
Dan, dia sama sekali melupakan sosok istrinya ini. Seorang wanita yang bahkan mampu membaca apa yang sedang dipikirkannya. Kadang membuatnya takjub,bahkan sekaligus bingung. Hisana sama sekali tidak mengekang Rukia, tidak mempermasalahkan pilihan adik satu-satunya itu. Bukan berarti dia tidak menyayangi Rukia. Mengingat apa yang sudah dilakukannya selama Rukia menjadi zombie beberapa tahun yang lalu, dimana Hisana dengan sabar menghadapi perubahan yang dialami adiknya. Tidak jarang Byakuya menemukan istri yang terlihat tegar ini meneteskan air mata diam-diam, menangisi rasa sedih adik kesayangannya itu. Dan sekarang, dia membiarkan Rukia berhubungan dengan bocah itu? Apa Hisana tidak salah mengambil pilihan?
"Pikirkan kembali, Byakuya. Ichigo-kun tidak seburuk yang selama ini kau lihat. Tidakkah kau lihat senyum Rukia kembali lagi, seperti dulu? Dan tatapan tegasnya, yang kembali berani untuk melawanmu? Itu semua karena kehadiran Ichigo-kun. Sikap Rukia yang tertutup, perlahan dikembalikan oleh anak itu. Bukankah seharusnya kau berterima kasih padanya? Pada Kurosaki Ichigo?" jelas Hisana yang membuat Byakuya takjub. Bagaimana mungkin dia tidak memperhatikan perubahan yang jelas terlihat di diri adik iparnya? Apakah masa lalu terlalu mengontrol dirinya hingga menjadi buta? Apa yang dijelaskan Hisana tidaklah salah. Dia tidak bisa menyangkal keberadaan Ichigo yang berpengaruh besar pada Rukia. Baik atau buruk sekalipun.
"Mungkin..kau benar, Hisana," ucap Byakuya seraya menangkup tangan istrinya lembut. "Kurosaki Ichigo…ya?"
Hisana tersenyum lembut, menanggapi sikap suaminya itu yang sudah berubah menjadi lebih santai. Dia percaya, Byakuya bukanlah orang yang menyeramkan dan tidak bisa berkompromi—seperti yang dipikirkan rekan-rekan kerja maupun keluarganya yang lain selama ini. Hisana memandang suaminya dari sudut pandang yang berbeda, bahwa dia adalah seorang pendamping, kakak, sekaligus kepala keluarga yang pengertian dan menyayangi Rukia maupun dirinya.
(..)
(..)
(..)
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Grimmjow-san?" tanyaku bingung, sambil menjaga jarak darinya yang sedang terduduk malas di counter kopi.
"Eh? Jadi benar kau bekerja disini ya, mungil?" Grimmjow-san melirikku jahil sambil memasang seringaian lebarnya, membuatku bergidik ngeri. Tanpa pikir panjang aku langsung bersembunyi di balik tubuh Coyote-san, yang masih membuat beberapa pesanan di depan Grimmjow-san.
"Kenalanmu, Kuchiki?" tanya Coyote-san santai, sambil melirikku di belakang tubuhnya.
"Ah..begitulah…"ucapku lemas, harus menghadapi sisa soreku ini di depank si panther biru ini. Mengerikan.
"Tolong kau ambilkan biji kopi di gudang belakang, Kuchiki." Coyote-san mulai beralih ke mesin espresso, mengisi gelas barunya lagi dengan serbuk kopi pesanan. "Kau bisa meminta Hisagi disana untuk membawakannya kemari."
"Co..Coyote-san? Bukankah sekarang kita harus berganti shift?" tanyaku bingung melihatnya masih berkutik di counter, tidak melihat tanda-tanda dia akan beranjak dari sini.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, sementara kau harus berhadapan dengan pria berbahaya seperti dia," jawabnya santai, tanpa mengalihkan tatapannya dari pekerjaan di depannya. Aku tahu yang dimaksudnya adalah Grimmjow-san, pria berbahaya menurut barista berkarisma di depanku ini.
"Hah? Siapa yang kau maksud tadi?" tanya Grimmjow-san sengit, membuatku bergidik ngeri. Tatapannya tajam, merasa terganggu dengan ucapan Coyote-san barusan.
"Kau merasa? Padahal aku tidak menunjukkan orang ataupun nama seseorang secara spesifik maupun langsung tadi. Baguslah kalau begitu," jawab Coyote-san enteng, semakin membuatku berkeringat dingin. Tolong jangan memulainya, Coyote-san!
"Ka..kamu!"
"Yo, Rukia," sapa seseorang yang memotong perdebatan Coyote-san dan Grimmjow-san. Suaranya membuat hatiku kembali tenang, lega. Ichigo berjalan santai sambil menenteng tas yang disampirkan di bahunya, berjalan menuju tempat yang biasa didudukinya hampir setiap sore. Tepat di samping Grimmjow-san.
"I..Ichigo.." sapaku balik, membuat wajahku memerah seketika. Ah..aku tahu..sekarang hubungan kami sudah berjalan ke tahap berikutnya dan membuat diriku tidak bisa bersikap seperti biasa lagi di depannya—pandanganku telah berubah sedikit demi sedikit. Membuatku senang sekaligus tidak tenang.
"Rukia, hisashiburi," sapa seseorang lagi, dari balik Ichigo. Jantungku semakin berdebar kencang melihatnya, sosok yang sudah lama tidak kutemui belakangan ini.
"Ka…Kaien-san! Hisashiburi!" suaraku hampir berupa sebuah teriakan, yang membuatku sendiri kaget karenanya. Segera kutundukkan tubuhku, memberi salam sekaligus menyembunyikan wajah merahku.
"Kau lebih senang dia datang daripada aku?" tanya Ichigo sambil menunjuk Kaien-san yang sudah duduk di sampingnya. Wajahku memberengut kesal mendengar pertanyaan bodohnya itu. Apa-apaan dia ini?
"Hah..tidak kupercaya kalian bisa dekat secepat ini." Kaien-san mendesah sesaat, memberikan tatapan sedikit sedih padaku. Kenyataan bahwa aku sudah menolaknya dulu, menolak perasaannya. "Kalian tidak seperti sepasang kekasih, kau tahu?"
"Hah?" Mataku terbelalak lebar. Darimana Kaien-san tahu hubunganku dan Ichigo?
"Hahhh? Kalian berdua? Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini padaku, Ichigo?" tanya Grimmjow-san sinis, memandang Ichigo yang masih bersikap cuek di sebelahnya. Dan orang yang bersangkutan, malah menatapku jahil sambil tersenyum nakal. Membuatku ingin menjambak rambutnya, karena sudah membuatku malu setengah mati.
"Dia pacarmu?" tunjuk Coyote-san enteng di sebelahku, membuatku kaget dengan sikap terang-terangannya.
Mulutku membuka untuk mengatakan sesuatu, tapi kuurungkan lagi karena melihat senyum bodoh yang sekerang tertera jelas di wajah Ichigo. Tawake! "Bukan!"
Grimmjow-san tertawa keras, membuat Ichigo kesal di sampingnya. Kaien-san juga, terlihat sedang berusaha menahan tawanya sambil menunduk di kursinya. Nah..rasakan itu, Ichigo.
"Ru…Rukia! Kau ini! Jangan tarik kembali ucapanmu tempo hari," ucap Ichigo, terlihat kalut dan kesal. Aku hanya tersenyum nyengir menghadapi sikapnya dan mulai beranjak pergi dari counter.
"Hei! Kau mau kemana?" si bodoh itu mulai terlihat bingung dan berniat untuk beranjak dari dudukknya…mengikutiku?
"Aku hanya mau mengambil stock biji kopi, tawake! Haruskah kau mengikutiku setiap saat?" tanyaku kesal sambil kembali berjalan, menghentak-hentakkan kakiku.
"Kau disini saja, Ichigo! Traktir kami hari ini!" suara Grimmjow-san terdengar keras di belakangku, membuatku sedikit puas karena keberadaannya ikut menghambat tingkah berlebihan Ichigo.
"Betul! Aku akan memesan semua cake coklat disini!" teriak Kaien-san yang terdengar antusias, membuatku kembali melirik ke belakang. Syukurlah…Kaien-san tidak mempermasalahkan hubunganku dengan Ichigo. Aku tidak mau melihatnya sedih, karenaku.
"Kalian mau memerasku, hah?!" teriak Ichigo tidak kalah heboh, alisnya semakin bertaut di tengah dahinya, membuatku tersenyum geli melihat ekspresi bodohnya. " Kaien! Jangan seenaknya!" Ichigo menarik kerah baju Kaien-san, menahannya untuk tetap duduk di kursinya, mencegahnya untuk melangkah santai menuju counter cake. Baiklah, mereka bertiga benar-benar sudah membuat suasana café menjadi kacau balau. Harus segera kutinggalkan sekarang, sebelum Coyote-san menceramahiku karena terlalu lama menonton di sini. Stock kopi….stock kopi…
(..)
"Kau yakin bisa membawanya sendiri?" tanya Hisagi-san yang masih membereskan stock-stock biji kopi di belakangnya. Banyak sekali karung-karung besar yang tersusun padat di gudang ini, menciptakan aroma perpaduan dari beberapa jenis kopi. Harum dan menenangkan.
"Mmm..tidak apa-apa," ucapku sambil mengangkat karung kecil yang ternyata berat juga untuk diangkat. "Aku masih bisa membawanya. Terima kasih, Hisagi-san."
"Ah," balasnya sambil melambaikan tangan dan memulai penataan karung-karung kopi lagi yang tidak semudah kelihatannya. "Maaf merepotkanmu, Rukia."
Aku berjalan lambat menuju café yang terletak di bagian depan bangunan ini, sementara gudang stock yang berada di bagian belakang—yang hanya bisa dijangkau melalui pintu keluar café dan memutar ke samping pekarangan luar. Cukup jauh dan menyita waktu, selama aku membawa karung kopi ini. Pekerjaan yang cocok di musim dingin ini, membuat tubuh terasa hangat karena pekerjaan berat yang tidak biasa. Walaupun penghangat ruangan sudah menyala, tapi cuaca dingin masih terasa menusuk tulang.
Kudorong pintu masuk café yang sudah setengah terbuka di depanku menggunakan bahuku dan memasuki ruangan café. Cukup banyak pengunjung yang berkunjung di sore ini, terutama untuk menikmati kopi panas di tengah cuaca mendung. Kebanyakan dari pengunjung adalah murid-murid sekolah yang menghabiskan waktu sorenya bersama teman-teman lainnya. Termasuk Ichigo dan timnya. Membuat suasana café terasa lebih ramai dari biasanya, disamping Rangiku-san yang cuti kerja hari ini serta Yumichika yang sedang terserang flu parah. Itulah akibatnya karena sudah membuatku menjadi ajang taruhannya.
"Wah wah wah…tidak kusangka bisa bertemu denganmu lagi disini, Rukia." Suara yang tidak mau kudengar kali ini, bergema tepat di sebelah telingaku. Aku menatap sosoknya kaget, melihat Kibune-san bersama beberapa teman prianya yang baru datang dari arah pintu café di belakangku. Kueratkan jari-jariku pada karung di pelukanku dan berniat beranjak mundur.
"Hei, aku sedang berbicara denganmu, Rukia. Kau mau kemana?" tanya Kibune-san mengancam, tapi senyum palsunya masih terlihat jelas di wajahnya. Tangannya menahan tanganku untuk tidak menjauhinya.
"A…aku harus segera bekerja," ucapku dengan suara bergetar, tidak mampu lagi untuk menyembunyikan rasa takutku.
"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, Rukia. Hanya sebentar, tidak akan lama," katanya berusaha membujukku dan menarikku keluar dari café. Teman-temannya berdiri santai di belakang Kibune-san, tersenyum mengerikan sambil membuka pintu café untuk dilewati Kibune-san yang menarik diriku. Aku berusaha berteriak, tapi suaraku tidak bisa keluar sama sekali. Dan parahnya, pintu café ini sekarang cukup terhalang oleh beberapa atribut natal yang masih harus dipersiapkan, menghalangi daya pandang dari dalam café ke arah pintu keluar. Seandainya tembok penghalang ini tidak berdiri disini, menghalangi daya pandangku untuk melihat dan mencari bantuan dari dalam sana. Lagi-lagi, aku takut untuk menghadapinya—masa laluku. Memang…aku tidak bisa menerimanya seorang diri. Ini terlalu sulit dan mengerikan.
Setengah badanku sudah keluar dari pintu dan tidak ada orang sama sekali yang masuk ataupun keluar dari café. Ini benar-benar buruk. Kujatuhkan karung biji kopi dari genggamanku, karena sekarang seluruh tubuhku bergetar hebat. Spontan aku menjulurkan sebelah tanganku yang bebas dari genggaman Kibune-san, menahan pintu pegangan pintu café sebagai penahan. Aku butuh Ichigo. Ichigo!
"Rukia, jangan mempersulit aku sekarang. Aku tidak sedang mengancammu, kan?"
"I..Ichigo…" isakku tidak berdaya, memandang Kibune-san yang menatapku tajam. Seperti saat di tangga sekolah saat itu. Tatapan yang tidak mungkin bisa kulupakan sampai sekarang—yang membuatku bergidik ketakutan, hingga lututku terasa lemas.
"Eh? Siapa?" tanyanya bodoh, membuatku semakin ingin pergi dari sini.
"Ichigo!" teriakku frustasi, akhirnya..suaraku bisa keluar lantang.
"Hei, Makoto, dia berteriak! Bagaimana ini?" tanya seorang temannya yang mulai kelihatan panik, memang sudah seharusnya. "Tinggalkan saja dia!"
"Rukia, kumohon, jangan berteriak seperti itu. Aku tidak bermaksud seperti itu." Kibune-san mulai kembali memasang topengnya, yang tidak mungkin membuatku untuk mempercayainya lagi sekarang. Aku tidak akan tertipu lagi dengan kebohongannya.
"Ichigo!"
"Rukia!" Suara Ichigo membuatku lega setengah mati, lututku benar-benar lemas sekarang. Tangan seseorang menarik tubuhku ke belakang dan menepis tangan Kibune-san yang masih enggan untuk melepaskan tanganku. Kulirik wajah Ichigo di atasku, sebelah tangannya memeluk pinggangku erat—bersandar pada tubuh besarnya. Hangat.
"Kau….Kibune Makoto? Mau apa kau dengan Rukia, hah?" gertak Ichigo marah, membuat Kibune-san melotot kaget.
"Heh? Kau tahu namaku? Apa Rukia sudah menceritakan tentang diriku padamu?" tanya Kibune-san santai, sama sekali tidak terusik dengan sikap marah Ichigo. Beberapa teman Kibune-san ikut mendukung dari belakangnya. Ternyata jumlah mereka cukup banyak daripada yang kukira sebelumnya.
"Berisik! Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku menghajarmu!" balas Ichigo sinis yang membuatku semakin mengeratkan tanganku pada baju Ichigo.
"Kau mengancamku? Aku tidak berniat untuk mencari keributan disini, hanya perlu untuk berbicara dengan teman lamaku," balas Kibune-san sambil menatapku. "Tapi, tiba-tiba dia berteriak histeris. Benar-benar membuatku kaget." Kibune-san berusaha memasang topengnya lagi di depan Ichigo, yang kupikir mungin tidak akan berhasil.
"Kau mempercayai gadis itu begitu saja?" lanjut Kibune-san, yang semakin membuat Ichigo tidak bisa menahan emosinya. "Apa kau tidak pernah berpikir kalau dia telah menipumu?"
"Oi oi…Apa yang terjadi disini?" celetuk Grimmjow-san dari belakang Ichigo. Tangannya menahan bahu Ichigo dan berusaha untuk membuatnya mundur. Tatapan tajam Grimmjow-san berhasil membuat teman-teman Kibune-san bergidik ngeri, tapi tidak dengan Kibune-san. Dia masih berdiri disana, menatap balik Grimmjow-san.
"Rukia! Kau tidak apa-apa?" tanya Kaien-san dari belakang Ichigo. Tatapannya terlihat panik begitu melihatku meringkuk pada tubuh Ichigo. "Oi, Ichigo! Bawa Rukia masuk."
Ichigo langsung terbelalak kaget begitu mendengar kata-kata Kaien-san. Tatapannya jatuh padaku dan terlihat seperti baru menyadari keberadaanku di pelukannya. "Rukia.." lirihnya. Tangannya mengelus pipi dan ujung mataku yang berair. Aku berusaha menahan tangisku di depan Kibune-san. Aku tidak mau terlihat lemah lagi di depannya, yang bisa membuatnya semakin tersenyum senang.
Ichigo mundur sambil tetap memelukku—menyeretku mundur. Kaien-san menggantikan posisinya, berdiri di samping Grimmjow-san seperti tameng di depanku. Kedua tangannya menggenggam erat di samping tubuhnya, terlihat tegang.
"Ini belum selesai, Rukia," kata Kibune-san lantang, sama sekali tidak terusik dengan dua orang yang terlihat mengancam di depannya.
"Ada apa ini?" tanya Coyote-san yang tiba-tiba muncul di sampingku dan Ichigo. Sebelah tangannya mengelus kepalaku lembut. Dia terlihat sedang mengamati pemandangan tidak biasa di depannya, sambil berusaha berpikir keras—memahami situasi. Coyote-san melirikku dan Ichigo dan mulai beranjak ke tengah-tengah dua kubu di depannya. "Bawa Rukia masuk," perintahnya santai sambil berjalan ke arah Kibune-san.
Tanpa menunda lagi, Ichigo menarikku lembut untuk segera masuk ke dalam café, meninggalkan urusan yang belum terselesaikan di belakang kami secara tuntas. Yang kupikir tidak akan pernah bisa selesai untuk saat ini.
(..)
"Kau membutuhkan sesuatu, Rukia-chan?" tanya Unohana-san yang menunduk di depanku, memperhatikanku yang masih meringkuk di sofa dan terus menahan tanganku dalam cengkraman di baju Ichigo.
Aku menggeleng lemah dan kembali menundukkan kepalaku, bersender pada bahu Ichigo di sebelahku. Kukerutkan alisku, berusaha untuk menghapus memori-memori yang mulai menghujani otakku. Memori dimana aku tidak mau memijakkan kakiku disana lagi. Dimana hanya ada ketakutan, kepanikan, adrenalin memacu, dan emosi yang hampir membuatku setengah gila karenanya. Aku tidak mau menjadi beban bagi orang-orang di sekitarku lagi. Tidak mau membuat mereka harus mengeluarkan tenaga mereka untuk melindungiku. Juga untuk Ichigo. Melihat tatapannya yang berubah khawatir dan sedih untukku. Aku..hanya ingin melihat senyuman di wajahnya, tidak seperti ini. Tidak kerutan penyesalan dan kerumitan di wajah tegasmu.
"Baiklah, aku akan keluar sebentar untuk bicara dengan Coyote-san. Kau istirahatlah disini, Rukia. Mungkin, apa kau mau pulang sekarang? Aku bisa membicarakan hal ini dengan Hisa—"
"Jangan!" potongku langsung sambil bangkit dari tempatku meringkuk. Mataku kembali terbelalak lebar. Debar jantung dan adrenalin yang mengambil alih kembali. Tidak. Jangan mereka. "U..Unohana-san.. Kumohon, jangan ceritakan hal ini..pada nee-san dan nii-sama. Kumohon."
Unohana-san menatapku bingung dan ragu. Walaupun Unohana-san memiliki tanggung jawab pada diriku, sebagai walinya disini dan sekaligus teman dekat nee-san. Tapi…aku tidak mau nee-san kembali ikut terseret masalah ini. Juga nii-sama. Aku, sebagai anggota keluarga Kuchiki, tidak mau lagi membuatnya kecewa pada sikapku. Menjadi beban untuknya.
"Rukia-chan.." gumam Unohana-san dan wajahnya kembali melembut menatapku. "Baiklah. Aku tidak akan menceritakan ini pada Hisana dan juga Byakuya. Asalkan kau berjanji satu hal padaku."
"Satu…hal?"
"Kau tidak sendirian, Rukia. Kau bisa mengandalkanku maupun teman-temanmu yang selalu menemanimu selama ini. Juga, Kurosaki-kun," ucap Unohana-san sambil menatapku dan Ichigo bergantian. "Untuk selanjutnya, kau tidak perlu takut untuk menceritakan masalahmu pada kami. Bukan begitu, Kurosaki-kun?"
"Ya," jawab Ichigo dan mulai mengeratkan pelukannya di pundakku. Aku menatap mata hangatnya yang mulai kembali perlahan. Dia tersenyum lembut padaku sambil menepuk-nepuk kepalaku lembut.
"Jangan menyelesaikan masalahmu sendiri, Rukia-chan. Kapanpun kami akan berusaha untuk menolongmu," kata Unohana-san dan kemudian membuka pintu yang menghubungkan ruangan karyawan ini dengan café depan.
"Te..terima kasih, Unohana-san! Maaf sudah banyak merepotkanmu!" kataku langsung membungkukkan tubuhku dalam-dalam.
Unohana-san hanya tersenyum lembut sebelum menutup pintu di depannya dan meninggalkanku berdua disini dengan Ichigo. Hening sesaat.
"Mmm..I..Ichigo—"
"Kau tidak apa-apa, Rukia? Aku bisa mengantarmu pulang sekarang kalau kau mau," potongnya. Lagi-lagi dia menatapku khawatir. Alisnya berkerut dalam di tengah dahinya, tubuhnya terlihat menegang.
"Aku..tidak apa-apa. Hanya, sedikit kaget," ucapku berbohong. Tidak hanya kaget, tapi benar-benar takut. Tubuhku bergetar bukan main saat Kibune-san muncul di depanku dan berusaha menyeretku keluar.
Ichigo terdiam sesaat, menatapku dalam diam. Kemudian tangannya kembali menjangkau wajahku. Jari-jari panjangnya menelusuri wajahku dari dahi, hidung, pipi, dan turun ke bibirku perlahan. Tubuhku bergidik kaget begitu jarinya mencapai leherku dan mengelusnya perlahan. "Kau tahu, Rukia, aku…hampir hilang kesabaranku tadi."
Aku terdiam tegang, memperhatikannya yang berusaha menjelaskan sesuatu padaku dengan nada dingin. Terlihat jelas kalau Ichigo sedang menahan emosinya sekuat mungkin. Tangan yang terkepal di pangkuannya membuatku mengernyit ngeri, melihat buku-buku jarinya yang memutih.
"Seandainya saja kau tidak ada disana. Seandainya, aku tidak melihat tatapanmu yang ketakutan tadi. Melihatmu hampir menangis…mungkin…aku sudah—"
Kupeluk dirinya kuat-kuat, tidak mau mendengarnya memaksakan diri untuk meneruskan kata-katanya. Ichigo menahan amarah dan kekesalannya sejak kami berdiri di sana tadi, berhadapan dengan Kibune-san yang memandang Ichigo rendah. Aku tahu, Ichigo bisa saja langsung memukulnya jatuh saat itu. Tapi, pengendalian dirinyalah yang membuatku bangga. Dia tidak akan meninggalkanku disana sendirian dan membiarkanku melihatnya menghajar Kibune-san dengan membabi buta. Ichigo membutuhkan diriku dan dia mementingkan diriku dibandingkan dengan emosinya yang hampir mengambil alih. Dia bukan pengecut. Dia…pangeranku.
"Terima kasih…Ichigo. Terima kasih," ucapku sambil menahan isakanku. Air mata mengalir keluar menuruni pipiku. Bukan airmata kesedihan ataupun ketakutan, melainkan airmata bahagia. Kali ini, aku benar-benar memantapkan hatiku untuk tidak meninggalkan Ichigo begitu saja. Sampai kau menyerah pada diriku…
*(((to be continued…)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note :
Kibune berusaha menarik keluar Rukia disini dan dia benar-benar tidak takut dengan ancaman dari Ichigo, Grimmjow, bahkan Kaien. Itu karena dia memang psycho, seperti yang sudah aku jelaskan di chapter sebelumnya. Jadi yang dia pikirkan tuh hanya Rukia… .
Kaien muncul lagi disini, sebelum aku kelupaan lagi sama dia…hahahhahaha gomen, lagi-lagi disini dia porsinya dikit..wkwkkwkkw XD
Kibune dkk diurus oleh Coyote-san, sebelum mereka mulai membuat onar di dalam café..hehehehe… Dan Unohana benar-benar tulus untuk mau membantu Rukia, karena selama ini dia juga memperhatikan kehidupan Rukia di café, termasuk hubungan Rukia dengan Ichigo. Lagi-lagi orang yang mendukung Rukia bertambah, disamping mereka tuh tertarik dengan hubungan Ichigo dan Rukia selanjutnya…hehehehhe XD
Oce..segitu aja, bingung mau nulis apa lagi..kalau ada pertanyaan dan keluhan, silahkan hubungi aku lewat PM ataupun review ya..^^ onegaishimasu, minna!
Balasan untuk reviewer anonymous dan no-login :
Rizuki Ryuuzaki : Makasih banyak udah review ya! Hihihiihih… Ini sudah aku update chapter selanjutnya..makasih semangatnya! XD
Guest : Makasih udah review ya! Hihhhihii.. Iya, Byakuya disini tiba-tiba klo ga da dia ga seru… Ini aku dah update..makasih semangatnya! XD
