Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Ichigo


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Gummy-As a Man; Electroboyz feat Hyorin (Sistar)-Ma Boy, Sistar-Loving U, Miryo feat Sunny (SNSD)-I Love You I love You I Love You, Owl City- Rainbow Veins, Hot Air Balloon; One Ok Rock-Clock Strikes, The Beginning; SCANDAL-Harukaze…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Yeyyy~ Special Scene untuk Winter akhirnya selesai! Chapter ini lebih memperlihatkan sisi dari masa lalu Ichigo..hehe.. Juga di bagian akhir cerita, aku buat sedikit lebih ringan..XD Semoga bisa menghibur readers sekalian ya! Terima kasih buat para reader yang selalu setia membaca! Juga bagi yang baru mulai membaca, arigatou gozaimasu! XD Dan…para reviewers yang selalu mendukung, memberi kritik saran, terima kasih sebanyak-banyaknya! Pokoknya, I love u all guys! *bighug

Dan…masih tersisa 1 chapter lagi untuk cerita ini…auhhh…ga nyangka bisa nulis sampai sepanjang ini T-T…..*hiks* Just enjoy the story, minna-san ^^

Here we are….

~000*000~

Chapter 19 : Winter Special Scene

The droplets of snow touch my skin lightly…

"Ichigo, kita mau kemana?" tanya Rukia untuk yang kebeberapa kalinya. Aku meliriknya yang berjalan tenang di sampingku, terlihat lebih pendek di bawah bahuku. Entah apa yang ada dipikiranku. Apa yang ada membuatku bisa terjun dari tebing tinggi ke dalam laut yang dingin dan ganas demi seorang gadis mungil keras kepala—yang mulai memelototiku sekarang. Mata besarnya membuatku tidak tahan untuk menarik senyumku selebar mungkin. Salah satu daya tarik darinya, yang sama sekali tidak pernah membuatku bosan untuk mengerjai si mungil ini. Sungguh manis.

"Sudah kukatakan kau diam saja. Ikuti saja kemana aku melangkah," balasku cuek, mengambil tangannya dalam genggamanku dan memasukkannya ke dalam saku jaketku—menghalau salju yang mulai turun dari langit gelap di atas kami. Matanya kembali terbelalak lebar dan berusaha beringsut menjauh dari tubuhku—menjauh. Wajahnya terlihat memerah, entah karena dinginnya cuaca atau…

"Kau kenapa?" tanyaku, pura-pura tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Namun sebaliknya, aku tahu arti dari sikap tidak tenangnya ini, membuat senyumku semakin melebar.

"Tawake! Ja…jangan menggodaku!" teriaknya kesal dan tiba-tiba kakinya mengayun untuk menendang tulang keringku. Dengan cepat kuhindari, mengambil beberapa langkah ke samping. Tangannya yang masih tergenggam erat pada tanganku membuat tubuh mungilnya ikut tertarik dan menabrak tubuhku.

"Aw! Ichigo!" teriaknya lagi yang membuatku tertawa geli. Kutarik tubuhnya mendekat, mencegahnya untuk tidak terjatuh ke atas salju yang dingin.

"Itu salahmu, Rukia. Kenapa kau berniat menendang kakiku?" Kupeluk tubuhnya erat, yang kini merapat terlindungi jaket hangatku. Ingin sekali kuserap kehangatannya ini selama mungkin, tidak ingin melepas tanganku darinya seincipun. Dia benar-benar hangat, membuat perasaanku semakin nyaman berada di dekatnya. Apa karena ini? Karena inikah aku rela melakukan apapun demi dirinya?

"I..Ichigo!" Rukia terdengar panik dan berusaha mendorong tubuhku ke belakang. Bodoh! Mana mungkin dengan tubuh sekecil itu dia bisa mendorong tubuhku menjauh?

"Aku tidak boleh memelukmu? Bukankah kau sudah menjadi kekasihku?"

Tiba-tiba Rukia terdiam, membuatku harus merunduk ke bawah untuk melihat wajahnya. Dan…wajahnya benar-benar merah padam! "Kau malu?" bisikku geli dan mulai memajukan wajahku untuk mengecup pipi merahnya itu—membuatnya semakin memerah.

Rukia merunduk menghindariku dan lebih memilih berjongkok di bawah sana daripada membiarkanku menciumnya sebentar. Sebelum aku sempat memprotesnya, tiba-tiba dia berdiri dan melemparkan sesuatu ke arah wajahku. Salju.

"Rasakan itu, baka!" teriaknya sambil lari menjauh.

Ah..jadi ini ya maumu, Kuchiki Rukia?

Segera kubersihkan wajahku dari salju dingin yang membuatku menggigil dingin. Kuambil setangkup salju ke dalam genggamanku dan memulai pengejaranku. Kali ini tidak akan kubiarkan dia lari lagi dari tanganku. "Tunggu! Rukia!"

Rukia yang menoleh ke belakang untuk melihatku, sekejap saja berubah menjadi panik. Dia segera mempercepat larinya, yang tentu saja tidak bisa lebih cepat dari langkahku yang mendekat. Ini lebih mudah daripada harus berlari dalam perlombaan lari jarak jauh setiap musim perlombaan. Rasanya seperti sedang berlari mengejar kelinci yang kabur dari kandangnya.

"Jangan mendekat!" teriak Rukia yang tidak bisa lagi menghindari apa yang datang mendekat ke arahnya.

Kutarik bahunya mendekat menggunakan sebelah tanganku yang bebas—memeluknya erat dari belakang. Sebelah tanganku yang menggengam salju dingin, kuhempaskan perlahan ke arah wajahnya—membuatnya bergidik kedinginan. Aku tertawa geli melihat reaksinya yang menggerutu kesal, membuatku semakin menariknya ke dalam pelukanku. Tapi, dengan gesit dia berbalik dan membenamkan wajahnya ke arah bajuku, bukan jaketku.

"Rukia! Dingin!" protesku kesal dan merasakan rasa dingin yang langsung menghantam dada dan perutku. Kutarik tubuh mungilnya menjauh dan mendapati senyum lebarnya menghiasi wajah cantiknya. Suara tawanya membuat jantungku berdetak kian cepat, sesuatu yang akhirnya bisa kudapatkan dari dirinya yang tertutup belakangan ini. Langka.

Aku berjanji pada diriku sendiri, saat melihat senyum dan tawanya muncul di wajahnya itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu menghilang lagi dari dirinya. Tidak lagi ada air mata kesedihan akan menetes membasahi pipinya. Perasaan yang tidak terbendung ini membuat seluruh tubuhku seakan menginginkannya selalu berada di sisiku. Seakan-akan kebahagiaannya adalah sumber utama kehidupanku, nafasku. Seluruh miliknya adalah milikku, begitu pula sebaliknya. Sampai seperti inikah aku mencintai Kuchiki Rukia?

"Ichigo?" Rukia memanggilku lembut, membuatku kembali fokus pada dirinya. Jari-jari mungilnya menyentuh pipiku yang terasa dingin, membelaiku dengan penuh kelembutan.

Spontan aku memajukan tubuhku dan langsung mengecup bibirnya yang terasa membeku di bibirku. Rukia tersontak kaget, memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang. Wajahnya kembali memerah, membuatku lagi-lagi tertawa melihatnya. Dia benar-benar terlihat manis…kikuk.

"Baka! Ini tempat umum!" desisnya marah, mengeratkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Aku hanya bisa tersenyum lebar sebagai jawaban untuknya dan langsung menggandeng lagi tangan mungilnya.

"Kalau tempat umum, lalu kenapa?" tanyaku, kembali menggodanya. Rukia balas memelototiku sambil mengerucutkan bibirnya, seperti anak kecil. "Wajahmu jelek sekali, mungil."

"Apa katamu?!"

Baiklah…mulai lagi…

(..)

(..)

(..)

Kami menapaki jalan setapak dalam hening. Tangan Rukia semakin menggenggam—ah, tidak—mencengkram tanganku semakin kuat. Kulirik wajahnya yang berubah tegang dan sedikit pucat. Apa perlu kucium lagi agar mukanya kembali memerah? Mungkin nanti saja. Ini bukan saat yang tepat untuk itu.

"I..Ichigo…untuk apa kita ada disini?" tanyanya berbisik dengan suara bergetar.

"Ini? Tentu saja ke makam. Ini pemakaman, bukan?"

"Tapi pemakaman siapa?" Rukia kembali bergidik ngeri, seperti seekor kelinci putih tidak berdaya. Tubuhnya semakin merapat ke arahku, menghindari udara dingin dan batu-batu makam yang mulai memelototinya dari samping kiri kanannya.

"Kau…setakut itu?" tanyaku lagi, membuat perhatiannya beralih ke arahku.

Matanya terbelalak lebar, percampuran antara rasa takut dan marah. "Ka..kau bodoh, apa?! Lihat sekelilingmu, Ichigo! Makam kosong, langit abu-abu gelap, dan salju yang turun!"

Aku terpaku menatapnya, berusaha menerjemahkan kata-katanya itu yang seperti sebuah kode bagiku. "Ya….lalu? Sekarang memang sedang musim dingin, bukan?"

"Kau tidak pernah menonton Silent Hill?!" protesnya lagi, terlihat lebih kesal daripada sebelumnya.

"Hah? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Urggghhh! Aku…tidak suka disini.. Seakan-akan sedang berjalan di daerah Silent Hill. Ah! Mungkin monster besar akan segera keluar dari balik makam itu!" tunjuknya dengan telunjuknya, menuju ke batu pemakaman yang terlihat lebih besar dari batu-batu di sekitarnya.

"Kau ini sedang berbicara apa, Rukia?" Dia…benar-benar aneh. Kadang pembicaraannya ini beralih ke dalam dunianya sendiri, sedikit sulit untuk menebak maksudnya. Silent…Hill?

"Kita mau pergi kemana?" tanyanya lagi tidak sabaran, menarik-narik jaketku.

"Ke makam—"

"Siapa?"

"Ibuku."

Hening tiba-tiba dan kurasakan sekujur tubuhku merinding. Mungkin karena cuaca dingin? Kualihkan perhatianku pada Rukia yang berubah diam di sebelahku, berjalan tertunduk menatap lantai-lantai batu pemakaman. Apa dia…semakin takut? Mungkin, ini bukan saat yang tepat untuk mengajaknya kemari sekarang. Aku tidak tahu kalau Rukia akan sampai setakut ini dan—

"Ma..maaf…" bisik Rukia pelan, hampir tidak terdengar. Kuhentikan langkahku dan mulai menatap Rukia yang masih tertunduk lemas.

"Eh?"

"Maaf Ichigo, aku..aku tidak bermaksud…"

"Kau ini kenapa, Rukia?" tanyaku bingung. Kenapa dia bisa merubah sikapnya secepat ini, sih?

Kugunakan jari-jariku untuk mengusap pipinya dan membuatnya menatap mataku. Dan..ini benar-benar sesuatu yang tidak kuperkirakan akan terjadi. Matanya….berkaca-kaca?

"Rukia, kau kenapa? Kau sakit? Atau—"

"Maaf Ichigo! Aku..aku tidak tahu kalau kita akan pergi ke makam ibumu. Aku..tidak bermaksud menolak..dan mengatakan hal itu. Aku benar-benar bodoh!" gerutunya kesal, membuatku semakin bingung. Ah…mungkin karena hal yang disinggungnya tadi? Silent Hill?

Kuusap kedua pipinya perlahan dan mengecup dahinya perlahan. Aku tidak bermaksud marah padanya, tapi sikapnya berubah seakan-akan dia membuatku kesal padanya. Benar-benar gadis kikuk. "Na…Rukia, aku tidak marah padamu. Kenapa kau terus menerus meminta maaf padaku? Ini memang salahku tidak mengatakan kemana kita akan pergi dari awal."

Rukia membenamkan wajahnya pada tubuhku dan memelukku erat. Kuusap kepalanya lembut, tidak tahu harus berbuat apa. Entah kenapa, sekarang akulah yang berubah kikuk di hadapannya. Kulirik langit yang masih membiarkan salju-salju turun membasahi tanah perlahan, membuat seluruh tanaman tertidur. Batu-batu makam yang perlahan tertutupi salju putih, membuat tempat ini tidak lagi terasa mencekam, namun…hening. Hampa. Perasaan yang tidak biasa kurasakan selama aku mengunjungi makam ibu disini. Seakan-akan aku tertarik paksa ke dalam dunia berbeda yang membuatku tidak bisa bergerak bebas. Dingin dan kosong.

"Ichigo?" tegur Rukia yang menatapku bingung, memelas. Aku tersenyum sesaat dan mengecup bibirnya cepat, membiarkan rona merah kembali muncul di kedua pipinya. Sesuatu yang bisa kujadikan pegangan di dalam kehampaan ini, ya…Rukia.

"Ayo, kita harus segera pergi, sebelum tubuhmu membeku," ucapku seraya menariknya mendekat ke tubuhku, membiarkan rasa hangat melingkupi tubuh kami berdua. Kutapaki jalan setapak yang terasa panjang tanpa batasan, sedikit merasa bosan karenanya.

"Rukia?" tegurku lagi. "Setelah ini, kau harus menunjukkan film itu padaku."

"Eh?" Rukia terlihat bingung, mengerutkan kedua alisnya semakin dalam.

"Silent Hill," balasku. Dan lagi-lagi kudapati wajahnya yang berubah ngeri, langsung dibenamkannya ke dalam jaketku. "Eh? Kau kenapa, Rukia?"

"Tawake! Bodoh! Aku tidak mau!"

(..)

Kubuka mataku setelah mengucapkan salam pada ibuku di atas sana dan mendapati makamnya yang hampir terbungkus oleh lapisan salju sepenuhnya. Kurosaki Masaki. Tertulis jelas nama ibu yang terukir rapi di atas nisan, dengan beberapa bunga yang sudah berubah layu di samping kiri dan kanannya. Aku berjongkok ke arah batu nisan dan membersihkan salju-salju yang menutupi sebagian makamnya. Rukia yang masih berdiri diam di sebelahku, ikut berjongkok bersamaku, menatapi makam ibu dengan wajah termenung.

"Ichigo?"

"Hmm?"

"Seperti apa…ibumu itu? Masaki-san?" ucapnya ragu. Tangannya terulur untuk menyentuh ukiran nama ibu di batu nisan, menelusuri lekuk-lekuknya seakan-akan sedang mencari sebuah petunjuk dari sana.

"Ibuku? Dia…selalu tersenyum," jawabku, yang sekarang mulai bingung untuk memilih kata-kata yang ingin kuucapkan. Wajah kaa-san yang kukenal mulai muncul kembali dalam benakku, sedikit demi sedikit. Bagaimana mata hangatnya menatapku, bagaimana suara lembutnya menyapaku lembut, bagaimana rambutnya yang sehalus sutra itu tertiup angin lembut di sore hari. Warna jingga. "Aku mewarisi rambut ini darinya…dan juga matanya. Dia benar-benar seorang ibu yang baik dan selalu menjagaku di saat aku membutuhkannya. Sayangnya, adik-adikku tidak bisa merasakan kasih sayangnya lebih lama."

Rukia kembali termenung, terdiam menatapi makam ibu. Lalu, matanya beralih menatapku, berubah lebih hangat dan perhatian. Tangannya meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya erat—enggan untuk dilepaskannya. "Masaki-san pasti…sangat cantik, ya?"

"Ah…sangat," balasku singkat, menatapi salju-salju putih yang kembali menutupi batu nisan yang sudah sedikit kubersihkan. "Dia…seperti dirimu."

"Eh?" ucap Rukia bingung, matanya terbelalak lebar menatapku, menunggu jawaban.

"Ibuku seorang wanita yang kuat, seperti dirimu. Itulah yang kulihat begitu melihat kedua matamu itu, Rukia. Seakan-akan…sosok ibuku terwakilkan oleh dirimu."

"Ah…be..gitu? Tapi…rambutku tidak berwarna orange."

Aku tertawa geli mendapati reaksi konyolnya itu. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu? "Kau ini! Bukan rambutmu, mungil!"

Rukia tertunduk malu, masih berkutik dengan pikirannya sendiri. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Haruskah…kuceritakan sekarang?

"Ini juga…menyangkut saat kejadian itu," ucapku melanjutkan. Perhatian Rukia kembali teralih padaku, membiarkanku melanjutkan penjelasanku. "Saat….kau terjatuh di jembatan itu."

Tubuhnya menegang di sebelahku, tangannya menggenggam tanganku semakin erat. Aku berusaha rileks di sebelahnya, setidaknya sampai aku menyelesaikan cerita ini hingga selesai. Kuputar kembali memori lama yang seperti film di benakku. Kucari-cari dimana kejadian yang hampir menghancurkanku hingga berkeping-keping beberapa tahun yang lalu itu, sesuatu yang terpendam dalam otakku. Seluruh tubuhku merekam dan menyimpan itu semua, bahkan hingga perasaanku dan saraf-sarafku.

Ini…seperti mimpi buruk. Kudesahkan nafasku dan mengerutkan alisku semakin dalam, berusaha untuk tidak takut lagi—selama ada Rukia di sampingku. Baiklah…kita mulai. "Hari itu hujan turun dengan deras. Aku sedang berjalan pulang bersama ibuku, menyusuri jembatan. Dibawah kami…terdapat arus sungai yang deras mengalir karena volume hujan lebih besar daripada sebelumnya. Lalu, tiba-tiba ada seseorang…muncul dihadapan kami. Aku pikir dia hanya sekedar berjalan melewati kami, seorang pria yang berjalan tenang dalam hujan. Namun…tiba-tiba dia menodongkan pisau pada ibuku. Dia seorang perampok jalanan."

Rukia semakin mengeratkan tangannya padaku, membuatku menegang karenanya. Wajahnya kembali terlihat sedih, seakan-akan dia ikut terseret pada kejadian beberapa tahun yang lalu itu. Kuusap tangannya perlahan, berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja, walaupun rasa sakit menyengat mulai kembali terasa—menghujani pikiran dan jantungku. "Dan, ibuku melawannya. Dia berusaha menghalau perampok itu, agar segera pergi dan membiarkan kami lewat. Tapi, perampok itu bersikeras untuk menyudutkan kami. Ibuku melindungi tubuh kecilku saat perampok itu menerjang ke arah kami. Lalu…yang kusadari setelahnya…ibuku sudah terjatuh ke bawah jembatan." Kupejamkan mataku kuat-kuat, berusaha menghalau rasa sakit yang kembali terasa. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak berada di tempat itu lagi, mendengar suara teriakanku sendiri dan teriakan ibu yang teredam hujan deras. "Dengan panik aku langsung menuruni tangga di samping jembatan dan menemukan tubuh ibu yang tidak bergerak di pinggir sungai deras. Aku berharap ibuku akan baik-baik saja, karena tidak terjatuh ke dalam arus sungai yang deras, melainkan ke daratan di pinggir sungai. Tapi, sepertinya harapanku tidak bisa terkabulkan hari itu. Beberapa gelontongan kayu jatuh berserakan di sekitar tubuh ibuku dan darah…mengalir dari tubuhnya, membuat seluruh tubuhku..kaku..dan—"

Tiba-tiba Rukia memelukku erat, membuat wajahku terbenam dalam leher kecilnya. Tangannya dengan lembut membelai rambutku, membuatku merasakan kehangatan yang tidak terasa ganjil. Rasanya…seperti kembali pulang ke rumah. Hangat dan nyaman. Aku balas memeluknya, menarik tubuhnya untuk semakin mendekat ke arahku. Kali ini Rukia tidak memprotes maupun mengelak. Dia semakin mengeratkan kedua tangannya pada leherku, berusaha melindungiku dari kesedihan yang berusaha memasuki hatiku. Tapi, tidak lagi. Anehnya, sekarang aku tidak merasa sedih maupun kecewa. Tidak lagi merasa bersalah karena tidak bisa melindungi ibuku. Tidak lagi menyalahkan tubuh lemahku yang terlalu kecil untuk menghadang perampok keji itu. Semua ini karena Rukia. Dialah yang membantuku keluar dari lubang hitam itu. Rukialah yang membantuku untuk menopang rasa sakitku.

"Karena itu," lanjutku, berusaha menghalau suara serakku. "Karena itu…aku begitu takut saat melihatmu terbaring…di pinggir sungai. Kau tidak bergerak dalam pelukanku. Darah tidak mau berhenti mengalir dari kepalamu. Aku takut…tidak lagi bisa melihatmu menatapku. Aku takut kalau kau..kau akan meninggalkanku seperti kaa-san…dan—"

"Maaf Ichigo. Maaf…aku…aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku tidak akan membuatmu merasakan rasa takut itu lagi," ucapnya terisak. Sesuatu yang basah menyentuh pipiku, hangat. Aneh…tidak seharusnya salju bisa sehangat ini. Apa…ini—

"Rukia?" tegurku lembut dan melepaskan pelukanku darinya. Kutangkup kedua pipinya dan berusaha untuk melihat wajahnya yang tertunduk lesu. Rukia…menangis, berusaha menepis tanganku dan memalingkan wajah putihnya. "Ssstt…Rukia…jangan menangis."

"Aku…maaf, aku tidak—"

"Jangan mengatakan kata maaf lagi," ucapku jenuh mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tidak seharusnya dia mengatakan maaf padaku. "Yang penting, sekarang kau ada disini, Rukia. Menemaniku."

Akhirnya Rukia kembali menatapku, dengan air mata yang masih mengalir keluar. Kuusapkan ibu jariku untuk membersihkan wajahnya yang kusut itu, sambil berusaha tersenyum menenangkannya. Sekarang sudah tidak apa-apa.

"I…Ichigo..boleh aku mengatakan sesuatu?" tanyanya memelas, membuatku ingin mendekapnya erat sekarang ju—ah tidak…tidak sekarang, di depan makam ibu.

"Ya..tentu saja," balasku dan lebih memilih mengelus tangannya yang masih mencengkram tanganku kuat.

"Aku ingin mengatakan sesuatu…pada Masaki-san." Rukia kembali tertunduk, sambil menautkan jari-jarinya yang bebas pada jaket tebalnya.

"Tentu saja," balasku lembut sambil memajukan tubuhku untuk mengecup dahinya lembut. "Kaa-san pasti akan mendengarkannya."

Rukia mengangguk cepat sebagai balasan, dengan wajah yang perlahan berubah memerah. Kudorong tubuhku menjauh dan kembali ke posisi awalku—membiarkan Rukia mendapatkan waktunya sendiri, berbicara dengan ibu.

Rukia menangkupkan kedua tangannya bersamaan di depan wajahnya sambil menutup matanya rapat. Kepalanya menunduk rendah di depan batu nisan, membiarkanku disini merenungi kembali sesuatu yang muncul di benakku sendirian. Tentang kaa-san, tentang Yuzu dan Karin, tentang baka-oyaji itu…Bagaimana kalau seandainya kaa-san…masih hidup? Apakah aku bisa bertemu dengan Rukia, kalau seandainya itu terjadi? Apakah yang namanya takdir itu benar-benar ada? Naa…kaa-san, apakah aku benar-benar ditakdirkan untuk ini? Apakah Rukia benar-benar ada untukku?

"Ichigo…jagalah baik-baik gadis itu, untukmu. Dia memang ada untuk dirimu, anakku sayang…"

Ka…kaa-san? Itu…itu suara kaa-san?

"Ichigo?"

Suara Rukia membangunkanku dari rasa terkejutku barusan, seperti tersengat listrik. Apa tadi aku berhalusinasi? Tapi…itu terasa benar-benar nyata. Mendengar suara kaa-san yang sudah lama aku rindukan, membuatku semakin merindukan sosoknya itu.

"Kau kenapa?" tanya Rukia sambil mencengkram lengan jaketku kuat. Wajahnya terlihat khawatir menatapku nanar.

"Tidak apa-apa…hanya saja—tidak ada apa-apa, Rukia," ucapku terdengar bingung, entahlah. Setelah mendengar permintaan kaa-san tadi, rasanya perasaanku semakin berubah kepada Rukia. Aku semakin ingin melindungi gadis mungil ini, dari apapun. Aku benar-benar…mencintainya.

"Kau aneh," dengusnya sambil kembali menatap batu nisan di depannya. Kedua tangannya melingkar untuk memeluk tubuhnya yang sedikit bergetar.

"Kau kedinginan?" tanyaku. Kuulurkan kedua tanganku untuk meraih tubuhnya mendekat padaku, memeluknya erat.

"I..Ichigo!" Rukia mulai lagi memprotes dalam pelukanku. Dasar gadis keras kepala.

"Ayo kita pulang, tubuhmu benar-benar dingin, mungil," godaku iseng sambil mencubit pipinya hingga memerah. Rukia menggerutu kesal dan tangannya meraih rambutku, menjabaknya kuat-kuat.

"Ru…Rukia! Tunggu! Sakit, mungil!"

"Heh! Kau yang memulainya duluan, tawake!"

(..)

(..)

(..)

"Naa..Rukia, tepati janjimu!" gerutuku sambil menyeruput Cappucino panasku. Dan Rukia, sama sekali tidak mau menatapku. Dengan serius dia menekuni pekerjaan paruh waktunya ini, terlihat menikmati cangkir-cangkir di tangannya itu daripada berbicara denganku. Ah…dasar pembohong. Dia tidak benar-benar serius sekarang. Aku tahu dia sengaja menghindariku, hampir seharian ini.

"Ru..ki…aaaa," gumamku jahil, berusaha menarik perhatiannya. Tapi, lagi-lagi tidak berhasil. Dia memunggungiku sambil bertumpu pada meja di depannya—mengambil kopi dari mesin espresso. "Rukiiaaaa…"

"Kau berisik sekali, tawake!" bisikknya marah, memelototiku. Aku hanya bisa tersenyum jahil melihat reaksinya, benar-benar lucu. Tapi tidak lagi kalau seandainya tangan-tangan itu mulai menjambak rambutku ini, seperti tempo hari—di pemakaman. Dia sudah berhasil mengambil beberapa helai rambutku dalam genggamannya, membuatku hanya bisa terbengong menganga. Dasar kelinci kecil liar!

"Aku tidak akan berhenti sampai kau melihatku—"

"Aku sudah melihatmu! Ini!" ucapnya kesal, memelototiku lebih lebar.

"Tidak sampai kau berbicara denganku—"

"Kita sedang berbicara sekarang!" balasnya lagi sengit.

"Secara normal, mungil."

Rukia mendengus kesal, menghentakkan kakinya sambil membawa pesanan ke meja di depanku. "Pesanan meja 12!" teriaknya kesal, membuatku merinding kaget. Suaranya benar-benar keras!

"Kau ini kenapa, sih?" gerutuku, sambil berusaha menenangkan emosinya yang kembali meledak-ledak aneh ini.

"Aku? Tidak apa-apa!" Dan Rukia kembali lagi berkutik dalam meja kerjanya, berusaha mengambil pekerjaaan apapun itu demi menghindariku.

"Kau benar-benar tidak ingin menonton Silent Hill? Sebegitu takutnya sampai kau marah pada—"

"Aku tidak marah! Dan aku tidak takut!" balasnya keras kepala.

"Lalu, kenapa kau menolak?"

"Itu..karena aku tidak mau menontonnya, baka! Itu bukan genre yang kusuka!"

Aku mendesah pasrah dan mulai kembali meminum Cappucino yang terasa lebih manis ini. Apa Rukia salah memasukkan takaran gula? "Ah..begitu? Tapi itu lebih baik daripada menonton 'Chappy the Bunny Jump'—"

"Chappy the Conqueror! Kau sama sekali tidak bisa mengingat judulnya!"

Arrgghh…aku menyerah. Dia benar-benar sulit ditaklukkan! Ya..kecuali kalau aku ikut melibatkan si kelinci alien itu dalam pembicaraan kami, setidaknya berjanji untuk membelikannya boneka, makanan, atau apapun itu yang menyangkut kelinci sial—

"Yo, Ichigo!" seseorang menepuk pundakku kuat, membuatku berbalik dan memelototinya yang tersenyum sumringah padaku. Ah…Kaien.

"Hi, Rukia!" sapanya lagi sambil melambaikan tangannya. Dan…Rukia tersenyum! Dia…tersenyum pada Kaien! Tidak padaku!

"Kau mau memesan apa, Kaien-san?" tanya Rukia yang mulai mendekat pada Kaien—yang sudah terduduk di sampingku.

"Aku pesan hot Chocolate saja…yang manis!" ucap Kaien antusias, membuatku ingin mendorong kursinya hingga dia terjatuh.

"Baiklah!" balas Rukia antusias dan mulai berbalik lagi, memunggungiku. Awas kau, mungil! Lihat saja nanti…

"Kau kenapa, Ichigo?" tegur Kaien, yang membuatku semakin kesal.

"Tidak…tidak apa-apa."

"Tapi alismu mengkerut."

"Alisku memang seperti ini!"

"Benarkah?" tanya Kaien polos, membuatku semakin mengeratkan kepalan tanganku di atas meja. Dia ini benar-benar bodoh atau—

"Ichigo!" Suara teriakan yang memekikan telingaku dan hantaman keras yang hampir menjatuhkan tubuhku ke samping. Warna biru terlintas di depanku, menghalangi pandangan. Ada apa lagi ini?!

"Grimmjow!" teriakku kesal dan melampiaskan amarahku padanya, berusaha menendangnya menjauh.

"Sembunyikan aku!" Grimmjow terlihat panik, tidak seperti biasanya dia seperti ini. Sungguh terlihat bodoh.

"Kau ini kenapa, sih?" gerutuku kesal, semakin mengkerutkan alisku tajam.

Grimmjow terlihat seperti habis lari marathon panjang, dengan nafasnya yang tidak teratur itu. Di musim dingin? Latihan lari? "Pokoknya sembunyikan aku! Dimana pun!"

"Kau habis latihan?" tebak Kaien yang sepertinya bisa membaca pikiranku ini…atau tidak?

"Bodoh! Mana mungkin aku latihan di musim dingin!" gerutunya kesal sambil mulai memelototi Kaien. Tiba-tiba tatapannya berpindah pada sosok Rukia yang berdiri di dalam counter, terlihat takut memandangi Grimmjow yang nyengir lebar ke arahnya—seperti menemukan sebuah hadiah jackpot utama. "Mungil! Sembunyikan aku!"

"Hah?" Rukia benar-benar terlihat bingung, namun terpatahkan begitu melihat Grimmjow melangkah ke arah pintu counter dan masuk ke dalam tempat kerja Rukia.

"Kau ini apa-apaan?!" protesku kesal dan berdiri dari dudukku. Kuperhatikan Grimmjow yang mulai kebingungan, berjongkok dan berdiri. "Kau tidak mungkin bisa sembunyi disana! Tubuhmu terlalu be—"

"I-chi-go!" Sesuatu menabrak tubuhku keras dan memelukku kuat. Sekarang apa lagi?!

"Apa—" kata-kataku terputus begitu melihat rambut hijau tosca itu di sampingku, seperti api panas berwarna hijau. "Ne…Nel?"

"Ichigo! Aku rindu padamu!" Ucapnya nyaring yang semakin membuatku sesak dengan tenaga supernya itu. Jadi…karena ini Grimmjow bersembunyi di—dimana dia?! Dia menghilang dari counter Rukia!

"Siapa dia?" celetuk Rukia yang memelototiku marah. Tangannya terkepal di samping tubuhnya yang menegang. Ah..tidak lagi!

"Dia…Nel.." ucapku berusaha menarik nafas dalam-dalam, yang sekarang terasa sesak.

"Eh? Kau..siapa?" kata Nel yang mulai memandangi Rukia, terlihat sinis.

"Kau yang siapa," balas Rukia, berusaha terlihat tenang.

Kualihkan pandanganku pada Kaien di sampingku, berusaha meminta pertolongannya. Namun, Kaien berusaha menghindar, memalingkan wajahnya dariku. Si bodoh ini!

"Siapa dia, Ichigo?" tanya Rukia ngotot, tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari Nel—begitu pula sebaliknya.

"Dia? Dia Nel—"

"Siapa dia? Gadis pendek ini?" tanya Nel bergantian, tidak membiarkan aku menyelesaikan kata-kataku.

"Pendek?! Aku tidak pendek!" Rukia mulai menggerutu kesal dan menggebrak meja di depannya. Oke…ini benar-benar buruk.

"Nel…kau mencari Grimmjow, bukan? Tadi dia ada disini—"

"Dimana, Ichigo? Dimana dia?" tanya Nel antusias, mengoncang-goncangkan tubuhku kuat. Darimana dia punya tenaga sekuat itu?!

Aku mengalihkan pandanganku pada Rukia, tapi dia tidak mau berkompromi denganku. Dia benar-benar terlihat kesal. "Ta…tadi dia sembunyi disana.." tunjukku pada counter Rukia. "Tapi dia menghilang."

"Kau berbohong!" Dengus Nel kesal.

"Aku tidak berbohong! Tadi dia benar-benar ada—" pandanganku menangkap sosok biru melintas cepat keluar dari café. Grimmjow! Dia kabur! "Itu dia disana! Dia pergi!"

"Mana? Grimmjow!" teriak Nel yang mulai lari begitu melihat Grimmjow keluar. Akhirnya, aku bisa bernafas lega.

"Apa-apaan tadi?" celetuk Rangiku-san yang sudah bertengger di samping counter, yang tidak kusadari keberadaannya.

"Ah..tidak apa-apa..tadi—"

"Siapa wanita seksi itu, Ichigo? Kenapa dia memelukmu?" tanya Rukia mengancam, membuatku merinding seketika. Kulirik perlahan dirinya yang mulai melotot kesal, mengigit bibirnya pertanda dia menahan amarah.

"Ah…itu Neliel," ucapku terdengar ragu dan sedikit takut melihat emosinya kembali naik. "Dia…pacar Grimmjow..?"

"Kau terdengar ragu," celetuk Rukia, kembali menggebrak meja. "Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu yang lebih jelas, tawake!"

"Kau cemburu?" kata Rangiku-san jahil dan tersenyum lebar melihat Rukia. Dan senyumku ikut tertarik, begitu melihat perubahan wajah Rukia yang memerah. Ah..benar-benar menggemaskan.

"Rangiku-san!" teriak Rukia marah dan berbalik lagi menghindariku—mengambil biji kopi di belakang counter dan mengeruknya paksa.

"Kau benar-benar beruntung, Ichigo! Lihat, kau mendapatkan gadis secantik itu yang perhatian padamu," gerutu Kaien yang mulai membaringkan kepalanya di atas counter. "Bolehkah dia untukku saja? Rukia?"

"Enak saja!" balasku kesal dan memukul kepalanya sekeras mungkin. Rukia hanya milikku seorang!

*(((Ichigo POV's end…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Ah…Akhirnya beres juga satu Special Scene! Hihihihihihi…. Chapter ini lebih menekankan pada masa lalu Ichigo, namun aku ingin memberikan kesan ringannya juga. Maka dari itu, muncullah Nell! Ini juga dari beberapa reviewer yang meminta kemunculan kembali Nell dan Grimmjow..hahahhahah…

Eit...tenang saja..Hubungan Ichigo dan Nel hanya sebatas teman saja..hihihihi XD Disini lebih NelxGrimmjow, hoohhoho.. Hanya saja aku membayangkan sikap Nel yang kadang berlebihan seperti di manganya..hehehhee apalagi saat dia menatap sinis Rukia ^^;

Gomen Kaien! Kau muncul sedikit disini…hahahhahaha…XD Aku masih bingung buat menempatkan dia dalam cerita ini, karena dia hanya sebagai chara pendukung saja. Semoga chapter berikut bisa dimunculkan lagi (?)

Nell bisa dibilang pacar Grimmjow (?) Belum terlihat jelas ya disini, karena Grimmjow keburu kabur..hehe.. Karena mereka hanya chara pendukung saja, jadi aku tidak jelaskan lebih lanjut hubungan mereka. Hanya penghibur saja..hihihhih XD

Silent Hill…ada yang tahu film itu? Benar-benar mimpi buruk yang menjadi nyata! Aku benar-benar merinding nonton film itu, dan….ga mau lagi! Rukia tidak suka film yang bergenre horror, karena dia lebih suka Chappy! Ayeeyyy…. Chappy adalah segalanya~ XDb

Oce, segini aja ya…Kalau ada pertanyaan, kritik, saran, bisa dikirim lewat PM ataupun review! Arigatou, minna-san! XD

Balasan anonymous dan no-login reviewers :

Gulliet : Makasih udah review ya! XD Eh? Punya anak? Wkwkwkwkw..gomen ne, ga bisa aku wujudin disini, karena jangka waktu 4 season cumin 1 tahun..theheheh…mungunkin di cerita berikutnya? ^^

Qao : Hi juga! Hihihihi..Makasih udah review ya! XD Iya, udah tamat ceritanya, tapi masih berlanjut dikit untuk special scene nya…hehehhe POV Ichigo nya berlanjut dari chapter sebelumnya, karena aku pingin menampilkan chapter yang lebih ringan..hehe.. Ah, Byakuya lagi-lagi tidak bisa muncul, karena mau menceritakan masa lalu Ichigo disini..Gomen ne T-T~ Bisa dibilang penyusupan Ichigo ke rumah Rukia berhasil..wkwkkwkwkw Gapapa kok, aku udah seneng kamu bisa sempetin baca n review..XD Oke deh, semoga chapter ini bisa menghibur! Makasih semangatnya..

aaaaaa : Makasih udah review ya! XD username nya lucu banget..hihiihihi Gomen updatenya ga bisa kilat T_T~ Semoga chapter ini bisa menghibur ya.. Makasih semangatnya XDb

rukichigo : Makasih udah review ya! XD Nikah? Hihihiihi…nanti kepanjangan deh, soalnya jangka waktu cerita ini cuman 1 tahun..hehe.. gomen ne~ Mungkin di cerita selanjutnya (?) wkwkwk

aeni hibiki : Makasih udah review ya! Hihihihhihi… Iya, udah tamat, dan masih tersisa 1 special scene lagi..hehehe Semoga bisa menghibur ^^ Makasih semangatnya…

Sookyung06 : Makasih udah review ya! XD hiihihihihii… Hahahaha…Isshin belum sempat muncul secara langsung ya ^^; Aku juga sempet bingung sama chara satu ini, tapi karena dia hanya sekedar chara pendukung dan penghibur, jadi mungkin untuk cerita ini dia belum bisa keluar secara live…hahhahahaha Byakuya juga senasib nih, aku belum bisa ngasih tempat lebih buat dia..gomen ne~ TAT… Oya? Memang kurang greget ya..tapi makasih banyak! Hihihih… Ini aku kasih special scene nya di café, dan untuk berikutnya sepertinya masih berlanjut di café..XDb Makasih buat semangatnya!

Iya : Makasih udah review ya..hihihhih XD Ini aku kasih special scenenya, mungkin bisa dibilang epilog (?) hehehhehe.. Makasih semangatnya! ^^

Ahhh..akhirnya selesai untuk satu chapter lagi..hihihih.. It's 1 a.m. in the morning~ Hahahhahaha….Terima kasih banyak semuanya XDb Sampai bertemu di chapter terakhir!