Aku Benci Sasuke
.
Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki
Romance, Hurt/Comfort
Rate T
OOC, typo, pasaran, tidak jelas, alur maju-mundur cantik, dll
Alternative Universe – YAOI/BL
.
Naruto tiba-tiba dapat telepon. "Jahat sekali. Bisa-bisanya kau lupa pada ku, Na-ru-to?".
.
Bagian 5
.
.
Bagi ku… Sasuke adalah orang yang sangat berharga.
.
.
Momen pertama ia tatap muka dengan Uchiha Sasuke adalah di tangga lantai dua, musim panas tahun pertamanya di SMA. Samar-samar ia melihat wajahnya yang putih, namun ia harus buru-buru pergi karena seorang guru memanggilnya. Ia hanya menegur, minta maaf, lalu minggat tak lama setelahnya.
Tapi takdir mempertemukan mereka kembali esok harinya, setelah Naruto menganggap sosok Sasuke sebagai angin lalu—orang yang mungkin tidak akan dikenalnya. Neji memberitahu perihal Sasuke, soal mereka adalah teman satu TK, kesulitan belajar sejarah—Naruto hari itu berkenalan dengan Sasuke.
Rambut Sasuke mencuat ke belakang—tadinya Naruto ingin mentertawakan model rambut Sasuke yang sangat aneh di matanya. Ada poni di depan dahi dan rambut yang dibiarkan panjang di kedua belah pipi. Kulitnya sepucat salju, sangat kontras dengan miliknya yang sering bermain di bawah matahari siang. Mata Sasuke sekelam rambutnya, sudut matanya tajam—agak lain dari miliknya yang bulat.
Ia kesal mengetahui fakta kalau Sasuke sedikit lebih tinggi darinya. Catat—sedikit. Sasuke juga berperawakan kurus, tapi bagi Naruto itu tidak terlihat kerempeng. Ia tahu Sasuke pintar dan populer—berdasarkan rumor yang beredar. Ia cukup tampan dan diam-diam digilai banyak gadis di sekolahnya. Naruto agak iri, sebenarnya, namun ia menutup mata akan hal tersebut.
Sekian lama kenal, Sasuke ternyata cukup asik untuk diajak bicara. Ia cukup terbuka dan gamblang, walau tak jarang Naruto melihat Sasuke sibuk dengan pikirannya sendiri. Naruto pikir pula, Sasuke itu sebenarnya agak pemalu. Ia tidak seperti yang diceritakan orang-orang kebanyakan—dingin, cool, keren—Sasuke tidak se-dingin itu, menurutnya.
Terlebih lagi, mereka mempunyai selera literasi yang sama—yah tidak keseluruhan sih. Tapi Naruto cukup senang akan hal itu, karena dengan adanya Sasuke ia mempunyai tempat untuk berbagi hobi.
Setelah apa yang mereka lalui ini—pulang bersama, berbagi cerita, bertukar ilmu, melakukan hanami—Naruto menyayangkan satu hal. Kenapa di musim panas itu Sasuke harus melakukan kokuhaku? Ditambah lagi, bukan pada seorang gadis manis tapi ia menyatakan cinta pada seorang pemuda tanggung jabrik macam dirinya—Naruto Uzumaki—yang masih junjou—belum pernah pacaran—apa-apaan Sasuke Uchiha ini? Naruto tidak berhenti kebingungan. Ia mana mungkin tidak bertanya-tanya?
Apa yang Sasuke pikirkan tentang dirinya? Sudut pandang apa yang Sasuke pakai untuk berbicara dengannya? Siapa sebenarnya dirinya—Naruto Uzumaki—dimata seorang Sasuke Uchiha?
Seorang teman kah? Sahabat kah? Orang yang patut dikagumi? Orang yang dibenci?
—Haruskah ia menjadi orang yang Sasuke cintai secara romantis?
Di matanya, Sasuke adalah sahabat yang berharga. Dalam relung hati ia berusaha jujur, ia tidak ingin kehilangan Sasuke hanya karena masalah cinta seperti ini. Ah—bolehkah Naruto menyalahkan cinta yang tumbuh pada saat yang tidak tepat? Kenapa harus Sasuke yang mencintainya? Kenapa bukan orang lain saja? Kalau saja bukan Sasuke yang mencintainya… Kalau saja Sasuke tidak mencintainya…
Mungkin mereka masih bisa ke toko buku bersama. Mungkin mereka bisa pulang dengan sepeda sambil mengobrol sepanjang jalan. Mungkin saja Naruto tidak pulang sendiri saat ini.
Naruto tidak perlu mengabaikan tatapan Sasuke. Naruto tak perlu menghindari sentuhan Sasuke. Naruto tak perlu ambil pusing tentang status apa yang ia sandang ketika ia dan Sasuke bersama. Naruto tidak perlu ribut dengan hatinya sendiri.
Andai saja Sasuke tidak mengatakan kalau ia menyukai Naruto—andai Sasuke menyimpan perasaan itu rapat-rapat dalam hatinya.
.
.
"Andai saja aku bisa membalas perasaannya dengan perasaan yang sama," gumam Naruto pada awan jingga yang tipis. Kilau matanya menyendu saat menatap cahaya sewarna jeruk yang matang sempurna.
.
.
Bisakah ia menyalahkan cinta untuk Sasuke yang tidak tumbuh dalam hatinya?
.
.
.
"Eh—sungguh?" setelah sekian lama mengunci mulut, akhirnya Naruto membocorkan semua perasaannya kepada Gaara, si pemuda berambut merah yang telah satu kelas dengannya sejak kelas satu SMA. Mereka sedang duduk di bangku masing-masing dan kelas sedang sepi karena memang jam istirahat.
Naruto bersandar ke kursinya dengan wajah yang terlihat lelah dan bingung, kehabisan tenaga karena banyak bicara. Gaara menatapnya dengan pandangan bertanya, "Aku tidak tahu kalau… Uchiha suka pada mu, Naruto," ia berujar lebih pelan. Naruto kemudian menghela napas, mengusap wajah yang lega karena telah bercerita.
"Aku juga tidak tahu. Musim panas itu—mendadak saja ia bilang begitu! Aku kan—tidak bisa…" ia berucap lirih di bagian belakang. Gaara kemudian mengulas senyum tipis, "Yah—aku sih sering curiga dengannya," kata Gaara. "Hah?". Naruto menganga karena gagal paham.
Pemuda merah itu terkikik. "Sasuke selalu menatap ku dengan tatapan seakan-akan aku-telah-melakukan-kesalahan-besar saat aku bersama mu,". "Kau tahu—lirikannya tajam sekali, begitu dingin dan menakutkan," deskripsi Gaara mengenai Sasuke benar-benar membuat Naruto mau tidak mau tertawa.
"Kau berlebihan, aho," umpatnya tidak tahan. Walau ia ragu kalau Gaara melucu—ia tetap terbahak. "Yang benar saja…" kata Naruto, berharap kalau si pemuda Sabaku itu bercanda. "Kau mau membalas cintanya?" tanya Gaara setelah diam beberapa saat. Naruto terperanjat kaget sampai bahunya naik, geli dengan pertanyaan Gaara yang terdengar retorik bagi telinganya.
"No!".
Ganti Gaara yang tersenyum geli. "Kau tahu Naruto…" ia memulai lagi pembicaraan. Mata hijau pucat Gaara memandang jendela besar di sampingnya, yang menghubungkan mereka dengan halaman depan sekolah yang begitu lapang. Naruto melirik Gaara ingin tahu, cukup penasaran dengan lanjutan kalimat sahabatnya.
"Kalau ada seseorang menyukai mu, maka kau cenderung akan menyukai orang itu juga,".
.
.
Kalau boleh dibilang kandas, sebenarnya belum. Hubungan Sasuke dan Naruto hanya sekedar renggang, tidak seakrab dulu (mungkin sebenarnya juga tak bisa disebut 'sekedar'). Hanya seperlunya, itu yang Naruto katakan pada dirinya sendiri. Kalau perlu menyapa, ya sapa saja. Kalau harus tersenyum, ya tersenyum. Kalau harus bicara ya bicara.
Di luar kebutuhan dan tuntutan, Naruto tidak melakukannya. Ia tidak menegur Sasuke atas dasar afeksi yang ia miliki maupun rasa persahabatan mereka. Seringkali ia diam bahkan saat Sasuke di sebelahnya atau saat mereka kebetulan pulang bersama. Naruto tidak ngebut untuk menghindar, pun melambat untuk menghilang.
Ia membiarkan Sasuke ada di sampingnya tanpa mengusir atau pergi dari sana. Ia hanya diam, menikmati senja seperti biasa.
Layaknya hari ini.
Naruto melepas kunci sepedanya dan tidak lama setelahnya mendapati Sasuke berdiri, sudah dengan sepeda yang dituntun. Ia melempar tatapan biasa pada Uzumaki Naruto.
"Kau keberatan jika aku pulang bersama mu?" suara Uchiha muda itu memecah kecanggungan yang tercipta. Naruto tak menanggapi banyak, ia bicara dengan nada apatis, "Terserah,". Ia menuntun sepeda jingganya hingga pintu depan dengan Sasuke di sebelahnya.
Tak ada obrolan maupun acara tukar pandang, baik Sasuke maupun Naruto terlihat seperti sibuk dengan pikirannya sendiri—atau orang yang memang tak peduli. Si pirang sadar kalau ia berubah total setelah kejadian pernyataan cinta itu, ia menjadi lebih dingin dan sangat cuek dengan hal-hal yang berkaitan dengan Uchiha Sasuke. Ia menjadi benar-benar tidak peduli dan tidak mau ambil pusing.
Bahkan kini ada Sasuke di sebelahnya pun, Naruto tidak masalah. Asal tidak melakukan hal macam-macam, ia yakin semua akan baik-baik saja.
"Ne, Naruto…" panggil Sasuke saat mereka di tengah perjalanan. Keduanya sudah berada di sadel masing-masing sambil mengayuh sepeda pelan-pelan. "Hm?" Naruto hanya bergumam pelan untuk menyahutinya. Sempat sunyi sesaat, kemudian Sasuke melanjutkan pertanyaannya, "Kau sudah memikirkan—rencana masa depan mu?".
Kini Naruto tertarik, ia melirik Sasuke lewat ekor mata. "Maksud mu, soal kertas yang diberikan guru konseling itu?" balas Naruto, kembali dengan pertanyaan. Sasuke mengangguk, "Kau sudah mengisinya?" ia kembali bertanya. Naruto kembali menatap trotoar tanpa minat—ia juga menolak untuk melirik Sasuke terus-terusan. "Belum. Hanya—aku berencana untuk kuliah di Tokyo saja, aku tidak berniat ke luar kota," jawab Naruto.
"Sasuke sendiri?".
Alis Sasuke terangkat mendengar namanya disebut oleh mulut si pirang. Ia mengulas senyum senang, "Mungkin—aku juga akan menetap di Tokyo," katanya. "Jadi kita masih bisa bertemu," Sasuke melanjutkan—lebih pelan dari kalimat sebelumnya. Walau demikian, telinga Naruto masih bisa mendengar itu dengan jelas. "Ha—hah?" tapi ia pura-pura tuli. "Hm, bukan apa-apa," Sasuke tersenyum, mengulum misteri. Sejujurnya, ia malas mengulang—ia malu.
Tapi kenyatannya, Naruto lebih malu lagi, pipinya panas dan mungkin saja merah kalau ia tak cepat-cepat menyingkirkan omongan Sasuke dari kepalanya. Demi kolam air suci kuil Konoha! (Tunggu, itu kuil mana sih?). Naruto sampai heran.
Naruto menghembuskan napas kasar untuk melegakan hatinya, ia kemudian bicara lagi, "Kalau kau, pasti akan diterima di Universitas Tokyo,". Mereka masih mengayuh sepeda beriringan dengan senja yang cantik. "Kau pintar dan nilai mu bagus—aku takkan kaget kalau kau menjadi salah satu murid disana," pemuda itu meneruskan. Ada sedikit nada sendu yang menyertai kalimatnya.
"Kau juga akan ke sana?" tanya Sasuke. Naruto tertawa, "Mana mungkin mereka menerima ku, baka. Kampus dekat sini pun aku tak masalah,".
Itu benar. Naruto sadar kalau kemampuan akademik miliknya dan Sasuke sangat jauh berbeda. Ia sering mendengar kalau Sasuke nyaris selalu berada di peringkat lima teratas paralel ujian mingguan di sekolahnya. Ia juga tahu kalau Sasuke itu pintar dalam banyak hal yang memakai logika. Naruto pikir pasti takkan ada sekolah tinggi yang ingin menolak orang seperti Sasuke.
Sementara ia, benar-benar murid dengan kemampuan yang biasa, tidak pernah masuk peringkat atas dalam ujian manapun, catatan prestasinya tak naik maupun turun. Tiada alasan yang istimewa untuk Naruto supaya bisa masuk ke Universitas Tokyo, kampus paling bergengsi di seluruh Jepang. Baginya, yang penting kuliah sesuai dengan kemampuannya—tak perlu yang tinggi-tinggi.
Kalau boleh jujur ia memang sedikit iri, tapi apalah guna perasaan tersebut kalau pada kenyataannya ia memang tidak mampu? Hal-hal yang Sasuke bisa sudah bukan passionnya. Ia tak perlu memaksakan diri. Lagi pula, ia cukup bangga dengan bakat dan minatnya. Tidak jelek-jelek banget, pikirnya.
"Kau tidak tertarik untuk mencobanya?" ujar Sasuke lagi. Masih dengan langkah lambat Naruto mencoba menikmati senja lebih lama lagi.
"Entahlah," ia menjawab apatis.
Naruto berhasil pulang tanpa perkara. Tak ada lagi yang mereka obrolkan setelah persoalan rencana masa depan.
Sejujurnya, Naruto masih bingung ingin kuliah dimana. Jawabannya tadi hanya sekedar terkaan dan bukan niatan. Ia tidak seserius itu. Belum pernah ia berpikir sungguh-sungguh tentang keinginannya (apalagi tujuannya). Ia punya mimpi—semua orang pasti punya. Tapi jalan untuk meraihnya pun Naruto belum ada rencana.
Hah—Naruto lebih memilih berselancar di dunia maya daripada pusing dengan realita. Ia membuka-buka aplikasinya yang memang jarang ditengok karena ketiadaan kuota internet—atau memang tidak begitu dibutuhkan. Sesekali ia melihat media sosialnya, namun belum ada obrolan yang berarti.
Matanya masih menatap layar ponsel yang tiada perkembangan, sampai displaynya berubah menjadi tampilan panggilan masuk. Ada yang menelponnya.
Unknown number
Naruto tidak menyimpan nomor itu di kontak ponselnya. Ia bertanya-tanya, siapa ini, dalam hatinya. Tak baik mengangkat telepon dari orang asing, tapi mengabaikan juga bukan hal yang bagus, sepertinya. Siapa tahu ada rejeki yang menghampiri, atau bisa saja ini darurat!
"Halo?" akhirnya Naruto menjawab.
"Naruto? Ini Naruto kan? Akhirnya diangkat juga!" suara diseberang terdengar riang setelah Naruto menjawab. Alis Naruto berkerut bingung, mencoba menebak siapa yang menelponnya di waktu mendekati malam seperti ini. "Maaf, ini—siapa ya?" dengan nada ragu ia bertanya.
"Jahat sekali. Bisa-bisanya kau lupa pada ku, Na-ru-to?".
Naruto jelas saja tersentak saat mendengar orang itu menekan tiap suku kata dalam namanya dengan nada berbeda.
"ASTAGA, SAKURA-CHAN?" Lantas pemuda itu tak tahan untuk tidak teriak. Kaget!
.
.
.
Kemarin sore menjelang malam, Sakura menelponnya. Naruto sempat bertanya mengenai sumber dimana ia mendapatkan nomor ponselnya, ia bilang dari buku tahunan SMP. Puji Tuhan ia belum menggantinya, kata Sakura demikian. Kata gadis berambut pink itu, ia sedang beres-beres rumah dan tiba-tiba menemukan tumpukan buku zaman baheula, yang penuh dengan foto-foto dengan gaya tak berkelas dan dandanan yang kuno sangat.
Katanya ia tertawa saat melihat gambar-gambar disana dan ia juga bilang katanya jadi rindu dan ingin bertemu. Dan sejauh itu, hanya Naruto yang berhasil dihubungi.
"Hah—pasti mereka sudah mengganti nomor ponselnya," keluh Sakura sambal mengaduk coklat panasnya yang baru saja tiba di meja. "Syukurlah kau mengangkat telepon mu!" katanya, menatap Naruto dengan tatapan bangga. "Idiot, kau juga mengganti nomor mu!" balas Naruto tak terima. Sakura pun memajang senyum meminta ampun. Naruto menyedot kopi susunya tanpa ampun. Rasa sejuk dari es batu memenuhi kerongkongannya yang kering. Perlu diketahui bahwa hari itu bukanlah hari yang dingin untuk keluar rumah.
Mata hijau Sakura sibuk memperhatikan pemuda di depannya itu. "Kau tidak banyak berubah," katanya. Naruto menoleh menatap Sakura yang berkomentar soal penampilannya. "Masih jabrik seperti durian," Sakura mengerucutkan bibir, berniat menyulut Naruto dengan ledekan. "SIALAN, PERMEN KARET!" Naruto balas mengejek.
"PIRANG BULUK,". "IKLAN SIRUP!". "APA SIH?". "TRIPLEK!". "BANGSAT!".
.
.
Mereka diusir. Berisik katanya.
.
.
Kopi dan coklatnya dibungkus. Masuk ke gelas plastik dan gelas karton.
.
.
Akhirnya melangkah terseok di trotoar.
.
.
"Tobat, Haruno. Sadar usia sudah menginjak dewasa. Jangan meledek ku seperti anak kecil,".
"Salah mu, pirang,".
"Kau yang mulai, sialan. Hah! Aku sibuk menerka seperti apa pacar mu menghadapi orang seperti ini!" sahut Naruto galak sambil menyeruput es kopinya. "Sayang sekali aku tidak punya pacar," Sakura menjawab dengan nada penuh kemenangan.
"Jomblo karatan," balas Naruto hina. "KAU—berkata seperti sudah punya pacar saja,".
"Memang sudah punya,".
Naruto kaget. Ya ampun, tadi bukan mulutnya yang bicara, tapi jelas-jelas ia tahu itu suara kaumnya—kaum adam. Kalau bukan dia dan bukan Sakura—lalu?
Mau tak mau Naruto harus konfirmasi. Nalurinya berkata ia harus menengok ke belakang—karena nyatanya di depan tiada siapa-siapa yang patut dijadikan tersangka.
Astaga.
"Lha—Sasuke…?".
.
.
.
"Siapa, Naruto?" Sakura yang bingung ikut menengok pula. Saat melihat apa yang Naruto lihat, reaksinya sebelas duabelas dengan Naruto. Menganga tidak percaya.
Bersambung...
Halo minna-san, jumpa lagi dengan Ao disini! Maafkan Ao atas keterlambatan update, Ao mendadak kena WB (again) hehehe. Maaf ya wordsnya sedikit dan maaf (maaf melulu) kalau jalan ceritanya membingungkan dan tidak memuaskan! Beri tanggapan di kolom review agar Ao bisa improve lebih baik lagi yaa. BTW selamat idul fitri bagi kalian yang merayakan! (Telat banget buset) hehe yang penting ngucapin kan? :D
Makasih sebelumnya bagi kalian yang sudah mereview cerita Ao!
Sankyuu~
AkaiLoveAoi
