UNTITLE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Apabila kalian melihat yang sama persis mohon beritahu saya.
[CHANBAEK]
Hening.
Begitulah ruangan Chanyeol sejak 10 menit lalu, keempat orang dewasa yang ada di dalamnya lebih memilih menyibukkan diri dengan pikirannya atau sekadar mengecek notifikasi pada ponsel. Sedangkan Baekhyun, lelaki itu menghela napas untuk kesekian kali membuat suasana lebih canggung. Melirik pada Jongin yang masih diam ditempatnya seraya menunduk dalam.
"Jadi, jelaskan padaku!"
"Baekhyun, ini hanya kesalahan kecil. Kau tidak perlu memusingkannya," ucap Jongin menyakinkan. Wajahnya memelas memohon agar Baekhyun mempercayainya. Bagaimanapun hanya ada Baekhyun yang ia punya, kedua orang tuanya telah tiada.
"Chanyeol? Kau harus mengatakan semuanya."
Yang dipanggil hanya diam. Ia juga merasa sungkan pada Baekhyun mengingat Jongin adalah kakak iparnya, "Aku akan mengatakan semuanya padamu." Ia sedikit melirik pada Jongin yang mengintrupsi.
"Baekhyun, aku adalah seorang rentenir di samping pekerjaanku sebagai CEO. Kau ingat saat pernikahan kita, banyak orang dengan pakaian hitam yang datang. Dan ya, itu adalah pegawaiku. Kebetulan beberapa bulan lalu Jongin meminjam uang padaku dan akan masuk jatuh tempo dua hari lagi."
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku dulu?"
"Aku hanya takut kau menghindar kalau aku mengatakannya," ujar Chanyeol. Ia hanya tak ingin membuat Baekhyun tak nyaman dengan statusnya sebagai rentenir, bahkan Ayah dan Ibunya tak ada yang tahu.
"Bukankan kau bekerja hyung?" tanya Baekhyun pada Jongin.
"Perusahaan mengalami krisis keuangan dan banyak pekerja yang mengundurkan diri karena aku tidak bisa menggaji mereka. Aku meminjam uang pada Chanyeol dan jika aku tidak bisa membayarnya hingga jatuh tempo ia akan menyita perusahaan dan barang di rumah."
"Aku menggunakannya untuk membayar beberapa gaji karyawan juga untuk berjudi," ia menunduk, "Aku pikir aku akan menang dan mendapat lebih banyak uang tapi aku selalu kalah dan mengalami kerugian sehingga uangku habis."
"Jadi kau memanfaatkanku dengan mendesak aku menikah? Sehingga kau bisa mendapat uang untuk membayar hutangmu itu?"
"Ya, hanya saja aku terlalu bodoh karena aku jadi ketagihan berjudi."
Baekhyun mendesah tak percaya. Bukankah Jongin sangat bodoh? "kenapa kau tidak mengatakannya padaku dari awal?"
"Aku tidak tahu akan begini jadinya. Aku juga tidak menyangka jika kau akan menikah dengan Chanyeol, itu bahkan tidak ada dalam bayanganku. Ya, aku memang ingin kau menikah agar warisan itu bisa dibagikan dan aku bisa membangun perusahaanku seperti semula," ia menunduk, "aku minta maaf. Aku kakak yang buruk."
Mendengar kalimat itu dari mulut Jongin sendiri membuat Baekhyun marah, menyalahkan kebodohannya karena membuat Baekhyun merasa tak berguna sebagai adik. Bagaimana pun ia masih menghargai Jongin sebagai kakaknya diluar berbagai masalah yang di timbulkan lelaki berkulit tan itu.
"Baiklah, atur pertemuan dengan pengacara dan kita akan membaginya sesuai dengan permintaanmu. Lunasi hutangmu hyung, jangan sampai tersisa."
Baekhyun berdiri, meraih tasnya lalu menjauh menuju pintu keluar, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia mengatakan, "Chanyeol, kita juga harus mengatur pengacara. Aku mau kita bercerai secepatnya."
UNTITLE CHAP 12
Athena kembali kedatangan sang ratu. Malam itu Baekhyun datang lagi, tampil dengan denim juga jeans yang membalut tubuhnya. Hatinya terasa kacau. Apa memang hidupnya hanya akan seperti ini? Sejujurnya Baekhyun ingin hidupnya tenang, ia hanya ingin menjalani kuliahnya dan lulus dengan baik, bekerja di tempat yang disukainya lalu menikah dengan orang yang dicintainya. Tapi sepertinya harapan kecil itu tidak mudah.
Chanyeol tiba-tiba datang, menawarkan pernikahan yang tak pernah terpikirkan. Ia bukan orang yang dicintainya, bahkan ia adalah orang yang tidak dikenalnya. Baekhyun tersenyum miris. Dengan bodoh ia malah menyetujui ajakan pernikahan konyol itu. Ia hanya merasa iba dengan Ibu Chanyeol, bahkan sejak pertama bertemu wanita itu terlihat sangat menyukainya. Pernah beberapa waktu lalu sebelum menikah, wanita paruh baya itu meneleponnya, mengatakan banyak hal pujian juga banyak kalimat harapan lainnya. Lalu Baekhyun bisa apa? Ia tidak sejahat itu untuk melukai hati seorang Ibu. Namun kini Baekhyun malah merasa ia paling jahat, membohonginya. Karena itu mungkin cerai adalah yang terbaik.
Semua akan kembali pada tempatnya.
Perihal Jongin, Baekhyun tentu marah. Sangat marah. Secara tidak langsung Jongin memanfaatkannya. Karena hal itu pula ia gegabah menerima Chanyeol dengan iming-iming permintaan apapun. Apa ia terlalu kekanakan untuk marah? Baekhyun tak peduli.
"Hei cantik!"
Seorang lelaki tinggi berkulit pucat duduk di sampingnya, lengan melingkar melewati bahunya, mengusapnya pelan, "kau sendirian? Dimana pacarmu?"
Baekhyun tertawa, ia membiarkan lengan itu melingkari sekitar bahunya, "aku tidak punya pacar."
Bahkan ia akan bercerai.
"Aku beruntung sekali bertemu dengan bidadari sepertimu."
"Aku lelaki ngomong-ngomong," balasnya sedikit berteriak.
"Ya, kau laki-laki tapi tidak ada yang lebih cantik darimu. Mau turun ke lantai dansa? kau terlihat sedang kacau, aku pikir itu bisa membuatmu lebih baik,…" lelaki itu menggantungkan kalimatnya,
"Baekhyun, kau bisa memanggilku begitu."
"Baekhyun. Dan aku Jaehyun."
"Oke, ayo berdansa hingga pagi, Jaehyun-sii!"
Baekhyun turun lebih dulu, bergabung dengan puluhan orang yang mengoyangkan badan seirama dengan musik. Sedikit banyak ini membuatnya bahagia.
UNTITLE CHAP 12
Ini sudah pukul 11 malam namun Baekhyun belum juga tiba di rumah. Chanyeol menatap ponselnya, barang kali Baekhyun akan mengirim pesan. Mungkin saat ini Baekhyun sedang marah, lebih tepatnya marah pada Chanyeol dan Jongin yang membohonginya. Salahkan juga Chanyeol yang menarik Baekhyun terlibat dalam drama picisan yang di ciptakannya, ia bahkan tak tahu harus bagaimana dengan akhirnya.
Kalau harus berpisah dengan Baekhyun, Chanyeol rasa ia tak rela. Rasanya ia terlanjur nyaman walaupun mereka masih tampak asing, yang Chanyeol tahu hatinya makin jatuh pada sosok manis itu. Perceraian yang diinginkan Baekhyun akan jadi angin lalu, begitulah pikirnya. Bahkan ini belum satu bulan pernikahan. Ia tak akan memprosesnya sebelum mereka bicara berdua. Namun ketika melihat situasi yang sekarang, mungkin ia harus menundanya.
Deruman mobil diluar membuatnya bergegas turun, itu pasti Baekhyun. Namun yang membuatnya membeku adalah sosok lelaki tampan yang tengah menggendong Baekhyun.
"Dimana kamarnya?" tanya lelaki itu, ia tampak tanpa kesulitan menggendong Baekhyun, "maaf, ia minum terlalu banyak dan mabuk. Kau tenang saja aku tidak melakukan hal aneh padanya."
Mungkin Jaehyun menyadari tatapan datar Chanyeol dan ia buru-buru menjelaskan.
"Aku akan membawanya masuk," ucap Chanyeol sembari mengambil alih tubuh Baekhyun. Lelaki itu tertidur lelap dengan aroma alkohol yang menyengat. "Terima kasih banyak telah mengantarnya."
"Tentu, tidak masalah," Chanyeol membalikkan badannya, ia harus segera membersihkan tubuh Baekhyun, hingga ucapan lelaki tinggi itu mengintrupsinya, "Maaf, tapi apakah kau kakak Baekhyun?"
"Aku suaminya."
Bersambung –
Note Chapter 12 :
Aku harap kalian nggak bosan dan masih membaca hingga kini. Maaf, molor banget updatenya :(
Thanks.
