Character(s) © God

I take no profit, just for fun


2nd : Neidisch


Hari pertama di bulan April, kelas mereka kedatangan murid baru.

"Namaku Kim Jongin, aku suka menari. Mohon bantuannya."

Wajahnya tampan, kulitnya agak tan, dia tidak setinggi Chanyeol dan tampak dingin. Namun Baekhyun tak bisa mengalihkan pandangan dari anak baru itu.

Chanyeol yang duduk tepat di samping Baekhyun segera menjadikan Kim Jongin sebagai orang yang harus diwaspadai. Kalau perlu, dibasmi sekalian.

"Kau tahu, sekarang wajahmu tampak konyol, Baek." katanya cemburu.

Baekhyun tidak tahan untuk tidak nyengir lebar. Sambil menatap Jongin yang mengambil tempat duduk paling belakang di deretan bangku Chanyeol, ia berbisik, "Aku mau lihat kemampuan menarinya, pasti seksi sekali."

Chanyeol memutar bola mata, membuat catatan mental agar membeli pestisida untuk Kim Jongin nanti.

Guru matematika mereka berdehem keras karena perhatian murid-muridnya mengarah pada Jongin seorang. Chanyeol mendengus saat Baekhyun terkikik aneh, seperti merencanakan sesuatu.

Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.


Chanyeol tak pernah membenci jam istirahat sedalam ini.

Ia tengah berdiri di pintu kelas, malas ke kantin. Meja paling belakang di deretnya penuh sesak. Kim Jongin dengan sok keren memamerkan kemampuan menarinya yang—yah, Chanyeol SEDIKIT akui memang bagus.

Sebenarnya itu tidak masalah, Chanyeol bahkan tidak peduli sama sekali. Masalahnya adalah Baekhyun juga ada disana, di barisan terdepan pula. Hal itu membuat Chanyeol kesal tingkat tinggi.

"Hm, boleh juga."

Oh Sehun, junior Chanyeol yang sudah menjadi sahabatnya sejak Sekolah Menengah mengangguk-angguk, "Dance-nya lumayan, aku akan menawarinya ikut klub dance."

"Bahkan kau juga membelanya?! Ya ampun," Chanyeol sakit kepala, "kalau hanya seperti itu aku juga bisa!"

"Oh, man," Sehun merangkul Chanyeol, "kau tidak bisa, hyung. Spesialismu itu gitar, melihatmu menari hanya akan membuatku sakit mata."

Chanyeol protes namun Sehun nampaknya tidak mendengarkan.

Baekhyun kembali ke mejanya sambil membawa sandwich—mungkin pemberian anak baru itu—dengan senyum lebar yang makin membuat Chanyeol kesal. Pemuda tinggi itu segera menghampiri Baekhyun sementara Sehun sudah hilang entah kemana.

Chanyeol duduk di bangkunya, mencondongkan tubuh ke arah Baekhyun, "Baek."

"Hm?" Baekhyun memakan sandwich sambil menatapnya, "kenapa?"

Chanyeol merasakan jantungnya bertalu-talu karena cemburu, "Kau tak akan mendekati anak baru itu, kan?"

Baekhyun nyengir menyebalkan, "Kenapa memangnya?"

"Oh, ayolah!" Chanyeol mengusap wajahnya, "dia hanya manusia biasa!"

"Memangnya kau apa? Siluman?"

"Apa? Tentu saja bukan! Maksudku—aku jelas lebih baik darinya!"

"Oh," mata Baekhyun berkilat jenaka, "kau cemburu?"

Chanyeol gelagapan, "Te-tentu saja tidak! Mana mungkin! Aku hanya kesal kau mengabaikanku demi anak baru yang bahkan kau tidak tahu bagaimana sifatnya!"

Kilat di mata Baekhyun sekejap berganti dengan raut kecewa, "Jongin baik, kok!" katanya kesal, "setidaknya dia memberiku sandwich!" dengan itu Baekhyun berlari keluar kelas.

"Aku bisa memberimu lebih banyak, Baek!"

Baekhyun tidak mendengarnya.


Baekhyun dan Chanyeol itu… susah dijelaskan. Sepasang kekasih? Tidak, tidak. Mereka bebas mendekati siapa pun asal masing-masing dari mereka tidak tahu. Mereka juga bebas didekati siapa pun karena tidak ada status yang mengikat. Kalau begitu, mereka sahabat? Tidak juga. Sahabat tidak mencium sahabatnya, kan?

Mereka pertama bertemu di Sekolah Dasar, saat layangan Baekhyun tersangkut di pohon (waktu itu Baekhyun menangis nyaring. Diulang, nyaring.) dan Chanyeol sebagai orang asing yang tak sengaja lewat sekaligus tak sengaja mendengarkan suara dahsyat Baekhyun, membantu mengambilkan layangan itu cuma-cuma.

Kemudian setelah itu, mereka tak terpisahkan.

Baekhyun dan Chanyeol tak pernah mempersalahkan status. Secara alami mereka tahu jika mereka saling memiliki, namun tak menutup kemungkinan bagi yang lain. Pokoknya susah dijelaskan. Orang awam akan mengira mereka kekasih, atau adik-kakak, lebih parah lagi ayah-anak (akibat dari kemanjaan Baekhyun dan kepatuhan Chanyeol menuruti permintaannya).

"Kau kenapa?"

Baekhyun menjatuhkan diri di kursi kantin, menatap dua sahabatnya sambil cemberut. Ia lalu membenamkan wajah pada kedua lengannya, "Chanyeol menyebalkan." katanya parau.

Luhan dan Kyungsoo, sahabat-sahabat Baekhyun saling berpandangan kemudian memutar mata bosan. Lagi-lagi. Dua manusia aneh ini berulah lagi.

"Kenapa lagi kali ini?" tanya Luhan hati-hati, tidak mau membuat Baekhyun mengeluarkan suara supersonik-nya.

"Dia cemburu padaku!" Baekhyun menatap Luhan dengan mata berkaca-kaca, "tapi dia tidak mau mengaku!"

"Oh, ayolah, Baekhyun-ah, sudah belasan kali Chanyeol begitu." ucap Kyungsoo frustasi.

"Ta-tapi…" anak itu mencicit, "aku ingin dia mengaku… sekali saja."

Luhan dan Kyungsoo kembali berpandangan. Kyungsoo lalu menyeruput milkshake-nya sambil mengedikkan bahu, tak terlalu perduli karena ia percaya kalau Baekhyun dan Chanyeol akan berbaikan lagi keesokan harinya.

Sementara Luhan mengabaikan bubble tea-nya, berpikir keras. Baekhyun menggambar asal pada meja kantin menggunakan telunjuknya, dagu berpangku pada lengan yang terlipat, cemberut.

"Baekhyun,"

"Um?"

Luhan tersenyum mencurigakan, "Aku ada ide."


Chanyeol memarkir sepedanya di halaman rumah Baekhyun, kemudian masuk tanpa mengetuk seperti biasa.

"Pagi, ayah, ibu."

"Pagi, Chany—"

"KAU TERLAMBAT, PARK!"

Belum sempat salam Chnayeol dibalas, Baekbum sudah menerjangnya, "Cepat kejar si bocah!"

"Ha?" Chanyeol menaikkan alis, "Big Brother, Baekhyun 'kan sedang sarapan."

"Sarapan matamu!" Baekbum mendelik, "dia sudah pergi, bodoh!"

"Ap—"

"Baekhyun sudah berangkat, Chanyeol-ah, dengan seorang pemuda yang ia bilang murid baru atau apalah itu," Nyonya Byun menatapnya khawatir, "baru saja pergi. Pakai sepeda."

Chanyeol merasakan panas dengan cepat merambat ke wajahnya. Terburu-buru ia mengambil sepedanya dan megayuh cepat menuju sekolah. Pikirannya penuh dengan Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun. Jadi ini alasannya kemarin Baekhyun pulang sekolah dengan Kyungsoo dan Luhan dan bukan dengannya? Jadi ini alasan kemarin malam tiada satupun pesan dan panggilan yang Baekhyun angkat darinya?

Chanyeol mendecih, marah luar biasa.

Sampai di sekolah, Chanyeo memarkir sepedanya asal kemudian melesat ke kelas, hanya untuk menemukan Baekhyun bersama Kyungsoo dan si anak baru tertawa riang.

Hatinya serasa dicubit.

Napasnya memburu, tangan terkepal. Chanyeol tak mungkin berbalik, ia tak akan kalah dengan anak baru itu. Maka Chanyeol berjalan angkuh memasuki kelasnya, lalu membanting ranselnya pada meja dengan sengaja.

"Pagi, Chanyeol-ah." Kyungsoo menyapanya namun Chanyeol tak peduli.

"Selamat pagi." anak baru itu tersenyum padanya. Chanyeol menahan diri untuk tidak muntah.

Ia menunggu, tapi Baekhyun tidak menyapanya. Anak itu hanya melirik Chanyeol sekilas sebelum kembai asik dengan pembicaraan mereka. Seperti Chanyeol tidak ada disana.

Mencoba tetap berdiri saat terabaikan itu rasanya sakit, memang. Dan Chanyeol memutuskan untuk pergi ke kantin yang masih sepi.

"Sial!" ia meninju tembok yang tidak bersalah, "sial! Sial! Sial!" ia tetap melakukannya hingga buku-buku jarinya berdarah.

Tak apa, rasanya tidak ada apa-apanya. Lebih sakit saat Baekhyun mengabaikannya. Baekhyun tidak pernah begini. Boleh jadi ia dekat dengan orang lain tapi ia tak akan pernah mengabaikan Chanyeol, begitu juga sebaliknya.

Tapi sekarang Baekhyun melakukan itu.

"Baiklah," Chanyeol membenamkan wajah pada lengannya, "aku terima tantanganmu, Baek."


Hari itu Chanyeol bolos pelajaran pertama. Dan pelajaran selanjutnya ia minta tempat duduknya ditukar hanya untuk menghindari Baekhyun. Tapi Baekhyun sama sekali tak peduli, dan Chanyeol merasa darahnya mendidih.

Sore harinya Baekhyun tetap mendiami Chanyeol. Ia pulang dengan Luhan dan Kyungsoo, dan Kim Jongin. Chanyeol tertahan di sekolah bersama latihan basket-nya. Dan hari itu untuk pertama kalinya ia dimarahi pelatih karena tidak fokus seperti biasa.

Langit telah disepuhi jingga. Chanyeol berjalan gontai bersama sepedanya. Biasanya ia dan Baekhyun akan berjalan berdampingan, ditemani es krim vanila dan tawa Baekhyun yang manis.

Malam harinya Chanyeol tidur pukul dua pagi, bergadang menanti pesan dari Baekhyun. Namun hal itu tak pernah datang. Dan ego Chanyeol terlalu tinggi untuk mengirimi Baekhyun pesan lebih dulu.

Baru sehari dan Chanyeol sudah merindukan anak itu.


Keesokan harinya, Chanyeol baru ingat bahwa ia dan Baekhyun sedang ada masalah saat Chanyeol sampai di rumah Baekhyun. Dia mendecak, lupa. Terlalu biasa dengan rutinitas-berangkat-sekolah-bersama-Baekhyun setiap harinya.

Baru saja Chanyeol hendak berbalik, ia mendengar suara Baekhyun tertawa-tawa. Chanyeol segera bersembunyi di tikungan dekat rumah Baekhyun, mengintip.

Dan segera terkena serangan jantung begitu melihat Baekhyun dan Jongin keluar dari rumah. Mereka nampak membicarakan sesuatu yang Chanyeol dengar samar-samar. Kemudian Jongin mengambil sepedanya namun Baekhyun menghentikan aksi Jongin. Anak itu menggeleng-geleng lalu sepertinya mengajak Jongin berjalan kaki saja ke sekolah.

Hah.

Apa-apaan.

Itu kebiasaan Chanyeol! Momen itu adalah milik Chanyeol! Kenapa anak baru itu dengan mudahnya menggantikan Chanyeol hanya dalam dua hari?!

Yang benar saja!

Chanyeol mati-matian menahan nafsunya untuk menyeret Jongin ke gang sepi terdekat dan—tentu saja menghajarnya, memangnya apalagi?

Tapi tidak sekarang. Tidak di depan Baekhyun. Atau anak itu akan membencinya karena melakukan kekerasan di depan matanya.

Chanyeol segera berbalik dan mengambil jalan memutar. Ia memacu sepedanya dengan kencang agar sampai di sekolah terlebih dahulu sebelum Baekhyun.

Hari itu mereka sama sekali tidak bertukar sapa. Di kantin juga Baekhyun memutuskan untuk memisahkan diri dengan duduk bersama Jongin dan Kyungsoo.

"Hyung ada masalah dengan Baek-hyung?" tanya Sehun sambil menyeruput bubble tea-nya bersama sang kekasih.

Sehun dan Luhan, sepasang kekasih yang tidak mengerti situasi dan kondisi—mereka selalu bermesraan dimana pun dan kapan pun—seperti sekarang, mereka dengan manisnya berbagi bubble tea di depan Chanyeol yang sedang merana.

"Diamlah, dan jangan bermesraan di depanku!" jawab Chanyeol sensitif. Ia menghabiskan cola-nya dengan kesal.

Sehun berniat membalas namun Luhan terlebih dahulu menahannya. Sehun bertanya melalui telepati, dan Luhan menjawab, 'Jangan membuat Chanyeol lebih sengsara', dengan telepati pula.

"Chanyeol, sebaiknya kau bicara baik-baik dengan Baekhyun." saran Luhan bijak.

"Apa? Tidak! Baekhyun yang melakukan ini lebih dulu, jadi dia yang harusnya minta maaf." Chanyeol keras kepala.

Sehun dan Luhan saling berpandangan, brtelepati lagi.

'Bagaimana ini, Han-ie?'

'Apanya?'

'Chanyeol-hyung! Ini sudah tiga hari, biasanya mereka bertengkar tidak lebih dari tiga hari dan—oh, tidak, jangan-jangan ini pertanda kiamat?!'

'Sehun-ie, kau terlalu berlebihan.'

'Lalu bagaimana?'

Luhan menatap Chanyeol yang tengah melamun, tampak menyedihkan.

"Chanyeol,"

"Hm?"

"Kau tidak merindukan Baekhyun?"

Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang menikmati jus stroberi-nya, lalu menghela napas, "Tentu saja aku merindukannya."

Luhan tersenyum, "Ingat hari-hari menyenangkanmu bersama Baekhyun?"

"…Ya,"

"Ingin merasakannya lagi?"

"…Ya,"

"Kalau begitu bicara dengannya, baik-baik."


Maka disinilah Chanyeol, berdiri bersandar pada tembok depan rumah Baekhyun. Menunggu dan menunggu.

Ia sengaja tidak masuk karena ingin bicara empat mata dengan Baekhyun. Sepulang sekolah Chanyeol sempat kesini dan ibu Baekhyun bilang anak itu sudah pergi jalan-jalan dengan Kyungsoo. Jadi Chanyeol kembali pukul enam, karena Baekhyun ditambah shopping sama dengan lupa waktu.

Tapi setelah dua jam menunggu, Baekhyun belum juga kembali.

Chanyeol baru akan mengubur gengsinya dengan menghubungi Baekhyun sebelum mendengar suara samar anak itu dari kejauhan. Chanyeol hendak memanggil namun kedua matanya langsung membelalak.

Kim Jongin.

Dengan refleks Chanyeol bersembunyi di tikungan dekat rumah Baekhyun—lagi, dan mengintip apa yang terjadi.

Baekhyun dan Jongin tiba di rumah Baekhyun. Hanya berdua. Dan Chanyeol cemburu luar biasa. Mereka bicara entah apa lalu tertawa bersama. Chanyeol mulai menerka apakah Kim Jongin sebegitu menyenangkan hingga Baekhyun terlihat selalu tertawa tiap bersama pemuda itu.

Tak ada waktu untuk berpikir, karena hati Chanyeol langsung terasa sakit ketika Jongin memberi Baekhyun sesuatu—sebuah syal, ia rasa—dengan wajah tersipu. Dan Baekhyun menerimanya sambil tersenyum manis.

Chanyeol tidak bisa menahannya lagi.

"Kim Jongin!"

Dengan amarah berkobar Chanyeol berlari menghampiri Jongin dan memukulnya. Baekhyun berteriak terkejut sementara Jongin jatuh tersungkur, mengaduh memegangi rahangnya.

"Chanyeol! Apa yang kau lakukan?!" bentak Baekhyun.

"Baekhyun," Ia menatap Baekhyun tajam. "aku ingin bicara denganmu, baik-baik. Bicara tentang kita. Aku menunggumu dua jam dan ini yang kudapat."

Baekhyun membelalak tak percaya, "A-apa? M-maaf aku tidak tahu kalau kau—"

"Tentu saja kau tidak tahu!" ucap Chanyeol terluka, "karena saat itu kau pasti sedang tertawa bersama anak baru ini! Sejak ada dia kau bahkan tak mau melirik padaku!"

Baekhyun hendak berkata namun Chanyeol memotong, "Aku tak mengerti… jika dalam tiga hari saja kau mengabaikaku bagai sampah, lalu apa gunanya hubungan kita selama ini?"

"Chanyeol-sshi aku—"

"Aku tak butuh kata-katamu!" teriaknya pada Jongin.

Chanyeol yang kalut tak mampu berpikir jernih. Ia marah, kesal, cemburu, ia hanya tak mengerti. Tak mengerti tatapan bersalah Baekhyun dalam matanya yang berkaca-kaca.

"Aku kecewa padamu."

Chanyeol pergi dengan perasaan hancur.


"Chanyeol-sshi!"

Chanyeol tetap berjalan tak peduli.

"Chanyeol-sshi kumohon berhenti!"

"Jangan mengikutiku atau kau akan semakin babak belur, Jongin-sshi." balas Chanyeol dingin.

"Chanyeol-sshi!" Jongin medorong bahu Chanyeol hingga yang bersangkutan berbalik marah.

"Apa masalahmu?!"

"Dengar dulu! Kau salah paham!"

"Memangnya apa yang salah kupahami?!"

Sungguh, Chanyeol lelah sekali. Ia hanya ingin pulang dan berbaring melupakan semua. Mungkin besok ia bolos saja…

"Tentang aku dan Baekhyun, kami hanya teman."

"Oh?" Chanyeol menaikkan alisnya, "setelah semua perlakuanmu padanya dan perlakuannya padamu kau masih bisa bilang begitu?"

Jongin mendesah lelah, "Kau hanya melihat dengan mata jadi mudah dibodohi."

"Apa maksudmu, hah?!"

Chanyeol baru akan menghajar Jongin sekali lagi sebelum—

"Aku menyukai Kyungsoo!" —Jongin berteriak lantang.

"Ha?" Chanyeol bengong, "maksudmu?"

"Aku menyukai Kyungsoo." tegas Jongin, "dan aku minta tolong pada Baekhyun untuk membuatku dan Kyungsoo jadi makin dekat."

Chanyeol baru menyadari salah pahamnya, "Tapi kau tidak harus melibatkan Baekhyun!" katanya protes.

Sumpah—Jongin gagal paham dengan Chanyeol yang otaknya tidak diprogram encer untuk mengerti tentang perasaan.

"Chanyeol-sshi," ucapnya sabar, "harusnya kau sudah tahu bagaimana apatisnya seorang Do Kyungsoo."

Ah, iya. Chanyeol lupa. Kyungsoo itu 'kan manusia paling apatis nomor dua di dunia setelah ayahnya.

"T-tapi kau memberi Baekhyun syal!"

"Itu untuk Kyungsoo, oke? Karena aku terlalu pengecut untuk memberikannya sendiri." aku Jongin, setengah kesal.

"Ta-tapi kenapa Baekhyun mengabaikanku? Harusnya itu tidak ada hubungannya dengan urusanmu, 'kan?"

"Memang tidak. Kalau yang itu kau tanya sendiri pada yang bersangkutan."

Chanyeol melongo. Memproses kata-kata Jongin, "Ja-jadi…"

"Jadi, kau sudah salah memukul orang." ucap Jongin sambil bersidekap.

"Maaf," Chanyeol menggaruk belakang kepalanya, "kupikir kau dan Baekhyun… tunggu, APA YANG SUDAH KULAKUKAN PADA BAEKHYUN?!"

Sungguh, Jongin benar-benar gagal paham.


Chanyeol berlari dan berlari, hingga penampakan Baekhyun mulai tampak. Anak itu masih ada di depan rumahnya, berjongkok sambil membenamkan wajah pada kedua lengan yang bertumpu di lututnya. Menangis.

Chanyeol tiba di depan Baekhyun dengan napas putus-putus, kemudian ikut berjongkok di depan Baekhyun, menatap rambut cokelatnya dengan pandangan bersalah. Ia mendengar isakan kecil Baekhyun dan perasaannya benar-benar kacau.

"Baek,"

"Untuk apa kau kembali?" balas Baekhyun dengan suara serak.

Chanyeol menghela napas, "Baek, maafkan aku—"

"Kau kecewa padaku, 'kan? Kau tak mau bertemu denganku lagi, 'kan?—hiks," Baekhyun seperti menghapus air mata dengan lututnya, "ini semua salahku."

"Baek, aku minta maaf. Maaf telah membuatmu sedih." katanya sambil mengusap kepala Baekhyun.

"Aku merindukanmu, Baek."

Isakan Baekhyun terhenti. Anak itu mendongak, memandang Chanyeol dengan matanya yang basah.

"Hueeeeeee… Chanyeooool…." kemudian memeluk Chanyeol hingga jatuh terduduk lalu menangis keras dalam pelukannya, "aku merindukanmuuu…"

Chanyeol tertawa, merasa bodoh karena meragukan perasaan Baekhyun, "Lalu kenapa kau mengabaikanku, hm?"

"Salahku—hiks," Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol, "aku ingin membuatmu cemburu sampai kau mengaku."

Chanyeol melongo.

"Maaf," Baekhyun merunduk sambil cemberut, "habisnya kau tidak pernah mengaku kalau kau cemburu! Padahal kalau aku selalu mengatakannya terang-terangan!"

Baekhyun dan kekanak-kanakannya. Astaga.

Tapi harus Chanyeol akui, Baekhyun memang berhasil. Ia sangat cemburu sampai rasanya ingin meremukkan bulldozer setiap melihat Baekhyun di dekat Kim Jongin.

"Aku cemburu, tahu."

Baekhyun tersentak.

"Aku sangat sangat sangat sangat cemburu." ulangnya.

"Cha-Chanyeol…" Baekhyun mulai menampakkan tanda-tanda ingin menangis.

"Jangan menangis lagi," Chanyeol tersenyum, mengusap sisa-sisa air mata di pipi Baekhyun, "dan jangan mengabaikanku lagi."

"Um." Baekhyun mengangguk dan Chanyeol mengecup bibir sayang.

"Ayo beli es krim."


Finite


Omake

Mereka tengah duduk di taman kota, dengan kepala Baekhyun yang bersandar di bahu Chanyeol. Déjà vu.

"Omong-omong, siapa yang memberimu ide seperti ini, Baek?" tanya Chanyeol sambil memakan es krim-nya.

Ia yakin seratus persen kalau Baekhyun melakukan ini atas ide orang lain. Karena pikiran Baekhyun yang setara dengan anak kecil tidak cocok dengan rencana brilian tapi heart-breaker ini.

Baekhyun membuang stik es krim-nya ke tong sampah terdekat, kemudian menjawab polos, "Luhan-hyung."

Sementara itu…

"Hatchu!"

Luhan menggosok-gosong hidungnya, "Kenapa perasaanku tidak enak, ya?"

Mari kita doakan nasib rusa kecil satu ini.


Jadi... saya tahu konfliknya terlalu cepet keluar, hehe XD habisnya nggak sabar pengen nyiksa Chanyeol /woy/

Yang nanya hubungan ChanBaek… begitulah, nggak jelas pokoknya hahahah /dibantai/ yang pasti nanti ada kok masa 'jelas'(?)-nya, entah kapan /plak/

Karena fic gaje ini random abis jadi konfliknya nanti mungkin loncat-loncat dan isi fic-nya juga kayak gitu /nyengir/ btw ini warning XD /yaterus/

-:-

Thanks for :

Maple fujoshi2309, La Eclairs, ChanBaekLuv, baekki-rha15 tomatocherry, Mela querer chanBaekYeol, CussonsBaekBy, Shouda Shikaku, chepta chaeozil, nadyadwiandini10, vitCB9, Guest, neli . shawolslockets, dhie, fidalicious, Nenehcabill, srhksr, mfayumu petiteboy0506, Parkbaekyoda, uchanbaek, endah . d . lee, BLAUESKI, Changsha, Guest, Sniaanggrn, alfi lee, indri kusumaningsih

-:-

Makasih buat semua reviewnya! karena review manis kalian lah saya jadi makin termotivasi buat nulis lanjutannya dan bisa update cepet :D

Review please?