UNTITLE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.
Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.
[CHANBAEK]
.
Chanyeol mengamati wajah manis Baekhyun yang terlelap dengan sedikit mulut terbuka. Hidungnya mungil dengan bibir tipis yang pernah dilumatnya kemarin. Bukan dusta ketika ia bilang ia telah tertarik pada Baekhyun. Sejak kali pertama melihat si manis di club dengan kemeja putih kebesar yang membalut tubuhnya, terlihat angkuh namun begitu memikat. Ketika melihat banyak pasang mata yang menatapnya dengan nafsu, tanpa sadar rahangnya mengeras. Mendeklarasikan secara sepihak bahwa si manis adalah miliknya.
Sangat konyol.
Jemarinya bergerak naik, mengusap pipi gembil yang sangat halus di balik telapak tangan kasarnya. Chanyeol senang ketika kedua orangnya mendesak untuk menjemput Baekhyun, menyuruhnya untuk tinggal bersama bukanlah pilihan yang buruk. Setidaknya ia punya seseorang untuk diajaknya berdebat.
"Cantik," gumaman disertai senyum muncul begitu saja.
Ia bersorak senang mendapati bulu mata yang bergerak, seolah bersiap menampilkan sesuatu yang sangat indah. Dan Chanyeol kembali dibuat kagum dengan manik coklat yang sipit milik Baekhyun.
"Selamat pagi Tuan Putri," sapanya ceria.
Chanyeol terkekeh ketika dadanya didorong menjauh, Baekhyun segera menggeliat. Mendudukan dirinya menjauh dan menatap Chanyeol sebal, menuduh Chanyeol dengan mata sipit tentang apa yang telah dilakukannya terhadap Baekhyun sebelum terbangun dari mimpinya.
"Aku tidak melakukan apapun," lelaki jangkung itu menarik tangannya tinggi. Menyerah dengan seringaian andalan.
"Benarkah?"
"Tidak, apa kau mengharapkan aku melakukan sesuatu?"
"Dalam mimpimu."
Baekhyun menguap sekali, mengusap matanya untuk sekadar menghilangkan kotoran disana. Menyibak selimut dan melangkah jauh kekamar mandi di pojok kamar. Masa bodoh dengan Chanyeol yang menatap minat pada pahanya atau mungkin bokongnya yang terbalut celana pendek diatas lutut.
"Kau punya bokong yang bagus."
"Terimakasih. Aku sangat tersanjung."
Debuman keras dari pintu kamar mandi membuat Chanyeol berjengit. Ia terkikik pelan, mengingat bagaimana ekspresi Baekhyun saat masuk ke dalam kamar mandi. Ini masihlah pukul tujuh pagi dan Chanyeol masih punya sedikit waktu untuk bersantai sembari menikmati pagi cerahnya. Mungkin ini adalah pagi paling berwarna selama beberapa tahun terakhir.
Bukankah ide bagus jika Chanyeol mengunci kamar sebelah dan membuat Baekhyun berada dalam kamar yang sama dengannya?
UNTITLE CHAP 5
Ketika Baekhyun telah keluar dari kamar mandi, ia sudah tidak mendapati Chanyeol di kamar dan diam-diam Baekhyun bersyukur untuk itu. Ini bukan seperti Baekhyun yang mengenakan handuk untuk menutupi bagian privasi hanya saja ia lega, tidak lebih dari itu. Aroma musim semi menguar ketika Baekhyun keluar dari kamar mandi dan ia merasa begitu segar. Berdiri dibawah kucuran shower air dingin membuatnya seketika terjaga, menghilangkan sisa kantuk yang beberapa menit lalu melanda.
"Kau sudah mandi?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol memasuki kamar, rambutnya terlihat basah. Baekhyun dapat melihat dengan jelas bisep Chanyeol tanpa tertutupi kemejanya ataupun kaos yang biasanya dikenakan lelaki itu. Ia meneguk ludahnya kasar, merasa iri ketika melihat tidak ada otot yang tumbuh di lengannya yang putih.
"Ya, aku akan berangkat pukul 8. Apa kau akan pergi?"
Inginnya Baekhyun menjawab tidak, namun yang terjadi malah ia mengangguk ketika teringat dengan mata kuliah Bangunan Air yang membahas bendungan juga bagian-bagiannya dengan dosen perempuan yang lumayan cerewet, namun sangat cantik, "Aku ada kuliah pukul 9 nanti."
"Kau mau berangkat bersama? Aku tahu kau tidak membawa mobilmu."
"Tentu, kau berhutang padaku."
Chanyeol mengendikkan bahunya acuh, ia kemudian melenggang untuk mengambil setelah kantornya di lemari. Baekhyun segera keluar ketika mendapati lelaki jangkung itu melepas kaosnya, ia berusaha menjaga privasi dari sang pemilik apartemen. Mengambil sebuah hoodie kelabu dan juga jeans biru pudar dari dalam kopernya, ia akan memakainya secepat mungkin dan berharap ia bisa membuat roti bakar yang secara kebetulan di lihatnya kemarin.
Dengan cekatan, ia mengambil dua sisir roti, memasukkannya dalam teflon ketika tidak menemukan pemanggang kemudian secepat kilat berlari menuju kamar mandi.
"Baek, apa kau membakar dapurku?" teriakan Chanyeol menggema, ditambah ketukan brutal dari luar. Baekhyun menepuk jidatnya melupakan jika ia telah menyiapkan roti dan malah meninggalkannya, "Sial! Tunggu sebentar."
"Maafkan aku Chanyeol, aku pikir tidak akan matang secepat ini. Jadi aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dahulu," ucapnya menjelaskan, "dan malah aku membuatnya gosong."
Baekhyun menatap miris pada dua lembar roti dengan warna hitam disisi bawah dan kecoklatan di atasnya. Pasti sangat pahit dan yang tentu tidak layak makan.
"Ya Tuhan, tidak perlu melakukan apapun jika kau tidak bisa. Jika aku tidak datang, aku pastikan kau membakar apartemenku."
"Aku tidak akan melakukan apapun mulai sekarang," Baekhyun mengangkat kedua tangannya menyerah. Memelas pada Chanyeol yang memberinya tatapan kesal.
"Aku tidak akan membiarkanmu masuk dapur."
Pagi itu Baekhyun diseret paksa, tanpa sepeserpun uang juga ponsel ditangan.
UNTITLE CHAP 5
Selesai sarapan, Chanyeol mengatar Baekhyun yang mengomel. Mereka barulah mengenal belum lama namun seperti seorang teman yang telah bertahun-tahun bersama dan bertengkar karena masalah makanan.
"Kau menyeratku tanpa ponsel dan dompetku!"
"Ayolah, aku juga sudah cukup terlambat. Jam berapa kau akan pulang, aku akan menjemputmu."
Baekhyun melipat kedua tangannya, "berikan aku uang. Aku bisa naik taksi."
"Tidak bisa, aku tidak membawa uang cash," balas Chanyeol tanpa menoleh, mereka telah sampai di universitas Baekhyun. "Jam berapa kau pulang?"
"Setelah makan siang."
"Keluarlah, aku akan menjemputmu."
"Apa?! Hei –"
Tok tok
Keduanya menoleh, seorang satpam mengetuk jendela samping Baekhyun menyuruhnya untuk membuka jendela.
"Bisakah kalian segera parkir? Apa kalian tidak melihat deretan mobil dibelakang sana?"
Deretan mobil yang tidak sedikit mengantri di belakang chanyeol. Serentak membunyikan klakson saat chanyeol membuka kaca mobilnya dan sedikit melongok keluar.
"Oh, maafkan aku. Aku akan segera turun," ucap Baekhyun menyesal. Sekilas ia melihat Jongdae sedang berjalan dengan Xiumin menuju kelasnya. Berencana secepatnya menyusul dan keluar dari mobil.
"Aku akan menjemputmu, Dear. Tunggu aku."
"Ck."
UNTITLE CHAP 5
"Byun Baekhyun?"
Baekhyun mendongak. Seorang lelaki tinggi berkulit putih dengan kemeja rapi berjas berdiri di samping meja. Menampilkan senyum ramah penuh persahabatan. Lain dengan Baekhyun yang rasanya menerima beban dipundak dalam jumlah ratusan.
"Ya, aku Byun Baekhyun. Silahkan duduk."
Kursi didepannya telah terisi. Berbekal uang pinjaman dari Jongdae yang cukup untuk memesan dua porsi makanan, Baekhyun memilih La Vie, selain dekat dengan area kampus juga harganya yang cukup bersahabat dengan kantongnya.
"Perkenalkan aku Oh Sehun, dan sepertinya kau lebih muda dariku. Kau boleh memanggilku hyung, dan Jongin yang menyuruhku untuk menemuimu jika kau bertanya," ucap Sehun setelah duduk. Ia tersenyum tipis sekali. Melepaskan jasnya kemudian menggulung kemejanya sampai siku dihadapan Baekhyun yang menatap kikuk.
Sangat to the point.
"Baiklah hyung. Aku sudah mendengarnya dari Jongin hyung."
Rambut cokelat muda dengan kemeja biru membalut tubuh tegap itu erat. Sangat berwibawa dengan wajah datar mengintimidasi yang seolah selalu menatap bosan. Matanya memancarkan ketenangan yang sulit diketahui.
"Kau sangat cantik, lebih dari foto yang diberikan Jongin."
"Hyungku memberikanmu fotoku?" tanya Baekhyun tak percaya, ia menggeleng pelan dengan kelakukan kakaknya yang amat melebihi batas. Ia sangat penasaran dengan alasan dibalik Jongin yang mendesaknya segera menikah. "Dia benar-benar gila."
"Ya, hanya fotomu bersama Jongin. Dan kau terlihat manis sekali," ucap Sehun memuji, ia mengerling pada Baekhyun yang menunduk memalu. Dia terlalu banyak memuji.
"Kalian berada di kantor yang sama?"
"Ya, dia adalah anak buahku. Namun aku mengenalnya dengan baik, ia adalah teman kuliahku dulu. Mungkin kau lupa tapi kita pernah bertemu dulu, Baek."
"Maaf, aku sama sekali tak mengingatnya," sahut Baekhyun, menatap dengan penyesalan.
"Tak masalah, kau masih lumayan kecil saat itu."
Suasana La Vie hari itu cukup lenggang. Tak banyak mahasiswa juga pegawai kantor yang berseliweran di depannya. Padahal biasanya La Vie sangat ramai, dengan konsepnya yang membuat pelanggan betah duduk disana.
"Aku harap kau setuju untuk berkencan denganku."
"Ah, aku belum bisa memutuskannya. Kau harus tahu jika usia ku masih 22 tahun dan aku belum berencana untuk menjalin hubungan yang serius."
"Aku 27 tahun. Berencana menikah diumur 30 tahun, Aku juga masih cukup muda, jika aku telah menemukan seseorang yang cocok, aku tidak akan keberatan untuk menikah sekarang," seorang pelayan yang mengatar makanan kemeja mereka segera berlalu, "dan aku pikir aku telah menemukannya."
Mendadak Baekhyun merinding, apalagi dengan senyum yang terukir dari wajah kaku didepannya. Menatap Baekhyun lurus.
"Aku –"
"Baekhyun?"
Ah, kali seseorang dari Park datang di waktu yang tepat.
Bersambung –
Note Chapter 5 :
Terimakasih untuk semua yang baca ini. Aku update cepet nih, apakah ada yang nungguin? Semua saran kalian akan aku pertimbangkan tanpa mengubah inti dari cerita. Untuk yang minta panjangin wordnya, kayaknya susah deh, suka mentok kalo word udah seribuan dan pas ceritanya buat di potong. Aku tambah semangat karena review dari kalian semua, semua follow juga favorit terimakasih. Btw, Kalian tim yang mana? Chanbaek apa hunbaek nih?
Thank's.
