Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Rukia, Ichigo
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: Florence and The Machine-Breath of Life, No Light No Light; Birdy-Skinny Love, Shelter ; JYJ-In Heaven …Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Update! Hihihiihihi…sebelumnya terima kasih banyak buat para reviewers yang meningkat di chapter sebelumnya! Ureshii~ Arigatou gozaimashita! XD Bener-bener membuat author semakin semangat buat menyelesaikan fic ini, mengingat tinggal 2 chapter lagi (chapter ini dan selanjutnya). Tapi masih ada chapter tambahan kok, 2 special scene untuk Winter dan Spring..thehehehhee…
Terima kasih banyak buat para readers yang masih setia membaca hingga chapter ini..(17 chapter! I can't belive it! XD) Dan bagi yang baru membaca, salam kenal! Hihihiihihi.. Juga para reviewer yang selalu membuatku semangat untuk mengetik chapter berikut, berikut, dan berikutnya…terima kasih minna-san! Terima kasih buat kritik saran yang membangun author dalam proses pengerjaan… Juga yang sudah me-fave, allert, follow author, terima kasih banyak! *kiss n hug for all of you~
Oce..this is the next chapter…berusaha dibuat menegangkan disini…just read it, all~ Prepare yourself…XD
(..)
(..)
(..)
"Tu..tunggu Rukia," cegah Riruka sambil menggapai pergelangan tanganku. Wajahnya terlihat tegang dan cemas. Dia mengigit bibirnya, berusaha menahan gemetaran ketakutannya sendiri. Seharusnya dia tidak melakukan hal ini untukku. Biarkan saja ketakutan yang mengambil alih diriku, bukan dirinya yang sama sekali tidak terlibat dengan masalah rumit ini.
"Riruka," bisikku, memohon agar dia segera melepaskan genggaman eratnya.
"Riruka," tegur Kibune-san di belakangku yang langsung membuatku merinding. Nada suaranya terdengar tenang, namun mengancam. Membuat Riruka semakin bergidik ngeri di tempatnya. Tanpa sadar dia melepaskan tanganku, membiarkan warna merah mulai menyebar di pergelangan tanganku. "Kau tidak mau menghambat kami, bukan?"
Riruka tertunduk takut. Sebelah tangannya mencengkram tali tas yang terkait di bahunya kuat-kuat. Aku mendesah, sebagian untuk mengeluarkan ketegangan dan emosi yang membuat kepalaku mulai berdenyut pusing. Kutaruh sebelah tanganku di bahunya yang bebas dari tas mahalnya itu dan menepuknya pelan. "Tidak apa, Riruka. Aku hanya..perlu bicara sebentar," bisikku berusaha menyembunyikan ketakutanku di depannya. Riruka menatapku bingung dan sebelum dia mengucapkan sesuatu, aku sudah berbalik dan menatap tajam Kibune-san. Apapun yang dia inginkan. Aku akan berusaha melawannya sekarang.
(..)
(..)
(..)
Just let it snow…let it snow…let it snow…
~000*000~
Chapter 17 : Winter Scene Three
~Choose and Chase...~
POV : Ichigo
"Ichi-nii, kau harus istirahat, badanmu panas sekali," gerutu Yuzu yang terus menerus menarik lenganku. Aku yang memang sudah tidak tenang sejak awal, berusaha menghubungi ponsel Rukia, tapi nihil. Dia memang sudah mengirimkan pesan setengah jam yang lalu, bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang ke cafe. Tapi...tetap saja. Aku merasakan sesuatu yang mengganjal. Aneh. Membuatku tidak bisa terus terduduk disini.
"Aku tidak apa-apa, Yuzu," balasku sambil menepuk-nepuk kepalanya lembut, menandakan bahwa aku masih baik-baik saja. "Aku sudah meminum obat yang kau beri tadi. Lagipula, sakit kepalanya sudah menghilang."
"Tapi tetap saja! Suaramu masih terdengar serak begitu, lagipula..Ichi-nii mau pergi kemana?" tanya Yuzu tidak sabaran yang mulai mengekor di belakangku. Kuambil jaketku yang tersampir di punggung sofa dan memakainya sebelum beranjak pergi dari rumah.
"Aku ada urusan sebentar, hanya perlu mengecek—"
"Kau mau kemana Ichigo?!" suara keras itu tiba-tiba muncul dari sampingku, melayang ke arahku. Spontan kumundurkan tubuhku ke belakang sambil mencegah Yuzu untuk melangkah lebih jauh. Dan berhasil. Orang bodoh itu terbang menghantam dinding di depannya.
"Oyaji! Kau bisa melukai Ichi-nii!" omel Yuzu yang lebih memperhatikan diriku dibandingkan dirinya sendiri. Aku mendesah pasrah dan mulai melanjutkan langkahku sambil menghindari tubuh baka oyaji ini dari jalanku.
"Aku pergi dulu. Yuzu, tolong jaga rumah dan dia," tunjukku tanpa melihat orang tua itu yang masih terkapar di lantai.
"Ah, tunggu Ichi-nii—"
"Kau mau kemana Ichigo?! Meninggalkan ayahmu begitu saja disini? Tega sekali kau?" gerutu orang tua itu dan kutebak dia mulai berlari ke arahku. Dengan cepat kututup pintu rumah untuk menghalaunya menjangkauku. Moodku sekarang sedang tidak ingin berkompromi melawan serangan bodohnya itu, sedikit membuatku muak. Kulangkahkan kakiku menapaki salju yang mulai bertumpuk seperti karpet putih, diiringi dengan suara debuman keras pintu rumah di belakangku. Yah...orang tua itu memang tidak pernah menyerah, bahkan rela untuk menabrak apapun yang ada di depannya. Ironis?
Kuraih tutup kepala jaket hoodieku, untuk menghindari salju turun dan bisa memperparah rasa peningku. Aku sedikit berbohong pada Yuzu, bahwa kondisiku sudah membaik. Memang sudah membaik dari yang sebelumnya, hanya saja ini tidak bisa menghentikan niatku untuk mengecek keberadaan Rukia di cafe. Hanya sebentar. Dan kupikir tidak ada salahnya.
Hpku tiba-tiba bergetar di kantong celanaku dan dengan cepat kuraih untuk mendapati nama Rukia disana. Tapi bukan. Ini seseorang yang tidak kukenal, hanya tertera no telepon di layar hpku. Ragu kutekan tombol hijau untuk menjawabnya dan menempelkan hpku ke arah telinga kananku.
"Halo?"
"I..Ichigo?" suara perempuan terdengar dari seberang sana. Bukan Rukia. Tapi, sepertinya aku kenal suara ini.
"Ya. Ini siapa?"
"Ah..ini..aku Riruka.." jawabnya ragu dan membuatku sedikit jengkel. Untuk apa dia menghubungiku dan...darimana dia tahu no hpku?
"Ada apa?" tanyaku sedikit ketus, membuat kepalaku semakin terasa pening. Yang kubutuhkan sekarang adalah mendapati Rukia berdiri di depanku dan tersenyum padaku. Melihat bahwa dia memang baik-baik saja.
"I..chigo..begini," nada suaranya terdengar ragu dan...ketakutan? Memangnya aku terdengar mengancam untuknya? "Ini..Rukia..kumohon..tolonglah dia.."
Sekejap langkahku berhenti untuk berusaha memproses kata-kata Riruka. Terlalu samar dan tidak jelas. Tapi begitu dia mengatakan nama Rukia, membuatku hampir panik dan emosiku tidak terkendali. "Apa..maksudmu?"
"Rukia! Dia..dia..pergi bersama Makoto-san..Kibune Makoto!" teriak Riruka panik dan terdengar isakan samar-samar. "Aku tidak bisa menahannya—"
"Dimana Rukia sekarang?!" teriakku panik, berusaha mengorek informasi darinya.
"Aku tidak tahu. Aku..sudah berusaha untuk menahannya, tapi..Rukia melarangku untuk mengikutinya. Aku tidak bisa berbuat banyak, jadi...kupikir aku harus menghubungimu," jawabnya terputus-putus.
"Dimana kau sekarang?" tanyaku panik. Kulangkahkan kakiku dengan cepat, entah kemana aku melangkah. Yang pasti aku tidak bisa berdiam diri saja disini, tanpa melakukan apapun.
"Aku..ada di dekat pusat kota, di block 23 sebelah utara. Tadi..Rukia menuju arah timur, ke daerah—"
Segera kumatikan hpku, sebelum Riruka selesai bicara. Yang penting sekarang aku mengetahui kemana Rukia pergi. Ke arah timur. Aku harus pergi segera ke sana, tidak bisa bergantung lagi pada informasi Riruka yang benar-benar minim. Walaupun, keberhasilan bisa dibilang sangat kecil untukku, di bawah 50 persen. Sial! Seandainya saja aku tidak membiarkannya pergi sendirian tadi! Bahkan, tidak kuduga kalau kemunculan si brengsek itu bisa mengancam Rukia sampai seperti ini. Siapa dia sebenarnya?
Hp di genggamanku bergetar lagi. Dengan tidak sabaran aku berniat mematikannya begitu saja. Namun, nama Grimjoww tertera jelas pada panggilan di layar hp. Segera kuangkat teleponku, berharap dia bisa membantuku sekarang.
"Grimjoww!" teriakku sambil berusaha mengatur nafasku sambil berlari mengitari block, menuju ke arah timur. "Aku butuh bantuanmu!"
"Hoi! Aku belum mengatakan apa-apa dan kau sudah mengagetkanku dengan teriakan bodohmu itu!" gerutunya yang membuatku semakin kehilangan kesabaran.
"Ini penting! Rukia menghilang bersama si brengsek itu!"
"Dimana kau sekarang?" lanjut Grimmjow tidak mempedulikan lagi amarahku sekarang.
"Sedang menuju ke arah timur. Hanya itu informasi yang bisa diberikan oleh Riruka! Sial—"
"Aku ada di dekat block timur bersama Ikkaku dan Kensei. Kami akan berpencar di daerah sekitar sini," jelas Grimmjow yang membuatku sedikit lega karena bantuan darinya.
"Arigatou, Grimmjow," balasku sambil berusaha menerobos lampu merah yang sudah menyala menjadi hijau.
"Cepatlah selamatkan putrimu, pangeran!" teriak Grimmjow sebelum memutuskan sambungan telepon. Dia benar-benar membuatku jengkel. Tidak bisakah dia serius sedikit?
~000...000~
POV : Rukia
Forgiveness...can I say it? No?
Strength...can I have it? No?
Aku hanya melangkah dalam diam, mengikuti Kibune-san yang terus berjalan tak tentu arah di depanku. Sengaja kusisakan jarak diantara kami, enggan untuk berdekatan dengannya. Sesekali Kibune-san melirikku yang hampir membuatku terlonjak kaget. Dia hanya tersenyum miris melihatku dan tidak berhenti untuk membuatku berjalan di sampingnya. Yang tentu saja langsung kutolak tawaran bodohnya itu. Aku tidak mau dia menyentuhku lagi, membuatku selalu bergidik ngeri. Seakan-akan sentuhannya itu berbisa untukku.
Salju turun semakin banyak, membuatku harus mengambil topiku dan menutupi kepalaku dari jatuhnya salju dingin. Kami semakin berjalan menuju daerah sepi. Seperti daerah perumahan zombie. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang lewat di sekitar kami. Hening. Dan ini membuatku semakin merasa tidak tenang.
Langit siang hanya berwarna abu-abu muda, menyisakan salju turun sebagai hadiah untukku. Hadiah dingin yang membuat bulu kudukku semakin merinding. Aku benci sekali musim dingin. Untuk saat ini.
"Kita sudah sampai, Rukia," tegur Kibune-san memecah lamunanku. Kami tiba di jembatan di atas sungai dingin yang mengalir cukup deras, namun terlihat tenang. Jembatan penghubung antara jalan perumahan asing yang jarang dilewati orang. Bahkan, di siang hari seperti ini.
"Ini dimana?" tanyaku sedikit khawatir, masih menjaga jarak darinya.
"Aku hanya ingin bicara denganmu. Berdua. Jadi, kupikir dimanapun tempatnya bukanlah masalah besar, kan?" jelas Kibune-san sambil menyusuri jari-jarinya di atas pagar jembatan yang terbilang pendek—hanya sebatas pinggangku. Salju sudah menutupi hampir seluruh tempat ini, menyisakan air sungai yang masih belum membeku. Pohon di pinggir sungai sudah merontokkan daunnya sejak lama dan membiarkan salju menutupi ranting-ranting rapuhnya—menaunginya. Indah. Hanya warna putih sejauh mataku memandang. Monokrom putih dan abu.
"Kau suka?" tanya Kibune-san, lagi-lagi bisa membaca pikiranku. Sungguh membuatku jengkel.
"Katakan saja apa maumu," balasku ketus dan mengalihkan pandanganku pada air sungai yang mengalir di bawahku. Apapun, selain mata yang mengintimidasiku itu.
"Kau benar-benar dingin, Rukia. Aku hanya ingin mencairkan suasana," jelasnya yang mulai membuatku muak. "Bahkan sekarang hatimu sedingin salju untukku. Apa kau juga melakukan hal yang sama pada kekasihmu itu?"
Spontan langsung kutatap tajam wajah yang mulai menyeringai itu. Kedua tanganku mulai tergenggam erat, membuat kantong belanja permintaan Unohana-san menjadi meremuk kerut karenanya. "Apa maumu?" ucapku sinis.
"Jangan pikir aku tidak tahu tentang atlit itu, Kurosaki Ichigo. Atlit lari terbaik yang dimiliki Karakura saat ini, kekasih yang terlalu protektif pada dirimu, Rukia," jelasnya sambil menapaki salju dan menciptakan jejak dalam di atas karpet putih yang bersih. Kotor seperti dirinya itu. Tiba-tiba dia tertawa keras, membuatku bergidik kaget karena sikapnya yang tidak terduga itu. "Hei, Rukia. Kau tahu? Aku hanya berpikir…bagaimana kalau seandainya kekasihmu itu..ah, Kurosaki Ichigo, tidak lagi menjadi atlit? Bagaimana kalau tiba-tiba dia mengalami kecelakaan dan membuat kakinya—"
"Hentikan!" teriakku ngeri. Nafasku memburu, membuat seluruh tubuh menegang karena hal mengerikan yang dikatakan Kibune-san barusan. "Apa yang kau maksud, Kibune-san?! Jangan…jangan sakiti dia!"
Kibune-san tertawa lebar sambil berjalan mendekatiku. Aku mundur untuk menghindarinya dan tertabrak oleh pagar penghalang jembatan. Tubuhku oleng karena pagarnya yang pendek,hanya sebatas pinggangku. Kedua tanganku sigap mencengkram pagar yang dingin itu, mendorong tubuhku agar tidak terjatuh ke belakang karena kesalahan bodoh yang kubuat. "Aku tidak mengatakan sesuatu untuk menyakitinya, Rukia. Aku hanya memikirkan, seandainya saja—"
"Jaga ucapanmu! Aku tahu segala akal busukmu itu, Kibune-san!" potongku lagi dan membuat langkah Kibune-san berhenti beberapa langkah dari jarakku.
Wajahnya tiba-tiba berubah serius, namun senyum mengerikannya itu belum menghilang—semakin menyeringai. "Eh? Jadi…kau sudah mengerti apa yang kumaksud? Aku tidak perlu berlama-lama untuk menjelaskannya lagi padamu, bukan?"
Aku terdiam, berusaha memikirkan maksud apa yang dia ingin katakan padaku. "Aku…"
"Tinggalkan dia, Rukia. Kekasih bodohmu itu." Wajahnya tidak berubah, masih dingin mengancam. Aku menahan nafas, memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang. Dia…sudah gila. Putus dengan Ichigo? Memangnya itu hal mudah? Seperti membalikkan telapak tangan?
"Atau kau mau dia terluka, seperti harapanmu itu? Menghancurkan mimpinya karena kesalahan bodoh yang kaubuat lagi?" Kibune-san berjalan cepat kearahku, membuatku tidak bisa menghindarinya. Tangannya mencengkram pergelangan tanganku kuat, membuatku semakin meronta dan ingin segera pergi dari sini. Ichigo.
"Lepas—"
"Kau mau mengulang kesalahan yang sudah kaubuat beberapa tahun yang lalu?" lanjut Kibune-san, mencengkram sebelah tanganku lagi. "Dan kali ini bukan hanya dirimu yang harus merasakan penyesalan itu, Rukia. Tapi, orang-orang yang ada di dekatmu juga, mereka yang berusaha melindungimu itu. Bukankah mereka bodoh? Melindungi seseorang yang hanya menyakiti mereka pada akhirnya?"
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti Ichigo! Tidak akan!" teriakku kesal, marah, takut, apapun perasaan yang kurasakan sekarang, membuat kakiku bergerak secara refleks. Kutendang tulang keringnya kuat-kuat yang langsung membuat Kibune-san jatuh limbung. Kupakai kesempatan itu untuk segera lari dari sini. Menjauh dari orang gila ini!
"Kau lari, maka aku akan melanggar janjiku!" teriak Kibune-san yang menghentikan langkahku seketika. Kulirik tubuhnya yang mulai bangkit sambil meraih pagar jembatan sebagai tumpuan baginya. "Riruka. Mulai dari dia."
"Kau! Hentikan omong kosongmu itu—"
"Tidak sampai kau mendengarkan kata-kataku, Rukia!" balasnya dan mulai berjalan limbung ke arahku. "Kembali kemari!"
Dengan enggan dan takut aku kembali melangkah ke arahnya, masih tetap menjaga jarak. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, tapi berusaha kutahan agar tidak keluar. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapannya. Lemah berarti kalah. Aku harus menyingkirkan perasaan itu segera. Untuk Riruka. Untuk Ichigo.
"Kau tahu apa akibatnya kalau kau lari lagi dariku?" katanya, membuatku menunduk dan enggan menatap matanya yang mulai menatap marah diriku. Membuatku merasa lebih kecil dan lemah dari yang sebelumnya kurasakan. "Kau tahu?!"
Teriakannya membuatku hampir berteriak ketakutan. Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menghalau suara yang tidak tahan untuk keluar segera. Tangisan, ketakutan, amarah, frustasi, semua itu berusaha kutenggelamkan sekarang. Sebelum membuat Kibune-san semakin marah ataupun senang dengan ketidakberdayaanku.
Tiba-tiba tangannya menarik rambutku ke belakang kepalaku, membuat wajahku menengadah paksa menatapnya. Kedua tanganku berusaha menepis tangannya, tapi tidak berhasil. Cengkramannya terlalu kuat, membuatku mengaduh sakit. "Lihat aku saat aku bicara!" teriaknya tepat di depan wajahku. Matanya menatapku tajam, namun ada sebersit kesenangan baginya melihatku kesakitan seperti ini. Air mataku tidak bisa kutahan lagi, mulai menetes menuruni pipiku.
"Ini akibatnya karena kau tidak mendengarkan kata-kataku!"
"Sakit—"
"Sekarang dengarkan aku, Kuchiki Rukia. Ini demi Riruka. Demi kekasihmu," ucapnya berbisik. Tangannya menarik rambutku lagi ke belakang, membuatku mengernyit sakit dan tubuhku limbung karena tarikannya. "Demi dirimu sendiri, Rukia."
Aku membuka mataku dan melihatnya menyeringai penuh kemenangan. Takut. Benar-benar takut untuk menghadapinya sekarang. Segala keberanianku tadi seakan menguap dan menghilang dari diriku. Dia terlalu kuat, terlalu berkuasa atas diriku. Dan aku terlalu lemah.
Dia melepaskan cengkramannya dari rambutku, yang kini terurai berantakan di samping wajahku. Aku yakin beberapa helai sudah rontok karena ulahnya tadi. Tangannya beralih ke pergelangan tanganku, kembali mengunci pergerakanku di samping tubuhku. "Dengarkan aku, Rukia. Aku tidak akan mengatakannya dua kali."
Aku hanya tertunduk lemas, memikirkan berbagai cara agar bisa lepas darinya. Tapi tidak bisa. Karena terlalu takut, terlalu lemah, terlalu lelah, terlalu tidak berdaya. Walaupun, aku berjuang demi melindungi Riruka, demi Ichigo, tapi aku tidak bisa melindungi diriku sendiri.
"Putuskan kekasihmu itu. Jangan pernah berpikir untuk berhubungan lagi dengannya. Dan jadilah kekasihku."
Ucapannya membuat mataku terbelalak kaget. Kibune-san hanya tersenyum simpul melihat reaksiku. Matanya berubah lembut menatapku, lembut yang aneh. Karena masih ada sebersit kejahatan kental disana. "Kenapa? Bukankah ini yang kauinginkan, Rukia? Seperti saat itu, saat pertama kali kita bertemu. Saat kau menatapku dengan tatapan polos dan kikukmu itu. Tatapan hangatmu itu…"
Entah apa yang dikatakannya sekarang, entah apa maksudnya. Dia membuatku semakin jijik padanya, pada sentuhannya. Semuanya. Menanggapi setiap kata yang keluar dari mulutnya yang berusaha mengikatku, seperti racun.
"Kau menyukaiku, itulah yang aku tahu," ucapnya penuh percaya diri. "Dan aku menyukaimu, menyukai saat kau melirikku dari lantai 2, saat di perpustakaan, saat aku sedang berjalan di lorong sekalipun. Lalu, entah kenapa kau berubah. Kau tidak lagi melihatku, bahkan tidak lagi melirikku diam-diam seperti biasanya. Kau seakan-akan menghilang… Menghilang dari hadapanku." Tangannya beralih menyentuh pipiku, yang langsung kutepis dan menatapnya marah.
"Dan aku mulai mengambil langkah untuk mengatakan yang sejujurnya padamu, mengatakan perasaanku yang kauinginkan dari awal. Tapi…kau menolakku. Menolakku, Rukia!" teriaknya sambil mendorong tubuhku hingga menabrak pagar jembatan. "Aku sudah bersikap baik padamu, tapi kau malah menepisku. Kau berusaha mempermainkanku?"
"Kau..kau berpacaran dengan Riruka saat itu," balasku sambil berusaha menyeimbangkan tubuhku agar tidak jatuh ke belakang. Jatuh ke dalam air dingin itu.
"Riruka tidak berarti apa-apa untukku. Kaulah yang kuinginkan. Hanya kau," balasnya. Sebelah tangannya naik dan mengelus leherku, membuatku merinding ngeri. Jempolnya ditekan ke arah nadiku dan kemudian ke bagian tengah leherku, membuat nafasku tercekat tiba-tiba. "Dan sekarang, aku berusaha untuk bersikap baik lagi untukmu, Rukia. Aku tidak akan menyakitimu lagi, menyakiti orang-orang yang berusaha mengganggu kita, asalkan kau menjadi kekasihku. Kau…milikku."
"Kau…" ucapku berusaha untuk tidak tercekik karena tangannya yang semakin menekan tenggorokanku. "Kau…gila.."
Tiba-tiba Kibune-san terdiam. Terasa hening yang mencekam diantara jarak kami. Membuatku merasakan keringat dingin membasahi tengukku. Kupikir…aku sudah salah bicara?
"Kau..kau menyebutku apa?" tanya Kibune-san hampir berbisik. Tangannya kembali bergerak di leherku, mencekikku hingga membuatku terbatuk kehabisan udara. Kedua tanganku berusaha menepis tangannya yang terlalu kuat mencengkramku. "Kau katakan apa tadi?"
"Kh…khau..khh.." kata-kataku terputus, tidak bisa keluar lagi. Aku berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk segera mengisi paru-paruku. Sesak. Sakit.
"Rukia, kesabaranku ada batasnya. Aku tidak mau menyakitimu lebih dari ini," ucapnya dan melonggarkan tangannya. Membuatku terbatuk-batuk hebat dan segera menghirup oksigen melalui mulutku. "Katakan sekarang. Apa jawabanmu? Apa kau mau menjadi kekasihku?"
Lagi? Kenapa? Kenapa dia tidak langsung melepaskanku begitu saja? Itu..Itu sudah berlangsung lama. Sudah beberapa tahun lewat dan seharusnya dia tidak lagi mengincarku. Tapi…mengapa?
"Aku mencintaimu, Rukia," katanya seakan-akan menjawab pertanyaan yang ada di otakku, belum sempat kulontarkan padanya. "Aku mencintaimu semenjak pertama kali melihatmu."
"Kau…bohong," ucapku miris melihat sikapnya yang tiba-tiba melunak dan terlihat…lemah. Dengan kata-kata cinta palsunya itu. "Kau bohong. Kau..tidak mencintaiku."
"Apa—"
"Cinta tidak menyakiti. Cinta…cinta tidak seperti ini. Tidak memaksa…tidak—"
"Jangan menceramahiku dengan kata-kata bodoh itu, Rukia!" Dia kembali mendorong tubuhku ke belakang, membuatku hampir terlempar dan jatuh ke sungai. Tanganku refleks menarik lengan bajunya, agar tidak jatuh dari jembatan. "Kau..memilih kata-kata yang salah, Rukia!"
Tangannya kembali mendorongku ke belakang, dengan paksa melepaskan pegganganku pada lengan bajunya. "Katakan jawabanmu sekarang, Rukia!"
"Aku..aku…"
"Tinggalkan laki-laki yang hanya memanfaatkanmu itu. Laki-laki bodoh yang hanya mengemis cinta darimu. Laki-laki bodoh yang hanya mengatakan bualan dan kebohongan padamu, Rukia. Kau milikku. Dan aku mencintaimu, Kuchiki Rukia! Aku rela mengorbankan apapun, menyakiti siapapun, siapapun yang menghalangi jalanku! Jalan kita!"
"Dia bukan laki-laki bodoh seperti yang kau kira! Ichigo adalah laki-laki yang paling baik yang pernah kutemui, menerima segala yang ada di dalam diriku! Setelah kau menghancurkanku, menginjak-injakku, membuatku terpuruk, Ichigo lah yang menyelamatkanku! Dia yang membuka kembali perasaanku! Dia yang membuka mataku kembali untuk melihat dunia, melihat perasaanku sendiri," teriakku tepat di depan wajahnya, membuatnya terbelalak kaget dan menjadi pucat. Walaupun aku takut, lemah, terlalu bodoh untuk menghadapi Kibune-san. Tapi…tapi… jika dia menyakiti Ichigo, jika dia menghina Ichigo, jika…jika dia berani menyentuh Ichigo dan mencelakainya. Aku…tidak akan segan-segan untuk menghajarnya sekalipun. Bahkan, hingga lututku bergetar karena takut. Hingga dia menyudutkanku lagi, menginjak-injakku lagi seperti dulu.
"Kau…tidak menerimaku?" tanyanya dan melonggarkan jeratannya padaku. Matanya berubah kecewa, sedih, terpuruk, yang sama sekali tidak kupedulikan sekarang. Sama sekali tidak membuatku bersimpati padanya.
"Aku tidak akan meninggalkan Ichigo," jawabku lantang. Entah darimana keberanian yang kudapat untuk mengatakan kata-kata itu. Walaupun, air mata kembali menggenang di pelupuk mataku. Kedua tanganku gemetaran di samping tubuhku, bukan karena dinginnya salju.
"Begitu?" Tiba-tiba Kibune-san tertawa miris, membuatku bingung dan mengerutkan alisku. "Begitu? Kau lebih memilih dirinya? Kalau begitu… dia….dia tidak berhak memilikimu lagi. Begitu pula dengan diriku," ucapnya dan mendorong tubuhku yang tidak siaga hingga terpelanting ke belakang. Melewati pagar jembatan. Bahkan, tanganku pun tidak berhasil meraih pegangan apapun sebagai pijakan. Yang kurasakan adalah dinginnya angin, menampar wajahku, mengeringkan airmataku, dan suara seseorang yang memanggil-manggil namaku sebelum aku merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Sebelum kegelapan mulai mengambilku dari salju yang terus turun menyentuh kulitku lembut. Ichigo.
(..)
(..)
(..)
~Chase? Can't you?...~
POV : Ichigo
Aku mulai menelusuri perumahan sepi di blok timur, bersama Grimmjow yang kutemui di tengah jalan tadi. Kami terus berlari, berusaha mencari tanda-tanda kehidupan disini. Tapi, nihil. Ini seperti tempat berhantu yang membuatku menggigil. Karena dingin, karena keheningan, karena ketakutanku akan Rukia.
"Sial!" umpatku sambil terus melirik ke lorong-lorong yang lagi-lagi kudapati sepi. Dimana Rukia sekarang?
"Tenanglah dan terus mencari," celetuk Grimmjow yang langsung kupelototi dirinya. "Kau pikir dengan penyesalan seperti itu bisa menemukan Rukia begitu saja?"
"Aku tahu! Tapi—"
Tiba-tiba kudengar suara orang, tertawa. Aneh, tidak ada kehidupan disini dan yang pertama kali terdengar adalah suara tertawa yang nyaring dan terdengar miris. Siapa?
Bulu kudukku kembali merinding, entah karena apa. Kulangkahkan kakiku dengan cepat ke sumber suara itu, sambil berharap bahwa Rukia baik-baik saja. Mungkin, dia sedang berjalan santai ke arahku dari sudut jalan. Dia akan segera menghampiriku sambil tersenyum lega. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang menyakitinya. Tidak ada yang melukai, bahkan menyentuhnya seujung jari pun.
"Ichigo!" teriak Grimmjow dari belakangku sambil menunjuk jembatan di depannya. Kulihat sosok…Rukia? Apa itu Rukia? Dia..terpojok di ujung pagar jembatan dan tiba-tiba orang di depannya mendorong tubuh kecilnya. Tanpa pertahanan. Oh..tidak. Tidak. Tidak! Jangan! "Rukia!"
Terlambat. Tubuhnya terjatuh dari jembatan, menuju dasar sungai yang cukup deras di musim dingin ini. Musim dingin. Sungai. Tidak! Kumohon! Rukia!
Tanpa pikir panjang segera aku berlari dan mendorong tubuh orang yang sudah mencelakai Rukia, Rukiaku. Kulompati pagar jembatan dan menyambut dingin dan gelapnya air beku di bawah tubuhku, menghantarkan sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merinding hebat. Sungai yang cukup dalam, membuatku harus menyelam begitu masuk ke dalamnya. Segera kutarik tubuh Rukia yang tidak bergerak, sebelum dibawa arus sungai yang terbilang cukup deras—untuk tubuh kecilnya itu.
Aku harus berusaha berenang untuk bisa mencapai pinggiran sungai dan membawa kami ke daratan yang dilapisi salju putih. Segera kudorong tubuh Rukia ke atas daratan, sebelum aku mendorong tubuhku yang sudah menggigil kedinginan. Bahkan, rasa sakit mulai menusuk-nusuk kembali kepalaku.
"Rukia—" tubuhku seperti membeku begitu melihat warna merah melapisi salju putih di atas tubuhnya. Merah darah.
Kutarik tubuhnya perlahan dalam pelukanku, agar tubuhnya tetap hangat. Perlahan tanganku yang gemetaran menangkup pipi putihnya, bibirnya mulai membiru. Darah merah segar mengalir dari belakang kepalanya. Batu sungai? Dia membentur…batu? Tidak. Rukia…
Memori itu kembali menghantui benakku. Hujan. Sungai. Tubuh ibu yang terbujur kaku. Bersimbah darah dan bercampur dengan genangan air hujan. Dan aku…di sebelahnya…tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada. Hanya memandangi tubuhnya yang sudah terbujur kaku tidak bergerak.
"Rukia!" dengan panik kutelusuri tanganku dan merasakan nadi lemah di leher putihnya. "Rukia! Tidak! Kumohon! Jangan lagi!" Jangan terulang lagi. Kumohon. Jangan ambil Rukiaku, jangan berakhir seperti akhir hidup ibuku. Kumohon…
*(((to be continued…)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note :
Ok…kelabilan Kibune disini mencapai puncaknya. Dia memang psycho, bisa dibilang gangguan jiwa. Hahhhahaha..tapi dia benar-benar suka Rukia, benar-benar cinta. Tapi, saking cintanya itu membuat dia hampir gila beneran, rela mengorbankan apapun demi mendapatkan Rukia. Lalu, kenapa akhirnya dia mendorong tubuh Rukia jatuh ke dalam sungai? Bukan tanpa sengaja, tapi dia berpikir kalau dia tidak bisa mendapatkan Rukia, maka yang lainpun tidak berhak mendapatkan Rukia…terlalu drama? Hehehe…
Ichigo pernah mengalami masa lalu yang hampir mirip sama kejadian Rukia sekarang. Tidak bisa author ceritakan disini, karena akan dijelaskan di chapter berikutnya, mungkin readers udah bisa nebak sih..hihihihihii..Tunggu ya~
Pokoknya disini tuh 'demi Ichigo'. Rukia pada Ichigo. Pokoknya Rukia bisa melakukan apapun demi Ichigo..so sweet (?) hahahhahaaha..*plakkk
Rukia terselamatkan? Tidak? Tunggu di chapter berikut ya…ga bisa kasih clue sekarang ^^;
Btw, ada yang sudah membaca chapter terbaru Bleach (manga chapter 529) ? It's really make me shock…speechless… 0_0 til now…. Can't believe it! *arghhh* Beneran Kubo Tite keren banget XD Penjelasannya benar-benar logis..hehhehehhe..Manga pertama yang membuat aku melongo di depan komputer…0_0 *just ignore me ^^;
Seperti biasa, any question? Ada kritik saran? Bisa dikirim lewat review atau PM ya..hihihihihi…XD
Balasan anonymous dan no-login reviewer :
Ika-chan : Makasih udah review ya! XD... Iya, semakin menegang disini, semoga chapter ini benar-benar terasa klimaksnya ya...hihihihihiihi Adegan lucu Rukia? Wah..buat saat ini kayanya belum bisa, mungkin aku munculin di special scenes ya nanti ^^
Natsuki akiRaa GranzJaquez : Makasih udah review ya! XD... wkwkwkkwk oya? Suka baca yang udah banyak chapter nya ya...hihihihi jadi ga lama nunggu.. oke, ini aku udah update lagi, moga suka ya ^^
Rizuki Ryuuzaki : Makasih udah review ya! XD... Eh? Kamu bisa meramal? Kok bisa tau? Wkwkwkkwkkwk *just kidding* Tapi bener loh tebakanmu, Riruka segera nelepon Ichigo...hehehhe Makasih semangatnya ya ^^
aeni hibiki : Makasih udah review! XD... hehehhehe...happy ending ga ya? Semakin penasaran? Tunggu updatenya lagi ya! *author ditimpukin mendadak* Ah..gomen ga bisa kasih tau, tunggu chapter berikutnya aja ya, nanti ketebak kok endingnya XD Makasih semangatnya ^^
rukochigo : Makasih udah review ya! XD Tentang hubungan Rukia, Riruka sama Kibune tuh ada di chapter 13, di flasbacknya..Rukia tuh awalnya suka sama Kibune, tapi karena Kibune udah punya pacar (Riruka) jadi Rukia mundur..Perasaan Kibune terjelaskan disini. Dulu dia sempat berbohong sama Riruka, dia bilang Rukia yang menyatakan perasaan pada Kibune (padahal sebaliknya, karena Rukia udah mundur saat itu) jadi Riruka marah besar.. Ini hanya akal busuk Kibune aja kok...XD Soal Ichigo dan Hirako ada di chapter 5, Yumichika menceritakan masa lalu Ichigo yang didapatnya dari Ikkaku. Hirako dulu tuh teman Ichigo, kakak kelasnya sebenarnya, cuman 1 geng gitu..hihihiihi Tapi tiba-tiba Hirako pergi tanpa memberi kabar dan ngebuat Ichigo marah. Eh, tiba-tiba Hirako muncul lagi di depan Ichigo (di cafe) dengan wajah santai..Itu ngebuat Ichigo marah sama Hirako ^^; begitulah kira-kira..kamu bisa baca lagi chapter yang kusebut tadi, hehehhehe XD Maaf sebelumnya udah ngebuat kamu bingung T_T
Sookyung06 : Makasih udah review ya! XD... eh? Benarkah? Jadi malu..thehehhe *plakkk* Iya, walaupun cuman via telepon, tpi mereka masih so sweet..XD Soal Rukia, bisa dilihat di chapter berikut..hehe..biar bikin penasaran..fufufu.. Makasih semangatnya ya ^^ Salam kenal juga~
123 : Makasih udah review! XD..namamu lucu nih..hihhiiihi.. Ini aku udah update, Ichigo masih menjadi pangeran penolon buat Rukia disini, tapi...gimana nasib Rukia ya? Tunggu chapter depan ya! Hihihiihi XD
See u next chapter~ Ayeeyyyyy~ XD
