For neli amelia & Sniaanggrn yang udah repot-repot PM saya, this is Why :D
Character(s) © God
I take no profit, just for fun
7th : Y
Untuk pertama kalinya dalam tujuhbelas tahun, Yura melihat adiknya mabuk.
"Kau… siapa—" cengukan, "seenaknya saja masuk kesini!"
"Ya ampun," Yura menggeleng-geleng, "kakaknya sendiri saja dia tak ingat."
Menghela napas, Yura yang baru datang dari Jepang dengan mata lima watt langsung membenahi posisi Chanyeol pada ranjangnya. Penampilan berantakan Chanyeol memberi kesimpulan pada Yura bahwa adik kesayangannya itu pasti tengah bermasalah.
Dengan Baekhyun.
Chanyeol menggerutu tak jelas, membuat telinga Yura berdenging. Sang kakak kemudian memutuskan untuk bertanya langsung pada Chanyeol, mengingat dulu dia pernah dengar kalau orang mabuk selalu berkata jujur.
"Hoi, Chanyeol."
Chanyeol membalasnya dengan geraman.
"Bertengkar dengan Baekhyun?"
Hening.
Hening lama.
"Chany—"
"Dia yang salah! Pembohong!" teriak Chanyeol, terdengar frustasi.
Yura menghela napas lagi. Lama-lama ia jadi merasa seperti orang tua—menghela napas berkali-kali—. Tapi melihat adik kesayangannya terlihat sebegini kusut, Yura mulai berpikir cepat dan menemukan solusi.
Gadis itu keluar kamar, meninggalkan Chanyeol yang sudah memasuki alam mimpi. Ia mencari sebuah kontak di ponsel pintarnya kemudian menghubungi seseorang.
Baekbum pikir pertengkaran antara Baekhyun dan Chanyeol yang paling awesome adalah saat kedua bocah itu masih kelas tujuh, ketika Baekhyun dengan sok tahu menaiki sepeda Chanyeol (padahal anak itu belum pernah bersepeda) dan ngebut tak tanggung-tanggung. Hasilnya, si bocah berakhir di selokan, menangis keras dengan sepeda Chanyeol yang berakhir naas.
Setelahnya, Chanyeol memarahi Baekhyun habis-habisan. Bukan karena sepedanya yang rusak—oh, ayolah, si Park itu bahkan punya cukup uang untuk beli mobil—, tapi karena tindakan Baekhyun yang ceroboh itu membuat tulang kakinya sendiri menjadi retak.
Tapi Baekhyun berpikir bahwa Chanyeol memarahinya karena sepeda kesayangan Chanyeol rusak.
Kemudian dua bocah itu bertengkar, mempertahankan pendapat masing-masing. Chanyeol pergi dengan wajah merah padam sementara Baekhyun menangis dua hari lamanya.
Baekbum sakit kepala.
Tiga hari setelahnya, Chanyeol kembali dengan sepeda baru. Menggendong Baekhyun kemudian berangkat sekolah sambil berboncengan seperti biasa—seolah-olah pertengkaran itu hanya ilusi Baekbum akibat migren.
Jadi, Baekbum pikir itulah pertengkaran terhebat mereka.
Tapi dia salah.
Pertengkaran mereka kali ini ternyata jauh, jauuuuh lebih awesome dari pertengkaran bertahun lalu.
"Hei, bocah, jangan melamun begitu. Cepat habiskan nasimu."
Karena kali ini, bukannya berteriak, menangis, atau pun merajuk, Baekhyun lebih terlihat seperti kehilangan cahaya.
Baekbum lebih suka Baekhyun yang berisik.
"Jangan siksa dirimu, bodoh. Kau belum makan dari pagi, kan?"
Baekhyun seolah tak mendengar. Tangan mungilnya kembali mengaduk asal nasi dalam mangkuk, tak berniat untuk makan. Bahkan memandang sogogi kesukaannya saja tidak. Pandangan Baekhyun kosong, jiwanya seperti tidak disana. Tiga hari sudah Baekhyun begitu.
Baekbum sudah muak.
"Byun Baekhyun! Berhenti bersikap begitu!"
Baekhyun menatapnya. Lama, lama sekali. Dengan manik cokelat yang redup. Kosong dan membuat Baekbum mencelos.
"Aku selesai." ucap Baekhyun lirih, meninggalkan makanannya seperti sampah.
Di seberang meja, ibunya terisak dalam pelukan ayahnya.
"Sial!" Baekbum memukul meja di depannya, "aku ingin sekali menghajar si Park itu!"
"Kau mau membuat keadaan semakin buruk?" kata ayahnya, "bicaralah pada adikmu, Baekbum. Pelan-pelan."
Namun ketika ia sampai di depan pintu kamar adiknya, ketika ia mendengar tangisan pilu Baekhyun yang membuat hatinya nyeri, ketika Baekbum membuka pintu dan melihat adiknya bergelung dalam selimut, membisikkan satu nama berulang-ulang, Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol—
Baekbum tahu ia harus melakukan sesuatu.
Esok paginya Chanyeol terbangun dengan kepala nyeri luar biasa. Ia mengerang keras, merutuki diri sendiri karena kemarin meneguk alkohol dengan dosis keterlaluan. Kalau orangtuanya tahu ia mungkin dipenggal. Namun untunglah—
"Selamat siang, adikku."
"Jangan mengejekku, kak. Ini masih pagi."
—yang menemukannya adalah Yura.
Gadis berambut pendek bergelombang itu mendekati Chanyeol dengan nampan berisi air putih dan semangkuk sup rumput laut yang langsung dihabiskan Chanyeol dalam waktu singkat.
"Bagaimana rasanya?" tanya Yura.
"Kau yang membuatnya? Sedikit asin, sih."
"Maksudku mabuk, bodoh. Rasanya enak, tidak?"
Chanyeol menatap Yura seakan-akan pandangannya mampu membunuh sang kakak dalam sedetik, "Bisakah kau berhenti mengejekku?"
Yura terbahak, "Salah sendiri kau bodoh. Ah, sayang sekali aku lupa memotretmu saat mabuk, pasti laku keras kalau dijual pada fans—"
"Kakaak!"
Yura kembali tertawa puas melihat wajah Chanyeol yang berantakan, "Mandi sana, kau bau."
Dengan ogah-ogahan, Chanyeol beranjak dari posisinya. Meregangkan badan sedikit kemudian menyadari bahwa Yura tampak berbeda. Mata Chanyeol menyipit.
"Sejak kapan pakaian kantormu begitu?"
Yura melirik dress biru langit polos selutut kemudian tertawa canggung, "Siapa bilang aku mau ke kantor."
Chanyeol mulai merasakan firasat buruk, "Lalu kemana? Dream Land?"
Dan Chanyeol hanya bisa menganga saat Yura menggangguk malu-malu.
"Bu-buat apa?"
"Apa lagi?" Yura mengedip, Chanyeol mulai berpikir kakaknya kesurupan, "tentu saja untuk kencan!"
…hening.
Sedetik, dua detik—
"APA?!"
Yura yang sepengetahuan Chanyeol hidup menjomblo, sekali pun tak pernah menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada lawan jenisnya tiba-tiba sudah punya—PACAR?
"Bocah, buka pintunya."
Pintu dengan stiker 'Baekhyun's Territory' terbuka, menampilkan sosok sang adik dengan rambut berantakan dan mata sayu yang anehnya membuatnya terlihat imut.
"Kenapa?" biasanya Baekhyun akan berteriak karena Baekbum mengganggu hari liburnya. Tapi Baekbum sadar kalau bocah ini bukan Baekhyun yang biasa.
"Hari ini kau libur, kan?"
Baekhyun mengusap mata, "Kenapa memangnya?"
"Aku mau bertemu seseorang. Dan kau, harus, ikut. Refreshing lah sesekali!"
Belum sempat membantah, Baekbum sudah menyeretnya ke kamar mandi dan menyuruhnya bersiap-siap.
Hari minggu cerah dan Baekhyun harusnya bisa tidur seharian, agar ia tak usah memikirkan si Chanyeol jelek. Tapi kakaknya ini punya tenaga Dino, Baekhyun tidak bisa melawan kalau tangannya ditarik sebegini kencang menuju—tunggu, Dream Land?
"Baekbum, kau tidak salah tempat?"
Baekhyun yang paling tahu kakaknya. Baekbum akan menolak habis-habisan jika ada yang mengajaknya ke tempat terkutuk (versi Baekbum) bernama Dream Land. Dan Baekhyun pikir, satu-satunya hal yang membuat kakaknya berani memasuki tempat ini hanyalah pacarnya.
"Kau tidak akan membawaku kencan, kan?"
Baekbum nyengir menyebalkan.
Chanyeol mendengus.
"Aku sudah cantik, kan?"
Rasa-rasanya ini bukan Yura. Ya, pasti ada yang merasuki Yura atau Yura mungkin terkena guna-guna. Karena—demi apapun—seumur-umur, Chanyeol belum pernah melihat Yura berdandan!
"Kau benar-benar punya pacar, kak? Sejak kapan?"
Yura tersenyum padanya dan Chanyeol mengakui kalau kakaknya teramat cantik.
Kenapa tidak dari dulu-dulu saja dia berdandan, pikir Chanyeol.
"Maaf, aku tidak memberitahumu. Kami berhubungan jarak jauh. Hampir setahun."
"HAH?"
Yura memoleskan bedak pada wajahnya. Lagi. "Iya, Chanyeol-ie, walaupun dia bukan berasal dari keluarga kaya tapi ayah sudah setuju. Dengan syarat aku harus mengembangkan dua perusahaan lagi, sih."
Dahi Chanyeol berkerut, "Pantas saja kau rajin sekali mengurus perusahaan akhir-akhir ini."
"Dan kenapa kau malah mengikutiku kencan."
"Aku penasaran!" Chanyeol bersidekap, "siapa tahu dia cuma ingin hartamu saja."
Yura langsung protes, "Kau terlalu drama. A negative mind will never give you a positive life—ah, itu dia!"
Yura melambaikan tangan, "Sayang! Disini!"
Sosok itu mulai terlihat dari balik kerumunan, balas melambai pada Yura. Rambut cokelat, cardigans dengan kaos putih polos, jeans hitam, kemudian cengiran yang begitu Chanyeol kenal.
Teramat sangat kenal.
Yura berlari menemui pacarnya, berpelukan erat sementara Chanyeol mematung di tempat tatkala sepasang kelereng hitam miliknya bertemu dengan manik cokelat kesayangan—yang ia rindukan setengah mati.
Napasnya tercekat.
"Baekhyun…"
Baekhyun mengantuk.
Sungguh.
Rasanya dia ingin tidur saja, bukannya ditarik-tarik Baekbum seenak jidat begini. Berkali-kali ia menguap dan mengusap mata malas. Lengan kaos panjang bergambar Mickey Mouse ia gunakan untuk menyeka air di sudut mata akibat kantuk. Ia bukannya tidak suka Dream Land—Baekhyun sangat amat menyukainya. Hanya saja saat ini dia sedang tidak mood.
"Baekbum, mau es krim."
"Nanti saja, bocah, pacarku sudah menunggu."
Kemudian ia mendengar seruan seperti 'Sayang! Disini!' dari kejauhan. Baekbum langsung menggaet lengannya kemudian berlarian diantara kerumunan, tak hirau dengan Baekhyun yang kakinya tidak sengaja terinjak.
"Baekbum, pelan-pelan!"
Sang kakak melepaskan kaitannya, berlari menuju pacarnya lalu berpelukan seolah mereka hanya bertemu seabad sekali. Baekhyun mengumpat sambil mengusap sepatunya yang tadi terinjak, baru saja hendak mengomeli Baekbum saat ia mendengar pekikan terkejut.
Baekhyun mendongak dan matanya melebar sempurna.
"Yuraa! Aku merindukanmuuu!"
Baekbum memeluk erat-erat gadis cantik di hadapannya, sementara yang dipeluk hanya tertawa-tawa.
"Aku juga rindu, bodoh, rasanya sudah lamaaa sekali saat terakhir bertemu," Yura menggigit bibir bawahnya, "hubungan jarak jauh tidak asik, aku kangen padamuuu."
Mereka berpelukan lagi. Begitu dalam seakan tak ingin melepaskan. Samar, Yura menangkap siluet seseorang di belakang Baekhyun dan ketika ia mencoba untuk melihat lebih jelas, gadis itu memekik terkejut.
"Baekhyun?!"
Pelukannya dilepas kasar. Yura menatap pacarnya tidak percaya. Tidak, tidak mungkin begitu. Yura pasti salah lihat.
"Ba-Baekbum-ah… " ia menatap Baekbum lama, berusaha untuk melawan kenyataan yang tiba-tiba membuat dadanya sesak, "…jangan bilang kalau Baekhyun adalah adikmu yang tadi kau bilang mau ikut."
Baekbum menaikkan alis, "Memangnya kena—hei, darimana kau tahu nama adikku?"
Tak ada jawaban, karena kini Yura tengah menutup mulutnya dengan wajah shock. Punggungnya sampai bergetar dan Baekbum tidak tahu mengapa pacarnya menjadi begitu terlihat… ketakutan.
"Yura, kau baik-baik sa—"
Dan segala tanda tanya di benak Baekbum kemudian terjawab ketika ia menemukan Chanyeol. Berdiri kokoh menatap pada adiknya. Matanya sarat akan kerinduan namun juga egois secara bersamaan. Ia seperti gedung tua, yang siap roboh dengan sekali tendang.
"Ba-bagaimana ini…" Baekbum melihat Yura berkaca-kaca, "Baekbum, bagaimana ini… kenapa seperti ini? Kau—"
Ia menatap Baekhyun, "—kau tak pernah bilang kalau kau punya adik bernama Baekhyun."
"Yura, jangan bilang kalau—" mata Baekbum melebar, "—Cha-Chanyeol itu adikmu."
"Memang begitu!"
Yura mendekati Chanyeol, meraih tangan pemuda itu lalu menariknya mendekat. Adiknya masih terpaku pada sosok Baekhyun yang juga sedang menatapnya, seolah-olah mereka bisa berkomunikasi hanya lewat mata tanpa bantuan kata-kata.
"Cha—Chanyeol," suara Yura bergetar, "ini Baekbum…"
"…pacarku."
Chanyeol menoleh, memandang kakaknya kecewa, "Kenapa kau tidak bilang padaku…."
"Kami tidak tahu, Park," ucap Baekbum, "sialan. Kenapa adik Yura harus kau. Dunia benar-benar sempit." ia meremas helai cokelatnya frustasi.
Baekbum menoleh pada Baekhyun, "Baek—" dan mendapati adiknya tengah menatap nanar padanya.
Rasanya ada yang menghantam dada Baekbum sebegitu keras.
Baekhyun berujar, lirih, "Sejak kapan…?"
Yura terisak.
"Maaf, Yeol-ie…"
Chanyeol terenyuh, jarang sekali melihat Yura sebegini rapuh. Ia sendiri tak tega. Yura pasti sangat mencintai Baekbum seperti ia mencintai Baekhyun.
Hah.
Lelucon macam apa ini.
Baekhyun merasa matanya panas.
"Baekhyun… maaf."
Baekhyun selalu ingin Baekbum berhenti memanggilnya bocah dan hanya memanggil namanya saja. Tapi ia tidak tahu ternyata hal itu bisa sesakit ini.
"Aku sungguh-sungguh tidak tahu. Komunikasiku dengan Yura sangat terbatas, dan aku tak pernah bertemu Yura sebelumnya—kalian juga tak pernah mengenalkan kami."
Sesak.
"Aku—" Baekbum tercekat, "—aku sudah bilang pada ayah dan meskipun ayah belum pernah bertemu Yura, ia sudah setuju…"
Pedih.
"... bahwa kami akan secepatnya bertunangan."
… tidak adil.
Yura menangis keras hingga orang-orang menatapnya heran. Baekbum seera memeluk pacarnya, menenangkan Yura dengan mengelus punggung si gadis. Keadaan menjadi rumit. Pertahanan Baekhyun akhirnya roboh, memaksa air matanya jatuh dengan deras.
Baekbum menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian, "Katakan padaku dengan jujur," ucapnya tegas, begitu serius, "kalian tidak sedang pacaran, kan?"
Baekhyun berlari. Jauh.
"…kalian tidak sedang pacaran, kan?"
Jantung Chanyeol serasa diremas.
Ingin sekali ia memukul Baekbum, tapi kemudian melihat Baekhyun berlari sambil mengusap air matanya membuat hati Chanyeol mencelos. Ia menatap Yura dan Baekbum dengan pandangan terluka.
"Aku kecewa pada kalian." kemudian berlari menyusul Baekhyun, tak perduli dengan seruan pilu Park Yura.
"Sial!"
Sepanjang jalan Chanyeol terus mengumpat, sembari manik hitamnya mencari-cari sosok pemuda mungil yang ia sayang. Berharap Baekhyun tidak akan melakukan tindakan bodoh tanpa pikir panjang seperti bertahun-tahun lalu.
Chanyeol tak mengerti mengapa keadaan bisa jadi begini. Yura berkata kalau ia sudah bilang pada ayah kalau ia ingin bertunangan dengan Baekbum dan ayahnya menerima—tapi bagaimana dengan ibunya? Wanita itu pasti lebih suka Yura bertunangan dengan pengusaha sukses yang punya cabang dimana-mana.
(Yah, walaupun Baekbum punya potensi yang teramat besar, sih. Sekarang saja dia sedang direkomendasikan menjadi Manager. Tunggu waktu saja bagi Baekbum untuk membangun perusahaan sendiri.)
Chanyeol dan Yura dibesarkan dalam keluarga terhormat yang sangat menjunjung etika dan nama baik. Yura sudah bilang pada ayah dan ayah sudah setuju. Jika Yura membatalkan ini, sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri dan Chanyeol tidak ingin kakaknya mempermalukan diri demi dia dan Baekhyun yang bahkan… pacaran pun tidak.
Chanyeol mengerang sambil meremas rambutnya. Baekhyun tidak ada dimana-mana.
Tidak di Dream Land.
Tidak juga di taman kota.
Pemuda itu berhenti sejenak, mengatur napas dan mencoba berpikir dimana biasanya Baekhyun jika sedang sedih.
Namun ia langsung menyesal.
Karena setiap kali Baekhyun bersedih, Chanyeol selalu ada untuknya. Ia akan mengajak anak itu ke taman kota, memberinya es krim kemudian memeluk dan menciumnya hingga Baekhyun tersenyum lagi. Chanyeol lah yang mengusap air mata Baekhyun saat ia menangis, memeluk Baekhyun saat ia ketakutan.
Tapi sekarang tidak ada Chanyeol.
Ia berteriak marah dan memaki dirinya sendiri. Chanyeol kembali berlari, mengingat satu tempat yang dulu, dulu sekali pernah Baekhyun datangi saat Chanyeol mengabaikannya.
Sungai.
Air itu hidup.
Baekhyun lupa pernah mendengarnya dimana.
Yang pasti ia merasa tenang saat melihat sungai, aliran air tenang yang seolah mampu menyesap rasa sedihnya. Dari sini ia dapat melihat mentari yang hampir terbenam dan lampu warna-warni kota yang mulai dinyalakan. Segalanya terpantul lewat sungai.
Orang-orang sudah pergi satu-persatu, menyisakan Baekhyun dan seorang lelaki tua jauh dari tempatnya duduk memeluk lutut. Segala yang berkecamuk di benaknya berusaha ia redam. Baekhyun tak mau menangis lagi…
Tapi dia tak bisa.
Sebab ketika ia mengingat hal menyesakkan tadi, hatinya terasa dicabik hingga matanya pun berbicara dengan membuat hujan yang teramat deras.
"Kenapa… hiks,"
Yang paling tidak ia mengerti adalah—
—kenapa Baekbum tak pernah bilang?
"Chanyeol…"
Ia membenamkan wajah di lututnya, sesenggukan hingga celananya basah. Baekhyun tidak mau… kalau Baekbum bertunangan dengan Yura. Kalau mereka sampai menikah dan itu berarti—
Ia dan Chanyeol tidak akan bisa bersama.
Kemudian Baekhyun mendengar langkah kaki mendekat. Seseorang datang, perlahan duduk di sampingnya lalu memanggilnya lirih.
"Baek…"
Chanyeol baru tahu betapa rindunya ia mengucap nama itu. Betapa leganya ia saat menemukan sosok mungil Baekhyun baik-baik saja.
Pemuda itu mengulurkan tangan, mencoba meraih pundak kecil Baekhyun yang bergetar namun tangannya berhenti di udara.
Ia tak pantas.
Dia terlalu brengsek.
"Maaf, Baek…" ujarnya, "aku membuatmu menangis… aku memang bodoh."
"Chanyeol…" Baekhyun menatapnya dengan wajah basah dan pandangan terluka, "Chanyeol…"
Chanyeol tak tahan. Ia memeluk Baekhyun. Erat. Membiarkan Baekhyun menangis di bahunya. Ia membenamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu Baekhyun sambil meminta maaf berkali-kali.
Ya ampun… bagaimana bisa ia tega menyakiti Baekhyun? Chanyeol baru sadar kalau sikap egoisnya telah menyakiti banyak pihak. Ia menyesal dan ia akan memperbaikinya.
Chanyeol merasa getaran dan isakan Baekhyun sudah mulai berhenti. Ia mengelus kepala Baekhyun dengan sayang, meresapi hangat Baekhyun yang begitu ia rindukan.
Hati-hati ia bertanya, "Baek?"
"Hm…?"
"Kejadian di Myeongdong, maafkan aku. Aku yang salah, aku terlalu egois…"
Baekhyun menggeleng, "Baekhyun juga salah… menyembunyikan Daehyun dari Chanyeol…"
"Aku tahu, dan aku cemburu. Karena itu aku mendekati Hyehee dan mencoba memanas-manasimu. Berharap kau akan menarikku dan berkata lantang pada Hyehee kalau aku milikmu."
Ia merasa jantung Baekhyun berdetak-detak kencang seirama dengan miliknya. Baekhyun meremas kaos Chanyeol kemudian bersemu, "Aku juga cemburu, tahu," katanya, "aku pikir Chanyeol tidak akan kencan dengan Hyehee dan lebih memilihku."
"Kami tidak kencan."
"Aku dan Daehyun juga tidak."
Baekhyun melepas pelukannya. Ia bertumpu pada kedua lutut yang mengapit paha Chanyeol sementara pemuda yang lebih tinggi menopang badannya dengan kedua tangan di belakang punggung. Dari posisi ini Baekhyun mampu melihat wajah rupawan Chanyeol tanpa harus mendongak seperti yang biasa ia lakukan. Mereka saling menatap kemudian terkekeh geli.
"Kita terlalu konyol, Baek."
Baekhyun meletakkan kedua tangannya di masing-masing bahu Chanyeol, "Kita punya dua persepsi berbeda, Yeol." kemudian tertawa.
"Dan kita terlalu keras kepala." balas Chanyeol, mengacak surai kecokelatan Baekhyun dengan gemas.
"Baek."
"Ya?"
"Kenapa kau tak mau bilang kalau suka padaku?"
Baekhyun diam. Mata sipitnya kemudian melebar, "E-eh?" perlahan-lahan rona merah merambat ke pipinya.
Ia mengalihkan pandang dengan bibir mengerucut, "Harusnya aku yang tanya padamu!"
Chanyeol menyeringai jahil, "Untuk apa? Bukannya kita sudah tahu kalau kita saling memiliki?"
Wajah Baekhyun semakin merah, "Ta-tapi aku ingin kejelasan!"
"Kejelasan apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas?" Chanyeol semakin jahil. Baekhyun memukul bahunya kesal hingga Chanyeol mengaduh.
"Sudah jelas bagi kita, tapi tidak orang lain, Yeol! Sebenarnya—" tiba-tiba ia menjadi gugup, "sebenarnya… ini yang membuat kita bertengkar."
Chanyeol tersenyum, mencubit hidung Baekhyun gemas, "Oke… aku akui kalau ini salahku karena aku egois."
"Juga suka marah-marah."
Chanyeol mengernyit, "Baiklah, baiklah… aku juga suka marah-marah."
"Dan terlalu gengsi."
"Dan terlalu geng—hei!"
Baekhyun tertawa keras hingga telinganya merah. Chanyeol yang kesal mau tak mau ikut tersenyum juga. Puas menertawai wajah kesal Chanyeol, Baekhyun kemudian memainkan rambut hitam pemuda itu.
"Yeol, aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"I-itu… " Baekhyun merona lagi, "ke-kenapa selama ini kau tidak mau memberi status pada hubungan kita?"
Akhirnya.
Akhirnya akan berakhir juga.
Chanyeol menarik napas panjang kemudian menatap Baekhyun tepat di mata, "Kau tahu…" kenapa dia jadi gugup, "a-aku bukan orang yang romantis… lagipula," ia tersenyum, "aku mengenalmu, Baekhyun. Lama sekali. Aku tahu kau adalah orang yang bebas."
Chanyeol memandang langit yang mulai gelap.
"Aku tak mau mengikatmu. Aku takut kau akan kesakitan."
Baekhyun terhenyak.
"Aku bisa berubah mejadi sangat posesif dengan apa yang telah kumiliki. Aku juga mudah terobsesi dan aku tak ingin terlalu terobsesi padamu.
Mengapa Baekhyun baru mengerti.
"Kau akan terkekang, tak bisa terbang bebas dan aku tak mau senyummu hilang."
Bahwa Chanyeol begitu peduli padanya.
"Chanyeool…" Baekhyun mengusap-usap matanya, menahan air yang mencoba jatuh, "maaf… aku selalu berpikir buruk tentang Chanyeol padahal Chanyeol sangat peduli padakuuu."
"Bukan salahmu, Baek," ucap Chanyeol, "semua orang juga mungkin berpikir begitu. Hahaha…"
Chanyeol menangkap kedua tangan Baekhyun dan menjauhkannya dari wajah anak itu. Dibiarkannya air mata Baekhyun jatuh bebas, karena itu lebih baik daripada memendamnya di dalam hati.
"Lalu bagaimana denganmu, Baek? Kenapa kau tidak mau mengakuinya?"
"A-aku…" Baekhyun memilih untuk memandang rerumputan tempat mereka duduk, "ini salahku… aku terlalu nyaman dengan hubungan kita selama ini… ja-jadi," suaranya bergetar, "aku tidak mau kita berubah. Aku tidak mau hanya karena status maka semuanya tidak akan sama lagi."
Baekhyun tersenyum pada Chanyeol, "Tapi disaat bersamaan aku juga ingin kejelasan."
Baekhyun mengusap air matanya, "Bodoh, ya. Aku bilang Chanyeol egois tapi sebenarnya akulah yang egois."
Angin berhembus pelan, memainkan anak rambut Baekhyun yang mulai panjang. Jingga di ufuk barat mulai berganti malam. Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dengan kedua telapak tangannya. Ia mengusap sisa-sisa air mata Baekhyun.
"Jangan menangis," katanya lembut, "jangan takut, semuanya akan tetap sebagaimana awalnya. Kita akan tetap bersama-sama, Baek."
Bersama. Kata itu terdengar begitu menyenangkan. Membayangkan hari-harinya bersama Chanyeol di sisinya dan Baekhyun tak akan pernah merasa bosan.
Karena orang itu adalah Chanyeol.
Baekhyun bisa merasakan kembang api imajiner meletup-letup di perutnya. Dan—matanya panas. Lagi.
"Aku tidak pandai berkata-kata tapi aku harus mengatakannya sekarang."
Chanyeol memandang mata Baekhyun, menyalurkan kesungguhan dalam hatinya.
"Baekhyun, aku menginginkanmu."
Ia menggenggam erat tangan Baekhyun, enggan melepas lagi, "Jadilah milikku."
Baekhyun tersenyum. Perlahan melebar, lebar sekali hingga mata sipitnya menjadi segaris lengkung yang indah. Cantik tak tertandingi.
"Aku mauuuu!"
Baekhyun menerjang Chanyeol hingga keduanya jatuh di rerumputan. Anak itu tertawa-tawa bahagia, menghiraukan protes Chanyeol kalau tubuhnya berat. Baekhyun tak berhenti tertawa hingga Chanyeol kemudian memeluknya gemas, tersenyum menatap langit yang mulai dihiasi bintang-bintang.
"Chanyeol."
"Hm?"
Chanyeol menoleh dan Baekhyun mengecup bibirnya.
"Aku suka padamu! Sukaaaa sekali."
Finite.
Kim's note :
euumm… hai ._.v /dibuang/
maaf updatenya lama, ehehehe… pertengahan November saya emang udah selesai dengan RL saya tapi kemudian ada kejadian tak terduga bernama UAS -_- jadinya terpaksa deh saya undur lagi seminggu .-.
rada bertele-tele ya, wkwkwk.. baekhyunnya cengeng pula—tapi saya suka huakakakakak /plak/ maap kalo nggak dapet feelnya karena saya emang ga jago bikin romance ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; nembaknya chanyeol juga biasa aja (kalo ini sih maunya saya xd) dan kenapa saya nggak pake kata 'aku mencintaimu', itu karena… menurut saya itu terlalu 'berat' dalam situasi gaje begitu ._.v /plak/ lagipula cinta chanbaek di dunia nyata lebih dari sekedar kata-kata /EA /efek shipper kurang asupan
buat chapter depan pastinya nggak akan selama chapter ini tapi saya juga nggak bisa jamin itu bakal selesai cepet kayak chapter 2 ato 3 (yang bisa beres dalam seminggu xd) tapi demi bayar update-an yang begitu luaaama, chap depan saya post 2 chapter deh :D
btw, ada sesuatu yang hilang dari chap-chap sebelumnya di chap ini XD ada yg nyadar? xd
-:-
Makasih sebanyak banyak banyak banyaknya buat yang udah review di Cheating :
oranyeol , KT CB , Parkbaekyoda , neli amelia , snowy07 , Shouda Shikaku , Mela querer chanBaekYeol , sunshiners21 , dugunchao , devrina , hunniehan , Nenehcabill , Ririn Cross , baekfrappe , nopiefa , YOONA , dianahyorie1 , septhaca , rizqibilla , Ohmypcy , winter park chanChan , baguettes , Song Jiseok , chepta chaeozil , Yeollbaekk, vitCB9 , Oh Lana , narsih . hamdan , Maple fujoshi2309 , BLUEFIRE0805 , byunyeolliexo , Sonewbamin , Babies BYUN, BerryBanana , baekLoveYeol , Re . Tao , baekyiol , guardian's feel , summerbaek , luvesick hoon , Ndowclow , PisangnyaChanyeol , nur991fah , ChanBaekLuv , kim jihwa , DKM , uchanbaek , KyusungChanbaek , Baby Crong , A Y P , CussonsBaekBy , Istritercintakris
-:-
dan—
HAPPY BIRTHDAY PARK CHANYEOL~~! Ciyeee yang makin dewasa ciyeeeeee XD semoga apa yang diinginkan Chanyeol bakal terwujud dan semoga langgeng yaa sama Baekhyun :D tetep semangat dan makasih udah bikin Baekhyun selalu tersenyum :)
Last, review? :D
