Character(s) © God

I take no profit, just for fun


5th : Drabbles


Fever

"Mana Baekhyun?"

Pagi itu Chanyeol baru saja menginjakkan kaki di ruang makan keluarga Byun dan tidak menemukan seonggok Baekhyun di tempat biasanya.

Tuan Byun melipat koran dan berdeham, "Masih di kamarnya."

"Si bocah sakit," Baekbum keluar dari kamar Baekhyun dengan wajah sebal, "pagi-pagi aku disuruh melakukan macam-macam. Dasar adik kurang ajar."

"Jangan begitu," ibu Baekhyun datang dari dapur sembari membawa nampan berisi bubur, "jarang-jarang adikmu sakit."

Chanyeol menaikkan alis heran, "Sakit apa, bu?"

"Panas, Chanyeol-ah. Kemarin anak itu hujan-hujanan."

Chanyeol berinisiatif menggantikan ibu Baekhyun membawa makanan untuk anaknya. Ia membuka pintu kamar Baekhyun hati-hati sambil bertanya-tanya mengapa Baekhyun pakai hujan-hujanan segala di akhir musim gugur. Anak itu ternyata kelewat berbahaya jika lepas dari pengawasan Chanyeol sedikit saja.

"Baek?"

Sungguh pemandangan langka melihat Byun Baekhyun terbaring dibungkus selimut sampai leher, alih-alih berlarian mengelilingi rumah seperti anak autis.

Baekhyun memandangnya seperti anak anjing terbuang, Chanyeol langsung luluh. Ia meletakkan nampan di meja samping ranjang dan mengecek suhu badan Baekhyun di termometer.

"Kau tahu sekarang musim apa?"

Baekhyun cemberut, "Musim gugur." hidung dan pipinya merah.

"Kau tahu hujan-hujanan di akhir musim gugur akibatnya apa?"

Baekhyun makin mengerucutkan bibir, "Sakit…"

"Lalu kenapa kau lakukan itu, Baek?" tanya Chanyeol sambil berkacak pinggang.

Baekhyun mengalihkan pandang, kesal diomeli pagi-pagi. "Maaf."

Chanyeol mendesah, "Katanya orang bodoh tidak gampang sakit. Ternyata itu salah."

Pelipis Baekhyun berkedut kesal, "Kau mau bilang aku bodoh?"

"Orang pintar tidak akan menghujani dirinya di awal musim dingin."

Alis Baekhyun bertaut, kesal. Rambut cokelatnya yang lepek karena keringat berantakan, membuatnya malah terlihat lucu, "Chanyeol menyebalkan." desisnya.

Chanyeol nyengir, lalu mendudukkan dirinya disisi Baekhyun, "Sekarang kau harus makan."

"Tidak mau." Jawab Baekhyun sambil memeletkan lidah.

"Baek, please."

"Tidak mauuu…" Baekhyun bersikeras menyembunyikan dirinya di balik selimut.

Chanyeol menarik selimutnya tidak sabaran, "Ayolah, Baek, berhenti bermain-main!" namun pegangan Baekhyun terlalu kuat.

"Pokoknya tidak mau! Aku tidak lapar!"

Menyerah, Chanyeol menghentikan aksinya, "Lalu maumu apa?"

Baekhyun menyembulkan rambut berantakannya, kemudian mata sipitnya yang menatap Chanyeol memelas, "Mau es krim…" katanya dengan suara teredam selimut.

"Apa?! Kau gila, Baek! Nanti sakimu makin parah!"

"Tuh, kan," batin Baekhyun, cemberut.

Chanyeol mengambil sesendok bubur lalu mendekatkannya pada mulut Baekhyun, "Hey, coba lihat. Ini enak sekali, loh, kau tidak mau mencobanya?"

Baekhyun menggembungkan pipi, "Coba saja sendiri."

Chanyeol meletakkan kembali bubur itu dengan kesal. Bertahun-tahun bersama Baekhyun, ia paling tahu arti dari setiap gelagat anak itu. Kalau dia merajuk begini, pasti ada maksud terselubung.

Dan Baekhyun itu kepala batu, kau tahu.

"Baiklah, Baek, baik. Apa yang kau mau—kecuali es krim!"

Baekhyun tersenyum lebar, membuat jantung Chanyeol jumpalitan tak tentu. Tak sempat berpikir, tangan Chanyeol sudah ditarik kencang oleh Baekhyun hingga pemuda yang lebih tinggi jatuh terjerembab ke kasur Baekhyun, tepat di sampingnya.

"Baek—!"

"Peluk!"

Baekhyun memeluk erat lengan Chanyeol, menatapnya dengan jurus terampuh sepanjang masa ; puppy eyes plus plus. Chanyeol meneguk ludah gugup.

"Peluuuk…"

Baekhyun dan bocah TK sama saja.

"Ke-kenapa tiba-tiba mau peluk?"

Baekhyun mengerucutkan bibir, memadang Chanyeol dengan pandangan unyu sejagad raya seolah-olah berkata, "Jadi Chanyeol tega menolak permintaankuuuuh…?"

Sambil menghela napas, Chanyeol ikut masuk ke selimut teddy bear Baekhyun kemudian memposisikan dirinya menghadap si bocah. Tangan panjangnya melingkar sempurna di pinggang ramping Baekhyun, menarik tubuh panas anak itu mendekat. Segera Chanyeol merasa sensasi menyenangkan di perutnya akibat berbagi panas dengan Baaekhyun.

"Badanmu panas sekali, Baek."

"Mmm…" gumam Baekhyun, asik menenggelamkan wajah di dada Chanyeol.

Chanyeol meletakkan dagu di puncak kepala Baekhyun, menikmati anak rambut cokelatnya yang basah menyapa kulit Chanyeol. Wangi jeruk, Chanyeol menyukainya.

"Yeool…" panggil Bakhyun, suaranya teredam seragam sekolah Chanyeol.

"Hm? Apa?"

Baekhyun menjauhkan dirinya dari dekapan Chanyeol agar dapat menatap pemuda yang disayanginya itu dengan lebih leluasa. Cokelat bertemu hitam, Baekhyun menggembungkan pipi.

"Cium…"

Sepertinya Chanyeol harus lebih rajin membersihkan telinganya.

"H-hah?"

Wajah Baekhyun merah padam. Kedua tangan mungilnya meremas kuat seragam Chanyeol, memejamkan mata sambil berbisik, "Ciiuuum…" manja sekali.

Bahaya! Alarm peringatan di kepala Chanyeol mulai berbunyi.

"K-kenapa tiba-tiba?" tanya Chanyeol dengan wajah memerah, disamping bingung. Baekhyun itu walau manja tapi dia punya jiwa tsundere. Selama ini yang lebih dulu mencium itu pasti Chanyeol, karena Baekhyun terlalu tsundere untuk melakukannya lebih dulu.

Baekhyun terdiam, matanya berubah sayu. Mendadak Chanyeol menyesal telah bertanya.

"Tidak mau, ya…"

"Mau, kok! Banget, malah!" batin Chanyeol.

"Baiklah kalau Chanyeol tidak ma—uwaa!"

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pinggang Baekhyun ditarik mendekat. Wajahnya kembali terbenam di dada Chanyeol yang memeluk Baekhyun erat-erat.

"Siapa bilang aku tidak mau, hm?"

Dengan lembut Chanyeol mulai menciumi kening Baekhyun, sementara yang bersangkutan memejamkan mata dengan suhu tubuh meningkat drastis dan kembang api meletup-letup di dada. Kecupan Chanyeol turun ke pipi, ketagihan dengan kulit Baekhyun yang lembut seperti bayi. Kemudian Chanyeol mengecup hidung Baekhyun, memandang sejenak wajah Baekhyun yang merona. Dan akhirnya bermuara di bibir Baekhyun, lembut dan manis. Baekhyun mendesahkan nama Chanyeol diantara kecupannya.

Ia yang bertemu lalu terpisah. Keduanya terengah karena suhu yang terlalu panas. Lalu saling menatap, tak lama karena Baekhyun kembali menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol, malu luar biasa.

Chanyeol terkekeh-kekeh bahagia, memeluk Baekhyun lebih erat.

"Ah, kalau begini terus aku bisa senang Baekhyun sakit lama-lama…" Chanyeol tersenyum seperti orang bodoh.

Tenggelam dalam pikirannya, Chanyeol tersadar, sepertinya ia melupakan sesuatu…

Kemudian matanya membelalak.

"Astaga! Aku bisa terlambat!"

Chanyeol melihat jam tangannya dan segera menepuk dahinya, "Aku terlambaaat!"

Ia hendak beranjak dari sana namun lengan Baekhyun segera melingkar di pinggang Chanyeol, menahannya untuk tetap tinggal.

"Baek! Ayolah, ini sudah jam pelajaran pertama!"

"Sudah telat, Yeol, bolos saja sekalian."

"Tapi—"

Baekhyun mengeluarkan jurus ampuhnya, "Peluuuk…" tambahan suara mirip anak anjing terbuang.

Dan—seperti seharusnya, mana bisa Chanyeol menolak permintaan Baekhyun.

Chanyeol memeluk Baekhyun protektif, menenggelamkan wajahnya di rambut cokelat anak itu. Menyamankan diri, tak mau berpikir lebih banyak.

"Kali ini saja, Baek. Kali ini saja."

Sayangnya, dia melewatkan seringai lebar nan langka milik seorang Byun Baekhyun.

"Salah sendiri Chanyeol mengabaikanku semenjak pertandingan basket musim dingin! Hari ini pokoknya Chanyeol harus bersamaku seharian!"

Yah, begitulah. Wajah polos dan tingkah manja bisa sangat menipu.


Camera

Baekhyun itu suka bertaruh—

"Taruhan, mereka pasti pacaran."

dan dia itu licik—

"Dilihat dari Seoul Tower juga jelas sekali mereka pacaran, Baek." Chanyeol sweatdrop.

dan tidak mau mengalah—

"Bisa saja mereka saudara, Yeol! Ayo, kau bertaruh juga!"

lalu keras kepala—

"Tidak mau."

"Chanyeoool!"

juga menyebalkan—

"Baek, sudah kubilang aku tidak mau."

"Yeol! Lihat, lihat! Mereka berciuman! Yeay, aku menaaang!"

tapi unyu

"Kau kalah, Yeol! Yang kalah harus menuruti perintah yang menang!"

"Apa-apaan ini," Chanyeol mendesah lelah, "Terserahmu saja."

"Yay!"

sudahlah, toh Chanyeol memang tidak pernah menang—

"Sekarang Chanyeol harus pakai kostum kelinci ini!"

tapi hukumannya jangan yang seperti ini juga…

"H-HAH?!"

Baekhyun nyengir lebar, ia mengeluarkan kostum kelinci khas para badut penghibur dari dalam tasnya yang entah dia dapat dari mana—

"Aku meminjamnya di klub drama!"

—oh.

"Baek, ini di taman!" bisik Chanyeol sambil mengernyit jijik.

Baekhyun memiringkan kepala, "Aku juga tahu ini di taman."

"Gaaah!" Chanyeol mengusak rambutnya frustasi, "Maksudku, ini tempat umum! Aku tidak mau memakai benda menjijikkan itu disini!"

"Tapi Chanyeol sudah berjanji akan menuruti perintahku!" Baekhyun mendelik sambil berkacak pinggang.

"Taruhanmu juga tidak adil, Baek. Jelas-jelas dua orang tadi itu berpacaran, persentase kemenanganku nol persen."

"Berisik! Yang penting Chanyeol kalah!"

"Ah, Yang Mulia terlalu kejam." batin Chanyeol merana.

Tapi ini hari libur yang teramat cerah, sayang untuk dirusak oleh suara supersonik Baekhyun yang menangis. Jadi…

"Ya sudah, aku harus melakukan apa dengan kostum bodoh ini?"

Detik selanjutnya Chanyeol mengamankan telinganya dari teriakan senang Baekhyun.

"Chanyeol cuma harus menghibur anak-anak, kok! Tidak susah, kan?"

Begitulah Chanyeol berakhir. Membagikan balon gratis pada anak-anak yang asik bermain di area khusus anak-anak. Tambahan kostum kelinci yang teramat pengap, mana kepala kelincinya berat, bokongnya juga keteraluan.

"Terimakasih, kelinci!"

Ah, tapi senang juga melihat anak-anak ini begitu gembira.

Omong-omong, setelah Chanyeol berganti kostum di toilet (dan memastikan tiada yang tahu kalau Park Chanyeol yang terhormat menjadi kelinci jadi-jadian), ia tidak menemukan Baekhyun dimana pun. Yang ada hanya seikat balon berisi tigapuluh berwarna-warni di samping toilet.

Senja beranjak ketika Chanyeol melambai pada bocah terakhir yang mendapat balon biru muda. Taman sudah hampir sepi, Chanyeol melepas kepala kelinci dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.

"Yeeool!"

Baekhyun berlari tergopoh sambil membawa sekaleng soda. Ia memberikannya pada Chanyeol sambil tersenyum lebar, "Kerja bagus, Yeol!"

Pelipis Chanyeol berkedut. Kalau begini dia sudah seperti badut sungguhan.

"Apa, sih, tujuanmu melakukan ini padaku?" Chanyeol melepas pakaian badutnya, kemudian meminum soda pemberian Baekhyun.

Sementara yang bersangkutan tersenyum misterius, "Rahasia."

Chanyeol melempar kaleng soda yang sudah kosong ke tong sampah terdekat, "Curang. Kau membuatku melakukan yang kau mau tapi tidak yang ku mau."

Baekhyun tertiba merasa bersalah. Ia memasukkan kostum kelinci dan akhirnya memutuskan untuk memberitahu Chanyeol.

"Tapi Chanyeol jangan marah, ya." cicit Baekhyun, memandang Chanyeol memelas.

Chanyeol balas memandang curiga, "Memangnya apa yang kau lakukan?"

Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Belajar dari pengalaman, sesuatu yang keluar dari tas Baekhyun tidak ada yang baik.

"A-aku Cuma ingin melihat Chanyeol tampil imut, kok…"

Dan benar saja.

"Jadi aku merekam penampilan Chanyeol…"

Pantas saja Baekhyun menghilang. Jadi tujuannya untuk mncari tempat strategis untuk melakukan hal nista itu.

Alis Chanyeol menukik, ekspresinya mengeras, "Baek—"

"Chanyeol imut, kok! Sungguh! Apalagi saat memberi anak-anak balon!"

"Tapi tidak usah direkam juga, Baek! Bagaimana kalau ada yang melihatnya!"

Baekhyun cemberut, "Memangnya kenapa? Chanyeol lucu, kok! Apalagi pantat kelincimu yang bergoyang-goyang itu, hihihi…"

Muka Chanyeol merah padam, malu sekaligus emosi, "Byun Baekhyun! Berikan kameranya!"

Selanjutnya teriakan Baekhyun kembali bergema di taman yang sepi. Ia berlarian menghindari Chanyeol yang mengejar. Baekhyun tertawa-tawa, mengangkat kamera itu tinggi-tinggi. Chanyeol makin frustasi.

"Baekhyun!"

"Hahahaha ambil saja sendiri!"

Tapi kaki Chanyeol jauh lebih panjang, tangannya juga. Maka kemudian dengan mudah Chanyeol menarik lengan Baekhyun yang bebas hingga anak itu terpekik kaget. Chanyeol menyeringai, menarik pinggang Baekhyun dan yang bersangkutan jatuh berguling, kamera terhempas tapi masih baik-baik saja.

"Aku menang, Baek."

Chanyeol baru akan mengambil benda laknat itu sebelum Baekhyun menarik kakinya dan Chanyeol pun ikut terjatuh. Baekhyun mencoba meraih kamera namun tangan panjang Chanyeol juga ada disana. Mereka berguling-guling di tanah rerumputan seperti anak kecil, hanya demi seonggok kamera.

"Berikan padaku, Baek!"

"Tidak mauu!"

Chanyeol menggelitik pinggang Baekhyun, anak itu kegelian tapi enggan melepas kamera berharganya. Baekhyun menyikut perut Chanyeol, berniat membalas dendam. Chanyeol tidak mengaduh, malah menarik kameranya lebih kencang, tapi pegangan Baekhyun juga sangat erat.

Tubuh mereka sudah berpeluh, bercampur tanah yang mengotori kaos namun keduanya tidak peduli. Rambut Baekhyun acak-acakan, kaos Chanyeol hampir robek ditarik Baekhyun kencang-kencang. Keduanya tak berniat mengalah.

Chanyeol menarik, "Baekhyun! Cepat lepaskan!"

Baekhyun balas menarik, "Tidak akan!"

Tapi sang kamera sudah tidak tahan lagi menjadi rebutan.

"Byun Baekhyun!"

Lengah, Baekhyun melepas pegangannya. Chanyeol yang menarik teralu kencang juga melepaskannya, hingga kamera itu melambung terbang. Baekhyun dan Chanyeol menatapnya sambil menganga. Kamera meluncur indah, tercebur ke dalam sungai.

Sedetik.

Dua detik—

"TIIDAAAAAK!"

Sang kamera akhirnya menemui ajalnya.


Diary?

Sudah lama Baekhyun penasaran akan sesuatu.

"Hmm…"

Tentang sebuah buku hitam polos di kamar Chanyeol, yang dijaga si tuan rumah bak perhiasan mahal. Bahkan seorang Byun Baekhyun pun tidak diijinkan untuk melihatnya.

"Apa isinya, ya…"

Setiap Chanyeol melihat buku itu, ia akan tertawa, minimal tersenyum. Baekhyun 'kan jadi penasaran.

"Apa itu diary?"

Setiap Baekhyun bertanya, Chanyeol hanya akan mengulum senyum misterius sambil berkata, "Rahasia."

"Apa kucuri saja, ya."

Hingga akhirnya Baekhyun menyusun sebuah rencana.

Minggu pagi berawan, ia berkunjung ke istana Chanyeol yang sepi. Sang tuan rumah tengah berlatih tanding melawan sekolah lain. Dengan wajah dan senyum polos bak malaikat, ia berhasil menipu para maid kalau Chanyeol tahu dia datang, dan Chanyeol memintanya untuk menunggu di kamar (yang kuncinya sudah ia duplikat—jangan tanya bagaimana bisa).

Baekhyun memang agak jarang ke rumah Chanyeol, karena biasanya pemuda tinggi itulah yang mengunjungi Baekhyun. Selama Baekhyun berkunjung pun, paling dihabiskan di ruang tamu yang luasnya tak terkira (Baekhyun pernah bersepeda disana, saat keduanya masih bocah). Frekwensi Baekhyun memasuki kamar Chanyeol itu bisa dihitung jari. Dan lagi, kalau memasuki daerah sakral tersebut, Baekhyun tidak pernah sendiri. Chanyeol tak pernah membiarkannya masuk sendirian.

Jadi Baekhyun berpikir pasti Chanyeol menyembunyikan sesuatu.

"Tapi dimana dia menyembunyikannya…"

Baekhyun mulai menelusuri lemari pakaian Chanyeol, namun sialnya terkunci dengan password dan Baekhyun malas menerka. Lagipula Baekhyun tidak terlalu yakin Chanyeol akan menyimpannya disana. Pemuda bersurai hitam itu terbiasa menggunakan segala sesuatu sesuai dengan fungsinya. Lemari pakaian, ya, hanya untuk pakaian.

Jadi pencarian Baekhyun berlanjut di meja belajar Chanyeol. Anak nakal itu dengan seenaknya memilah-milah buku Chanyeol yang tertata teramat rapi. Tidak menemukan yang ia cari, Baekhyun beralih pada rak-rak yang tersedia, namun yang ia temukan tidak lebih dari sebatas peralatan tulis biasa.

"Chanyeol kaya tapi barang-barangnya biasa saja, sederhana." bisiknya sambil tersipu.

Kalau begini Baekhyun 'kan jadi makin terpesona.

Eh.

Menggeleng-geleng, Baekhyun memeriksa jam tangannya dan terpekik kaget.

"Setengah jaaam!"

Baekhyun bergerak cepat. Tangan-tangan kecilnya menggeledah kamar Chanyeol seperti maling profesional. Chanyeol akan pulang setengah jam lagi dan Baekhyun belum mendapat apa pun.

"Dimanaaa?"

Baekhyun mulai putus asa. Ia berusaha mengingat-ingat dimana Chanyeol pernah menaruh buku hitam misterius yang disinyalir sebagai diary itu. Di bawah bantal? Yang benar saja. Kamar mandi? Buat apa. Nakas? Sudah, dan tetap tidak ada. Lemari? Hmmm… tunggu.

Rasa-rasanya Chanyeol pernah menaruhnya di sekitaran lemari… tapi bukan di tengah lemari, karena Yura suka iseng membuka lemari Chanyeol dan mengambil uang adiknya sendiri sambil cekikikan. Urusan password, Yura itu berbakat jadi hacker, omong-omong. Sepertinya Baekhyun perlu berguru pada Yura kapan-kapan.

Jadi, dimana?

Dimana dimana dimanadimanadimana?

Berpikir, berpikir… kalau jadi Chanyeol, pemuda itu tidak akan menyembunyikan barang berharga di tempat mainstream seperti lemari ber-password. Dia justru akan menyembunyikannya di tempat terbuka yang jarang terpikirkan, seperti…

Syuut!

Baekhyun menoleh cepat ke atas lemari.

"U-uh! Tinggi!" Tapi Baekhyun tidak akan menyerah!

Ia segera menarik kursi belajar Chanyeol yang beratnya setara dengan beban hidupnya (agak berlebihan). Sambil mengumpat tak jelas, Baekhyun akhirnya berhasil membawa sang kursi tepat di depan lemari. Baekhyun mengatur napasnya.

Dari bawah, terdengar samar suara yang ia amat kenal, "Aku pulang."

"Gyaaaaaaaaahh!" inner Baekhyun mencakar-cakar tirai, "Kenapa cepat sekaliii?!"

Panik, Baekhyun menaiki kursi secepat kilat dan menggapai-gapai atas lemari dengan sekuat tenaga. Tangan mungilnya kemudian mengangkap sesuatu berbentuk kotak—

"Apa? Baekhyun kesini? Dia tidak memberitahuku." sayup-sayup suara Chanyeol terdengar semakin mendekat. Gawat, gawat!

Buku itu kini dalam genggaman Baekhyun. Tunggu, ini bukan buku. Ini sebuah kotak yang mirip buku!

"Baek?" suara Chanyeol menaiki tangga.

Oke, tidak ada waktu. Penasaran Baekhyun sudah mencapai batas dan—astaga kotak ini bahkan tidak ada password-nya!

"Baek? Kau di dalam?"

Baekhyun membuka kotaknya.

"Baek?"

Chanyeol melongok dari balik pintu, menemukan Baekhyun berdiri membelakanginya di depan lemari dan—kenapa kursi belajarnya ada disana? Chanyeol mengernyit, kamarnya terlihat agak berantakan.

"Kenapa tidak bilang mau berkunjung, Baek?"

"Ha-ha," punggung mungil Baekhyun bergetar, "Ha-ha-ha."

Chanyeol menggaruk alisnya, "Kau kenapa, sih?"

Baekhyun membalas pertanyaan Chanyeol dengan tawa kencang, sampai-sampai ia memegangi perutnya, memukul-mukul lemari dan mengusap air mata karena terlalu geli.

Baekhyun berbalik, tersenyum lebar pada Chanyeol. Ia mendekati pemuda yang lebih tinggi lalu menyerahkan hasil jarahannya pada si tuan rumah. Baekhyun menepuk pundak Chanyeol, nyengir.

"Lucu sekali."

Baekhyun melesat pergi, mungkin pulang. Bibir tipisnya tak henti-henti menggerutu seperti, "Cuma silsilah keluarga! Apanya yang lucu?! Kenapa dia menyimpan benda seperti itu segala, sih?! Dasar menyebalkan!". Chanyeol menatapnya dengan mulut terngaga, heran dengan tingkah anak itu.

Kemudian pandangannya beralih pada kotak di tangannya. Chanyeol menyeringai.

"Mungkin kelihatannya begitu, Baek."

Chanyeol membuka kotak itu dan terpampanglah gambar silsilah keluarga Park yang sama sekali tidak lucu disana.

"Tapi sebenarnya bukan ini kejutannya."

Chanyeol menekan namanya sendiri di silsilah tersebut, dan ternyata ada ruang lain dibawah gambar silsilah tersebut.

"Tadaa~!"

Terpampanglah puluhan mini foto konyol seorang Byun Baekhyun disana. Mulai dari fotonya yang sedang tidur dengan banyak coretan di wajah, fotonya cemberut dengan tumpahan kue ulangtahun di sekujur tubuh, foto Baekhyun yang sedang terjatuh, sampai foto Baekhyun versi bocah yang telanjang bulat tanpa sensor.

Chanyeol nyengir bodoh, "Lucuu~"

Diam-diam Park Chanyeol bisa nista juga ternyata.


Draft

(Note : […] = pesan Chanyeol, {…} = pesan Baekhyun)

{Yeol}

[Apa?]

{Sedang apa?}

[Berbalas pesan denganmu, tentu saja.]

{TT^TT}

[Kau kenapa, Baek?]

{Mau es krim~}

[-_-]

[Kau tahu ini sudah pukul berapa?]

{Pukul duabelas, memangnya kenapa? ._.}

[… pergi saja sendiri sana.]

{Chanyeol jahat}

[Apa sih? Tidak tidur?]

{Memangnya orang tidur bisa membalas pesan, ya -3-}

[Hehe :v kita tidak ada kerjaan sekali, setiap hari bertemu, setiap hari juga berbalas pesan xD]

{Aku 'kan kangen padamu setiap hariiii~ :3}

[Umumumu~ sini kupeluk]

{*hug*}

[*kiss*]

{o/o}

[Hahahaha ^/^]

{Tadi ada yang tanya padaku, Yeol.}

[Hm? Tanya apa?]

{Dia tanya apa kau masih lajang}

[Terus?]

{Kubilang masih}

{Tapi kalau aku tidak suka, Chayeol juga tidak akan suka}

{Jadi dia mencoba membuatku menyukainya XD}

[HA?]

{Jadi aku menyuruhnya membelikanku es krim :3}

[Laki-laki atau perempuan?]

[Dasar -_-]

{Hehehe *menggaruk tengkuk*}

{Perempuan -,-}

[Kau cemburu, ya? :p]

{Tentu saja, bodoh -3- makanya aku menyuruhnya begitu :p}

[Jangan begitu, Baek, kalau mau es krim bisa bilang padaku, kan]

{Chanyeol membelanya? T.T}

[Ti-tidak! Kasihan tahu, uangnya habis hanya untuk meladenimu.]

{Dia Shin Hyora! Mana mungkin uangnya habis -_-}

[Oh, dia -_- ya sudahlah, dia itu menyebalkan, menempeliku terus -_-]

{HA? KAPAN?!}

[Akhir-akhir ini, saat aku tidak bersamamu]

{T.T}

[Tenang saja, Baek-sayang, dia tidak menyentuhku sedikit pun, kok, amit-amit -_-]

[Aku tidak suka perempuan yang suka pakai topeng seperti dia]

[Make-up nya tebal sekali]

{Jadi kau tidak suka aku pakai eyeliner? u,u}

[Eh, kalau itu 'kan cuma sedikit! Lagipula aku suka melihatnya, matamu jadi lebih indah o.o]

{Ehehehe ^o^/}

[Aku suka matamu, Baek]

Baekhyun cengengesan membaca balasan pesan Chanyeol. Pipinya merona di tengah kegelapan kamar, pujian sederhana dari Chanyeol memang bisa membuatnya senang.

{Aku juga suka mata Chanyeol, hehe :D}

[Masa?]

{Um! Indah seperti malam :D}

Chanyeol menaikkan sebelah alis, cahaya rembulan di balik jendela menyamarkan senyum tipisnya.

[Menurutmu malam itu indah, ya?]

{Tentu saja! Tanpa malam, bintang tidak bisa bersinar, 'kan?}

Chanyeol tertegun.

[Kalau begitu, mau tidak jadi bintangku?]

Baekhyun menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik selimut, "Chanyeol bodoooh!"

{Bodoh! Dari dulu juga memang begitu, 'kan? =3=}

Chanyeol merasakan 'dug' kecil di dadanya.

[Benar juga :)]

Lama, balasan dari Baekhyun tak kunjung datang, "Apa dia sudah tidur?"

[Baek?]

{Ya?}

"Belum tidur." Chanyeol tersenyum.

[Sudah mengantuk?]

{Hooaahhm… sedikit XD}

Chanyeol memandang layar ponselnya teduh. Rasanya percakapan sederhana tidak langsung seperti ini membuatnya ingin bertemu Baekhyun dan memeluk pemuda mungil itu saja.

[Baek?]

{Humm?}

Chanyeol keluar dari aplikasi pesan masuk, berpindah pada draft—yang hanya terhiasi sebuah pesan. Telunjuknya membeku di udara, ragu ingin mengirim draft yang entah berapa lama sudah ada disana, atau tidak.

[Selamat malam :D]

Chanyeol menggeleng, menelan liurnya yang entah mengapa terasa pahit.

Dia memutuskan untuk membuat draft tersebut tetap disana, menunggu dalam diam.

{Um… selamat malam, Yeol}

Tanpa Chanyeol tahu, seseorang di seberang sana juga tengah memandang sendu satu-satunya draft yang entah kapan akan terkirim.

[{"Aku mencintaimu."}]

Biar itu menjadi masalah waktu.


I scream

(Note: latar waktu adalah sehari setelah pertemuan pertama Baekhyun dan Chanyeol)

Chanyeol suka es krim. Baekhyun suka es krim. Hari itu pukul dua, panas membara bak neraka, toko yang menjual es krim terlihat di mata, menggoda iman dua bocah yang kehausan.

"ES KRIM!"

Baekhyun dan Chanyeol berteriak bersama, kemudian cekikikan sambil berlari menuju toko dekat taman kota. Kaki-kaki bocah mencoba berlomba sampai lebih dulu.

Mereka tiba bersama, mengatur napas sambil nyengir lebar. Chanyeol mengeluarkan beberapa won dari kantong celananya.

"Karena sekarang kau temanku, untuk merayakannya kita harus membeli es krim yang sama. Aku akan mentraktirmu, Baek!" ucapnya menggebu-gebu.

Baekhyun balas berbinar-binar, "Um!"

Keduanya melongok ke dalam mesin pendingin, menemukan banyak rasa es krim batangan tersebar minta dibeli. Chanyeol dengan semangat mengambil rasa pisang sementara Baekhyun yang stoberi.

Keduanya saling pandang.

"Baek, 'kan sudah kubilang es krim yang sama. Pisang saja!"

Baekhyun menggeleng kuat, "Baek suka stroberi! Tidak suka pisang!"

Pelipis Chanyeol berkedut kesal lantaran rasa favoritnya diejek seorang bocah, "Aku juga tidak suka stroberi! Tidak enak, tahu!"

Baekhyun cemberut berlebihan, "Enak, kok! Chanyeol hanya belum mencobanya!"

"Kau juga belum mencoba rasa pisang, Baek! Ini enak sekali, lho!"

"Tidak mau!"

"Aku juga tidak!"

Keduanya saling menatap sengit.

"Baek—"

"Pokoknya stroberi!" Baekhyun tidak mau tahu.

Chanyeol akhirnya mendesah, repot juga. Kekanakan Baekhyun memang imut tapi terkadang menyebalkan. Kalau begini terus, perang dingin (es krim itu dingin, kan?) mereka tak akan berakhir cepat.

Hah.

Cuacanya panas pula.

Chanyeol gerah, nih.

"Begini saja," Chanyeol menaruh kembali es krim-nya, "Kita suit—"

"Tidak mau!" Baekhyun menyembunyikan es krim-nya di balik punggung, "Aku selalu sial kalau suit…" cicitnya malu-malu.

Mau tidak mau Chanyeol terkekeh juga dibuatnya. Ah, sepertinya di masa yang akan datang Chanyeol akan susah marah pada Baekhyun.

"Baiklah, aku punya ide," Chanyeol mengelus kepala Baekhyun yang lebih pendek darinya, "Bagaimana kalau kita tulis rasa es krim selain stroberi dan pisang di telapak tangan, tapi tidak ada yang boleh melihat! Kalau pilihan kita sama, ayo pilih es krim yang itu."

Baekhyun menaruh kembali es krim stroberinya, lalu menatap Chanyeol tertarik, "Kalau berbeda?"

"Kau boleh memilih stroberi dan aku pisang."

"Siap!"

Maka, mereka pun segera berbalik badan dan mengeluarkan bolpoin dari ransel masing-masing. Chanyeol menulis rasa es krim lain dengan cepat, sementara Baekhyun begitu hati-hati.

"Sudah, Baek?"

"Um!"

Baekhyun dan Chanyeol kembali berhadapan dengan telapak tangan disembunyikan di balik badan. Chanyeol tersenyum, Baekhyun nyengir senang.

"Kita buka bersama. Satu, dua, tiga!"

Keduanya menunjukkan telapak tangan masing-masing.

Vanila.

"Whoooaaa… bisa sama, ya!" ucap Baekhyun terkagum-kagum.

Chanyeol tak mengerti mengapa jantungnya berdebar-debar hanya karena keinginannya dan Baekhyun sama persis, padahal begitu banyak rasa es krim yang tersedia.

"Mengapa memilih vanila, Baek?"

Baekhyun mendongak, memandang Chanyeol sambil merona, "Karena Chanyeol baik sekali!" ia tersenyum hingga mata sipitnya terlihat seperti garis yang melengkung indah, "Aku jadi ingat warna putih, seperti vanila."

Chanyeol terpana.

"Chanyeol sendiri kenapa memilih vanila?"

"I-itu—" Chanyeol gelagapan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Habis… Baekhyun manis, putih lucu, mengingatkanku pada vanila.

Keduanya nyengir dengan rona merah muda.

"Yosh! Selanjutnya kalau kita beli es krim bersama, ayo pilih vanila!"

"Siaaaap!"

Vanila itu putih, tak terikat warna apapun. Tapi manis dan lembut, membuatmu mudah menyukainya.

Sama seperti hubungan mereka, Baekhyun dan Chanyeol.


Finite


Kim's Note :

Tsundere : mau-mau tapi malu, bahasa kerennya sih, gengsi(?)

Ide "Diary?" terinspirasi dari salah satu episode Spongebob Squarepants, yang suka pasti tau dong episode yang mana, wkwkwk XD

Judul "I scream" diambil dari anime "Hyouka" (yang dalam bahasa Inggris berarti Ice Cream)

Pertama, maaf atas keterlambatan update~! /bowbowbowbow/ seminggu ini saya ada acara sekolah yang mengharuskan saya untuk tidak menyentuh lappie tercintah sama sekali huweeee T.T

Pengen sih update seminggu sebelum acara, tapi belum selesai ._. yaudah deh, baru rampung sekarang .-.

Seminggu yang sungguh menyiksa, akses internet terbatas sekali dan saya rindu berat sama ChanBaeeeekkk~~ /peyuk guling(?)/

Saya punya fetish(?) aneh, yaitu nista'in bias. Jadi alasan kenapa Chanyeol di chap ini begitu mengenaskan, salahkan fetish saya yang ngebias Canyol iniiii /nyengir/

Maaf juga buat plot yang gaje (btw ini masuk kumpulan drabble? Nggak deh kayaknya ._.), zuzur saya males ngetik karena faktor capek berkepanjangan sehabis kegiatan minggu ini, tapi saya pengen namatin Randoms secepatnya biar utang berkurang (siapa suruh dulu pake nambah utang segala -_-)

Maaf karena feelnya nggak dapet, saya nggak ahli bikin fluff... /pundung/

Pojokan :

Q : Jadi itu Baekhyun beneran ketemu hantu?

A : itu… saya serahkan pada imajinasi anda, ohohoho /dibuang/

Q : itu cyeol gak ngaku dia ngerjain baek?

A : canyol mah mana mau XD dia lebih suka minta maap dengan caranya sendiri :) /plis bahasanya/


-:-

Terimakasih idenya :

vitCB9 (kepake buat Fever! Tapi alasannya beda, hehe XD) , hunniehan (kepake buat Camera! Tapi saya rubah dikit gapapa kan ya, hehehe /plak/) , baguettes (keren banget! huakakakak XDD tapi ntar rate nambah belom siap .-.v) , lollyaiko (ba-banyaaakkk /terharu/ kepake buat Fever, maaf gabisa make yg lain T,T otak saya mumpet banget padahal idenya keren-keren semuaahh ;;A;;) ,

-:-

Terimakasih reviewnya di Ghost at School :

emyuki , oranyeol , CussonsBaekBy , neli amelia , Urushibara Puterrizme , jongindo , vitCB9 , hunniehan , La Eclairs , Beechanbaek , YOONA , Maple fujoshi2309 , Hyunsaa , 0706 , Mela querer chanBaekYeol , Re . Tao , Majey Jannah 97 , Song Jiseok , Parkbaekyoda , Shouda Shikaku , rillakuchan , flamevamp . taemin , Nenehcabill , Guest , RanHwa19 , Jung Hyejin , bvocalight , baguettes , lollyaiko , uchanbaek , indri kusumaningsih , takaiyaki , BLUEFIRE0805 , nur991fah , ChanBaekLuv , NaYool , Ndowclow , sunshiners21 , guardian's feel , Fanteusey , narsih . hamdan

-:-


Beneran terharu banget pas buka ffn ripiunya manis-maniiiissss! Apalagi orangnya, manis plus-plus wkwkwk XD Pengen deh ketjup basah kalian semuah /ditendang/

Review kalian adalah semangat buat saya, makasih semuanya! :D

Review lagi?