Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Shelter, People Help The People; Electroboyz feat Hyorin (Sistar)-Ma Boy, Sistar-Loving U, Miryo feat Sunny (SNSD)-I Love You I love You I Love You, Owl City-Peppermint Winter, Rainbow Veins; One Ok Rock-Clock Strikes, The Beginning …Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Ah..gomen..update lama TAT...Kesibukan tugas hampir menyita sebagian waktuku buat melanjutkan fic ini...*hiks*... and..this is it! Chapter terakhir dari Four Seasons! Iyeeeyyyy~ Sebenarnya masih ada 2 chapter tambahan lagi kok, tapi bisa dibilang ini bagian akhirnya..hihiihihiih

And...thanks a lot for all my readers! Buat yang masih setia membaca dan yang baru mulai membaca fic ku, salam kenal! Untuk reviewers yang setia me review, memberi kritik dan saran..Arigatou gozaimasu! Juga yang sudah me fave, follow, alert, terima kasih banyak semuanya... Aku benar-benar terharu melihat para readers, reviewers yang...bisa dibilang tidak sedikit jumlahnya, TAT...LOVE U ALL! *bighug XDb

Oce..enjoy this chapter.. Aku buat lebih ringan disini dan hope u like it ~

(..)

(..)

(..)

Ki..Kibune-san…

"Kau tidak mau memilihku, Rukia. Karena itu kau harus menghilang…"

Jangan…aku..

"Jatuhlah ke dalam sana dan jangan pernah kembali lagi…"

Tu..tunggu Kibune-san..aku tidak mau…

"Biarlah rasa dingin dan gelap yang menemanimu disana. Bukankah itu yang kauinginkan, Rukia?"

Tidak! Aku tidak mau!

"Lalu apa yang kauinginkan? Kau tidak bisa memilih lagi…"

Aku ingin..aku..I—

"Kau menginginkanku?"

I..chigo? Ichigo!

"Bukankah tadi kau menolakku? Bukankah tadi kau tidak menginginkanku?"

Bukan! Tadi…yang kumaksud adalah Kibune-san, bukan kau, Ichigo!

"Tadi kau mengatakan hal itu padaku.."

Bukan! Tadi yang ada di depanku adalah Kibune-san! Bukan kau, Ichigo!

"Sejak tadi aku ada disini, Rukia. Kau sudah menolakku—"

Bukan… Ichigo…aku—

"Pergilah…dan jangan kembali lagi…"

Tidak! Ichigo! Aku tidak mau! Jangan..jangan mendorongku ke air dingin itu…

"Memang disanalah tempatmu seharusnya, Rukia…"

Ichigo!

(..)

(..)

(..)

~000*000~

Chapter 18 : Winter Scene Four

When the cold brings you down…

When you can't breathe anymore…

Who will help you then?

The Sun? Or the Wind?

"Ichigo!" panggilku dan memaksa mataku untuk segera terbuka. Sinar putih menyilaukan membuatku langsung mengerjapkan mataku dengan cepat, menghalaunya masuk. Dan rasa sakit itu muncul seketika, seperti tersengat. Kepala yang berdenyut hebat, bahu dan lengan yang terasa kaku dan lebam, dan kakiku yang terasa lemas—enggan untuk digerakkan. Yang lebih parah lagi adalah rasa dingin yang begitu hebat disekujur tubuhku, membuatku merinding tanpa sebab. Apa…karena mimpiku tadi?

Itu…benar-benar terasa nyata dan menyakitkan. Melihat sosok Kibune-san yang mengancam, kemudian langsung tergantikan oleh sosok Ichigo yang menolakku. Aku..takut. Aku takut akan mimpi itu yang bisa berubah nyata dan mengambil Ichigo dari sisiku. Aku takut…dengan tatapan Kibune-san di jembatan tadi—tatapan mengintimidasi dan berusaha untuk melenyapkanku. Saat dia mendorongku dari jembatan, membuatku terdorong ke belakang dan…dingin. Dingin dan gelap…lalu? Lalu…apa yang terjadi?

Tiba-tiba denyutan keras terasa dari belakang kepalaku, membuatku mengerang sakit. Kusentuh kepalaku yang sudah terbalut perban, hampir seluruhnya. Aku…tidak lagi berada di dalam kegelapan dan kedinginan yang menusuk. Aku…dimana? Ini dimana?

Aku berusaha bangun dari tempat tidurku yang keras ini dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Yang kudapati hanyalah tirai yang mengelilingi tempatku sekarang, tertutup rapat dan tidak membiarkanku untuk bisa mengetahui apa yang ada di baliknya. Ini…rumah sakit? Ah..memang iya. Tercium dari baunya yang khas dan membuatku mual. Bau pemutih ruangan dan obat yang berlebihan, memberikan kesan bersih sekaligus memuakkan. Aku tidak suka disini. Aku…ingin keluar. Aku ingin Ichigo.

Tapi sayangnya, tubuhku yang lemah tidak bisa menopangku untuk segera turun dari ranjang keras ini. Aku mengerang lagi karena sakit yang kembali menghantam tubuh dan kepalaku, setiap kali aku bergerak. Ini benar-benar menyebalkan! Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan menjadi tidak berdaya seperti kelinci yang diikat dan siap untuk dipotong. Urghhh…!

"Hoi, Kurosaki! Kubilang jangan bergerak dulu!" Samar-samar kudengar seseorang yang menyebutkan nama Ichigo di luar sana. Dari suara berisik orang-orang disana, hanya nama Ichigo lah yang membuatku fokus pada ruangan ini. Mungkin…ini adalah ruangan gawat darurat? Dimana banyak suara-suara sibuk dan orang-orang yang berlalu lalang. Karena itukah tirai di samping tempatku ini ditutup? Baguslah. Aku sedikit lega karena tidak terbaring di salah satu kamar rumah sakit ini. Yang bisa membuat kondisiku semakin terlihat parah.

"Berisik! Biarkan aku turun! Aku…uhukk—" Suara Ichigo terdengar di luar sana, membuat sekujur tubuhku menegang kaget. Suaranya terdengar lebih berat dan serak. Dia terbatuk-batuk parah dan terbaring sakit? Disini? Di ruangan gawat darurat ini? Ada apa dengan Ichigo? Ke..kenapa dia bisa dirawat disini?

"Ichigo?" panggilku dan mendapati suaraku benar-benar serak dan kering. Bahkan panggilanku ini hanya terdengar seperti suara bisikkan, tidak mungkin bisa mencapainya dari jarakku sekarang. "Ichigo…"

"Aku ingin melihat Rukia—"

"Dia tidak apa-apa, masih tebaring di sana. Kami akan segera merawatnya dan memindahkannya ke kamar pasien. Sementara kau tetap disini untuk memulihkan kondisi—eh? Hei! Kurosaki!"

Suara derapan langkah berat terdengar mendekat, membuat detak jantungku berdetak cepat. Siapa? Siapa yang mendekat? Apa itu Ichigo? Ataukah salah satu dokter yang akan segera memindahkanku dari sini? Membuatku semakin jauh dengan Ichigo? Tidak…aku..aku tidak mau. "Ichigo…."

"Kau berisik sekali, Ishida! Dan biarkan aku melihat Rukia sekali saja—hei! Jangan menarikku, bodoh!"

"Kau harus segera berbaring! Atau kau mau aku bius sekarang?"

"Aku baik-baik saja—uhukk! Tidakkah kau lihat aku bisa berjalan dengan kedua kakiku?"
"Bukan itu maksudku!" Suara lawan bicara Ichigo terdengar semakin meninggi dan memaksa. Siapa dia yang memaksa Ichigo untuk menjauh dariku? "Kurosaki!"

Aku mengernyitkan alisku kesal dan memaksa badanku untuk turun. Tidak ada gunanya aku terduduk disini dan membiarkan Ichigo diseret paksa oleh orang bodoh itu. Kuayunkan kakiku kepinggir ranjang dan mendapati kedua kakiku bergemetar hebat. Urgghhh! Sial!

"Suster! Tolong aku untuk menahannya—"

"Hoi! Ishida! Apa yang kaulakukan?! Lepaskan aku, bodoh!"

Ichigo? Tu…tunggu.. Apa yang akan dilakukan orang itu pada Ichigo?

"Suster!"

"Tutup mulutmu sebelum kututup paksa dengan kepalan tanganku ini, Ishida!"

Ichigo…tunggu. Aku akan segera turun dan…"Arghhh!" Benar saja. Begitu aku turun dari ranjang, kakikku tidak bisa menopang tubuhku dengan baik—membuatku terjatuh ke atas lantai yang keras. Kepalaku kembali berdenyut hebat, membuatku meringis sakit sambil memejamkan mataku erat-erat—berharap rasa sakitnya segera hilang.

"Rukia!" teriakan Ichigo membuatku tersentak kaget. Dan tiba-tiba tirai di depanku dibuka dengan paksa, memperlihatkan sosok Ichigo yang menjulang tinggi di atasku.

"Ichigo…" entah kenapa tangisku pecah begitu melihatnya ada di sampingku dan memeluk tubuhku yang terduduk di lantai. "Ichigo—"

"Rukia! Kenapa kau bisa ada di bawah sini," ucapnya miris sambil menggendongku dalam pelukannya dan membaringkanku kembali ke atas kasur. "Kau tidak apa-apa? Apa terasa sakit?"

Tangannya dengan lembut mengelus kepalaku dan perlahan turun ke pipiku. Air mata di pipiku dihapusnya dengan ibu jarinya lembut.

"Rukia-san! Kau sudah bangun?" teriak seseorang dari balik tubuh Ichigo. Laki-laki berjas putih dan berkacamata. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari Ichigo, membuat jas putihnya tersampir kebesaran padanya—terbalut tidak pas seperti siput pada cangkang besarnya. Aneh.

"Minggir kau, Kurosaki," bentaknya kesal dan sama sekali tidak ditanggapi oleh Ichigo—yang masih menatapku dengan tatapan berkerutnya. Kali ini dia tidak terlihat marah, tapi lebih terlihat…sedih? Kecewa? Khawatir?

"Ichigo…aku—"

"Kau tidak mungkin tidak apa-apa, Rukia. Kau…astaga! Kau hampir saja tenggelam terbawa arus dan…darah dari kepalamu…" Ichigo mengernyit ngeri sambil menelusuri jarinya perlahan pada perban di kepalaku.

"Kurosaki! Aku harus memeriksa Rukia-san!" kata orang kurus itu, berusaha mendorong tubuh Ichigo. Tapi, lagi-lagi Ichigo menolak dan memberikan tatapan tajam padanya.

"Kau berisik sekali, Ishida!"

"Kubilang minggir, kepala batu!" balas si kacamata sambil mendorong tubuh Ichigo paksa, hingga dia terdorong ke belakang beberapa langkah. Tidak kusangka…dia kuat juga?

"Bagaimana keadaanmu, Rukia-san?" tanya si kacamata yang tertunduk di depanku. Tatapannya berubah datar begitu melihatku, tidak lagi terlihat mengancam. Tergantung tanda pengenal di kantong bajunya, memperlihatkan foto formalnya dan identitas dirinya. Ishida Uryuu, dokter jaga. Dia…dokter? Semuda ini?

Ishida-san menatapku tajam, meminta penjelasanku dengan tidak sabaran. "Ah..aku…aku baik-baik saja. Hanya…kepalaku masih terasa sakit," ucapku terbata-bata. "Dan tubuhku terasa lemas…dokter...?"

"Panggil saja aku Ishida, aku tidak keberatan. Aku hanya dokter jaga disini, jadi tidak perlu hal formalitas seperti itu," ucapnya dengan nada datarnya. Tangannya meraba kepalaku perlahan, membuatku merasa tidak nyaman.

"Hoi, Ishida! Dia baik-baik saja?" tanya Ichigo yang kembali muncul di samping Ishida. Dia terlihat kesal dengan dokter muda yang sedang memeriksa kondisi tubuhku ini, sama sekali tidak menanggapi komentarnya.

"Aneh. Kupikir kau terbentur cukup keras dan…darah yang keluar dari kepalamu tidaklah sedikit. Aku benar-benar terkejut saat Kurosaki membawamu kemari, Rukia-san. Nah…dan sekarang kau sudah bisa bangun? Hanya menderita gegar otak ringan. Ah... Mungkin tidak. Kepalamu baik-baik saja," jelasnya panjang lebar sambil menulis sesuatu pada file kertas yang diambil dari samping tempat tidur.

"Jadi mana yang benar?" gerutu Ichigo terlihat tidak sabaran. Kuperhatikan wajahnya yang terlihat lebih pucat dan memerah. Apa Ichigo juga sakit?

"Dia tidak apa-apa, Kurosaki. Hanya gegar otak ringan yang menyisakan benjolan di belakang kepalanya. Ini akan segera sembuh setelah kau beristirahat beberapa hari, Rukia-san. Dan yang menjadi masalah sekarang adalah kondisimu yang hampir serupa dengan Kurosaki. Kalian hampir terkena hipotermia!"

Eh? Kami? Hipotermia? Ichigo juga? Bagaimana bisa?

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," balas Ichigo yang menyikut Ishida-san dan segera duduk di sampingku.

"Bagaimana tidak bisa?! Lihat sendiri sekarang kondisimu, Kurosaki! Demam dan flumu semakin bertambah parah dari yang sebelumnya! Bahkan terlihat lebih parah dari Rukia-san!" gerutu Ishida-san sambil menatap tajam Ichigo yang menghiraukan ocehannya. "Rukia-san hanya menderita gejala demam ringan dan tubuh yang mengigil akibat kedinginan di dalam air sungai beku. Kau perlu menghangatkan dirimu lebih lama lagi, Rukia-san. Dan…akan kuberi beberapa resep obat untukmu," jelas Ishida-san lagi dan kembali menulis sesuatu di file yang dipegangnya. "Dan sekarang, kembalilah ke ranjangmu, Kurosaki! Apa kau mau dirawat lebih lama lagi disini?"

Ichigo hanya menggerutu tidak jelas dan tidak mau beranjak dari posisinya. Benar-benar keras kepala.

"Ehhh..eto…Ishida-san?" panggilku.

"Ya?"

"Aku….apa aku boleh pulang?" tanyaku, sedikit takut dengan jawaban yang akan diberikannya. Aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti kalau harus rawat inap disini. Bagaimana dengan reaksi yang akan diberikan oleh nee-san dan nii-sama? Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku kembali berdenyut sakit.

"Iya, kau boleh pulang beberapa jam lagi. Setelah kau bisa memulihkan kondisi tubuhmu. Masih terasa lemas, bukan?"

Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya. Syukurlah. Ini benar-benar membuat jantungku bisa kembali berdetak normal.
"Kembali ke sana dan hangatkan dirimu, Kurosaki!" teriak Ishida-san tiba-tiba yang membuatku terlonjak kaget. Ishida mencengkram leher baju Ichigo dan berniat menyeretnya.

"Lepaskan, kacamata! Aku baik-baik saja selama aku berada di samping Rukia. Lagipula, hanya perlu menghangatkan diri, bukan?"

"Hah?" Ishida-san terlihat bingung dengan apa yang dimaksud Ichigo barusan. Namun tatapannya berubah ngeri begitu melihat Ichigo memelukku dan berbaring di sampingku—dengan tubuh yang masih terduduk di samping ranjang. Wajahku benar-benar memerah sekarang, merasakan kehangatan tubuh Ichigo yang dengan cepat menghilangkan rasa menggigil di tubuhku.

"Kurosaki!"

"Wah..wah..kau sudah sadar, mungil?" Rambut biru terlihat dari balik rambut orange Ichigo yang menghalangi pandanganku. Sosok Grimmjow-san yang menyeringai lebar terlihat menjulang tinggi. "Dan sekarang kalian sudah bisa bermesraan? Di rumah sakit?"

"Grimmjow, bagaimana?" tiba-tiba Ichigo berubah tegang dan langsung berdiri dari posisinya yang memelukku terbaring. Tubuhnya terlihat siaga dan menegang, semakin membuatku gugup.

"Ah..sudah kubereskan," balas Grimmjow-san yang tidak kumengerti apa maksud pembicaraan mereka.

"A..apanya?" celetukku tidak bisa diam saja dan langsung mendapati tatapan ketiga orang di depanku ini jatuh padaku.

Grimmjow-san mendesah sesaat dan kembali melirik Ichigo, dengan maksud yang tidak bisa kumengerti artinya. "Kau yang ceritakan?"

Ichigo terdiam sesaat sebelum membalikkan kembali tubuhnya menghadapku yang masih terbaring disini—enggan untuk berdiri karena hantaman denyut sakit di kepalaku, membuatku pusing dan lemas.

"Aku akan mengambil obat untuk kalian," potong Ishida-san yang pergi keluar, meninggalkan kami bertiga disini, mungkin juga memberikan waktu untuk membahas masalah yang tidak Ishida-san ikuti dari awal.

Tatapanku beralih ke Ichigo yang masih terlihat tegang dan sama sekali tidak mau melihatku. Ini sedikit membuatku kesal. "Ichigo?"

"Ini…tentang Kibune Makoto," ucapnya dengan nada sinis dan membuatku sedikit bergidik. "Tenang saja, orang itu tidak akan mengganggumu lagi. Grimmjow dan beberapa orang temannya sudah berhasil membekuknya." Tangan Ichigo terulur untuk menggenggam tanganku erat, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Si brengsek itu sudah kubawa ke kantor polisi," celetuk Grimmjow-san yang memandangku tajam. "Ya, tentu saja dengan kondisi yang bisa kaubayangkan."

"Eh?" Aku benar-benar bingung dengan maksud si panther biru ini—terlihat mencurigakan. Apa dia….

"Grimmjow sudah menghajar orang itu hingga babak belur," lanjut Ichigo menjelaskan. "Saat aku menolongmu, Grimmjow mendapatkan bagiannya."

Ah..begitu… Jadi Kibune-san berhasil dihajar Grimmjow-san? Itu benar-benar…mengerikan. Membayangkan tubuh Kibune-san yang lebih kecil dari ukuran tubuh Grimmjow-san. Tapi…itu setimpal. Dan kuharap dia tidak akan muncul lagi dalam kehidupanku, kembali terpendam dalam lumpur kelam yang membawanya menjauh dariku. Tidak lagi bisa menyakitiku, maupun orang-orang di dalam kehidupanku. Menyakiti Ichigo. Menyakiti Riruka. Tidak lagi…

Dan…eh..tunggu dulu.. tadi, dia bilang apa? "Ichigo…kau tadi bilang…saat menolongku?" apa aku tidak salah dengar?

"Ya, si bodoh ini langsung terjun menyusulmu begitu melihat tubuh mungilmu didorong si brengsek itu. Bahkan dia sama sekali tidak memikirkan kondisinya sendiri. Kau sudah terkena demam sebelumnya, bukan?" Grimmjow-san menatap tajam Ichigo sambil menyeringai lebar, membuat Ichigo merasa tidak nyaman.

"Ichigo…"

"Ya.." Ichigo mendesah dan mulai menatapku lagi, lebih lembut. "Aku langsung mendorong si brengsek itu dan terjun ke sungai berarus dingin untuk menarikmu keluar dari hantaman arusnya. Dan…kau benar-benar membuatku takut, Rukia. Tubuhmu hampir beku dan darah yang keluar dari kepalamu akibat terbentur batu sungai."

Tiba-tiba Ichigo berubah murung dan terlihat seperti tertekan. Dia memutus kontak matanya denganku, lebih memilih untuk menatap lantai bersih di bawahnya. Entah kenapa, aku merasakan perasaan yang tidak enak saat aku melihat Ichigo berubah seperti ini. Tidak seperti biasanya. Sesuatu disembunyikannya rapat-rapat dariku.

"Ichigo…terima kasih," ucapku hampir berbisik sambil mengeratkan genggamanku pada tangan Ichigo yang sedikit bergemetar di bawah tanganku. Dan dia berhasil melirikku lagi, membuatku tidak bisa menahan senyum ibaku. "Terima kasih sudah menolongku. Dan juga…untuk Grimmjow-san."

Aku melirik takut ke arah Grimmjow-san yang masih menyeringai lebar, membuatku langsung menyembunyikan mukaku di balik tubuh Ichigo. "Tidak masalah, mungil. Kau sudah memberikan sesuatu yang menarik untuk kulakukan, memacu adrenalin. Sudah lama aku tidak menghajar orang yang menyebalkan seperti tadi."

"Grimmjow!" tegur Ichigo, tubuhnya kembali menegang. "Kau menakuti Rukia, bodoh!"

"Eh? Aku tidak berbuat apa-apa, bukan?" balas Grimmjow-san cuek. Dia melangkah perlahan ke depan ranjang dan menundukkan tubuhnya untuk melihatku yang masih bersembunyi di balik punggung lebar Ichigo. "Nah, bolehkah aku mengambil hadiahku, tuan putri? Sebagai balasan karena telah menolongmu?"

"Eh?"

"Grimmjow!" Ichigo mengernyit ngeri, berusaha menyembunyikan tubuhku dari tatapan panther liar itu.

"Oh…ayolah. Hanya kecupan tanda terima kasih, disini," tunjuk Grimmjow-san ke arah pipinya, membuatku malu sekaligus takut.

"Kau mau kulaporkan hal ini pada Nell?" ancam Ichigo, menyebutkan nama seseorang yang terdengar asing di telingaku. Tapi, sepertinya ancaman Ichigo ini benar-benar ampuh bagi Grimmjow-san. Wajah Grimmjow berubah seketika, terlihat kaget sekaligus ngeri menatap Ichigo.

"Kau….kau mengancamku?" tanya Grimmjow-san tidak percaya, memelototi Ichigo yang menyeringai lebar padanya. Aku hanya bisa memandang bingung kedua orang bodoh ini yang memulai pertengkaran baru dan menghela nafas karena lelah.

"Rukia!" seseorang memanggil namaku panik dan membuat tubuhku terlonjak kaget. Aku tahu suara itu. Aku benar-benar mengenalnya dan salah satu orang yang tidak ingin kutemui sekarang. Ah..jangan sekarang….

"Rukia?" sosok nee-san muncul di balik tubuh besar Grimmjow-san, menarik perhatian kami bertiga disini. Nee-san terlihat panik dengan nafasnya yang mulai tidak teratur, melihat kami bergantian dan tatapannya berubah ngeri begitu melihat sosok Grimmjow-san.

"Nee-san…" ucapku takut untuk menghadapinya, lebih memilih tetap terdiam di balik tubuh Ichigo. Dan sialnya, Ichigo memilih untuk berdiri dan bergeser ke samping agar nee-san bisa melihat kondisiku dengan jelas. Betul saja, nee-san dengan cepat terduduk dan memeluk tubuhku erat, membuat kepalaku kembali berdenyut tidak jelas.

"Rukia! Astaga! Kau tidak apa-apa? Kenapa bisa terjadi seperti ini? Oh…adikku sayang, lihat keadaanmu yang buruk ini! Kenapa kepalamu terbalut perban?" Pertanyaan bertubi-tubi nee-san membuatku mengernyit kesal. Dia…terlalu berlebihan dan membuatku ingin—

"Rukia?" Dan satu orang lagi yang paling tidak ingin kulihat sekarang. Siapa lagi kalau bukan nii-sama, yang menatapku bingung sekaligus tajam—membuat tubuhku merinding seketika.

"Nii-sama…" panggilku lemas yang sudah terbebas dari pelukan nee-san. "Ke..kenapa kalian bisa tahu?"

Nee-san menatapku miris, sambil mengelus-elus kepalaku lembut. "Kami? Ah…Itu karena seseorang menjawab hpmu, Rukia, disaat aku menghubungimu. Seseorang yang bernama…hmm..siapa ya? Grey..Greek..Grow—"

"Grimmjow Jeagerjaques. Itu aku, nona," celetuk Grimmjow-san yang langsung membuat nee-san menatap Grimmjow-san takut. Bahkan, Ichigo sempat memelototi Grimmjow-san dari posisi kakunya di pinggir ranjang, sementara nii-sama memberi tatapan tajam pada Ichigo. Ini…ini benar-benar membingungkan!

"Oh…ah..Grimmjow?" ucap nee-san terlihat bingung, masih memandangi sosok Grimmjow-san yang berdiri cuek di belakangnya. "Terima kasih sudah memberitahuku tentang keadaan adikku."

"Tidak masalah, nona," balas Grimmjow-san yang kembali menyeringai lebar, membuat nee-san melotot kaget. Aku menatap bingung Grimmjow-san, bagaimana bisa dia mendapatkan hpku?

"Jadi, bisa jelaskan apa yang sudah terjadi disini?" potong nii-sama yang membuat ruangan ini semakin terasa dingin dan kelam. Kami semua terdiam, memandangi sosok nii-sama yang mulai mengintimidasiku sekarang—menatapku tajam, meminta penjelasan. Ahhh….penjelasan ini akan benar-benar terdengar rumit dan panjang. Jadi, aku harus mulai darimana?

(..)

(..)

(..)

"Jangan pernah berbuat hal konyol seperti ini lagi, Rukia. Kau membuatku dan Byakuya panik dan khawatir, kau tahu? Bahkan, Retsu-san dan teman-temanmu di café menjadi panik karena kabar buruk ini. Ah…adik bodohku…" gerutu nee-san di samping tempat tidurku—kamar normalku, bukan kamar rumah sakit. Ini sedikit membuatku lega, karena tidak harus berakhir di ranjang keras rumah sakit dan ditemani celotehan nee-san sepanjang hari.

"Maaf, nee-san. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir," balasku, memasang tatapan penuh penyesalan padanya. Yang kutahu ini mungkin tidak akan ampuh untuk menaklukannya.

Nee-san mendengus kesal sambil menarik selimutku dan menutupi hampir seluruh tubuhku. "Aku benar-benar takut, Rukia. Bagaimana kalau Kibune yang jahat itu sampai melukaimu lebih parah dari ini? Atau bagaimana kalau seandainya Ichigo-kun tidak segera datang untuk menolongmu? Kau tidak boleh bertindak ceroboh seperti ini lagi, Rukia. Setidaknya, mintalah orang terdekatmu untuk bergantung dan menolongmu," lanjut nee-san yang membuatku mengernyitkan alis, kesal. Entah sudah keberapa kalinya dia mengeluhkan hal ini padaku. "Aku akan selalu ada untuk menolongmu, Rukia, bahkan juga Byakuya. Kami selalu mengkhawatirkan dirimu."

"Aku…." Aku menghindari tatapannya, merasa malu sekaligus bersalah pada nee-san. Betul, seharusnya aku tidak menutupi masalah ini, tetapi… "Aku..tidak mau menyulitkan kalian berdua lagi. Dan juga…mengecewakan nii-sama. Aku sudah terlalu merepotkannya, membuatnya…kecewa padaku."

"Rukiaku…kau tidak perlu takut padaku atau bahkan Byakuya. Dia selalu mengkhawatirkan dirimu, sayang. Byakuya sama sekali tidak akan kecewa padamu, kau tahu? Dialah yang pertama kali panik, begitu mendengar kabar kalau kau masuk rumah sakit," jelas nee-san yang langsung membuat mataku terbelalak lebar. Nii-sama yang tidak pernah menunjukkan emosinya…mencemaskan diriku? Sampai seperti itu?

"Byakuya sama sekali tidak kecewa dengan sikapmu, apalagi saat kejadian saat itu, kejadian beberapa tahun yang lalu, Rukia. Dia…merasa sedih padamu, karena kau bertindak gegabah dan membahayakan dirimu sendiri. Lalu dia berpikir, seandainya saja peraturan dan sikap keluarga Kuchiki bisa melindungimu dari bahaya, walaupun…itu mungkin akan sedikit mengekangmu," ucap nee-san yang kembali tersenyum lembut padaku. "Kau tahu, kan? Menjadi seorang Kuchiki tidaklah mudah. Kau harus sedikit mengeraskan hatimu dan menutup perasaanmu sendiri. Tapi, itu hanya sementara, sayangku. Hanya untuk menunjukkan dirimu yang kuat di depan orang banyak, sekaligus menyembunyikan kelemahanmu."

Begitu? Jadi…selama ini nii-sama bersikap keras dan kadang menceramahiku hampir setiap harinya…hanya karena sikap lemahku? Dia melakukan itu semua untuk membuatku terlihat kuat? Melindungiku?

"Nee-san..aku..aku," ucapku terbata-bata, menyadari kebodohan yang selama ini kupercayai. "Maaf, aku selama ini benar-benar bodoh. Aku sama sekali tidak menyadari kebaikan nii-sama dan juga dirimu. Membuat kalian khawatir dan—"

"Sstt… tidak apa-apa, Rukia. Kau tidak perlu meminta maaf lagi. Hanya mengatakan 'aku percaya kalian' saja sudah cukup untukku dan Byakuya. Asalkan kau mempercayai kami dan tidak berbuat gegabah lagi. Kami ini keluargamu."

Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil berusaha menahan tangisku, agar tidak membuat nee-san merasa khawatir lagi padaku. Tangan nee-san terulur untuk membelai kepalaku dan kemudian mencubit sebelah pipiku. "Istirahatlah, Rukia."

"Nee-san!" gerutuku kesal sambil mengelus pipiku yang memerah karenanya. Nee-san menghiraukanku dan lebih memilih segera keluar dari kamarku dan meninggalkanku sambil tersenyum lebar.

Aku menghela napas lega, akhirnya bisa sendirian sekarang. Setelah penjelasan panjang yang kuceritakan pada nee-san dan nii-sama di rumah sakit—semua hal yang berusaha kusembunyikan dari mereka selama ini— yang hampir menguras fisik dan mentalku. Bahkan, Ichigo pun menjadi korban pengintimidasian nii-sama, yang tanpa henti menanyakan berbagai pertanyaan padanya. Yah…memang dari awal nii-sama tidak begitu menyukai Ichigo, jadi wajar saja dia bersikap keras padanya—membuatku hampir menggerutu kesal sepanjang perjalanan pulang. Ini karena perlakuan nii-sama yang lagi-lagi memisahkanku dari Ichigo, menarikku pulang begitu Ishida-san mengijinkanku pergi dari rumah sakit dan meninggalkan Ichigo yang masih terpaku bingung di rumah sakit—sebagiannya karena memang Ichigo masih harus dirawat karena demamnya yang tak kunjung turun. Baru beberapa jam kami berpisah sudah membuatku rindu padanya.

Lagi-lagi aku mendesah, terasa hampa. Berbaring disini tidak bisa membuat moodku bertambah baik. Hanya mendengar detak jam yang terus berbunyi berirama, menyisakan kekosongan yang tidak bisa kutelusuri hanya dengan terpaku pada dinding kamar yang hampa. Aku ingin melakukan sesuatu, apapun yang bisa mengalihkan perhatianku sekarang. Fokus pada sesuatu. Dan baru kusadari, aku sudah meninggalkan hpku di rumah sakit, masih bersama Grimmjow-san. Benar-benar membuatku semakin frustasi. Sekarang rencanaku gagal sudah, niat untuk menghubungi Ichigo. Mendengar suaranya, membuatku tetap fokus pada kehangatannya yang kian memudar.

Lalu…apa yang harus kulakukan sekarang? Menggambar? Bukan, aku sedang tidak ingin melakukan hal itu sekarang. Membaca? Itu hanya akan menambah rasa pusingku semakin terasa. Menonton tivi? Aku tidak mau melangkahkan kakiku keluar kamar dan hanya mendapati ceramahan lagi dari nii-sama dan nee-san nantinya.

Kulirik jam di meja sebelah kasurku, menunjukkan pukul delapan malam. Ah…ini masih terlalu pagi untuk tidur. Membuat tubuhku berteriak frustasi dan ingin merasakan kebebasan secepatnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk berdiri dari tidurku dan lebih memilih melangkahkan kakiku berputar-putar di dalam kamar. Menelusuri jalan yang hanya membuatku bertambah pusing, membuatku oleng dan kembali terduduk di atas kasurku yang empuk. Aku benar-benar melakukan hal bodoh. Apa yang sedang kaupikirkan, Kuchiki Rukia?

Suara gemeretak di jendela membuat perhatianku teralih. Lalu hening, tidak terdengar lagi. Ah…ini mungkin hanya perasaanku saja, membuat proses bekerja otak menjadi terhambat dan kadang berhalusinasi. Tapi, suara itu kembali terdengar—meragukan pemikiran bodohku. Dengan enggan kulangkahkan kakiku ke arah jendela yang tertutup rapat oleh tirai berwarna ungu muda, membuatku harus menyibakkannya ke samping dan mendapati pemandangan malam komplek perumahan. Kuedarkan pandanganku ke samping, kiri, kanan, lalu bawah. Dan disanalah sumber keributan kecil yang tercipta barusan, Ichigo. Dia melambaikan tangannya padaku yang langsung kusambut dengan antusias. Senyumku tidak lagi bisa kutahan, membiarkan otot-otot pipiku yang kaku mengendur beberapa saat.

Ichigo terlihat kebingungan, melihat ke kiri dan kanannya berulang kali. Kubuka jendela kamarku untuk mendapati udara malam yang dingin dan membuat pandanganku kian jelas pada sosoknya di bawah sana.

"Ichigo, apa yang kau lakukan disini?" bisikku perlahan, berharap suaraku mencapainya di bawah sana.

Ichigo tersenyum lebar dan menggunakan tangannya sebagai bahasa isyarat, yang tidak kumengerti sama sekali. Tiba-tiba dia merapat ke dinding bawah dan menggapai pagar sulur tanaman yang merambat ke atas. Dia…memanjat?!

"Tu..tunggu Ichigo! Apa yang kaulakukan?" bisikku lagi, kali ini terdengar sedikit lebih keras dan panik.

"Ssttt…jangan berisik Rukia," balas Ichigo yang terus memanjat dengan santainya. Sesaat kemudian, tangannya bisa meraih daun jendelaku dan menarik badannya untuk masuk ke dalam kamarku. Ini…benar-benar gila!

"Kau ini bodoh, apa?!" bisikku lagi sambil menariknya masuk. Ichigo hanya tertawa kecil melihatku yang mulai panik dan bersender pada dinding di sebelah jendela. Dan disinilah sekarang dia berada, Kurosaki Ichigo berada di kamarku. Memanjat masuk seperti orang bodoh.

"Tidakkah itu seperti adegan Romeo and Juliet?" celetuk Ichigo yang membuatku kembali memelototinya. "Aku hanya bercanda, mungil."

Ichigo meraih tanganku dan membawaku untuk duduk di kasurku, di tengah-tengah kegelapan kamarku. Sinar yang menerangi sekarang hanyalah lampu kecil di samping ranjangku, berbentuk kelinci yang menyeringai lebar ke arahku—seakan-akan sedang mengejek kebodohanku ataupun kebodohan Ichigo.

"Apa yang kau lakukan disini? Memanjat ke kamarku? Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Bukankah kau masih sakit?" tanyaku bertubi-tubi dan mendapat tatapan geli dari Ichigo.

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu sekaligus, Rukia," ucapnya sambil mengecup dahiku cepat, membuatku merasakan rasa panas di kedua pipiku. "Pertama, aku baik-baik saja. Demamku sudah turun sejak Ishida memberikan obat aneh padaku. Yang untungnya itu manjur untukku."

Aku mendesah lega dan mengulurkan tanganku untuk menyentuh dahinya. Ah…memang demamnya sudah benar-benar turun, tidak lagi terasa panas menyengat. Bagaimana bisa dia pulih secepat ini?

"Dan yang kedua..aku kemari untuk memberikan ini." Ichigo merogoh kantong jaketnya dan memberikan hpku, yang masih utuh bersama gantungan kelinci disana.

"Kau kemari untuk mengembalikan hpku? Kau bisa menunggu besok, bukan? Bagaimana kalau nii-sama melihatmu?"

"Bukan itu saja alasanku kemari. Dan bisa kupastikan kalau kakak iparmu itu tidak akan menemukanku disini." Ichigo tersenyum lebar, penuh percaya diri. Sebaliknya, aku ingin menjambak rambut orangenya itu hingga terlepas dari kepala bodohnya.

"Lalu apa?" tanyaku lagi, memicingkan mataku ingin tahu. "Apa yang membawamu untuk datang kemari, Romeo?"

Ichigo tertawa geli melihatku mulai memainkan dramaku di depannya. Aku ikut tertawa bersamanya, tentu saja sudah kuredam, agar tidak terdengar hingga keluar kamar. "Aku tidak bisa tidur dan aku rindu padamu, Juliet."

Kata-katanya entah kenapa terdengar mengalun lembut di telingaku. Membuat jantungku berdetak cepat dan tubuhku merinding kaget. Ichigo menatapku lembut, memperlihatkan hazel terangnya yang bercahaya di tengah kegelapan malam. Tulang wajahnya terlihat lebih tegas, memperlihatkan wajahnya yang menawan—terpahat sempurna disana. Rambutnya hampir menutupi alis tegasnya, menyembunyikan permata coklat terang yang menatapku penuh rindu, membuatku terhipnotis untuk tidak bisa lepas darinya.

"Did my heart love till now? Forswear it, sight! For I ne'er saw true beauty till this night." Kata-kata itu mengalun lembut keluar dari mulut Ichigo, membuatku terbelalak kaget. Aku tidak tahu apa artinya, tapi yang jelas…ucapannya itu membuat wajahku memerah panas. Seperti alunan melodi instrument, mengalun penuh perasaan.

"A…apa artinya?" tanyaku gugup, membuatku terlihat bodoh di depannya.

"Aku mengutipnya dari Shakespeare, cerita asli Romeo and Juliet," ucapnya terlihat kikuk, mengalihkan pandangannya padaku. Punggung tangannya menutupi hampir sebagian wajahnya, menyembuyikan rona merah yang sedikit terlihat di kegelapan ini.

"Kau menghafalnya?" tanyaku kaget sekaligus kagum. Seorang Kurosaki Ichigo, mengutip kata-kata klasik Shakespeare, yang tidak aku ketahui artinya. Tapi, tetap saja ini terdengar indah di telingaku, membuatku ingin mendengarnya berulang kali.

Ichigo terlihat ragu untuk menjawab, alisnya kembali berkerut tajam—berpikir keras. "Hmm..ya, begitulah. Secara tidak sengaja aku menghafalnya dengan cepat, begitu aku selesai membaca novelnya—"

"Kau membaca novelnya?!" teriakku tanpa sadar dan dengan cepat Ichigo membungkam mulutku dengan sebelah tangannya.

"Kecilkan suaramu," bisiknya di telingaku, membuatku kembali merinding tidak tenang di sampingnya. Aku hanya bisa mengangguk perlahan, menunggu tangannya membiarkan mulutku bebas kembali.

"Maaf."

"Kau tidak tidur?" tanya Ichigo, mengembalikan topik pembicaraan. Tangannya mengelus perban yang masih terbalut rapi melingkari kepalaku. "Apa ini masih terasa sakit?"

"Hn? Tidak, tidak terlalu. Walaupun memang kadang masih terasa pening, tapi aku baik-baik saja. Dan sama sepertimu, aku tidak bisa tidur."

"Tidurlah, ini sudah malam," balasnya sambil berusaha menarik selimut di kasurku. "Aku harus segera pulang, sebelum baka oyaji itu menceramahiku dengan omelan anehnya."

Aku tersenyum geli, kembali mengingat ayah nyentrik Ichigo yang terdengar ramah dari seberang telepon—membuatku penasaran dengan sosok aslinya. Dua kepribadian yang berbeda, antara anak dan ayah. Benar-benar unik. "Tapi, aku masih belum mau tidur."

"Rukia, ayolah," bujuk Ichigo, menyentuh pelan lenganku dan berusaha menarikku untuk segera berbaring. "Kau butuh istirahat."

"Aku terlalu banyak tidur, jadi kepalaku terasa pening," ucapku berbohong, memasang tatapan memelas padanya. Dan sepertinya…tidak berhasil.

Kerutan di dahinya semakin bertambah dalam. Dengan cepat dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan membaringkanku di atas ranjangku. Hampir saja aku berteriak kaget karena perlakuan Ichigo yang tiba-tiba ini. Dan, untung saja bisa kutahan dengan mengigit bibirku seketika, walaupun terasa sakit menyengat. Ichigo segera menutup tubuhku dengan selimut dan mengecup keningku lembut.

"Tidurlah."

"Aku tidak bisa membiarkanmu turun sendiri. Bagaimana kalau nii-sama akan—"

"Jangan mengelak," potong Ichigo, menatapku tajam.

"Atau bagaimana kalau kau terjatuh karena kesalahanmu sendiri—"

Ucapan ngototku terputus karena bibir Ichigo yang menciumku paksa, membungkamku. Aku mengernyit kaget, mendapati serangan mendadak darinya. Jenis ciuman yang tidak terburu-buru, membiarkanku mengikuti alur iramanya, merasakan kehangatannya. Tanganku terulur untuk menarik lehernya, mendekat padaku dan meminta lebih darinya. Ichigo memberikan semuanya untukku, segala yang dimilikinya merupakan harta karun bagiku. Sesuatu yang terasa asing dan tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Rasa hangat, perlindungan, rasa aman yang berlebih, dan sesuatu yang membuat jantungku tidak bisa berhenti berdebar ketika melihatnya di depanku. Rasa saling membutuhkan, mencintai satu sama lain. Rasa dasar yang terbentuk antara dua hati yang kian mendesak untuk terhubung satu sama lain, menciptakan benang merah yang tidak akan terputus. Itulah yang diberikannya padaku, yang kuterima tanpa penolakan dari diriku.

Ichigo menjauhkan wajahnya dariku, membiarkan kami mengambil nafas sejenak. Matanya kembali menatapku hangat, memberikan rasa cinta yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Tidak terbendung. Membuat seluruh tubuhku berteriak memintanya untuk tidak meninggalkanku, tetap memelukku.

"Aku mencintaimu, Rukia," ucap Ichigo lembut dan kembali mengecup bibirku, membuatku tersenyum bahagia.

Sekarang aku tidak lagi ragu pada perasaanku. Tidak lagi bisa mundur ataupun menghindarinya lagi. Akhirnya, aku bisa menemukan cahayaku sendiri, matahariku—dan aku yakin aku tidak akan bisa lepas darinya. "Aku juga mencintaimu, Ichigo…."

(..) (..) (..)

Spring have gave us the blooming hopes...

Summer have took us to the flaming requirement...

Autumn have bring us with the cold yet tender memories...

Winter have threatened us with the misery and dark revenge...

And then, the darkness have been melted slowly, when the snowdrop have open the petal itself with pureness and kindness...

That is the colourful of four seasons…

*(((fin…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

This is the end! Finally! T-T... Aku ga percaya bisa menulis cerita sepanjang ini dan…tamat! Hihihhiihi..Tapi ini masih bisa dibilang belum tamat, ada 2 chapter tambahan lagi yang menunggu dan…Ichigo's POV! Again! Hahahhahaha… Permasalahan tentang akhir dari hidup Kibune (di tangan Grimmjow) akan dibahas lebih lanjut disana, juga tentang masa lalu Ichigo yang belum bisa aku ceritakan disini (karena terlalu panjang untuk dijelaskan disini ^^;)

It's a little bit…weird isn't it? Entah kenapa aku merasa kurang begitu mendapat kesan tamat disini..thehehehehe… Dan aku benar-benar bingung buat menyelesaikan chapter satu ini (yang tersulit yang pernah kubuat!) Sampai harus mengganti 3 kali jalan cerita yang udah dibuat TAT….It was so hard... Dan aku harap ini bisa menjadi penutup yang memuaskan para reader… Coba ceritakan perasaanmu saat membaca endingnya, bisa lewat PM atau review? Hihihihhih… Ini bisa menjadi masukkan buatku untuk menulis cerita selanjutnya, karena jujur baru kali ini aku buat cerita panjang dan tamat seperti ini…tidak punya pengalaman sebelumnya ^^;

Eittss…Shakespeare's here! Tokoh favorit Ichigo aku munculin disini..thehehehe…biar romancenya semakin terasa..XD Yah, walaupun Ichigo lagi-lagi dibuat OOC banget banget disini… ^^;

And here's some hints for all of you:

Ok..Ichigo membahas tentang Nell disini! Apa hubungan Nell dengan Grimmjow? Hihihihihi...ini bisa diungkap di special scene selanjutnya..just wait a little longer, minna-san! XDb

And...kenapa hp Rukia bisa ada di tangan Grimmjow? Hmm... Aku ga menjelaskan secara detail diatas, begitu pula saat Rukia menjelaskan masalahnya dengan Kibune kepada Byakuya dan Hisana...terlalu panjang nantinya..hihhihihi.. XD Ah, balik lagi ke atas, kenapa hp Rukia bisa ada di tangan Grimmjow, karena saat Rukia jatuh ke sungai (gara-gara Kibune) tas dan kantong pesanan Unohana terjatuh di atas jembatan (ini saat perdebatan Rukia vs Kibune)...Nah, karena Ichigo yang menolong Rukia, jadi otomatis Grimmjow yang membawa barang-barang Rukia yang tertinggal..dan dia ga nyangka kalau hp Rukia bakal bunyi, mau ga mau ya Grimmjow angkat ^^;

Ah, hampir lupa! Ishida Uryuu muncul disini! Hehehehhee... Dia sebenarnya masih SMA (sama kaya Ichigo), tapi sudah menjadi dokter jaga di rumah sakit... Ini ya karena rumah sakitnya punya ayahnya sendiri, makanya dia bisa jadi dokter jaga (disamping otak jeniusnya itu ^^;)...

Ah...satu lagi.. kenapa Rukia hanya menderita gegar otak ringan (dan benjol) di kepalanya? Padahal darahnya banyak keluar tuh.. Kepalanya bisa dibilang tergores, makanya berdarah..Untungnya luka di kepalanya ga parah-parah amat, karena kepala Rukia keras banget! Hihihihihi... Klo yang masih inget chapter-chapter sebelumnya, pas kepala Rukia pernah terbentur meja di cafe... (chapter 1 dan chapter 6)

That's all...aku menunggu kritik dan saran kalian semua lewat Review ataupun PM~ XDb

Balasan anonymous and no-login review :

Rizuki Ryuuzaki : Makasih udah review ya! XD...ini endingnya, bisa dibilang happy ending! *banzai!* Heheheh..iya, Ichigo yang masih sakit langsung terjun ke dalam sungai demi Rukia, akibatnya ya dia dapat omelan dari si Ishida XD..hihihhiihi Makasih semangatnya! Gomen ga kilat updatenya TAT...

Sookyung06 : Makasih udah review ya! XD...hihihihi..memang Kibune terlanjur psycho, jadi buta buat membedakan cinta dan obsesi..wkwkkwkkw.. Rukia selamat kok! Hihihhii..Gomen ne, updatenya kelamaan..TAT..semoga bisa puas sama endingnya XD..Makasih semangatnya!

aeni hibiki : Makasih udah review ya! Gomen update ga bisa kilat TAT...*hiks* Moga rasa penasarannya terpuaskan sama ending disini..hihhihihi

ika chan : Makasih udah review ya! Hihihi.. hehe..rasa serunya berkurang di chapter ini, karena aku buat lebih ringan ^^; hehehe... Iya, aku udah baca ulang chapter sebelumnya, dan baru nyadar klo Kubo-san memang memberikan bukti yang bisa dibilang..jelas banget! Hahahahha..

rukichigo : Makasih udah review ya! XD.. Kenapa Kibune bisa jadi pscyho? Sebenernya aku ngambil karakter dia dari Anime aslinya..disana dia mirip-mirip gini, agak kelainan..tapi disini lebih psycho, terobsesi gitu deh..^^; Ichigo dan Rukia bisa bahagia kok akhirnya..hehehehe XDb

krabby paty : Makasih udah review ya! Hihihihi... Ga kok, ini bukan mimpi Ichigo..wkkwkwkw.. Tapi Rukia gapapa kok, udah ditolongin Ichigo sebelum kebawa arus ^^; Hahahhaha..dadah Kibune, titip salam buat beruang kutub ya~ *plakk* Grimmjow ngehajar Kibune, tapi ga sampe dibuang ke sungai..hehehe...nanti Kibune nya kabur lagi donk.. Ga kok, ga aku matiin, ga tega aku juga..hahahhaaha.. Moga malarindunya terobati disini..XDb

Terima kasih buat segala dukungan dan perhatian dari kalian semua! Love u all~ XD Sampai bertemu di Special Scene berikutnya...hihihhihih