Burn... *Burn... *Burn...
"Bocah itu milikku!!!"
"Kau salah! Dia akan menjadi milikku!!"
Seorang anak berambut pirang dengan umur sekira sembilan tahunan melihat dengan horror rumah-rumah yang terbakar di hadapannya.
Sepasang tangan dan kaki kecilnya terikat oleh sebuah huruf-huruf bersinar. Ia terkunci di sebuah ruangan gelap dengan kaca bening yang sangat tebal.
"Hentikan... Bunuh saja aku... Hentikan kumohon!!"
Ingatannya bergulir saat seisi keluarganya dibantai dengan sadis saat ulang tahunnya yang keenam. Bagaimana ayahnya di Ayah dan Ibunya dibunuh dengan kejam tepat di depan matanya.
Bagaimana kakaknya diperkosa dan dibiarkan selama satu tahun hidup bersamanya. Tepatnya setelah melahirkan anak laki-laki yang tidak mewarisi kemampuan mistis apapun, kakaknya dan anaknya juga dibunuh oleh mereka.
Kini ia melihat sosok yang menculiknya dan memperbudaknya selama hampir tiga tahun ini juga terlibat pertempuran berdarah diantara satu anggota keluarganya.
Ia hanya bisa menangis. Meski keluarga ini terkutuk, namun beberapa anggotanya ada yang baik dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri ketimbang seorang budak.
"Huh?" Ia melihat gambaran melintas di kepalanya. "T-tidak!!! Jangaaann!!" Ia melihat seorang nenek tua yang baik padanya terbunuh dengan tubuh yang remuk.
"Tidak..."
Anak itu meneteskan air matanya tanpa bisa berbuat apapun. Meneteskan air mata dari kedua matanya yang terkutuk.
Kedua mata yang membawa kehancuran bagi orang-orang disekitarnya.
Ia terlahir dengan mata spesial yang begitu nama aslinya di ucapkan, ia mampu melihat menembus apapun, mampu melihat apapun di masa sekarang dan di dalam legenda disebut sebagai Divine Sight, Mystic Eyes of Heaven.
Tetapi kenyataanya, ketimbang membawa 'Heaven', mata itu menghadirkan 'Hell' pada anak itu dan orang-orang disekitarnya.
"An... Evil..."
Anak itu mendongakkan wajahnya saat melihat sosok asing tengah melayang diatas desa itu. Sesaat kemudian, sebuah cahaya biru yang amat terang mengambil alih semua pemandangan matanya.
"Mereka semua... lenyap?" Ujar anak itu membuka matanya di ruang yang serba putih.
"Anak manusia..."
Anak langsung mencari asal suara dan menemukan seosok biru bercahaya dengan bentuk seperti manusia.
"S-siapa kau?" Ujar anak itu sedikit ketakutan.
"Aku hanyalah sosok yang jatuh, sebuah keberadaan sombong yang tidak sempurna, aku bahkan kehilangan kekuatan untuk terwujud."
Anak itu seikit kebingungan. "A-apa keinginanmu menemuiku? kalau kau mau mata ini... lebih baik ambil saja dan bunuh aku!"
"Tidak, aku tidak menginginkan apapun darimu, aku akan memberimu sesuatu."
Perkataan sosok aneh itu sukses membuat anak itu penuh dengan tanda tanya.
"Matamu bisa melihat apapun di masa sekarang, menembus bahkan dimensi dan konsep, sebuah penglihatan dewa yang terlahir pada manusia..."
Sosok itu berbicara dengan tenang.
"Karenanya, dengan mata itu, kau pasti bisa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat olehku, sesuatu yang mungkin gagal kupahami, sesuatu yang menyebabkan ketidaksempurnaanku, karenanya aku akan memberimu kekuatan yang pernah dipercayakan padaku."
Anak itu terdiam mendengar ucapan sosok itu. Ia tidak terlalu mengerti soal kekuatan atau apalah itu.
"Sebuah pedang... Sebuah kekuatan untuk menusnahkan hal yang tidak diperlukan bernama 'Kejahatan' dari dunia ini, Anti-Evil."
"Anti... Evil?"
Sebuah pedang dengan pegangan emas dengan bilah berwarna biru bersinar keluar dari tubuh sosok itu.
"Ditanganku pedang ini hanyalah pedang rusak, namun aku percaya, suatu hari nanti, kau akan memahami sesuatu yang gagal aku pahami, dan di saat itu, kau akan mampu memegang pedang ini dan mewujudkan kekuatannya..."
"Waaaahhhhhhh!!!"
Sesaat setelah itu, pedang itu masuk ke tubuh anak itu, menyebabkan cahaya biru dengan intensitas luar biasa menyebar ke ruangan serba putih itu.
Saat anak itu membuka matanya, ia berada di desanya tadi yang kini telah menjadi kawah yang sangat luas tanpa tanda-tanda kehidupan manusia.
Ia melihat tubuhnya sendiri berulang kali dan tidak menemukan suatu keanehan apapun disana. Ia hanya mampu menatap keatas langit biru cerah dan menitikkan kembali air matanya.
8 Years later
Drap *Drap *Drap
"Sial! sial! sial!"
Seorang gadis berambut pirang sepunggung tengah berlari di sebuah gang di kota yang terlihat sangat artistik.
"Musnahkan iblis itu!"
Suara langkah kaki berada di belakangnya dengan suara manusia yang marah-marah.
"Kenapa jadi begini?!" Ia baru saja mempraktekan sihir teleportasinya, namun secara tiba-tiba ia muncul di tempat yang tidak seharusnya.
Ia keluar dari gang itu dan mendapati sebuah rumah tua yang berada di seberang jalan. Dengan cepat ia berlari menyeberangi jalan dan sampai di depan pagar itu.
Ia langsung berusaha membuka pagar rumah itu dan ingin bersembunyi di dalamnya.
Dor!!!
"Kyahhh!!" Ia jatuh dengan sebuah tembakan di kakinya. Darah merah membasahi gaunnya dan bercampur dengan tanah.
"Kau pikir bisa lari Iblis."
Lima orang dengan pakaian serba putih tengah membawa pedang dan senjata api klasik mendekati gadis yang berusaha merangkak menjauh itu.
"Lihat, ada iblis merangkak seperti serangga, hahahaha!"
Salah satu dari mereka membuka sebuah botol kecil dan menuangkannya keatas tubuh gadis itu.
"S-sakiiitttt!!!!"
Gadis itu menjerit kesakitan saat merasakan cairan yang panas dituangkan ke punggungnya. Beberapa juga mengenai kepalanya dan menyebabkan luka bakar disana.
"Seperti yang kukira, Iblis... Kau akan lenyap oleh kami, para Exorcist suci."
Salah satu Exorcist itu mengambil sebuah pedang dan menyabetkannya ke rok gadis itu dan menampakkan sebuah celana dalam berwarna pink dan putih.
"A-apa yang mau kalian lakukan?!"
"K-kapten? Apa ini tidak apa-apa?"
"Jahahahaha! Akan percuma bukan jika Iblis ini langsung dimusnahakan? Kenapa tidak kita nikmati dulu? Lagipula pada akhirnya kita akan melakukan tugas melenyapkan mereka, bukankah lebih baik jika mereka dibuat menderita dulu atas dosa-dosa mereka?"
Seorang Exorcist lain menembakkan senjata apinya ke kaki lainnya dari Iblis itu untuk mencegahnya kabur. Menyebabkannya menjerit kesakitan.
"Sakit... jika saja sihirku masih banyak..."
"Menjauhlah dari sana, Exorcist!"
Salah seorang Exorcist yang hampir mendarat kan tangannya pada tubuh gadis iblis itu menghentikan tindakannya setelah mendengar suara lain.
Ia segera berbalik dan berdiri hanya untuk melihat seoarang pemuda berambut pirang dengan sepasang mata emas yang bercahaya di tengah kegelapan malam.
Meskipun berpakaian dengan setelan Tuxedo, di pinggang kanannya bersarung sebuah pedang dengan pegangan emas dan di pinggang kanannya sebuah botol air minum berwarna hijau.
"Lepaskan gadis itu." Ujarnya dingin sambil menarik sebuah pedang dengan pegangan emas dan bilah berwarna hitam legam.
"Siapa kau? Apa kau seorang pendosa yang ingin menolong iblis ini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Lepaskan gadis itu." Pemuda itu mengulangi kata-katanya sambil berjalan mendekat.
"Berhenti disana! Atau kau akan kami anggap sebagai pendosa dan memusnahkanmu!" Salah satu dari Exorcist itu menodongkan pedangnya kearah pemuda yang sudah berjarak hanya beberapa langkah dengannya.
"Aku melihat iblis dan manusia disini, tetapi saat berhubungan dengan konsep kejahatan dan kebaikan, kalian tidak ada bedanya." Pemuda itu menebaskan pedangnya pada pedang Exorcist itu dan memotongnya seperti memotong mentega.
"A-apa... Padahal pedang ini telah dilapisi aura suci!" Kejut mereka. "Aku tidak melihat apapun yang suci disini, yang aku lihat adalah sekumpulan kejahatan... sesuatu yang tidak diperlukan dunia ini!"
Pedang dengan bilah hitam itu mengeluarkan cahaya suci dengan intensitas yang lebih tinggi dari pedang milik Exorcist tadi.
"T-tidak mungkin! Aura suci macam apa ini?! Siapa kau?!"
"Semoga kau menyesali perbuatanmu dan memulai kebaikan di kehidupanmu berikutnya..." Pemuda itu menebas Exorcist terdekat dengan pedangnya.
Tubuh Exorcist itu jatuh terduduk dengan luka tebasan bercahaya melintang di perutnya. Air matanya mengalir deras.
"Aku harap tidak melihatmu sebagai unneeded Evil di kehidupanmu berikutnya."
Setelah itu, tubuh Exorcist tadi hancur menjadi serpihan cahaya dan terbang ke langit
Keempat Exorcist lainnya melebarkan matanya dengan wajah ketakutan. Mereka segera menembakkan senjata api mereka yang telah diisi oleh peluru-peluru cahaya suci.
Slash! *Trank! *Trank! *Trank!
Dengan presisi tebasan yang menakjubkan, seluruh peluru suci itu hancur ketika bersentuhan dengan bilah yang dipenuhi aura suci itu. "Serangan dari kejahatan tidak akan pernah membuatku gentar."
"T-tunggu! K-kau pasti bercanda! Kau memiliki aura suci! Kau seharusnya menumpas Iblis disana! Bukan kami! Kami di pihak T—!" Exorcist itu tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat pedang tadi melesat dan menancap tepat di dada kirinya.
Exorcist itu terdiam sebentar. Ia jatuh terduduk dan mengatupkan tangannya sambil menghadap kearah langit
"K-ketua!!" Ketiga Exorcist itu berteriak histeris melihat ketua mereka.
"Oh Tuhan... terimakasih sudah memberikan pengampunan-Mu..." Setelah itu, tubuh pria itu berubah menjadi serpihan cahaya dan terbang.
Pemuda itu mengulurkan tangannya. Pedang yang kini tertancap di permukaan tanah itu terangkat dan terbang kembali ke pemiliknya.
"Joyeuse, kau memberikan akhir yang pantas." Pemuda itu kemudian menghadap kearah ketiga Exorcist yang ketakutan.
"Kembalilah ketempat kalian, aku harap tidak melihat kalian sebagai sesuatu yang 'jahat' lagi di kemudian hari."
Ketiganya mengangguk cepat dan langsung berlari menjauh dari pemuda itu. Ia mendekat kearah gadis Iblis yang ketakutan setengah mati itu.
"Ittai..."
Kulitnya serasa terkena udara yang sangat kering saat pemuda itu mendekatinya dengan pedangnya yang masih bebas. Setiap langkahnya membuat iblis itu semakin sulit bernafas. Ditambah dengan serangkaian luka yang ia terima membuatnya hanya bisa meringis dan berair.
Pemuda itu agaknya menyadari gelagat Iblis itu dan dengan cepat menyarungkan pedangnya di pinggangnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Eh?" Gadis itu tidak tahu harus bertindak apa. Ia ketakutan pada aura suci yang berasal dari pedang pemuda itu, ia juga masih ragu apakah pemuda itu juga akan membunuhnya.
Pemuda itu mengambil sebuah botol air minum yang terpasang di pinggang kirinya dan menuangkan sedikit isinya ke telapak tangan kirinya.
"Aku hanya membawa soda saat ini, tapi minumlah!"
Ia lalu meletakkan botolnya dan menyatukan kedua telapak tangannya yang kini hampir penuh dengan air ke bibir gadis Iblis yang kembali ketakutan dan terkejut itu. Terlebih ketika gadis itu menyadari keanehan pada tangan kanan pria itu yang terlihat seperti besi.
Namun ia bisa melihat wajah tenang dengan mata emas dan rambut pirang tengah tersenyum tipis untuk menenangkannya.
"Jangan khawatir, minumlah, iblis kecil."
Ucapan menenangkan dari pemuda itu membuat gadis iblis itu akhirnya mau membuka sedikit bibirnya, membiarkan air segar mengalir ke mulut ke tenggorokan dan perutnya. Rasa khas soda segera terasa di perutnya. Namun ada rasa lain yang membuatnya terkejut.
"Eh?!"
Dengan cepat luka-luka bakar, tembakan, dan memar yang ada di tubuhnya mulai sembuh dan menutup seperti tidak pernah ada sebelumnya.
"Memang tidak sehebat air mata Phoenix, tapi setidaknya efeknya masih berguna." Ujar pemuda itu melihat efek airnya berkerja.
"Kenapa? Kenapa kau menolongku? Aku ini Iblis... Bukankah manusia seperti kalian menganggapku jahat?!" Gadis itu memiringkan kepalanya bingung.
"Bagiku, ketika berhadapan dengan kejahatan dan kebaikan, urusan ras tidak ada kaitannya, bahkan dewa sekalipun bisa jatuh dan menjadi Evil God, seperti Malaikat yang bisa juga jatuh..."
"Seseorang telah mempercayakannya padaku, kekuatan untuk memusnahkan semua kejahatan 'Evil' di dunia ini, meskipun aku belum mampu mewujudkan pedangnya sepenuhnya, namun kepercayaan itu akan kupenuhi."
Pemuda itu berkata dengan nada halus dan tenang. Ia kemudian berdiri dan berbalik.
"Kembalilah ke dunia bawah, disini bukan tempatmu." Ujar pemuda itu berjalan menjauh.
"S-siapa kau?"
Pemuda itu berhenti sebentar untuk menjawab pertanyaan itu.
"Hanya mata yang melihat ke kejahatan."
Pemuda itu mengambil langkah kearah trotoar di tepi jalan kecil yang sepi, terutama karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan penerangan lampu jalan yang remang kearah dimana apartemennya berada.
"Naruto Uzumaki..."
Pemuda pirang itu berhenti melangkahkan kakinya. Ia merasakan sebuah hawa keberadaan lain yang terbilang kuat di belakangnya.
Ia menoleh dan mendapati pria dewasa dengan rambut pirang panjang berdiri di belakanganya. Ia memakai pakaian ala detektif era 1800 an.
"Meskipun tanpa mata ini, aku bisa mengenali keberadaanmu, Michael-dono." Ujar pemuda bernama Naruto itu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap pria itu dengan pakaian yang 'ketinggalan zaman' itu.
Michael. Naruto mengenalinya sebagai pemimpin tertinggi fraksi Tenshi. Salah satu dari ketiga fraksi yang terkenal pernah terlibat peperangan yang mengakibatkan kehancuran besar hampir seratus tahun lalu.
"Naruto-dono, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu." Ujar Michael dengan sopan.
"Michael-dono, ada apa gerangan seorang pemimpin tertinggi menemui manusia sepertiku?"
Michael tersenyum saat mendengar pertanyaan Naruto. "Dan manusia itu mampu mengalahkan Evil God Lugh dan Nuadha dalam pertarungan."
"Mereka hanyalah Fallen God ketimbang Evil God, lagipula kekuatan mereka menurun ketingkat spirit, meski senjata mereka adalah masalah terbesarnya." Ujar Naruto menyingkapkan tangan kanannya yang digantikan oleh sebuah gauntlet seukuran tangan normal berwarna silver.
Dalam pertarungan terakhirnya melawan Fallen God Lugh, ia kehilangan tangan kanannya dan terluka parah. Mereka memang Fallen God dan kekuatan mereka menurun, namun senjata mereka masih sangat berbahaya karena kekuatannya tidak menurun bersama dengan pemiliknya.
"Aku mengerti, kau melakukan itu untuk mencegah mereka menyebabkan bencana di Eropa." Ujar Michael.
"Tidak sepenuhnya benar, aku hanya melihat mereka sebagai kejahatan yang tidak diperlukan, eksistensi mereka tidak akan bisa dipulihkan dengan cara apapun, selain itu pembasmian itu adalah permintaan para ahli sihir disana." Balas Naruto. Ia lalu kembali menajamkan mata emasnya yang sedikit berpendar terkena pantulan lampu malam.
"Katakan apa tujuan anda, Michael-dono."
"Naruto-dono, aku yakin anda sudah mendengar mengenai keseimbangan kekuatan antara ketiga fraksi."
Naruto mengangguk pelan. "Keberadaan Longinus sangat penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan antara ketiga Fraksi, sejauh ini aku mengetahui keberadaan Divine Dividing pada Fraksi Da-Tenshi, Fraksi Iblis memiliki Longinus seperti Regulus Nemea dan yang kudengar mereka berusaha mengambil Boosted Gear."
"Seperti yang bisa diharapkan dari pemilik Heavens Eye." Ujar Michael. Meskipun dipuji begitu, namun kedua mata Naruto menampilkan sedikit ekspresi terganggu dengan hal itu.
"Mataku tidak ada hubungannya dengan hal ini Michael-dono, keberadaan pengguna Longinus selalu jadi topik berita hangat di dunia supranatural, aku tahu kau selalu mengamatiku dari Heaven, seharusnya kau tahu kalau bagiku, Omniscience adalah sesuatu yang tidak sehat bagi manusia." Ujar Naruto.
"Ah, aku mengerti Naruto-dono, benar-benar manusia yang berbeda, pandanganmu mirip dengan salah satu kesayangan Ayah, yang mengembalikan kemampuannya yang tidak manusiawi."
"Dibandingkan dengan sosok itu aku hanyalah rumput kecil di hutan." Balas Naruto cepat.
Michael merogoh sesuatu dari kantungnya dan menunjukkannya pada Naruto yang sukses melebarkan matanya menyadari maksud Michael.
"Michael-dono... Apa kau benar-benar datang kemari dengan serius untuk ini?" Ujar Naruto menatap sebuah kartu berwarna putih bersih dengan gambar sebuah badut berwarna hitam.
"Brave Saints System... Mirip dengan Evil Pieces, ini memungkinkan kami untuk menambah jumlah dengan menjadikan manusia atau saints menjadi ras kami, dengan kata lain reinkarnasi menjadi Tenshi." Jelas Michael.
"Aku tahu itu, sistem Evil Pieces didasarkan pada catur, sedangkan kalian pada kartu poker... selain itu yang kau tunjukkan padaku adalah Joker... terlebih Black Joker." Ujar Naruto menghela nafasnya.
"Apa kau sadar dengan cara yang kau gunakan ini, Lord Michael? Black Joker... Jika Dulio itu bertindak menjadi tombak Heaven, maka Black Joker menjadi bayangan Heaven..." Lanjutnya.
"Aku tidak punya pilihan lain, Great War telah mengakibatkan kekuatan kami jatuh dengan sangat parah, memiliki Zenith Tempest saja tidak cukup untuk hanya untuk sekedar menyeimbangkan kekuatan," Balas Michael.
"Terlebih dengan berbagai ancaman seperti Khaos Brigade dan beberapa kekuatan supranatural lainnya seperti Evil God." Lanjutnya.
"Aku paham... tetapi melihat tindakanmu dengan menawarkan Black Joker padaku, aku bisa menganggapnya sebagai Evil terhadap rasmu sendiri." Ujar Naruto serius.
"Aku tahu hal itu... tetapi, ini adalah Needed Evil bukan? Dilihat dari cara pandangmu." Ujar Michael tenang.
Naruto tertawa kecil. "Aku melihat rencanamu sekarang... baiklah, akan kuterima tawaranmu, sebagai Black Joker, bayangan dari cahaya yang dipancarkan oleh kalian para Tenshi."
Michael tersenyum mendengarnya. "Black Joker dibuat dengan memanfaatkan lubang pada sistem kami, kartu ini seharusnya adalah kesalahan dan illegal, mereinkarnasikan seseorang menjadi Tenshi tanpa membawa sistemnya, tapi ketahuilah bahwa kau bertanggung jawab atas tindakanmu."
"Omniscience memang tidak diperlukan bagi manusia, tetapi demi menuntaskan kewajiban yang dipercayakan padaku, aku akan dengan senang hati menggunakan mata ini." Balas Naruto.
"Kalau begitu kau sudah setuju untuk menjadi Tenshi bukan?" Michael berjalan mendekat kearah Naruto.
"Tidak sepenuhnya, sejujurnya sebagian, namun baiklah." Balas Naruto mengambil posisi berlutut.
Michael meletakkan kartu itu diatas kepala Naruto dan mulai membaca kalimat-kalimat suci.
Cahaya emas berkumpul di sekitar mereka dan sebuah lingkaran sihir cahaya muncul di bawah Naruto. Kartu yang di tempatkan di kepalanya perlahan masuk ke tubuhnya.
"Bukankah sudah kukatan, Michael-dono? Hanya sebagian."
Michael melebarkan matanya ditengah ritual saat melihat sebuah pedang biru bersinar yang terwujud dan melayang di belakang punggung Naruto.
Tepat setelah Michael menyelesaikan kalimat-kalimatnya, pedang itu bergerak dengan cepat menebas Naruto menjadi dua lalu menelannya dalam ledakan cahaya biru terang yang membuat Michael terlempar ke belakang, namun ia mampu mendarat dengan mulus.
Ledakan itu lenyap seketika dan menampakkan Naruto yang berdiri di depan Michael dengan menggenggam pedang biru tadi. Lingkungan sekitarnya sama sekali tidak terkena efek ledakan itu.
"Apa yang kau lakukan, Naruto-dono?!"
Naruto hanya tersenyum kecil mendengar protes dari Michael.
"Pedang ini adalah wujud offensif dari kekuatan Anti-Evil yang aku dapatkan, pedang ini mampu memotong Evil, menembus konsep dan hukum dan menghapus mereka..."
"Aku membelah Black Joker menjadi dua dan menghapus sebagiannya, tenang saja... aku sudah setuju dan aku tidak berniat mengingkarinya."
Tiga pasang sayap putih muncul dan terbuka dengan gagah di punggung Naruto, dan sebuah Halo muncul di kepalanya.
"I-ini... kau membuat dirimu menjadi Half Human, Half Tenshi huh? Kau benar-benar malampaui apa yang bisa aku pikirkan, Naruto-dono." Ujar Michael tersenyum.
"Apa hanya dengan kehilangan setengah kekuatan Joker saja membuatmu ragu padaku, Michael-dono?"
Michael menggeleng pelan. "Anti-Evil... kekuatan yang mengerikan, hanya dengan berada di dekat pedangmu dan menatapnya saja sudah membuatku bergetar, sesuatu yang bahkan tidak kurasakan saat melawan Maou dan Gubernur Da-Tenshi." Balas Michael.
"Tapi, aku tidak berniat melakukan ini secara cuma-cuma, Michael-dono, karena itu adalah perbuatan Evil pada diriku sendiri." Ujar Naruto.
Michael memandang Naruto sebentar. "Lalu, apa yang bisa aku berikan untukmu, Naruto-dono?"
"Panggil saja aku Naruto, Aku mengalahkan Nuadha dan mendapat Airgetlam, mungkin senjata suci bisa memuaskanku." Naruto berkata sambil menunjukkan lengan kanannya .
"Yang bisa kuberikan padamu mungkin hanya Ascalon, namun mungkin itu tidak terlalu bisa memuaskanmu, tapi bagaimana dengan sebuah informasi? Atau kau tertarik dengan pecahan Excalibur?" Balas Michael.
"Aku tidak tertarik dengan pedang pecahan, dan aku berubah pikiran, aku ingin Heaven memberiku kewenangan untuk bertindak secara independen."
Michael mengangguk. "Aku menyetujuinya, tapi begitu kau membahayakan dunia ini, sayapmu akan langsung menghitam."
"Tenang saja, masih banyak yang harus kulakukan di dunia ini."
Naruto menghilangkan sayap dan pedangnya. "Lalu, apakah aku harus mengikuti Ospek di atas sana atau semacamnya?" Tanyanya dengan nada renyah.
"Aku yakin kalau rekan-rekan Tenshi dan Brave Saint lainnya tidak sabar untuk bertemu denganmu, namun aku ingin segera mengirimu ke sebuah kota di daerah Jepang." Ujar Michael.
"Aku mengerti, baiklah, aku juga tidak terlalu suka berkumpul dengan banyak orang, mungkin kau bisa menyuruh Brave Saints untuk mengunjungiku sesekali." Ujar Naruto menarik sepasang sepatu dari lingkaran sihir berwarna biru yang muncul disampingnya.
"Sepatu Hermes? Aku terkejut kau memilikinya."
"Yah, kudapatkan setelah aku menendang bokong Hermes dan mengajukan kompensasi kemarin saat artefak yang diantarnya rusak."
TBC...
First Fanfic, Hope you'll like it.
