.
.
.
Disclaimer
© Masahsi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
M-Preg Yaoi Boy's Love Sho-ai
Romance/ Hurt/Comfort/Angst
Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'
M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya
Status
In-Preogres
Chapter 1
Pengantar
Don't Like Don't Read
RnR
.
.
.
SMA Konoha Sugoi Doryoku (SMA Kosudo)
Sasuke memandang wajah Naruto yang kini tampak bersemu merah. Mata hitam malamnya dengan teliti mengawasi mata biru samudra Naruto yang lurus menatap jari-jarinya yang lentik. Tak bisa di pungkiri, hatinya juga sedang merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan kekasihnya. Naruto.
.
.
.
Flashback
Sasuke menggandeng lengan Naruto yang tengah berontak ingin di lepaskan.
"Lepaskan Teme. Sakit." Naruto mencoba membuka cengkraman tangan sasuke di lengan kanannya.
"Sebentar lagi Dobe. Ini hampir sampai." Sasuke menyekesampingkan rengekan Naruto.
"Iya tapi aku bisa jalan sendiri. Gak usah pakek tari-tarik gini dong."
"Soalnya kalo kamu gak ditarik, aku yakin dari lima menit yang lalu kamu udah lari buat makan di kantin Dobe."
"Memangnya tampangku segitunya ya. Aku memang pencinta ramen. Tapi Tapi ya gak segitunya." Naruto menggembungkan pipinya.
Sasuke menghentikan langkahnya yang sedang menaiki anak tangga. Dialihkannya pandangan ke wajah Dobenya. "Terus kenapa?"
Naruto menundukkan wajahnya. "Kan ma-malu Teme." Ucapnya lirih. Sasuke tersenyum.
"Sebentar lagi mukamu yang malu-malu ini," Sasuke menyentuh hidung mancung Naruto, "akan berubah jadi bahagia." Lanjutnya
"Hah? Buat apa? Kantin pindah ke atap gedung?" Tanya Naruto polos. Sasuke tersenyum sembari mengacak rambut Naruto dengan tangannya yang bebas.
"Mangkanya aku panggil kamu Dobe. Bodoh." Sasuke kembali bergerak menuju atap gedung sekolahnya. Karena gerakan tiba-tiba dari Sasuke, tangan Naruto kembali terasa sakit.
"Teme no baka. Udah di bilangkan tadi, sakit." Naruto mempercepat kakinya agar sejajar langkahnya dengan sasuke. Kalau tidak, ia harus ucapkan selamat tinggal pada lengan kanan kecilnya itu.
Sasuke terus berjalan hingga tepat berada di depan sebuah pintu. Di bukanya pintu tersebut dan udara dingin langsung menerpanya. Ditariknya lengan Naruto hingga mendahuluinya. Namun yang di tarik hanya melongo setelah mendapati apa yang ada di depannya kini membuat saraf motoriknya terganggu.
"Teme?" Panggil Naruto ragu.
"Benarkan ucapanku. Masih malu apa udah bahagia?" Ujar Sasuke bangga.
"Ini serius?" Naruto menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Bukan biaya sedikit utuk menyiapkan ini kalau hanya bercanda Dobe." Sasuke merangkul bahu Naruto dan mengarahkannya ke jajaran tulip warna-warni yang merangkai kata 'AISHITERU DOBE'
"SEHARUSNYA KAU MENGGANTI KATA DOBE DENGAN NAMAKU SAAT KAU MENYATAKAN PERASAANMU. DASAR TEME" Teriak Naruto membuat Sasuke langsung terlonjak ke samping. Telinganya langsung berdengung di teriyaki dari jarak sedekat itu.
"Gak usah pakai teriak dong Dobe. Jarak kita Cuma sepuluh centi." Sasuke mengusap-usap telinganya berusaha mengurangi dengungan di telinganya.
"Terus kamu gak suka sama semua ini?" Sasuke berkata pelan "Kamu gak mau jadi pacar aku?" Lanjutnya tak kalah lirih.
"Ehem." Naruto menggelengkan kepalanya "Arigatou." Naruto berlari memeluk Sasuke.
"Aku mau Teme, aku mau jadi pacar kamu." ucapnya lirih di telinga sasuke.
"Kamu yakin Dobe?" Sasuke menarik Naruto menjauh.
"Kamu gak malu dengan tatapan aneh mereka?" Tanya sasuke. Naruto menggeleng.
"Meskipun kita seorang pria." Lanjutnya. Naruto mengangguk.
"Sayang bunga tulipnya jadi sia-sia kalo aku tolak." Ucap Naruto. Sasuke melotot.
"Jadi karena itu kamu menerimaku?" Sasuke mengerutkan alisnya
Naruto tersenyum. "Tentu saja tidak bodoh."
"Hei hanya aku yang boleh meamggil bodoh." Sasuke mencium kening Naruto.
Dan disinalah mereka, saling mengintip satu sama lain dengan malu-malu. Maklum pasangan baru, masih gak ngerti harus ngapain. Sebagai inisiatif yang memegang kendali. Sasuke menarik naruto jatuh di dada bidangnya.
"Aishiteru Yo. Naruto." Bisik Sasuke sebelum kembali mencium kning Naruto.
"Boku mo, aishiteru Sasuke."
.
.
.
Setelah mereka resmi pacaran. Naruto meminta dengan sangat agar Sasuke merahasiakan hubungannya. Ia tak ingin teman-teman di sekolahnya mendadak berubah sikapnya padanya. Biarlah mereka tahu Naruto hanya sebatas sahabat Sasuke. Tidak lebih.
Sasuke memilih diam. Pasalnya dia tidak mau kehilangan Naruto di awal hubungannya itu. Meski kadang Sasuke gemas ingin bermanja-manja dengan Naruto dikelas, dikantin, di parkiran, dimanapun lah pokoknya.
"Ne Dobe. Pinjamkan aku bahumu sebentar. Aku masih mengantuk gara-gara nonton bola semalam." Ucap Sasuke kala itu sembari meletakkan kepalanya di bahu Naruto. Di kelas.
"Teme apa yang kau lakukan. Nanti ketahuan." Ucap Naruto dan langsung membawa kepala Sasuke ke meja. Sasuke hanya mengeluh. Pasalnya Naruto menaruh kepalanya di meja dengan lumayan keras. Sasuke yakin. Kepalanya pasti benjol.
Dan berakhirlah mereka kembali di atap gedung. Karena hanya di tempat-tempat sepililah Naruto mau bermesraan. Sasuke malah senang, lebih enak mau ngapa-ngapain. Enggak, author, belum mau ke M.
"Sakit ya Teme?" Tanya Naruto saat dilihanya Sasuke terus menerus mengusap kepalanya.
"Enggak. Cuma sedikit benjol aja. Mungkin besok juga harus di oprasi. Sapa tau ada pendaharan." Sasuke menjawab dengan usil. Naruto mencubit pinggang Sasuke.
"Aduh Dobe sakit. Kau ini mau membunuh pacarmu apa?" Teriak Sasuke.
"Mangkanya serius. Tanyak baik-baik juga." Naruto cemberut.
"Dobe angkat tanganmu." Perintah Sasuke. Naruto yang tengah ddudk selonjor mengangkat kedua tangannya dengan rasa penasaran. Tiba-tiba Sasuke rebahan di pahanya.
"Besok-besok kita harus bawa makanan Teme, Bisa mati kelaparan aku, setiap kali kesini pas jam istirahat." Keluh Naruto sembari tangannya terulur membelai-belai lembut rambut raven kekasihnya.
Naruto adalah seorang anak gelap dari pengusaha bernama Namikaze Minato. Ibunya Kushina terpaksa memakai marga darinya─Uzumaki─untuk menamai anaknya. Sebab Minato meminta Kushina untuk menyembunyikan anak hasil hubungan mereka.
Tiga tahun yang lalu. Saat Naruto tepat berumur empat belas tahun. Kushina meninggal. Kanker mulut rahim. Menyebabkan Naruto menjadi anak semi yatim piatu. Secara nyata, memang masih ada Minato, ayahnya. Namun hal itu tak pernah dirasakan Naruto. Bagaimana fungsi seorang ayah, Naruto tak pernah merasakannya.
Sepanjang yang ia ingat. Ia selalu hidup berdua dengan ibunya. Namun setelah Kushina meninggal. Minato hanya mampu memberinya biaya hidup. Bukan mengasuhnya. Menganggapnya sebagai anak.
Oleh karena itu. Naruto selalu menyempatkan makan dirumah. Agar tidak terlalu banyak jajan saat di sekolah. Dan pagi ini Naruto tak sempat sarapan karena suatu alasan. Oleh karena itu, saat ini perutnya berteriak ingin perang.
"Gomen Dobe. Kita bisa kekantin sekarang. Kamu pasti lapar ya?" Sasuke mengadah menghadap wajah Naruto diatasnya.
"Gak usah. Aku juga gak boleh egois. Kalo gak disini? dimana lagi kita bisa berduaan." Naruto menyentuh mata Sasuke yang terlihat maskulin dan ingin melindungi.
.
.
.
Sasuke tidak sadar, yang tersiksa dalam cinta curi-curi mereka bukan hanya Sasuke. Tapi juga Naruto. Sering luput dalam penglihatannya, Naruto sering berepresi cemburu. Bagaimana tidak. Sasuke itu tampan. Siapa yang gak tau. Buktinya Saskura sama Karin bisa segitu nempelnya sama Sasuke. Dan itu bikin Naruto jengah. Sang mata Onyx tentu tak merasa. Orang dia gak ngapa-ngapain.
"Na Sasuke-kun. Mainlah kerumahku kapan-kapan. Orang tuaku jarang ada dirumah looo." Goda Sakura saat itu.
"Mending kerumahku aja. Dirumah selau gak ada siapa-siapa." Timpal Karin.
"Hey wanita murahan. Kau piker Sasuke mau kerumahmu? Dia gak mau sama wanita murahan." Bentak Sakura.
"Aku tidak murahan. Kau yang murahan." Bantah Karin. Sasuke yang sedang duduk di bangkunya hanya diam.
'Padahal mereka mereka memang murahan.' Batin naruto. Tanpa sadar ia beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Sasuke yang sadar berteriak bertanya
"Dobe kau mau kemana?"
"Cuma mau buang sampah." Naruto malas berdebat. Itukan salahnya sendiri. Ia yang minta hubungan mereka di sembunyikan. Jadi jangan salahkan Karin dan Sakura kalau mereka terus menggoda Sasuke. Mereka kan taunya Sasuke jomblo.
.
.
.
Sepulang sekolah Naruto masih ngambek. Sasuke mulai tersadar. Tanpa inisiatif siapapun, setelah teman-temannya pulang, Sasuke mendekati Naruto yang tengah memberesi buku-bukunya.
"Dobe apa kau marah."
"Enggak." Naruto tetap melaksanakan kegiatannya.
"Terus kenapa nyuekin aku."
"Aku gak nyuekin kamu."
"Pasti gara-gara Sakura sama Karin ya?" Sasuke memegang kedua tangan Naruto membuat sang Dobe menghentikan aktifitasnya.
"Bukan Teme." Naruto melepas tangan Sasuke dan beranjak keluar. "Aku gak marah. Dan kalopun iya. Bukan gara-gara Sakura apalagi Karin." tapi kamu' batin Naruto 'setidaknya cobalah menolak mereka'.
"Kita pulang bareng. Aku anter kamu." Sasuke menyusul Naruto dan menggandeng tangannya.
"Gak ada gandengan tangan sebelum nyampek halte." Naruto melepas tangannya.
Yeah, selalu seperti itu. Hubungan yang sembunyi-sembunyi selalu menyakitkan. Bagi Sasuke maupun bagi Naruto. Mau bagaimana lagi. Hubungan ini kan memang tidak wajar. Jadi yeah, harus di terima segala sesuatu yang mengikuti hubungan tersebut.
Naruto dan Sasuke tidak sadar. Bahwa hubungan mereka masih dalam tahap awal hidup yang sebenarnya. Jangan ungkit masalah cemburu atau pertengkara. Itu juga dialami pasangan lainnya. Tapi kalau mereka benar-benar membutuhkan? Atau mereka ingin orang lain tahu bahwa mereka saling memiliki? apa yang akan terjadi.
Terlebih bila ini hubungan yang awet. Apa mereka gak ragu ingin menikah. Gimana kalo mereka ingin punya anak. Mereka harus berbuat apa? Hubungan yang tak lazim memang lebih banyak menerima tantangan. Dan merka harus siap.
.
.
.
To Be Continued
Apa yang terjadi selanjutnya?
tunggu chap depan.
Review Please...
