OBSESI SASUKE
THANEA ZWARTE ROOS
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
CHAPTER 3
Sepuluh tahun telah berlalu semenjak peristiwa nahas menimpa Naruto. Hubungan Sasuke dan Naruto lebih seperti kucing dan anjing. Naruto kerap meraba bokongnya, seakan-akan Sasuke akan kembali berulah kapan merobek celana sekolahnya, atau merobek celana olah raganya.
Sasuke hanya bisa mengawasi Naruto dari kejahuan. Menjaganya agar selalu aman dan tidak tersentuh. Naruto mungkin tidak peka, bahwasanya segala tindak tanduknya, berpotensi membuat para seme berpikiran mesum. Kemungkinanterburuknya adalah berniat melecehkannya. Tanpa sepengetahuan Naruto, Sasuke melakukan teror atau ancaman kepada siapapun yang mendekati ataupun didekati oleh Naruto. Semua itu dilakukan untuk menjaga keselamatan Naruto.
.
.
.
Naruto berjalan gontai, dia baru saja di tolak oleh gadis incarannya. Gadis bersurai indigo, pemalu dan selalu tergagap bila terkejut. Hyuuga Hinata,nama gadis tersebut, hanya menganggap Naruto sebagai teman. Terkadang Naruto mengutuk pesona wajahnya, yang terlewat manis. Hingga menimbulkan rasa iri pada kaum hawa.
Padahal makanannya tak ada yang istimewa, dia memakan segalanya. Terutama cake, coklat dan ramen. Makanan yang kerap di hindari atau di benci kaum hawa, karena bisa membuat postur tubuh mereka melebar.
Dia sudah berusaha untuk membentuk otot-otot tubuhnya di gym. Tapi alih-alih punya otot keren dengan perut sixpack, tubuhnya tetap ramping dan sexy.
Dia lebih mirip anak perempuan tomboy, ketimbang pria macho. Dengan kesal, Naruto mengutuk, mengomel dan melampiaskan segala kekecewaannya, pada apa pun yang di temukan oleh matanya.
Menendang kaleng cola, yang tergeletak di jalan,hingga membuatnya harus berurusan dengan preman. Hal itu disebabkan karena kaleng kosong yang baru saja menjadi lampiasan kekesalannya mengenai kepala salah seorang preman.
"Heyyy, Brengsek!" maki salah seorang preman sambil mengelus kepalanya yang terkena kaleng kosong.
Melihat Naruto yang berdiri mematung ketakutan, para preman yang sedikit mabuk dan mesum merasa seolah mendapatkan mainan. Mereka saling melirik, memberi isyarat agar menyeret Naruto ke gang sempit. Seolah mengerti isyarat masing-masing pihak, dua dari preman mendekati Naruto.
Naruto yang merasakan firasat buruk, mencoba kabur dengan meninju salah satu preman. Saat melihat ada cela, Naruto segera melarikan diri. Nahas, dia justru lari ke arah gang yang menuju lahan kosong dengan gedung dan bangunan semi permanen.
"Sial." rutuk Naruto, dengan nafas terengah-engah. Naruto mencoba bersembunyi, namun. para preman itu lebih dulu melihat dan mengepungnya.
"Mau lari ke mana, Manis?" goda preman yang kepalanya terkena kaleng kosong tadi.
"Maaf, aku hanya ada sedikit uang." cicit Naruto. Sungguh Naruto merasa takut melihat tiga orang preman bertubuh besar, mengepungnya.
Naruto pasrah bila dia di rampok, atau kehilangan ponsel canggihnya. Namun Naruto sama sekali tidak tahu, bila para preman yang mengejarnya bukan menginginkan uang atau ponselnya. Namun menginginkan tubuh Naruto yang terlihat menggiurkan. Melihat Naruto dengan lelehan keringat, baju yang basah oleh peluh dan tubuh yang ketakutan. Membuat mereka bertiga makin horny.
"Uang?" tanya preman itu bingung, lalu terkekeh pelan.
"Ahhh, bukan uang Baby. Tapi kau harus memberi kepuasan pada ini," tunjuk salah satu preman ke selangkangannya yang menggelembung.
Naruto hanya menelan ludah, takut, cemas. Sungguh. Dia tidak ingin mengalami pelecehan, seperti ini. Dia normal. Dan dia tidak ingin menjadi bottom, 'tidak' dia tidak rela, kevirginan atau keperjakaannya di renggut oleh pria jelek mesum dan berwajah preman.
Setidaknya, harus seorang top yang tampan bertubuh six-pack. Seperti 'Sasuke' misalnya.
'Aissshh, kenapa malah memikirkan si Teme, sih?' rutuknya jengkel.
"Ta–tapi..." Naruto semakin mengkerut. Mundur, hingga punggungnya menubruk tembok.
"A-aku laki-laki!" tekannya masih berusaha, menyadarkan para preman itu. Bahwasanya dia sama dengan mereka, sama-sama memiliki sesuatu yang menggantung di selangkangan.
Para preman tertawa, terbahak. Merasa konyol dan lucu, mendengar cicitan Naruto. 'Polos dan lugu' pikir mereka.
"Tidak apa-apa. Kami bisexual. Jadi, Gender bukan masalah. Yang penting kepuasan." jawab mereka serempak.
Dengan cepat mereka memegang tangan Naruto yang berusaha melawan, memberontak.
"Tolonggggggg!" teriak Naruto semakin kalap. Takut, apa lagi tubuhnya di banting ke tanah. Kasar. Tidak ada kelembutan sama sekali.
Srettt
Suara seragam tersobek, menampakkan tubuh tan mulus tanpa cacat. Dua buah puting menggoda mereka.
"Wawww, mulus. Bahkan lebih mengoda dari tubuh para bitch di club langganan?" puji sang pemimpin preman.
Wajah mereka semakin mesum, bersemangat menikmati tubuh Naruto. Mereka menjilati dada Naruto, dan berusaha menciumi apa pun yang terjangkau oleh bibir dan lidah mereka.
"Ti–tiiiidakkk, tolonggg ja-jangan" racau Naruto, memohon. Dan berharap ada yang menolongnya.
Saat mendengar suara ziper di turunkan, Naruto semakin ketakutan. Semakin kuat, berusaha melawan.
Brukkk
Pemimpin preman terjatuh saat dia hendak mengulum milik Naruto. Terkejut, dua rekannya melihat seorang remaja memakai Gakuen, menatap mereka dingin dan bengis.
Di tangannya terdapat patahan kayu, mereka mengerang, jengkel. Acara bersenang-senang terganggu.
Dengan kesal mereka membantu bossnya, lalu mengelilingi pemuda berambut raven.
"Sa–sukeee" lirih Naruto dengan wajah penuh air mata dan liur.
Naruto meringkuk, memojokan diri. Memeluk lututnya. Baju seragamnya telah sobek, bahkan celananya pun masih terbuka sampai paha.
Sasuke mengeram marah, dia tidak akan mengampuni ke tiga preman di hadapannya ini. Berani mendekati saja akan dia teror, apalagi menyentuh miliknya.
"Bajingan seperti kalian pantas mati!" ucapnya dingin menusuk, hingga ke tiga preman menggigil ketakutan.
Sorot mata Sasuke seperti seorang psychopath. Dia tidak akan mengampuni mereka bertiga.
Sasuke menganyunkan balok kayu di tangannya, tepat ke arah kepala dan titik vital. Hingga dalam hitungan detik, ketiga preman terjatuh babak belur, bersimbah darah.
Sasuke memang tidak membunuh mereka langsung. Tapi bisa di pastikan mereka akan koma dan menjadi cacat.
Sasuke segera melepaskan seragamnya, memakaikannya ke tubuh Naruto. Merapikan celana Naruto. Lalu kemudian menggendong Naruto ala bridal style.
Naruto hanya pasrah, menenggelamkan wajahnya ke dada Sasuke. Tubuhnya masih menggigil takut. Shock dan trauma.
Sasuke, segera menghubungi supir pribadi keluarganya. Agar menjemput mereka di depan gang. Setelah mobil tiba, Sasuke meminta Kakashi membereskan ketiga preman yang sekarat tak jauh dari mulut gang.
Sasuke segera melajukan mobil menuju, apartemennya. Sasuke sengaja tinggal sendiri, selain untuk memudahkannya ke sekolah. Juga memudahkannya mengawasi Naruto.
Sasuke adalah stalker Naruto. Dia akan mengikuti Naruto pulang dan pergi ke sekolah, bahkan bila Naruto hangout bersama teman-temannya. Maka Sasuke dari kejauhan terus mengawasi Naruto. Hingga Naruto pulang ke rumah.
Saat Naruto di kejar oleh para preman dia sudah tau, tapi Sasuke sengaja membiarkan sedikit agar Naruto hanya percaya padanya saja. Agar Naruto takut dengan laki-laki lain, tapi tidak dengannya.
Agar Naruto mulai menyukainya, menjadikannya sosok pelindung Naruto. Sasuke, menghela nafas. Saat ini dia sedang berbaring memeluk tubuh ramping Naruto. Objek mimpi basahnya, yang sedang meringkuk ketakutan.
Setelah sampai di apartemen, Sasuke segera membersihkan tubuh Naruto, lalu mengobati beberapa memar dan bitemark. Setelah itu, Sasuke memaksa Naruto makan ramen ke sukaannya.
Meminjamkan Naruto piyama tidur yang jelas kebesaran di tubuhnya. Lalu menghibur Naruto. Membisikan kata-kata penenang dan penyemangat. Agar Naruto melupakan semua kejadian siang ini.
Naruto masih terisak, namun tetap memeluk Sasuke, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Hingga dia tertidur karena kelelahan.
.
.
.
TBC
Mohon saran dan kritiknya minna
Salam SasuNaruLovers
Thanea Zwarte Roos
