Aku Benci Sasuke

.

Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki

Romance, Hurt/Comfort

Rate T

OOC, typo, pasaran, tidak jelas, alur maju-mundur cantik, dll

Alternative Universe – YAOI/BL

.

"M-Maaf aku tiba-tiba bilang begini. Tapi—Naruto… apa bisa—kita pacaran?". "Kau—sedang bercanda?".

.


Bagian 4


Naruto membalikkan tubuhnya ke belakang sesaat setelah ia mendengar namanya disebut oleh sosok yang ia tidak ingin ia temui. Tidak kemarin, tidak sekarang, tidak juga nanti!

Didapatinya netra kelam Sasuke, rambut yang mencuat ke belakang dan kulit wajah sepucat salju. Ia melihat pria itu juga mengenakan mantel seperti dirinya, namun tanpa syal melingkari lehernya.

Si pirang melempar sorot marah pada Sasuke, matanya menyipit kesal dan alisnya menukik tajam. Dihempaskannya tangan Sasuke, dengan gerakan kasar dan begitu kencang. "Jangan sentuh aku—brengsek,". Tatapan tajam ia berikan pada si Uchiha muda.

Naruto membenarkan letak syal dan tasnya, ia berniat langsung pergi tanpa harus adu mulut dengan Sasuke terlebih dahulu. Dibukanya kaki lebar-lebar, mengambil langkah sejauh yang ia bisa agar Sasuke tak bisa mengejarnya. Peduli setan dengan hati Sasuke yang kini kembali remuk. Naruto juga bertanya-tanya sendiri, memangnya pria itu punya hati?

Belum melangkah genap tiga kali, ia kembali merasakan cengkraman erat di pergelangan tangannya. Naruto menoleh lagi dan melihat Sasuke yang ada di belakangnya—memegang tangannya dengan kuat. Ya—rasanya terlalu kuat hingga Naruto dibuat meringis karenanya.

Ia menyipitkan mata, "Saki—t—Sasuke!" dan menyeru saat sadar kalau pria itu malah menyeret tubuhnya untuk melangkah bersama. Naruto tidak punya tenaga untuk melepaskan tangannya. Sial—jalanan depan gedung tempat ia kerja lebih sepi dari pada jalan utama. Nyaris tak ada orang yang lalu-lalang. Ia tak bisa teriak minta tolong.

"Sasuke! Hei—Sasuke kau dengar aku? Sasuke—berhenti!" Naruto berteriak tanpa peduli sekitar, ia menggunakan tangan sebelahnya untuk melepaskan jemari Sasuke yang menahan pergelangannya. Pria itu akhirnya berhenti berjalan, ia diam sejenak sementara Naruto sibuk mengatur napas.

Dalam kesempatan itu, Naruto menghempaskan lagi tangan Sasuke. Pria pirang itu berpikir mungkin ia akan meladeni pria itu sebentar. Yah, barang semenit mungkin tak masalah.

"Pulang sana ke rumah mu. Berhenti mengikuti ku," Naruto berujar dengan nada setajam yang ia bisa. Sasuke menoleh dan memandang mata Naruto sendu, "Kenapa?".

Inilah yang Naruto tidak suka dari seorang Sasuke Uchiha. Mengapa ia selalu bertanya 'kenapa' padahal jawabannya sudah sangat jelas? Perlukah ia menjawab ini? Rasanya sudah jutaan kali ia mengatakannya sampai-sampai mulutnya berbuih.

"Kau tidak perlu melakukannya,".

"Lalu apa yang perlu ku lakukan?".

Naruto tertegun, memandang pipi Sasuke yang memerah akibat dingin. Naruto yakin pipinya juga pasti memerah—bukan karena dingin, tapi karena malu. Jujur, ia tak dapat mengatakan hal ini dengan gamblang.

Akhirnya Naruto berkata perlahan, "Berhentilah mengikuti ku," lagi, Naruto tiada bosan untuk memberikan jawaban yang sama—jawaban yang membuat Sasuke terus-menerus dilanda rasa penasaran. Menyuruh dirinya untuk berhenti? Ia pun juga sama bosannya dengan jawaban itu. Tapi Sasuke tidak lelah untuk bertanya,

"Kenapa?". Naruto muak karena lagi-lagi Sasuke bertanya. Ia tak tahan untuk mendecakkan lidah.

"Kenapa kau terus bertanya, dasar sial," Naruto kini kesal setengah mati. Ia mengambil langkah untuk pergi dari sana. Lupakan saja untuk berdialog dengan Sasuke kali ini, tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna baginya. Hanya membuang waktu dan menghabiskan tenaganya yang memang sudah minim dari awal.

"Karena aku ingin tahu," jawab Sasuke dengan uap-uap yang mengepul di depan wajahnya. Ia menatap penuh harap pada punggung Naruto yang sekarang mengadapnya. Tangannya tidak lagi mencegah Naruto untuk pergi. Tentu saja dia ingin tahu. Alasan kenapa Naruto menyuruhnya berhenti.

Apa yang membuatnya harus menyerah?

Sosok pirang itu berhenti saat mendengar kalimat Sasuke. Bergeming sejenak sebelum ia bicara, "Bukankah kau sudah mengerti?" tanpa menoleh sedikit pun pada Sasuke yang masih berdiri di belakangnya. "Tanpa aku bilang pun kau seharusnya mengerti," ia berujar lebih pelan—nyaris mencicit. Perasaannya seperti diaduk-aduk.

Sasuke mengambil dua langkah maju. "Aku tidak akan mengerti kalau kau tidak bicara," katanya, mencoba menyentuh Naruto dengan gerakan selembut yang ia bisa. Ia meraih pergelangan Naruto lagi, mengelusnya dengan pelan dan kemudian menggenggamnya—merasakan betapa hangatnya telapak Naruto saat ini. Ia kemudian merematnya.

Ketika Naruto sadar dengan apa yang Sasuke lakukan, ia tak dapat berbuat apa-apa selain menangis. Kenyataannya, otaknya bertanya-tanya—perintah apa yang diberikannya pada mata makanya ia mengeluarkan air? Dada Naruto juga entah kenapa terasa menyempit, paru-parunya seakan tiris akan oksigen. Ia kesulitan mengambil napas.

"Bodoh—" lirih si pirang. Ah—Naruto menyesalkan kenapa ia harus menangis sekarang, disini dan di dekat pria itu. Dan menyesali dirinya yang begitu bodoh untuk tidak mengatakannya sejak dulu. Mengapa ia bisa lupa?

Punggung Naruto terlihat bergetar, suaranya terdengar seperti isak—dan Sasuke belum tuli untuk menyadari itu. "Naruto…?" ia bingung. Kemudian ia melepas genggaman tangannya, membalik tubuh Naruto yang terlihat pasrah-pasrah saja.

Sasuke mendapati Naruto yang menunduk. "Jangan sentuh aku," Naruto menyingkirkan kedua tangan Sasuke yang memegang bahunya. Pria pirang itu kemudian buka suara, "Baiklah, aku akan mengatakannya,". Kalimat itu membuat Sasuke pasang telinga, matanya tak lepas memandang Naruto yang kini mulai menengadah.

Tapi—sekali lagi—Naruto memperlihatkan raut yang tidak ingin Sasuke lihat. Mungkin Sasuke sudah biasa melihat ekspresi marah dan jutek milik Naruto, namun yang ini belum pernah ia jumpa.

Sasuke melihat mata Naruto yang berkilau terkena cahaya redup lampu jalan, ada air yang mengalir turun di pipinya merah, alisnya berkerut ke tengah dan bibirnya mengulum senyum. Pria berambut hitam itu sejenak terpesona—tapi di satu sisi ia tidak mau melihat wajah itu.

Ia telah membuat Naruto menangis malam itu.

"Karena aku membenci mu, Sasuke,". Suaranya bergetar kedinginan.

Pria berkulit pucat itu tak ingin percaya pada telinganya sekarang. Ia berharap ia tuli. Ia juga berharap ia buta—agar tak dapat membaca gerak bibir dan ekspresi Naruto yang kini berubah seperti orang yang kesakitan.

"Aku benar-benar membenci mu!".

.

.

.


Dan kejadian itu terjadi, Naruto memaki ku, kembali menolak keberadaan ku yang ada di hidupnya. Bahwa ia bilang ia sudah menyukai orang lain—dan ia menyebut ku seorang brengsek, kemudian pulang dengan langkah paling dingin, mengalahkan salju-salju di malam itu.


.

.

.

Musim panas tahun kedua di SMA

.

.

.

"Hah?" Mata Naruto membelalak lebar, terkejut dengan pernyataan Sasuke di tengah perjalanan pulang mereka. Cahaya senja sore yang terlihat indah menjadi saksi bisu dari kejadian itu, peristiwa yang menyebabkan dua sejoli ini menjadi tidak lagi sama keesokan harinya.

Sasuke tidak berniat mengulang apa yang telah membuat pemuda pirang di sampingnya itu bertanya, ia terlalu malu untuk melakukannya. Pipinya bahkan panas sekarang—mungkin saja merah. Ia kembali memandang wajah Naruto yang ini melihatnya dengan tatapan bingung.

"Aku yakin kau mendengarnya," jawab Sasuke pelan. Kedua tangannya masih memegang stang sepeda, Naruto pun juga sama—belum ada dari mereka yang mengendarinya, masih berjalan santai di trotoar. Sasuke sedikit membuang muka dari jalanan, ia bahkan terlalu malu untuk memandang sepeda jingga milik Naruto.

Naruto masih belum bisa percaya. Tepatnya ia tidak mau percaya.

Oke… jadi—

Belum ada lima menit peristiwa itu berlangsung. Layaknya kue bolu yang baru keluar dari panggangan, masih hangat-hangatnya.

Si pirang tidak malu, sama sekali tidak. But he is totally in shock.

Uchiha Sasuke—teman naik sepeda barengnya ini—baru saja bilang, "Aku—suka pada mu,".

Oi—"Aku… suka pada mu,". Gitu.

Dikira bercanda, Naruto menoleh meminta klarifikasi. Tapi demi koin-koin di dasar kuil yang tadi pagi ia kunjungi—Sasuke tak menunjukkan ada unsur dusta di sana. Air mukanya serius, tatapannya tajam seperti biasa—memang—tapi ada bedanya sedikit, agak berkilat layaknya anak kecil. Dan ya ampun, Naruto melihat semburat merah muda tipis di kedua belah pipi Sasuke. Bohong mananya lagi, coba?

Setelah sadar kalau semua itu bukan sekedar guyon, Naruto memalingkan muka, menghindari tatapan Sasuke. .Gila!

Pikiran Naruto mulai lari kemana-mana. Bercabang tak tentu arah sehingga saat Sasuke memanggilnya lagi, ia tidak menoleh—sampai-sampai Sasuke harus menyentuh bahunya.

"Hei—". "Uwaaah!" seperti kena sengat kumis ikan lele, Naruto meloncat menghindar karena kaget. Ia kemudian melihat Sasuke yang raut wajahnya sudah kembali normal. Ya, kembali dengan wajah stoicnya yang biasa. Melihat Naruto yang seperti itu, Sasuke menjadi salah tingkah.

"M-Maaf aku tiba-tiba bilang begini. Tapi—Naruto… apa bisa—kita pacaran?".

Mata Naruto melotot. Keterkejutan benar-benar menguasai tubuhnya sekarang. Pacaran, katanya? Mereka itu laki-laki—sama jenis kelaminnya. Apa Sasuke itu rabun? Jangan-jangan Sasuke hanya bercanda? Iya… Pasti pemuda di sampingnya itu sedang latihan untuk drama! Atau mungkin film singkat garapan klub teater—atau hanya sekedar prank challenge untuk mengisenginya saja.

"Kau—sedang bercanda?" celetuk Naruto. Ekspresi Sasuke terlihat kesal. "Tentu saja tidak," jawabnya. Kini tak ada satupun diantara mereka yang berjalan. Mereka berdua berhenti.

Naruto harus menerima kenyataan kalau Sasuke itu sungguhan—maksudnya—yang Sasuke ucapkan itu bukanlah main-main. Mungkin itu yang Sasuke rasa, tapi Naruto sama sekali tidak berpikir begitu. Ia tidak ingin berpikir kalau Sasuke harus menyukainya.

Naruto memalingkan wajah lagi, merasa tidak enak. Ingin sekali ia menolak Sasuke langsung—tapi nyatanya—ia tak punya keberanian untuk itu. Berpikir apa yang harus ia lakukan kini, Naruto mengulum bibir dan memantapkan hati.

"Ano—Sasuke… aku—aku pulang duluan," tanpa basa-basi ia langsung naik ke sadel, lalu menggenjot pedal sepeda sekencang yang ia bisa—agar Sasuke tak bisa mencegatnya di jalan untuk menagih jawaban pertanyaan yang sama. Ia sampai di perempatan kurang dari lima menit dan belok kearah kanan secepat kilat. Sasuke bahkan belum sempat bernafas saat Naruto meninggalkannya termangu di trotoar itu.

.

.

"Uchiha bego," bertumpu pada stang sepeda, seorang Sasuke menundukkan kepala dalam-dalam sambil merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol mulut.


Sampai di rumah, keringat Naruto mengucur dari berbagai lekuk tubuhnya. Napasnya seperti orang yang habis dikejar hantu. Saat memarkirkan sepeda di halaman, ia mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang terasa tercekat.

Demi koin emas di dasar kolam!

Alis Naruto menukik, menahan gerutuan dan kegelisahan yang sedari tadi ia simpan selama di jalan. Kenyataan bahwa Sasuke menyukainya—membuat Naruto tidak tahu harus pasang wajah apa esok hari kalau saja mereka bertatap muka.

Kemudian Naruto menaruh kedua telapaknya di wajah, mengelap keringat dan menyapu rambutnya ke belakang.

"Agh, sial,".

Keputusan apa yang harus ia ambil? Dia jadi bingung. Sasuke baru saja bilang kalau ia menyukai Naruto. Sasuke baru saja menawarkan diri untuk melepas status jomblo bersama-sama. Sasuke mengajaknya untuk berkencan. Haruskah Naruto menjawab 'ya'? Atau memberikannya penolakan esok hari? Kepalanya pening bukan main.

Pemuda pirang itu lantas membanting tasnya ke lantai kamar, melucuti sendiri kemeja putih yang basah karena keringat, membuka celana hitam miliknya dan menaruh seragamnya di keranjang kotor. Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya sekedar celana boxer pendek warna jingga dengan motif garis-garis hitam. Ia melempar badan ke kasur. Tangannya meraih pengendali AC, menyalakannya dengan suhu terendah agar membantunya mendinginkan kepala.

Setelah merasakan sejuknya hembusan pendingin udara, Naruto kembali berpikir.

Bagaimana Sasuke bisa menaruh perasaan padanya? Sejak kapan ia seperti itu? Jutaan pertanyaan lain muncul begitu saja di kepalanya tanpa terkendali. Rasanya kalau pun bertanya pada Sasuke, pasti tak terjawab semua rasa penasarannya.

"Hah…" Naruto mendesah lelah. Apa pilihannya hanya iya dan tidak? Tidak adakah pilihan ketiga?

Mungkin—jikalau bisa…

Naruto takkan pernah ingin menjawab.

.

.

.

Naruto benar-benar menjalankan niatnya. Ia meneguhkan hati untuk tidak pernah menjawab pertanyaan Sasuke waktu itu. Caranya—menghindar dari segala kemungkinan untuk bertemu dengan Sasuke Uchiha.

Pemuda pirang itu paham kalau itu adalah tindakan pengecut, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau ia menjawab 'ya', ia akan kehilangan sahabatnya. Dan kalau ia menjawab 'tidak', ia pun juga akan kehilangan Sasuke. Jadi Naruto memilih untuk tidak menjawab. (Walau ia belum yakin benar seberapa lama ia bisa menghindar dari pertanyaan itu).

.

.


Naruto menjauh dari ku selama seminggu penuh. Di sekolah pun kami tidak pernah tatap muka. Sepedanya kini terparkir jauh dari sepeda ku, ia juga selalu pulang lebih cepat dari ku atau malah sangat larut sehingga memaksa ku pulang lebih dulu. Aku tidak begitu paham motif Naruto yang sebenarnya—tapi aku bisa memastikan kalau ini semua terjadi sejak pernyataan ku hari itu.


Naruto sedang di kamarnya, mengerjakan tugas rumah di meja belajar sambil mendengarkan lantunan musik dari ponselnya. Kepalanya sesekali manggut-manggut mengikuti dentuman lagu yang mengalir di telinganya, dengan tangan yang tetap fokus untuk menulis.

Ditengah kesibukannya mengerjakan PR, ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Naruto menyadari itu, kemudian membuka pesan tersebut tanpa menduga siapa yang mengirimnya.

.

.

From: Sasuke

Kau sibuk akhir pekan ini?

.

Napas Naruto tertahan sejenak melihat siapa yang mengiriminya pesan. Terakhir kali yang ia ingat, obrolan terakhir mereka adalah sebulan lalu—mengenai komik-komik dan buku yang rekomen untuk dibaca.

.

To: Sasuke

Tidak

.

Jemarinya mengetik balasan dengan cepat. Bukan tanpa alasan Naruto mengetik dengan singkat. Ia ingin menjadi sejutek mungkin agar Sasuke menyerah untuk menyukainya. Kalau Naruto tidak bisa bilang secara terus terang—bukankah ia bisa menunjukkannya lewat tindakan?

Tidak sampai satu menit, pesan balasan datang ke ponselnya.

.

From: Sasuke

Mau ke taman kota hari Minggu?

.

Dugaan Naruto tidak meleset. Kau mungkin boleh melabeli Naruto bodoh dalam hal akademis, tapi Naruto tidak naïf dalam hal seperti ini. Ia belum bisa ditipu dengan gerak-gerik Sasuke di sekolah. Mengikutinya nyaris ke semua tempat, pergi ke kantin sekolah tanpa membeli apa-apa dan menunggunya saat pulang sekolah.

Semua anggota tubuh Sasuke seperti berkata padanya, "Aku ingin bicara,". Tapi mulut brengsek Sasuke entah kenapa selalu terkunci saat mereka bertubruk pandang. Seperti apa Naruto harus bersikap? Toh pemuda onyx itu tak kunjung buka mulut untuk menegurnya.

Kemudian Naruto memilih untuk pura-pura tidak peduli. Pura-pura buta, pura-pura tuli, pura-pura tidak peka.

Pura-pura tidak tahu.

.

To: Sasuke

Aku ingin di rumah

.

Ia menolak lagi. Mudah-mudahan kali ini Sasuke akan berhenti dan menyerah.

.

From: Sasuke

Bagaimana kalau aku ke rumah mu?

.

Pemuda pirang itu memejamkan mata melihat respon Sasuke yang malah membuatnya makin sebal. Ia memijat kening.

.

To: Sasuke

Yasudah, aku akan ke taman.


Minggu benar-benar tiba dan entah mengapa Naruto merasa tidak begitu bersemangat menyambut hari favoritnya itu. Ia berangkat dengan sepeda jingganya yang biasa. Sasuke bilang pukul 9 pun tak apa. Tapi saat Naruto melihat jam di ruang tamu, rasanya jarum pendek itu nyaris menyentuh angka sepuluh. Kemungkinan besar, ia sudah membiarkan Uchiha itu menunggu.

Saat tiba di taman dan mencari Sasuke yang belum kelihatan, Naruto merasa sedikit lega (yang artinya Sasuke tidak menunggunya—mungkin saja orang itu belum datang). Ingin rasanya berbalik pergi dan pulang kembali—tapi begitu menoleh ke belakang, ia mendapati Sasuke dengan kemeja kasual warna biru dongker dengan dua gelas es krim di tangannya.

"Ah, Naruto… Kau datang," katanya, melukis senyuman tipis di bibirnya. Sasuke melangkah maju, mendekat ke arah pemuda yang memakai hoodie warna merah dan celana abu-abu. Ia menyerahkan salah satu gelas es krim itu pada Naruto. Es krim rasa coklat dengan taburan kacang diatasnya. Matanya agak membola, terkejut melihat Sasuke bahkan sempat membelikannya makanan ini.

Sejak kapan Sasuke tahu rasa es krim favorit ku?

"Tebakan beruntung," jawab Sasuke, seolah bisa membaca pikiran Naruto layaknya buku yang terbuka. Si pirang langsung menekuk wajah. "Jadi—apa yang ingin kau bicarakan?".

Mereka mencari tempat kosong untuk pembicaraan yang agak tertutup itu. Keduanya menyendok es krim masing-masing, Sasuke yang pertama kali bertanya, "Kau tahu—kenapa akhir-akhir ini rasanya, kau agak… menjauh dari ku?".

Naruto sudah curiga kalau Sasuke akan membicarakan masalah itu. Ia memang malas sekali menjawabnya, namun sesekali ia harus berhenti melarikan diri dan menghadapi kenyataan. "Tidak apa-apa," ia menjawab dengan nada apatis. Naruto bisa mendengar kalau Sasuke menghela napas, mungkin saja ia tidak puas dengan jawabannya barusan. "Apa karena—penyataan ku yang waktu itu?".

Rasanya Naruto ingin bilang, "Iya memang. Karena mu kita menjadi seperti ini,". Tapi Naruto tidak tega. Sasuke pasti akan sakit hati setelah ia menimpakan kesalahan itu mutlak pada Uchiha muda. Dan ia masih belum ingin kehilangan Sasuke, ia masih butuh Sasuke sebagai sahabat dekatnya. Ia tidak rela kalau Sasuke harus menyukainya—dalam artian romantis seperti ini.

Maka pemuda pirang itu hanya diam, pura-pura sibuk dengan gelas es krimnya. Ia menyendok sesuap es krim ke mulutnya, menjilati sendok itu hingga tandas tak tersisa. Sasuke melihat kalau jakun Naruto naik, lalu turun lagi karena menelan larutan es krim yang telah mencair di mulutnya.

Mendadak dan tanpa disuruh—ibu jari Sasuke mengelus ujung bibir Naruto yang terdapat noda es krim. Naruto menoleh, iris birunya melebar—terkejut akan perbuatan temannya. Sasuke kemudian mengelus bibir itu, mengenyahkan sisa es krim yang menempel di sana dengan gerakan pelan. Jempolnya bisa merasakan bibir merah muda yang lembut, agak basah dan dingin terkena susu yang membeku.

Uzumaki Naruto langsung memerah malu, menyadari kalau hal yang mereka lakukan tak lebih beda dengan adegan komik percintaan yang digandrungi gadis SMP. Dan terlebih lagi—Naruto merasa seperti ia menjadi pihak perempuannya. Tolonglah, dia ini laki-laki.

Naruto masih menatap Sasuke dengan raut tidak percaya. Ia kemudian menghempaskan tangan Sasuke, "A-Apa yang kau lakukan, bodoh?" ujarnya gelagapan.

"Kau—terlihat manis," jawab Sasuke jujur (walau dalam hati ia merutuki mulutnya yang asal bicara).

Jantung Naruto berdebar keras—ia sangat gugup dengan perlakuan Sasuke barusan. Tolong dimaklumi, sejak lahir hingga sekarang, Naruto belum pernah punya pacar! Skinship seperti itu mentok-mentok hanya dengan Gaara—sahabatnya sejak kelas satu SMA—itupun hanya pegang tangan, pegang kaki, bukan bagian-bagian yang seharusnya tidak disentuh oleh laki-laki yang statusnya hanya 'teman'.

Si pirang langsung buang muka, tidak lagi bisa menatap netra kelam Sasuke dengan pandangan yang sama. Ia kini malu untuk melihat mata itu.

Manis—katanya?

.

.

.

Hari itu juga, Naruto mendiskualifikasi Sasuke dari daftar pertemanan. Cara pandang Naruto pada Sasuke telah berubah. Entah apa statusnya… Sasuke bukanlah temannya lagi.


Bersambung...


Jumpa lagi minna-san dengan Ao disini, yeay~ (apa sih). Oke, Ao sudah update nihh, syukur deh bisa cepet ehehehe (kayaknya sih gitu haha). Lagi bisa meres otak jadi yah... gini deh hasilnya. Maaf ya kalo membosankan alur ceritanya, dikit-dikit flashbac dan sebagainya. Tapi ceritanya memang harus gitu sih hehe

Jangan lupa review cerita Ao, agar cerita Ao bisa lebih baik lagi kedepannya!

Sankyuu

AkaiLoveAoi