Chanyeol X Baekhyun
Romance
.
.
Baekhyun ingin melakukan salah satu tren yang saat ini sedang hits. Dia akan mencobanya pada Chanyeol, sahabat sekaligus orang yang ia sukai diam-diam. Dan yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak pernah Baekhyun pikirkan sebelumnya; Chanyeol justru menciumnya balik.
.
.
Warning: super cheesy!
.
.
Notes:
Ide dan summary cerita ini pure milik user baeqhyuni di Twitter. Bisa dicek di sana untuk short sns!au nya, ya! Saya izin untuk bikin versi narasi di sini dengan tambahan bumbu2/? dan sedikit perbedaan di karakter B dan C hehehe. Abis saya suka banget yang modelan begini :"( Makasih banyak atas izinnya, kak! Semoga saya nggak malah ngerusak idenya:")
Enjoy!
.
.
Recommended Song:
Boramiyu – Pit A Pat
.
.
oOo
.
"Yeol, aku tidak akan memakan itu,"
"Siapa bilang ini untukmu?"
Baekhyun mencebik mendengar itu, memperhatikan bagaimana lelaki tinggi di sampingnya memasukkan dua kemasan bawang putih organik ke troli belanja mereka yang telah dipenuhi berbagai bahan makanan.
"Kurasa kau membeli terlalu banyak," komentar Baekhyun lagi ketika ia mengikuti langkah Chanyeol yang kembali menyusuri rak di swalayan itu bersama troli di dorongan.
"Bukankah kau yang bilang mau makan banyak?"
Alis Baekhyun berkerut, bibirnya maju pertanda kesal. "Kenapa kau selalu menjawabku dengan pertanyaan?"
Sambil menilik deretan botol minyak wijen berbagai merek, yang lebih tinggi menyahut santai, "Nah, kau juga menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan,"
Kali ini Baekhyun melotot. Ia hampir membalas sebelum menyadari apa yang hendak dilontarkannya adalah sebuah pertanyaan lagi; kenapa kau menyebalkan sekali?
Baekhyun memutar bola mata, urung. "Sudahlah. Kau selalu selalu saja berhasil membuatku mati kutu," keluhnya.
Chanyeol terkekeh samar. Tangannya yang baru saja memindahkan botol kemasan ke dalam keranjang beralih mengusak rambut kecokelatan milik Baekhyun, lantas mendorong kembali troli menuju rak berikutnya.
Baekhyun terhenti di tempat. Tertinggal oleh lelaki satunya yang telah lebih dulu berjalan beberapa langkah. Semakin lebar jarak di antara mereka, semakin jelas ia dapat mengamati tubuh tinggi dengan pakaian serba hitam itu. Hoodie-nya membalut tubuh atasnya, lengkap menutupi hingga ujung kepala. Meski begitu, posturnya masih tampak begitu jelas sempurna.
"Cuma begitu saja.. rasanya seperti ada kembang api di kepalaku.." gumam Baekhyun pelan. Detik berikutnya, ia mengernyit jijik dengan pemikiran absurd itu. Ia menggeleng keras. "Astaga, bicara apa aku ini,"
Tepat saat itu, Chanyeol menoleh padanya. Mengernyit bingung. "Ada apa?"
Nah, bahkan hanya dengan tubuh separuh berbalik seperti itu, Chanyeol terlihat seperti seorang supermodel yang tengah mempromosikan hoodie dari merek pakaian ternama.
Baekhyun menggeleng lagi. Wajahnya mulai terasa panas dan mungkin sudah memerah. Itu sama sekali tidak boleh terjadi di saat seperti ini.
"Tidak ada," sahutnya. Ia segera membawa kaki-kaki tak seberapa panjangnya menyusul lelaki itu. "Kenapa langkahmu cepat sekali, sih?"
"Kenapa langkahmu lambat sekali?"
Melenguh, Baekhyun lagi merotasi bola mata. "Lupakan!"
Chanyeol bisa jadi sangat menyebalkan, jadi, bagaimana Baekhyun bisa menyukai laki-laki ini?
.
.
Seperti rencana hari kemarin, mereka akan menghabiskan hari di kediaman keluarga Byun. Kedua orang tua Baekhyun berada dalam perjalanan bisnis sejak dua minggu sebelumnya, dan ia merasa rumah semakin bertambah sepi saat kakaknya Baekbeom harus lembur di kantor hari ini. Maka satu-satunya yang terpikir adalah mengajak Chanyeol ke rumahnya—sekaligus meminta lelaki itu memasak untuknya.
"Enak?"
Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol dengan cengiran lebar. "Kau yang terbaik!" Ia lantas kembali sibuk bersama ponselnya sembari terus mengunyah dengan suara kecap yang amat kentara.
Baekhyun terkekeh sesekali. Makanan enak dan tontonan menarik di ponselnya betul-betul perpaduan yang sempurna.
"Apa yang kaulihat?"
Chanyeol yang penasaran karena Baekhyun tak kunjung melepas ponselnya beringsut mendekat. Mencondongkan tubuh dan menyangga sebelah tangan pada sandaran kursi di belakang punggung lelaki yang lebih pendek.
Dan itu mau tak mau membuat Baekhyun menghentikan kunyahannya. Layar ponsel ia abaikan. Memilih mengamati pahat wajah milik seseorang yang kini berada tak lebih dari satu jengkal dari wajahnya sendiri.
Rambut hitam yang sedikit berantakan karena berkali-kali tersapu kain penutup kepala jaket yang dikenakan, kedua alis yang tengah mengerut bingung, hidung mancung dengan sebuah titik hitam mungil di pucuknya, hingga dua bilah bibir yang tampak penuh.
Belakangan, segala tentang Chanyeol menimbulkan efek berbeda pada Baekhyun. Ia semakin betah melihat parasnya, semakin senang mendengar suaranya, semakin nyaman berada di dekatnya.
Dan Baekhyun tidak cukup bodoh untuk tak menyadari arti dari semua itu.
"Sedang apa mereka?" tanya Chanyeol heran. Mata masih terfokus pada layar.
Baekhyun menelan ludah. Saat Chanyeol mengamati layar ponsel yang masih memutar video-video singkat berbeda dengan tema yang sama, ia terpaku pada wajah lelaki itu.
"It is called.. I Tried to Kiss My Bestfriend Challenge," jawabnya pelan.
Mata keduanya bertemu. Baekhyun kembali dibuat menelan ludah ketika dua mata bulat itu lagi-lagi berhasil memesonanya.
Hanya selang dua sekon, Chanyeol menjauh. Mengangguk-angguk. Mendengung tanda paham. Makan malam berlanjut. Chanyeol tampak fokus dengan makanannya sementara Baekhyun terusik akan dorongan aneh yang tiba-tiba ia rasakan pada dirinya. Ketika makanan telah tandas pun, matanya terus mengikuti pergerakan Chanyeol. Lelaki tinggi itu mengambil alih piring kosongnya dan beranjak ke bak cuci.
Keran dinyalakan. Suara derasnya air serta denting alat makan menjadi satu-satunya yang signifikan terdengar di tengah ruangan yang hening.
Punggung Chanyeol begitu menarik untuk diperhatikan. Sembari itu, Baekhyun mengetuk pelan permukaan meja dengan ujung jari. Seperti menghitung sesuatu meski itu sesungguhnya hanya pengalihan dari pikirannya yang tak berhenti menimbang-nimbang.
Haruskah aku mencobanya?
Baekhyun mulai memposisikan ponselnya di atas meja. Mengarahkan kamera tepat ke tempat Chanyeol berdiri kemudian bangkit dari kursi, perlahan agar tak timbul meski satu suara derit.
Sejenak, Baekhyun menarik napas. Menyentuh dadanya yang terasa dipukul-pukul sesuatu dari dalam. Ini gila, tetapi semakin ia menyadari hal itu, semakin ia ingin melakukannya.
Langkah mulai ia bawa mendekat. Chanyeol baru saja menyelesaikan kegiatan dan mengeringkan tangannya di sana.
Dua langkah lagi.
Begitu Baekhyun menggapai jarak, ia meraih lengan Chanyeol. Menariknya, lantas berjinjit demi mengecup bibir lelaki itu.
Singkat. Baekhyun segera kembali pada tumpuan kedua tumitnya segera setelah kontak terlepas. Selama sepersekian detik, yang ia dapati adalah Chanyeol yang mematung tanpa ekspresi. Baekhyun merasakan panas luar biasa pada wajah dan sekujur tubuhnya. Malu. Sepertinya, ini memang tidak akan berhasil.
Baekhyun buru-buru memutar haluan. Ia harus secepatnya kabur dari Chanyeol.
Tetapi belum selangkah ia beranjak, pergelangan tangannya ditangkap. Tubuhnya serasa ditarik cukup kencang sebelum kedua sisi rahangnya ditangkup oleh telapak yang lebar dan sesuatu kenyal menyentuh bibirnya dengan lembut.
Apa?
Blank. Udara juga suara di sekeliling seperti disedot habis oleh momentum. Baekhyun berusaha meraih kembali kesadaran yang mungkin saja telah direnggut mimpi, tetapi sekeras apapun ia mencoba, yang tampak masihlah wajah terpejam dari sahabatnya. Berada tanpa jarak. Beradu tanpa jeda.
Tubuh berdiri kaku. Wajah terangkat sebab harus sesuaikan tinggi yang kontras. Bibir dipagut lembut oleh sebelah pihak. Si mungil masih terbelalak tanpa mampu bereaksi apapun.
Baru ketika tautan terlepas dan dua kelopak dari mata bulat yang tajam itu kembali terbuka dan terarah padanya, Baekhyun merasa seluruh wajahnya terbakar. Kakinya nyaris luruh karena hilang tenaga. Sebelum tubuhnya sungguhan terjatuh, Baekhyun berbalik cepat. Melarikan diri, masuk ke ruangan terdekat yang bisa dijangkaunya.
"Baek!"
Pintu dibanting tertutup. Baekhyun berakhir di kamar kakaknya, bersandar di daun pintu yang telah ia kunci rapat-rapat, terengah sendiri karena jantungnya yang berdetak kelewat kencang.
"Baekhyun,"
Ketukan beruntut terdengar. Getarnya terasa hingga punggungnya yang menempel di sana. Disusul dengan suara berat yang begitu dikenalnya. Terdengar begitu dekat seperti tak terhalang pembatas apapun.
"Baekhyun? Hey,"
Baekhyun bungkam. Enggan menjawab, sekaligus karena ia tak tahu bagaimana harus merespon sekalipun mereka tak berhadapan.
"Baek, buka pintunya,"
"Ti-tidak mau.. Kau—bisa pulang sekarang.."
Hening. Tidak ada ketukan atau ucap apapun lagi. Baekhyun kira itu pertanda Chanyeol sudah pergi. Tetapi kemudian ia kembali mendengar suara laki-laki itu.
"Kalau begitu di sini saja. Kau mendengarku, kan?"
Baekhyun lagi terdiam. Detik berlalu. Dalam diamnya itu, Baekhyun menunggu.
"Sejak kapan kau menyukaiku?"
Baekhyun semakin tak keruan. Darahnya berdesir aneh dan panas dari wajah seperti merembet ke seluruh bagian tubuhnya.
"J—jangan salah paham, Chanyeol.."
"No, I felt that,"
Menggigit bibir, Baekhyun sempat kesulitan membuat napasnya tetap berembus normal. Dia bahkan masih belum bisa menghilangkan bayangan dari apa yang baru saja terjadi di antaranya dan Chanyeol.
"Baekhyun—"
"Kau benar," Baekhyun menggigit bibir. Mengumpulkan keberanian sebanyak yang ia bisa. "Aku menyadarinya baru-baru ini,"
"..."
"Tapi itu bukan apa-apa, Yeol. Maaf karena telah mengejutkanmu. Tolong.. jangan menjauh karena ini," Menunduk, Baekhyun merasakan ketakutannya semakin jelas.
Benar. Kemungkinan bahwa Chanyeol akan bersikap berbeda padanya bukannya sama sekali tidak mungkin terjadi.
"Sejak kapan?"
Detak jantung tak juga berangsur tenang. Baekhyun kepayahan untuk terus memberi jawab.
"Aku tidak yakin.. Mungkin, saat perjalanan kita ke vila waktu itu," jawabnya, mencicit di akhir kalimat.
Baekhyun bisa mendengar kekeh ringan dari balik daun pintu. Disusul kembali oleh bass-nya suara Chanyeol. "Ternyata aku yang lebih dulu jatuh, ya,"
"Apa?"
"Aku menyukaimu."
Baekhyun kehilangan napasnya sesaat. Sesuatu terasa seperti baru saja terjatuh. Apakah itu jantungnya? Ini ambigu. Berarti ganda. Kalimat itu memberi harap, namun sekaligus terdengar seperti sarkasme karena kemustahilannya.
"Yeol, kau tidak perlu sampai seperti ini," Jeda demi mengambil napas, "Jangan karena aku membuat pengakuan konyol ini, kau sampai harus berbohong seperti itu. Aku.. tidak apa-apa. Sungguh."
"Baekhyun," Namanya kembali dipanggil. Memohon. Mungkin, ini pertama kalinya Baekhyun mendengar Chanyeol berucap dengan nada yang demikian. "Buka pintunya."
Kalimat terakhir dari Chanyeol seperti menjadi perintah mutlak yang membuat Baekhyun refleks berbalik dan menyentuh gagang pintu.
"K-kau! Menjauh dulu dari sana!" pinta Baekhyun, berusaha terdengar mengancam.
"Okay."
Dengan gerak satu-satu, Baekhyun membuka pintu. Muncul dengan kepala tertunduk. Belum sempat ia bicara, tubuhnya ditarik lembut oleh lengan yang kini melingkari pinggangnya. Kepala ditarik mendongak oleh tangan yang lain hingga Baekhyun akhirnya menyadari keningnya telah beradu dengan milik yang lebih tinggi. Memaksanya bersitatap langsung dengan lelaki yang lebih tinggi.
"God.." Baekhyun berbisik, inginnya mengungkapkan betapa sempurnanya lelaki itu, betapa ia tak mengerti mengapa dirinya tak jatuh cinta sejak awal. Ada begitu banyak yang ingin Baekhyun ungkapkan untuk mendeskripsikan seorang Park Chanyeol, tetapi bahkan tak lebih dari satu kata yang mampu keluar dari mulutnya.
"You're beautiful," Chanyeol membisik, menyungging senyum tipis mengamati paras lelaki di hadapan.
Darah serasa naik dan berkumpul di wajah. Baekhyun merona hebat. Setelah lama mengenal Chanyeol, Baekhyun tidak tahu mengapa ia bisa menjadi amat berdebar hanya karena melihat wajah dan mendengar suaranya.
"Can I kiss you again?"
Baekhyun tidak begitu awas saat Chanyeol mendekat. Baru ketika lelaki itu hampir menggapai bibirnya, Baekhyun menahannya.
"T-tunggu! Kau belum menjelaskan apapun!"
Chanyeol berkerut dahi, "Menjelaskan apa?"
"Kau pikir aku percaya kau menyukaiku?" Baekhyun memasang wajah galak—setidaknya ia berusaha—untuk mengintimidasi Chanyeol.
Si tinggi menghela napas sabar. Ia memilih menarik Baekhyun lebih dekat.
"Sepertimu, aku tidak ingat persis kapan aku mulai memiliki perasaan lebih padamu. Tapi aku baru menyadarinya saat mengantarmu pulang dari acara ulang tahun Jongin,"
"Huh?" Baekhyun terperangah. Ia teringat pada garis waktu yang disebutkan Chanyeol. Yang mana, telah berlalu lama sekali. "Tapi.."
Baekhyun berjengit. Chanyeol meremas lembut pinggangnya dan itu seketika membuyarkan apapun yang hendak ia katakan karena, sensasi yang ditimbulkannya begitu aneh.
"Kita bisa membuktikannya nanti. Now, let's just make it clear. We're not bestfriends anymore," kata Chanyeol, menatap lurus-lurus kepada mata sipit milik Baekhyun dengan jarak yang hampir sepenuhnya absen.
Cara Chanyeol berucap membuat Baekhyun tergelitik. Ia bahkan bingung menyebutkan keadaan dirinya sekarang. Tidak berdaya? Kalah? Dengan kalimat itu, Baekhyun seperti dibuat menyerah begitu saja. Ia tidak mampu melawan lagi.
Chanyeol telah mendapatkan dirinya seutuhnya bahkan tanpa mencoba.
"Then.. what are we now?" tanya Baekhyun, nyaris tanpa suara. Terpaku tak bisa lepas dari mata yang lebih tinggi.
Bukan jawaban, yang Baekhyun dapatkan adalah ciuman lain dari lelaki itu. Bibirnya ditekan hingga wajah terdorong mundur. Dipagut lembut sekaligus terburu. Seperti wujud rasa meledak-ledak yang muncul di dalam diri keduanya. Ia kewalahan mengimbangi karena Chanyeol bahkan melakukannya dengan begitu dalam.
Begitu akhirnya tautan terlepas, Baekhyun masih mengais napas saat Chanyeol melontarkan sebuah ultimatum dengan sorot yang tampak begitu berbahaya.
"Tanyakan itu sekali lagi, dan aku akan membawamu ke atas ranjang."
.
.
fin.
.
.
Sekali lagi, untuk original owner dari prompt ini, terima kasih banyak atas izin remake-nya! /xoxo/
P.s.: Saya yang ngetik saya yang gemes hngggg:"( Kebiasaan over-cheesy tida bisa hilang:"(
