UNTITLE

Wiell

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.

Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.

[CHANBAEK]

.


Chanyeol datang lima belas menit sebelum pukul dua, tapi tak juga menemukan Baekhyun diantara banyaknya mahasiswa di pelataran kampus. Namun seorang lelaki kurus dengan rambut ikal cukup diingatnya, lelaki yang dilihatnya ketika ia ke rumah Baekhyun untuk kali pertama. Tanpa lama Chanyeol memutuskan untuk keluar, menanyakan dengan jelas tentang Baekhyun pada satu-satunya sang teman yang diketahuinya.

"Permisi, apa kau temannya Baekhyun?"

Tiga orang menoleh, menatap Chanyeol bertanya karena mengintrupsi percakapan mereka, "Ya, ada yang bisa ku bantu?"

"Apa kalian tahu Baekhyun kemana? Aku sudah berjanji untuk menjemputnya sejak pukul 2 dan telah lewat lima belas menit."

"Ah, dia ada janji dengan seseorang. Kau bisa menemuinya di La Vie. Dia tidak membawa ponselnya, dia bilang seseorang menyita ponselnya," ucap Xiumin,

Chanyeol tersenyum kikuk, bukan tanpa sengaja sebenarnya. "Baiklah, terimakasih. Aku akan menyusulnya."

Chanyeol berniat menjauh, tapi cengkraman ditangannya membuat ia mengurungkan niatnya, "Maaf?"

"Tapi siapa kau?"

Bingung antara harus jujur atau berbohong. Tidak mungkin jika ia mengatakan yang sejujurnya ketika mengingat Hyeri belajar ditempat yang sama dengan Baekhyun. Gadis kecil itu akan mengadukan pada Ibunya dan menambah cerita yang nantinya akan membuat lebih banyak masalah.

"Aku kekasihnya."


UNTITLE CHAP 6


Saat Chanyeol masuk, matanya langsung terpaku di sudut ruangan. Seorang lelaki tampak duduk didepan Baekhyun. Apakah mungkin itu kakaknya? Tapi sepertinya bukan mereka tak tampak mirip. Tidak mungkin juga jika lelaki itu adalah temannya karena ia bisa melihat dengan jelas jenis pakaian yang dikenakan lawan bicara Baekhyun.

"Baekhyun."

Dengan jelas Chanyeol melihatnya berjengit terkejut. Terlihat seperti ia memergoki kekasihnya berselingkuh.

"Chanyeol? Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Baekhyun bingung. Menatap sekilas pada Sehun didepannya.

"Menjemputmu. Bukankah aku sudah mengatakannya pagi tadi."

"Ah, aku lupa. Duduklah."

Baekhyun menepuk kursi disebelahnya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan dua pria itu. Ia kembali meneguk minuman dihadapannya. Menyenggol keras Chanyeol saat lelaki itu merangkulnya dengan erat yang entah apa tujuannya.

"Siapa Baekhyun?" tanya sehun duluan. Menatap tak suka pada seorang lelaki yang merangkul bebas bahu Baekhyun.

"Dia adalah –" ucapan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol mengulurkan tangannya pada sehun. Ia menghela napasnya keras.

"Kekasih Baekhyun. Perkenalkan aku Park Chanyeol."

Baekhyun melotot. Ia menatap Chanyeol menghakimi. Mereka tak pernah berencana saling memperkenalkan diri sebagai kekasih satu sama lain dan bukankah artinya mereka saling mencampuri urusan satu dengan lainnya?

"Kekasih? Tapi aku dengar jika Baekhyun belum memilikinya."

Baekhyun memejamkan matanya, emosinya nyaris meledak.

"Benarkah? Mungkin kau salah dengar karena Baekhyun sudah punya kekasih, jadi lebih baik kau mundur kalau ingin berjuang merebut hatinya."

"Sehun, maaf. Tapi sepertinya aku harus pergi duluan," ucap Baekhyun setengah hati. Sejujurnya ia sangat bersyukur Tuhan mengirim Chanyeol untuk datang dan menyelamatkannya dari predator macam sehun. Entahlah, Baekhyun hanya tak suka melihatnya seperti kau sangat tidak menyukai orang walaupun itu adalah kali pertama kalian bertemu.

"Kau berhutang penjelasan padaku," bisik Chanyeol samar ketika mereka melewati pintu keluar. Lelaki tinggi itu masih mengikuti Baekhyun dan menariknya menuju mobil putih yang terparkir tak jauh dari mereka.

"Aku tidak berhutang apapun."

"Ya, kau berhutang banyak."

"Kenapa kau tiba-tiba bilang kalau kau adalah kekasihku?"

"Karena itu adalah kenyataannya, dear."

Mereka memasuki moil Chanyeol dengan Baekhyun yang merengut tak suka. Sebenarnya ia cukup senang karena Chanyeol datang dan sekarang ia harus memikirkan cara agar sehun tidak membuka mulutnya tentang Chanyeol. Jika itu terjadi mungkin jongin akan semakin keras mendesaknya menikah.

"Aku lapar."

"Aku pusing."

"Ya ya, apa aku mengacaukan rencanamu? Kau akan berkencan dengan lelaki tua itu?"

"Mungkin ya atau tidak, aku tidak tahu. Hanya saja kepalaku akan semakin pusing," keluh Baekhyun kembali, mana mungkin ia tak pusing ketika didesak menikah diumurnya yang muda.

Chanyeol mengangguk santai. Ia tak paham dengan urusan Baekhyun karena si mungil tak mengatakan apapun. Ia pun tak ingin bertanya sebelum dituduh mencampuri urusan. Ah, ia kelaparan dan tiba-tiba sangat rindu dengan ibunya. Sup ayam buatan ibunya sangatlah enak dan Chanyeol selalu rindu dengan masakan itu. Tanpa pemberitahuan ia memutar kemudi, membawanya pada rumah sang ibu yang ditempuhnya dalam 1 jam perjalanan.

"Dimana ini?" tanya Baekhyun sejam kemudian, ia menatap sekitar dan tampak asing dengan lingkungan sekitar dan yang jelas ini bukan arah menuju apartement. Ia sempat tertidur dan ia tak tahu ada dimana.

"Kita akan mampir kerumah Ibuku, tiba-tiba aku sangat ingin makan sup ayam."

"Sup ayam?"

"Hm, sebentar lagi kita akan sampai. Tidurlah lagi."

Bukannya tidur seperti permintaan Chanyeol, ia malah merapikan duduknya. Mengambil cermin yang biasa disimpannya di saku samping tasnya. Merapikan rambutnya yang acak-acakkan dan memoles sedikit lip balm beraroma strawbery yang membuat Chanyeol diam-diam melirik gemas. Apalagi saat jemari lentik itu memoles dengan sangat lihat. Pikirannya menerawang tentang bagaimana perpaduan antara bibir Baekhyun dan lip balmnya, apakah akan sangat candu?

Pikirannya sangat kotor. Hingga bayangan ciuman tempo lalu kembali terulang. Telinganya memerah tanpa bisa dicegah.

"Kau baik?"

"Ya, kenapa?

"Wajahmu agak merah. Ku pikir kau demam," Baekhyun mengendikkan bahunya acuh.

Menatap jalanan yang kosong dengan pikiran tak tentu. Apa tujuannya tetap duduk diam disini dengan Chanyeol yang baru dikenalnya tak lama dan bersedia menjadi kekasih palsunya, Baekhyun benar tak tahu bagaimana otak dan hatinya bekerja tak seirama dan berakhir membuatnya pusing. Mungkin nanti ia akan menyesali keputusannya saat ini dan akan sangat kesulitan mengakhir hal yang dimulai tanpa pikiran yang lurus. Ia benar-benar kebingungan.


UNTITLE CHAP 6


Chanyeol mengetuk pintu dengan tak sabar, ia ingin memberi kejutan dengan sebuah pir yang jadi buah kesukaan sang ibu. Tak lama pintu dibuka dan ibunya yang kali pertama terlihat dengan wajah terkejut.

"Baekhyun!"

Nyonya Park memeluk Baekhyun. Membawa lelaki mungil itu masuk lebih dalam dan dengan erat menarik tangannya ke sofa.

"Ibu, apa kau tidak merindukanku?"

"Masuklah Chanyeol. Ini adalah kali pertama kau membawa Baekhyun dan Ibu sangat senang."

"Ayolah, aku juga rindu dengan Ibu dan sup ayam buatan Ibu."

"Ah, baiklah. Ajak Baekhyun beristirahat dan Ibu akan memasakkan untuk kalian."

Ibunya segera pergi kedapur. Ia sangat senang karena banyak guratan bahagia disana. Ibunya adalah ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja dikantor cabang yang dapat ditempuh dalam 15 menit dari rumah sedangkan Chanyeol memilih untuk bekerja dikantor pusat. Hyeri masih kuliah dan merupakan teman seangkatan Baekhyun. Tidak ada orang lain dirumah selain ibunya.

Dan seperti yang dikatakan ibunya, Chanyeol mengajak Baekhyun masuk kekamarnya.

"Kau punya banyak komik rupanya."

Baekhyun berjalan pelan, menyusuri rak berisi banyak komik One Piece yang tertata rapi disudut ruangan. Sedangkan Chanyeol, lelaki itu berbaring di ranjang dengan kedua tangan sebagai pengganti bantal. Memejamkan mata dan menikmati suasana kamarnya.

"Aku sangat menyukainya."

Baekhyun membawa beberapa series One Piece, ia berencana meminjamnya untuk dibaca. Mendudukan tubuh disamping Chanyeol dengan bersandar pada ranjang.

"Apa aku mengijinkanmu mengambilnya?"

Baekhyun memutar bola matanya malas, ia kembali menutup kasar bukunya, "kenapa kau pelit sekali, lagipula aku tak akan merusakkannya."

Chanyeol bangun dan naik, mendekat pada Baekhyun dan bersandar pada kepala ranjang yang sama, "aku akan mengawasimu supaya kau tidak merusakkannya."

Kepalanya mendekat, bersandar pada bahu Baekhyun yang sempit. Tak peduli pada Baekhyun yang mendorongnya menjauh, "aku tidak akan macam-macam."

Hingga Baekhyun kesal dan memilih mengabaikannya. Fokusnya hanya pada lembaran buku didepannya bukan pada Chanyeol yang menatap minat pada bibir merah miliknya. Chanyeol masihlah sangat penasaran dengan rasa dari bibir berbalut lip balm itu.

"Baekhyun?"

"Hm."

"Baekhyun."

"Hm"

"Baekhyun?"

"Apa –"

Cup

Matanya membesar, menatap pada Chanyeol yang memejamkan mata dalam jarak sedekat ini. Mengecup bibirnya serta memberi lumatan halus disana. Semakin terbuai ketika lidah itu mengetuk masuk dan mencoba membelai langit mulutnya.

Baekhyun terbuai.

Chanyeol tersenyum senang ketika Baekhyun membalas ciumannya. Perlahan ia bergerak diatasnya, menarik Baekhyun hingga lelaki itu terbaring dibawahnya seraya mengalungkan lengan dilehernya. Menarik komik yang mengganggu dan melempar disudut ranjang. Bibirnya sangat manis dan Chanyeol sungguh tak ingin berhenti, hingga memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka.

Tak lama hingga sebuah pekikan terpaksa membuat mereka harus berhenti, "YA TUHAN!?"


Bersambung –


Note Chapter 6 :

Selamat malam, aku kembali membawa fanfic ini. Aku harap kalian tidak lupa dengan cerita ini, mohon maaf karena aku cukup lama mengupdatenya. Beberapa bulan ini sangat disibukkan dengan skripsian dengan banyak revisi-an dan aku tidak sempat untuk mengupdatenya. Mungkin chapter selanjutnya juga lama tapi ya semoga bisa cepat.

Btw, apa kalian masih ingat tentang Cy yang ngikut Bh ke mtopia? Kobam gak tuh, semua bukti terlalu nyata buat nolaknya. Makin real aja nih :')

Thanks ya yang sudah baca. Aku selalu baca review kalian kok, ini jadi semangat buat aku. Sangat berterimakasih karena mau meninggal review di sini. Aku suka baca bolak balik loh :).

Terluv deh😊