Di ruangan yang berwarna soft cream dengan bangku-bangku yang berjejer, dimana di depan ruangan terdapat seorang wanita berpakaian seksi namun cukup rapi untuk seorang guru. Wanita dengan rambut panjang terurainya itu memandang ke depan, dimana para muridnya tengah mendengarkan penjelasannya walaupun dirinya yakin sebagian dari muridnya hanya mendengarkan penjelasannya setengah hati.

Ia tahu kalau murid-muridnya merasakan bosan saat ini. Siapa tidak yang tidak bosan pada pelajaran sekarang ini. Pelajaran tentang peraturan-peraturan perpajakan dimana tercantum di dalam Undang-Undang Perpajakan.

"Pasal 2 ayat 1 dimana setiap Wajib Pajak yang memenuhi syarat Subjektif dan Objektif maka harus segera mendaftarkan dirinya agar bias mendapatkan NPWPnya sendiri." Wanita dengan baju kesukaannya itu mulai menjelaskan tentang pelajarannya hari ini. Mata wanita itu menyusuri setiap murid-muridnya, ia hapal semua murid yang telah ia ajari. Semuanya tak terkecuali muridnya yang terkenal akan kejahilannya yakni Inuzuka Kiba, yang sudah beberapa pertemuan ini tidak kelihatan batang hidungnya.

Kurenai sebagai pengajar yang terkenal akan sifat tegasnya ini, diam-diam sangat perhatian terhadap anak didiknya. Walaupun ia hanya sebagai pengajar di Organisasi yang bertujuan untuk mengajari masyarakat tentang betapa pentingnya membayar pajak untuk Kas Negara mereka. Wanita berumur 30 Tahun ini mengembalikan pandangannya ke arah laptop yang ada di hadapannya sambil mengutak-atik kursor yang ada di tangannya, Mengganti Slide bahan ajarnya.

"Syarat Subjektif disini untuk WP Orang Pribadi ialah ketika ia di lahirkan di dunia ini dan berakhir pada saat ia meninggal dunia sedangkan untuk WP Badan ialah ketika ia mendirikan perusahaannya dan berakhirnya saat ia menutup perusahaannya."

Wanita itu kembali mengganti slidenya dan mengambalikan perhatiaannya ke arah anak didiknya "Sedangkan Syarat Objektif disini untuk WP orang pribadi ketika ia mendapatkan penghasilan di atas Tarif yang sudah di tentukan pemerintah lalu untuk WP Badan ketika ia sudah mendapatkan penghasilan dari kegiatan usahanya. Apakah kalian mempunyai pertanyaan?"

Kurenai memperhatikan anak muridnya satu persatu dan tidak ada tanda-tanda muridnya ingin bertanya walaupun Kurenai yakin sekali ada beberapa anak yang mempunyai pertanyaan di kepalanya masing-masing, hal itu terlihat dari wajah mereka. Kurenai sebagai seorang Pengajar tidak ingin memaksa anak didiknya dalam kelasnya. Biarkan merekalah yang memutuskannya kapan mereka ingin bertanya ataupun memutuskan sesuatu dalam cara mereka berkembang.

Setelah yakin anak didiknya tidak ada yang mau bertanya, Ia pun segera membubarkan kelasnya sore hari itu namun setelah ia mengabsen kehadiran anak didiknya. Hampir semuanya masuk hanya seorang saja yang tidak absen sejak kejadian beberapa hari lalu. Nama anak itu adalah Inuzuka Kiba, Seorang pemuda yang periang dan jahil tapi beberapa hari yang lalu ia ditemukan di toilet dalam keadaan kekurangan akibat darah yang mengucur tanpa henti dari hidungnya. Berkat kejadian itulah anak pecinta binatang itu absen dari beberapa mata kuliah untuk memulihkan kondisinya.

.

.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : M (Hanya untuk Berjaga-jaga)

Pair : SasuNaru.

Genre : Romance.

Warning : There is content Slash, Yaoi, BoyxBoy, Boys Love, AU, Ooc, Oc, and Typo so don't blame me cause I have warned you.

.

.

Lucky Or Not?

Tangga

.

.

Kurenai memasuki ruang tempat para dosen beristirahat. Ruangan dimana beberapa meja berjejer secara beraturan dengan beberapa lemari serta kertas-kertas yang menumpuk di atas meja telah menjadi penglihatan yang sehari-hari ia lihat selama mengajar di Universitas Ternama tersebut.

"Kurenai." Merasa dirinya di panggil, Ia menoleh ke seorang wanita berambut cepak namun cukup cantik, dengan celana pendek yang biasa dipakainya menjadi ciri khas wanita yang bernama Anko tersebut.

"Apa?" Tanyanya Ketus.

"Apa kau akan pulang malam lagi?" Kurenai hanya menganggukan kepalanya.

"Kenapa?"

"Aku harap kau menghindari tangga yang ada di lantai 4 pada saat pulang nanti ne."

"Apa? Menghindarinya? Tidak bisa kau sendiri tahu sendiri, aku sedang dalam proses hidup sehat salah satunya yah dengan cara pulang pergi lewat tangga. Pokoknya aku tidak bisa kalau di suruh naik lift, itu akan mengacaukan jadwalku."

"Tapi apa kau tidak mendengar rumor itu?" Tanya berperawakan mungil itu. Kurenai mengernyitkan dahinya, dirinya kebingungan atas pertanyaan teman seprofesinya itu.

"Rumor yang mengatakan kalau tangga di antara lantai 4 dan lantai 3 berhantu, Sudah banyak yang mendengar teriakan serta suara-suara tak jelas yang berasal di tangga tersebut." Suara Baritone yang berasal dari belakang mereka menjelaskan. Kurenai serta Anko menoleh ke belakang dan disana terdapat lelaki brewok, calon suaminya Kurenai.

"Asuma San jangan mengagetkanku seperti itu, Aku bisa jantungan tau." Anko mempoutkan bibirnya, pertanda dirinya dalam mode ngambeknya sedangkan si pelaku hanya tertawa saja melihat sikap Anko tersebut.

"Sudah-sudah jangan marah Anko, Asuma tidak bermaksud seperti itu. Ia memang orangnya seperti itu selalu muncul secara tiba-tiba." Kurenai menengahi keduanya.

"Terus saja membela calon suamimu itu, kau.." Anko menunjuk Kurenai "Tidak setia kawan." Dan Anko mulai kembali merajuk.

"Sudahlah nai biarkan saja Anko seperti itu. Nanti juga ia balik lagi seperti biasanya." Kata Asuma Enteng.

"Tapi.." Belum selesai bicara bibir Kurenai di kecup singkat oleh Asuma "Sekarang bukan saatnya mempermasalahkan hal itu, lebih kita membicarakan tentang pernikahan kita."

"Maaf Honey aku tidak bisa sekarang karena aku harus mengoreksi jawaban UTS anak-anak, mungkin lain kali kita membahasnya saja." Elak Kurenai yang mulai kembali ke tempatnya namun ditahan oleh tangan kasar milik Asuma.

"Mau sampai kapan kamu menghindar soal hal ini, Nai?" Tanya Asuma lelah atas sikap Kurenai yang selalu menghindari topic pernikahan mereka.

Wajah Kurenai melembut melihat ekspresi lelah Asuma "Maaf.. Maaf.." Kurenai lambat laun melepaskan tangannya dari Asuma "Aku butuh waktu untuk semua ini. Aku hanya ingin mempersiapkan diriku untuk pernikahan kita. Aku mohon kamu dapat mengerti hal ini." Dan saat itu Kurenai mulai menjauh dari Asuma.

"Hari ini aku pulang malam lagi jadi tolong jangan menungguku." Dan Kurenai pun tak menoleh sedikit pun ke arah Asuma yang tengah memperlihatkan wajah sesalnya.


Wanita dengan julukan sebagai wanita sempurna itu kini telah menyelesaikan pekerjaanny,. Ia pun merenganggkan tubuhnya. Melihat jam, dirinya tersadar atas terlalu dirinya memasakkan dirinya sendiri hingga ia lembur malam seperti ini. Segera ia rapikan pekerjaannya dan mematikan computer serta lampu kantornya yang memang hanya dirinya seorang yang masih berada disana, sebagai orang terakhir yang berada di kantor beliau memang di wajibkan mematikan lampu kantor jika sudah selesai.

Begitu semuanya dirasa cukup, dirinya segera keluar kantor dan mulai menuruni tangga satu persatu. Pikirannya melayang ke kejadian tadi siang, dimana Asuma Calon Suaminya membahas tentang rencana pernikahan mereka. Ia sebagai seorang wanita yang memiliki prinsip hidupnya, tidak ingin terburu-buru dalam menikah apalagi di dalam mengarungi bahtera rumah tangga tidaklah mudah , harus di pikirkan matang-matang dulu itulah yang dikatkan oleh neneknya dulu.

Selangkah demi selangkah telah Kurenai lalui, ia terus menuruni anak tangga yang berada di pojok bangunan berlantai enam itu. Kini ia akan berada di lantai empat, hingga ia teringat atas percakapan sore tadi antara Anko, Asuma dan dirinya tentang rumor suara-suara tidak jelas yang berada di tempat mengajarnya ini.

Anak tangga telah berhasil di turuni, langkah kaki wanita single ini perlahan melambat ketika ia mendengar sebuah suara dari lantai di bawahnya.

"Apa ada orang disana?" Teriak Kurenai sambil melongokkan kepalanya ke bawah berharap ada yang menjawabnya. Namun selang beberapa menit tidak ada yang menjawabnya, yang ada hanyalah suara benturan benda keras.

Kurenai Panik, bukan karena rumor yang beredar melainkan kekhawatirannya atas adanya kekerasan di dalam kampusnya ini. Ia yakin suara itu berasal dari bawah dan merupakan perbuatan seorang manusia. Rasa penasaran pun meliputinya, ia segera melangkah ke bawah, ke tempat asal suara berasal.

"Sa-Sasuke aku tidak mau melakukan itu." Sebuah suara takut mulai terdengar, begitu kurenai sudah melangkahkan kakinya di tangga yang menuju lantai empat. Pelan-pelan Kurenai memelankan langkah kakinya, ia ingin mengetahui siapa yang telah membuat kegaduhan tersebut.

"Tapi aku ingin melakukannya sekarang disini." Tepat saat itu Kurenai melihat dua orang pemuda yang tidak ia kenal sedang berhimpitan di dinding berwarna putih gading tersebut. Memang ia tidak terlalu melihat pemuda yang sedang di himpit oleh pemuda berambut raven, hanya rambut jabrik warna kuning cerahnya yang terlihat di balik sosok pemuda raven tersebut.

Kurenai tidak berniat memunculkan dirinya, ia hanya ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya. Ketika sudah melampaui batas, baru ia akan memunculkan dirinya dihadapan dua pemuda tersebut.

"A-aku tidak ingin Sas-Hhmmmpp." Mata Kurenai membulat melihat pemandangan itu, suara yang mencoba protes itu kini telah di bungkam oleh bibir pemuda lainnya. Tangan berkulit pucat milik pemuda raven memegangi kedua tangan pemuda yang telah di bungkam bibirnya dengan salah satu tangannya sedangkan tangan yang satunya terus menurun menuju ke sebuah gundukan yang sedikit terlihat di balik sosok pemuda lainnya.

Kurenai melihat hal itu, sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Ia pun keluar dari tempat bersembunyiannya "Ap-Apa yang sedang kalian lakukan?"

Kedua pemuda itu pun berhenti dan mulai memperhatikan Kurenai "Ha-ah, Malam Kurenai Sensei." Dan Pemuda berkulit putih mendekati Kurenai, meninggalkan Pemuda berkulit tan dengan mata birunya sambil mengambil tas yang tergeletak di lantai "Bagaimana kalau kita bertiga bermain, Heh? Pasti menyenangkan." Ucap Pemuda itu memperlihatkan smirknya sambil terus mendekati Kurenai dan mulai mengeluarkan sebuah tali dari dalam tasnya.

"Be-berhenti.. Ku bilang berhenti." Kurenai panic, ia memundurkan dirinya sedangkan pemuda dengan smirk menakutkan itu mulai mendekat, menaiki anak tangga satu persatu.

"Sensei jangan takut."

"Ti-tidak kumohon berhenti." Kurenai memohon. Hingga tubuhnya terbentur dinding di belakangnya ia terus menggelengkan kepalanya dan pemuda itu pun dengan senyuman jahatnya mendekati Kurenai hingga kedua tangan Kurenai tertangkap oleh pemuda itu. Kurenai tak berkutik. Semuanya pun terjadi dengan cepatnya.


"Hmmmpp… hmmmppp…" Kurenai ingin berusara namun ia tidak bisa. Ini semua akibat lakban hitam yang ada di mulutnya sehingga membuatnya tidak bisa berteriak minta tolong dan tangannya terikat di salah satu pegangan tangga sedangkan pemuda berpakaian kaos biru tua itu hanya tersenyum puas melihat korbannya yang tidak berkutik di hadapannya.

"Nah, Sensei. Bagaimana kalau kau melihat permainan kita berdua?"

Kurenai hanya bisa protes dalam diam sambil menggelengkan kepalanya, Pemuda di depannya mengangkat satu jari telunjuknya ke arah bibirnya "Ssstt.. Sensei jangan berisik nanti penjaga kesini atau kau jangan-jangan kau ingin melihat kita bermain ne?" Pemuda itu menepukkan tangannya "Baiklah kalau begitu." Dan pemuda itu pun menoleh ke pemuda bersurai pirang yang ada di belakangnya "Nah, Naru kemarilah."

Pemuda bersurai pirang itu menggelengkan kepalanya sambil mempoutkan bibirnya "Ga mau."

Pemuda bersurai raven itu hanya bisa memutarkan matanya "Ayolah kemari, nanti bakal kukasih hadiah. Bagaimana kalau hadiahnya makan ramen sepuasnya di Ichiraku ne."

"Hontou ni?"

"Hn."

"Oke kalau begitu Naru mau main sama Sasuke." Jawab Pemuda pirang itu sambil menghampiri pemuda berkulit putih yang ternyata bernama Sasuke. Sasuke pun menarik Naruto ke dalam pelukannya lalu membawanya ke hadapannya Kurenai yang sedang berusaha keras melepaskan ikatan tali di kedua tangannya.

"Nah, Naru kau perkenalkan dirimu pada Sensei ne, dia adalah penonton permainan kita."

Pemuda Kuning itu menganggukan kepalanya "Siap, Ne Sensei Perkenalkan namaku Namikaze Naruto dan ini." Pemuda bernama Naruto itu pun menunjuk pemuda di sampingnya "Adalah Pacarku, Uchiha Sasuke."

Mata Kurenai membulat mendengar nama keluarga keduanya, Uchiha dan Namikaze. Dua Keluarga yang sangat terpandang di dalam kota Konoha. Tidak ada yang mau mengusik ketentraman kedua keluarga tersebut. Pasalnya siapa saja yang mengusiknya maka mereka akan terkena akibatnya.

Sasuke, melihat reaksi wanita di depannya ini sekarang hanya bisa tersenyum. Ia dapat memprediksi reaksi wanita tersebut. Ia sangat tahu bagaimana reaksi orang-orang ketika mendengar nama keluarga mereka.

"Ne ~ Sasuke kapan kita akan bermain?" Pacar tersayang Sasuke kini tengah bergelayut pada Pemuda yang terkesan dingin itu.

"Hn, Sabar sayang semua ada prosesnya lagipula tadi siapa yang menolak terlebih dahulu permainan kita, hm?"

"Itu kan karena kamu ga menjanjikan ramen Ichiraku seandainya kamu bilang daritadi pasti aku akan senang hati melayanimu, Sasu."

"Hn." Dan seketika itu Sasuke menyerang bibir Naruto.

Pertama Sasuke hanya mengecup lembut hingga secara perlahan Sasuke mulai menjilat meminta izin masuk ke dalam mulut Naruto. Naruto membuka mulutnya sedikit tapi Sasuke malah masuk secara paksa. Lidah Sasuke mengajak Naruto untuk meladani daging tak betulang itu. Naruto meladeninya, kedua lidah mereka terus bertarung sengit tidak mau kalah terhadap lawannya masing-masing. Tarik-Menarik di antara mereka berdua, memaksa keduanya untuk membawa lidah lawannya ke dalam daerah mulut mereka.

Lilit-melilt, juga terjadi di antara mereka. Sasuke berusaha sekuat tenaganya untuk melilit lidah sang uke dan ternyata julukan seme pantas di sandang olehnya karena ia berhasil melilit lidah lawannya. Pelan-pelan Sasuke membimbing lidah Naruto ke area kekuasaannya namun ternyata adik dari Kyuubi ini cukup tangguh. Pantas saja banyak sekali Seme yang kalah dari Uke manisnya ini.

Sasuke sebagai Seme yang di akui di kampusnya ini, merasa lelah atas perlawanan Naruto. Lambat laun salah satu tangan Sasuke terus turun ke bawah dan mulai menjelajahi celana Naruto. Pelan tapi pasti Sasuke mulai melucuti celana Jeans Skinny Ukenya itu hingga ia berhasil melepaskan celana luar Ukenya itu. Naruto sebagai korban tidak menyadari kalau dirinya tengah di lucuti oleh Pacarnya sendiri, dirinya terlalu terbuai atas permainan lidah mereka.

Tangan Sasuke mulai merasuki celana dalam Naruto dan menemukan barang Naruto, secepatnya ia memegang, menaik turunkan tangannya. Naruto yang merasakan rasa tak wajar di barangnya, mendesah dan hal itu menyebabkan kekuatan perlawanannya berkurang. Sasuke pun tak melepaskan kesempatan ini, ia segera menyerang lidah Naruto dengan membawanya ke mulutnya dan bertarung di dalamnya hingga ia memenangkan pertarungan tersebut. Di akhir perseteruan itu, Sasuke mentransferkan enzim miliknya ke Naruto dan Naruto menerimanya.

Sasuke melepaskan tautan bibir mereka, ia tahu kalau ukenya mulai kehilangan pasokan udaranya. Sasuke sungguh hampir tak bisa menahan dirinya melihat uke manisnya berhiaskan simburat merah di kedua pipinya, mata yang sedikit setengah tertutup dan air liur keduanya yang menetes di dagu ukenya semakin memperlihatkan keseksian pacarnya itu.

Sasuke memulai aksinya, ia menempatkan tangan kirinya ke belahan bagian bawah Naruto, Dimulai dari remasan hingga mempersiapkan hole Naruto. Jari telunjuk Sasuke perlahan di masukkan ke dalam hole Naruto. Pelan-pelan ia keluar masukan jarinya lalu bertambah satu jari yang bersarang di hole Naruto dan terus bertambah kecepatannya sesuai dengan semakin kedalaman hole Naruto. Sasuke terus menambah jarinya, Naruto hanya bisa melenguh pasrah. Ia senderkan kepalanya ke bahu Sasuke, seluruh tubuhnya lemas merasakan kenikmatan permainan Sasuke.

Keduanya terus berada dalam posisi seperti itu, keduanya seolah sudah tidak menyadari kalau ada orang ketiga di antara mereka. Orang tersebut adalah penonton dari permainan mereka. Penonton yang dipaksa oleh mereka untuk menonton semua hal vulgar tersebut.

Merasa di abaikan keberadaannya Kurenai mulai berontak dari ikatannya, hal ini menyebabkan kedua pemuda yang tengah beradu kasih menghentikan kegiatannya dan mulai memusatkan perhatiannya ke arah sang penonton itu.

"Suke ~ kita lupa kalau ada penonton disini lebih baik kita apakan ya?" Tanya Naruto dengan nada manjanya.

"Bagaimana kalau dia kita ikut sertakan, hn?" Sasuke mengecup bibir merah delima pacarnya itu.

Mendengar Perkataan Sasuke, Naruto menautkan alisnya "Eeeh.. tapi gimana caranya?"

"Dengan ini." Sasuke membalikan badan Naruto dan membawakannya ke hadapan Kurenai lalu Sasuke melepaskan ikat pinggang celananya, menurunkan celananya dan tanpa permisi ia bawa penisnya ke hole Naruto.

"Sa-sakit.." Naruto meringis sakit atas benda yang tiba-tiba masuk itu walaupun mereka sering melakukan hal ini tapi tetap saja sakit. Sasuke justru kebalikannya ia malah menikmati hole sempit Naruto, ia memuji hole Naruto yang selalu saja sempit itu. Sasuke sebisa mungkin membiasakan penisnya di dalam hole hangat nan sempit itu.

"Be-bergeraklah." Pinta Naruto. Sasuke dengan senang hati menggerakan penisnya maju mundur secara perlahan, ia tak tega melihat ukenya menangis akibat permainan kasarnya walaupun Sasuke tahu kalau Naruto merupakan type Maso namun masih Maso level rendah bukan level tinngi, dimana kayak film yang sedang booming di kota mereka.

Naruto sedikit mengeluarkan air matanya, Sasuke yang tidak bisa melihat wajah Naruto dapat merasakan Naruto kesakitan atas permainan mereka. Sasuke pun selain memaju mundurkan pinggulnya juga memanjakan penis Naruto yang setengah pre cum.

"Aah ~.." Naruto mendesah, Sasuke tersenyum penuh kemenangan mendapatkan titik sensitive Naruto. Secara cepat Sasuke terus menghentakan tubuh mungil Naruto dan semakin memanjakan penis Naruto.

"Ah..Ah.. Aahh ~ Move Suke ~.." Naruto meminta dan Sasuke melayani keduanya terus terlarut dalam permainan mereka. Kurenai yang melihat kedua pemuda di depannya hanya bisa menggelengkan kepalanya pasalnya ia jijik berhadapan dengan penis Naruto yang ada di hadapannya.

Sasuke terus bergerak. Ia merasakan penis di genggeman tangannya mulai mengeras, secepat mungkin Sasuke terus menaik turunkan tangannya.

"Suke ~ A-aku ingin.." Belum selesai mengucapkannya mulut Naruto di bungkam oleh bibir Sasuke.

"Kita sama-sama, Naru." Sasuke meminta dan Naruto menganggukan kepalanya. Sasuke memperdekat Penis Naruto ke hadapan Kurenai dan cairan putih lengket meluncur keluar dari penis Naruto membasahi wajah Kurenai seketika itu juga, sedangkan kedua pemainnya meneriakkan nama masing-masing pasangannya. Wajah wanita berumuran cairan lengket itu hanya bisa memerah.

Sasuke mengeluarkan penisnya dari dalam tubuh Naruto , seketika itu juga tubuh Naruto meluncur ke lantai bersamaan dengan cairan yang membasahi holenya. Naruto terkekeh diikuti dengan Sasuke, tangan Naruto memegang dagu Kurenai lalu mulai menjilati cairannya sendiri yang membasahi wajah Kurenai. Kurenai memerah. Diam tak bergerak.

"Manis." Ucap Naruto sambil terkekeh tidak jelas. Sasuke berjongkok di sebelah Naruto sambil mengecupi pipi yang memilki tanda lahir kumis kucing itu dan setelah itu kembali focus pada Sensei di hadapannya ini.

"Kau tahu sensei." Suara baritone Sasuke mengalihkan pandangan Kurenai dari Naruto "Kita bisa bermain bertiga jika kau mau." Lanjut Sasuke. Kurenai membulatkan matanya mendengar perkataan Sasuke, ia menggeleng takut.

Kurenai tak mau ikut bermain bersama dengan mereka. Ia hanya ingin melakukannya bersama orang yang di cintainya yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Asuma, Pacarnya saat ini. Air mata mulai meluncur di kelopak mata cantik Kurenai, ia terus menggeleng sambil ber-hmm ria.

"Are dia menangis Suke. Bagaimana ini?" Tanya Naruto dengan nada takut dibuatnya.

Sasuke memeluk tubuh Naruto dari belakang sambil berpikir "Ya sudah kalau begitu.." Sasuke membisikan kata-kata selanjutnya ke telinga Naruto. Senyum Naruto berkembang "Ne ~ Sensei… kudengar kau belum menikah ne?" Kurenai mengangguk.

"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan." Kurenai tidak mengerti atas ucapan pemuda pirang dihadapannya ini. "Kita buat kesepakatan antara kita bertiga."

"Jika suatu hari nanti kau bertemu dengan kita berdua, kau akan ikut bermain dengan kita bertiga." Kurenai menggeleng tidak suka "kecuali jika kau sudah memiliki suami saat bertemu dengan kita lagi maka kita akan melepasakanmu. Bagaimana?"

Kurenai mengangguk setuju dan saat itu juga Sasuke yang entah sejak kapan memakai kembali celananya berdiri di samping Naruto mengendong tubuh mungil Naruto.

"Kalau begitu sesuai kesepakatan kita dimulai dari sekarang, Jaa Ne Sensei." Ucap Sasuke meninggalkan Wanita yang masih terikat di dekat tangga itu sambil membawa ukenya pulang.

Kurenai hanya bisa berharap ini terakhir kalinya ia melihat kedua pemuda tersebut. Matanya secara perlahan terasa berat. Ia tak kuat menghadapi semuanya.

.

.

.

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu menyadarkan pemuda berpakaian bak direktur itu. Surai raven panjang terikatnya bergoyang seraya goyangan kepalanya ke arah pintu "Masuk." Suruhnya. Dan seorang pemuda bersurai sama namun potongan rambutnya yang melawan gravitasi itu terlihat memasuki ruangan kantor dengan tema simple namun terlihat sangat mewah, rapi dan elit.

"Sasuke, Ada apa?"

"Hn, Aniki aku minta pembayaran yang kau janjikan kemarin."

"Ha-ah aku lupa Otouto. Tunggu." Pemuda yang ternyata merupakan kakak Sasuke kini tengah merogoh laci meja kantornya dan ia menemukan amplop coklat yang cukup tebal. Dilemparkannya amplop tersebut ke Sasuke dan senyuman mengembang di wajahnya "Thanks Aniki." Ucap Sasuke sambil mencium amplop tersebut.

"Tunggu, Sas."

Sasuke yang tadinya sudah berjalan ke arah pintu kini berhenti dan membalikkan badannya "Apa?"

Sebuah Undangan terlempar ke hadapan Sasuke "Itu dari Asuma san."

"Tidak perlu, Aniki saja yang datang sebagai perwakilanku. Jaa Ne Aniki." Seusai berkata itu Sasuke keluar dari ruangan wakil direktur Uchiha Corp. Sedangkan sang Aniki hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Otouto kesayangannya itu.

Itachi Uchiha, Kakak dari Sasuke Uchiha bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan ke undangan yang telah tergeletak di lantai kantornya. Ia memungutnya dan membaca sedikit kata-kata di undangan tersebut.

Undangan Pernikahan

Asuma Sarutobi

Kurenai Yuhi

Itachi tersenyum tipis, dirinya tak menyangka kalau perkenalan antara Asuma dengan Adiknya kini berujung pernikahan yang dari dulu di idamkan oleh Asuma. Asuma, Anak dari rekanan bisnisnya mempunyai masalah tentang calon istrinya yang selalu menunda tanggal pernikahannya. Berbagai cara telah di tempuh oleh Pria berusia 33 tahun tersebut, Mulai dari cara halus hingga kasar namun tidak ada yang berhasil meyakinkan Kurenai hingga akhirnya Itachi memperkenalkan Sasuke kepada pewaris Sarutobi Corp tersebut.

Dari situ semua berawal. Sasuke mau membantu Asuma dalam menaklukan calon istrinya itu dengan caranya sendiri tapi tentu saja ada imbalannya dan Asuma setuju atas perjanjian Sasuke. Itachi dan Asuma tidak tahu apa yang dilakukan Sasuke terhadap calon istri Asuma hanya saja melihat hasil kerja Sasuke membuat Asuma puas karena sang calon istri tiba-tiba saja mengatakan ingin secepatnya menikah dengan Asuma.

Dan semuanya berakhir bahagia sesuai dongeng-dongeng yang Itachi pernah dengar waktu kecil dulu.

Namun sang pewaris Uchiha Corp itu tidak tahu perbuatan gelap sang adik yang menyebabkan Kurenai berpikir bahwa ia sangat tidak beruntung.

So, Who is Lucky or Not?

.

.

.

End

Note : Untuk semua reviewers, followers and yang memfavoritkan FF ini saya sangat berterima kasih pada semuanya. Maaf kalau saya tidak bisa membalas satu persatu review kalian. #Bow