Baekhyun kecil memanyunkan bibirnya.
"Sakit..." matanya mulai berkaca-kaca.
Chanyeol kecil yang mendengar protes Baekhyun hanya nyengir bersalah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dipandanginya luka di lutut Baekhyun karena kecerobohan yang dibuatnya.
"Maaf, Baek."
Baekhyun makin cemberut. Bersidekap, anak itu kemudian duduk bersandar pada batang pohon akasia tempat dulu layangannya tersangkut sambil meniup-niup lukanya.
Chanyeol berdiri mengamati, menggigit bibir. Ia tak pernah dekat dengan seseorang sebelumnya, jadi ia tak tahu harus berbuat apa ketika tadi Chanyeol terpeleset dan tak sengaja mendorong Baekhyun hingga terjatuh mengenaskan. Namun melihat wajah Baekhyun saat ia meringis, membuat sesuatu dalam hati Chanyeol tergerak untuk mendekat, duduk di sampingnya kemudian menggantikan Baekhyun meniup luka.
"Masih sakit, Baek?"
Baekhyun menggangguk lucu namun air masih menggenang di pelupuk matanya. Chanyeol baru ingat kalau dia punya plaster luka di ransel—persiapan kalau dia terluka tapi nyatanya Chanyeol tak pernah menggunakannya. Ia mengambil plaster itu kemudian menutup luka Baekhyun dengan sangat hati-hati. Chanyeol mengusap dan meniup lutut Baekhyun sebagai sentuhan terakhir.
"Sudah tidak sakit, kan?"
Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun tersenyum lebar padanya. Manis sekali. Membuat Chanyeol kecil berdebar-debar. Air mata Baekhyun tidak jadi terjatuh dan detik itu juga Chanyeol berjanji bahwa ia akan ada di sisi Baekhyun untuk menepis sedihnya dan membalut lukanya.
"Terima kasih, Chanyeol."
Baekhyun memeluk Chanyeol sambil terkikik, "Chanyeol jangan pulang dulu. Baekhyun mau duduk disini bersama-sama."
Maka Chanyeol langsung mengiyakan permintaan Baekhyun. Membiarkan anak itu tidur dengan paha Chanyeol sebagai bantalnya. Angin berhembus, membawa helai-helai daun yang telah berubah kecokelatan. Chanyeol memandangi wajah damai Baekhyun dan mengelus surai cokelatnya sambil tersenyum.
"Baek…"
Baekhyun masih terpejam, menandakan kalau ia sudah terlelap. Darah Chanyeol berdesir, setiap hari ia berada sedekat ini dengan Baekhyun dan jantungnya masih punya debaran yang sama dengan saat pertama kali mereka bertemu. Chanyeol tersenyum lagi kemudian berbisik pelan, pelan sekali hingga mungkin hanya ia yang bisa mendengarnya.
"Aku suka padamu."
Lalu Chanyeol mendekat, mengecup bibir Baekhyun cepat agar anak itu tidak bangun. Ciuman anak-anak, tapi mampu membuat pipi Chanyeol bersemu merah.
Awal musim gugur di tahun kedua mereka berkenalan, Baekhyun mendapat ciuman pertamanya.
Character(s) © God
I take no profit, just for fun
8th : Baekhyun & Chanyeol
Baekhyun dan Chanyeol saling menggenggam, erat. Chanyeol melangkah lebih dulu dan Baekhyun mengikutinya seperti anak baik. Tinggal beberapa langkah menuju rumah Baekhyun dan bayangan Yura dengan Baekbum sudah terlihat. Kedua kakak mereka pasti sangat khawatir.
Tiba-tiba Baekhyun merasa tak enak.
Anak itu menghentikan langkahnya, membuat Chanyeol menoleh dan menatapnya bingung.
"Kenapa, Baek?"
Baekhyun memainkan ujung kaosnya, "Kau yakin dengan ini, Yeol? Bagaimana pun… kak Yura dan Baekbum adalah kakak-kakak kita…"
Chanyeol diam. Baekhyun jadi menyesal, merasa bahwa ia melontarkan pertanyaan yang salah.
"Baek."
"Y-ya?"
"Kita tidak akan mendapat apapun kalau tidak berani mencoba."
Baekhyun mendongak, menatap mata Chanyeol yang biasanya begitu teduh kini terlihat amat serius.
"Aku takkan melepasmu."
Genggaman Chanyeol pada tangan kanannya semakin menguat. Keyakinan Chanyeol terasa ikut mengalir dalam sentuhannya, mambuat Baekhyun mengangguk mantap.
Keduanya berjalan dengan tegang. Yura yang melihat kedatangan Baekhyun dan Chanyeol kemudian menghambur memeluk Baekhyun.
"Kalian dari mana saja? Kami khawatir, tahu!" Yura melepas pelukannya dan meremas lembut bahu Baekhyun, "Baekhyun, kau baik-baik saja, kan? Kalian tidak bertengkar, kan? Tidak mencoba bunuh diri, kan?!"
Chanyeol memutar bola mata, "Yang terakhir itu terlalu konyol, kak. Dan yang lebih penting," Chanyeol menarik Baekhyun untuk mendekat padanya, "sekarang aku dan Baekhyun sudah pacaran."
"HAH?!" Baekbum yang sedari tadi hanya mengamati terlihat terkejut, "yang benar saja! Setelah bertahun-tahun kenapa kalian baru pacaran sekarang?!"
Baekhyun dan Chanyeol mengalihkan pandang.
"Oh, aku tahu," Baekbum merangkul Yura yang mematung dengan wajah syok, "jangan percaya mereka, Yura, ini pasti akal-akalan agar kita tak jadi bertunangan karena memikirkan perasaan mereka."
"Itu tidak benar!"
Mata Baekbum melebar. Ini pertama kalinya Baekhyun membentaknya dengan raut terlampau serius.
"Aku suka Chanyeol…" Baekhyun memandang sepatu birunya, "…sejak dulu, sejak lama. Tapi aku terlalu penakut untuk bilang padanya."
Sejak dulu, sejak lama. Mendengar itu membuat sudut-sudut bibir Chanyeol tertarik membentuk senyum. Ah, betapa ia menyayangi Baekhyun.
Maka Chanyeol kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun lalu berucap tegas, "Kalian boleh bertunangan, tapi kami juga keras kepala. Kami tak bisa menyerah, aku takkan melepas Baekhyun demi kalian."
Yura berjengit, memandang adiknya tajam, "Tapi aku sudah dapat restu ayah, Yeol. Kau dan Baekhyun tak punya kesempatan."
"Kata siapa?" balas Chanyeol, "aku tinggal meluaskan wilayah bisnis ayah, kan? Kalau dia mau seratus, aku bisa berikan seribu."
Yura nampak marah, Baekbum mengelus punggung kekasihnya.
"Lalu bagaimana dengan ibu? Ibu tak suka pada Baekhyun!"
Baekhyun tersentak.
Tapi Chanyeol tersenyum, menjawab tenang, "Kalau kakak bisa meyakinkan ibu akan pacar kakak, berarti aku juga bisa. Akan kubuat ibu menyukai Baekhyun seperti ia menyukai Baekbum."
Waktu seolah berhenti.
Hening.
Perlahan-lahan, senyuman Yura melebar.
"Chanyeooool~!"
Yura berlari, menerjang memeluk Chanyeol. Tertawa keras sambil menggoyangkan tubuh adiknya ke kiri dan ke kanan. Chanyeol galagapan, menyangka kakaknya gila. Yura tertawa lebih keras.
"Sudah kubilang, kan? Aku itu jenius, Baekbuuum!"
Baekhyun memandang kakaknya dengan tanda tanya besar. Baekbum balas memandang Baekhyun dengan cengiran lebar.
"Gotcha."
Baekhyun mengerjap, "Eh?" karena itu adalah kata-kata Baekbum jika apa yang ia inginkan sudah ia dapatkan.
Yura menepuk-nepuk pundak Chanyeol seperti orang tua, "Akhirnya… akhirnya kalian pacaran juga! Huahahahaha…"
Baekbum mengangguk membenarkan, "Akhirnya aku bebas dari ulat bulu bernama Yura."
"Apa kau bilang?!"
Baekbum pura-pura tuli.
Sebagai gantinya, ia menghampiri Baekhyun dan mengacak surai cokelat anak itu, "Aku bosan melihatmu seperti mayat hidup begitu. Jadi kupikir aku dan Yura harus melakukan sesuatu untuk kalian."
Ia tersenyum tulus, "Matamu bersinar lagi, bocah."
Panas. Mata Baekhyun panas. "Baekbum kau kerasukan apa. Kenapa kau jadi baik."
Baekbum menjitak Baekhyun hingga adiknya mengaduh, "Kalian berdua bocah keras kepala. Tinggal bilang suka apa susahnya, sih? Pura-pura pacaran dan berakting tidak tahu apa-apa itu lelah, tahu. Lelah." katanya dramatis.
Baekhyun tertawa kemudian memeluk Baekbum, "Terima kasih, Baekbum."
"Hm, hm," balas Baekbum, mengelus kepala adiknya, "jangan membuatku repot lagi."
Dengan itu Baekbum masuk ke rumahnya, meninggalkan tiga orang lagi di luar. Baekbum terus tersenyum di sisa hari itu.
Sementara Yura yang sudah pulih dari tawanya, menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian, berkacak pinggang, "Bagaimana aktingku? Hebat sekali, bukan? Hahahahaha… harusnya aku ikut ajang pencarian bakat saja."
"Aktingmu buruk. Buruk."
"Chanyeol kau kejam sekali. Setidaknya hargai usaha kakakmu ini yang sudah berjasa dalam hubungan kalian! Aku sampai rela berdandan, tahu! Astagaaa, dress ini membuatku geli."
Baekhyun memeluk Yura, "Maaf aku sudah berburuk sangka padamu, kak."
"Tidak apa-apa, adikku sayang… aku tahu emosi kalian sedang tidak stabil hingga kalian tak bisa berpikir jernih. Makanya aku yakin Chanyeol tidak akan menelpon ayah untuk memastikan pertunanganku itu benar atau tidak." kata Yura sambil mengedip pada Chanyeol.
Chanyeol mendengus, "Sialan."
Yura tersenyum, menepuk-nepuk pipi Baekhyun, "Kalau begitu aku pergi dulu. Perusahaan baruku sudah menunggu."
"Kau mau pergi lagi?"tanya Chanyeol.
"Um. Ke Jepang lagi," Yura meninju pelan dada adiknya. "Kutunggu janjimu untuk membuat ibu menyukai Baekhyun."
Pagi itu adalah pagi yang biasa, sebenarnya. Jika saja semua orang tidak memandang dua objek yang sama dengan pandangan heran. Dua orang yang tengah bergandengan tangan mesra dengan senyum manis hingga menebarkan bunga-bunga imajiner di sekeliling mereka.
"Perasaan, mereka begitu setiap hari. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda?"
"Astaga mereka manis sekali…"
Dan pekikan senang pun kemudian membahana tatkala Chanyeol dengan jahilnya mengecup sudut bibir Baekhyun di muka umum.
"Ehem," Jongin memandang Baekhyun dan Chanyeol menyelidik saat mereka istirahat di kantin seperti biasa, "kenapa aku merasa kalian baru saja jadian?"
Chanyeol dan Baekhyun diam saja. Baekhyun kemudian mengambil saus untuk ia tuangkan dalam spaghetti Chanyeol sembari tersenyum lebar. Chanyeol balas tersenyum lalu mengusap kepala Baekhyun sayang.
Luhan dan Sehun berpandangan lalu mengangguk bersamaan, "Mereka jadian."
"Akhirnya…" Kyungsoo mendesah lega.
Sementara Jongin hanya merengut sebal ketika melihat Chanyeol menyuapi Baekhyun dan membersihkan saus spaghetti di sudut bibirnya. Seolah-olah dunia ini milik mereka berdua. Yang lain hanya butiran debu yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.
"Mesra sekali." ucapnya iri.
Dan secara tak terduga, Kyungsoo menyodorkan sekotak bento pada Jongin. Membuat pemuda tan itu terkaget segaligus senang.
"Kyungsoo… ini buatku?" tanya Jongin terharu.
Kyungsoo, dengan wajah datar dan pandangan yang masih terfokus pada novelnya, menjawab pelan, "Kebetulan tadi aku membuat lebih, sayang kalau dibuang. Untukmu saja, Jongin."
Jongin menatap kotak makanan itu seperti menatap hadiah terindah di dunia, "Terima kasih, Soo." katanya, tersenyum, kemudian langsung memakan sang bento dengan lahap.
Seandainya Jongin melihat Kyungsoo sedikit lebih lama, maka ia akan menemukan semburat merah tipis di pipi pemuda manis itu. Yang berusaha ia tutupi dengan novelnya.
Dan kalau saja Jongin tahu, Kyungsoo membuat bento lebih itu dengan sengaja.
Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, kan?
Setapak demi setapak mulai terdengar di koridor yang sepi. Semakin dekat, semakin terburu-buru dan berantakan. Di ujung sana Baekhyun dan Chanyeol berlarian sambil tertawa-tawa heboh.
"Ayo cepat, Yeoool! Kita bisa dimarahi guru Kim!"
Baekhyun sebagai pihak yang memimpin, menarik keras tangan Chanyeol yang masih saja bisa tertawa padahal bel tanda pelajaran dimulai sudah berbunyi limabelas menit yang lalu.
"Pelan-pelan, Baek. Santai saja."
Baekhyun hanya memutar bola mata dan semakin mempercepat larinya. Ini gara-gara Chanyeol yang tadi menariknya ke atap sekolah, bercerita random hingga Baekhyun mengantuk lalu ketiduran. Dan Chanyeol terlalu menikmati wajah tidur Baekhyun hingga bel berbunyi pun ia tak hirau.
Mereka sampai di kelas saat guru Kim tengah menjelaskan sejarah Dinasti Goryeo. Jongin (yang sempat mencari Baekhyun dan Chanyeol) mendelik pada mereka. Keduanya meringis bersalah. Guru Kim berkacak pinggang.
"Untuk pertama kalinya kau terlambat dalam pelajaranku, Park Chanyeol."
Chanyeol mulai menjelaskan mengapa ia terlambat (dengan sedikit bualan, tentu saja). Hal terbaik yang kau dapatkan jika menjadi siswa kesayangan adalah kemudahan tiada tara dan itulah yang Chanyeol dapat.
"…dan untukmu, Byun Baekhyun—"
"Maaf, guru, akulah yang membuatnya bolos. Ini semua salahku. Maafkan aku, guru Kim." ucap Chanyeol, membungkuk sopan.
Guru Kim mendesah kalah, "Baiklah. Kalian boleh masuk."
Jongin mendengus.
Pelajaran berlanjut dan Chanyeol menguap bosan. Ia sudah mempelajari Dinasti Goryeo dan sudah hapal siapa yang mendirikan, sejarah sampai akhir dimana Invasi Mongol hingga kudeta bermula, bahkan tentang penemuan cetak pres kayu. Matanya tertuju pada Baekhyun yang tengah serius mencatat pelajaran. Chanyeol tersenyum jahil.
Gerakan tangan Baekhyun diatas kertas otomatis terhenti ketika selembar kertas yang telah diremas menjadi bola berhenti di depannya. Ia membuka kertas itu dan nyengir perlahan.
[Baek, aku bosan.
ur boyfriend]
Baekhyun tak bisa berhenti tersenyum melihat kata boyfriend itu. Astaga.
{diamlah, Yeol… aku sedang serius}
[jadi sekarang Sejarah lebih penting dariku :"'(((((]
Baekhyun memutar bola mata.
{Astaga Park Chanyeol, maumu apaaa}
[aku mau kau, Baek :p]
Baekhyun melempar kembali kertas itu tanpa membalasnya. Anak itu sibuk menyembunyikan wajah yang merah padam di antara kedua lengannya.
[kenapa kau serius sekali sih]
{sebentar lagi ujian masuk universitas, Yeol… otakku yang standar ini perlu stimulasi}
Baekhyun hendak melempar tapi ia urungkan.
{aku mau serius untuk ujian masuk. Sekali iniiii saja. Ya, ya, yaaa? *puppy eyes*}
Chanyeol tersenyum. Bangga karena Baekhyun mau mengandalkan dirinya sendiri.
[baiklah…
tapi cium aku dulu :*]
Kertas itu terlempar ke sudut kelas.
Baekhyun benar-benar membuktikan ucapannya.
Ia belajar dengan sungguh-sungguh. Ingin masuk Universitas Seoul, katanya. Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dengan sayang saat pacarnya bilang kalau ia ingin jadi dokter.
"Aku mau hidupku berguna untuk hidup orang lain." ucapnya, tersenyum lebar yang membuat hati Chanyeol menjadi hangat.
Dengan tekad kuat itu pula, Chanyeol bersikeras untuk membantu Baekhyun belajar. Ia dengan rutin membuat soal-soal prediksi untuk Baekhyun, menjadi guru privat dadakan, atau bahkan bangun tengah malam hanya untuk memecahkan trigonometri yang Baekhyun tanyakan lewat telepon.
Waktu berlalu terlalu cepat dan tak terasa, esok adalah hari mulainya perang. Malam itu Chanyeol datang ke rumah Baekhyun dengan kaos biru muda dan senyuman cerah.
"Ayo ke Dream Land."
Keduanya berakhir di tempat tujuan dengan Baekhyun yang cemberut, "Kenapa kau mengajakku kesini, Yeeol… besok itu matematika, tahu."
Chanyeol nyengir lalu menggandeng Baekhyun, "Sesuatu yang berlebihan itu tak baik, Baek. Kalau belajar terus, otakmu bisa lelah. Kau harus refreshing otak agar besok kau mudah mengingat semua yang kau pelajari."
Baekhyun tersenyum lalu mengangguk. Chanyeol mengacak rambut anak itu gemas kemudian mengecup pipinya. Tak menghiraukan gumaman 'so sweet' dari beberapa pasang mata yang melihat mereka.
Baekhyun membeli permen kapas merah muda lalu mengajak Chanyeol naik bianglala. Anak itu nampak bersemangat mencoba semua wahana yang ada padahal ia sudah pernah mencobanya berkali-kali. Pukul sepuluh malam dan Baekhyun sudah tertidur pulas dalam gendongan Chanyeol.
Chanyeol menggeleng-geleng, "Dasar bocah…"
Pemuda itu langsung menidurkan Baekhyun begitu mereka sampai di rumah. Sama sekali tak berniat membangunkan Baekhyun yang tidur seperti orang mati, terlihat kelelahan. Chanyeol mengedarkan pandang dan menemukan kamar Baekhyun penuh akan buku dan kertas soal. Ia memeriksa salah satu soal matematika kemudian tersenyum. Baekhyun berhasil menjawabnya.
Chanyeol mengecup kening Baekhyun dua kali sebelum beranjak pergi.
Musim gugur hampir berakhir. Aroma salju berterbangan diudara, bersamaan daun-daun jatuh yang menyisakan ranting-ranting dingin. Hari terakhir ujian dan Baekhyun melewatinya dengan senyuman, puas akan kerja keras yang ia lakukan. Ia berjalan menuju gerbang sekolah, dimana Chanyeol telah menunggunya dengan es krim vanila di kedua tangan.
Baekhyun malas pulang. Jadi ia mengekor Chanyeol. Keduanya duduk di sofa rumah Chanyeol dengan Baekhyun di pangkuan si tuan rumah, menghabiskan es krim vanila yang mulai meleleh.
Chanyeol memainkan poni Baekhyun, "Bagaimana ujian tadi, Baek?"
"Chanyeol tak perlu cemas," Baekhyun nyengir, "aku 'kan sudah belajar dari ahlinya."
Chanyeol tertawa, memandangi es krim Baekhyun meleleh sampai ke tangan mungilnya. Reflek, Chanyeol menjilati cairan manis itu hingga Baekhyun terkesiap.
"Chan—"
"Disini masih ada." Chanyeol menjilat sudut bibir Baekhyun, merambat ke bibir tipis anak itu. Ketagihan.
Wajah Baekhyun merah padam saat Chanyeol melepas ciumannya, "A-apa yang…"
Chanyeol tersenyum, "Kuhabiskan, ya." kemudian melahap sisa es krim Baekhyun. Tak peduli akan keterkejutan pacarnya, jemari Chanyeol hinggap di kedua pipi panas Baekhyun, mengelus dan menekannya lembut.
"Yeol… kau mau ap—mmph."
Chanyeol kembali mempertemukan bibir mereka, mendorong masuk es krim dalam mulutnya ke mulut Baekhyun yang terbuka—yang langsung ditelan anak itu karena pergerakan Chanyeol terlalu tiba-tiba. Tak ingin berhenti, lidah Chanyeol mulai menjelajahi rongga mulut Baekhyun, mengecap vanila yang ditinggalkan si es krim. Manis,manis. Ia menginginkan lebih dan lebih ketika Baekhyun membalas ciumannya.
Chanyeol melepas pangutannya saat tangan mungil Baekhyun memukul-mukul pundak dan dadanya—tanda bahwa ia tak bisa bernafas. Baekhyun terengah-engah, berkeringat dengan rambut berantakan dan liur di sudut bibir. Chanyeol terkekeh, Baekhyun kembali memukulnya.
"Kau mau aku mati, ya?!" tanyanya galak.
Chanyeol mencubit hidungnya, "Kalau suka bilang saja, Baek."
Baekhyun manyun, "Chanyeoool."
Keduanya tertawa, saling menggenggam tangan dengan letupan-letupan bahagia di dada. Tak menyadari kedatangan mobil mewah Ford yang memasuki pekarangan—
Finite
Kim's note :
Yura sama Baekbum udah kenal lama, kira-kira pas ChanBaek SMP gitu tapi sengaja nggak bilang-bilang XD maunya sih biar ChanBaek sendiri yang ngenalin mereka tapi hal itu tidak kunjung datang (dan malah jadi hal yang menguntungkan) XDD
Chanyeol juga ikut ujian masuk buat Universitas Seoul.
Buat chapter ini… (INI APAAAAA ;;;;A;;;;) ah syudahlah saya putus asaaa T.T maunya chap ini cuman tentang Yura-Baekbum yang ngaku kalo mereka pura-pura tapi kok pendek bangeeeett ;;;;;;;;;;;;;;;; jadinya saya tambahin deh tentang ujian masuk itu soalnya chap depan mereka udah lulus… maaf kalo nggak rinci dan buru-buru banget ._.v itu endingnya apaan lagi duuuhhh ;;;;;;;;;;;;;; saya nyerah sama chap ini. Nyeraaahhh /kibarin bendera putih/
Saya janjinya post 2 chapter ya, tapi itu di wordpress XD jadi kalo ada yg mau langsung baca chap 9 tinggal kunjungi wp saya (lihat profile/bio). Tapi itu chapter saya protect. Kenapa? Selain karena rate M /EA/, saya takutnya ada orang iseng yg ga suka yaoi tiba-tiba buka wp saya trus iseng baca, yg malu malah sayaaa /plak/ dan lagi itu pertama kalinya saya buat gituan, pasti aneh dan saya masih maluuuuu wwww
Buat yg pengen password, minta aja ke email saya : kim_kumiko yahoo .co .id (hilangkan spasi) pasti saya kasih kok. mau itu reader, sider, ato new reader ga masalah, asalkan mau nagih ke email saya diatas XD
kalo mau nunggu postingan saya di ffn ini juga ga masalah :D kenapa nggak langsung post 2 chapter di ffn? Alasannya sama dengan kenapa itu chap saya protect.
Btw, kenapa kalian semua bisa nebak sih kalo Baekbum-Yura pura-pura jadiaaaaann? TT_TT padahal pengen saya buat jadi kejutan tapi gagal, huks /pundung/
Dan—yang hilang itu adalah : ice cream! Wkwkwkwk nggak ada yang bisa nebak muehehehe /malah seneng/
-:-
Makasih banyak buat yang udah baca dan review di "Y" :
Sniaanggrn , KyusungChanbaek , Happybacon , Song Jiseok , vitCB9 , indri kusumaningsih , septhaca , Maple fujoshi2309 , neli amelia , chepta chaeozil , oranyeol , rizqibilla , Re . Tao , Yeollbaekk , hunniehan , KT CB , ChanB , Amie Leen , Parkbaekyoda , narsih . hamdan , snowy07 , nopiefa , BLUEFIRE0805 , byunfckingbaekhyun , Shouda Shikaku , byunyeolliexo , Love virus , aquariusbaby06 , A Y P , Babies BYUN , lolamoet , Chan Banana , CanyulCintaBekyunYadongtralala , audreylovina , sunshiners21 , Jung Hyejin , guardian's feel , luvesick hoon , summerbaek , nur991fah , hunhankid , EyebrowYes , SweetyChanbaek92 , alysaexostans
-:-
tanpa kalian, fiksi ini hanyalah kumpulan kata tak berarti :)
Merry Christmas and Happy New Year!
