Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Lifehouse- Between the Raindrops (feat Natasha Bedingfield), The Script- The Man Who Can't Be Moved; If You Ever Come Back, Florence and The Machine-Breath of Life, No Light No Light …Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Lagi-lagi update lama...gomen ne, minna-san TAT Oce, disini Ichirukinya kembali berkurang, hanya sedikit bagiannya..^^; Author lebih menonjolkan karakter lain, yaitu Hirako dan Riruka! *jengjeng* Riruka mengalami perubahan karakter tidak terduga disini..just reading, minna-san! XD

Dan author tidak lupa selalu berterima kasih kepada para readers yang masih setia membaca, juga yang baru membaca fic ini, salam kenal! Juga kepada para reviewers yang sudah memberi semangat sekaligus mengkritik fic ini...Arigatou gozaimasu! Juga bagi yang me-fave, me-follow, me-alert author...terima kasih banyak semuanya! *kiss&hug*

Oce..happy reading all~

~000*000~

Chapter 16 : Winter Scene Two

Salju yang mulai turun dan menumpuk di halaman cafe, membuat suasana ruangan ini terasa semakin nyaman—menurutku. Dingin, tapi tidak lagi membuat kulitku merinding di dalam kehangatan yang terasa alami. Di sisi lain, Yumichika yang tidak sependapat dengan diriku, tidak berhenti-berhentinya mengeluh sepanjang hari—selama salju belum berhenti turun. Raut wajah mengkerut bodohnya membuat Hirako-san menyeringai lebar dan selalu mengejeknya setiap kali mereka berpapasan—menambah suasana cafe menjadi lebih menghangat. Coyote-san yang berada di sekitar mereka, terlihat sama sekali tidak terganggu dengan kebisingan yang ada. Dia masih menyibukkan dirinya dengan menyusun rangkaian pohon natal yang terlihat sangat besar. Tidak aneh kalau Coyote-san sedikit terhanyut dengan pekerjaan barunya sekarang, sebelum kami membuka cafe hari ini—jadwal buka cafe menjadi sedikit lebih siang, karena salju yang menumpuk di pagi hari.

Rangiku-san sama sekali tidak membantu, yang kerjanya hanya berlarian di sekitar cafe sambil memamerkan gaya natal terbarunya—mengganti bondu-bondu bersuasana natal, hingga mengganti baju-baju minimnya. Apa dia tidak merasa dingin di pagi yang gelap ini?

"Hentikan acara fashion show bodohmu itu, Matsumoto!" gerutu Yumichika, yang menyampirkan selimut tebal yang entah didapatnya dari mana di sekujur tubuhnya—terlihat seperti kepompong besar yang berwajah kucing liar, siap menerkammu kapan saja dengan wujud anehnya itu.

Rangiku-san mendengus kesal sambil menatap balik Yumichika dengan tatapan tidak kalah mautnya, "Banyaklah bergerak di musim dingin untuk menghangatkan tubuhmu. Bukannya menggerutu dan meringkuk seperti orang tua di pojok ruangan, tuan mata lentik!"

Yumichika langsung tersulut emosinya, begitu cepat. Dia langsung bangun dari tempat pembaringannya—di kursi cafe pojok ruangan, tentunya disebelah penghangat ruangan. "Kau! Dasar blondie pasaran berdada besar abnormal!" teriak Yumichika lantang sambil menunjuk-nunjuk Rangiku-san sengit. Rangiku-san yang ikut tersulut emosinya, langsung menghampiri Yumichika dengan posisi siaga—'Mau menantangku sekarang? Persiapkan saja dirimu!'

"Mereka benar-benar seperti orang bodoh di musim dingin," gumam Hirako-san yang terduduk di sebelahku. Dia terduduk santai sambil menghiraukanku yang masih berkutik dengan hiasan-hiasan natal di depanku—lampu lampu natal yang saling terbelit kabelnya satu sama lain. Tatapannya memandang malas kedua orang yang mulai menghangatkan lagi suasana cafe, tanpa ada yang melerai mereka. Hisagi-san sedang membantu Unohana-san memasang pernak-pernik cafe di jendela depan, Coyote-san masih tetap di tempat asalnya bersama si pohon natal, Momo sedang sibuk memainkan hp nya—kemungkinan besar adalah Toushiro yang sedang dihubunginya sekarang, Isane-san sedang membersihkan meja-meja cafe bersama Kira di sudut ruangan, dan Hirako-san di sampingku—merubah posisinya menjadi tiduran di atas meja.

Dasar! Bukankah kau tadi juga memulai keributan dengan Yumichika? Orang-orang disini benar-benar aneh...

"Hei, Kuchiki, bagaimana kabar kekasihmu itu?" gumam Hirako-san yang membuatku bergidik kaget. Dia berbicara seperti sedang bergumam dalam tidurnya, dengan kepala yang terbenam diantara kedua tangannya, yang terlipat rapi di atas meja. Aku mengkerutkan alisku, melihat orang unik ini yang sifatnya benar-benar tidak bisa ditebak—mengingatkanku pada sosok Mad Hatter.

"Darimana kau tahu, Hirako-san?" tanyaku basa-basi. Bukannya aku tidak tahu kalau dia dan Ichigo sudah sering berhubungan akhir-akhir ini, seperti hubungan dua teman lama yang sudah lama terpisah sejak lama. Ichigo kadang menyinggung soal diri Hirako-san, yang sebagian besar merupakan gerutuan kesal yang terlontar dari mulutnya. 'Kepala kuning itu benar-benar tidak menepati janjinya, membuatku dan Ikkaku harus berdiri di tengah badai salju selama dua jam lebih!' atau 'Si rambut rata tidak punya otak! Bagaimana mungkin dia membangunkanku di pagi buta hanya untuk menemaninya mengubur hamster peliharaan kesayangannya? Dia benar-benar membuat otakku hampir meledak seperti bom di Hiroshima!'

Ya...sebagian besar memang terlihat dibesar-besarkan oleh Ichigo, itulah pendapatku saat pertama kali mendengar ceritanya. Sampai aku mengalami sendiri kejadian...aneh...sekaligus menyebalkan dari si kepala kuning berponi rata di sebelahku ini.

(-_-)

5 days ago~

Hirako-san tiba-tiba berteriak histeris di toilet cafe—suaranya seperti seorang nenek tua yang hampir saja tertabrak mobil— membuatku hampir terkena serangan jantung mendadak.

"Loh? Ada apa, Kuchiki mungil? Kau habis lari marathon?" tanya Hirako-san cuek, seperti tidak sedang terjadi apa-apa barusan.

"Ta...tadi aku mendengarmu berteriak, Hirako-san! Ada apa?" Aku masih kesulitan untuk mengatur nafasku yang naik turun drastis. Dan ini semua karena ulah bodoh si rambut kuning yang berdiri santai di depanku sekarang!

"Oh..aku terkejut saat mendapati kecoak terbalik di samping toilet. Kau tahu, kan? Kaki-kakinya yang bergerak tidak seirama benar-benar membuatmu geli," jelasnya sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangannya menyerupai gerak kaki kecoak. "Begitu dia sudah kembali berdiri, langsung saja kuinjak tubuhnya hingga mengeluarkan cairan aneh yang menjijikan itu. Sudah beres," jawabnya datar dan meninggalkanku sendirian di toilet, menatapi kisah tragis kecoak yang sudah tidak berbentuk di samping toilet.

(-_-)

Si nyentrik ini membuatku harus membersihkan lantai toilet yang sudah...urgghh..dikotori oleh kecoak yang diinjaknya dengan brutal! Ini semua karena dirinya yang sudah pergi tiba-tiba meninggalkan cafe, meninggalkanku sendirian di dalam toilet, Unohana-san mendapatiku sedang memandangi kecoak tragis disana, dan akulah orang terakhir yang dimintanya untuk membersihkan toilet—menggantikan si kepala kuning yang sudah kabur meninggalkan tanggung jawabnya. Haha...

"Kau sedang melamunkan apa, Kuchiki mungil? Asal kau tahu, aku tidak mau mendengar kisah lovey dovey mu dengan si kepala orange wajah mengkerut itu. Persilangan antara jeruk dan kelinci liar benar-benar tidak ada di dalam kisah manis kehidupanku—"

Langsung saja kupukul kepala kuningnya hingga kembali terbenam di antara lipatan tangannya, kembali ke dalam posisi tidurnya. "Jangan bicara melantur, Hirako-san!"

"Aku hanya menggambarkan apa yang ada di dalam kepalaku. Kau tahu? Seperti sebuah perumpamaan para filsafat kuno," katanya bangga, sambil mengusap-usap wajahnya yang memerah karena terlalu lama berdiam di posisi anehnya tadi.

Filsafat kuno darimananya? Sedikit kusesali tindakanku karena membelanya di depan Ichigo, saat Ichigo sedang menggerutu sepanjang hari karena ulah aneh Hirako-san. Orang ini benar-benar pandai memancing emosi orang. Membuat orang tersebut ingin meremas-remas kepala kuning terangnya, tapi dengan lincahnya dia langsung menghindar seperti seekor belut. Belut kuning.

Hirako-san memandangku datar—atau mungkin tatapannya memang selalu seperti itu—sambil mengaga aneh. "Wajahmu benar-benar menyerupai strawberry bodoh itu," ucapnya dengan pelafalan kata strawberry dalam bahasa inggris yang membuatku cukup terkejut. Pelafalannya sudah seperti orang asing yang lama tinggal di luar negri. Bukan hal asing sebenarnya, mengingat dia pernah tinggal di luar negri selama beberapa tahun, tapi tetap saja kata itu mengalir seperti sebuah melodi. Tidak seperti pelafalan Jepang yang kaku. "Lihat..alismu mengkerut seperti ini," lanjutnya sambil menyentil dahiku.

"Aduh! Hirako-san!" dengan kesal kukerutkan alisku semakin dalam dan menatapnya tajam.

"Bagaimana? Sejauh apa kalian sudah berhubungan? Ciuman? Apa dia bersikap agresif? Apa dia menggerayangi tubuhmu? Hooo... Apa jangan-jangan kalian sudah tidur bersa—"

Kutendang keras-keras tulang keringnya hingga membuatnya terlonjak kesakitan, sambil memegangi kakinya. "Jangan membahas hal yang tidak-tidak!" teriakku kesal dan segera bangkit dari tempat dudukku, membuatku ingin menjambak rambut ratanya atau lebih memilih memukul tembok. Mukaku sekarang terasa panas, membayangkan hal-hal aneh karena Hirako-san yang sudah berbicara aneh tadi. Urggghh! Jangan pikirkan Ichigo sekarang!

"Kuchiki, ah, kau kenapa?" tanya Isane-san sambil menatapku bingung. Dia harus menundukkan tubuhnya untuk memandangi wajahku, karena tinggi tubuhnya yang diatas rata-rata wanita Jepang kebanyakan. Benar-benar membuatku iri.

"Aku? Tidak apa-apa. Tadi ada kecoak kuning yang mengganggu pekerjaanku," ucapku kesal sambil mengerucutkan bibirku.

"Aku bukan kecoak!" teriak Hirako-san dari belakang, membuatku tidak sabaran untuk segera melempar kursi cafe ke arah kepalanya.

"Ehhe...kau terlihat semakin dekat dengan Shinji—"
"Tidak sama sekali," ucapku memotong kata-kata Isane-san yang hampir membuat moodku bertambah parah.

Isane-san menatapku dengan tatapan bertanya-tanya dan kemudian raut wajahnya langsung berubah, seperti menyadari sesuatu yang tadi sempat menghilang. "Ada apa, Isane-san?"

"Ah, gomen, aku hampir lupa. Bisakah aku meminta tolong padamu?"

"Eh? Meminta tolong apa?" tanyaku bingung dan memperhatikan Isane-san menyodorkan sebuah kertas padaku.

"Unohana-san memintaku mengambil beberapa keperluan cafe yang kurang. Beberapa hiasan natal di toko langganan Urahara-san. Kupikir..." Isane-san menatap sesuatu di belakangku dan dengan cepat matanya cepat beralih kepadaku. "Kau tidak keberatan untuk mengambilnya? Kuchiki-san?"

Senyumku melebar di wajah yang sudah berkurang kehangatannya. Ini benar-benar penyelamat bagiku, sebelum tenggelam di dalam suasana yang hampir membuat kepalaku pecah mendadak. Kuralat ucapaku tadi. Suasana di cafe ini benar-benar...panas!

"Dengan senang hati, Isane-san," kataku sambil mengambil kertas di genggamannya. "Panggil aku Rukia saja, Isane-san. Aku lebih muda dari anda dan kupikir sedikit tidak memakai formalitas tidak akan mengganggu pekerjaan disini. Aku akan sangat senang kalau anda memanggilku begitu."
"Apa-apaan itu? Kenapa bicaramu berubah menjadi formal dengan suara melengking tinggi menjijikan seperti—"

Sebelum Hirako-san menyelesaikan kalimatnya, aku berlari ke arahnya dan dengan cepat menendang tulang keringnya lagi.

Chachachachalata...yeyyeyeyeye...chachacha!

"Suara aneh apa lagi itu?" teriak Hirako-san lagi dan tendangan kedua—ketigaku mendarat di kakinya yang sama.

Segera aku berlari ke arah counter kopi, dimana tasku tergeletak di meja counter. Aku merogoh ke dalam tas ransel dan menemukan hpku yang masih bergetar dan berbunyi nyaring. Ichigo's calling...

Segera kutekan tombol hijau di sebelah kiri dan mendekatkan hp ke telinga kananku. "Moshi-moshi?"

"Rukia, ohayou," ucapnya dari seberang telepon dengan nada serak. Dia terdengar seperti orang yang baru bangun dari tidurnya. Kulirik jam dinding cafe, jarumnya sudah bergerak ke arah sembilan tepat.

"Ohayou, Ichigo. Kau kenapa? Suaramu terdengar serak," balasku ragu. Apa dia terkena flu di musim dingin?

"Hmm? Tidak apa-apa. Hanya saja kepalaku sedikit pening, mungkin flu?"

"Kau ini, segera periksa ke dokter, tawake!" bisikku panik, tidak mau pembicaraan kami terdengar oleh orang-orang cafe.

"Tidak perlu, tidur sebentar juga akan segera sembuh—"

"Tapi...ah! Ayahmu seorang dokter, bukan? Bagaimana kalau—"

"Tidak! Tidak perlu!" teriak Ichigo dari seberang telepon yang langsung membuat telingaku sakit.

"Kenapa kau sensitif seperti itu? Aku hanya menyarankan, bukan?" gerutuku sambil berjalan ke sudut counter, tempat terpencil yang cukup untuk meredam suara kami.

"Urghhhh...ano baka oyaji.. membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Entah obat apa yang akan diberikannya padaku," gumamnya serak, membuatku bertanya-tanya dengan sosok ayah yang dimaksudnya. Apakah ayahnya adalah seorang dokter yang kejam? Apakah dia suka bereksperimen...mungkin..sesuatu yang aneh..? Heee..mengerikan.

"Kau sedang apa?" tanyanya lagi, suaranya terdengar lebih rendah dan...menggoda? Wajahku langsung memerah seketika karenanya. Kau ini kenapa sih, Kuchiki Rukia?!

"Eh? Ah..aku.." sekarang aku mulai gugup dan bisa kubayangkan wajah si bodoh itu sedang terseyum geli dari seberang sana. "Aku sedang di cafe, menghias interior cafe untuk mempersiapkan natal bersama yang lain," jelasku.

"Begitu? Dari pagi hari?"

"Ya, begitulah." Memang melelahkan dan membuatku sulit untuk keluar dari selimutku sebelumnya. Tapi rasa antusias untuk segera melihat pohon natal beserta pernak perniknya mengalahkan rasa kantukku seketika.

"Kau..tidak rindu padaku?" tanyanya tiba-tiba yang langsung membuat jantungku terlonjak kaget.

"A..Apa-apaan pertanyaanmu—"

"Jawab saja. Kau rindu padaku tidak, nona Kuchiki?" godanya jahil, masih dengan suara seraknya. Entahlah..itu terdengar seperti...arrgghh! Tawake!

"Ja..jangan menggodaku!" protesku dan dibalas suara tawa Ichigo yang terdengar nyaring. Aku menggerutu kesal sambil berjongkok di bawah counter, meninju-ninju dinding tembok dengan punggung tanganku. "Tidak lucu!"

"Aku rindu padamu, mungil," katanya yang membuat wajahku memerah lagi. "Aku bermaksud menemuimu di cafe hari ini."

Aku berdeham sesaat, untuk melegakan tenggorokanku yang terasa serak sekarang, "Ah...tapi, jam buka cafe menjadi lebih siang hari ini. Kami baru buka jam satu siang, hanya setengah hari—"

"Bolehkah aku menemuimu lebih awal?" tanyanya antusias.

"Tapi, aku harus pergi sekarang. Unohana-san menyuruhku untuk mengambil beberapa barang di kota."

"Ke kota? Bersama siapa? Apa ada yang menemanimu kesana? Rangiku-san? Si mata lentik?" tanya Ichigo bertubi-tubi, membuatku terkejut dengan suara paniknya. Dia benar-benar berubah lebih protektif akhir-akhir ini, semenjak kejadian Kibune-san tempo hari. Mungkin...tidak aneh kalau sikapnya berubah seperti sekarang. Bukannya aku tidak menyukainya, hanya kadang membuatku khawatir dengan dirinya sendiri. Seharusnya, dia lebih menjaga dirinya sendiri dari pada diriku. Aku masih bisa bertahan dan menjaga diriku sendiri, walaupun ini kadang membuatku takut. Kenyataannya aku tidak bisa pergi jauh dari Ichigo, aku benar-benar membutuhkannya. Bukankah..ini terlalu egois? Aku tidak bisa meminta hal tersebut begitu saja dan melupakan kehidupan pribadi Ichigo. Dia memiliki kehidupannya sendiri, begitu pula dengan diriku. Dia adalah..kekasihku, bukan bodyguardku.

"Aku...pergi sendiri," ucapku lambat. "Yang lain masih sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing di cafe. Jadi—"

"Aku temani," balasnya terdengar sengit. "Kau tidak bisa pergi sendiri, Rukia. Bagaimana kalau—"

Tiba-tiba aku mendengar suara berdebum dari ujung telepon. Ichigo sedang apa, sih? "I..Ichigo?"

Hanya terdengar gerutuan suara Ichigo dari sana dan tiba-tiba seseorang berbicara, yang sepertinya...ini bukan suara Ichigo. "Halooooo...?"

"Ah...halo?" jawabku canggung.

"Perkenalkan, aku adalah ayah Ichigo, Kurosaki Isshin! Salam kenal, pacar Ichigo!" teriaknya semangat. Bisa kudengar suara sengit Ichigo sebagai latar belakangnya, sepertinya sedang berusaha merebut kembali hpnya.

"Ah..salam kenal, Kurosaki-san. Saya Kuchiki Rukia—"

"Rukiaaa-chaannn! Tidak perlu seformal itu! Panggil saja aku O-YA-JI!"

Tiba-tiba suara ribut terdengar lagi. Aku mengerutkan alisku, berusaha mendengar suara teriakan yang tidak jelas dari ujung sana. Ichigo dan ayahnya seperti sedang mengalami pertarungan yang sengit dan membiarkanku termangu tidak jelas disini. Aku menghela napas dan menyadari waktu yang kubuang terlalu lama disini. Segera kumatikan hpku dan mengambil ranselku, kemudian bergegas menuju pintu depan untuk mengambil pesanan Unohana-san.

(..)

(..)

(..)

"Baiklah..apa hanya ini yang kauperlukan, Kuchiki-san?" tanya Urahara-san dibalik topi anehnya yang berwarna putih-hijau, menyembunyikan mata yang memandangku aneh. Syal tebal terbalut erat di lehernya, membuatku bertanya-tanya di tengah kehangatan ruangan tokonya. Apakah perlu sebuah syal untuk dipakai di dalam ruangan bertemperatur hangat?

"Hmm..ya..hanya ini," ucapku sambil memeriksa kembali kantong belanjanya. Barang yang diperlukan hanya sedikit, jadi hanya aku sendiri yang membawanya bukanlah masalah besar. "Terima kasih, Urahara-san."

"Sama-sama Kuchiki-san! Sampaikan salamku pada Unohana-san," ucapnya dengan nada melengking, sambil melambai-lambaikan kipas tangannya. Kipas...di musim dingin?

"Baiklah," ucapku sambil mengerutkan alis bingung, melihat tingkah kekanak-kanakannya untuk seorang penjual toko. Aku menundukkan tubuhku, memberi salam, sebelum beranjak ke pintu depan untuk segera meninggalkan toko Urahara-san.

Cuaca dingin langsung berhembus menerpa wajahku. Kunaikkan syal di leher untuk menutup sebagian wajahku dan berjalan menembus hujan salju lembut yang disertai hembusan angin musim dingin. Jalan kota terlihat sepi, walaupun hari sudah hampir menjelang siang hari. Kebanyakan warga tetap memilih berada di rumah ataupun tempat kerja mereka, enggan untuk menapaki kakinya di atas lapisan salju putih yang sekarang hampir menutupi seluruh jalan pinggir kota. Aku merogoh kantong jaketku dan mendapati hpku yang berkelip-kelip menyala. Ada 5 pesan belum terbaca dan 7 misscall semuanya dari Ichigo. Ini karena aku mengganti ponselku dalam mode silent—mencegah situasi seperti ini terjadi. Lagi-lagi Ichigo bertindak terlalu protektif.

Message 1

'Kau dimana, Rukia? Aku tidak bisa menyusulmu sekarang karena baka oyaji—ayahku—yang menahanku untuk keluar rumah...-Ichigo-'

Message2

'Rukia? Kau sudah pergi? Pastikan ada yang menemanimu pergi, ya? Jangan pergi sendirian! –Ichigo-'

Message 3

'Mungil! Jawab teleponku! Dimana kau sekarang? –Ichigo-"

Message 4

'Kuchiki Rukia! Aku akan segera mengejar kemanapun kau pergi sekarang dan menyeretmu kembali ke cafe atau bahkan ke rumahmu sendiri! –Ichigo-'

Message 5

'Putri ketigakuuuuu~ Tidak usah khawatir! Aku sudah mengurus anak keras kepalaku ini, sebelum demamnya menguasai otak bodohnya... Berhati-hatilah sayang! XDb –Ichigo-'

Aku terdiam begitu membaca pesan terakhirnya. Ternyata.. ini dari Kurosaki, ah, Isshin-san. Dialah yang menghambat tingkah bodoh Ichigo? Senyumku melebar tiba-tiba di pipi kakuku karena dinginnya cuaca. Baguslah, Ichigo tidak perlu mengkhawatirkan diriku seperti aku akan salah melangkah di tengah cuaca yang buruk ini dan tiba-tiba terbawa angin musim dingin ke pelosok antah berantah. Segera kuketikkan pesan balasan, sebelum hpku kembali bergetar karena pesan bodohnya.

'Kau tidak perlu khawatir, Ichigo. Sekarang aku sedang dalam perjalanan kembali ke cafe, hanya butuh waktu 10 menit. Tidur dan istirahatlah, kau tidak perlu memaksakan diri untuk menemuiku hari ini. Nanti malam aku akan menghubungimu... Cepatlah sembuh, tawake! ^^ -Rukia-'

Segera kumasukkan hpku ke dalam kantong mantelku dan kembali menelusuri jalan pulangku. Si bodoh itu benar-benar keras kepala. Untung saja dia memiliki ayah yang baik. Benar-benar tahan untuk menghadapi putra keras kepalanya itu. Aku harus berterima kasih kepada Isshin-san. Lagipula, dia sudah tahu namaku dan statusku sebagai pacar putranya. Mungkin, mengunjungi rumah Ichigo sambil memperkenalkan diri secara langsung? Argghh! Memikirkannya saja sudah membuatku malu! Aku ke rumah Ichigo? Seperti apa ya rumahnya? Seperti apa adik-adik yang selalu diceritakannya kepadaku? Seperti apa sosok ayahnya? Kadang...memikirkan keluarga hangat seperti itu membuatku iri. Bukannya aku tidak menyukai keluargaku sendiri, nii-sama dan nee-san yang baik padaku. Tapi, sosok ayah dan ibu, walaupun Ichigo tidak lagi mendapat perhatian dari sosok ibunya yang sudah meninggal, tapi tetap saja...

"Kau!" teriak seseorang di depanku, yang membuatku mengangkat pandanganku dari jalan yang kutapaki. Dia? Riruka?
"Riruka?" tanyaku sambil mengerutkan alisku, menatap Riruka yang memelototiku. Tapi, tiba-tiba saja wajahnya berubah murung, seperti tertekan. Kemana perginya sikap percaya diri dan congkaknya selama ini?

"Rukia... bolehkah aku..berbicara denganmu?" tanyanya ragu, masih menatapku tajam dalam wajah murungnya. "Hanya sebentar."

Aku terdiam, entah apa reaksi yang harus kuberikan padanya. "Tentang...apa?"

Riruka terlihat ragu dan pandangannya berusaha berkelik dariku. Dia kembali terlihat tidak tenang. Tangannya saling bertaut di depan dadanya. "Ini...Kibune Makoto."

(..)

Aku meminum teh hangatku sambil sesekali melirik sosok Riruka yang terduduk di depanku, memainkan rambut panjangnya dengan sebelah tangan. Baju hangatnya disampirkan di kursi sebelahnya, sementar tubuhnya hanya terbalut baju berlengan pendek yang berenda manis. Apa tidak dingin memakai baju seperti itu? Ya...walaupun dia masih menggunakan pakaian hangatnya sebagai penghalang cuaca di luar sana, tapi tetap saja dingin, bukan?

Riruka meraih cangkirnya dengan gaya kelas atasnya, seperti sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya yang sungguh bertolak belakang denganku—membuat mataku kembali menatapnya tajam. Jadi..disinilah kami berada. Di cafe pinggir kota dan menikmati teh hangat di pagi musim dingin. Berdua. Bersama musuh lamaku. Ya...bisa dibilang begitu, karena dia selalu memojokkan dan mengintimidasiku.

"Lalu?" tanyaku, yang memulai angkat suara. Dia menatapku di balik cangkir yang hampir menutupi wajahnya. Riruka terlihat menarik napas sebentar dan menaruh cangkirnya ke dalam posisi semula. Sikap tubuhnya terlihat tegap dan seperti berkuasa, tapi itu tidak menutupi kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.

"Kau...sudah menjadi kekasih..Ichigo?" tanyanya, lebih terdengar seperti memastikan.

"Ah..ya. Itu—Riruka, kau membawaku kemari bukan karena masalah Ichigo, bukan? Tadi kau menyebutkan nama...Kibune-san?"

Riruka bergidik seketika, namun sikapnya kembali tenang dengan mudah. Tatapannya tidak lagi menatapku, tapi mengalihkannya pada gelas atau apapun itu, selain kepadaku. "Ah...itu..Aku bertemu kembali dengan Makoto-san. Itu benar-benar membuatku senang, setelah lama kami berpisah dan..aku tidak lagi mendengar kabar darinya."
Aku terdiam menyimak penjelasannya, sambil sesekali memeriksa hpku. Memeriksa siapa tahu Ichigo lagi-lagi ngotot untuk menghubungiku. "Lalu?"

"Dia...dia bukan seperti Makoto-san yang kukenal. Dan anehnya...dia mencarimu, Rukia."

Dan sekarang akulah yang bergidik mendengar penjelasannya. Jadi, Kibune-san mencariku lewat Riruka-san? Apa yang dia rencanakan sebenarnya? "Kibune-san...mencariku?"

"Ya. Awalnya aku berniat menanyakan maksud dari kata-katanya itu. Tapi...tiba-tiba saja...dia bersikap aneh. Dia...membentakku, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah berlaku kasar padaku. Dia mengatakan kalau ini tidak ada hubungannya denganku. Dan dia sangat membutuhkan informasi mengenai dirimu...jadi..kukatakan kalau kau bekerja di Arc Cafe."

Mataku melotot terkejut. Jadi, kejadian tempo hari bukanlah kebetulan semata? Kibune-san mendapat informasi ini dari Riruka-san? Dia memaksanya? "Apa...dia melukaimu?" tanyaku.

"Eh?" Riruka terlihat bingung dengan pertanyaanku. "Kenapa kau menanyakan hal mengenai diriku, sementara...laki-laki itulah yang mencarimu, Rukia. Dia...mengincarmu. Aku tidak mengerti apa masalahnya."

"Kami bertemu di cafe tempo hari," jelasku dan mendapati perhatian Riruka kembali padaku. "Dia datang bersama...beberapa temannya. Dia hampir...menyeretku...keluar dari cafe."

"Makoto-san," ucapnya lirih. "Padahal, dia berjanji tidak akan menyakitimu."

"Hah?"
"Bukannya aku peduli denganmu, Rukia. Tapi, tatapannya itu membuatku takut. Aku hanya mau memperingatkanmu, kau harus berhati-hati dengan Makoto-san," ucapnya buru-buru dan memelototi mataku tajam. "Aku masih tidak terima kalau kau sudah menjadi kekasih Ichigo!"

"Hah? Apa maksudmu?"
"Kau mendapatkan laki-laki yang setia dan melindungimu seperti seorang ksatria!" teriaknya kesal sambil menggebrak meja dan menunjukku dengan telunjuknya. "Itu membuatku kesal!"

Aku hanya bisa tersenyum melihat sikap anehnya itu. Harga dirinya benar-benar tinggi, yang selalu akan dia pertahankan sampai kapanpun. Dasar, nona besar! "Terima kasih atas informasimu, Riruka."

Riruka mengalihkan tatapannya dariku, sambil memberengut kesal. "Sama...sama.." gumamnya kecil, yang membuatku ingin tertawa lebar. Seorang putri Dokugamine mengibarkan bendera putih di hadapanku sekarang.

"Kau juga, berhati-hatilah dengan Kibune-san. Jangan mendekati dan membiarkannya berbuat jahat padamu," saranku sambil meneguk tehku lagi.

"Tidak perlu kau beritahu juga aku sudah tahu!" balasnya sengit. "Hanya saja...aku tidak mempercayai sikap ramahnya itu benar-benar palsu.."

Aku melirik wajahnya yang kembali termenung. Memang bukan salahnya, kalau dia baru mengetahui kelicikan Kibune-san sekarang. Riruka hanyalah korban yang dimainkan oleh Kibune-san. Laki-laki licik itu. Tidak seharusnya dia menderita seperti ini, menderita karena sudah mencintai laki-laki yang salah. "Ya...aku juga tidak mempercayainya," gumamku.

(..)

"Mampirlah ke cafe sesekali, Riruka. Sekarang sedang ada promo natal, jadi—"

"Percaya diri sekali kau mengundangku kesana?" tanyanya sengit, sambil merapatkan jaket tebalnya di tubuh kurusnya itu. Cuaca di luar benar-benar tidak bertambah hangat. Tapi, aku juga tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi di dalam cafe bersama gadis aneh ini.

"Aku hanya menawarkan..." gerutuku. "Sampai jumpa, Riruka. Hati-hatilah dengan Kibune-san."

"Kau sudah mengulangnya berkali-kali sejak tadi," balas Riruka yang berniat hendak berbalik arah, tapi tatapannya tiba-tiba berubah kaget, pucat. Tubuhnya menjadi kaku, membuatku mengikuti arah pandangnya ke balik punggungku. Mendapati sosok orang yang tidak ingin kami lihat sedang berjalan ke arah kami.

"Wah, suatu kebetulan bertemu dengan kalian disini. Rukia, Riruka.." ucap Kibune-san memasang wajah polosnya. Aku memundurkan tubuhku ke samping Riruka dan mendapati tatapan gadis itu menatapku bingung.

"Kau benar-benar membawaku kepada Rukia, Riruka-chan," ucap Kibune-san yang terus mendekati kami, membuatku membelalakan mataku kaget.

"Ri..Riruka?" ucapku ngeri. Jadi Riruka dan Kibune-san...

"Bukan! Aku tidak bersekongkol dengan dia! Kau berbohong, Makoto-san!" teriak Riruka histeris sambil menunjuk-nunjuk Kibune-san sengit. Kibune-san hanya tersenyum lebar menanggapi sikap Riruka yang berubah ketakutan.

"Kau membawaku secara tidak langsung ke arah Rukia, Riruka. Kau benar-benar gadis yang baik," ucap Kibune-san yang membuatku merinding. Riruka menarik tubuhku ke belakang punggungnya, melindungiku?

"Jangan macam-macam dengan Rukia!" tantang Riruka-san yang membuatku kaget dengan sikapnya yang berubah 180 derajat kepadaku.

"Wah wah wah...kau benar-benar menjadi gadis yang baik ya, Riruka-chan. Sekarang kau membela...musuhmu sendiri?" Kibune-san berdiri di depan Riruka sambil menatap sengit ke arah kami. Dan anehnya tidak ada orang yang melewati jalan ini sekarang, hanya beberapa pejalan kaki di jalan seberang sana, yang sama sekali tidak melihat keributan disini. Membuat aku dan Riruka-san tidak bisa mencari pertolongan.

"Aku tidak suka perlakuanmu pada Rukia! Kau sudah bertindak di luar batas! Ini...seperti bukan dirimu, Makoto-san," kata Riruka meringis. Dia benar-benar sedih dan kecewa menghadapi perubahan dalam diri Kibune-san, mantan kekasihnya dulu.

"Inilah diriku sekarang, Riruka. Mau tidak mau kau harus menerimanya. Nah, sekarang biarkan aku berbicara dengan Rukia...berdua saja," katanya sambil mengulurkan tangannya ke samping tubuh Riruka dan meraih pergelangan tanganku.

"Tunggu—" cegah Riruka, tapi tiba-tiba gerak tubuhnya berhenti. Kibune-san menatap tajam Riruka...seperti tatapan seekor monster menjijikan.

"Kau sudah terlalu ikut campur, Riruka." Kibune-san menarik diriku tanpa mengalihkan pandangannya dari Riruka. Dengan cepat kutangkis tangannya dan menatapnya tajam. Tidak lagi untuk sekarang.

"Dan kau..mulai membantahku?" tanya Kibune-san yang ingin menarik pergelangan tanganku lagi, tapi dengan cepat kutangkis lagi.

"Jaga sikapmu, Kibune-san! Kau sakiti dan berani menemui Riruka lagi, aku tidak akan berbicara denganmu!" ucapku dingin, memelototi Kibune-san. Entah keberanian darimana yang melingkupi diriku sekarang. Tapi, yang kupikirkan sekarang hanyalah Ichigo. Ichigo yang menjadi pusat perhatianku dan pengalihanku dari ketakutan yang siap untuk melahapku.

"Rukia," bisik Riruka terlihat panik. Aku memandangnya lembut sambil berusaha tersenyum padanya. Bahwa ini akan baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Riruka. Kibune-san hanya butuh berbicara denganku—"

"Itu benar," potong Kibune-san. "Nah, ikutlah denganku Rukia, kita tidak bisa bicara disini."

"Asalkan kau berjanji padaku, jangan temui lagi Riruka," tawarku dan menatapnya tanpa keraguan. Aku tidak bisa lari dan mundur meninggalkan Riruka, meminta bantuan teman-temanku dan Ichigo. Sementara...Kibune-san sudah ada di depan mataku sekarang. Kemungkinan besar dia bisa berulah lagi, menyakiti Riruka, menyakiti teman-temanku, sampai dia berhasil mendapatkanku dengan kedua tangannya. Aku tidak bisa melibatkan mereka dalam hal ini, dalam masalahku sendiri. Tegakkan kepalamu dan bersikaplah seperti seorang Kuchiki...

"Baiklah...tuan putri," ucap Kibune-san yang membuatku tidak bisa menyesali keputusan yang sudah kuambil . Tidak bisa mundur.

*(((to be continued...)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Beberapa orang muncul yang hanya sekedar lewat sih disini, Kira dan Isane sebenarnya salah satu pegawai Arc Cafe, hanya saja mereka mendapat shift pagi-siang hari. Jadi, tidak sempat aku sebutkan dan jelaskan satu-satu disini (karena pusatnya adalah Rukia XD)...

Rukia menyebut Hirako seperti sosok Mad Hatter, yaitu tokoh aneh yang bertopi ala jaman Victorian dari dongen Alice in Wonderland..hohoohoho XD

Kibune muncul lagi disini! Karena sudah mendekat chapter akhir (chapter depan bisa dibilang hampir mendekati finalnya) jadi, konflik harus segera diselesaikan. Kibune mau tidak mau harus segera muncul..hihihihii

Lagi-lagi rencana busuk Kibune. Dia memakai Riruka buat mencari informasi mengenai Rukia (karena Kibune sendiri tahu sifat dan kebencian Riruka pada Rukia). Dan tidak disangka, Riruka tahu mengenai Rukia sekarang. Kibune mendapatkan jackpot besar, yaitu Riruka! Yang lagi-lagi harus diperalatnya buat memancing Rukia... Kibune sengaja membeberkan sifat aslinya di depan Riruka, sekedar membuat Riruka kaget dan menghubungi Rukia. Ternyata, strategi Kibune benar-benar berhasil pada Riruka..hohohohoho

Rukia berubah berani disini karena mengalami proses ya, sebelumnya kan dia masih takut buat menghadapi Kibune. Tapi karena ada Ichigo, Rukia lambat laun menjadi berani dan juga memiliki pendukung yang banyak (teman-temannya) yang selalu me-support dia dari belakang. Tapi disisi lain, Rukia juga tidak mau merepotkan teman-temannya sekaligus selalu bergantung pada Ichigo. Dia ingin mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri selagi dia bisa dan mampu. Salah satu sifat yang harus dimiliki seorang Kuchiki juga ^^; (ajaran nii-sama nya...)

Riruka disini berniat membantu Rukia, walaupun hanya memperingatkannya saja. Dia masih enggan membantu Rukia secara penuh, tapi melihat sikap Kibune yang mulai memperlihatkan psycho nya di depan Riruka, dia jadi takut dan tidak mau Rukia menjadi incaran Kibune yang sudah berubah 'menggila'. Riruka sebenarnya baik kok, cuman dia disini berperan sebagai korban. Dulu dia benar-benar cinta mati sama Kibune dan begitu mendengar gosip Rukia mendekati Kibune (sebenarnya kebalikannya) dia jadi marah sama Rukia. Dan Riruka baru mengetahui apa yang terjadi pada saat itu, setelah dia dan Kibune bertemu lagi disini (setelah beberapa tahun, Riruka baru menyadari sifat asli Kibune)...ya kira-kira begitu...XD Mana Ichigo direbut sama Rukia (ini pandangan Riruka loh) yang membuat Riruka emosi lagi sama Rukia...wkwkkwwkkw sebenarnya hanya misscomunication saja.. antara Riruka dan Rukia .

Any question? Ya...segini aja ya, kalau ada pertanyaan yang kurang jelas, silahkan PM atau tulis di review! Hehehheheheh ^^

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewer :

aeni hibiki : Makasih udah review ya! Salam kenal juga! XD hihihihihi...Iya, soalnya udah masuk konfliknya..sudah mencapai akhir XD Oce, ini udah update.. Makasih semangatnya! Thehehhehee..

Guest : Makasih udah review ya! XD hihihihihi... Iya, romance nya masih ada, tapi di chapter ini sedikit berkurang, soalnya konflik disini lebih banyak porsinya, sudah mau mencapai akhir XD Iya, teman-temannya banyak yang mendukung, mereka kan baik-baik ^^ *apa sih?* Sayangnya nii-sama nya gatau permasalahan Rukia disini, jadi dia ga bisa bantu XD Tpi masih perhatian kok, untuk hal lainnya..oce, nih udah aku update! XDb