Naruto by Masashi Kishimoto

Warn : Crime, Homosexual content

Non commercial use

Story : Realac

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Shikamaru keluar dari kafe tempatnya bekerja. Angin dingin berhembus ke arahnya membuat Shikamaru mengeratkan jaket yang ia pakai. Ia pun melangkah menuju parkiran untuk mengambil motor yang sore ini dihadiahkan oleh Naruto. Shikamaru tersenyum kagum mengingat sahabat kuningnya yang selalu mengetahui kebutuhan serta seleranya. Ia pun menyalakan motornya, menikmati derum halus suara mesin motor sebelum beranjak dari kafe, ia berniat untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang ke rumah.

Shikamaru melewati kawasan pertokoan tua dengan laju yang bisa dibilang pelan mengingat ia sedang membawa motor sports. Mata Shikamaru memicing tajam ketika melihat sepasang kaki beralaskan sepatu pantofel tersembul di sebuah gang sempit. Ia langsung menghentikan laju motornya untuk memeriksa lorong itu. Shikamaru terbelalak ketika melihat Iruka yang tengah pingsan dengan darah yang membasahi sebagian wajahnya. Ia pun memeriksa denyut nadi Iruka kemudian menghembuskan napas lega mengetahui Iruka masih hidup. Shikamaru segera menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirimkan ambulans, kemudian menelpon Kyuubi di sela-sela ia memberikan pertolongan pertama kepada Iruka.

Lima belas menit kemudian ambulans yang ia tunggu akhirnya datang juga, setelah memberikan beberapa keterangan pada petugas ambulans, ia ikut mengiringi mobil tersebut dengan motornya. "Semoga kau baik-baik saja Naruto." Do'a Shikamaru, walaupun ia sendiri tahu kalau Naruto saat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

.

Kyuubi meremat keras ponsel yang berada dalam genggamannya. Berita yang disampaikan oleh Shikamaru benar-benar membuatnya emosi. Berani-beraninya orang sialan itu menyentuh adik kesayanganku, geram Kyuubi. Ia pun menghubungi pengawal kepercayaan ayahnya, "Kakashi cepat ke ruanganku!" perintah Kyuubi ketika teleponnya diangkat pada sambungan pertama.

Pemuda bersurai raven yang berada di ruangan yang sama dengan Kyuubi memandang heran kepada Kyuubi yang terlihat gusar dan tidak bisa diam. Ia pun meletakkan berkas yang tengah ia pelajari dan menatap tajam Kyuubi dengan tingkahnya yang membuat ia pusing. "Bisa kau diam! Tingkahmu membuatku pusing. Kalau kau mau kau bisa menceritakan masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu."

Kyuubi berdecih pelan ketika mendengar suara dengan nada memerintah yang berasal dari kliennya, akan tetapi ia menuruti permintaan pemuda yang lebih muda darinya itu, dan duduk dengan tenang. "Adikku... dia diculik," ucap Kyuubi frustasi. Ia menenggelamkan wajah di lekukan tangannya yang berada di atas meja. Kyuubi benar-benar merasa gagal menjadi seorang kakak karena telah menempatkan adik tersayangnya berada dalam posisi yang berbahaya. Berbagai jenis pikiran negatif berkecamuk di kepala Kyuubi membuatnya ingin menghancurkan semua barang yang berada di sekitarnya.

Suara ketukan pintu membuat Kyuubi duduk tegak dan membuang semua pikiran negatifnya. "Masuk!"

Seorang pria bersurai perak dan mengenakan masker yang menutupi separuh wajahnya berjalan menuju arah Kyuubi, ia pun membungkuk sedikit ketika berada tepat di hadapan Kyuubi. "Ada yang bisa saya bantu Kyuubi-sama?"

"Cari lokasi adikku dan segera laporkan kepadaku!" perintah Kyuubi singkat.

"Baik Kyuubi-sama." Kakashi membungkukkan badannya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Aku bisa membantumu menemukan adikmu dengan cepat."

Mata Kyuubi memicing tajam, menatap pemuda yang duduk dengan nyaman di sofa. Ia pun bergerak dengan cepat kemudian meraih kerah leher, mengangkat pemuda itu. "Jangan katakan kalau kau yang menculik adikku Sasuke!" desis Kyuubi.

Sasuke menatap remeh Kyuubi, meraih pergelangan Kyuubi dan melonggarkan pegangan Kyuubi pada kerah kemerjanya. "Aku bukanlah orang bodoh yang berani mencari masalah dengan orang yang lebih tinggi tingkatannya dariku. Lepaskan tanganmu kalau kau ingin segera menemukan adikmu!"

"Berapa harganya?" tanya Kyuubi setelah melepaskan Sasuke. Kyuubi yakin kalau di dunia ini tidak ada yang gratis, semuanya memiliki timbal balik yang setimpal.

"Tidak perlu, anggap saja sebagai balas budi di masa lalu."

"Lakukan sesukamu!"

Sasuke mengambil ponsel yang tersimpan di saku jasnya dan menghubungi orang kepercayaannya. "Kabuto, carikan lokasi Namikaze Naruto secepatnya, lokasi terakhirnya," Sasuke menatap Kyuubi meminta informasi yang ia punya.

"Daerah pertokoan tua di dekat jalan besar, terakhir terlihat jam lima sore. Kemungkinan besar menggunakan mobil yang dibawa Iruka. Rols Royce, plat 'Ru 463'."

Sasuke mengulang kembali perkataan Kyuubi ditambah dengan perintah, "Temukan dalam waktu kurang dari sepuluh menit!"

Di tempat lain, seorang pria berkacamata dengan surai putih berdecak sebal menatap ponsel yang berada di genggaman tangannya. Dengan ogah-ogahan ia mengganti delapan layar monitor yang tadinya sedang menampilkan berbagai jenis game online menjadi hasil rekaman cctv yang ia retas dari kepolisian pusat. Kedelapan layar bergerak dengan cepat, membuat ia harus berkonsentrasi penuh pada layar. Tangannya terus bergerak menekan keyboard sementara pandangannya terus terarah pada mobil dengan ciri-ciri yang sama seperti yang baru saja disebutkan bosnya. Namun, mobil tersebut menghilang di sebuah terowongan membuatnya berdecak kesal kembali. Ia pun memutar ulang rekaman cctv dari saat sebelum mobil tersebut memasuki terowongan dan memperhatikan mobil lainnya yang memasuki terowongan. Menghitung berapa waktu yang dibutuhkan, akhirnya ia menemukan mobil yang seharusnya tidak ada keluar dari terowongan. Ia menghentikan rekaman cctv untuk mengingat detail mobil tersebut, kemudian melanjutkan menonton rekaman cctv itu.

Ia pun menghentikan kegiatannya meretas ketika tidak mendapati petunjuk tambahan lagi, ia kembali memainkan gamenya saat menelpon ulang atasannya.

"Mini Volkswagon warna kuning, lokasi yang memungkinkan pelabuhan Konoha." Sasuke menyampaikan informasi yang diterimanya dari Kabuto.

"Kakashi siapkan mobil, dan bawa juga Tenten bersamamu! Aku ingin membereskan tikus got malam ini." ucap Kyuubi cepat saat teleponnya tersambung. "Kau mau ikut?" tanya Kyuubi sambil mengenakan jasnya, taklupa sepucuk pistol dan sebuah pisau tersemat di pinggangnya dan tertutupi dengan baik.

"Aku tidak menolak jika diajak menonton pertunjukan seru." Sasuke memberikan seringai khas, dan merapihkan berkas yang ada di meja untuk dipelajari lagi nanti.

"Jawaban yang bagus."

Kakashi dan Tenten sudah siap ketika Kyuubi dan Sasuke sampai di pintu depan. Tahu tatapan tajam Sasuke yang mengarah pada mobil mini bus yang terparkir dengan rapi membuat Kyuubi memutar bola matanya. "Jangan banyak protes, kalau kau tidak mau ikut segera pulang ke rumah!"

Sasuke memilih tidak membalas ucapan Kyuubi dan melangkah malas memasuki mobil.

.

Rasa pusing yang sangat menyengat menderanya ketika pertama kali Naruto membuka mata. "Dimana ini?" ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dan mengetahui kalau Ia saat ini berada di gudang besar yang sudah tidak terpakai lagi. Kalau saja tangan dan kakinya tidak terikat kuat di kursi yang ia duduki, saat ini ia pasti sudah melarikan diri. Naruto menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia perlu menganalisis situasinya saat ini. Naruto yakin tidak pernah membuat orang lain kesal ataupun memiliki musuh sehingga ia harus disekap seperti ini, satu pilihan yang tersisa yaitu ia diculik oleh saingan bisnis kakaknya yang ingin menghancurkan bisnis impor dan ekspor peralatan rumah tangga yang tengah berada di posisi puncaknya. Naruto tahu kalau berspekulasi sama sekali tidak akan merubah keadaannya saat ini, akan tetapi otaknya tidak mau berhenti berpikir mengenai maksud orang itu serta bagaimana caranya melarikan diri.

"Sial, kenapa susah sekali." Naruto terus menggerakkan tangannya mencoba melonggarkan ikatan tersebut dan kalau beruntung ia bisa sekaligus membebaskan tangannya. Naruto merasakan perih di pergelangan tangan karena terlalu sering tergesek tengan tali tambang yang kasar namun, ia tidak menyerah untuk melepaskan tali itu. Suara pintu besi yang bergeser membuat Naruto menghentikan aksinya mencoba melepas tali di tangannya, ia pun menunggu dengan tenang kedatangan orang yang menjadi penculiknya. "Siapa kau?" tanya Naruto pada pria paruh baya bersurai putih berdiri di depannya. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan namun, ia sadar kondisinya sama sekali tidak mengijinkannya untuk bertanya banyak. Sebisa mungkin Naruto berusaha untuk menjaga ekspresinya agar tidak terlihat takut ataupun panik, karena kedua hal itu sama sekali tidak membantu, dan juga ia bukanlah seorang perempuan yang akan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu jika berada dalam posisi yang berbahaya.

"Tuan puteri akhirnya bangun juga, perkenalkan aku Mizuki, dan juga maaf karena kami berlaku kasar kepadamu."

Naruto menatap tajam pada pria yang dengan kurang ajarnya menyentuh wajahnya. "Apa yang kau inginkan? Kau tidak akan mendapat untung sama sekali dengan mencullikku."

Mizuki berputar, memeluk Naruto dari belakang, "Kau salah Naru, kau ini sangatlah berharga dan memberikan keuntungan yang banyak bagi kami tentunya." Bisik Mizuki di telinga kiri Naruto, tak lupa ia mengulum telinga Naruto.

"Apa yang kau inginkan? Uang?" Naruto berusaha menekan rasa jijiknya dan menjaga nada suaranya tetap datar. Kalau saja saat ini ia sedang tidak terikat dapat ia pastikan pria itu ia kirim ke ruangan UGD karena berani menyentuhnya.

"Hmm... kau bisa menganggapnya seperti itu, karena uang juga sedikit terlibat dalam kegiatan ini. Ah... bagaimana bisa kau memiliki kulit yang sangat halus, membuatku tidak tahan untuk menjamahnya." Ucap Mizuki seduktif. Jari tangannya menjelajah dari pelipis, menuruni pipi Naruto, dan semakin turun menjelajahi tubuh Naruto bagian depan.

"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku!" ucap Naruto geram. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami pelecehan seperti ini. Naruto yakin setelah ini ia tidak bisa menikah lagi karena telah dilecehkan, padahal sampai sekarang ia belum pernah memiliki kekasih. Mungkin ia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi pria lajang.

"Tenang saja puteri, aku sudah memastikan kalau tanganku jauh dari bakteri." Mizuki menjilat kulit leher bagian belakang Naruto kemudian meninggalkan tanda kemerahan di kulit tan Naruto.

"Aarrghh... Lepaskan...! Tidak... Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" Naruto tidak lagi dapat menahan dirinya dan berakhir dengan berteriak panik ketika tangan Mizuki menyusup ke balik pakaiannya. Tangan dan kakinya ia gerakkan sekeras mungkin, mengakibatkan jaringan kulitnya terkikis dan mengeluarkan darah.

.

Perjalanan menuju pelabuhan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam bagaikan perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu lamanya bagi Kyuubi. Ia sendiri tidak dapat menahan diri untuk tidak membuat tangan dan kakinya berhenti bergetar. Ia lebih dari siap menghadapi puluhan orang yang menodongkan senjata api ke kepalanya daripada harus memikirkan kalau adiknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Kau yakin akan menyelamatkan adikmu dengan jumlah yang seperti ini?"

Pertanyaan Sasuke sukses menyadarkan Kyuubi dari berbagai bentuk penyesalan juga pikiran negatif yang bercokol di otaknya. "Ya, mereka sudah lebih dari cukup." Ucap Kyubi memandang gadis keturunan Cina dengan model rambut dicepol dua dan Kakashi yang sedang menyetir dengan keyakinan penuh.

Sasuke memilih diam tidak menanggapi perkataan Kyuubi, menurutnya Kyuubi benar-benar ceroboh kali ini. Jika saja terdapat banyak orang yang menunggu kedatangan mereka dengan berbagai jenis senjata api dapat dipastikan nyawa Kyuubi akan lenyap seketika. Bukan berarti ia menghawatirkan mahluk merah yang tempramen ini, hanya saja ia tidak ingin rencana yang ia atur dengan rapi hancur berantakan dalam sekejap karena tingkah gegabah Kyuubi.

Selang beberapa menit mobil yang mereka gunakan pun berhenti, menandakan bahwa mereka sudah mencapai tujuan. Dari jauh dapat terlihat galangan yang terisi oleh berbagai jenis kapal yang menepi, dari kapal kecil hingga kapal pengangkut penumpang berukuran besar. Memahami mereka tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa semua tempat di pelabuhan, mereka pun memutuskan untuk berpencar menjadi dua bagian, setelah sebelumnya diberikan peringatan keras dari Kyuubi yang mengatakan, "Dilarang membuat adegan penuh dengan darah di hadapan Naruto. Prioritas utama adalah keselamatan Naruto."

.

Pelabuhan yang cukup bisa dikatakan luas itu membuat mereka sedikit kesulitan mencari jejak. Mereka sebelumnya sudah menemukan mobil yang menjadi transportasi sang penculik, mereka juga yakin kalau penculik tersebut bersembunyi di sekitar pelabuhan. Sasuke mengikuti langkah kaki Kyuubi dalam diam, sudah lima menit mereka menghabiskan waktu dengan berlari mengitari area pelabuhan. Sebuah cara yang paling tidak efektif untuk mencari seseorang. Kalau diibaratkan dengan sebuah kaliamat maka akan berbunyi seperti ini, 'Mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami.' Bukan hal yang mustahil memang, tapi sangat menghabiskan banyak waktu.

Sebuah terikan samar membuat langkah Sasuke terhenti, ia yakin kalau pendengarannya tidak salah karena Kyuubi juga ikut berhenti. Sasuke menutup matanya, menajamkan pendengaran mencoba mencari asal suara. Setelah yakin ia pun berlari mendahului Kyuubi, berbelok ke kiri ke arah pergudangan yang tidak terpakai karena akan dirombak. Sasuke berhenti di depan gudang dengan cat berwarna biru kusam, berdecih kesal karena melihat pintu yang terkunci rapat. Tidak ingin bersusah payah mencari jalan masuk lainnya, Sasuke mengambil pistol yang berada di balik jas dan menembak gembok yang langsung rusak pada tembakan pertama. Sasuke harus mengeluarkan tambahan tenaga untuk membuka pintu besar yang terbuat dari lempengan baja. Suara deritan terdengar jelas ketika Sasuke membuka pintu, ia pun berhenti ketika merasa pintunya sudah terbuka cukup lebar.

Hal pertama yang Sasuke lihat adalah seorang pemuda pria yang tengah dicumbu oleh pria sambil terikat. Bergerak dalam diam, Sasuke menghampiri mereka secara perlahan. Tiba-tiba saja Kyuubi bergerak cepat mendahuluinya, membuat Sasuke berdecak kesal dan mengutuk Kyuubi yang terlalu gegabah.

"Jangan pernah menyentuh tubuh suci adikku dengan tangan kotormu!" Kyuubi mengerahkan seluruh tenaganya dan menendang Mizuki hingga jatuh tersungkur beberapa meter dari posisi awal. Belum sempat berdiri, Mizuki kembali jatuh tersungkur karena pukulan yang mengenai perutnya.

"Beraninya kau mengotori adikku yang manis, akan kupastikan kau menyesal!" Kyuubi kembali melayangkan kepalan tangannya pada Mizuki namun, dapat dihindari pada detik-detik terakhir. Mizuki pun balas menyerang Kyuubi, adu serangan dan bertahan pun tidak dapat terelakkan.

Sasuke menatap datar pertarungan antara Kyuubi dengan Mizuki, ia sama sekali tidak berniat untuk ikut campur, dan lebih memilih untuk membebaskan pemuda yang baru satu kali ia temui. Dengan cekatan Sasuke memotong tali yang mengikat pergelangan tangan dan kaki Naruto dengan pisau lipat kesayangannya.

Saat membantu Naruto berdiri Sasuke merasa ada bahaya yang menghampirinya, ia pun mendorong Naruto untuk duduk kembali dan menarik kepala Naruto agar menunduk. Firasatnya benar, karena pada detik berikutnya Sasuke merasakan timah panas yang lewat beberapa senti dari wajahnya. Sasuke berdecih kesal melihat orang-orang berpakaian hitam muncul satu-persatu dari arah belakang. Merutuki peruntungannya saat ini yang tepat berada di dalam posisi sangat merugikan karena musuh dapat menghabisinya dalam waktu singkat, belum lagi ia harus mengurusi bayi besar yang berada di hadapannya.

Kalau sampai ia mati di tempat ini sementara keinginannya belum terpenuhi, akan Sasuke pastikan ia menghantui Kyuubi di hari pertama pemakamannya dan mengutuk Kyuubi serta keturunannya agar tertimpa kesialan sampai turunan ke tujuh.

"Pejamkan matamu, jangan dibuka sampai aku ijinkan. Abaikan saja semua suara yang kau dengar, ikuti pergerakanku jangan banyak bertanya!"

Naruto menatap penasaran pada sosok yang baru saja menyelamatkannya, sebenarnya Naruto memiliki banyak hal yang ingin ia utarakan, hanya saja saat ini ia sedang dalam kondisi yang baik, bahkan saat ini ia tidak dapat mengeluarkan suaranya karena masih shock. Naruto pun memilih menuruti ucapan pemuda yang berada di hadapannya, menanggukkan kepala kemudian menutup matanya.

Sasuke sedikit menarik sudut bibirnya ketika Naruto menuruti semua perintahnya, setidaknya bebannya sedikit berkurang saat ini. Sasuke segera menarik pergelangan tangan Naruto menuju tumpukan barang yang berada di sudut sambil terus menghindar dari hujaman peluru. Sasuke tidak memiliki waktu dan tidak ingin repot-repot untuk memperhatikan keadaan Kyuubi yang tengah bertarung dengan Mizuki, ia yakin Kyuubi pasti baik-baik saja kerena dia memiliki banyak nyawa untuk dihambur-hamburkan.

Setelah mencapai tempat berlindung Sasuke langsung balas menyerang mereka, satu-persatu pihak musuh mulai berjatuhan terkena tembakan Sasuke yang tepat mengenai bagian vital, dengan cekatan Sasuke mengisi ulang peluru pistolnya, sesekali bersembunyi ketika peluru musuh ditembakkan terlalu dekat dengan tempatnya. Selang beberapa saat, Kakashi dan Tenten ikut bergabung, dan menghabisi seluruh musuh yang tersisa dalam waktu singkat.

Sasuke menatap malas pada sekelilingnya, gudang yang tidak terpakai kini berubah menjadi tempat penjagalan. Mayat-mayat bergelimpangan, bau anyir darah menguar di udara, membuat Sasuke mengernyitkan hidung tidak suka. Sasuke menatap Naruto yang masih setia berjongkok sambil menutup mata, 'naif' satu kata yang terlintas di benaknya ketika melihat keadaan Naruto. Ia pun berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Naruto . "Selamat malam." Bisik Sasuke sebelum memukul tengkuk Naruto cukup keras hingga menyebabkan Naruto pingsan. Sasuke merengkuh tubuh Naruto menggendongnya seperti Tuan puteri, menghampiri Kyuubi yang tengah duduk di atas tubuh seseorang sambil menyeka keringat.

"Kau ceroboh rubah." Ucap Sasuke datar, namun matanya menatap Kyuubi tajam.

"Terima kasih atas pujiannya, bagaimana keadaan adikku?"Kyuubi berdiri dan menghampiri Sasuke,mengambil alih adiknya yang berada dalam gendongan Sasuke. Kyuubi menatap sayang Naruto, adik kecilnya ini benar-benar tahu bagaimana caranya membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Dia baik, mungkin sedikit terkejut."

"Terima kasih sudah menjaga adikku." Ucap Kyuubi tulus.

"Hn, dengan begini hutangku sudah lunas."

"Maafkan saya karena datang terlambat Kyuubi-sama ." Kakashi menginterupsi pembicaraan antara Kyuubi dan Sasuke.

"Bereskan semua kekacauan ini, dan bawa dia! Aku ingin menyiksa dia lebih lama, lagipula kita memerlukan informasi tambahan." Ucap Kyuubi kemudian ia melangkah keluar gudang sambil menggendong tubuh mungil Naruto. Mata Kyuubi berkilat menjanjikan pembalasan pada orang yang berada di balik peristiwa ini.

Di depan pintu gudang terparkir mobil yang berbeda dari mobil yang mereka gunakan menuju tempat ini, dan tentunya mobil kali ini termasuk dalam golongan kelas mewah.

"Tidak mungkin kan aku membawa adikku yang manis ini menggunakan mobil yang murah." Ucap Kyuubi sebelum Sasuke menyuarakan pikirannya.

Sasuke memutar bola matanya malas ketika mendengar penjelasan Kyuubi yang sangat absurd, "Dasar brocom." Batin Sasuke.

Sasuke menatap datar wanita bercepol dua yang kini menjadi sopir, ia sendiri tidak ingin tahu mengapa Kyuubi melarangnya duduk di kursi belakang. Ah, lebih tepatnya ia tidak perduli selama rencananya berjalan dengan lancar maka, orang lain sama sekali tidak penting baginya. Sasuke melirik ke arah spion, terlihat asap hitam tebal yang membumbung ke langit, sepertinya pembersihan sudah dimulai.

.

Setibanya di kediaman Namikaze, Kyuubi langsung membawa Naruto ke kamarnya, mengganti pakaian serta membersihkan tubuh Naruto dengan air hangat. Kyuubi meringis sakit saat menatap luka lecet di pergelangan tangan Sasuke, dengan telaten ia mengobati luka Naruto. Ia terlalu fokus dengan keadaan adiknya sehingga tidak menyadari ada orang lain di kamar adiknya. Saat akan meletakkan kotak obat barulah ia menyadari keberadaan Sasuke yang sedang bersandar santai di sebelah pintu. "Sejak kapan kau ada di situ?" desis Kyuubi tidak suka.

"Kau sudah pasti mati dari lima belas menit yang lalu jika aku adalah musuh." Ucap Sasuke datar.

Kyuubi menatap tajam Sasuke, lima belas menit katanya, berarti dia sudah ada dari awal dan melihat saat ia mengganti baju Naruto yang berarti ia melihat Naruto tanpa busana. "Kau...!" Kyuubi menatap marah Sasuke, tanpa sadar ia menaikkan nada suaranya.

"Kyuu-nii."

Suara panggilan Naruto membuat perhatian Kyuubi teralihkan. Ia pun menghampiri Naruto, duduk di pinggir kasur, "Hm... bagaimana keadaanmu?" tanya Kyuubi sambil mengelus rambut Naruto dengan lembut. Sasuke menatap bosan tingkah Kyuubi yang seperti orang penderita kepribadian ganda.

"Aku baik, bagaimana dengan Paman Iruka?"

Kyuubi menghela napas panjang saat mendengar pertanyaan Naruto. Selalu seperti ini, adiknya ini selalu saja lebih mementingkan keadaan orang lain daripada keadaannya sendiri. "Dia baik, bagaimana keadaanmu Naru? Jangan mencoba berpura-pura baik-baik saja ketika dihadapanku Naru!"

"Aku baik-baik saja niichan, aku hanya sedikit terkejut saja tadi, selebihnya tidak apa-apa. Tenang saja aku ini kuat, kan aku seorang lelaki sejati," ucap Naruto dengan nada yang meyakinkan, ia juga memberikan cengiran lebar khasnya sebagai pendukung tambahan.

"Baiklah kalau begitu, sekarang kau istirahat lagi!"

"Kyuu-nii, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan," ucap Naruto ragu-ragu.

"Ada apa?"

"Itu... mengenai orang yang menyelamatkanku, apa Kyuu-nii mengenalnya? Emm... aku ingin berterima kasih kepadanya."

"Orang itu," "Perkenalkan, Uchiha Sasuke." Sasuke memotong ucapan Kyuubi sebelum selesai, dan berjalan mendekati ranjang Naruto dengan senyuman tipis di wajahnya.

See u next chap (^-^)/