Aku Benci Sasuke
.
Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki
Romance, Hurt/Comfort
Rate T
OOC, typo, pasaran, tidak jelas, alur maju-mundur cantik, dll
Alternative Universe – YAOI/BL
.
Malam itu cukup membuat amarah Naruto naik ke ubun-ubun. "Apa yang kau lakukan disini?!". Mungkin Uchiha itu sudah gila. —Menunggu, katanya?
Bagian 3
Musim semi, tahun kedua di SMA.
.
.
Sebetulnya—kalender sudah berganti jadi bulan Maret. Nama musim juga sudah ganti dari musim salju ke musim semi. Tapi memang keadaan alam tiada yang bisa memprediksi.
Hari Senin—hari pertama tahun ajaran baru. Suasana dingin masih kental terasa saat Naruto keluar rumah. Angin beku mengalir begitu saja di jemarinya yang tak tertutup sarung tangan. Pikirnya—dengan syal saja sudah cukup untuk membantunya menahan cuaca hari ini.
Tapi kenyataannya, selama di sepeda ia menggigil. "Uwa—dingin sekali!" bibirnya meniup-niup diri supaya hangat. Uap-uap karbon terlihat mengepul dari mulutnya. Syal berkibar melawan arahnya bersepeda. Mungkin harusnya ia bawa mantel hari ini atau penutup telinga untuk mencegah kebekuan dini.
"Pagi Naruto,". Diantara rasa sesal Naruto di musim semi yang dingin, ada sosok disana yang membuatnya sedikit lupa akan hal tersebut. "Sasuke?" ia malah bertanya—tidak menyangka di hari pertama ini akan bertemu dengan pemuda itu.
Uchiha Sasuke berkendara dengan sepeda biru berkeranjang seperti biasanya. Berseragam musim semi lengkap—kemeja, sweater vest, dasi, blazer, dan celana panjang serta sepatu—memakai syal warna abu-abu dan mantel tipis warna abu-abu juga. Sedikit, Naruto iri melihat Sasuke memakai baju hangat—walau tidak dikancingkan.
Dan parahnya lagi, Naruto berpikir bahwa, Wah—Sasuke ternyata tampan… apalagi dengan mantel dan syal yang entah kenapa terlihat matching di matanya.
Tapi sedetik kemudian hal itu ia enyahkan jauh-jauh. Karena demi koin-koin yang mengendap di kolam kuil, atas dasar apa ia bisa berpikir begitu? Oh ayolah—masih pagi di hari pertama sekolah. Jangan gila dulu, Naruto!
"Sebegitu semangatnya kah kau hari ini?" lamunan Naruto pecah oleh teguran Sasuke lagi. Dan gagal paham dialami Naruto kemudian. "Hah?" ujarnya tak mengerti. Alisnya menukik maksimal. Sasuke tergelak. "Ya—tidak biasanya kau berangkat sepagi ini," katanya.
Ya, yang Sasuke ucapkan itu benar. Mereka boleh jadi pulang bersama tiap hari. Namun untuk berangkat sekolah, belum pernah mereka berjanjian atau berjumpa di jalan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah: Naruto yang hobi datang mepet-mepet bel masuk padahal si Uchiha muda itu suka datang di awal waktu.
"Oh, tidak ada alasan khusus sih, hehe…" jawab Naruto kemudian. Secara harfiah memang iya. Naruto bahkan bertanya-tanya apa motivasinya bangun pagi-pagi di musim semi yang masih cukup beku ini.
Si pirang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sekalipun sadar kalau mata Sasuke tiada henti-hentinya mencuri pandang kearahnya. (Tanpa berusaha menabrak pejalan kaki yang lain—hebat juga).
Gerbang sekolah kurang dari semeter lagi, kerumunan murid sudah mulai tampak. Banyak yang ternyata sama seperti Naruto, cuma bermodal syal saat pergi ke sekolah. Anak perempuan rata-rata yang memakai mantel seperti Sasuke.
"Jadi, kau berharap untuk sekelas dengan ku tahun ini?" canda Sasuke saat mereka mengunci sepeda di parkiran. Naruto tertawa. "Bagaimana ya… Entahlah—mungkin tidak tahun ini," ia membalas dengan candaan lagi. Mereka berjalan bersama ke selasar kelas.
"Sasuke, ayo lihat pembagian kelas!" ia menunjuk mading yang sekarang ramai minta ampun. "Kelas dua…" Naruto berhasil nyempil diantara kerumunan. Jemarinya menunjuk deretan kelas dua satu demi satu. "Ah Sasuke! Benar kan ramalan ku? Kita tidak sekelas lagi tahun ini! Sayang sekali," katanya sambil nyengir kuda.
Keduanya kemudian melangkah lebar ke gelanggang olahraga. Disana sudah penuh oleh murid-murid kelas satu yang masih celingukkan mencari barisan kelas masing-masing. Biasa—dan kalian pasti mengerti, tradisi tiap tahun alias upacara untuk anak baru.
Naruto lalu berjumpa kembali dengan Neji dan Gaara yang sudah baris duluan. Pemuda pirang itu langsung menghantam Gaara tanpa ampun. "Hei Sabaku! Kita sekelas lagi, kau tahu?" ia bergelayut manja di pundak Gaara sambil menunjukkan ekspresi senang bukan kepalang. Gaara terlihat tersenyum—walau sedikit—lalu membalas ucapan Naruto, "Iya, aku sudah melihatnya. Mohon bantuannya untuk setahun ke depan ya, Naruto,".
Naruto kemudian merangkul Gaara dan pemuda merah itu juga melakukan hal yang sama.
"Iyuh," umpat Neji tidak tahan—tampak jijik melihat kelakuan Naruto yang tidak pernah normal di matanya, apalagi kalau di kombinasikan dengan Gaara—makin menjadi-jadi. "Dan kenapa aku sekelas lagi dengan mu?" Neji kemudian mendelik tajam ke sebelahnya, tempat dimana Uchiha Sasuke berdiri.
Sasuke mengangkat alis heran, "Oh ya? Sial juga aku sekelas dengan Hyuuga macam kau, LAGI," ia menekan kata paling belakang. Neji mendecih kesal, walau ia tahu si Uchiha itu hanya bercanda.
Kekecewaan sedikit melanda ku saat tahu Naruto tidak berkesempatan untuk satu kelas dengan ku—malah dengan dengan si merah Gaara itu. Tapi entah kenapa hati ku lega—karena kalau aku satu kelas dengannya—mau kemana mata ini menatap? Bisa-bisa nilai Uchiha muda ini anjlok semua karena tak pernah memerhatikan papan tulis.
Beberapa hari telah terlewat sejak upacara untuk murid baru—
"Hah?" Sasuke mengerjapkan mata tak percaya saat menyantap makan siangnya di bangku kelas. Adalah Naruto yang bertanggung jawab membuatnya demikian.
—Itulah yang terjadi.
Datang ke kelas satu menit yang lalu dan bilang, "Sasuke, hari Minggu nanti ayo ke taman untuk hanami!". What? Sasuke syok. Parah. Memucat. Meninggal di tempat.
Kesal dengan Sasuke yang tak kunjung menanggapi, Naruto kemudian menggoyang-goyang bahunya. "Hei-hei! Tenang saja! Aku juga mengajak Neji dan Gaara! Ah—kita tidak usah bawa sepeda. Jangan lupa bawa bekal sendiri! Sasuke? Hei, Sasuke kau dengar aku?".
Sasuke kemudian sadar dari renungan tanpa faedah, lalu ia menatap Naruto yang bersinar-sinar. "Kau yakin mengajakku juga?" tanya Sasuke ragu. Si pirang itu terbahak, "Kenapa tidak? Kau adalah teman ku dan apa salahnya mengajak teman ku sendiri? Sudah ya Sasuke—bel sebentar lagi bunyi. Sampai jumpa hari Minggu!".
Naruto melambaikan tangan, melangkah pergi tanpa merasa dosa sama sekali. Sampai jumpa hari Minggu, katanya?
AAAAAAAAAAAAA. Sasuke tidak kuat. Padahal Naruto bukan mengajaknya kencan—cuma menonton mekarnya sakura dan itu pun tidak hanya berdua!
Sekarang giliran Neji yang baru datang habis bertemu Naruto yang mengajaknya hanami bersama, bingung dan bertanya-tanya—kenapa si Uchiha itu menunduk dengan kepala yang berasap?
"Aneh," Neji buang muka—tak acuh dengan kawan sebangkunya.
Akhirnya—hari Minggu tiba juga. Semua seperti yang diharapkan. Angin sepoi-sepoi, cuaca sangat cerah dengan nyaris tiada potensi untuk hujan hari ini. Benar-benar—tidak sia-sia doa khusyuk Sasuke kemarin di kuil semalaman.
Dan disinilah mereka, taman yang ramai dengan orang-orang yang akan melihat mekarnya bunga sakura. Baik Sasuke, Neji, Gaara dan Naruto tiba secara bersamaan. Puji Tuhan untuk Naruto karena datang tepat waktu. Ia datang dengan wajah bersinar—setidaknya itu yang Sasuke lihat di matanya.
Mereka berjalan bersisian, lalu Naruto bicara, "Baru pertama kali aku melakukan hanami dengan teman-teman ku,". Kepalanya mendongak melihat pohon-pohon, sesekali melihat orang-orang yang tersenyum dan mengobrol dengan ceria.
Neji kemudian menyahut, "Sama. Biasanya aku melakukan ini dengan Hinata dan Hanabi—tapi keduanya sudah punya acara sendiri dan Naruto mengajakku—yah…" ia rasa tak perlu melanjutkan kalimatnya karena kawannya pasti mengerti. Gaara tertawa pelan mendengar ocehan Neji. Sasuke masih diam saja, diam-diam melirik Naruto yang sibuk mencari tempat untuk duduk.
Berkeliling sejenak untuk mencari spot yang nyaman, akhirnya mereka menggelar tikar dan duduk bersila di atasnya. Merupakan tugas dari Gaara Sabaku yang membawa tikar hari ini, yah—salahkan keberuntungannya yang merosot kemarin sehingga kalah dalam suit.
Sesuai dengan instruksi Naruto kemarin, mereka membawa bekal masing-masing. Semuanya tanpa janjian membawa ocha sebagai minuman.
"Apa-apaan kau, ikut-ikut membawa teh kemari!" Naruto menunjuk minuman Neji yang sama persis dengannya. Botol ocha kemasan yang bisa dibeli bahkan di konbini sekalipun. "HAH? Siapa juga yang punya niat samaan dengan mu, pirang?" si laki-laki Hyuuga itu membalas tak terima.
"Dasar rambut setan!". "Pirang duren!". Keduanya saling lempar hinaan.
"Neji, sudahlah," Sasuke melerai keduanya, ia mencuri pandang ke Naruto yang sedang memandang Neji penuh kebencian—yah walau ia tahu kalau itu tidak serius. (Malah terlihat menggemaskan di mata seorang Sasuke Uchiha).
Selesai perkara soal minuman yang samaan, keempatnya serempak membuka tutup bekal masing-masing. Isinya standar—rata-rata membawa nasi, olahan daging dan sayuran. Tapi bagi Neji, Gaara dan Sasuke yang baru melihat bekal Naruto untuk pertama kalinya—isi bento Naruto benar-benar di luar dugaan. Mereka bertiga dibuat melongo.
Dua nasi kepal imut berisi cincangan tuna dan saus mayonnaise pedas terbungkus potongan rumput laut, sate sosis sapi goreng yang diiris bentuk gurita, telur gulung berwarna kuning keemasan sempurna, brokoli tumis dengan wijen hitam dan paprika—dan apa-apaan dengan irisan apel model kelinci itu?
.
.
"BE-BEKAL MU MANIS SEKALI!". Kali ini ketiganya kompak jatuh cinta pada isi dan tatanan bento milik Naruto. Si pirang cuma, "Heh?".
Bunga sakura mulai mekar saat mereka selesai makan. Ada yang terbawa oleh angin yang pelan-pelan bertiup agar menimbulkan kesan dramatis. Ternyata dunia pun turut bermain sandiwara—apa sih.
Naruto sedang khidmat meneguk tehnya, saat sebuah kelopak sakura mendarat di kepalanya.
Sasuke yang melihat itu berinisiatif untuk mengambilnya—sekalian modus padahal.
"Eh, maaf Naruto," tangan pucat Sasuke sudah keduluan hinggap di rambut pirang halus milik Naruto, ia mengambil kelopak sakura itu dan menaruhnya di tanah. "Rambut ku kenapa?" tanya Naruto kemudian, ia mengibas-ngibaskan rambutnya. "Ah, hanya ada kelopak sakura di kepala mu," jawab Sasuke salah tingkah.
"Oh—" Naruto menjawab seadanya, sambil meletakkan kembali botol ocha miliknya. Ia sibuk memandangi pohon-pohon sakura yang kini berubah menjadi merah muda.
Mata Naruto bersinar-sinar melihat the blooming sakura. Ia berdiri dari duduknya dan merentangkan tangannya, seperti anak kecil yang berimajinasi kalau ia sedang terbang.
"Gaara! Ayo sini!".
Angin sejuk musim semi yang berhembus pelan melewati wajahnya, membawa aroma segar kuntum sakura yang sedang bermekaran. Ia tersenyum lebar sambil memutar-mutar badan, terlihat begitu bahagia ada di bawah hujan kelopak sakura.
Gaara tertawa pelan menanggapi Naruto yang terlihat seperti anak-anak saat darmawisata sekolah. Mereka berputar seperti pasangan baru dalam pesta dansa. Neji benar-benar muak melihat dua sahabat idiotnya itu.
Di sisi lain…
Seorang Sasuke berpikir mengenai rangkaian kejadian yang menimpanya belum lama ini. Mereka kenalan belum setahun. Naruto dan dirinya hanya teman saat pulang sekolah saja. Mungkin disaat tertentu mereka memang akrab, sampai melakukan hanami bersama seperti ini. Tapi Sasuke sadar kalau pandangannya pada Naruto telah berganti arah.
Ia senang saat bertukar nomor ponsel dengan Naruto. Ia senang saat tahu ia mempunyai selera komik yang sama dengan si pirang itu. Dan Sasuke ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya, dan kau bisa sebut Sasuke serakah. Tapi inilah perasaannya.
Sasuke akhirnya dapat menyimpulkan sesuatu—ia lebih dari sekedar tahu untuk sadar apa arti dari degupan kencang jantungnya saat ini. Dan ia belum begitu bodoh untuk diperdaya oleh rona hangat di kedua pipinya. Akibat matanya yang sedari tadi terus menerus memperhatikan Naruto yang menari-nari diantara harumnya kelopak sakura—ia tahu. Dan hatinya sudah mantap untuk menyatakan ini.
.
.
Kalau ia, memang jatuh hati pada Uzumaki Naruto.
.
.
Hari ini, musim dingin, Tokyo.
.
.
"Ngghh—ah!" suara erangan pelan disertai desahan lega meluncur dari bibir seorang pria—sebutlah ia Uzumaki Naruto—setelah merenggangkan lengan juga punggungnya yang ia rasa begitu kaku. Bayangkan—ia sudah duduk di bangku ini lebih dari 7 jam, hanya akan bangkit dari sana kalau ia ingin ke kamar mandi. Matanya juga sibuk berkutat dengan kertas dan layar, jemari hanya menekan tombol keyboard atau menulis dengan pensil.
Pegal-pegal melandanya.
Pria itu bangkit dari kursi, kemudian, ia melihat pemandangan yang tidak jauh beda dengan apa yang dialaminya sekarang. "Kiba, aku ingin membeli kopi dulu," katanya dengan suara serak. Kiba, pria lain yang duduk di depannya dengan atmosfer yang nyaris sama hanya mengacungkan jempol tanpa bicara.
Naruto kemudian keluar dari ruangan itu, mengucek mata untuk mengusir kantuk yang sudah melandanya sejak kemarin. Pekerjaan ini memang keparat—apalagi kalau masuk musim dingin. Tapi sayang, ia masih cinta pekerjaannya.
Perlu turun satu lantai untuk menjumpai mesin minuman serba ada di kantor tempatnya bekerja. Ia menaiki elevator dan kemudian langsung melihat pendaran lampu mesin minuman tersebut. Termangu sesaat di depan mesin itu untuk mencari koin receh, ia memasukkan uang 100 yen. Kopi susu hangat menjadi pilihannya.
"Selera mu masih saja sama ya,".
Naruto nyaris meregang nyawa karena tersedak larutan kopi—tapi untung saja itu batal terjadi. Pria itu menoleh ke sebelah kanan, ke sumber suara yang menegurnya tanpa tahu etika.
Padahal ia tahu kalau tidak menoleh adalah pilihan terbaik baginya, tapi Naruto tetap menengok walau ia tahu persis siapa yang menyapanya malam itu.
"Sa—suke?". Ia mencicitkan nama itu bagaikan tikus yang tertangkap kucing.
Si Uchiha muda mengambil koin 100 yen dari kantungnya dan memasukkannya ke mesin minuman. Ditekannya opsi kopi hitam.
TREK. Sasuke membuka kalengnya dan meneguknya tanpa ampun—terlihat seperti unta kehausan.
"Ah…" terdengar desah lega Sasuke saat berhasil menghabiskan isi kaleng itu dalam sekali teguk. Naruto—si pria dengan mata biru itu masih belum percaya dengan apa yang ia dapati malam itu. Alis Naruto kemudian menekuk marah. Emosinya kemudian naik ke kepala.
Ia memaki, "Kau—apa yang kau lakukan disini?!". Sasuke menatap Naruto dengan pandangan dingin. "Menjemput mu?". Tangan kanannya masih memegang kaleng kopi yang telah kosong itu.
Naruto benar-benar tidak tahan untuk tidak menghardik pria di depannya itu—pria yang ia benci sejak lama.
"Apa kau sudah gila?". Sasuke kemudian tersenyum kecil dengan alis yang turun menyendu. Manik onyx miliknya sedikit meredup mendengar hinaan wajar dari pria kesayangannya. "Aku akan menunggu mu," ujar Sasuke.
—Menunggu, katanya? Naruto kemudian melempar senyum sinis.
"Silakan saja—Uchiha. Tunggu aku sesuka mu!" kesal sudah terlanjur menguasai kepalanya ketika ia berkata demikian. Naruto segera enyah dari sana dan ia memilih naik tangga—dari pada menunggu elevator untuk membuka kedua pintunya.
Ia ingin cepat-cepat menghapus Sasuke dari matanya.
.
.
Dengan gerakan kasar, Naruto membanting badan ke kursi kerjanya. Diletakkannya kaleng kopi susu itu, di atas mejanya yang berantakan dengan kertas menghiasi.
"Ugh—" kemudian lenguhan lesu terucap lagi dari bibirnya. Naruto meletakkan kedua telapak tangannya di wajah, berusaha mengusir sosok yang tadi menyapanya dekat mesin kopi agar tak satupun tersisa. Ia menggosok matanya pelan, sambil memijit pelan kelopaknya yang lelah.
Naruto membuka mata kembali dan menatap sekelilingnya. Orang-orang yang satu divisi dengannya pasti tak jauh beda keadaannya. Menyedihkan.
Begitulah julukan untuk para editor komik yang hanya terdiri dari empat orang. Kiba Inuzuka—laki-laki yang tadi duduk di depannya, lalu Shikamaru Nara—rusa pemalas yang selalu pulang cepat tapi entah kenapa kerjaannya selalu beres, ada Rock Lee—pria yang paling gentar dalam menghadapi tekanan kerja dan dirinya sendiri, Naruto Uzumaki.
Disaat divisi lain bisa liburan bahkan mengambil cuti saat musim dingin, rasanya dua hal itu mustahil untuk divisinya yang terkutuk ini. Lantai ini bahkan sudah sepi dari para karyawan. Tersisa hanya orang-orang yang lembur untuk upah yang tak seberapa.
Ia melihat Kiba yang tidur diatas naskah yang sudah diketik rapi, masih ada Lee yang sibuk menelpon komikus yang ditanganinya (padahal ini sudah malam), dan bangku Shikamaru yang kosong. Tuh kan—ia berani jamin kalau orang itu sudah kembali ke rumahnya.
Si pirang berdiri lagi, bosan berlama-lama duduk di balik meja, ia melangkah ke jendela gedung tempatnya bekerja, memandangi Kota Tokyo, kota yang katanya tak pernah tidur. Ia terkekeh, ada benarnya, batinnya. Lihatlah lampu-lampu jalanan yang masih menyala itu, Naruto juga tidak buta untuk melihat orang-orang yang jalan-jalan di trotoar.
"Ya iyalah—" Naruto bergumam. Malam minggu seperti ini siapa yang mau melewatkan? Apalagi di bulan Desember, musim dingin dimana salju turun tipis-tipis—membuat perempuan merona dari balik syalnya dan pria menggenggam tangan dari balik sarung tangannya. Suasanya yang sangat indah untuk mereka yang menyandang status in relationship.
No, bukan untuk Naruto tentunya. Ia hanya terlunta disini—berkutat dengan pekerjaan keparat yang bahkan tak bisa mengijinkannya untuk istirahat. Agh—kenapa Naruto harus mencintai pekerjaan ini?
.
.
Pukul satu dini hari. Bukan waktu yang umum untuk pulang kantor. Tapi beda kenyataannya kalau kau adalah Naruto.
Bahkan ia masih lebih beruntung hari itu, dibandingkan dengan Kiba yang masih harus berjuang melawan kantuk sambil merapikan naskah yang tadi sempat ia jadikan alas tidur. Sekarang naskah itu lecek dan ia mau tak mau harus memperbaikinya.
Naruto keluar dari elevator sudah menggunakan mantel dan syal. Ia menenteng tasnya di tangan sebelah kiri. Saat berjalan di lorong lantai dasar menuju pintu keluar, mendadak terlintas suara di dalam kepalanya.
"Aku akan menunggu mu,". Dan—
—" Silakan saja—Uchiha. Tunggu aku sesuka mu!". ASTAGA. Demi koin-koin di dasar kuil.
Naruto berbalik was-was, mencari-cari sosok Uchiha yang sebenarnya tak ingin dilihatnya. Kalau Sasuke tidak ada, ia akan ambil langkah seribu dan angkat kaki dengan segera. Kalaupun Sasuke masih ada—langkah yang akan ia ambil juga tetap sama!
Masih dengan mata yang awas dengan keadaan sekitar, Naruto melangkah sedikit demi sedikit menuju pintu keluar. Oh—ia tidak menemukan Sasuke. Naruto bersorak dalam hati, dan ini artinya ia bisa pulang sambil mengelus dada.
Saat pintu kaca otomatis itu membuka jalan untuk Naruto pulang, tangan kanan Naruto malah terjebak dalam genggaman orang lain.
—Gawat! Mata biru Naruto terbelalak.
Adalah Sasuke Uchiha yang menahan lengan bawahnya supaya ia berhenti berjalan. Ia menyunggingkan senyum tipis seraya berkata,
"Akhirnya kau pulang juga,
—Naruto,".
Bersambung...
Hai jumpa lagi dengan Ao, minna-san~~ Ao ingin mengucapkan selamat berpuasa bagi kalian yang menjalankan yaa, semoga berkah, aamiin! Eehehe.
Yak, inilah hasil peras otak yang sudah Ao lakukan. Mohon dimaafkeun apabila kurang memuaskan, ada typo dan sebagainya (coba koreksi aja di review hehe)
Seperti biasa Ao akan menunggu komen kalian di review, atau PM terserah saja~ Ao masih belum tahu cerita ini akan ada berapa chapter (ga ada yang tanya). Oh ya, maaf ya soal alur yang maju mundur, Ao lagi demen aja kayak gitu hehe, trus kalo dikasih tanda kayak kurang asik jadi nggak Ao kasih. Tapi sekarang udah Ao tandai dengan latar waktu, semoga membantu!
Sankyuu
AkaiLoveAoi
.
