UNTITLE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.
Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.
[CHANBAEK]
.
Tidak ada pembicaraan sejak mereka turun dari mobil atau setelah insiden itu. Baik Chanyeol ataupun Baekhyun lebih memilih diam dengan dilanda canggung atau hanya Baekhyun saja yang canggung. Chanyeol bersiul santai, berlagak seolah tak terjadi apapun, berjalan disebelah Baekhyun menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke apartementnya di lantai 7. Sebelah tangannya membawa koper Baekhyun dan lainnya digunakan untuk membawa kresek besar berisi camilan.
"Aku hanya mengambil apa yang jadi milikku."
Denting lift tertutup dan Baekhyun menatap Chanyeol sengit. Ia hanya sedikit terkejut dan kesal karena lelaki itu tiba-tiba menciumnya, wajahnya bahkan masihlah memerah malu. Sedikit tak menyangka Baekhyun akan kembali bertemu dengan Chanyeol disituasi yang begini, tak pernah terpikir juga bahwa ia akan semudah ini mendekat pada Chanyeol. Membiarkan lelaki itu dengan mudah menyeretnya menuju masalah pribadi yang rumit.
Baekhyun tak menyesal memberikan ciumannya pada Chanyeol. Lagipula ia cukup menikmatinya tadi. Lelaki itu seorang good kisser.
"Tidak, itu salahku karena menjanjikan sesuatu yang tak ku sangka akan kau dapatkan semudah itu."
"Jadi kau tak berniat memberikannya?"
Chanyeol menoleh pada Baekhyun, menatap lelaki yang lebih pendek darinya itu bertanya. Chanyeol sendiri tak menyangka ia bisa berbuat demikian pada seseorang yang baru dikenalnya, bukan sekadar menempelkan bibirnya tapi juga memberinya lumatan yang lembut bukan gayanya.
"Entahlah," ucap Baekhyun mengendikkan bahunya, kakinya berjalan keluar sebelum litf kembali tertutup, ia berhenti dan mempersilahkan Chanyeol selaku tuan rumah.
Chanyeol mendengus, berjalan mendahului hingga berhenti pada sebuah pintu bernomor 307. Baekhyun mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling dengan pandangan meneliti. Begitu Chanyeol membuka pintu, Baekhyun segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang tersedia mengikuti yang Chanyeol lakukan. Menaruh sepatunya pada rak sepatu disamping kiri. Simple dan elegant. Tidak terlalu rapi namun masih dalam kata wajar mungkin? Dengan sisa bungkusan snack di depan televisi dan bekas box pizza yang masih tersisa satu slice pizza juga kemeja yang tersampir pada sofa. Cukup buruk.
"Berapa lama kau meninggalkan apartementmu? Satu tahun?" sarkas Baekhyun. Ia menyingkirkan sebuah kaos tanpa lengan sebelum mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu berwarna biru tua.
"Begitulah, aku tidak sempat membersihkannya," ucap Chanyeol kembali, agak malu mengetahui kondisi apartementnya yang lumayan berantakan. Ia lupa memanggil jasa pembersih yang biasanya akan dipanggil seminggu dua kali, "kau bisa tidur disana.
" Sembari meletakkan koper Baekhyun yang berat, disusul berat tubuhnya yang berpindah ke sofa sebrang Baekhyun.
Baekhyun mendongak, mengalihkan atensi pada sebuah kamar dengan pintu coklat di ujung dekat kamar mandi. Apartement tanpa pemisah dinding yang memberikan kesan luas, bagian ruang tamu, televisi tidak memeliki sekat, sedangkan di dapur terdapat mini bar yang cukup tinggi sebagai penghalang lalu disebelahnya terdapat pintu kecil yang diyakini sebagai kamar mandi hingga tersisia dua pintu coklat yang merupakan kamar, "itu cukup bersihkan?"
"Tidak, aku menggunakannya sebagai gudang. Tapi cukup layak untuk digunakan sebagai kamar menurutku."
Chanyeol berdiri, "silahkan nikmati waktumu."
Tak banyak bicara Baekhyun menjauh, membuka pintu yang ditunjuk Chanyeol sebagai kamarnya. Ia mengernyit kesal, ruangan ini sama sekali tak cocok dijadikan sebagai kamar. Apa-apaan dengan sarang laba-laba yang menghiasi pintu, memang terdapat ranjang yang tertutupi kain putih namun saat menatap sekeliling, banyak barang bekas yang memenuhi sisi ruangnya. Baekhyun bahkan harus menutup hidungnya agar ia tak terbatuk.
Cepat-cepat ia menutup pintunya. Tak sudi untuk tinggal disana sebelum dibersihkan oleh sang empu. Berjalan menjauh menuju pintu lain di samping kamarnya, "Chanyeol, aku akan tidur dikamarmu – hey –"
Segera Baekhyun membalikkan badannya, kembali menutup pintu kamar dengan bantingan yang menggema. Pipinya memanas juga terkejut dengan pemandangan didalam sana. Chanyeol setengah telanjang! Jangan lupa dengan perut enam pack yang tercipta.
"Sialan!"
"Hey, tidak baik mengumpat anak manis. Jadi kenapa kau tiba-tiba membuka pintu sembarangan?"
Chanyeol membuka pintunya, ia telah memakai kemeja maroon juga celana kain. Tampak segar karena ia telah membasuh wajah juga rambut depannya yang agak basah.
"Aku tidak mau tidur disana!" Baekhyun menatap Chanyeol sengit, "kau tidur disana, aku akan tidur di kamarmu."
Tanpa menunggu Chanyeol berucap, Baekhyun mendorong lelaki jangkung minggir. Melangkah masuk menuju sebuah ranjang besar yang terlihat hangat. Bahkan ini masihlah pukul 4 sore dan Baekhyun malah menuju ranjang besar milik Chanyeol yang terlihat sangat menggoda untuk segera ia tiduri.
"Kau tidak bisa. Ini ranjangku, kau tidur disana."
"Kau saja, aku adalah tamu disini jadi kau harus menghormatiku. Lagipula bukankah kau akan melakukan apapun? Aku harap kau tidak amnesia secara mendadak hingga melupakan kalimat yang kau ucapkan kemarin."
Chanyeol mengusap wajahnya kasar, "Fine. Kau tidur disini tapi aku juga akan tidur disini. Aku akan menyuruh seseorang untuk membersihkannya besok."
"Terserah. Aku tak peduli. Aku mau tidur."
Baekhyun yang telah ada diranjang dan menutup mata sontak kembali terbuka, menatap Chanyeol diujung dengan bersandar pada pintu. Sekadar mendengar apa yang akan diucapkannya, "Baiklah, aku akan pergi. Lakukan apapun yang kau suka."
Debuman pintu menjadi pertanda jika Chanyeol telah meninggalkan Baekhyun.
UNTITLE CHAP 4
Dering ponsel membuat Baekhyun terbangun, ia menguap kecil sebelum mengecek siapa yang mengganggu tidurnya. Mengeratkan kembali selimutnya dan menjawab telpon dengan mata terpejam.
"Halo."
"Baekhyun, dimana kau? Aku ada dirumah."
"Ada apa?"
"Besok, apakah kau ada waktu? Seseorang ingin menemuimu dan aku telah membuat janji makan malam untukmu. Mungkin kau akan tertarik dengannya."
"Hyung, kau tidak bisa melakukan sesuatu seperti ini. Bukankan aku sudah mengatakannya kemarin jika aku belum ingin menikah."
"Ayolah, hanya undangan makan malam. Datanglah atau setidaknya hormati ia sebagai kolega, aku akan mengirim alamatnya."
Baekhyun menutup sambungan tanpa peduli sopan santunnya. Teramat kesal pada sang kakak yang dengan sembarang malah mengatur pertemuan dengan seseorang yang tak dikenalnya.
Baekhyun membuka selimutnya, menggeliatkan badan sebelum menyandarkan tubuhnya pada ranjang. Sedikit menyipit mendapati kamar gelap tanpa penerangan, hanya cahaya yang berasal dari luar. Tak tahu berapa lama ia tertidur hingga matahari telah tenggelam. Sekali lagi ia menguap.
Tersentak mendapati pintu apartemen yang terbuka dengan siluet lelaki tinggi. Chanyeol menyalakan lampu, mengamati Baekhyun yang tengah bersandar santai. Lelaki itu masihlah tampan walaupun agak kusut dan terlihat gurat lelah diwajahnya.
"Hey."
Canggung.
Baekhyun mengatur rambutnya yang buruk selepas ia bangun tidur. "Jam berapa sekarang?" menguap sekali dan menatap Chanyeol dan membuka kancing kemeja teratasnya sebelum mendudukan diri dipinggir ranjang yang satu.
Mereka mirip seperti sepasang suami istri yang telah lama menikah. Hell.
"Sembilan malam."
Baekhyun mengerjab, tak menyangka ia akan tidur sangat lama. Mungkin karena ia kurang tidur akhir-akhir ini, pikiran-pikiran tentang masa lalu tiba-tiba masuk menumpuk dalam otaknya ketika semua orang telah terlelap. "Aku tidur cukup lama," gumamnya seorang diri.
"Kau lapar? Aku hanya punya ramen di dapurku."
"Tidak, aku tidak begitu lapar." Ia hanya sedikit malas untuk bangun dan mengolah ramen.
Chanyeol mengangguk, ia lalu berlalu kekamar mandi. Mungkin membersihkan dirinya. Sedangkan Baekhyun ia hanya membuka media sosialnya tanpa minat. Rasa kantuknya mendadak hilang setelah berbincang sedikit dengan Chanyeol. Mereka masihlah dua orang asing yang terlalu canggung untuk saling membuka percakapan.
Tak berapa lama, Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari pinggangnya juga handuk kecil untuk mengeringkan rambut hitamnya. Sekali lagi Baekhyun dibuat terpana. Dia sangat tampan!
"Menikmatinya?" ucap Chanyeol menyeringai, ia berjalan pelan dengan menggoda. Mengusap rambut basahnya sedemikian rupa hingga tampak sexy dengan bulir air yang turun dari ujung rambut menuju lehernya.
"Sialan! Cepat pakai bajumu."
Tidak ada yang lebih memalukan dari ini, terang-terangan menatap Chanyeol tanpa kedip dengan tatapan mengagumi yang terlihat jelas. ia kembali meruntuk kesal. Kekehan Chanyeol semakin membuatnya kesal berlipat.
Tiba-tiba saja lelaki jangkung itu telah ada diranjang, mematikan lampu utama hingga tersisa lagu tidur yang temaram disisi ranjang. Tubuhnya masuk keselimut yang sama dengan Baekhyun, menciptakan sensasi aneh dalam diri Baekhyun.
"Aku mendengar pembicaraan kalian," ucap Chanyeol kali pertama. Ia menghela napas pelan. Sedang Baekhyun nampak tak terkejut, ia menghaap langit-langit kamar yang tak menarik. Menunggu lanjutan kalimat Chanyeol.
"Jadi siapa tadi? seseorang memaksamu menikah?"
"Kita tidak dalam situasi untuk saling memberi –"
"Secara tak langsung kau sudah menjadi kekasihku dan entah kapan aku akan menikahimu. Jika kau setuju tentunya," Chanyeol menatap Baekhyun dalam temaram, ia merubah posisinya, meletakkan lengannya sebagai penyangga kepalanya hingga ia dapat melihat Baekhyun penuh.
"Tidak, aku hanya secara kebetulan kau seret dalam masalahmu hingga aku berakhir disini."
"Anggap saja sebagai timbal balik?"
Baekhyun sendiri bingung, untuk apa ia bersedia membantu Park Chanyeol sedangkan ia bisa saja menolaknya dengan mudah.
Bersambung –
.
Note Chapter 4 :
Semoga suka dengan ceritanya. Mungkin kalian ada usul untuk chapter selanjutnya? Aku sudah menulis sebagian cerita hingga beberapa chapter dan belum selesai. Jadi mungkin saja kalian punya ide untuk ku tuangkan di sini, di kolom review ya!
Thanks.
