Dislcaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

Highschool DxD Ichiei Ishibumi

Dan unsur-unsur lain dari anime, novel, game, buku, dll adalah milik creator mereka masing-masing, not me.

Warning : Bahasa, Tanda baca, Typo, Many Element from Anime, Novel, books, etc


Path to Chaos I

.

.

.

.

.

Dimensional Gap

Besar dan mengerikan, seekor naga merah berenang dengan tenang ditempat dimana hanya ada lautan kekosongan. Lautan yang berbeda dari lautan bintang. Jika yang satu mengikat semua yang ada di dalamnya kedalam hukum fisika, maka lautan yang ini tidak mengenal maupun menerapkan konsep itu, inilah celah dimensi, atau Dimensional Gap.

Tempat ini juga disebut sebagai lautan kekosongan. Semua yang ada disini tanpa perlindungan yang cukup kuat, akan hancur dalam hitungan milidetik karena terekspos oleh konsep kekosongan tersebut.

Tapi makhluk yang sedang berenang ini berbeda, ia merupakan makhluk yang keberadaannya sendiri seakan sudah mampu menetralisir konsep kekosongan dalam celah ini. Seekor naga terkuat berwarna merah, atau yang disebut sebagai Great Red.

Naga yang bahkan disegani oleh seisi dunia dan meskipun seluruh Underworld menyatukan kekuatan mereka, mereka tidak akan menang melawan makhluk ini.

Meski disebut sebagai yang terkuat dan disegani, namun makhluk ini tidak memiliki keinginan pasti untuk bergabung dalam hiruk pikuk dunia ini. Yang dia lakukan semenjak momen kelahirannya hingga sekarang hanyalah berenang di tempat ini. Sunyi dan damai.

Tetapi, hari ini, atau mungkin saat ini, Great Red sedang tidak berada dalam kondisi yang senang. Celah dimensi ini tidak mengenal hukum fisika, disini, Great Red bisa terus berenang tanpa takut menemui akhir.

Dan hal itu juga berlaku pada semua yang masuk kedalam tempat ini. Meski celah dimensi tidak mengenal konsep luas, itu juga tidak mengenal konsep sempit. Konsep-konsep tersebut berlaku secara individual.

Tapi dia adalah Great Red. Ia terlahir disini, ia mampu merasakan hampir semua yang ada di celah dimensi ini, menyusuri seluk beluknya seolah tempat ini adalah halaman belakangnya.

Beberapa bulan lalu, ia merasakan sesuatu di bagian lain celah dimensi. Gogmagog yang dikatakan dibuat oleh dewa kuno, ciptaan yang tidak lagi aktif namun mampu berada dalam celah dimensi tanpa terkena efek penghancurannya.

Great Red hanya menganggap itu sampah dan tidak memedulikannya. Namun saat itu ia merasakannya, seluruh Gogmagog yang berada di celah dimensi itu, mendadak aktif setelah seseorang masuk. Saat ia ingin melihatnya, keberadaaan orang asing itu sudah lenyap bersama seluruh Gogmagog yang tersisa.

Dan hal itu telah berlalu, dan Great Red sudah tidak lagi memikirkannya, namun kali ini ia merasakan sesuatu yang lebih asing lagi. Ia merasakan titik-titik aneh bermunculan di celah dimensi.

Meski awalnya ia mengabaikannya dan menganggapnya mungkin hanya orang bodoh yang masuk kemari, namun titik-titik ini tiba-tiba semakin bertambah banyak dengan jumlah yang tidak lagi dapat ditolerir.

Ia memutuskan untuk berenang kesana dan mencari tahu titik-titik apa itu.

Meski gerakan Great Red terlihat lamban, namun ditempat yang tidak terikat konsep waktu ini, tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke tempat yang ia tuju. Atau setidaknya itu yang ia pikirkan.

Bam!!

Great Red terhenti sebentar, ia membentur sesuatu. Meski baginya itu hanya seperti membentuk tembok pasir, tapi ia benar-benar membentur! Bukan seperti sampah yang berenang-renang disini, namun itu adalah object yang solid, seperti tembok.

Dan dalam sekejap ia menyadari sesuatu, celah dimensi ini, yang tadinya tidak mengenal konsep jarak dan luas, kini telah berubah. Meski masih berwarna pelangi, Ia bisa merasakan seolah tempat ini telah menjadi semacam labirin dengan objek-objek solid seperti tembok.

Great Red membuka mulutnya lebar. Ia mengumpulkan energi dalam jumlah besar disana, ia berniat untuk meledakkan labirin apapun ini.

Bam! Bam! Bam! Laser-laser aneh muncul dan membombardir sang Naga, meski tidak cukup untuk membuat luka berarti, namun Great Red membatalkan serangannya untuk mendeteksi apa yang menyerangnya.

Titik-titik aneh muncul di depannya. Mereka berwujud seekor paus pembunuh dengan tubuh seukuran hampir seperlima tubuh Great Red. Mereka berjumlah banyak sekali, seakan berbondong-bondong keluar dari setiap sisi labirin untuk mengeroyok Great Red.

Tentu saja sang naga tidak tinggal diam, ia segera menyambut mereka dengan kekuatan besarnya. Menghancurkan beberapa paus hanya dalam sekali serang.

Meski, jumlah para paus itu tidak terlihat akan berkurang. Dan Great Red sendiri tidak terlalu peduli, prioritasnya adalah melenyapkan semua paus asing itu tanpa terkecuali.

Another side of Dimension Gap.

"Hahahaha... Kekuatan besar yang dimiliki oleh kecerdasan rendah yang ignorant sama sekali tidak menakutkan."

Seorang gadis dengan rambut putih melihat pertempuran Great Red itu dengan tawa kecilnya. Nyarlathothep tengah duduk di sebuah bongkahan mirip batu yang melayang di celah dimensi.

Wajahnya yang tadinya meremehkan Great Red, kini berubah menjadi terganggu. Ia menatap kedua tangan kecilnya.

"Tetapi melihatnya membuatku jadi iri, jika saja aku bisa melepaskan kekuatan penuhku tanpa melalui proses yang rumit... tetapi disini tidak terlalu berharga, aku disini hanya untuk memenuhi permintaan saudaraku... "

"Karena keterbatasan itu, beberapa kemampuanku menjadi diluar kendaliku dalam tubuh ini... dan sepertinya aku mendapatkan penglihatan yang tidak mengenakkan... "

Ia lalu mendongakkan kepalanya dan memandang celah dimensi seakan seperti memandang hamparan bintang.

"Humh... Dewa agung dari kota abadi akan jatuh, tidak satupun dari tubuhnya akan tersisa... menyedihkan sekali... "

Ia terdiam beberapa saat setelah mengucapkannya dengan wajah yang merasa kasihan.

"Tapi tidak ada menaruh kekhawatiran pada masa depan, itu hanya akan mengancam masa kini... "

Ia lalu menolehkan kepalanya.

"Cepat selesaikan, aku sudah menemukan antena yang cocok untuk tujuan kalian, jangan menyia-nyiakan usahaku." Ujarnya tanpa menoleh.

Dibelakangnya, sebuah bongkahan daratan yang luas mengapung tenang, dengan bangunan aneh diatasnya. Diatas bangunan aneh itu terdapat sebuah pusaran hitam dengan tiga buah mata yang bergerak-gerak tanpa alasan.

Sedangkan dari dalam bangunan, delapan buah benda mirip tentakel keluar dan memanjang, masing-masing tentakelnya menggenggam benda mirip kuas. Mereka menari-nari di dalam dan sekeliling area bangunan kuil itu.

Bergerak menggambar didalam kekosongan celah dimensin semudah seperti menggambar didalam kertas kosong. Menciptakan karya-karya dari ketiadaan itu, dan membangun bangunan kuil itu lebih sempurna lagi.

Dan didalam kuil itu terdapat seorang gadis berambut hitam berornamen khas eldrich dengan kulit putih pucat. Seluruh tentakel itu keluar dari bagian belakang dan kedua pergelangan tangannya dan memanjang keluar bangunan kuil...

Rome

"Qurinius-sama, anda sudah kembali. " Ujar seseorang yang berjaket hitam panjang membungkuk hormat.

"Ada panggilan mendadak dari Olympus? Apa yang sedang terjadi? " Tanya Naruto heran.

Ia sampai di sebuah ruangan dengan pintu emas yang hampir lima kali lipat tingginya dengan sebuah simbol pohon emas lengkap dengan akarnya.

"Untuk itu, sebaiknya anda bicarakan dengan Lord Zeus secara langsung saja. " Balas pria itu. Ia membukakan pintu besar itu dengan satu tangannya.

"GG, apakah yang lainnya juga akan berkumpul? " Tanya Naruto.

Pria yang dipanggil 'GG' itu menggeleng pelan. "Karena keadaan Olympus saat ini, kedua Guardian lainnya bekerja sama dengan Vatikan untuk menjaga kota. " Balasnya.

Ruangan itu begitu luas dengan dominasi warna emas dengan beberapa pilar dan kubus-kubus biru yang ada di beberapa ruangan. Faktanya, ruangan ini adalah bekas sebuah sekolah sihir yang sudah lama 'punah'. Naruto kebetulan menemukannya terletak tepat dibawah kota Roma dan memodifikasinya.

Di pusat ruangan, ada sebuah singgasana emas dengan motif abstrak seperti pohon.

"Divine Ascension... Core of the Qurinus!!"

Cahaya emas dan petir-petir emas menyambar dari tubuh Naruto, begitu terang sampai mengalahkan warna emas ruangan itu. Bahkan asistennya, 'GG' harus menutup matanya.

"Sampai Zeus mengundangku seperti ini, bahkan aku merasakan Ares sedang mendidih seperti ini... "

Benar, Naruto merasakannya. Tidak biasanya Olympus— Zeus memanggilnya sebagai Quirinus saat ini. Dan dengan koneksinya dengan Ares saat ini, ia bisa merasakan kalau dewa itu sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

GG membuka matanya dan melihat Naruto dalam mode Chief Godnya. Tubuhnya dibalut armor emas dengan titik merah, dan sepasang sayap emas besar yang terus mengeluarkan energi kemerahan dari ujungnya seperti jet dengan pelan.

Quirinus, dewa romawi yang juga merupakan pendiri kota ini. Baginya yang telah mendapatkan nama dan kekuatan ini, Naruto kehilangan rasa penghormatan pada hampir seluruh eksistensi yang ada. Meski itu Zeus atau Ares, atau dari pantheon manapun. Karena salah satu dewa tertinggi pantheon Romawi kuno, tidak perlu menghormati pantheon lain.

Naruto duduk di singgasananya. Sebuah layar hologram muncul di depannya. Menampakkan wajah pria berkulit putih nyaris albino, dengan perawakan besar dan kuat.

"Quirinus, kau datang juga." Ujar suara itu.

"Sampai mengadakan council of gods, apa yang ingin kau katakan, Zeus? " Tanya Naruto tenang. Meski yang tertampil hanyalah Zeus, ia bisa merasakan aura seluruh pantheon Yunani yang terkumpul disana, kecuali satu.

"Aprhodite telah dibunuh. " Ujar Zeus yang singkat dan jelas membuat Naruto tampak terkejut.

"Aphrodite? Dewi kecantikan itu terlahir langsung dari Ouranos, Zeus... Kekuatannya mengalahkan banyak dewa pantheon kalian, bahkan energinya melampaui Ares, lantas bagaimana?" Balas Naruto dengan wajah terkejut.

"Itu jugalah hal yang ingin kami ketahui, Aphrodite mungkin bukan dewi dengan kekuatan pertempuran sekuat aku ataupun Ares, namun otoritasnya sebagai dewi cinta dan besaran sihirnya saja membuatnya sangat kuat. " Balas Zeus.

"Satu hal yang kami tahu pasti, seseorang yang kuat sudah muncul. " Lanjutnya.

"Benar!!! Dan beraninya mereka membunuh Aphrodite-ku!! Aku benar-benar akan menunjukkan pada mereka pedang terkuatku!!"

Suara lain muncul dan menginterupsi Zeus. Naruto biasa mengetahui dengan pasti kalau itu tadi adalah Ares, apalagi dari nadanya yang gusar dan marah.

"Diam Ares!! Aku tahu kau marah, tapi saat ini kita tidak boleh gegabah!"

Zeus membentak Ares dengan energinya yang meledak-ledak. Bahkan gambar hologram di Naruto sempat pecah dan kehilangan sinyalnya, menunjukkan betapa seriusnya kondisi disana.

Naruto bisa merasakan betapa kacaunya Olympus sekarang, apalagi Aphrodite memegang domain yang penting.

Dan tak lama kemudian, gambar kembali dan menunjukkan Zeus dengan wajah yang lelah.

"Selain itu melihat dari reaksimu, kau sedang tidak melihatnya saat itu yah?"

Naruto mengangguk pelan. Matanya hanya bisa melihat segala hal diwaktu yang sama dengan keberadaannya, ia tidak dapat melihat ke masa depan maupun ke masa lalu barang lebih satu detik saja. Meski untuk masa depan ia hanya bisa memperkirakannya.

Dan meskipun ia mampu melihat semuanya di masa sekarang, itu hanya akan berfungsi jika ia ingin, jika ia mengaktifkan kemampuannya. Dalam kasus Aphrodite, ia sedang tidak menggunakan matanya.

Bahkan baginya yang telah memiliki kemampuannya ini semenjak bayi, dan otaknya telah berkembang untuk beradaptasi dengan kemampuannya, mengaktifkannya dalam waktu yang lama tetap akan memberikan pukulan keras bagi otaknya.

"Eros akan menggantikan Aphrodite untuk sementara waktu, lalu ini adalah pukulan yang merendahkan harga diri bukit Olympus." Zeus menghela nafas dan meneruskan ucapannya dengan nada berat.

Naruto mengangguk dengan serius. Ia tahu jika hal ini harus segera ditangani. Pelakunya harus segera ditemukan. Pantheon seperti negara antara satu sama lain.

Jika pelaku pembunuhan berasal dari pantheon lain, Olympus akan menabuh genderang perang. Namun dimasa sekarang, demi mencegah kehancuran dan peperangan tak terbatas di dunia manusia, setiap peperangan antara pantheon yang ada harus mendapat persetujuan dari beberapa pantheon lain.

Well, aturan tersebut tidak berlaku jika medan perang yang digunakan bukan di dunia manusia.

"Aku akan menyuruh seluruh Olympus untuk bersiaga penuh, aku hanya perlu kau mengetahui hal ini." Ujar Zeus.

"Aku mengerti." Meski sekarang hanya ada ia satu-satunya, namun karena posisi Chief God, pantheon Roma masih diakui dan dipegang olehnya.

Sosoknya yang sekarang berdiri dihadapan Olympus bukanlah sosok Naruto, merupakan seluruh pantheon Roma itu sendiri.

Dengan hubungan dekat mereka, Zeus bermaksud mendapatkan satu suara persetujuan dengan mudah jika harus menyatakan perang dengan pantheon lain.

"Kalau begitu, Quirinus, pembicaraan kita selesai." Dengan itu layar hologram itu memudar.

Naruto terdiam di singgasananya. Ia memikirkan kejadian tersebut.

"Mengapa Aphrodite? Jika penyerang ingin meruntuhkan pilar kekuatan Olympus, mereka harus menyerang salah satu dari Big Three, atau paling tidak Ares, Athena, atau Artemis..."

Meski Naruto sendiri tahu konfrontasi langsung dengan Big Three adalah hal yang gegabah, namun seharusnya target serangan adalah mereka yang 'kuat'. Apalagi Athena adalah otak dari Olympus, menghadapi ahli strategi perang sepertinya adalah masalah tersendiri.

Sedangkan Aphrodite, meski dewi itu memiliki domain yang penting, dan Divinity yang kuat bahkan hanya satu tingkat dibawah Big Three karena darah Ouranos-nya, namun ia bukanlah dewi yang kuat dan suka bertarung, bukan juga dewi cerdas seperti Athena.

"Huh? Divinity?"

Naruto sedikit mengernyitkan dahinya saat menerka sesuatu.

"Hera dan Big Three memiliki Divinity yang sangat kuat, Aphrodite hanya satu tingkat lebih rendah dibanding mereka—tidak, perbedaanya hanya seluas hitam kuku, bahkan lebih tinggi daripada Ares dan yang lain... Apa itu tujuan penyerang?"

Bagi Naruto itu cukup masuk akal. Divinity The Big Three memang sangat tinggi seperti dirinya, namun mereka juga sangat kuat sehingga mungkin pelaku akan mengambil alternatif dari Aphrodite yang divinitynya hanya sedikit lebih rendah.

"Tapi untuk tujuan apa?"

Ia terdiam lagi mempertanyakan pemikirannya. Namun ia tidak berhasil memperkirakan motif pelakunya, dan memutuskan untuk mengesampingkannya untuk sementara.

Naruto menghela nafasnya. Ia bangkit dari singgasananya dan berjalan menuju pintu emas, keluar dari ruangan itu.

"Sudah selesai, Quirinus-sama?" Tanya GG yang sedari tadi menunggu didepan pintu.

"Yeah, GG... Perintahkan seluruh penjaga yang ada di Roma untuk memperkuat pertahanan! Gunakan observatorium untuk mengawasi langit, dan patroli di pelabuhan, semua selama 24 jam! Gunakan Tri-Hermes juga untuk memonitor titik sihir di dalam Roma, aku tidak ingin kita kecolongan ada sihir tidak dikenal yang masuk!" Perintah Naruto dengan cepat.

Berhasil membunuh Aphrodite tanpa ketahuan oleh Olympus dan asumsi dapat mengatasi intervensi mental dari dewi itu membuat Naruto harus waspada. Ia ingin memastikan Roma aman dari pelakunya.

Dan untuk mengefektifkan hal itu, ia tidak bisa sendirian. Satu lagi pihak yang juga memegang kendali di Roma modern ini. Ia telah membentuk perjanjian kerja sama untuk saling membantu dalam situasi seperti ini.

"Lalu, katakan pada Vatikan kalau aku mengundang fraksi Tenshi kemari sekarang, katakan aku berbicara sebagai Chief God pantheon Roma, bukan sebagai Naruto dan permasalahan ini darurat." Perintahnya lagi.

"Baik, laksanakan!" GG mengangguk hormat. Ia lalu berjalan pergi dari ruangan itu.

"Masalah demi masalah datang... ya ampun, ada apa dengan dunia ini...?" Gumam Naruto kembali kearah singgasananya.

Clack! Clack!

Setiap langkahnya menuju singgasana menimbulkan bunyi akibat zirah emas yang menutupi seluruh tubuh kecuali kepalanya. Setiap langkah terasa berat.

"Cih, kepalaku mulai sakit memikirkan semua ini... Tapi ini tidak akan lama lagi... " Ujarnya menatap sebuah pohon kecil yang ada dibelakang singgasananya.

"Kualitas nadi sihir, Leyline di Roma termasuk kelas satu, selain itu dengan menanam di beberapa titik leyline terbaik lainnya seperti Britannia dan Mesopotamia, rencanaku akan segera terwujud..."

...

Naruto's Castle

...

Biru... Begitu indah... Sejauh mata memandang hanya ada permukaan biru, seperti lautan.

Ah lautan, sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mengunjungi laut? Kalau tidak salah bersama Ibu dan Riser-nii.

Eh? Indah sekali!!!

Langit yang penuh bintang... seperti di Underworld. Meski aku tahu mereka semua hanya ilusi buatan Mao terdahulu, namun tetap saja! Keindahan mereka itu nyata!

Starry Night... Malam berbintang yang selalu kusukai, malam berbintang yang menemaniku sebelum menutup mata.

Tapi aneh... Langit berbintang itu tidak terpantul ke permukaan biru langit yang kuinjak. Mungkin karena ini bukanlah lautan atau air?

Apa ini mimpi?

Itukan!!!

Aku melebarkan mataku melihat pemandangan yang indah yang terjadi didepanku.

Cahaya-cahaya biru yang tak terhitung jumlahnya datang dari kegelapan langit dan membentang melintas diatas mataku.

Cahaya-cahaya itukah yang disebut hujan meteor?!

Aku ingin mengejar mereka...

Tapi... ada yang aneh, aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa memindahkan tubuhku seinci pun.

Sialan!!!

Mereka lenyap di cakrawala. Aku tidak bisa bergerak, ini mimpi kan?

Panas... Tiba-tiba terasa panas! Oi Panas sekali!!!!

Panasnya terasa di sekelilingku. Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar.

Terang sekali!!

Aku menyipitkan mataku saat melihat cahaya biru terang muncul dari langit bintang yang disana.

Panas... Aku harus keluar dari sini!! Cahaya biru itu semakin terang!

A-apa ini?!!

Aku baru menyadarinya. Tidak, tapi baru saja terlihat. Aku tidak bisa bergerak karena sebuah rantai dari api biru melilit tubuhku.

Pantas panas sekali!! Tempat ini menjadi semakin panas! Bahkan panasnya juga terasa datang dari atas sana!!!

Aku tidak bisa bergerak! Apa aku akan mati disini?!! Tidak lucu bukan kalau keturunan Phenex yang merupakan personifikasi api mati terbakar?!

Semakin panas!!! Aku tidak kuat lagi kalau terus begini... Tolong aku... Ibu... Kakak... Naruto-sama...

Ugh... Pandanganku mulai memberat... Tolong... Panas... Panas... Tetapi... Panasnya menusuk seperti dingin... Apa ini?

Naru—

Pshhhhh!!

"Suhu gadis Phenex itu tidak membaik, bahkan terasa semakin tinggi... " Ujar seorang pemuda berambut perak memegang sebuah termometer.

"79 C, yang benar saja, aku tahu sihir api bisa lebih panas lagi, tapi aku tidak bisa merasakan sihir apapun yang keluar dari tubuhnya, apa kau merasakannya, Albion?"

"Begitupun aku, situasi ini aneh... Suhu tubuh gadis itu terus meninggi semenjak tadi malam, tapi karena kita tidak merasakan sihir yang menguar, mungkin ini bukan karena pengaruh sihir." Balas Albion

"Meski begitu tetap saja aneh, tidak banyak penyakit yang bisa menyerang Iblis, setidaknya aku tidak pernah dengar, paracetamol manusia juga tidak bekerja." Gumam Vali heran.

"Haruskah kita pakai sihir es?"

"Oiii!! Jangan lakukan itu! Itu hanya akan memperburuk keadaannya. Jika masalahnya datang dari dalam kita harus menyelesaikannya dari sana, jangan gegabah, untuk sekarang sebaiknya kita hubungi Naruto." Ujar Albion.

"Benar, mungkin Naruto bisa menggunakan matanya untuk mengetahui penyakit gadis Phenex itu." Ujar Vali menciptakan lingkaran sihir untuk mengubungi Naruto.

Namun ia tidak bisa menjangkaunya. Naruto tidak merespon panggilannya.

"Ck, kurasa dia sedang terlibat pembicaraan penting sekarang." Gumam Vali. Ia merasakan suhu udara yang mulai naik.

"Ini buruk, aku ingin ke Roma tapi akan memakan waktu, yang bisa kulakukan hanyalah terus mencoba menghubungi Naruto... Atau, menjatuhkan gadis itu ke danau terdekat..."

At Olympus

Zeus sedang duduk temenung di singgasananya. Para dewa dewi Olympus sudah meninggalkan ruangan council termasuk Ares yang masih mengamuk tadi.

Ia mengerti perasaan Ares. Ia pernah mengalaminya. Kehilangan pasangan, kehilangan sosok yang tidak kau ketahui betapa berharganya sebelum dia pergi.

Itu terjadi hampir seratus tahun yang lalu, saat Hera sedang berada diluar Olympus. Ia diserang oleh musuh bebuyutan yang pernah mereka hancurkan jauh di masa lalu.

Saat ia menyadarinya, semua sudah terlambat. Yang hanya bisa ia tangkap hanyalah cahaya dari Hera yang telah menghilang.

Setelahnya, ia menyuruh seluruh Olympus mengadakan perburuan, ia menghujani Amerika dengan badai petir selama hampir seminggu penuh.

Sejak saat itu, Zeus yang dikenal selalu berusaha 'berkembang biak' dengan apapun yang bergerak, mulai berubah 180 derajat. Ia mulai ingat alasannya menjadi Dewa.

Ia mulai ingat kembali bagaimana perasaannya saat turun kesini dan diagung-agungkan oleh manusia, disambut dengan suka dan cita, dan dijadikan sebagai dewa mereka.

Dia mulai ingat bagaimana semua perasaan itu terbagi dengan rata dan dirasakan oleh kedua belas Olympian. Perasaan yang membuat mereka semua memiliki keberanian untuk menolak perintah dari Chaos.

Dan disaat bersamaan dia merasakan rasa takut. Untuk sekian kalinya, setelah begitu lama sampai ia kehilangan hitungan, ia merasakan ketakutan.

Benar, begitu lama sejak mereka membelot dan melawan para Titan, semenjak ia dan Olympian lainnya menghancurkan Kronos.

Lalu, sudah lama semenjak tubuh asli mereka, aletheia dihancurkan oleh salah satu dari tiga raksasa putih yang juga turun ke bumi beberapa tahun setelah mereka.

Pada saat itu, ia benar-benar merasakan rasa takut. Melihat bagaimana satu demi satu Olympian dihancurkan didepan matanya, dan ia sebagai pemimpin dan Chief God dari mereka, tidak bisa berbuat apapun.

Dibandingkan dengan Titanomakhia, pertempuran melawan raksasa putih itu benar-benar meninggalkan ketakutan yang mendalam baginya. Untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana tubuh Aletheia milik Hera dihancurkan tanpa sisa.

Beruntung, kekuatan bumi ini berhasil melempar para raksasa putih itu meskipun Zeus tahu, bayarannya sangat mahal. Dan beruntung juga, dengan kekuatan kepercayaan manusia, kedua belas Olympian berhasil selamat meski tubuh asli mereka hancur dengan menjelma menjadi Divine Spirit yang akan dikenal seperti sekarang.

Dan saat itu, dimana ia kehilangan Hera untuk kedua kalinya, dimana kali ini tidak ada lagi yang tersisa dari dewinya baik aletheia maupun spiritnya. Rasa takut yang telah lama tenggelam kedalam mentalnya kembali muncul.

Zeus, yang bahkan telah mengarungi lautan bintang, menjadi bentuk kehidupan yang melampaui hampir seluruh kehidupan di bumi, merasakan takut.

"O Manusia Olympus... Olympian, aku akan membayar hutangku... Biar aku yang pusing, biar aku yang ketakutan, biar aku yang kesakitan, kalian cukup berdoa... kalian cukup bersuka cita... kalian cukup hidup dengan tenang... Aku akan menyelamatkan kalian dari sini..."

Untuk sekarang, satu-satunya ambisi dan keinginannya adalah melindungi Olympus, baik Olympian, dewa dan dewi minor, maupun manusianya dengan segala cara dan kekuatan yang ia miliki.

Dia juga berusaha menyiapkan rencana cadangan untuk menghindarkan Olympus dari kehancuran.

"Akan kuselamatkan semua Olympus... Meskipun aku harus kembali menuruti Chaos..."

To Be Continued...


Sesuai judulnya, chapter ini membuka konflik kearah yang baru yang nantinya akan membuat konflik berantai sampai ke akhir Arc. Dan yah, mungkin disini Naruto terlihat OP, tetapi mulai beberapa chap kedepan, lawan-lawan yang dihadapi juga akan semakin OP.

Dan setelah Arc ini, Arc selanjutnya akan memiliki suasana "Full Scale War". So untuk Arc ini mungkin bisa sedikit panjang atau agak panjang malah. Terlebih perang bukan hanya soal kuat-kuatan ledakan, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan hehehe...

Regarding the Yasaka's Pair, I've kept my own plans for the Yokai faction, but not Naruto, instead one of the Sages from the Naruto verse. And don't worry, I can understand English even though I have a little problem with writing.So Thats all for this chap, see you next chapter and stay healthy!