Title: Dangerous Flame
Author: kkumkkuja (FFN) / kkumkkyuja (WP)
Pairing: Park Chanyeol / Byun Baekhyun, Wu Yifan (Kris) / Byun Baekhyun, Park Chanyeol / Cho Hyeyoung (OC)
Genre: Drama, Romance, Thriller
Rating: M
Length: Chaptered
Warnings: yaoi (boy x boy), age gap, adegan seks, plot dramatis (beware, the whole story is a huge f*cking mess; not suited for light reading unless you enjoy drama, LOL), konflik rumit (not even kidding about this, SMH), bahasa kasar, possessive behaviour, kekerasan cukup sadis [sedikit eksplisit; bisa dilewati apabila tidak nyaman], percobaan pemerkosaan, toxic relationship, pelecehan, pembunuhan berencana dan tidak berencana, minor character death, implied drug use, past suicide, keinginan untuk bunuh diri, pemerkosaan/pelecehan/kekerasan pada remaja/anak di bawah umur [sedikit eksplisit; bisa dilewati apabila tidak nyaman], underage smoking/drinking, aktivitas ilegal, normalisasi tindakan kriminal, gore [sedikit eksplisit; bisa dilewati apabila tidak nyaman], prostitusi, karakterisasi tokoh yang tidak bermoral/tidak sesuai ekspektasi [ofensif], plot twist yang tidak sesuai harapan pembaca [ofensif].
Disclaimer: Apa pun yang tertulis di sini merupakan fiksi belaka, tidak nyata, dan murni berasal dari imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan dan penulis tidak akan bertanggung jawab atas hal tersebut. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan karakter asli anggota EXO dan idola lain dalam fanfiksi ini—hanya mencantumkan nama mereka baik sebagai tokoh utama maupun pendamping. Harap untuk tidak mengambil serius fanfiksi ini. Mohon diingat bahwa ini adalah fiksi, dan segala apa pun yang tertulis hanya bertujuan sebagai hiburan semata.
Summary: Park Chanyeol terjerat dalam ambisi untuk memiliki Byun Baekhyun. Berawal dari obsesi, pemuda itu perlahan menemukan setiap potongan teka-teki tentang realitas yang lebih rumit dari dugaan mereka.
PROLOGUE
Jemari-jemari lentik bergerak pada meja kasir, secara telaten mengelapkan kain basah hingga debu di sana hilang. Setitik keringat mengalir dari dahi sang pemilik tangan, seorang lelaki cantik di usia awal kepala tiga: rambut cokelat tua, kulit putih pucat, dan tubuh kurus. Pikiran sang lelaki tampak berlarian ke mana-mana, terbagi antara bersih-bersih atau merenungkan sesuatu rumit. Selama hampir sepuluh detik, ia mungkin tidak menyadari bahwa seorang pemuda tampan telah berdiri di balik meja kasir, hazel intens memandangi wajah lelaki itu layaknya lukisan antik yang dipajang dalam museum.
Butuh empat detik baginya untuk mengetahui kedatangan sang pelanggan.
"Oh?" lelaki itu mendelikkan mata, terburu-buru menjatuhkan kain basah ke lantai. Ia spontan meluruskan celemek, membungkuk berkali-kali lalu mendongak untuk mengucapkan salam khas, "Selamat datang di depot masakan Cina 'Wu'," sang lelaki berkata ceria, raut muka hampa berubah menjadi profesional. "Maaf, saya tidak menyadari—"
"Byun Baekhyun," pemuda itu membaca label nama pada celemeknya, suara rendah yang menaikkan bulu kuduk siapa pun. Manik sang pemuda lantas bergerak ke atas untuk memulai kontak mata lagi. Ia mencondongkan tubuh, begitu percaya diri untuk mendekatkan wajah mereka. "Namamu Byun Baekhyun?"
Dari ujung kaki ke ujung rambut, tidak sulit untuk menebak bahwa usianya masih muda, dengan harta berlimpah tujuh temurun. Rambut perak yang ditata sempurna ke belakang; tubuh jangkung yang terbalut pakaian designer ternama: kemeja putih Prada, celana katun biru tua Gucci, pantofel Louis Vuitton cokelat, hingga jam tangan Audemars Piguet hitam-emas pada pergelangan sang pemuda. Siapa pun akan mengira bahwa ia adalah seorang model, atau paling tidak aktor terkenal yang tenar di sosial media. Kendati perbedaan tinggi mereka signifikan; dilihat dari gaya berpakaian dan aura mereka, sungguh mudah untuk mengira-ngira bahwa umur mereka berkemungkinan besar tidak sejajar, dengan sang lelaki bercelemek yang berusia lebih tua.
Seseorang perlu mengajari pemuda itu sopan santun untuk tidak asal memanggil nama tanpa honorifik.
Lelaki itu segera mengambil satu langkah ke belakang, menyisakan ruang kosong di antara mereka—aroma parfum mahal sang pemuda mungkin memeningkan kepala hingga ia sempat mundur ke belakang. "Benar, saya Byun Baekhyun," Baekhyun tampak menampilkan senyum palsu, cepat-cepat meraih pulpen dan nota. Obsidian pemuda itu terus mengamati gerak-gerik terkecil sang lelaki, memperhatikan paras cantiknya dari dekat. Kurang dari dua belas detik mereka berinteraksi, dan Baekhyun terlihat risih oleh kedatangan pelanggan itu. "Silahkan memesan. Ingin takeout atau makan di sini?"
Ia tersenyum tipis, mata (akhirnya) meninggalkan Baekhyun untuk membuka buku menu. Bunyi kertas yang dibalik mengisi kekosongan ruangan, sebuah pengingat bahwa hanya ada mereka di sana. Pemuda itu menutup buku untuk menatap Baekhyun lagi, obsidian intens kembali mengganggu sang lelaki. Ada sesuatu yang janggal dari cara pandang pemuda itu, sebuah ekspresi yang mau tidak mau menciptakan asumsi lain. Seperti menunjukkan rasa kagum dan terpesona yang sulit dikontrol, atau nafsu dan obsesi yang berbahaya.
"Apa menu terbaik di sini?" pemuda itu berkata tenang, menggeser buku menu ke depan. "Aku akan memesan sesuai saranmu."
Baekhyun mengedipkan mata polos. Ia seperti hendak menjawab ketika pintu depot tiba-tiba terbuka, diikuti oleh seorang pria tinggi yang memasuki ruangan: kulit memerah akibat panas matahari dan tangan mengangkut kardus berisi bahan makanan. Wajahnya dipenuhi peluh, kaus dan celana sobek yang tidak terawat. "Selamat siang," ia menyapa pemuda itu, membungkuk ramah lalu menghilang di balik dapur—tidak lupa untuk diam-diam melemparkan senyum pada Baekhyun.
Sekilas, atensi Baekhyun tercuri oleh pria itu, namun sang pemuda langsung bereaksi, "Kekasihmu?" tanyanya singkat, alis terangkat tidak terkesan.
Ada ekspresi meremehkan di paras tampan sang pemuda, dan Baekhyun mempertahankan sikap profesional, mungkin menahan untuk tidak tersinggung. "Bukan, ia adalah suami saya," jawab Baekhyun singkat. Lelaki itu lantas mengembalikan atensi pada buku menu, gagal menyadari ekspresi muram sang pemuda: bagaimana alisnya mengernyit marah, memutar mata muak ke arah suami Baekhyun.
"Lucky bastard," pemuda itu menggeram lewat gertakan gigi, suara penuh gusar yang tidak luput dari pendengaran Baekhyun.
Sang lelaki spontan berhenti, mengerjapkan mata bingung. Pelanggan itu langsung melambaikan tangan, raut muka mendadak datar lagi. "Aku akan memesan menu pertama yang kau sarankan," ia setengah tersenyum, nada bicara lebih tegas dan pandangan tajam layaknya mengontrol amarah. "Takeout."
Sepuluh menit berlalu dalam hening. Pemuda itu memainkan ponsel, dan Baekhyun membantu suaminya di dapur. Saat ia menyerahkan plastik berisi pesanan, tangan mereka sekilas bersentuhan, dengan pemuda itu yang menunduk demi memandangi wajah Baekhyun. Sang lelaki segera memberi jarak di antara mereka, membungkuk sopan lalu berkata, "Terima kasih, mohon datang kembali," ucapnya tergesa-gesa, mungkin mengharapkan interaksi mereka untuk cepat selesai. "Sekali lagi, maaf tadi saya tidak langsung melayani Anda."
Pemuda itu menyeringai, lesung pipi muncul di samping bibir. "Tidak apa-apa," kilau menggoda muncul dalam obsidian lebarnya, dan siapa pun akan memperoleh firasat buruk dari ekspresi sang pemuda. "Wajahmu lebih cantik diperhatikan dari dekat."
Respons santai pemuda itu memerangah Baekhyun. Ia menganga linglung, obsidian melekat pada figur tinggi yang kini berlalu ke sebuah Lamborghini Huracán EVO RWD kuning depan depot. Entah berapa lama Baekhyun termenung di sana, merenungi apa yang barusan terjadi sebelum sahutan keras membuyarkan lamunannya.
"Baekhyun-ah? Sayang?" Wu Yifan—suami sang lelaki—berseru, diiringi oleh bunyi sayuran yang sedang dipotong. "Bisakah kau membantuku sebentar? Pesanan Tuan Kim harus diantar sebelum jam tujuh nanti."
Baekhyun mengangguk, spontan melupakan pemuda tadi untuk berlari ke dapur.
TO BE CONTINUED
