Shion seorang gadis lugu berperawakan mungil. Semua kaum adam yang melihat dalam sekali pandang pasti akan jatuh hati pada gadis itu. Gadis itu begitu lembut kepada setiap orang namun siapa sangka Shion akan berubah menjadi seseorang yang berbeda ketika gadis itu turun ke jalan menunggani motor seken yang baru di beli dari hasil jerih payahnya.

.

.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : M (Hanya untuk Berjaga-jaga)

Pair : SasuNaru.

Genre : Romance and Humor (?).

Warning : There is content Slash, Yaoi, BoyxBoy, Boys Love, AU, Ooc, Oc, and Typo so don't blame me cause I have warned you. Inspiration from my life story.

.

.

Lucky Or Not?

Motor

.

.

Malam itu langit begitu kelam. Tak ada bintang-bintang maupun bulan yang menghiasi. Shion menengadahkan kepala, melihat ke atas berusaha mencari kerlap kerlip bintang di sekitarnya namun nihil. Menyerah. Shion pun melangkahkan kaki menuju kendaraan satu-satunya untuk kembali pulang.

Parkiran malam itu cukup lumayan ramai oleh beberapa orang yang berniat pulang ke rumah sama seperti Shion. Gadis bersurai pirang panjang itu sesekali melemparkan senyuman ataupun membalas pada beberapa orang yang cukup di kenalnya. Shion memang memiliki image lemah lembut serta sopan santun pada semua orang di sekitarnya. Tak salah bila gadis muda itu memiliki beberapa lelaki muda berusaha mendekatinya.

Kaki berbalut bots coklat itu mengantarkan Shion ke sebuah motor kecil dan ringan sesuai dengan perawakan gadis itu. Jari Shion mulai menyalakan mesin motor itu terlebih dahulu selagi menunggu mesinnya panas Shion memasang perlengkapan pengaman berkendaranya. Jaket, masker, helm dan sarung tangan semua sudah terpasang. Shion pun mulai menaiki motor tersebut dan tak lama suara deru mesin tengah di lajukan. Pelan-pelan gadis itu keluar dari parkiran sambil sesekali menganggukkan kepala pada orang-orang yang menyapanya.

.

.

Malam itu begitu dingin Jaket berbahan parasut milik Shion tak mampu menahan dinginnya angin malam itu. Shion harus sesekali mengeratkan jaketnya, memastikan angin tidak bisa masuk lebih banyak walaupun percuma. Fokus Shion pun jadi terbagi akibat terpaan angin dingin malam itu dan tanpa di sadarinya ada sebuah motor di hadapannya.

Motor itu di tumpangi oleh pasangan kasmaran yang tengah berpelukan erat. Sih cewek memeluk erat sambil menyenderkan kepalanya di punggung cowok yang tengah mengemudikan motornya. Shion menyipitkan mata. Dia tidak menyukai pasangan di depannya.

Apakah mereka tidak tau kemesraan mereka itu menyebabkam Shion iri melihatnya?

Shion, gadis single yang hingga kini masih belum mendapatkan pasangan. Shion meringis mengingat ini. Dia memantapkan diri agar memberikan pelajaran pada pasangan kasmaran di hadapannya. Pelajaran berharga untuk mengingatkan kedua orang itu bahwa ada seseorang yang tidak senang melihat kemesraan di tengah jalan seperti ini.

Tangan memencet klakson keras.

Tiin.

Tidak mempan, Kedua orang tersebut masih saja berpelukan dan berjalan pelan seolah dunia ini milik keduanya.

Oke. Shion sudah tidak sabar lagi. Sekali lagi.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnn.

Kali ini suara klakson begitu keras dan panjang, menyadarkan kedua orang di hadapannya. Sang pemuda sempat melirik ke arah belakang, menatap penyebab suara klakson keras itu dan Shion menantangnya.

Mata Shion menyipit tidak suka, membawa motornya sejajar dengan motor pasangan kasmaran itu.

"Dasar lama."

Begitu ucapan itu terlontar, Shion menggas motornya. Meninggalkan pasangan tersebut terutama sang pemuda yang terlihat kesal.

Itulah sosok Shion saat sudah berada di jalanan dengan motor kesayangannya. Sifat Shion berupa 180 derajat dari sifat sehari-harinya dimana gadis itu merupakan gadis lemah lembut tapi ketika di jalanan gadis itu akan berubah menjadi sosok yang dingin dan berani terhadap apapun terutama pada pasangan yang selalu mengumbar kemesraan di jalanan.

Lampu merah terlihat di depan mata. Shion menurunkan kecepatannya dan berhenti tepat di garis putih panjang. Shion menatap lurus ke depan sambil sesekali melirik lampu lalu lintas. Mata violet pucat milik Shion tak sengaja menangkap sosok seorang pemuda di sampingnya.

Seorang pemuda dengan surai pirang terang yang tersembul sedikit keluar dari helm itu menjadi pusat perhatian Shion. Aura bersahabat pemuda itulah penyebabnya. Senyuman lima jari pemuda itu begitu menyilaukan untuk seorang gadis seperti Shion.

"Hai."

Iris violet Shion membulat mendapati pemuda itu menyapa dirinya.

"H-hai juga."

Shion membalas gugup.

"Siapa namamu?"

Shion mengernyit keningnya, dia mulai merasa jika pemuda tersebut ingin berkenalan dengan dirinya. Dengan anggapan itulah rasa percaya diri Shion naik, secara tak sadar Shion tersenyum di balik masker hitam yang di pakainya.

"Maaf tapi tidak sopan jika saya memberitahukan nama saya terlebih dahulu tanpa mengetahui nama anda."

Pemuda itu tertawa ringan "Tentu saja, kenalkan aku Naruto dan.." Pemuda itu menunjuk seorang pemuda lain yang sedang di boncengnya "Ini Sasuke."

Shion mengalihkan pandangan ke arah pemuda lainnya. Pemuda itu begitu tampan. Mata onyxnya menatap tajam Shion, wajah dingin tak menghalangi ketampanannya. Kulit putih itu berbanding terbalik dengan pemuda yang bernama Naruto tersebut.

"Lalu namamu siapa?"

Pertanyaan itu menyadarkan Shion kembali. Gadis itu menurunkan masker hitamnya "Namaku adalah Shion."

"Salam kenal, Shion chan."

Pipi Shion bersemu merah mendengar panggilan akrab Naruto untuknya.

Tiin.

Suara klakson berbunyi menyadarkan mereka jika lampu sudah menyala hijau. Shion melajukan motornya pelan, tidak seperti tadi karena gadis itu ingin mensejajarkan posisinya dengan motor milik Naruto dan itu berhasil.

Shion menoleh dan tidak percaya pada apa yang di lihatnya saat ini. Sasuke, pemuda pemilik tatapan tajam itu sedang mengemut leher jenjang Naruto yang sedikit terbuka, sedangkan Naruto bergidik geli sambil sesekali mengendikan bahu.

OMG.. Apa yang baru saja di lihatnya ini? Sasuke bukan vampire kan?

Shion yang malang, Dia masih begitu shock dengan pemandangn tersebut hingga pemikiran kotor tidak mampir di otak pintarnya.

Motor Naruto semakin menjauh dari motor Shion. Gadis itupun segera menyadarinya. Tak ingin pemuda yang di sukainya tersakiti akibat ulah teman sebonceng Naruto itu, Shion menyusul dengan harapan dapat menyelamati Naruto.

Gas di tarik, motor Shion menyusul berusaha menyamai kecepatan Naruto dan kali ini Shion mengernyit bingung melihat wajah Naruto begitu merah. Mulut Naruto sedikit terbuka dan samar-samar Shion dapat mendengar desahan.

Desahan?!

Shion menurunkan tatapannya ke arah bawah dimana tangan Sasuke sedang bermain di selangkangan Naruto. Mata Shion sedikit menyipit mendapati seonggok daging berkulit menyembul keluar dari balik celana Naruto, tangan Sasuke menggenggam erat benda tersebut.

Wajah Shion berubah merah pekat menyadari barang itu.

Itu adalah sebuah penis milik Naruto.

Kehororan terlukis jelas di wajah Shion yang sedikit terhiasi oleh merah pekat. Berbagai pikiran macam-macam mulai terlintas di kepala Shion dan gadis itupun mulai menyadari bahwa Naruto sedang di lecehkan oleh teman boncengannya.

Shion harus menghentikan segala perbuatan nista Sasuke.

"Naruto.. Hei Naruto.."

Naruto tak mendengar, begitu menikmati pijatan tangan Sasuke serta udara dingin yang menerpa penisnya.

"Aaaah.. Sas harder.."

What the hell?!

Shion cengo, mulut gadis itu terbuka lebar. Usaha gadis itu dalam menyadarkan Naruto sia-sia belaka jika sang korban pelecehan malah menikmati sentuhan sang pelaku.

Tak kehabisan akal, Shion pun memakai cara yang biasanya di lakukan yakni mengklakson keras-keras.

Tiiin.

Klakson keras pertama di bunyikan. Shion menunggu reaksi kedua pemuda tersebut.

Nihil.

Kedua pemuda itu tak bereaksi apapun pada klakson Shion. Gadis itu sudah kehilangan kesabarannya. Klakson kedua pun berbunyi dengan begitu keras dan panjang.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn...

Tanpa tau malu Shion terus saja membunyikan klaksonnya dan mendapatkan berbagai perhatian dari beberapa pengemudi di sekitarnya termasuk kedua pemuda tersebut.

Shion dapat melihat bagaiman mata onyx Sasuke menatap tajam dirinya seolah mengancam Shion agar menghentikan aksinya. Shion pun tak takut, dia menantang pemuda itu. Dagu terangkat sebagai tanda Shion menantang Sasuke dan pemuda itupun menyeringai menerima tantangan tersebut sementara Naruto fokus sambil sesekali mendesah di bawah remasan erat Sasuke.

Oooh sungguh duel yang begitu menengangkan di antara mereka.

Sasuke memulai aksinya dengan mengemut cuping telinga Naruto sambil melirikkan mata onyxnya ke Shion.

Shion menggeram marah, tak sadar tangannya malah menggas motornya menyebabkan posisi Shion di depan kedua pemuda itu.

Tak bisa memundurkan motor maticnya, Shion kembali memencet tombol klakson di bagian kiri motornya. Beberapa orang terganggu, mengumpat marah pada gadis itu. Shion malu atas umpatan untuk dirinya tersebut.

Sasuke senang.

1-0. Untuk Sasuke.

Motor Naruto melaju melewati Shion. Gadis itu tak bisa lagi membunyikan klakson, terlalu malu pada orang sekitar. Terpaksa gadis itu hanya dapat menyadarkan Naruto atas pelecehan tanpa di sadari pemuda beriris biru langit itu.

Kembali Shion mengejar sekuat tenaga, tak lupa menurunkan kaca helm pertanda dia akan menembus angin malam itu menyusul sang pujaan hati. Ketika sedikit lagi menyusul sebuah teriakan mendapatkan afeksi dari Shion.

"Aaaaakhh..."

Gadis itu melihat di depannya kepala Naruto menengadahkan sedangkan Sasuke menenggalamkan kepala di antara perpotongan leher Naruto. Lalu tanpa Shion sadari sebuah air menerpa kaca helmnya. Shion mengelap air berwarna putih itu, sedikit menciumnya.

Bau.

Itulah yang di cium oleh Shion. Gadis itu tidak suka dengan cairan tersebut. Di bukanya kaca helm menatap ke atas sambil menengadahkan tangan berharap dapat merasakan setetes air hujan namun tangan berbalut sarung tangan itu tak merasakan apa-apa. Otak Shion pun mulai memproses segalanya dan wajah Shion pun kembali merah padam.

Oh.. Shit?!

Cairan di tangan Shion adalah semen dari Naruto.

Berarti Naruto telah...

Warna wajah Shion berubah dari merah menjadi pucat.

"Tidaaaaaaaak..."

Bruk

Duagh

Segalanya terjadi begitu cepat, Shion tak menyadari bahwa di depannya ada sebuah mobil dan tabrakan pun tak terelakan sedangkan dua pemuda tadi di hadapannya kini telah menghilang bagaikan hantu.

Seluruh tubuh Shion sakit semuanya. Motornya telah menimpa badan mungilnya belum lagi masalah yang akan menantinya nanti, segalanya begitu membuat kepala Shion sakit. Beruntung uluran tangan seorang pemuda membantu Shion berdiri tentu saja motornya sudah di singkirkan berkat bantuan pemuda itu.

"Anda tidak apa-apa?"

Wajah cemas di balik kacamata itu dapat terlihat jelas. Shion meringis sakit namun dia menjawab dengan gelengan kepala berharap menghilangkan kecemasan pada raut wajah pemuda itu.

"Tidak, Tentu saja anda tidak baik-baik saja lebih baik anda ikut saya ke rumah sakit."

"Ta-tapi.." Shion melirik motornya yang kini penyok sana sini, sedih melihat motor kesayangannya begitu.

"Kalau soal motor anda nanti orang suruhan saya akan membawanya ke bengkel sebagai tanda pertanggung jawaban saya."

Pertanggung jawaban? Shion semakin merasa tak enak mendengar hal itu. Dialah seharusnya yang di salahkan dalam hal ini. Sebuah tepukan pada bahu menyadarkan lamunan Shion. Pemuda itu tersenyum tipis "Anda tidak usah memikirkan hal itu, saya tidak akan menuntut anda. Bagaimana kalau kita jalan sekarang?"

Shion mengangguk patuh, badannya di tuntun masuk ke dalam sebuah mobil sedangkan pemuda itu sedikit berbicara pada warga di sekitar situ lalu segera kembali memasuki mobilnya dan mereka pun pergi dari tempat itu.

Tak jauh dari sana tiga orang pemuda dengan seorang gadis melihat hilangnya mobil yang membawa Shion tersebut. Seorang pemuda dengan rambut hitam terisisir rapi itu mengulurkan lipatan beberapa uang ke arah seorang pemuda bersurai raven. Tangan itu dengan lihai menghitung uang tersebut.

"Oke, senang berkerja sama dengan anda."

Sasuke mengulurkan tangan dan pemuda itu menerimanya. Sang gadis mendengus melihat keramahan Sasuke.

"Tidak usah berlama-lama, kita sudah terlambat Sai." Ucap sang gadis bersurai pirang pucat itu.

Sai melepaskan salaman tersebut dan mendekap sang pujaan hati "Terima Kasih karena telah membantu kami untuk memberi pelajaran pada gadis itu."

"Tidak masalah."

"Syukurlah ada kejadian ini, semoga setelah ini gadis itu tidak akan membunyikan klaksonnya pada pengemudi seperti kami." Seru sang gadis puas.

"Ino jangan seperti itu."

"Apa? Dia juga yang salah karena dia selalu membunyikan klaksonnya pada pasangan di sekitarnya termasuk kita."

Pasangan itu bertengkar, meributi soal kejadian tadi. Sasuke menghendikkan bahunya tak peduli. Toh uang sudah di tangan dan kini dia harus merayu Naruto agar tak marah lagi karena mereka memakai cara yang cukup membuat Naruto hampir malu setengah mati yakni melakukan hal tadi di jalanan. Itu merupakan cara tergila mereka sampai saat ini.

Tanpa permisi Sasuke membalikkan badannya, menatap sang kekasih yang duduk di atas motor ninja biru milik Sasuke.

.

.

.

END