Character(s) © God

I take no profit, just for fun


Ket : cerita Jongin ada di dalem tanda ["…"] . Percakapan di telepon ada di dalem tanda (("…."))


4th : Ghost at School


"Tahu tidak, cerita hantu di sekolah kita?" Jongin bertanya dengan raut horor.

Siang itu mereka berenam duduk di kantin dalam satu meja. Karena Chanyeol dan Jongin sudah diluruskan, kini mereka menjadi teman yang cukup akrab. Dan omong-omong tentang Jongin, dia masih berusaha mendekati Kyungsoo yang sangat amat tidak peka padahal sudah dikirimi berbagai macam sinyal.

Sehun menyenderkan dagu di bahu Luhan yang duduk di sebelahnya, "Yang sedang ramai dibicarakan? Aku tidak terlalu memperhatikan, sih."

Luhan mencoba menyingkirkan kepala Sehun namun yang bersangkutan tidak mau lepas, "Siswi kelas sebelah itu, ya? Aku hanya meyimak sekilas."

"Oh! Yang terjadi dua hari yang lalu?" respon Chanyeol menggebu-gebu. Sementara Baekhyun yang duduk di sisinya berwajah suram.

"Ha-hantu? Ye-yeool…" anak itu memeluk lengan Chanyeol ketakutan. Chanyeol mencuri kesempatan dengan memeluk Baekhyun protektif sambil nyengir lebar.

Jongin memutar bola mata bosan, "Kau tahu cerita itu, Kyungsoo-ya?" padahal dia juga mencari-cari kesempatan.

"Tidak, aku tak tertarik." jawab Kyungsoo dengan pandangan yang masih terpaku pada novelnya. Jongin patah hati seketika.

"Kalian tidak tahu, ya? Padahal itu lumayan seram." ucap Jongin tak lagi bersemangat.

Mata Luhan berbinar-binar, "Seperti apa? Ayo ceritakan, Jongin!"

"Ja-jangaaaann!" Baekhyun merajuk.

Chanyeol terkekeh, "Ayolah, Baek, ada aku, kok."

"Ya sudah, aku dengar, deh." Sehun tak peduli apa pun asal dia tetap bisa bermesraan dengan Luhan-nya.

Jongin mendekatkan wajah, membuat ekspresi seram lalu berkata pelan,

"Jadi begini… malam itu—"


Baekhyun mondar-mandir tak karuan. Baekbum memprotes kelakuan adiknya yang mirip setrika.

"Oi, bocah! Sekali lagi mondar-mandir di depan TV, kutendang kau."

"Baekbuuum!" Baekhyun tiba-tiba menerjang kakaknya hingga yang bersangkutan serangan jantung.

"Kenapa?!"

"I-itu…" mata Baekhyun berkaca-kaca, "ponselku tertinggal di sekolaaaah! Huwaaaaa…"

"H-hah?" Baekbum menyingkirkan adiknya yang hampir menggunakan kaosnya sebagai saputangan, "ya sudah ambil sana."

"Tapi aku takuuut! Baekbum, temani aku!"

"Enak saja, sebentar lagi acara favoritku dimulai, tahu."

"Tapi itu ponselkuuu…"

"Ponselmu bukan ponselku, bocah. Lagipula masih ada hari esok, kan?"

"Tidak mauuu! Maunya sekarang!"

Baekbum sakit kepala, "Ambil saja sendiri! Kau itu sudah tujuhbelas, sampai kapan mau bermanja-manja?"

"Kau menyebalkan!"

Baekhyun berlari menuju kamarnya setelah melempar Baekbum dengan sandal rumahnya (dan tepat mengenai wajah). Ia berbaring telungkup di ranjang, cemberut dengan mata berkaca-kaca.

"Ponselkuu…"

Baekhyun dan ponsel sudah seperti pisang dengan pohonnya (kalau pisang dengan kulitnya, nanti Chanyeol marah karena dikalahkan oleh seonggok ponsel). Kalau tidak ada ponsel, eksistensi Baekhyun di dunia maya akan terancam. Lagipula dia punya banyak followers di twitter dan Baekhyun sudah bertekad untuk membuat tweet minimal sekali sehari. Tapi hari ini dia belum membuat satu pun! Bagaimana nasib followers-nya nanti?

(Ah, sudahah, narsis Baekhyun itu bawaan lahir).

Dan lagi kalau tidak ada ponsel, bagaimana nasib rutinitas malam Baekhyun untuk SMS-an dengan Chanyeol?—tunggu, Chanyeol?

Mendadak sebuah bohlam lampu menyala di otak Baekhyun.

Segera anak itu berlari kembali menuju ruang tengah dimana Baekbum tengah bersantai menonton acaranya. Baekhyun dengan kurang ajar menghalangi layar televisi sampai alis kakaknya menukik tajam mengalahkan pesawat tempur yang terjatuh saking kesalnya.

"BYUN BAEKHYUN! Singkirkan tubuh kerempengmu itu dari kecantikan Jang Nara-ku!"

"Pinjam dulu ponselmu!"

Baekbum berdecih kemudian merogoh kantongnya, "Kenapa, sih, pakai tertinggal segala!"

"Aku lupa!" kilah Baekhyun, "aku menaruhnya di kolong bangku saat jam olahraga karena buru-buru, tidak sempat memasukkannya ke tas!"

Baekbum menyodorkan ponselnya dan Baekhyun segera merebutnya cepat, mengetik nomor Chanyeol yang ia hapal di luar kepala kemudian menunggu sambil menggigit kuku-kuku jarinya. Cemas.

(("Halo? Kenapa, Big Brother?"))

"Chanyeol!" ucap Bakhyun kelewat senang.

(("Baek? Kenapa menelpon pakai ponsel Baekbum? Ponselmu mana?"))

"Tertinggal di kelaaaas! Chanyeol, temani aku mencarinya!"

(("Errr…")) Chanyeol terdengar berpikir, Baekhyun kini menggigiti telunjuk saking cemasnya, (("maaf, Baek, ayah memintaku membantu proyek klien barunya dan harus selesai sekarang, kau tahu—"))

"Kenapaaaaa?!"

(("—aku tidak bisa menolak perintah ayah, kan? Nah, sekarang coba telepon Luhan atau Kyungsoo, aku akan kirim nomornya."))

Tak sadar air mata Baekhyun sudah jatuh, "Baiklah…"

(("Baek,")) Chanyeol menghela napas, (("maafkan aku."))

"Umm…" Baekhyun menyeka air matanya, "tak apa, kok."

(("Ya sudah, kau hati-hati, ya. Apalagi dengan hantu yang ada di sekolah—"))

Baekhyun mematikan ponselnya ganas.

"Chanyeol bodoh! Itu malah membuatku semakin takut, tahuuu!"


Dan disinilah Baekhyun, di depan sekolahnya yang gelap dan sepi. Tanpa teman, dingin menusuk, Baekhyun merapatkan jaketnya sambil menggigil dingin sekaligus takut.

Ia sudah menghubungi Luhan, Kyungsoo, bahkan meminta Penjaga Sekolah menemaninya, tapi hari ini Baekhyun benar-benar sial.

"Err… maaf Baekhyun… sekarang aku sedang kencan bersama Sehun." cukup seperti itu dan Baekhyun tidak tega mengganggu momen romantis sahabatnya padahal pasangan gula itu selalu bermesraan dimana saja.

Dan Kyungsoo… "Maaf, Baekhyun-ah, PR Kimia-ku tidak bisa menunggu, dan kau sudah tujuhbelas! Jangan percaya hal kekanakan macam hantu, dong!"

"Dasar Kyungsoo tidak pekaaa!" umpat Baekhyun dalam hati.

Sementara Penjaga Sekolah hanya memberi Baekhyun kunci kelasnya, tidak berniat mengantar karena tadi beliau sudah mengelilingi sekolah dan kakinya sudah lelah.

Baekhyun mendesah. Ia bisa saja memaksa Chanyeol tapi ia tidak mau membuat ayah Chanyeol berubah pikiran tentangnya, bahwa Baekhyun tidak memberi pengaruh buruk seperti melalaikan tugas demi hal yang tidak penting pada puteranya.

Pandangannya teralih pada gedung sekolah yang disinari cahaya remang-remang lampu di koridor, tapi tidak di ruang kelas. Ia mencari-cari letak kelasnya di lantai dua dan meneguk ludah kasar.

"Gelaaaap!"

Tapi demi ponsel tercinta, Baekhyun akan melalui rintangan ini! Semangat!

Srak!

"HUWAAAAAAA!"

Diragukan, Byun. Dengar ranting jatuh saja kau sudah stroke.

Perlahan, Baekhyun mulai melangkah melewati gerbang sekolah. Kakinya menjejak halaman dan Baekhyun mulai berlari, mempercepat pekerjaannya. Gelap, sepi, mencekam. Yang Baekhyun dengar hanyalah suara langkah dan napasnya, serta jantungnya.

Ia mulai berdoa, pandangan awas ke segala sudut sekolah. Baekhyun melewati lorong yang diterangi cahaya remang-remang dengan takut-takut. Diralat, sangat takut!

"Chanyeool…" Baekhyun mencicit, ingin menangis karena uji nyali ini.

Maka ketika langkahnya mulai mendekati kelas, Baekhyun berdoa. Melihat sekeliling, melangkah lebih dan lebih cepat lagi. Kunci di tangannya ia genggam erat.

["—seorang siswi meninggalkan buku latihannya di sekolah—"]

Siaaal! Kenapa Baekhyun harus mengingat cerita Jongin dalam keadaan begini?!

["Buku latihan itu harus dikumpul besok. Kau tahu guru Kang? Ibu galak itu tidak akan mengampuni murid yang tidak taat dengan peraturan."]

Baekhyun menelan ludah gugup, sepertinya ia mendengar sesuatu. Bukan langkahnya, napasnya, ataupun detak jantungnya.

["Karena itu, dengan nekat siswi tersebut datang ke sekolah. Pukul sembilan malam."]

Baekhyun sampai di pintu kelasnya. Ia segera membuka pintu dengan kunci di tangannya. Namun karena gugup, kuncinya terjatuh.

["Dan ketika ia sampai di kelasnya, saat itulah ia melihat—"]

Sesosok banyangan lewat di koridor. Baekhyun bersumpah ia benar-benar melihatya.

["—ketika ia melihat bayangan aneh tersebut, ia mempercepat gerakannya. Namun pintu kelasnya macet.]

Gemetar, Baekhyun mengambil kuncinya cepat dan kembali menyocokkannya. Ia ingin menangis, tapi dia tak boleh melakukannya. Baekhyun sangat takut, tapi ia tak boleh menunjukkannya. Jantungnya bertalu, kakinya sudah terasa lemah. Apalagi kemudian—

["Lalu ia mendengarnya."]

—ada suara langkah kaki.

["Mendekat, dan semakin mendekat. Lama kelamaan itu terdengar seperti kaki yang diseret-seret—"]

Pintu menjeblak terbuka. Baekhyun berlari sambil menggigit bibir bawahnya, menangis. Ia menabrak beberapa bangku, tapi tak ada waktu untuk sekedar mengaduh. Baekhyun segera menemukan bangkunya, mengambil ponsel di bawah kolong bangku dan saat ia berbalik—

["Dia melihatnya. Wanita berambut panjang. Siswi itu berteriak—"]

Baekhyun berteriak sekencang-kencangnya.

["Wajahnya tak terlihat karena gelap, namun gadis itu seolah dapat merasakan si wanita tersenyum menyeramkan."]

Lari! Lari! Baekhyun tak peduli apapun selain keluar dari tempat ini. Ia menangis kencang, memanggil-manggil nama Chanyeol.

["Siswi itu berlari menuju pintu."]

Baekhyun memejamkan mata, tak mau melihat ke arah wanita berambut panjang. Jantungnya memburu, kakinya gemetaran. Peluh membasahi seluruh tubuh Baekhyun.

["Namun belum sempat ia berbalik ke koridor—"]

Baekhyun tercekat, berteriak lagi. Wanita itu kini merangkak mendekati pintu. Mendekati Baekhyun.

["Wanita itu mengejarnya sambil merangkak, dengan kaki berdarah yang terseret-seret."]

Baekhyun tak mau melihat ke belakang. Kaki-kaki pendeknya memacu langkah lebih cepat. Melewati koridor, gema langkahnya bersahutan dengan gema seret yang lain. Namun walau dalam keadaan apapun,

"CHANYEEOOOLL! Hiks…"

Hanya Chanyeol yang dapat Baekhyun ingat.

["Berlari sedikit lagi, dan siswi itu hampir mencapai halaman sekolah yang lebih terang. Tapi…"]

Sesuatu mencengkeram kaki Baekhyun.

["Tangan si wanita, yang pucat pasi bagai mayat. Cengkeramannya dingin seperti es, kaki si gadis ditarik mendekat—"]

"LEPASKAN! LEPASKAAAN!" Baekhyun meraung-raung.

"TOLOOONG!"

["Katanya kaki wanita itu hampir putus, dan dia menginginkan pengganti."]

Baekhyun menghentakkan kakinya keras, dan cengkeraman itu lepas. Tak mau menoleh, Baekhyun berlari kencang menuju gerbang.

["Untung saja siswi itu akhirnya bisa lolos, dam tidak mau lagi ke sekolah malam-malam."]

Baekhyun tidak mau lagi! Apapun itu, dia tidak akan mengulangi perbuatan bodohnya ini. Harusnya ia ambil ponselnya besok saja, seperti kata Baekbum.

Sekarang Baekhyun sudah melewati gerbang. Ia menoleh sekilas dan menghela napas lega karena tidak menemukan apapun. Namun—

Bruk!

—ia menabrak sesuatu.

"Baek—"

"AAAAAAAAA! TOLONG JANGAN LAGI! KUMOHON—"

"—hyun! Baekhyun!"

Ia kenal suara ini. Tangan yang mencengkeram bahunya juga terasa familier. Baekhyun membuka mata cepat dan menemukan Chanyeol disana, menatapnya khawatir.

"CHANYEOOOOL…"

Baekhyun memeluk Chanyeol erat, menangis sekerasnya. Ia membenamkan wajahnya pada dada Chanyeol, dalam rengkuhan Chanyeol yang hangat.

"Chanyeol… hiks,"

Chanyeol mengusap-usap punggungnya, "Sudah, sudah, jangan menangis lagi."

"Ta-tapi… tadi a-a-ada—"

"Aku tahu, tidak usah dipikirkan," ia menarik napas, "maaf, aku datang terlambat."

Baekhyun ingin menjawab, tapi suaranya tercekat tangis. Ia hanya menggeleng-geleng, meminta Chanyeol untuk tidak meminta maaf. Baekhyun maklum, pasti Chanyeol berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa menyusul Baekhyun. Baekhyun bersyukur Chanyeol masih memikirkannya.

"Baek?"

Kaki Baekhyun rasanya lemah, dan masih bergetaran.

"A-aku tak bisa berjalan...," ia mengusap air matanya, "gendong…"

Chanyeol menghela napas, berjongkok untuk menerima beban Baekhyun.

"Maaf, Baek."

Baekhyun membenamkan wajahnya di bahu Chanyeol, berbisik pelan, "Tidak apa, kok, aku senang Chanyeol mau datang…"

Tanpa Baekhyun ketahui, Chanyeol meminta maaf sekali lagi.

"Maaf membuatmu menangis."


1 hari yang lalu

Chanyeol dan Jongin bertemu tak sengaja di kedai kecil yang menjual seafood.

"Chanyeol-hyung, kira-kira Kyungsoo suka cerita horor tidak, ya?"

"Pppfftt—"

Chanyeol tersedak tulang ikan. Jongin segeraa menyodorinya air mineral.

"—manusia apatis macam Kyungsoo?" Chanyeol nyengir, "dia tidak tertarik pada apapun selain novel berat macam Lord of The Ring."

"Oh, astaga," Jongin frustasi, "aku tidak suka noveeel."

Chanyeol meminum air mineralnya lagi, "Memangnya cerita macam apa yang mau kau ceritakan, huh?"

"Tidak terlalu seram, sih," Jongin meminum soda-nya, "tahu cerita siswi kelas sebelah, 'kan? Yang ke sekolah malam-malam dan melihat bayangan di koridor."

Chanyeol mengangguk-angguk, "Kupikir itu Penjaga Sekolah, karena siswi itu meminjam kunci dan terlalu lama di dalam. Aku juga sudah menanyakannya dan memang benar begitu." katanya santai.

"Oh," Jongin menghela napas, "sudah kuduga, pasti Kyungsoo juga berpikir begitu."

Seketika Chanyeol menemukan ide brilian, "Mau kubantu mendekati Kyungsoo?"

"Bagaimana?" tanya Jongin berbinar-binar.

"Tapi kau bantu aku dulu."

"Pasti tentang Baekhyun."

Chanyeol nyengir.

"Ya sudah, aku bisa bantu apa?"

"Modifikasi ceritanya, dan bermain di dalamnya."


Hari ini

Chanyeol membuang stik es krim-nya sembarangan. Baekhyun sudah dipulangkan dan didiamkan dengan sogokan es krim vanila (jadi dia tidak perlu menahan diri untuk buang sampah sembarangan).

Tapi bukan itu masalahnya. Kejadian hari ini, semua salahnya. Dan Chanyeol amat menyesal.

Ia mencoba memisahkan Baekhyun dengan ponselnya, sengaja mencari alasan agar tidak bisa mengantar Baekhyun ke sekolah, kemudian muncul sebagai pahlawan. Semua itu adalah salah satu hobi Chanyeol, yaitu mengerjai Baekhyun.

Tapi karma memang ada. Dia beralasan ada pekerjaan dari ayahnya dan beberapa menit kemudian ayahnya benar-benar memberinya kesibukan. Untung saja Chanyeol bisa menyelesaikannya dengan cepat sehingga ia bisa menyusul Baekhyun.

Namun ia terlambat.

Dan ia membuat Baekhyun menangis.

Ia sudah keterlaluan.

Chanyeol tiba di rumahnya, kemudian disambut pelayan-pelayan yang ia abaikan. Ia menelpon seseorang.

(("Halo, hyung?"))

"Kai," Chanyeol terdengar lesu, "kau tidak mengganggu Baekhyun berlebihan, 'kan?"

(("Jadi Baekhyun sudah menceritakan semuanya padamu?"))

"Sudah. Katanya ada yang menarik kakinya. Maksudmu apa melakukan itu?"

(("Hah? Aku? Menarik kaki Baekhyun? Jangan bercanda!"))

Jongin tertawa, (("Baekhyun larinya kencang sekali, aku bahkan tak bisa menyusulnya sampai di lorong. Aku langsung pulang, kupikir kau sudah di sana—"))


Finite


Kim's note :

Wuhahaha… apa banget deh, gagal banget -_- alurnya lagi-lagi kecepetan pula, hahahah /dibuang/ jadi ceritanya saya iseng pengen nyoba horor dan "Randoms" pun jadi percobaan /plak/ XDD mohon maklum dengan kegagalan saya ini /bow/ :D

Btw Jongin panggil Chanyeol hyung… soalnya kedengerannya enak aja /heh/ tapi biar ada alasan, anggep aja karena Jongin kagum sama Chanyeol /?/ . Chanyeol panggil Jongin "Kai" soalnya dia udah pernah liat Jongin street dance, bareng Sehun juga. Jadi Sehun juga panggil Jongin pake "Kai"

Btw lagi, saya udah bilang kalo fic ini asal ngetik aja, kan? jadi nggak fluff melulu, Hehe /yaterus/

Pojokan :

Q : ending2nya keluarga chanyeol nerima baekhyun kan ya?

A : nggg… itu chap depan deh, hehe ._.v /dibakar/

Q : ini bisa berubah rate ga thor?

A : may to the be, mungkin, wkwkwk.. tenang, saya juga suka semut kok, apalagi semut rangrang /woy/

Q : ini menceritakan awal ketemu-nya ChanBaek?

A : iyap! Ga imut sama sekali kan wahahaha XD

Q : Sempet bingung pas baca di awal.. Ini udh end ?

A : bagian awal itu chanbaek kecil, jadi itu sebenernya flashback Cuma aku nggak ngasih tanda flashback, maaaff… trus bagian baekhyun naruh mainan lumba2 di meja belajar itu udah kembali lagi ke masa kini :D ini belom end kok, selama masih "Finite" berarti masih terus dilanjut :D

Q : baek bukn dri kalangan orang kaya yaa ?

A : baek kelas menengah.. /plak/ ayahnya pekerja kantoran sama baekbum, ibunya ibu rumah tangga biasa :D

Q : itu kenapa sih pake es krin dulu?

A : wkwkwkwk… akhirnya ada juga yg nanyain /teryata ngarep ditanya -_-/ jadi itu sebenernya simpel aja… karena saya pengen es krim… /plak/ /alasan macam apa ini/

Q : kok nggak ada tulisan flasbacknya ya?

A : itu sengaja, karena kupikir reader pasti udah tau kalo itu flashback ._. tapi ternyata saya membuat kesalahannn.. T.T chap ini saya udah kasih tanda kok, jadi ga bingung lagi, kan? :D


Aah iya, karena chap selanjutnya itu chapter pertengahan, ada yg mau ngasih ide buat drabble? Misalkan : "Baekhyun sama Chanyeol rebutan apel" hal random semacem itu XD rencananya chap depan saya buat kumpulan drabble gitu, tapi gaada konflik ya, yg fluff aja :D

(sejujurnya karena saya ga ada ide /dibuang/)


-:-

Thanks for reviewers Childhood :

takaiyaki , La Eclairs , alfi lee , hunhanrakaisoo , uchanbaek , Shouda Shikaku , Parkbaekyoda , neli amelia , bvocalight , CussonsBaekBy , Hyunsaa , Dhea485 , chepta chaeozil , Maple fujoshi2309 , sunachann , vitCB9 , chika love baby baekhyun , Song Jiseok , exoel , hunniehan , indah byunjungkim , summerbaek , BLUEFIRE0805 , Guest , nur991fah

-:-

Lagi-lagi reviewnya manes sekaleeeehh… bikin diabetes, wkwk XDD

Wanna give me a review again?