Aku Benci Sasuke

.

Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki

Romance, Hurt/Comfort

Rate T

OOC, typo, pasaran, tidak jelas, alur maju-mundur cantik, dll

Alternative Universe – YAOI/BL

.

"Enyah kau brengsek!". "Kau pikir karena siapa aku seperti ini?". "Pamer...". "OH! Ya ampun, Sasuke!".

.

Happy Reading!


Bagian 2


Bunyi denting elevator terdengar, lampu lantai menyala di angka lima. Dari sana keluarlah Sasuke yang sudah menenteng mantelnya, menyisakan kaus oblong warna hitam tanpa motif. Ia berjalan melewati lorong yang terdapat pintu-pintu bernomor. Kemudian pria itu berhenti di pintu paling ujung sebelah kanan, bernomor 510.

Memasukkan kode dan menggesekkan kartu, Sasuke masuk kemudian menggantung coat-nya, melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Dicuci tangannya, sekalian wajahnya. Segarnya air menyengat kulit wajahnya yang terlihat lelah. Ia lalu mengelap muka dengan handuk putih dan bercermin.

Memegang pipi membuatnya teringat sesuatu.

"Enyah kau, brengsek!".

Sasuke menghela nafas panjang, ia kemudian berjalan ke pantry, berniat membuat kopi hangat untuk menjernihkan pikirannya. Cangkir putih, satu sachet kopi bubuk, air panas. Sasuke mengaduknya perlahan dan beranjak ke sofa, bersandar di sana sambil memandang kaca jendela yang menampilkan hujan salju ringan.

Pria itu kembali dibuat untuk memikirkan kejadian tadi—dimana ia disebut brengsek untuk kali pertama sampai-sampai kena gampar segala.

Apa benar ia sebrengsek itu? Apa salah kalau dia mengejar orang yang ia cintai? Ia tahu Naruto menyukai orang lain, tapi Naruto belum mengganti statusnya dari single menjadi in relationship. Bukankah itu artinya sah-sah saja baginya untuk dekat-dekat?

Lagipula

"Kau pikir karena siapa aku seperti ini?" ada gumaman terselip saat Sasuke menyesap kopi. Matanya menatap serius ke arah jendela.

.

"Semua ini salah mu,".

.

.


Masih di musim panas periode sekolah menengah atas.

Kemarin Sasuke berpikir kalau ia tertarik pada si Uzumaki muda. Pikirnya juga Naruto adalah orang yang menyenangkan. Mungkin Sasuke terlalu cepat mengambil kesimpulan—jadi Sasuke memutuskan untuk mencari tahu tentang si pirang lebih lanjut lagi. Yah—siapa tahu ia bisa memperluas lingkaran pertemanan?

Mulai dari fisiknya bukan hal yang buruk. Ia punya kesempatan sekarang—kelas seninya kosong, dan dewi fortuna memang ada ternyata—kelas Naruto ada di lapangan olahraga.

Sasuke memaku dua netranya pada sosok yang ia kenal belum sampai seminggu.

Hmm… rambutnya pirang, jabrik dan tidak diatur. Kulitnya kecoklatan, mungkinkah keseringan terhujani sinar matahari siang? Kontras benar dengan kulitnya yang pucat ini.

Matanya biru, seperti langit, atau mungkin kelereng bening warna biru yang sering dimainkan bocah-bocah sekolah dasar. Tapi Sasuke merasa mata itu cocok-cocok saja dengan Naruto. Di pipinya ada garis-garis seperti kumis kucing. Sasuke tidak tahu itu apa, pikirnya mungkin tanda lahir.

Sepengamatannya, tinggi Naruto tidaklah lebih dari miliknya. Lemak-lemak yang melekat di betisnya terlihat pas, otot di lengannya juga tidak kurus—tapi tidak juga kekar.

Pikirnya pula, Naruto mungkin suka pelajaran olahraga. Lihat saja sekarang—tubuhnya begitu lincah menggiring bola basket bersama dengan teman-temannya. Ia terlihat sangat licin, bahkan disaat ia terkena halang oleh badan musuh, lengannya bisa dengan mudah mengoper bola ke kawan satu tim-nya. Ia punya sense of teamwork yang baik, pikir Sasuke.

Dan tim Naruto menang sesuai dugaan Sasuke sebelumnya.

Pemuda pirang itu tersenyum bangga, mungkin karena lemparan terakhirnya lolos begitu mudahnya ke ring—dimana tim lawan kewalahan bahkan hanya untuk menembus pertahanan tim Naruto. Peluit berakhirnya permainan sudah berbunyi semenit lalu, kini giliran tim lain untuk bermain. Si pirang melipir ke pinggir lapangan.

Sasuke berniat menyudahi kegiatan mengamati ini, tapi hati kecilnya berkata jangan beranjak dulu. Dan jarang-jarang Sasuke menuruti kata hati—sungguh, kemudian ia mendapat suguhan diluar dugaan.

Si pirang itu—Uzumaki junior—menggunakan bagian bawah kaus olahraganya untuk menyeka keringat di dahi.

Ah,

"Pamer…" lirih Sasuke tanpa sadar. Dan tanpa ia ketahui pula, wajahnya menjadi pink karena melihat perut rata kecoklatan milik Naruto. Harusnya ia merasa jijik, atau keheranan atau apalah. Kenapa ia malah meneguk ludah seolah menahan nafsu?

Apa aku ganti haluan?

Sasuke minggat dari koridor. Udahan.

Ia memilih telungkup seharian di meja. (sampai pelajaran seni selesai).


"Sasuke…?".

"Hei, Uchiha—bangun,".

Ia bisa melihat Naruto dan Gaara, ada Neji juga yang berdiri di depannya. Bingung ada apa gerangan Neji ada di mejanya (apalagi si kuning dan si merah yang jelas-jelas beda kelas dengan Sasuke).

"Neji?" balasnya gagap karena kaget dari tidur. Sial, ia kebablasan! Jam berapa ini?

"Kenapa masih tidur? Sudah jam empat! Bisa-bisanya kau betah di meja begitu," kata Neji dengan alis kebingungan. Gaara memandang Sasuke keheranan, begitu pula dengan Naruto. "Ayo pulang," ajak Neji sambil menyeret pergelangan Sasuke.

Pemuda pucat itu terkejut karena mendapati kelasnya kosong. Hanya ada mereka berempat saja (aslinya sih sendirian, kalau Neji tidak kembali ke kelas bersama dengan Naruto dan Gaara). "Kalian mengapa masih di sini?" tanya Sasuke saat berjalan di lorong. "Aku dan Gaara sih… ada kegiatan klub," Neji menjawab. Lalu lirikannya pindah dari Sasuke ke arah Naruto. "Sementara si pirang ini…" ia menggantung nada kalimatnya. Sasuke menanti-nanti apa yang ingin Neji ucapkan.

"Katanya ingin pulang bersama mu,".

"Hah?" tentu aja Sasuke kaget. Naruto juga sama.

"Bu-Bukan begitu—maksudnya, kita kan sama-sama naik sepeda jadi… kenapa tidak bareng—gitu," ralat Naruto cepat dengan nada gagap. Ia melirik Sasuke yang tampaknya masih belum menangkap kalimatnya. Naruto menghela nafas.

"Lumayan kan—ada teman ngobrol," ia berdalih sambil garuk-garuk pipi dan menghindari kontak mata dengan Sasuke. Terukir juga senyum kecil di bibinya.

Sasuke memandang Naruto mau tak mau. Ia bisa lihat kalau pemuda itu malu—malu untuk mengakui kalau ia menunggunya hanya untuk pulang beriringan dengan sepeda.

Sasuke ketawa. Imut banget, batinnya bersorak.

"Hah—kau kenapa, Uchiha?" sahut Neji keheranan, agak khawatir dengan kawannya yang tiba-tiba bertingkah tidak biasa—takutnya kerasukan karena sekolah nyaris kosong. Setahunya, Sasuke itu susah tertawa. Jangankan tertawa—senyum saja dihemat-hemat.

.

.

"Lain kali kau harusnya tegur saja aku," kata Sasuke saat di parkiran sepeda. Naruto berkata, "Tapi aku tidak tega membangunkan mu, sepertinya kelihatan sangat capek," jawab Naruto. Tangannya menaruh tas di keranjang depan lalu menyentuh stang dan menuntun sepedanya sejenak.

Sasuke tertegun mendengar jawaban Naruto. Agak konyol dan basi—tapi Sasuke menganggap itu lucu. Jadi ia cekikikan sendiri sambil menuntun sepeda.

Naruto dan sepeda jingganya melaju di depan Sasuke. Mereka ada di trotoar yang belum ramai, dan kemeja serta rambut Naruto berkibar melawan angin sepoi sore yang sejuk. Sasuke menemukan keindahan di sana—apalagi saat ia berhasil menyamai laju sepedanya dengan si pirang. Matanya penuh dengan sosok yang kini tengah tersenyum-senyum menikmati perjalanan.

Sasuke berpikir mungkin ia memang sudah belok dari awal—apalagi sejak insiden tabrak lari di pertemuan tangga. Apakah benturan itu menyebabkan ia salah dalam berpikir?

Ia rasa tidak.

"Hei, Naruto…" Sasuke memanggil. Mereka berjarak 100 meter dari perempatan yang akan memisahkan. "Hm?" Naruto menyahut, matanya masih fokus ke trotoar.

Menilik lagi kalau pemuda itu menunggunya hanya untuk pulang bersama... Apa ia sengaja memberi Sasuke harapan? Bolehkah ia berpikir kalau Naruto membuka peluang bagi dirinya?

Diam sebentar sebelum Sasuke bertanya kembali, "Apa aku ini…teman mu?". Pertanyaan sekelas anak SD. Memang, Sasuke tahu ini payah banget.

Ia melihat Naruto yang melongo. Reaksinya sungguh diluar perkiraan. "Hah?" balas Naruto keras. Kemudian ia tertawa dengan mulut lebar-lebar seolah itu merupakan punch line dari sebuah acara komedi. Tinggal Sasuke yang bingung sendiri—kenapa gerangan si Uzumaki pemuda terbahak seperti itu.

"Aduh, kau ini…" mata birunya itu, ia sejenak beradu tatap dengan netra onyx Sasuke—sebelum akhirnya kembali ke jalanan. "Tidak perlu bertanya pun kita kan sudah berteman!" kata Naruto dengan senyum yang lebar.

Oh… Sasuke kembali terpesona.

"Sudah ya, Sasuke! Sampai jumpa besok!" Naruto kemudian belok ke kanan perempatan sama seperti kemarin. Meninggalkan Sasuke yang masih diam di sana, dengan aroma sisa matahari yang terbawa angin hingga Sasuke bisa mengendusnya—bahkan setelah pemuda itu mengayuh lebih jauh dari sebelumnya.


Kupikir terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Tidak mungkin hanya dua hari cinta akan tumbuh. Mustahil untuk Uchiha seperti ku. Lagi—aku memutuskan untuk cari tahu.


"Hei, Sasuke," Naruto menyapa Sasuke yang duduk tenang di kursi dekat lapangan. Tak sengaja Naruto menangkap Sasuke terduduk dengan tenang sambil membaca. Dari pada penasaran, mending tanya-tanya.

Tapi belum juga nanya, pirang satu itu heboh sendiri.

"OH! Ya ampun Sasuke!" layaknya ibu-ibu melihat anaknya ngebut dengan motor matic. Si Uchiha muda yang lagi enak-enak baca, terpaksa urung untuk meladeni Naruto yang tidak diundang. "Hn?".

"Kau juga baca Tanaka*?" serunya sambil menunjuk komik hitam putih yang tengah Sasuke baca. Sasuke tidak langsung menjawab. Ia masih belum terima kalau ia diganggu (tapi ia gagal jengkel karena yang interupsi adalah Naruto). Sasuke mengamati Naruto sejenak.

Gila, baru kali pertama ia melihat binar mata Naruto seterang itu. Benar-benar berkilau. Yah, untuk komik di tangannya, sih. Penonton pun kecewa.

"Kau sendiri?" Sasuke malah balik tanya—setelah sekian lama berpikir. Naruto mengangguk-angguk. "Ceritanya terlalu kocak untuk dilewatkan," jawabnya kemudian, sambil ketawa tertahan. "Aku tidak tahu kalau kau suka hal-hal seperti ini!" kata si pirang lagi. Ia kemudian menyamankan duduknya di sebelah Sasuke.

Sasuke melipat halaman komiknya lalu menutupnya. "Kau juga?".

Mantap pula Uzumaki itu mengangguk. "Aku sudah buta karena mereka," jawabnya hiperbola. Mau tak mau ganti Sasuke yang ketawa.

Naruto akhirnya bercerita. Panjang kali lebar sama dengan luas—begitu banyak yang ia ceritakan pada Sasuke. Si rambut ayam itu tetap sabar mendengarkan. Sambil tersenyum sesekali—tidak tahan dengan mimik pemuda pirang yang begitu lucu di matanya.

Suaranya berisik, tapi Sasuke tidak merasa terganggu sama sekali. Begitu ekspresif, bertolak belakang dengan dirinya. Sasuke masih heran kenapa dirinya merasa nyaman walau harusnya ia berpikir kalau Naruto adalah gangguan.

Ia malah ingin lebih. Sasuke ingin lebih tau tentang Naruto, ingin mendengar suaranya lebih lama lagi. Oh ya—Sasuke tahu.

"Bagaimana kalau kita bertukar nomor saja?". Modus lama para lelaki pada gadis-gadis muda. (Sasuke tidak percaya ia akan memakai metode ini kepada seorang laki-laki).

"Kau bisa cerita sepuasnya di LINE," kata Sasuke lagi. "Benarkah? Apa kau tidak merasa terganggu?".

Sasuke menggeleng. Ia merogoh kantong dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Kau bisa menulisnya disini," ia menyerahkan ponselnya pada si pirang, lalu Naruto menerimanya dengan riang sambil menyentuh-nyentuh layar.

"Senangnya, ada teman untuk berbagi!" kata Naruto riang. Ia memberikan kembali ponsel Sasuke. Tangan kanan Sasuke menerimanya kembali. dengan hati yang tersenyum lebih lebar dari yang Naruto punya.


.

.

Naruto Uzumaki

+81-38720947

[call]. [text].

Sasuke duduk di sofa, masih dengan kopi yang sisa setengah dan hujan salju yang masih saja turun padahal malam nyaris larut. Layar ponselnya belum diganti-ganti sejak sepuluh menit lalu, masih menampakkan kontak Naruto yang dulu ia peroleh di SMA.

Nomornya belum ganti bahkan setelah 10 tahun terlewat. (Inilah yang Sasuke syukuri, karena ini merupakan penghubung mereka satu-satunya).

Pria itu tengah mencoba untuk bicara dengan Naruto. Kalau tatapan langsung tidak bisa, lewat telepon pun ia jabani.

Ikon telepon hijau ia sentuh,

Calling: Naruto Uzumaki.

Ia mencoba untuk membuka percakapan dengan Naruto. Yah—belum diputuskan secara matang ia akan bicara apa. Tapi say hello pun ia tak keberatan. Mungkin minta maaf juga, pokoknya ia akan mencoba untuk bicara!

Setengah menit lewat ponsel itu menempel di telinga kiri Sasuke, tapi nomor yang dituju tak kunjung menjawab. Pikirnya, mungkin Naruto sudah tidur?

Diliriknya jam digital handphone, pukul 11.15. Memang jam orang-orang untuk rehat malam.

Ah, mencoba lagi tak masalah kan?

Setelah tak terjawab satu kali, Sasuke menelpon lagi. Ia menunggu di tempat yang sama, masih di telinga kiri, dan 20 detik berlalu. Nada sambung masih berdering. Hingga detik ke-22, tak terdengar apapun lagi dari ponselnya.

Sasuke tahu ini—Naruto baru saja menolak panggilannya. Oh, pikir Sasuke. Setelah kena reject di jalan, sekarang di telepon genggam? Gila gila gila.

Lagi, Sasuke tetap gigih mencoba.

Sekali lagi ia menelpon Naruto. Ia menunggu, dan tak lama suara terdengar. Perempuan.

The number you are calling is not answering. Please try again later.

Sialan—malah operator yang menyahut. Kesal, Sasuke memutus panggilan dan mematikan ponsel.

Bingung kepalanya. Telepon tidak diangkat, kemudian di-reject, dan sekarang Naruto tidak bisa dihubungi? Dia harus berbuat apa?

Lama kelamaan Sasuke juga tidak mengerti—sebenarnya hal apa yang telah membuat adanya jarak diantara mereka seperti sekarang. Padahal kalau Sasuke boleh bernostalgia, mereka tidaklah seperti ini.

Dulu mereka tidak begini.

.

Kita tidak begini.

.

.

"Mengapa kita seperti ini, Naruto?".

.

.


Bersambung...


Hai minna-san Ao is back ehehehe. Akhirnya saya kembali yey~ *tebar kembang*

Oke, mau minta maaf dulu *bow* karena lambat banget update ceritanya. Udah gitu singkat pula. Gomen gomen, maafkeun saya. Maafin aja lah ya

Sekedar note: komik Tanaka yang disebut Naruto adalah komik Tanaka-kun Itsumo Kedaruge atau The Sluggish Tanaka (versi Indonesia) karya Nozomi Uda-sensei. Sekedar pinjem aja ehehe, btw Ao suka tuh komiknya! Minna ada yang suka juga?

Tinggalkan review untuk Ao yaa, seperti biasa. Karena Ao menyadari ada banyak kekurangan yang harus Ao tambal (ban kali ditambal?) Okeh.

Doain aja chap berikutnya bisa cepet update yahh...

Sankyuu

AkaiLoveAoi