Disclaimer: Sunrise
Quick AN: Ceritanya berisi paragraf-paragraf panjang, kebanyakan cuma membahas surat aja, alurnya bolak balik jadi mungkin sedikit membingungkan. If you decided to stay and read, bear with it :)
Athrun Zala menatap ruangan kosong tempat ia berada sekarang.
Apartemen kecil berukuran 1DK yang biasanya terisi dengan barang-barang pribadi kekasihnya sekarang terasa terlalu luas karena sudah kosong. Hanya ada kotak-kotak kardus, sebagian sudah ditutup pita perekat dan diberi label, sebagian lagi masih terbuka, menunggu untuk ditutup sebelum diangkut dari ruangan itu.
Akhirnya hampir selesai, Athrun menghela nafas. Kira dan yang lainnya sedang keluar, membeli makan siang. Semuanya masih ingin menghabiskan hari terakhir di ruangan ini, sebelum mengembalikan kunci kamar ini kepada pemilik properti. Athrun tidak ikut dan memilih membereskan barang-barang sisanya sebelum agen properti datang nanti sore untuk mengecek apakah ruangan ini sudah benar-benar bersih dari sisa-sisa pemilik sebelumnya atau belum.
Matanya tertuju ke jendela kamar Cagalli, dan ia memperhatikan sesuatu di sana. Pot bunga crossandra oranye; ia yang memberikannya pada Cagalli dulu. Bunga yang kadang disebut firecracker, yang selalu mengingatkannya pada Cagalli.
Mungkin ia akan membawa bunga ini bersamanya, nanti kalau Kira sudah datang dengan mobilnya, ia akan minta supaya bunga ini dibawakan, kalau tidak muat di mobilnya sendiri.
Kembali lagi ke boks kardus yang masih belum ditumpuk rapi, Athrun mengecek satu per satu karena masih ada beberapa barang yang dimasukan asal sehingga kardusnya tidak bisa ditutup. Pasti Kira, pikirnya sambil menghela nafas. Satu per satu ia rapikan lagi barang-barang itu ke kotak-kotak yang seharusnya. Selagi merapikan barang, ia banyak menemukan barang-barang yang membangkitkan kenangan masa lalunya bersama Cagalli. Ada tas kecil yang pernah ia berikan sebagai hadiah ulang tahun, ada banyak suvenir lokal dari perjalanan mereka berdua keliling ke berbagai tempat, ada sebuah album yang berisi kartu koleksi keluaran sebuah cafe ternama yang mereka kumpulkan berdua, dan ada kotak kaleng kue yang ia beli di salah satu theme park yang pernah mereka datangi bersama.
Athrun tersenyum mengambil kotak itu. Kotak kaleng dengan gambar karakter yang merupakan barang limited di mana orang yang menginginkannya harus merogoh kocek lebih dalam dibanding yang biasanya dan mengantri panjang. Athrun membelikannya karena Cagalli bersikeras menginginkan kotak kue itu—kotaknya, bukan kuenya—karena dia jarang sekali membeli barang limited. Hatinya terasa hangat memikirkan kembali Cagalli yang waktu itu bersikeras mengantri untuk kotak itu.
Namun seketika juga senyumnya turun mengingat kejadian yang terjadi setelah kencan itu.
Menjelang sore kondisi Cagalli mulai menunjukan keanehan, dan ia kelihatan seperti tidak sehat, cepat kelelahan dan meminta waktu untuk istirahat berkali-kali, padahal biasanya Cagalli punya stamina yang tinggi. Cagalli meyakinkan Athrun kalau ia hanya kurang istirahat, karena ia terlalu bersemangat untuk pergi ke theme park ini sampai tidak bisa tidur di malam sebelumnya, hingga ia baru memejamkan mata ketika lewat dini hari. Meskipun Athrun menyarankan supaya mereka segera pulang karena khawatir, Cagalli bersikeras ingin melihat acara terakhir, parade dan kembang api yang memang selalu jadi penutup di theme park itu. Mau tidak mau Athrun terpaksa menuruti. Biarlah karena besok hari Minggu; ia akan menyuruh Cagalli istirahat tanpa bisa ditawar; begitulah yang ia pikirkan saat itu.
Di perjalanan pulang, Cagalli tidak henti mengurut pinggang belakangnya. Baru ketika ditanya Athrun ia mengaku kalau seluruh tubuhnya—terutama tulangnya— terasa sakit, dan badannya juga terasa semakin lemas. Di saat itu juga Cagalli mengaku kalau hal ini sebenarnya sudah sering terjadi selama beberapa waktu, diikuti gejala lain. Athrun akhirnya membelokkan mobil yang tadinya menuju arah apartemen Cagalli menjadi ke rumah sakit. Keputusan yang tepat, karena tidak lama setelah itu, suhu tubuh Cagalli langsung naik hingga hampir kehilangan kesadaran.
Dari kejadian itu, dokter menemukan penyakit yang mulai bersarang di tubuh Cagalli. Leukemia limfoblastik akut, penyakit yang tipe perkembangannya sangat cepat. Oleh karena itu selama sekitar setengah tahun sejak penyakitnya ditemukan, Cagalli segera menerima penanganan medis dengan rawat inap di rumah sakit. Tidak hanya itu, satu setengah tahun setelahnya ia menjalani rawat jalan sampai dinyatakan bebas kanker. Perjalanan yang tidak sebentar, namun setelah rawat inapnya selesai, Cagalli mulai bisa melanjutkan aktivitasnya sedikit demi sedikit, menyelesaikan tugas akhirnya yang tertunda padahal sudah tinggal selangkah lagi, dan akhirnya lulus kuliah.
Sayangnya, setelah setahun lebih dirawat jalan, sebelum benar-benar dinyatakan bebas kanker, di pengecekan rutin yang wajib Cagalli ikuti seperti halnya penyintas kanker lainnya, dokter menemukan kenyataan bahwa penyakitnya kembali lagi, dan Cagalli pun harus dirawat lagi untuk kedua kalinya, memulai lagi pertempuran panjang dengan penyakitnya.
Melihat kotak ini, Athrun merasa seperti melihat penanda awal semua masa lalu yang sekarang terasa sangat jauh. Perjuangan Cagalli untuk bisa sembuh merupakan perjuangan yang penuh darah dan air mata, bukan hanya kiasan, namun juga secara harfiah.
Dan sekarang semuanya sudah selesai.
Ketika hendak mengembalikan kotak itu, Athrun bisa merasakan ada sesuatu bergeser; ada sesuatu yang ditaruh di dalamnya.
Penasaran, ia membuka kotak itu. Di dalamnya ia menemukan kertas yang terlipat dan sebuah foto. Dilihat sekilas ia langsung ingat, ini adalah foto yang diambil Lacus ketika mereka menengok Cagalli beberapa minggu setelah pengobatan kanker pertamanya berjalan.
Athrun masih ingat; sebelum pergi ia meminta tolong kepada Lacus membantunya memilihkan sesuatu untuk Cagalli yang akhir-akhir ini bertambah sedih karena rambutnya mulai rontok tak beraturan—puncak kepalanya menipis namun rambut di atas tengkuknya masih lebat. Belum lagi wajahnya yang semakin membulat padahal ia hampir tidak bisa menelan makanan tanpa memuntahkannya lagi. Semua karena efek samping dari obat yang diminumnya. Mereka sepakat untuk membelikan sebuah topi rajut berwarna hijau mint. Lacus menambahkan beberapa pin kecil di bagian depannya, untuk membuatnya lebih spesial dan personal. Suasana hati Cagalli pun sedikit berubah menerima hadiah itu, dan Lacus mengambil foto Cagalli yang sedang memakai topi yang ia berikan, bersama Athrun yang berdiri di sebelah tempat tidurnya.
Sudah lama sekali waktu berlalu sejak saat itu.
Diletakkannya foto itu kembali ke kotak tadi, dan berikutnya giliran kertas yang dilipat itu yang Athrun buka. Heran dengan betapa tebalnya lipatan kertas itu—seperti berlembar-lembar kertas yang ditumpuk lalu dilipat, matanya teralihkan pada sesuatu yang tertulis di salah satu sudut kertas itu.
Dear Athrun, tertulis dengan sebuah tulisan tangan kecil. Tulisan Cagalli, Athrun langsung mengenali. Surat?
Perlahan Athrun membuka surat itu, ia memperhatikan nama rumah sakit tempat Cagalli dirawat tercetak di sudut kanan bawah kertasnya. Apakah Cagalli menulis ini ketika ia masih di rumah sakit? Untuk apa?
Karena surat ini tertuju untuknya, langsung saja Athrun mulai membacanya.
Dear Athrun, apa kabar? Kalau kau sedang membaca surat ini, itu artinya kemungkinan aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Dadanya tercekat. Ia tidak tahu Cagalli menulis surat seperti ini untuknya. Kapan? Apa setelah ia dirawat di rumah sakit untuk kedua kalinya karena penyakitnya datang kembali?
Menyebalkan sekali. Padahal setelah dua tahunan opname dan juga rawat jalan, dokter bilang penyakitku sudah hilang. Lalu dari pemeriksaan berkala, ternyata kankernya datang lagi, dan aku harus dirawat lagi. Padahal aku sudah muak dengan rumah sakit, infus, jarum suntik besar yang menusuk punggung, dan semua obat yang tidak enak itu. Aku senang sekali waktu akhirnya diperbolehkan pulang dan bisa bertemu keluargaku dan teman-teman, bisa kembali ke kampus dan belajar lagi, bisa makan enak lagi, lulus kuliah, dan bisa bersama denganmu lagi.
Mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk bercerita tentang penyakit ini pada siapapun. Maukah kau mendengarkan apa yang kurasakan selama ini? Aku tidak pernah bilang apa-apa karena takut kalian semua semakin khawatir. Tapi setengah tahun pertama di rumah sakit itu benar-benar seperti neraka buatku. Aku benci biopsi sumsum tulang belakang. Kenapa sih aku tidak seperti orang lain yang bilang kalau biopsi sumsum itu tidak sakit? Aku tertolong sekali tiap kali kau menyempatkan waktu untuk menemaniku hingga tes biopsi selesai, meskipun tetap menakutkan, rasanya sedikiit (cuma sedikit sih) lebih baik kalau ada kau. Lalu setelahnya kau selalu melakukan apapun yang kau bisa untuk mengalihkan pikiranku dari rasa sakit, tapi ketika aku sama sekali tidak mau apapun dan hanya ingin istirahat, kau juga seperti sudah tahu dan hanya diam dan menemaniku. Apa aku pernah bilang terima kasih padamu karena selalu perhatian? Kalau belum, terima kasih ya, maaf aku selalu menyusahkan. Maaf juga kalau aku kadang-kadang kesal sendiri dan melampiaskannya padamu.
Athrun ingat benar saat-saat itu. Sebelum Cagalli diharuskan menjalani biopsi berkala, ia pernah mendengar sebelumnya kalau rasa sakitnya berbeda-beda tiap orang, ada yang baik-baik saja, ada pula yang tetap merasa sakit sekalipun dokter memakai obat bius—terutama ketika jarumnya menembus tulang untuk menarik cairannya. Makanya ia menawarkan diri untuk menemani selama pengambilan sampel ini. Dan setiap kali ia ikut, setiap kali itu pula hatinya serasa hancur, seperti tangannya yang diremas Cagalli sebegitu kuatnya karena menahan sakit begitu jarum suntik itu menembus tulangnya, apalagi jika Cagalli sudah mengeluarkan erangan tertahan dari sela giginya yang gemeretak, meski cuma sebentar. Setelah selesai pun, rasa sakitnya tidak akan hilang untuk beberapa hari. Karena itulah, tiap kali setelah pemeriksaan itu selesai, Athrun melakukan segala cara supaya Cagalli sibuk dan melupakan rasa sakit di punggungnya.
Selain itu, setelah kemo kadang aku dimasukkan ke ruangan steril bebas kuman. Pengobatan kemo kelimaku sudah selesai hari ini dan dokter bilang besok aku harus pindah ke sana lagi. Aku takut, Athrun—apalagi aku tahu kau tidak akan diizinkan menjengukku di sana, bahkan keluargaku pun hanya bisa melihatku dari balik layar saja dan tidak diizinkan masuk. Meskipun ruangannya steril, bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk tidak terpapar sama sekali. Setelah masuk ke sana beberapa kali tubuhku demam tinggi hingga tidak bisa tidur. Seluruh tubuhku sakit, tidak bisa bergerak. Apapun yang masuk ke mulutku segera keluar lagi, lebih parah daripada efek obat kemoterapi sebelum sel tubuhku habis. Mulutku terasa seperti penuh karat besi yang bau, aku lelah memuntahkan makananku sampai tenggorokanku terasa sakit seperti menelan batang kayu. Kadang-kadang aku merasa kau datang ke ruanganku, tapi kemudian tersadar kalau semuanya halusinasi karena demam. Aku masih bisa tahan kalau halusinasiku adalah kau, tapi seringnya aku berhalusinasi kalau aku sudah ada di dunia sana, setiap kali itu muncul aku ketakutan tidak bisa bertemu denganmu lagi, dengan Kira, Lacus, dan ayah ibuku. Aku takut sendirian. Tubuhku terasa lemas, kadang terasa panas terbakar, kadang terasa seperti dikubur di dalam salju beku. Dan semua itu berlanjut selama beberapa hari, tapi rasanya seperti berbulan-bulan, seperti tidak berujung. Obat penghilang mual dan sakit yang kuminum lama kelamaan tidak ada pengaruhnya. Kadang aku berpikir apa lebih baik mati saja daripada berulang kali disiksa tanpa tahu kapan semuanya berakhir. Rasanya seperti dilempar-lempar di antara pintu hidup dan mati. Aku tidak kuat dengan rasa sakit ini, tapi aku juga tidak mau berpisah dengan kalian semua.
Di atas kertas, ada dua-tiga noda air yang sudah kering, dan sekarang noda tersebut basah kembali, dikarenakan air mata Athrun yang jatuh menimpanya begitu membaca paragraf itu hingga selesai. Cagalli tidak pernah cerita secara detail tentang semua prosedur pengobatannya, baik ketika dirawat maupun setelah sembuh. Ia berpikir Cagalli hanya tidak mau mengingatnya saja. Tapi ternyata karena ia tidak mau membuat orang lain khawatir memikirkan rasa sakit yang ia rasakan sepanjang waktu di rumah sakit, seorang diri.
Ketika tubuhku mulai terasa lebih baik dan dokter bilang pengobatannya nampaknya berhasil, aku merasa sangat bersyukur bisa lepas dari pintu kematian yang aku rasakan setiap hari. Perjuangan menahan sakitku tidak sia-sia dan aku bisa kembali bersama kalian lagi. Meskipun masih perlahan-lahan dan tidak sempurna, akhirnya aku bisa merasakan hidup seperti dulu lagi. Kau jahat sekali menertawakanku waktu aku hampir menangis ketika bisa makan coklat lagi setelah sekian lama. Kau tidak tahu rasa sedih ketika makan coklat tapi di mulut terasa seperti gumpalan minyak tawar yang malah membuatku mual. Bersyukurlah karena kau tidak perlu merasakan semua itu, Zala!
Kedutan samar terlihat di bibir Athrun, setelah membuatnya menitikkan air mata seperti ini, Cagalli masih bisa membuatnya hampir tertawa dalam waktu tidak terpaut jauh.
Tapi sebenarnya selain itu, aku bahagia sekali karena kau masih sudi bersamaku, padahal kau bisa saja meninggalkanku dan jalan bersama gadis lain yang lebih sehat, lebih cantik, lebih pintar, lebih segala-galanya dariku. Kau ingat tetanggaku Meyrin? Apa kau tahu dia sebenarnya punya rasa terhadapmu? Aku tidak pernah mendengar darinya langsung, tapi aku hanya merasa saja. Mungkin ini intuisi wanita. Ha, apa kau pernah membayangkan seorang tomboy sepertiku punya intuisi wanita? Rasanya itu lebih terdengar seperti Lacus dari pada aku. Bagaimana? Ooh, atau mungkin Meer yang pernah jadi juara Miss University tahun lalu? Dia memang agak pilih-pilih, tapi kalau sedang bicara denganmu orangnya lembut sekali. Parasnya cantik sih. Kalau disuruh memilih, kau lebih suka yang mana? Haha, kalau aku tidak dalam keadaan hampir sekarat seperti sekarang, pasti aku mengamuk kalau ada yang bertanya seperti itu.
Lalu kau pikir aku tidak akan mengamuk? Athrun merutuk dalam hati. Bagaimana bisa Cagalli membuat suasana hatinya naik turun hanya dengan sebuah surat? Dari kaget, sedih, geli meskipun hanya sekilas, dan sekarang Athrun merasa kesal. Bisa-bisanya Cagalli berpikir seperti itu di belakangnya.
Setelah diingat lagi, ketika Meyrin—anak dari induk semang pemilik apartemen Cagalli yang juga kuliah di universitas yang sama dengan mereka—sempat mengunjungi Cagalli di rumah sakit, Cagalli sering terlihat menatap Meyrin dengan pandangan berbeda. Jadi ini yang dia pikirkan waktu itu? Kalau saja ia mengetahuinya waktu itu, Athrun akan menceramahinya panjang lebar, meskipun ia harus menyusul ke alam baka, ia akan melakukannya supaya bisa membawanya kembali dan mengingatkannya lagi kalau di dunia ini cuma Cagalli seorang yang ia cintai.
Mungkin kalau kau membaca ini sekarang, kau akan marah—
Iya, aku marah, Athrun mengumpat lagi dalam hati sebelum lanjut membaca.
Gara-gara aku seperti seenaknya membuat keputusan sendiri untuk hubungan kita dan menyuruhmu jalan dengan wanita lain seperti itu.
Setiap kali aku kehilangan harapan dan kata-kata semangatmu tidak mempan padaku, kau selalu menasehatiku supaya tidak menyerah pada penyakitku, bahwa aku sudah pernah menang sekali dan kau yakin aku bisa mengalahkan penyakitku lagi. Rasanya aku bisa membayangkanmu mengatakannya padaku, cepat sembuh supaya tidak perlu memikirkan untuk mencari penggantiku. Membayangkanmu mengatakan, 'semangat, bahwa aku pasti bisa'.
Athrun mengangguk dalam hati, teringat kata-kata semangat yang sering ia berikan pada Cagalli selama di rumah sakit.
Tapi dengan situasiku sekarang, aku harus bagaimana lagi? Aku sudah pernah menerima lima siklus kemoterapi satu kali sebelumnya. Waktu itu saja aku merasa seperti hampir mati. Ketika sakitnya benar-benar tidak tertahankan, aku bahkan sempat mengharapkan kematian. Setelah berada dalam keadaan seperti itu, aku harus semangat dan berjuang seperti apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakukan selain menerima semua obat dan merasakan efek sampingnya dan menunggu semuanya berlalu, dan mengulanginya lagi tanpa tahu apakah aku bisa sembuh atau tidak? Aku tahu aku harus bertahan, tapi mendengar semuanya bilang seperti itu, lama kelamaan aku juga merasa lelah.
Apalagi setelah bisa merasakan kebebasan dari rumah sakit dan obat-obatan, dari rasa mual, demam, kesakitan yang tidak berujung itu, penyakitku kambuh lagi, dan harus mengulangi semuanya lagi, bahkan dengan pengobatan yang lebih kuat dan lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Kadang aku merasa kalau kehidupanku sehari-hari sebelum kemoterapi lebih nyaman daripada saat pengobatan.
Kau tahu? Pasien lain yang di ruangan sebelahku menghembuskan nafas terakhirnya ketika aku kembali ke ruang rawat biasa bulan lalu. Dia sepertiku, kankernya kembali tidak sampai setengah tahun setelah kemoterapi ketiganya berakhir, dan menjalani pengobatan lagi sambil menunggu donor. Ia tidak bisa melewati masa kritis ketika tubuhnya yang sengaja dilemahkan. Aku takut melihatnya, aku takut berikutnya giliranku—takut ketika menutup mata aku tidak akan berada di sini lagi. Aku takut tertidur tapi juga tidak mau merasakan sakit.
Dan di siklus terakhir ini, dokter memberitahuku kalau masih juga belum mencapai kondisi remisi, mungkin aku sudah tidak akan bisa disembuhkan lagi dengan obat kemoterapi. Aku tidak tahu harus bagaimana setelah mendengar itu. Kalau sudah begini, aku harus berjuang seperti apa lagi? Jangankan berjuang, aku bahkan tidak berani berharap sama sekali. Tubuhku sudah pernah hampir hancur, aku tidak yakin aku bisa selamat untuk yang kedua kalinya. Aku ingin sekali sembuh, aku ingin kembali kepadamu, tapi dengan apa yang aku alami, bagaimana bisa aku tidak memikirkan kemungkinan kalau aku akan berakhir sampai di sini?
Athrun yang sedari tadi membaca sambil berdiri, perlahan terduduk ke lantai. Ia sering sekali menyemangati Cagalli ketika Cagalli mulai berpikiran negatif tentang penyakitnya. Apalagi di kali kedua ia masuk rumah sakit, setelah mengalami relaps—kambuhnya penyakit kankernya yang sebelumnya seharusnya sudah mereda. Cagalli terkadang menanggapinya dengan senyuman dan sikap yang positif, tetapi kadang-kadang ia juga hanya diam saja, kadang ia juga berteriak marah, berkata kalau Athrun tidak tahu apa-apa tentang penyakitnya ini.
Ia teringat kalimat yang ia baca sebelumnya, Maaf juga kalau aku kadang-kadang kesal sendiri dan melampiaskannya padamu.
Samar-samar ia ingat sikap Cagalli yang menerima program pengobatan kemoterapi kedua kalinya, proses panjang berbulan-bulan yang kembali merontokkan rambut pirangnya yang sudah mulai kembali tumbuh meskipun masih sangat pendek—membuatnya terlihat seperti Kira kakaknya. Beberapa hari sebelum siklus kelima kemoterapinya selesai, Cagalli semakin hari semakin murung, diam saja meski diajak bicara dan tidak semangat.
Tapi dengan ringannya ia berkata pada Cagalli untuk terus berjuang melawan penyakitnya tanpa tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Setiap kali siklus kemoterapinya selesai, Cagalli akan dipindahkan ke ruangan steril bebas kuman. Semua kemoterapi yang diterima Cagalli, sel tubuhnya dibabat habis sehingga ia akan mudah terserang penyakit jika tetap di ruang biasa. Saking lemahnya, makanan yang diberikan semuanya makanan yang sudah dimasak sempurna supaya tidak ada kuman dan bakteri yang masih mungkin masuk ke dalam tubuh, bahkan tidak ada sayuran maupun buah segar. Meskipun tubuhnya tidak terserang penyakit pun, efek dari sel kekebalannya yang habis membuatnya mengalami berbagai gejala berat seperti demam yang bisa berujung pada pneumonia. Padahal Athrun ingat di masa itu, Kira yang pulang setelah menjenguk Cagalli dari ruang steril selalu terlihat lebih murung dan sedih. Ia tidak diizinkan ke sana karena bukan keluarga, jadi ia tidak tahu apapun karena Cagalli tidak bicara apa-apa. Kira pun tidak memberitahukannya kondisi Cagalli selama di ruangan itu. Setelah membaca surat ini, sekarang ia tahu penyebabnya, karena kondisi Cagalli yang memburuk selagi melawan penyakitnya.
Ia tidak tahu apa-apa, dan sebaliknya. Kata-kata yang ditujukan untuk menyemangati kekasihnya, malah menjadi kata-kata yang membuatnya semakin tertekan. Apa yang Cagalli katakan, bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang penyakit itu, tentang perjuangannya di sana, semuanya benar. Ia tidak tahu apa-apa, tidak tahu rasanya melawan apa yang Cagalli rasakan. Sakit di sekujur badan, lelah akibat memuntahkan makanan dalam keadaan lemah karena tidak bisa mendapatkan nutrisi, demam tinggi yang jika tidak ditangani dengan baik bahkan bisa berujung pada kematian. Ia tidak tahu semuanya, hanya bisa memberikan semangat kosong yang tidak berarti.
Tak terasa air mata yang sudah disekanya menetes kembali ke atas kertas di tangannya.
Apa ada orang seberuntung itu di dunia ini? Kalaupun ada, pasti jumlahnya sangat sedikit. Dan aku tidak tahu apakah aku termasuk di dalamnya atau tidak.
Bukan hanya kau saja. Apapun yang dikatakan Kira dan orang tuaku, tidak ada yang bisa membangunkan semangatku lagi. Aku pun sudah lelah, aku benar-benar tidak yakin apakah aku bisa melewati waktuku selama di ruang itu lagi mulai besok. Bisa jadi pertemuanku denganmu tadi sore adalah yang terakhir. Maaf ya, aku meminta hal-hal aneh tadi tanpa menjelaskannya langsung padamu. Kalau aku kembali dari ruangan itu dalam keadaan tinggal nama, setidaknya sekarang kau tahu alasannya dengan membaca surat ini.
Athrun langsung teringat apa maksudnya. Di jam besuk hari itu, dengan keadaan Cagalli yang terlihat sangat lesu, Athrun mengatakan akan melakukan apapun yang Cagalli minta, bahkan meskipun permintaannya aneh, hanya supaya ia bisa tersenyum lagi. Cagalli sampai mengulang beberapa kali untuk memastikan, apa ia benar-benar akan melakukan apapun.
Dan permintaan anehnya adalah supaya Athrun menyeka mulutnya dengan tisu basah antiseptik yang selalu ada di meja Cagalli.
"Apa maksudnya? Buat apa sih?" Athrun bertanya sekali lagi dengan wajah bingung dan sedikit ragu, dengan tisu yang sudah siap di tangannya.
"Lakukan saja cepat, kan kau bilang mau melakukan apa saja meski yang aneh sekalipun," Cagalli hanya menjawab singkat sambil terkekeh pelan. Dan mau tidak mau, karena sudah berjanji, Athrun melakukan persis sesuai yang Cagalli minta.
"Sudah. Lalu apa?" Athrun bertanya sambil membuang tisu yang ia pakai ke tempat sampah.
"Cium aku ya?"
"Huh?" Athrun tertegun mendengar permintaan Cagalli berikutnya. Pasalnya, pengobatan kemoterapi membuat imun Cagalli melemah sehingga hal seperti berciuman dengan orang lain bisa saja berakibat fatal, dimanapun itu. Belum lagi kondisi mulut Cagalli saat ini, "Memangnya tidak apa-apa? Mulutmu masih agak sakit kan?" Athrun bertanya. Salah satu gejala penyakit Cagalli membuatnya memiliki banyak luka lepuh seperti sariawan di dinding mulut dan lidahnya, salah satu penyebab Cagalli sulit makan, bahkan untuk minum air putih sekalipun.
"Maaf, kau pasti jijik membayangkan luka lepuh di dalam mulutku, kan?" Cagalli tertunduk lagi.
"Bukan itu," Athrun meraih bahunya untuk membuat Cagalli melihat ke arahnya lagi. "Aku takut kalau malah membuatmu tidak nyaman. Minum air sedikit saja membuat mulutmu sakit kan? Apalagi kalau—"
"Ringan saja, di atas bibirku, jangan membabi buta seperti kebiasaanmu," Cagalli tersenyum lebar, mengingat Athrun yang suka lupa diri kalau menciumnya, dan kemudian tertawa melihat wajah Athrun yang memerah sambil membuang muka. Tapi suara tawanya menyembuhkan muka masam Athrun, "Kalau itu bisa membuatmu tertawa lagi, ya sudah. Kau sejak tadi murung terus lho," Athrun duduk di pinggir tempat tidur Cagalli dan menepuk puncak kepalanya yang masih mengenakan topi rajut yang pernah ia berikan dulu.
"Maaf ya, soalnya mulai besok aku tidak bisa bertemu denganmu lagi untuk beberapa waktu," jawab Cagalli dengan wajah sedih yang tertunduk.
Sekarang Athrun paham kenapa mata sayu Cagalli waktu itu terasa berbeda, seperti ada arti lain dari kata-katanya.
"Nanti kalau kau sudah kembali lagi ke ruangan ini aku pasti jadi yang pertama menjengukmu," Athrun berjanji dan menundukkan kepalanya untuk mengecup ringan bibir Cagalli, berhati-hati supaya tidak menyakitinya.
Sewaktu ia berhenti untuk melihat wajah Cagalli, entah kenapa ada kilatan di matanya. Tiba-tiba saja Cagalli langsung menyembunyikan wajahnya di dada Athrun dan memeluknya erat. Athrun yang waktu itu tidak tahu apa-apa hanya memberikan kata-kata yang sudah sering ia katakan, "Cuma beberapa bulan, nanti juga kita pasti bertemu lagi," sambil mengusap punggung Cagalli pelan.
Setelah membaca surat ini, Athrun membayangkan sekalut apa perasaan Cagalli yang mengetahui bahwa kali ini mungkin ia tidak akan bisa sembuh seperti sebelumnya dan tidak bisa bertemu dengannya lagi. Kalau Athrun tahu beberapa hari setelah kejadian itu kondisi Cagalli memburuk sehingga harus dibawa ke ruang perawatan intensif, dia pasti tidak akan mengucapkan kata-kata itu. Harusnya ia lebih peka lagi, bukan hanya sekedar menyemangati supaya sembuh, tapi menenangkan ketakutannya.
Tapi semua sudah terlambat, semuanya sudah berlalu.
Karena itulah, terima kasih ya, sudah menemaniku selama ini. Kau membuat semua perjalananku menghadapi penyakit ini jadi tidak begitu menakutkan. Terima kasih sudah menjengukku hampir setiap hari. Maaf karena membuatmu telat lulus sehingga harus mengulang semester bersamaku. Maaf juga karena aku egois, aku merasa sedikit senang karena kita bisa lulus sama-sama, padahal harusnya kau bisa lulus jauh lebih cepat bersama Kira. Terima kasih dan maaf karena kau selalu menyempatkan menjengukku setelah aku dirawat lagi, padahal kau sibuk dengan pekerjaan barumu. Kau selalu menolak ajakan makan bersama dari orang kantor kan? Rekan kerjamu pasti berpikir kau orang yang tidak pandai bergaul. Jangan sampai kau dijauhi gara-gara aku ya. Mulai sekarang kalau ada acara seperti itu, jangan ragu untuk pergi. Kau tidak perlu menjengukku lagi begitu aku pindah ke ruang steril, jadi kau bisa bebas menggunakan waktumu sepulang kerja.
Apa ini juga salah satu alasan Cagalli diam tentang ketakutannya? pikir Athrun. Jika tahu kebenaran tentang apa yang Cagalli pikirkan dan alami di ruangan itu, dia pasti tidak bisa tinggal diam dan tenang. Tidak akan bisa fokus pada apapun dan hanya bisa mencemaskan Cagalli. Mana mungkin dia bisa pergi memenuhi ajakan teman-temannya ketika Cagalli sedang berjuang untuk bertahan dari situasi hidup dan mati?
Aku tidak tahu apakah aku benar-benar bisa selamat kali ini. Dokter sudah bilang mengenai prognosis penyakit LLA jika mengalami relaps. Kalau tidak, maaf karena aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu. Maaf karena aku tidak berhasil kali ini dan meninggalkanmu untuk selamanya.
Tinta bolpoin di sekitar kalimat itu memudar karena bekas tetesan air yang tercetak jelas dan ada bekas digosok. Sepertinya Cagalli berusaha menghapus bekas air matanya ketika menulis bagian ini. Sambil menghapus air matanya sendiri, Athrun meneruskan lagi.
Maaf karena menyia-nyiakan waktumu selama tiga tahun bersamaku. Kalau tidak bertahan denganku, mungkin sudah banyak hal yang bisa kau lakukan bersama orang lain. Kalaupun aku sembuh, aku tidak akan bisa menjadi wanita seutuhnya lagi. Aku yakin kau masih ingat ketika aku menceritakan efek kemoterapi yang merusak bukan hanya sel kankernya tapi juga organ lain di tubuhku, membuatnya menjadi tubuh yang tidak bisa melahirkan jiwa baru. Aku sudah pernah bilang tapi kau selalu berkata kalau itu tidak masalah. Tapi aku tidak mau merebut kebahagiaan yang pantas kau dapatkan.
Karena itu, jika aku sudah tidak ada, tolong segera lupakan aku dan carilah orang lain yang lebih pantas dibandingkan aku. Aku harap nanti ketika aku pergi aku tidak membawa sebagian dari dirimu, supaya ada orang lain yang bisa menemukanmu setelah aku. Pergilah ke acara kencan buta, cari wanita yang cantik yang sepadan denganmu, yang bisa menemanimu sampai kalian menjadi tua. Mungkin siapapun yang kau pilih pasti tidak akan ada satupun yang aku suka, karena kau layak mendapatkan yang terbaik. Tapi siapapun asal bisa membuatmu bahagia, sudah cukup buatku. Aku benar-benar beruntung bisa mengenalmu. Aku berterima kasih pada Kira yang sudah mengenalkan kita. Rasanya sudah lama sekali sejak kita semua pergi jalan-jalan bersama. Sayang sekali tidak akan ada yang berikutnya.
Baik-baik dengan teman kerjamu ya, apalagi yang perempuan, siapa tahu bisa jadi jodohmu berikutnya ada di antara mereka. Jangan kerja terlalu keras, sewajarnya saja, lembur juga sama. Kalau tidak merepotkan, sekali-kali tolong kunjungi Kira dan orang tuaku. Mereka sayang sekali padamu, jadi meskipun kau melupakanku, tolong tetap jaga komunikasi dengan mereka.
Lihat berapa banyak yang sudah kutulis. Kau pasti malas membacanya kan? Kalau kau membaca semuanya sampai selesai, terima kasih sudah mau mendengarkanku untuk yang terakhir kalinya. Aku harap kau dan yang lainnya bisa hidup panjang , selalu sehat dan selalu bahagia.
Sekali lagi, terima kasih. Selamat tinggal.
P.S. I love you :)
Athrun menghela nafas yang ia tidak sadar tertahan sejak beberapa waktu lalu. Hatinya terasa berat setelah membaca hal-hal yang disembunyikan Cagalli dan tidak ia ketahui. Apa saja yang ia lakukan dulu? Kekasih macam apa dia, yang tidak menyadari penderitaan orang yang dikasihinya sampai-sampai ia menulis surat seperti ini? Harusnya ia lebih peka ketika melihat Cagalli lebih muram dari biasanya ketika menjalani perawatan keduanya. Dengan begitu mungkin ia bisa mendorongnya untuk menceritakan segala ketakutannya dan bisa lebih suportif lagi, bukan hanya sekedar berada di sisinya saja.
Sambil mencoba menenangkan dirinya, dilipatnya lagi surat itu. Setelah memasukkannya lagi ke dalam kotak tempatnya semula, Athrun mengangkat wajahnya dari surat tadi. Di depan matanya, ia melihat bunga crossandra oranye yang ia perhatikan sebelumnya sekilas. Bunga yang tidak memiliki arti apapun, tapi banyak yang menyebutkan kalau bunga ini selalu mengingatkan orang pada cahaya matahari, jadi berikanlah pada orang yang selalu menerangi hari-harimu.
Begitulah ia selalu melihat Cagalli, seorang yang periang cerah dan selalu membawa kebahagiaan seperti matahari. Ia selalu berpikir bahwa Cagalli yang selalu ceria, bersemangat, dan tidak pernah menyerah menghadapi apapun. Namun penyakitnya perlahan membuatnya meredup hingga hampir padam. Tulisannya dalam surat itu membangunkan dirinya, ia merasa gagal melindungi Cagalli, dari dirinya sendiri. Dia bukan matahari. Dia manusia yang juga mempunyai kelemahan dan ketakutan. Athrun ingin mencaci dirinya sendiri, kenapa ia dulu tidak menyadarinya sama sekali.
Semuanya sudah berlalu.
Athrun berjalan mendekati bunga berwarna oranye terang itu, ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Athrun?"
.
Ngga, itu bukan Cagalli yang manggil. Sorry..
Efek dari keseringan nonton video 'What will happen if you get -insert disease name-'. Semua alur pengobatan LLA di sini kebanyakan dari video-video itu. Pengobatan kanker sepertinya berbeda di tiap negara (sempat cross-check juga) jadi mungkin ada beberapa detail yang berbeda. Ada juga beberapa creative liberties seperti biopsi sumsum, kemungkinan sebenarnya tidak boleh ada yang menemani; hanya pasien dan dokter, but oh well... *shrug
Masih ada satu chapter lagi, semacam penutupnya. Mungkin akan di-post minggu depan, kalau memang ada yang baca, kalau ngga mungkin sampai di sini saja, hehe
See you again next time,
Cheers
