Bleach fic
"Four Seasons" by Morning Eagle
!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Pair: IchigoxRukia
POV: Ichigo
Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::
Thanks for my Playlists: SNSD-All my Love is for You, Gummy-As a Man; Electroboyz feat Hyorin (Sistar)-Ma Boy, Sistar-Loving U, Miryo feat Sunny (SNSD)-I Love You I love You I Love You, Owl City- Rainbow Veins, Hot Air Balloon; One Ok Rock-Clock Strikes, The Beginning; SCANDAL-Harukaze…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)
Chapter 20! The final chapter is here…POV Ichigo yang terakhir, disini menampilkan beberapa scene tempat berbeda untuk full Ichiruki!^^ Thank you so much untuk para readers yang setia membaca hingga akhir cerita. Terima kasih buat para reviewers atas kritik, saran, dukungan kalian semua. Terima kasih bagi yang sudah me-fave dan follow cerita ini! I love u all~
Tidak bisa berkomentar lagi, just enjoy the story…TAT..
Chapter 20: Special Spring
A foe like a friend, trust fully to the old myself…
"Perlukah aku bertanya 'kenapa kita bisa ada di tempat ini'?" celetukku sedikit kesal, memperhatikan dua gadis yang menunjukkan tatapan berbeda di depanku. Rukia—terduduk manis namun kikuk—enggan melihat mataku yang meliriknya tajam. Dia lebih memilih menyendok es krim besar di depannya dalam diam. Dan…Riruka—terduduk di sebelah Rukia sambil mengalihkan pandangannya—tentu saja. Gadis keras kepala itu hanya duduk terdiam, bukan sikapnya yang sehari-hari ditunjukkannya di depanku—berisik dan selalu mengeluh. Rambut pink anehnya itu menjuntai panjang dan hampir masuk ke dalam cangkir teh panasnya. Aku berharap setidaknya dia memasukkan rambutnya ke sana tanpa sengaja, hingga bisa membuatnya memberengut kesal seharian.
Pertanyaanku sama sekali tidak ditanggapi oleh mereka, seakan-akan aku ini orang asing yang tiba-tiba datang ke café manis di sudut kota Karakura—menguntit dua gadis muda ini. Tatapan aneh pengunjung dan pelayan café pun membuatku semakin merasa jengah. Aku harus keluar dari tempat ini secepatnya. Segera! Sekarang juga!
"Ichigo…eto.. ada yang ingin kutanyakan," bisik Rukia dengan tatapan memelasnya itu, mungkin dikarenakan matanya yang besar—seperti kucing. Tatapannya yang selalu membuatku tidak bisa menolak apapun permintaan darinya, termasuk yang berhubungan dengan Chap—kelinci alien. Sesuatu yang baru bisa kusesali sesudahnya.
"Apa—"
"Ini tentang Makoto-san!" potong Riruka. Mata tajamnya melirikku dalam, membuatku terdiam tidak bisa berkutik. Aneh. Tidak biasanya dia terlihat serius seperti ini.
Aku harus memutar otakku sesaat, mencerna kata-katanya yang tidak bisa kuproses perlahan. "Ah..dia.."
"Aku dengar dia…diserahkan pada polisi beberapa bulan yang lalu. Dan setelah itu, aku tidak mendengar kabarnya lagi.." jelas Riruka kembali murung dan tertunduk. Rukia di sebelahnya dengan ragu mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap punggung Riruka, sesuatu yang membuatku hampir tersedak minumanku sendiri. Sejak kapan mereka bisa sedekat ini? Maksudku…terlihat benar-benar menjadi teman? Rukia sudah menceritakan semua masalahnya padaku, bagaimana dia dan Riruka mulai berbaikan dan tiba-tiba dicegat Kibune brengsek itu di tengah jalan, bagaimana reaksi Riruka untuk segera menolong Rukia dengan menghubungi ponselku. Tapi, bukan seperti sekarang ini. Seakan-akan, mereka adalah sahabat sejak lama.
"Ichigo?" tegur Rukia yang mulai memelototiku.
"Hah?" balasku bodoh, balik bertanya padanya.
"Riruka bertanya padamu tentang Kibune-san dan..apa jawabanmu?" balasnya sengit dengan suara yang hampir berbisik, membuatku mengerutkan alisku kesal. Haruskah mereka memanggil namanya dengan sesopan itu? Kibune…san?
Aku menghela nafas sesaat, sebelum menyamankan dudukku di kursi sofa berbantal pink bodoh ini. Kenapa mereka bisa memilih tempat ini, bukan tempat lain yang terlihat lebih wajar? "Dia…ahh..aku tidak tahu jelas tentang kondisi pastinya. Terakhir kali Grimmjow menghajarnya dan membawanya ke kantor polisi bersama Ikkaku dan Kensei. Kerabat Ikkaku adalah opsir kepolisian, jadi tanpa harus menghadirkan saksi dan sebagainya, Kibune berhasil dibekuk dan dimasukkan ke penjara."
"Lalu? Hanya itu?" tanya Riruka memaksa.
"Itu yang kutahu…dan mereka sempat memeriksa kondisi kesehatan dan jiwa Kibu—"
"Ji…jiwa?" potong Riruka ngeri. Tubuhnya terlihat menegang dan berusaha ditahannya sekuat tenaga dengan menggenggam tangannya erat-erat. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Haruskah aku berhenti berbicara?
"Lalu?" celetuk Riruka, menginginkan informasi lebih. "Apa Makoto-san…sakit?"
Aku tahu jenis sakit yang dimaksudnya itu. Bukan sakit parah seperti kanker dan sebagainya, tapi ini…lebih menyeramkan. Kejiwaan.
"Entahlah, aku tidak mendapatkan informasi dari Ikkaku mengenai hal itu. Apa perlu…aku menanyakannya?" ucapku ragu, takut salah bicara. Si botak itu benar-benar tutup mulut dan tidak mau menceritakan ceritanya secara detail. Kalau saja Riruka menginginkan informasi itu, mau tidak mau aku harus menghajar untuk membuka mulut si botak bodoh itu. Ini sebagai rasa terima kasihku pada Riruka, sesuatu yang aku tahu tidak bisa kugantikan sebesar apapun padanya. Keselamatan Rukia yang tidak bisa kujaga tanpa bantuan dari gadis polos dan bodoh ini. Dia terlalu rapuh dan keras kepala, berbeda dengan Rukia yang berusaha terlihat tegar.
"Tidak perlu, Ichigo. Aku…aku hanya ingin menanyakan kabarnya saja. Hanya itu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri juga Rukia, kalau aku tidak boleh berurusan lagi dengan Makoto-san. Aku harus segera meninggalkannya, berusaha untuk melupakannya. Jadi, itu tidak perlu…" kata-kata Riruka terdengar miris, dengan tubuhnya yang semakin bergetar di samping Rukia.
Dengan canggung Rukia mengulurkan tangannya lagi, hendak menenangkan Riruka. Tapi, tiba-tiba Riruka menggebrak meja keras, membuatku terlonjak kaget. Tatapannya berubah lagi, kembali tajam—menyeramkan. Sikapnya ini membuatku dan Rukia terpaku melihat tingkah anehnya, yang berubah mengancam seperti itu.
"Pelayan! Aku pesan semua cake yang ada disini!" teriak Riruka, seperti orang mabuk.
"A…apa-apaan kau ini?" protesku ngeri melihatnya kembali duduk tenang dan memakan donut di depannya hingga habis tak bersisa. Pipinya menggembung seperti balon bulat di sisi wajahnya.
"Arghhhh! Terserah aku mau makan apa! Ini perutku!" balasnya sengit sambil menunjukku dengan telunjuknya. "Kau yang bayar, Ichigo!"
"Kenapa harus aku?!"
"Karena kau laki-laki disini, bodoh!"
"Ri..Riruka," tegur Rukia sedikit takut dengan sikap Riruka yang mulai berubah seperti anak kecil. "Kau tidak perlu makan sebanyak itu, bukan?"
Tatapan Riruka jatuh kepada Rukia yang duduk tidak nyaman di sebelahnya, memojokkan gadis mungil itu, "Kau jangan memerintahku, nona Kuchiki! Dan apa gunanya dia?!" Riruka kembali menunjukku tajam, membuatku kembali menghela nafas. "Lihat tubuh kurusmu ini, Rukia! Apa yang dilakukan selama ini oleh Ichigo padamu? Dia tidak pernah mentraktirmu makan?!"
"Enak saja!" protesku kesal sambil menautkan alisku tajam. Untuk yang satu itu, Rukialah yang selalu memberengut kesal bila permintaannya tidak dituruti. "Dia selalu meminta es krim Chappy seminggu sekali! Bahkan dua kali, ah..tiga kali! Makanya, tubuh mungilnya itu tidak akan cepat tumbuh hanya dengan asupan makanan tanpa gizi seperti itu!"
Dan benar saja, muka Rukia berubah memerah karena kesal. Dia memelototiku sambil mengembungkan pipinya, seperti yang dilakukan Riruka tadi. Seringaianku tidak bisa kutahan untuk terus menjahilinya, benar-benar manis.
(..)
(..)
(..)
When this petal sent my message to you, my beloved…
Kulihat Rukia yang sedang tertidur diam di bawah pohon sakuranya, dengan posisi terduduk. Punggungnya menekan batang pohon sebagai tumpuan, sementara kaki jenjang kecilnya itu diluruskan tanpa tertekuk. Aku mengambil langkah perlahan, menghindari gemerisikan daun-daun di bawah kakiku. Beberapa helai bunga sakura jatuh berguguran tepat di atas kepala Rukia, menghujaninya dengan begitu lembut. Indah. Pemandangan yang membuatku tidak bisa berkedip dan ingin sekali mengabadikannya untuk diriku. Segera saja kuambil ponselku dan mengambil gambarnya yang sedang tertidur pulas di depanku. Terlihat murni dan polos. Membuat debaran jantungku berdebar tidak karuan.
Kututup ponselku dan kembali melangkah ke arahnya. Perlahan aku mengambil tempat duduk yang beralaskan rumput di sebelahnya, sebisa mungkin untuk tidak membangunkannya. Kulirik posisinya yang menurutku tidak nyaman untuk tertidur disana, dengan pasti kuposisikan bahuku sebagai bantalan untuk kepalanya. Kugunakan sebelah tanganku untuk menidurkan kepalanya ke arahku, sambil membelainya perlahan. Gadis mungil keras kepala ini terlihat manis saat tertidur, membuatku ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan niatku, sebelum mendapatkan pukulan telak dari tangan kerasnya itu.
Kulirik pohon di atasku ini, menjulang tinggi daripada yang kubayangkan sebelumnya. Seluruhnya berwarna pink muda, seperti pohon sakral yang ajaib. Rasanya seperti masuk ke dalam dunia lain—negeri dongeng yang hanya diperuntukkan untukku dan Rukia. Suara angin dan gemerisik daun yang bergesekan, serta suara nyaring burung-burung yang bersarang di atas pohon. Musim semi sangatlah nyaman dan hangat.
Tepat setahun yang lalu, ketiga kalinya aku bertemu dengannya—di bawah pohon sakura ini. Dan hari itu, dimana perasaanku bertambah parah untuk terus mengikutinya dan tidak bisa lepas darinya. Aneh. Tapi, rasanya menenangkan. Sesuatu yang kembali muncul dalam perasaanku, instingku, untuk selalu melindungi seseorang yang berharga untukku. Seseorang itu bertambah dengan keberadaan Rukia yang perlahan mengubah duniaku. Ya…seperti sebuah hadiah ulang tahun bagiku. Ah, mungkin lebih dari itu. Rukia adalah segalanya bagiku.
Rukia menggeliat dalam tidurnya, semakin beringsut ke arah tubuhku. Sebelah tangannya meraih tanganku dan memeluknya erat—membuatku tidak bisa menahan senyuman lebarku. Kuulurkan tanganku untuk membelai wajahnya dan menyingkirkan rambut yang menghalangi mata besarnya yang tertutup rapat. Lembut, selembut bulu. Semungil inikah dirimu, Kuchiki Rukia?
Kumajukan wajahku menghadap wajahnya, berusaha untuk tidak merubah posisiku terlalu banyak. Kukecup keningnya perlahan yang akhirnya membuat wajahku memerah karena panas. Kenapa aku melakukan hal ini, disaat Rukia sedang tertidur? Dan aku…merasa malu?
"Nggg…" Rukia kembali menggeliat dan perlahan membuka matanya.
Kulirik mata ungu terangnya yang terbuka kian membesar. Dia hanya menatapku dalam diam, tanpa emosi—masih setengah tertidur. Lalu, tiba-tiba dia melonjak kaget dan memundurkan tubuhnya hingga membentur batang pohon dengan keras.
"Ru..Rukia! Kau tidak apa-apa?" tanyaku panik dan mendapat tatapan sinis darinya.
"Aw..punggungku. Kau…kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu," jelasku sambil mengulurkan tanganku dan membelai punggungnya perlahan, berusaha menghilangkan rasa sakitnya. "Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu."
"Ah…tidak apa-apa," katanya kikuk dan perlahan wajahnya memerah. Senyumku kembali merekah dan membuat niat lain untuk menjahilinya lebih lanjut.
"Kau tertidur seperti kelinci pingsan, sama sekali tidak bergerak," ucapku dengan seringaian yang semakin melebar.
Rukia langsung mengalihkan pandangannya padaku sambil melotot kaget. "Ke..kelinci—apa katamu?!"
"Posisimu yang terduduk tegak seperti itu. Bagaimana mungkin kau bisa tertidur?"
"I..itu..itu salahmu karena datang terlambat, tawake!" gerutunya dengan mengerutkan alisnya tajam. Dia beringsut menjauh, menghindari tanganku yang masih berada di punggungnya. Dengan cepat kutarik pinggangnya untuk menahannya tetap di posisinya.
"Kau mau kemana?"
"Ah..a..aku…mau berdiri," jawabnya kikuk.
"Bukankah punggungmu masih terasa sakit?" godaku, membuat wajahnya semakin memerah.
"Itu..tidak lagi..—Ichigo, kau terlalu dekat!"
"Mau kuobati?"
"Hah?"
"Dengan ini," kutarik tubuh mungilnya mendekat dan sebelah tanganku menangkup wajahnya. Perlahan kukecup bibirnya yang akhirnya membuatku geli dengan reaksi tegangnya. Begitu tubuhnya tidak terasa tegang lagi, kulumat bibirnya dan mendapat desahan darinya—meminta udara. Kutarik wajahku menjauh untuk membiarkannya bernafas sesaat, namun dengan cepat kututup lagi bibirnya dengan bibirku, membiarkannya bergerak mengikuti iramaku. Lembut dan cantik. Melihatnya tidak berdaya dengan mata tertutup rapat dan pipinya yang memerah. Itu semua membuatku ingin memberikannya lebih, sensasi yang menggodanya untuk terus berada dalam pelukanku.
Dengan enggan aku menjauhkan lagi wajahku darinya, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, sambil melihat Rukia yang menunduk lemas di hadapanku. "Tidak terasa sakit lagi?" bisikku. Tanganku menangkup pipinya untuk mendongakkan wajahnya ke atas—melihatku. Mata ungu besarnya melirikku malu, membuat jantungku kembali berdetak tidak karuan. "Atau kau…mau lagi?"
Tiba-tiba tangannya terjulur ke arah kepalaku dan…menarik rambutku kuat. "Aw! Rukia! Apa yang kaulakukan?!"
"Kau benar-benar…menyebalkan, tawake!" teriaknya sambil terus menarik rambutku paksa. Tubuh mungilnya mendorong tubuhku, hingga aku kehilangan keseimbangan. Dengan pasrah tubuhku terjungkal ke belakang, membentur tanah. Sementara Rukia memakai tubuhku sebagai tempat pendaratannya.
"Arghh! Dasar mungil!" Sial, sekarang punggungku yang membentur tanah, beserta batu-batu kerikil yang menambah rasa sakitnya semakin terasa.
Kulirik Rukia yang terbaring di atas tubuhku, tersenyum penuh kemenangan. "Itu akibatnya, karena sudah menyerangku tiba-tiba!"
"Me—apa? Kita sepasang kekasih, jadi melakukan hal itu—arghh!" Dia menjambak rambutku, lagi.
"Tidak selama aku masih belum sadar dari tidurku! Mesum!"
"Me..mesum?!" kataku tidak percaya. Rukia hanya tersenyum lebar, sambil memandangi ketidakberdayaanku. Benar-benar menyebalkan.
"Katakan kau tidak akan melakukannya lagi," ucapnya memerintah, membuatku memberengut kesal.
"Apa? Sebelum itu, bangun dulu dari atas tubuhku, Rukia—"
"Tidak sebelum kau mengatakannya lebih dulu, Ichigo!"
Aku mendesah pasrah, sulit rasanya untuk melawan gadis mungil ini. Disaat keras kepalanya mulai mengambil alih tubuh kecilnya. "Baiklah, aku janji."
Rukia tersenyum lebar sebagai tanda kepuasaannya. Tapi, setelah menunggu beberapa detik, tubuhnya tidak beringsut bangun dari atas tubuhku. Dia masih berbaring disana, sambil memperhatikanku dalam diam. Ini…membuatku gugup.
"Ru…kia.. kau seharusnya bangun—"
"Ada belalang di atas rambutmu," celetuknya santai yang langsung membuatku panik.
"Hah? Dimana?"
Belum sempat aku bergerak bangun, tangan mungilnya mendorong bahuku keras dan kemudian wajahnya datang mendekat. Tiba-tiba, dia mengecup bibirku sesaat, sebelum bangun dari posisinya dan segera berlari menghindar.
"Kau bodoh, Ichigo!" teriaknya sambil lari menjauh, meninggalkanku disini yang masih terpaku bingung. Kugunakan sebelah tanganku untuk meraba kepalaku, mencari-cari belalang yang bersarang di atas sana. Tidak ada. Dan barulah beberapa detik kemudian aku menyadari kebodohanku sendiri. Si mungil itu sudah berbohong padaku.
"Rukia!" teriakku kesal dan segera bangun untuk mengejarnya yang sudah pergi menghilang di balik pepohonan. "Kembali kesini, Rukia!"
(..)
(..)
(..)
Feeling that bloom even wider and beautifully, just like cherry blossom in the spring…
"Sampai kapan kau akan membuat kopi, Rukia?" Kubaringkan kepalaku di atas meja counter, memperhatikan tubuhnya yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Sepi dan terisolasi, itulah yang kurasakan saat ini.
Dan…tidak ada jawaban. Aku mendesah kesal sambil bangun dari dudukku dan memutari meja counter. Kubuka pintu counter dan melangkah malas mendekatinya. Tatapannya masih terpaku pada cangkir di depannya—terlihat serius daripada yang biasanya.
"Rukia, ini sudah malam," kataku lagi, yang hanya disambut oleh keheningan ruangan. Rukia masih terus berkutik dengan pekerjaannya, tidak menghiraukanku yang terus berceloteh sendirian. Aku melirik ke depan tubuhnya, melihat hasil kerjanya yang…menakjubkan. Dia menggambar helaian kelopak sakura yang kuyakin sangat sulit membuatnya sedetail itu. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa cangkir kopi yang berjejer disana, sebagian besarnya bergambar sama. Rukia benar-benar sedang serius berlatih, tanpa sekalipun menghiraukanku yang mengomel di belakangnya sejak tadi.
"Wow," celetukku dan langsung menarik mata besarnya itu untuk menatapku.
Rukia tersenyum lebar melihat reaksiku. "Bagaimana?"
"Lebih baik daripada kelinci aneh—ugghh! Rukia…" Dia menyikut perutku kuat, membuat nafasku tersedak. "Aku memujimu, bukan?"
"Kau mengejek gambar kelinci yang kubuat, tawake!" gerutunya sambil menyodorkan satu cangkir kopi untukku. "Kau mau? Ini masih hangat, setidaknya."
"Ahh…sankyu," kuambil cangkir dari tangannya dan setengah tersenyum melihatnya tersipu malu. "Tapi ini benar-benar bagus, Rukia."
Rukia mengambil salah satu cangkir dan menarik tanganku untuk mengikutinya. Kami berjalan keluar counter, menuju meja pelanggan di sudut ruangan café. Di samping meja itu terdapat kaca yang menampilkan pemandangan malam di luar sana, sekaligus memantulkan pantulan kami di depannya. Rukia terduduk di kursi yang terbuat dari kayu tua beralaskan bantal. Kuambil kursi di hadapannya, yang hampir serupa tapi dengan bantal yang berbeda, berwarna orange terang.
"Ini…tempat kesukaanku, saat jam tutup café sudah tiba," ceritanya sambil memandangi cangkir kopi di hadapannya. "Dan musim panas adalah yang terbaik disini, melihat di luar sana seperti dunia malam yang mengagumkan. Suara serangga musim panas dan juga kunang-kunang yang berterbangan di taman luar."
"Ah, ini memang benar-benar menenangkan," balasku menyetujuinya. "Tapi, tempat terbaik menurutku masih tetap di counter kopimu."
Rukia mengerutkan alisnya bingung, seakan-akan meminta penjelasan lebih karena kata-kataku yang tidak bisa diterima oleh jalan pikirannya. "Aku bisa memandangmu sepanjang hari," lanjutku.
Rukia menunduk malu, wajahnya merah padam. Aku tidak bisa menghentikan tawaku, melihatnya tersipu memang pemandangan yang terbaik dan menggoda. "Ngomong-ngomong, kemana Unohana-san pergi?"
Rukia kembali melirikku, masih dengan tatapan enggan. "Unohana-san berjanji tidak akan pergi lama, mungkin sebentar lagi. Aku tidak bisa meninggalkan café kosong ini begitu saja, maaf Ichigo."
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan untuk menunggu hingga malam. Bagaimana dengan…nii-sama mu?"
Rukia kembali mengerut kesal, memikirkan pertanyaanku dengan tatapan serius. "Aku sudah menghubungi nee-san dan mengabarkan kalau aku akan pulang terlambat. Katanya, dia akan mengabari nii-sama begitu dia pulang kerja. Selama aku berada di café dan ini mengenai Unohana-san, nii-sama…mungkin tidak akan keberatan. Lagipula, kau akan mengantarku pulang, itu membuat nee-san tidak lagi khawatir."
"Begitu? Apa dia tidak khawatir kalau aku yang mengantar adik iparnya pulang?" tanyaku lagi, ingin tahu. Terakhir kali bertemu dengan seorang Kuchiki Byakuya, bukanlah momen yang terlihat bagus. Begitu aku mengantar Rukia pulang ke rumahnya, Byakuya langsung menutup pintu rumah rapat-rapat di depan wajahku. Dia tahu aku sudah menjadi kekasih Rukia, tapi tetap saja belum merestui kami.
"Kau bukan penguntit ataupun penculik, Ichigo. Aku sudah membicarakannya dengan nii-sama, walaupun akhirnya dia tidak berkomentar panjang, hanya menganggukkan kepalanya tenang. Nii-sama tidak lagi mempermasalahkan dirimu yang mengantarku pulang, selama aku tidak pulang larut tanpa mengabarinya maupun nee-san."
Aku mendesah lega, setidaknya kami bisa maju satu langkah untuk sekarang. Kulirik Rukia yang masih memberengut sambil menatapi meja kayu di depannya, terlihat masih berkutik dalam pikirannya sendiri. "Kau kenapa?"
"Maaf, Ichigo," gumamnya lemas. "Aku tidak bisa meyakinkan nii-sama lebih lanjut."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Rukia. Ahh, kupikir apa aku sendiri yang harus mengatakannya secara pribadi pada nii-sama mu?"
Rukia menatapku ngeri. Dia bangun berdiri dan menekan meja dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Tubuhnya maju ke arahku, "Ka..kau mau berbicara sendiri dengan nii-sama? Tidak, Ichigo, kupikir itu bukan ide yang bagus."
"Kenapa kau selalu menolak ideku ini, Rukia? Apa salahnya aku mengenalkan diriku secara formal di hadapan keluargamu?"
"Kau tidak akan tahan, aku ragu hal itu."
"Hah?"
"Tentang interograsi nii-sama. Aku pikir kau tidak akan tahan untuk menghadapinya," katanya hampir berbisik.
"Memangnya itu seseram apa?" balasku bertanya. Aku bangun dari dudukku dan berjalan ke arah Rukia yang masih terpaku diam, bertumpu pada meja. Kuraih tangannya dan menariknya pada tubuhku, memeluknya. Rukia balas memelukku erat, terlihat sangat khawatir. "Kita hanya perlu bicara, Rukia. Ini bukan seperti hukuman mati, bukan?" candaku.
Rukia terdiam sesaat, lalu mengangguk lemah. Tangannya semakin menarik erat bajuku, seakan-akan dia mampu untuk merobeknya. "Baiklah, kalau itu maumu, Ichigo."
Aku tersenyum penuh kemenangan, akhirnya kekeras kepalaannya luluh juga. Tiba-tiba Rukia mendorong tubuhku, melepaskan pelukannya. Matanya terlihat tajam dan ngotot menatapku. "Apa?"
"Sebelum kau bertemu dengan nii-sama, aku ingin bertemu dengan keluargamu terlebih dahulu, Ichigo."
"Hah?!" kataku kaget hampir berteriak. Darimana dia mendapat ide seperti itu?
"Aku belum mengenalkan diriku secara langsung kepada ayahmu, Ichigo. Kupikir itu…tidak sopan," ucapnya sambil memberengut—memelas.
"Kau tidak perlu menemuinya secepat ini, Rukia. Baka oyaji—"
"Kalau begitu, kau tidak boleh bertemu dengan nii-sama!"
"Aku tidak mau hubungan kita terlihat seperti 'hubungan diam-diam' tanpa direstui dan sepengetahuan keluargamu!"
"Begitu pula aku, Ichigo!" balasnya semakin ngotot, membuatku mendesah kesal. Dia benar-benar menyebalkan sekarang.
Aku menggerutu kesal dan melihat lagi tatapan tajam memelas Rukia dihadapanku—dibawahku. Aku…benar-benar kalah! "Oh, baiklah! Terserah kau, mungil!"
Rukia kembali tersenyum lebar dan mencubit tanganku kuat-kuat. "Aw! Apa lagi yang kauinginkan?!"
"Jangan memanggilku mungil!"
"Tapi kau memang 'mungil', mungil!"
"Itu karena kau yang terlalu tinggi," balasnya sambil mendorong tubuhku tanpa pertahanan. Dan…lagi-lagi aku terjungkal ke belakang hingga punggungku menghantam lantai kayu. Rukia ikut terjatuh di atas tubuhku, menambah rasa sakitnya.
"Ichigo, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir, memperhatikan wajahku yang berada di bawah jangkauannya.
"Aku…tidak baik-baik saja…" ucapku sambil menaruh tanganku di pinggang kecilnya, mendorongnya untuk segera bangun. "Darimana kau mendapat tenaga sekuat itu?"
"Itu kau saja yang lemah, Ichigo!" Rukia tersenyum geli dan enggan berdiri dari posisinya. "Rasakan itu, tawake!"
"Wah wah, kalian memberikan tontonan gratis rupanya," celetuk seseorang yang membuat Rukia segera bangun dari posisinya sambil menarikku bangun. Aku mengerang sakit, merasakan punggungku yang masih terasa kaku. Kulirik sosok…ah..Shinji yang berdiri di samping counter kopi, melirik kami dari jauh.
"Hi…Hirako-san! Apa yang kaulakukan disini?" tanya Rukia bingung bercampur kalut.
"Aku? Aku bermaksud mengambil barangku yang tertinggal dan…menemukan kalian sedang bermesraan di lantai café," jelasnya sambil berjalan santai ke arah kami.
"Tidakk! Bukan! Kami, kami tidak melakukan hal itu, Hirako-san!" teriak Rukia kalut, sedikit memekikkan telingaku.
"Si mungil ini mendorong dan menimpa tubuhku," kataku menambahkan dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Rukia.
Shinji tersenyum lebar, memamerkan gigi putih anehnya itu pada kami. "Ohh! Jadi Rukia-chan sudah berubah agresif sekarang?"
"Hirako-san!" teriak Rukia marah dan membuatku tidak bisa untuk tidak tertawa. Dan…lagi-lagi hantaman kuat terasa di perutku. Rukia menyikutku keras, membuatku kembali terbaring di atas lantai kayu.
(..)
(..)
(..)
Did you say you love me? I love you too…forever…
"Tarik nafasmu dalam-dalam," perintahku pada Rukia.
Rukia menatapku bingung sambil mengerutkan alisnya dalam. "Kita tidak sedang menyelam, Ichigo. Ini hanya rumahmu," ucapnya sambil menunjuk pintu depan rumahku dengan telunjuknya.
Ya…hanya rumahku. "Turuti saja perintahku."
Rukia mendesah sesaat sebelum menuruti perintahku, menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan. Aku juga menurutinya, sebelum menyentuh gagang pintu dan masuk ke dalam. Baiklah…aku siap.
"Kau percaya padaku?" tanyaku sambil terus memperhatikan pintu yang masih tertutup rapat di depanku. Rasanya…aneh.
"Tentu saja, Ichigo! Aku percaya padamu," balas Rukia, terdengar bersemangat. Aku tersenyum lega melihat senyumnya yang tanpa dosa itu terlihat merekah lebar, untukku. "Selalu," tambahnya.
"Selalu," ucapku memastikan dan menggenggam tangannya semakin erat. Kubuka pintu depan rumah dengan perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara decitan sedikitpun. Namun, rasa aneh dan mencekam itu menjalar langsung ke seluruh tubuhku, memberi peringatan. Begitu pintu terbuka lebar dan kami melangkah masuk, langsung kutarik Rukia ke dalam pelukanku ke arah dinding samping.
Satu…dua…"Iiiiiichiiiigoooooo!" teriakan itu menggema dengan sosoknya yang muncul tiba-tiba di hadapan kami. Dia meloncat bebas dan terbang keluar pintu rumah. Seperti dugaanku.
"I..Ichigo….itu ayahmu?" tanya Rukia ngeri, yang masih terlihat aman di dalam pelukanku.
Aku menatap datar sosoknya yang mungkin sedang terbaring mencium tanah. "Ya, abaikan dia."
"Begitukah sikapmu padaku, Ichigo?! Pada ayahmu sendiri?" teriak baka-oyaji itu yang kembali muncul dari pintu depan.
"Kau mencoba untuk membunuh kami?" balasku sengit, memelototinya yang mulai menunjukkan 'kesedihan terdalamnya' sebagai seorang ayah. Tidak lagi.
"Aku hanya ingin memeluk kau—oh…siapa ini?" Oyaji melihat Rukia yang beringsut mendekat padaku, masih terlihat…sedikit shock.
"Dia pacarku, Rukia," ucapku tanpa beban. Ah…ini tidak sesulit yang kubayangkan, setidaknya aku bisa mengatakannya dengan lancar. Naa…Rukia?
*(((Ichigo POV's end…)))*
(..)
(..)
(..)
Author's note:
Finissshhhhhh~ finally! TAT….. Ini Special Scene terakhir yang bisa kuberikan untuk fic ini. Dan bisa dibilang kalau cerita ini benar-benar tamat! So sad….really! I'll miss this story so much…. T_T
Disini aku lebih menampilkan perasaan Ichigo pada Rukia yang masih tidak berubah walaupun mereka seringkali bertengkar..thehehehe… Ichigo benar-benar sayang sama Rukia, dia ga serius bertengkar dengannya..^^
Byakuya tidak bisa aku munculkan disini, gomen ne~ Karena porsinya diambil oleh Isshin, walaupun hanya sedikit..hihihhiihi.. Karena Isshin belum muncul secara langsung disini.. Untuk selanjutnya, bisa kalian bayangkan sendiri reaksi Isshin beserta Yuzu dan Karin yang lagi-lagi tidak bisa kumunculkan.. Tidak jauh berbeda dari yang ada di manga nya, mereka menerima Rukia dengan tangan terbuka…XDb
Byakuya memang terlihat masih tidak bisa menerima Ichigo, tapi dia luluh juga tuh akhirnya, tidak lagi mempermasalahkan Ichigo yang mengantar Rukia pulang XDb Safeee~
Sekian untuk author's note nya.. Maaf tidak bisa memberikan request-request kalian yang meminta lebih, dikarenakan fic ini hanya berlangsung salam satu tahun (4 musim). Dan cerita ini lebih menjelaskan dan menyorot permasalahan Rukia secara pribadi, begitu pula Ichigo di special scene. Jadi..untuk chara2 lainnya tidak bisa dijelaskan lebih dari ini..thehehhee… Mereka hanya untuk pendukung saja disini..^^
Untuk kritik saran dan pendapat kalian, bisa ditulis di review ataupun PM! Kutunggu ya… XDb
Balasan untuk anonymous and no-login reviewers:
aeni hibiki : Makasih udah review ya! XD hihhiihii…Ini special chapter terakhirnya, aku harap kamu suka ya…^^ Makasih semangatnya!
krabby paty : Makasih udah review ya! Hihhihi XD.. hehe..sama-sama loh..iya, akhirnya happy ending buat mereka berdua ^^ hehe..dia memang cemburuan wkwkkwkkw lucu ya ngebayangin dia cemburu ke Ichi..XD
Sookyung06 : Makasih udah review ya! Hihihihi XD Iya donk, special scene terakhir harus full Ichiruki! ^^ Silent Hill tuh film horror, bener-bener mimpi buruk yan gmenjadi nyata, aku saranin jangan nonton sendirian kalau mau coba nonton TAT…. Hihihiihhi…akhir mereka ga selalu bahagia, selalu aja ada yang ganggu..wkkwkwkkwk Grimmnel memang main kejar-kejaran..*plak* Itu karena Grimmnya yang jengah sama Nel. Si Nel cerewet soalnya…hihihi.. Kibune ada di chapter ini, makasih sudah mengingatkan! TAT..aku hampir lupa lagi..Ini sudah ku update, moga kamu suka ya ^^ Saranghae~ Makasih semangatnya ^^
zircon : Makasih sudah review ya! XD hihihiihih…oh..makasih2 TAT..jadi terharu *plakkk!* Memang aku lebih memfokuskan pada Ichiruki di sini, tapi sebenernya pingin juga sih menampilkan chara lain lebih banyak porsinya, tapi ga bisa.. berhubung POV Ichi n Ruki doank disini.. Ini sudah aku update, semoga kamu suka ya! XDb
Rukichigo : Makasih sudah review ya! XD hihihhi.. Makasih like nya! ^^
Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian semua! *bighug n kiss* Terima kasih sudah mau membaca sampai selesai, walaupun cerita ini masih memiliki banyak kekurangan dan kesalahan. Tanpa dukungan kalian, aku tidak akan bisa menyelesaikannya hingga sejauh ini! 20 chapter! TAT…
Special thanks too:
MrsGoldenweek, yang membantu dalam pembuatan ide di awal cerita TAT….arigatou~ Where are you? Miss you here…
Keiko Eni Naomi, uzumaki kuchiki, hendrik widyawati, Sakura-Yuki15, Plovercrest, Hikari Cresenti Ravenia, Naruzhea AiChi, Ray Kousen7, Owwie Owl, reiji reiji, Kazuko Nozomi, chappy, sykisan, Cha Chappie, Guardian of Mineral, Rukiorra Schiffer, Krabby Paty, lantana 'chaori' pinkblond, citraa, Izumi Kagawa, Qao, Seo Shin Young, Mikyo, Little Miss Fullbuster, Guest, Rukichigo, ojou rizky, ika chan, Rizuki Ryuuzaki, aeni hibiki, Sookyung06, candy loly berry, 123, Gulliet, berry biru, aaaaaa, Iya, Shinigami Teru-chan, noviaellen, rekha rekha 98, zircon, amexki chan, Nijimmy hyuga, Hiruma Enma 01, Dhen Hyuga Kuchiki, CherryPhia
Gomen bagi nama-nama yang belum kusebut.. Pokoknya.. Terima kasih banyak untuk semuanya! TAT….See you soon on the next story~
Love, Morning Eagle~
