Baekhyun dan Chanyeol jarang bertengkar. Kalaupun iya, itu bisa dihitung jari dan biasanya tak lebih dari tiga hari, maksimal seminggu. Ini karena sikap dewasa Chanyeol—disamping rasa kangennya yang begitu besar—atau tingkah Baekhyun yang menjadi kacau dan semua orang akan menyalahkan Chanyeol lalu pada akhirnya Chanyeol yang meminta maaf.
Kalau dipikir-pikir, selama ini selalu tentang Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun.
Kalau diingat-ingat, selama ini yang berusaha menjaga hubungan mereka selalu Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol.
Walaupun—ya, mereka tidak memiliki hubungan yang jelas. Tapi tanpa dikata pun, Chanyeol teramat menyayangi Baekhyun dan begitu pula sebaliknya.
Namun… tetap saja, bahkan pohon yang rindang terkadang tidak memiliki buah.
Character(s) © God
I take no profit, just for fun
6th : Cheating
Akhir-akhir ini Chanyeol terlihat uring-uringan, dan itu membuat Yura lama-kelamaan khawatir juga. Tak biasanya Chanyeol terlihat stress berlama-lama, karena Chanyeol selalu bisa menyelesaikan semua masalahnya selama ini.
"Butuh pendengar?"
Saat itu adalah hari kelima Yura pulang dari Jepang (urusan bisnis, Yura mulai mengembangkan perusahaannya sendiri), dan dua hari lagi akan ke Belgia (juga untuk bisnis).
Chanyeol yang tengah menonton televisi—diragukan, karena ia lebih terlihat seperti melamun sambil sesekali memandangi ponselnya—menatap Yura dengan kerutan di wajah.
"Dengar apa?"
"Apa lagi?" Yura memberi Chanyeol secangkir teh, "tentu saja sesuatu yang membuatmu tidak seperti dirimu, adikku sayang."
Chanyeol mendesah, memijit pelipisnya. Sepertinya kemampuan hacker Yura kini memasuki level yang lebih tinggi sehingga kakaknya itu seolah bisa membaca pikirannya.
"Baekhyun, kak."
"Aku tahu, nak," Yura menepuk-nepuk pundak adiknya, "aku tanya masalahmu, bukan objeknya."
Chanyeol meminum teh-nya, panas, "Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu."
Yura mencoba mengingat-ingat. Perasaan, waktu pertama kali dia pulang, Baekhyun menyambutnya seperti biasa. Mereka (Baekhyun dan Chanyeol) juga nampak normal-normal saja. Kemarin dan dua hari yang lalu saat Baekhyun berkunjung dan menginap (hasil paksaan Yura) juga baik-baik saja.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Chanyeol merengut. Rambut hitam pendeknya ia remas, "Dia tidak menatap mataku."
Yura tahu pemuda manis bernama Baekhyun tidak pandai berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari Chanyeol. Baekhyun mungkin lebih bisa menyembunyikannya dari orang lain, tapi dari Chanyeol? Tidak, jika mereka sudah bersama bertahun-tahun.
"Oookee…" Yura mengangguk-angguk, "jadi, sudah punya petunjuk?"
"Itu dia, kak," Chanyeol mengerang, "kau tahu, aku dan Baekhyun punya kesepakatan untuk tidak menyentuh ponsel masing-masing. Aku yakin petunjuknya ada di ponsel sialan itu."
"Oh, adikku," Yura (yang drama queen-nya kambuh) menangkup kedua tangan di wajahnya dengan dramatis, "kenapa kau jadi bodoh. Banyak jalan menuju Roma."
"Maksudnya?"
"Kalau tidak dapat ponsel, cari yang lain. Jaman sekarang untuk menangkap pelaku kejahatan yang tidak diketahui saja ada banyak cara, tahu. Sidik jari, DNA, sidik telinga—"
"Masa' aku harus melakukan semua itu?!" Chanyeol gagal paham.
"Tentu saja bukan, bodoh," Yura jadi gemas sendiri, "selidiki saja. Ekspresinya, gerak-geriknya, mata-matai dia."
Chanyeol menatap kakaknya seolah-olah Yura berubah menjadi kadal, "Aku. Tidak. Akan. Melakukan. Itu. Kak."
"Ya sudah, nikmati saja kegalauanmu itu sendirian."
Yura menyeringai licik saat mendengar Chanyeol menggeram sambil menghempaskan kepalanya pada sandaran sofa. Untuk cara efektif dan cepat, Chanyeol tidak punya pilihan.
"Sudahlah, hilangkan dulu gengsimu yang terlalu tinggi itu—"
"Siapa yang gengsi?!"
Yura memutar bola mata kemudian meminum teh yang sedari tadi ia abaikan.
Ah, Chanyeol, jalanmu sudah buntu. Kau tak punya pilihan lain selain menyetujui usulan kakakmu. Yap, Chanyeol akan setuju dalam tiga, dua, saaaa—
"Baik, baik! Aku akan melakukannya."
—tu.
Yura tersenyum menang.
Katakan bahwa itu tidak benar.
Sabtu sore cerah di taman kota, surganya para pasangan untuk refreshing—coret, Baekhyun dan Chanyeol bukan pasangan (pasangan resmi maksudnya. Ahem).
"Chanyeol, Chanyeol! Lihat, aku beli ini! Ehehehe…" Baekhyun menunjukkan sebotol gelembung sabun sambil melompat-lompat bahagia.
"Dasar bocah." komentar Chanyeol tak berperasaan.
Baekhyun menjulurkan lidah, kemudian berlari-lari sambil meniup-niup gelembung sabun yang ia beli. Syal merah yang ia pakai berkibar-kibar menampar pipi Chanyeol. Aneh, biasanya Baekhyun akan meladeni ejekan Chanyeol sampai mulut keduanya berbusa. Tapi kali ini tidak.
Chanyeol mengerutkan dahi.
"Baek, ayo beli jjangmyeon."
"Um!"
Chanyeol berusaha mengartikan gelagat Baekhyun yang memang nampaknya biasa-biasa saja. Dia tetap ceria, manja dan menyebalkan. Dia tetap Baekhyun, kelihatannya tidak ada yang aneh. Bahkan obrolan-obrolan mereka pun sama seperti biasanya. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hati Chanyeol.
Dan benar saja. Saat Chanyeol pura-pura pergi ke toilet, pura-pura menelpon, pura-pura tak melihat, Baekhyun memainkan ponselnya sembari terkikik-kikik mencurigakan.
Padahal di depan Chanyeol, ponsel Baekhyun aman damai sentosa di dalam saku celana.
Kembali ke taman kota, Chanyeol memberikan sepotong es krim vanila pada Baekhyun yang menunggu sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Baekhyun tersenyum dan menggumamkan terima kasih.
Baekhyun tidak menatapnya.
"Ayo pulang, Baek."
"Eh?" Baekhyun terlihat terkejut dengan putusan Chanyeol yang tiba-tiba.
Chanyeol sendiri tidak tahu mengapa ia merasa sangat kesal, "Pulang."
Tidak mau mendebat lebih banyak, Baekhyun mengangguk saja. Walaupun dia masih ingin bermain-main dengan gelembung sabunnya—lagipula belum terlalu sore.
Keduanya berjalan bersisian, tapi tidak ada yang bersuara. Baekhyun sibuk dengan es krim vanila dan Chanyeol dengan segala kecurigaannya. Ini terlalu canggung, terlalu tidak biasa. Hingga Chanyeol akhirnya tak tahan lagi dan menembak langsung dengan pertanyaan.
"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?"
"Ap—uhuk!"
Baekhyun tersedak dan Chanyeol mendapat jawabannya.
Anak itu menatap Chanyeol takut-takut, "Ke-kenapa kau berpikir begitu?"
"Kenapa?" Chanyeol memberi Baekhyun pandangan menusuk, "insting, mungkin."
Baekhyun menelan ludah gugup, "A-aku… hanya sedang mengerjai seseorang," ia membuang stik es krimnya, diikuti oleh Chanyeol, "sepertinya sangat mudah dikerjai, ehehe…"
Chanyeol hanya diam. Mereka tiba di rumah Baekhyun dan anak itu memberinya cengiran bocah seperti biasa—yang membuat Chanyeol mau tak mau tersenyum sembari mengacak rambut cokelat Baekhyun dengan gemas.
"Ya sudah, sampai bertemu besok."
Baekhyun memberinya cengiran lagi sebelum mengecup pipi Chanyeol malu-malu. Chanyeol berbalik pergi, namun sesungguhnya ia bersembunyi di balik tembok tikungan, menajamkan mata dan telinga.
Baekhyun disana, mengeluarkan ponsel dan tersenyum manis. Ia menempelkan ponselnya di telinga dan—
"Halo, Daehyun-ah."
Pembohong—
Sejak hari itu Chanyeol tidak mau bicara padanya. Baekhyun sudah bertanya kenapa tapi Chanyeol selalu menghindar. Bahkan Chanyeol tidak datang ke kantin. Ia hilang secepat hantu dan seringan bulu, entah mengapa.
"Kalian ada masalah lagi?" Luhan tidak bisa menahan keingintahuannya.
Baekhyun mengerucutkan bibir, memandang ponselnya sendu, "Tidak tau… Yeol bahkan tidak mau mengangkat telepon atau membalas pesanku. Mungkin dia ada masalah keluarga?"
Kyungsoo melirik Baekhyun diantara novel-novelnya, "Kau tidak ingin cari tahu?"
"Keluarga Chanyeol?" Baekhyun bergidik, "Chanyeol pernah melarangku ikut campur, dan aku akan menurutinya."
Kemudian pemberitahuan pesan baru mampir di ponsel Baekhyun. Si empunya ponsel segera membukanya.
[Pagi, sunbae :D]
Baekhyun nyengir diam-diam.
{Pagi :D}
[Kenapa tidak makan? Aku bawa bekal, loh, sunbae mau?]
{Hee… kau pasti memata-mataiku lagi, huuh -_- tidak mauuuu}
[Tidak, kok! Enak saja :p ini namanya ikatan batin XD eeh? Kenapa tidak? T.T padahal ini enak sekaliii…]
{Pppffttt… memangnya bekal apa? :D}
[Kimchi :D]
[sisa setahun lalu XD]
{-_-}
{Makan saja sendiri! Aku tak mau keracunan XD}
[Hee.. kenapa? Kau tak tahu betapa beruntungnya kau kalau bisa keracunan dan berakhir di rumah sakit bersamakuuu?]
Baekhyun tidak bisa menyembunyikan tawanya.
{Orang bodoh macam apa yang menganggap itu keberuntungan, huh? Hahahha..}
[Ada. FANSKU]
{Kau tidak punya fans :v}
[Jahatt T^T]
Dan entah berapa banyak pesan lagi, yang berhasil membuat Baekhyun tersenyum geli.
Luhan dan Kyungsoo diam-diam saling pandang.
Ini terjadi. Lagi.
Sudah tiga hari sejak hari itu. Sudah tiga hari sejak Chanyeol menghindar. Seharusnya tiga hari adalah batas. Sudah tiga hari dan Chanyeol sangat amat merindukan Baekhyun.
Ia berjalan pulang dengan gontai. Sejak tiga hari yang lalu pula, Chanyeol berhenti menjemput dan pulang bersama Baekhyun. Hidupnya terasa abu-abu, Yura yang pergi ke Belgia kemarin juga tidak membantu keadaan.
Kemarin Luhan datang padanya, memintanya untuk bicara baik-baik dengan Baekhyun. Chanyeol menolak mentah-mentah dan langsung pergi. Untuk apa dia meminta maaf? Baekhyun yang salah, dia yang memulai. Dia menyembunyikan Daehyun dari Chanyeol. Dia—dia berselingkuh.
Chanyeol tak seharusnya meminta maaf.
Untuk kali ini saja, dia ingin menjadi egois.
"Um… maaf, sunbae."
Ada seseorang yang menghalangi langkahnya. Seorang gadis, mungkin juniornya. Ia menatap Chanyeol dengan semburat merah di pipi.
"Ada waktu?"
Rambutnya pendek sebahu, warna cokelat. Matanya sipit dengan sedikit eyeliner, bibir tipis dan—tunggu, kenapa ciri-cirinya mirip seseorang?—dia cocok dengan seragam sekolah.
"Um—ya? Kenapa?" Chanyeol meladeninya.
Kini gadis itu menunduk, menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Kakinya bergerak gelisah, rona menjalar sampai ke cuping telinga.
Uh, kenapa Chanyeol jadi gemas.
"Aku Cho Hyehee," ia memperlihatkan sesuatu di balik punggung—ternyata cokelat, berbentuk beruang dan terlihat lezat, "a-aku membuatkanmu ini… semoga sunbae suka." katanya sembari tersenyum manis, hingga mata sipitnya membentuk segaris yang melengkung indah.
(Tunggu, ini juga mirip seseorang)
Chanyeol menerima pemberian itu sambil menggaruk tengkuk salah tingkah. Yah—walaupun lokernya penuh dengan surat cinta dan banyak (terlalu banyak) orang yang menyatakan suka padanya dan memberinya sesuatu, Chanyeol biasanya tidak mudah tergoda. Tapi entah mengapa dengan Hyehee ini dia merasa sedikit… tertarik.
"Err… terima kasih, Hyehee. Kau pasti membuatnya dengan susah payah." Chanyeol tersenyum tulus.
Hyehee memerah lagi, "Itu karena…" ia memainkan jari-jari tangannya, "…aku suka padamu."
Mentari senja menembus dedaunan, membuat bayang-bayang diantara keduanya. Anak-anak rambut Chanyeol bergoyang-goyang tertiup angin, pemiliknya menyeringai.
"Kemarikan ponselmu."
"Eh?"
Chanyeol berdecak tak sabaran, "Ponselmu."
Hyehee memberikan ponselnya dengan bingung. Chanyeol mengetikkan sesuatu dengan cepat disana, kemudian memberikannya lagi pada Hyehee.
Dia nyengir lebar, "Itu nomorku." lalu mengacak surai cokelat gadis itu, "kuharap nomormu nanti juga tercantum dalam kontakku."
Tak jauh dari sana, Baekhyun berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Bagaimana ini?
Jujur saja, Baekhyun tidak tahu harus bagaimana.
Di luar kamar, Baekbum berteriak-teriak menyuruhnya makan, yang dibalas Baekhyun dengan lemparan bantal. Dia tidak nafsu makan, dia tidak ingin melakukan apapun, dia hanya mau Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol Chanyeol Chanyeol—
Tuh, kan. Baekhyun menangis lagi.
Ini sudah seminggu. Batas yang selama ini menjaga hubungan mereka sudah retak. Seminggu sudah terlewati bersama dengan Chanyeol dan Baekhyun yang saling mendiami, saling menghindar. Semua yang mengenal kiprah keduanya seringkali bertanya-tanya tanpa jawaban.
Baekhyun takut untuk memulai, ia tak berani bertanya lebih dulu. Yang ia lakukan hanya menunggu, berharap Chanyeol kembali menjadi seperti biasanya. Tapi harapan itu kandas ketika pagi tadi, ia melihat Chanyeol dengan seorang gadis, junior mereka. Ya, gadis yang menyatakan perasaannya dengan cokelat. Cho Hyehee.
Baekhyun merengut, matanya sembab dan rasanya ia ingin memukul seseorang saking kesalnya.
Chanyeol tak begini. Dia selalu menolak orang-orang yang mendekatinya—kalaupun tidak, itu hanya sebentar dan yang paling penting, dia pasti memberitahu Baekhyun.
Baekhyun membenamkan kepalanya pada bantal. Yah, aku juga punya seseorang yang aku rahasiakan, sih.
Baekhyun memukul bantalnya. Tapi tidak terang-terangan seperti itu juga!
Ponselnya bergetar dan Baekhyun segera menyambarnya ganas. Mungkin itu dia, mungkin dia sudah terlalu merindukan—
(("Halo? Sunbae?"))
Bukan dia. Rasanya mata Baekhyun panas lagi.
"Hm? Yaa…?"
Terdengar tawa, (("Kenapa suaramu jelek begitu? Ini benar Baekhyun-sunbae, 'kan?"))
Baekhyun tersenyum lemah, "Aku sedang ada masalah, Daehyun-ah. Ada apa?"
(("Hmm… aku baru akan mengajakmu jalan-jalan… mungkin bisa meringankan masalahmu, kalau kau tidak keberatan. Aku berbakat jadi pendengar, loh."))
Seharusnya tidak begini.
Seharusnya ini jadwal ia dan Baekhyun jalan-jalan ke Myeongdong untuk mencicip makanan pinggir jalan. Tapi yang berjalan di sisinya kini bukanlah Baekhyun—
"Oppa, mau beli es krim?"
—tapi Hyehee.
Chanyeol tersenyum, "Oke."
Hyehee itu ternyata menyenangkan. Dia pintar, cantik, dan pemikirannya seringkali sama dengan Chanyeol. Chanyeol suka bicara pada gadis itu. Rasanya seperti menemukan saudara kembar yang bisa saling mengerti tanpa perlu berucap.
"Kau suka cokelat, ya?"
Hyehee mengangguk, melirik es krim Chanyeol, "Oppa suka pisang." katanya.
Mereka menyusuri jalanan ramai Myeongdong. Ada banyak suara, cahaya, dan wangi bulgogi bercampur jajanan menggoda penciuman. Chanyeol melirik Hyehee. Gadis itu tengah asik memakan es krim sembari menatap keramaian. Penampilan kasual, Chanyeol suka melihatnya. Hyehee nampak cantik dan apa adanya.
Tapi kenapa dia merasa ganjal?
Chanyeol menggeleng, menggigit es krim pisangnya. Ia menangkap pergelangan tangan Hyehee hingga si gadis menoleh padanya dengan bingung.
"Aku tahu tempat makan yang bagus. Ayo kesana!" Chanyeol nyengir lebar.
Hyehee balas tersenyum, "Sepertinya oppa sering kesini."
Senyum Chanyeol hilang.
Mereka tiba di restoran sederhana kemudian memesan kimchi dan bulgogi (Chanyeol tidak tahan dengan aromanya). Keduanya makan sambil mengobrol seru tentang topik random sampai urusan politik yang berat. Inilah yang membuat Chanyeol betah dengan Hyehee. Kesukaan mereka juga seringkali sama. Tidak seperti—
"Oppa,"
Ah, sial. Kenapa bocah itu susah sekali hilang dari benaknya?
Chanyeol mendongak dan menemukan Hyehee tengah merunduk dengan semburat merah, sedang memainkan jari-jari tangannya.
"Kenapa? Mau memesan lagi? Tenang, aku yang bayar!" tawar Chanyeol sambil tertawa.
Tapi Hyehee menggeleng, "Tidak, oppa. Aku…" ia memandang Chanyeol tepat di mata.
Cokelat bertemu hitam.
Dada Chanyeol bergemuruh. Teringat seseorang yang memiliki manik yang sama persis.
"Aku tahu kalau kau sudah tahu alasan kenapa aku mendekatimu, oppa," ia mengambil jeda dengan menarik napas, "jadi, langsung saja. Aku hanya ingin kejelasan,"
Chanyeol tertegun. Ramainya Myeongdong seolah sirna. Rasanya hanya ada mereka berdua disana, saling menatap hingga akhirnya Hyehee berpaling. Bergumam dengan suara lirih,
"Aku tidak suka menunggu dalam ketidakpastian."
Chanyeol merasa dadanya sesak. Bukan karena Hyehee, bukan karena pernyataan gadis itu. Tapi karena hati sialannya. Yang kini merasa bersalah karena telah membuat seseorang menunggu dalam ketidakjelasan selama bertahun-tahun.
"Jadi… apa jawabanmu, oppa?"
Ah, bodohnya. Kenapa dia baru sadar?
Kenapa kita jadi begini?
"Aaaaah~ segarnyaaa!"
Baekhyun terkekeh pelan melihat Daehyun menghirup banyak-banyak udara luar Myeongdong dengan tangan terlentang dan ekspresi seperti baru pertama kali keluar rumah.
"Daehyun tidak suka ramai, ya?"
"Eh? Suka, kok!" pemuda itu tersenyum lebar, "kalau ada sunbae, aku suka apaaa saja!"
Baekhyun mencibir, kemudian duduk sembarang pada bangku yang tersedia. Daehyun mengikutinya sambil menatap sepasang mata cokelat milik Baekhyun.
"Merasa baikan?"
Baekhyun mengangguk-angguk, "Um! Sedikit, sih, ehehe…"
"Nah, aku sudah janji akan jadi pendengar yang baik. Jadi, sunbae bisa bebas bicara sekarang." kata Daehyun sambil tersenyum. Baekhyun menatapnya lama.
Daehyun itu baik, menyenangkan. Baekhyun suka bicara pada juniornya itu, rasanya ia bisa bebas melakukan apa saja tanpa takut diprotes atau dilarang. Daehyun amat mengerti dia, membuat Baekhyun merasa nyaman. Pemuda itu juga selalu menghibur Baekhyun, membuatnya tertawa…
Tapi kenapa Baekhyun merasa… bahwa ini tidaklah benar?
"Kurasa tidak perlu, Daehyun-ah, aku sudah baikan, kok." Baekhyun meyakinkan dengan senyuman manis yang membuat Daekhyun merona.
Daehyun tampan, Baekhyun akui. Ia baik dan ceria, dia juga suka mengalah pada Baekhyun. Tidak seperti orang menyebalkan yang harus Baekhyun rayu dulu dengan puppy eyes—
Baekhyun menggeleng-geleng, kenapa dia malah memikirkan orang itu, sih?
"Um… sunbae,"
Baekhyun menoleh cepat, "Ya?"
Daehyun menatap Baekhyun tepat di mata, rambut hitam pendeknya bergoyang tertiup angin. Baekhyun mengerjap bingung tatkala Daekhyun meraih tangannya kemudian menggenggam erat.
"Sun—ah, maksudku Baekhyun," ia menarik napas panjang dan menghembuskannya, "kau tahu itu, 'kan?"
Mata sipit Baekhyun melebar, jantungnya bertalu-talu. Rona merah merambat di pipi. Walaupun yang menyatakan perasaan padanya lumayan banyak, tetap saja dia merasa malu.
"Kau selalu tahu kalau aku menyukaimu, 'kan?"
Hitam bertemu cokelat. Baekhyun menahan napas.
"Aku sudah lelah berharap."
Baekhyun diam, tidak mengerti mengapa dia ingin menangis. Yang pasti, ini bukan karena Daehyun. Dia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak saat menyadari bahwa ada seseorang yang juga dibuatnya berharap terlalu lama.
"Aku menyukaimu, Byun Baekhyun. Bagaimana denganmu?"
Kenapa dia baru mengerti sekarang?
Karena ternyata, alasannya itu adalah—kamu.
Chanyeol dan Hyehee berjalan menyusuri pinggiran Myeongdong. Malam yang semakin larut membuat udara dingin menelusup masuk menyapa pori-pori kulit. Chanyeol melirik Hyehee yang nampak kedinginan dengan kaosnya, maka ia melepaskan jaket dan menyampirkannya ke pundak gadis itu.
"O-oppa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menolongmu, kok, hehe."
Hyehee hanya merunduk dengan wajah merah sambil menggumam sesuatu seperti "Tetap saja kau membuatku berharap lagi…"
Chanyeol tersenyum saat Hyehee mengeratkan posisi jaket Chanyeol di tubuhnya. Wajar, malam musim gugur terkadang bisa dingin luar biasa. Lihat saja Hyehee sampai menggosok-gosokkan tangan begitu—eh?
"Kau masih kedinginan?" tanya Chanyeol yang dibalas anggukan samar.
"Sedikit, oppa. Menyesal tidak pakai jaket—" kata-kata Hyehee tergantikan pekik terkejut saat ia merasakan tangan Chanyeol yang menggenggam erat tangannya. Jari-jari mereka bertautan, Hyehee memandang Chanyeol tak percaya.
"Oppa—"
"Sudahlah. Lagipula ini yang terakhir, 'kan? Ijinkan aku membantumu sebagai seorang teman." ucap Chanyeol sambil tersenyum lembut.
Hyehee tidak membantah lagi.
"Ah, iya, aku akan mengantarmu pulang. Terimakasih hari ini, senang sekali punya teman sepertimu, Hyehee-ya."
Hyehee tersenyum manis, tak menyesal telah menyukai pria baik seperti Chanyeol, "Um, aku juga. Terimakasih atas—"
"Hahahaha…"
Chanyeol tak mendengar apapun lagi ketika telinganya menangkap suara tawa familiar tengah mendekat.
"Tangkap aku! Tangkap aku!"
Itu Baekhyun.
"—hari ini, oppa. Tadi itu—"
Baekhyun disini.
"Heeei kau curang, sunbaee!"
Dengan seseorang.
"—menyenangkan sekali. Oppa? Ada apa?" tanya Hyehee bingung saat Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap pada satu titik. Hyehee mencoba menyusuri pandangan Chanyeol dan menemukan seorang pemuda manis tengah berlari-lari membawa syal hijau lumut sembari dikejar pemuda lainnya yang nampak kesal.
"Sunbae! Kembalikan syal-ku!"
"Ambil saja kalau bisa!"
Mereka berlarian diantara Myeongdong yang mulai sepi. Pemuda manis bersurai cokelat dengan lincah menghindari pejalan kaki maupun jalanan berlubang. Hyehee menatap Chanyeol, pemuda itu masih bergeming. Ia mulai bertanya-tanya apakah Chanyeol mengenal pemuda manis yang sedikit mirip dengannya itu.
"Sunbaeeee!"
"Hahahaha…"
Hingga kemudian langkah pemuda manis membawanya menuju Chanyeol. Ia berlari sambil terus melihat ke belakang, memastikan kehadiran pemuda lain yang masih mengejarnya. Si pemuda manis tak melihat Chanyeol yang tetap diam di tempat. Hyehee memekik menyadari apa yang akan terjadi.
"Awas!"
Tabrakan tak dapat dihindari.
Orang bilang—semakin sering memikirkan seseorang, frekwensi bertemu dengan orang itu juga semakin besar.
Baekhyun meringis mengusap bokongnya yang mencium tanah cukup keras. Orang yang ia tabrak juga ia dengar mengaduh sakit walau tidak jatuh. Baru saja ia hendak meminta maaf, namun mata sipitnya terlanjur membelalak ketika melihat siapa orang itu.
"Chan—"
Chanyeol berusaha memberi Baekhyun tatapan paling dingin yang ia punya. Dia belum siap bertemu Baekhyun. Tidak jika keadaannya seperti ini. Jujur saja, sebenarnya Chanyeol ingin sekali mendekap dan mencium pemuda manis itu sepuasnya, melampiaskan rasa rindu yang membuncah meledak-ledak.
"Yeol…"
Baekhyun memandang Chanyeol rindu, namun kemudian pandangannya berubah kesal dengan aura cemburu yang menguar hebat saat menangkap kehadiran seorang gadis manis di sisi Chanyeol.
"Oh, kau, Baekhyun."
Baekhyun tercekat saat mendengar suara Chanyeol yang begitu dingin hingga rasanya hatinya ikut membeku. Sepasang mata cokelat yang sebelumnya menatap kesal pada Hyehee kini berbalik menjadi redup dan memancarkan aura berbeda.
"Kenalkan, ini Hyehee."
Terluka.
Baekhyun merunduk, menahan air matanya yang hampir jatuh. Chanyeol… orang di depannya ini bukanlah Chanyeol. Chanyeol itu baik, dia suka tersenyum pada Baekhyun… tapi orang ini, bahkan membantunya berdiri saja tidak.
"Sunbae!" Daehyun tiba disana dan dengan cepat menyambar syal hijau-nya, "dapat! Woaaah… larimu cepat sekali, sunbae! Eh, kenapa kau malah duduk disini? Ayo cepat bangun."
Tidak mengerti keadaan, Daehyun melempar pandangan pada Chanyeol dan Hyehee, kemudian mengernyit.
"Sunbae, siapa mereka?" tanya Daehyun sembari membantu Baekhyun berdiri. Baekhyun tidak menjawab, hanya menunduk sambil mengepalkan tangan.
Melihat itu, tanpa sadar genggaman tangan Chanyeol pada Hyehee mengerat. Hyehee yang merasakan itu mengalihkan pandang pada Chanyeol, namun tak berani bertanya. Ia cukup sadar untuk tidak mencampuri urusan orang lain pada situasi seperti ini.
"Sunbae? Kau tidak enak badan? Mau pulang?" tanya Daehyun bertubi-tubi, yang hanya dijawab Baekhyun dengan gelengan lemah.
"Tidak usah, Daehyun-ah…" ia menatap Daehyun sambil tersenyum tipis.
Daehyun tercekat saat melihat mata Baekhyun berkaca-kaca, "Su-sunbae—"
"Sepertinya kau sedang bersenang-senang, Baekhyun."
Chanyeol memberi tatapan tajam pada Daehyun, berusaha untuk tidak memukul juniornya itu saat teringat adegan kejar-mengejar tadi, "Kelihatannya kau sangat menikmatinya."
Baekhyun mengangkat kepala, balas memandang Chanyeol tajam dengan wajah hampir menangis. Rasa bersalah langsung hinggap di hati Chanyeol.
"Kau juga," cicit Baekhyun, menatap Hyehee, "sepertinya sangat menikmati kancanmu—"
Dan air mata Baekhyun jatuh dengan bebas tatkala melihat tangan Chanyeol dan Hyehee saling berpegangan.
Chanyeol berusaha keras mengesampingkan perasaan ingin memeluk dan menghapus air mata Baekhyun—seperti yang biasa ia lakukan. Tidak, untuk sekali ini saja ia ingin memberi Baekhyun pelajaran. Bahwa sebuah hubungan tak akan bertahan jika hanya salah satu yang mempertahankan. Chanyeol ingin egois, ia ingin Baekhyun juga merasa sakitnya ia saat Baekhyun bermain di belakang Chanyeol untuk pertama kali.
Maka ia berkata sinis, "Selamat, akhirnya kau menunjukkan teman kencanmu juga. Setelah selama ini berhasil menyembunyikannya dengan sangat amat baik."
Baekhyun terisak-isak, marah luar biasa, "Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"
"Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?!" Chanyeol balas menyentak.
Baekhyun menghapus air matanya, "Me-memangnya," tapi kemudian jatuh kembali, "memangnya siapa yang lebih dulu mendiamiku?! Siapa yang lebih dulu menghindar, dan kemudian membawa pacar baru tanpa memberitahuku?!"
"LALU SIAPA YANG LEBIH DULU MEMBOHONGIKU?!"
Baekhyun meraung, menangis seperti bocah. Chanyeol tak pernah membentaknya, Chanyeol tak pernah berkata seperti itu padanya. Chanyeol tidak begini, Chanyeol tidak begini, Chanyeol tidak—
"DAEHYUN BUKAN PACARKU!" teriak Baekhyun parau, tak peduli dengan orang-orang yang melihat mereka penasaran, "Dia cuma teman!"
Chanyeol mendengus sinis, "Oh?! Teman macam apa yang perlu disembunyikan dariku, Byun Baekhyun?!"
"Kalau aku memberitahumu, memangnya apa yang akan kau lakukan?!" napas Baekhyun terengah karena emosi.
Chanyeol menatap nyalang, "TENTU SAJA AKU—" lalu tiba-tiba berhenti, memalingkan wajah dari Baekhyun.
Baekhyun tersenyum. Pahit, miris, "Lihat? Chanyeol tidak bisa menjawabku, bukan?" ia menepis tangan Daehyun yang masih menopangnya, "lalu untuk apa aku memberitahumu?!"
Chanyeol merasa seluruh tubuhnya bergetar karena emosi, 'Karena kau milikku! Kenapa masih bertanya?!' namun kata-kata itu selalu tertahan diujung lidah.
Karena Chanyeol tak berhak mengatakannya.
Ia tertawa, menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh. Bodoh karena telah menjadi egois…
"Lalu… apa artinya selama ini, Baek?"
Selalu, selalu saja seperti itu. Baekhyun benci saat Chanyeol mulai mengungkit segala hal yang telah mereka jalani bertahun-tahun. Ia benci, benci karena selalu menjadi lemah akan kalimat itu.
"Jawab aku, Baek!" Chanyeol mencengkeram erat pundak Baekhyun hingga pemuda itu meringis, "APA ARTI KITA SELAMA I—"
Plak!
Hyehee terperangah, Daekhyun membelalak. Chanyeol tercekat dengan pipi yang panas. Baekhyun menangis, menepis kasar tangan Chanyeol.
"Aku benci padamu!"
Dengan itu ia berlari pergi, jauh, meninggalkan Chanyeol yang telah hancur.
…Burung kecil yang terluka, mencicit pilu tak mampu untuk terbang
Hanya bisa bertahan dengan sayap yang patah.
Finite
OMAKE
"Jadi begitu."
Cho Hyehee menarik napas panjang, menggeleng-geleng tak paham, "Dasar bodoh mereka berdua."
Di sebelahnya, Daehyun meneguk soda dan mengangguk setuju, "Aku tidak mengerti dengan mereka. Tinggal bilang apa susahnya, sih?" gerutunya.
Hyehee hanya tersenyum, mengingat bagaimana pandangan Chanyeol pada pemuda manis bernama Baekhyun. Sakit tapi sayang, kesal tapi rindu, benci tapi… cinta.
"Rumit sekali." Hyehee terkekeh pelan.
Daehyun menatap Hyehee penasaran, "Kau habis ditolak juga, ya?"
Hyehee menoleh cepat, "Siapa yang ditolak? Aku tidak ditolak! Kau saja sana."
Daehyun menyenggol bahu Hyehee dengan bahunya, "Siapa yang ditolak? Aku juga tidak."
Keduanya saling pandang sambil cemberut mengingat jawaban atas pernyataan cinta masing-masing pada dua orang bodoh bernama Baekhyun dan Chanyeol.
"Pfffft." Kemudian keduanya tertawa keras memecah sunyinya malam.
"Dasar, setelah bilang begitu malah bertengkar." komentar Daehyun.
Hyehee menimpali, "Chanyeol-sunbae juga aneh, bukannya menyatakan perasaan malah marah-marah."
Keduanya kembali tertawa.
"Omong, omong," Daehyun nyengir lebar, kemudian mengulurkan tangan, "aku Daehyun. Jung Daehyun."
Hyehee terdiam sesaat, tersenyum manis kemudian menerima uluran tangan tersebut, "Hyehee. Cho Hyehee."
.
"Err… maaf, Hyehee-ya. Ada orang lain yang juga menunggu kepastian dariku. Dan kurasa hanya orang itu yang akan kuberikan perasaanku dengan pasti. Maaf, ya, kita tetap teman, 'kan?"
"Daehyun-ah, sebelumnya aku mau minta maaf… tapi ada seseorang yang aku harapkan dan tanpa sadar juga kubuat berharap terlalu lama, hehe. Aku sudah memutuskan untuk mengakuinya saja, Daehyun-ah… sekali lagi, maaf, ya! Kita tetap berteman, 'kan?"
.
Kim's Note :
Daehyun disini, ya, itu—member B.A.P, hehe… sebenernya mau pake yg mirip canyol, tapi daehyun ini kan sering digosipin(?) gitu sama baekhyun yak XD maap kalo daehyun OOC ;p
Cho Hyehee itu OC
…oke, saya tau ini chapter apabanget asadfhdgakhdkhjsdsh feelnya dimanah ;;;;;;;;;;;;;;; udah alur kecepetan, feel gaada, baekyeolnya ga unyu (?), mana gabisa buat adegan tengkar lagi heuheuheu /salahsiapamaubikinpercobaan/
saya down berat gegara exo yg sekarang… entah kenapa udah berasa aneh sejak keluarnya kris, terus sekarang luhan. Rasanya zlebzleb sakitnya tuh disini gitu /apadeh/
katanya juga baekhyun pindah ke exo m ya? duh saya nggak update soal beginian, cuma modal dengar-denger aja, heeeuunnggg ;;;;;;;;;;;; TAPI KALO GITU CHANBAEK PISAH DONG AAAAAAAANNNNNN :""((((((((((((((((( DWAAAEEEEEEEEEE
Duuh bakalan jarang dong momen merekaaaa TTT_TTT saya paling kesian sama yeol, soalnya akhir-akhir ini dia kayak gencar banget gitu ngasih kode hubungannya sama baek /ea/ /sotau/ /hasildengerdaritemen/ tapi baekhyunnya kok... kayak gaada respon gitu euungggg ;;;;;;;;;;;;;;
karena alesan itulah saya jadi pengen deh bikin canyol sekali-kali jadi egois sama baekhyun, maka terciptalah chapter ini huwaaaaaaa maap kalo aneh, saya pribadi sama sekali nggak puas karena mood saya naik-turun… SM sekarang udah kayak—au ah, nggak terkontrol lagi… udah sekalian keluarin aja semuanya udah /jahat/ nggak tahan liat mereka ditinggal satu-satu, ditinggal itu sakit loh tau ga sih ;A; itu pas denger luhan out saya udah kayak "Lalu apa arti kita selama ini?" /EA/ rumornya lay juga mau keluar ya? bener ga sih? Jangan dong ;;;;;;;;;; ini exo-l udah pada nganga banget lukanya masa mau ditaburin garem lagi TTATT
Oh iya, abis ini saya mau lomba (ini juga curi-curi waktu, ohohoho /plak/) dan bakal hiatus sampai pertengahan November :D
Pojokan :
dugunchao : btw-kapan-ganti-rate-nih-thor?
A : ohohoho skitar 2 ato 3 chap mungkin? Ehehe /plak/
neli amelia : knpa chanbaek belum berani ngungkapin perasaan mereka ?
A : nah chap depan itu yaa ^^
snowy07 : Mereka itu imut. Tapi sungguh sepertinya karna sudah lama berstatus sebagai teman, mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka sendiri. Apakah mereka takut setelah jujur atas perasaannya sendiri salah satu dari mereka akan menjauh? Jadi lebih naik hanya sebatas itu. Hubungan tanpa status pun tak masalah asal mereka selalu bersama.
A : …sumvah baca reviewmu saya ngangguk-ngangguk membenarkan hipotesamu /ea/
Shouda Shikaku : request yang scene-nya rada mirip sama MV austin mahoney - say something :3
A : aduh maaf say, aku udah bikin draft sih huhuhu :""((((( sekali lagi maaaaafff banget T.T
CussonsBaekBy : Kapan ada acara cemburu cmburuan ini kak? Terus kapan chanyeol marahin baekhyun? Aku pengen soalnya. Hehe..
A : this is it! Aku juga pengen huhahaha XDD tapi maap jadinya gini yah ._.v
Kebanyakan suka fluff yah, hehehe… tapi saya udah bikin draft fluff-konfik-fluff-konflik jadi naik turun gitu kayak sinyal modem /heh/ gapapa kan yah .-.v
Saya tau ini ff gaje udah melenceng jauh dari seharusnya(?) padahal awalnya Cuma pengen oneshoot/drabble bersambung gitu tanpa terikat plot sampe ending, eh akhirnya ada plotnya juga -_- duh, emang ga konsisten saya -,-
-:-
Makasih reviewnya di Drabbles :
dugunchao , neli amelia , petiteboy0506 , Mela querer chanBaekYeol , Parkbaekyoda , CussonsBaekBy , indahty , Anabble , Maple fujoshi2309 , oranyeol , narsih . hamdan , gabisalogin , Kim Bo Mi , Shouda Shikaku , devrina , Ohmypcy , Happybacon , Nenehcabill , purnama , Fanteusey , Beechanbaek , Jung Hyejin , baguettes , summerbaek , Ndowclow , ChanBaekLuv , vitCB9 , hunniehan , BLUEFIRE0805 , snowy07 , baekyiol , guardian's feel , sunshiners21 , hinagiku2705 , Re . Tao , svn , nur991fah , Bumble Bee Baek , Sonewbamin , keyungsu , septhaca , A Y P , DKM , dan KT CB
-:-
Saya nggak bisa bilang apalagi selain MAKASIH MAKASIH MAKASIIIIIIIHH BANGET! saya tahu review itu kadang susah dan kalian mau repot-repot review ff gaje ini saya TERHURAAAA ;;;;A;;;; /peyuk atu-atu/
Review again~? :D
Next : 7th Randoms – Y
(Pengakuan perasaan nih huhahaha /bocoran)
Sampai jumpa bulan November! ^^/
