"Dulu kita pernah ketemu, kan? Kamu pernah main kesini dulu. Kalo gak salah waktu itu kamu masih kuliah? Kamu keliatan imut banget waktu itu, kamu pake jilbab merah muda, kamu tau? Tante selalu suka perempuan2 yang berhijab, mereka keliatan cantik."

Baekhyun tersenyum. "Makasih Tante, Tante juga cantik banget, gak berubah sama sekali. Tetap awet muda."

"Ah, kamu bisa aja."

Makan malam selesai, mereka sedang mengobrol santai di ruang keluarga Park.

"Baek, sorry ya ... kemarin gue sempet marah2 sama Chanyeol gara2 dia bilang suka sama lo. Gue khawatir ke depannya hubungan kalian bakalan jadi masalah, tapi ngeliat Chanyeol yang serius dan bersungguh-sungguh, gue jadi merasa bersalah banget karena berusaha mengekang perasaan abang gue sendiri. Chanyeol gak pernah seserius ini sama cewek lain, jadi ... gue berharap lo gak ngecewain abang gue ya, Baek."

Baekhyun ngelirik Chanyeol sekilas, ia tersenyum lembut.

"Chanyeol ngajak Baekhyun kesini buat dikenalin sama kalian, Chanyeol tau Baekhyun udah kenal sama Krystal, tapi Baekhyun belum kenal deket sama Mommy. Chanyeol harap ada kesan baik diantara kalian setelah hari ini. Ini salah satu proses ta'aruf yang harus Chanyeol jalanin, setelah ini gantian Chanyeol yang bakalan berkunjung ke rumahnya Baekhyun untuk mengenal keluarganya."

Jessica mengangguk. "Baekhyun ... "

"Iya, Tante?"

"Kamu suka sama anak saya?"

Baekhyun cukup kaget ditanya begitu, ia menelan ludahnya gugup. "Iya, Tante, saya suka sama anak Tante," katanya sambil menunduk.

Chanyeol tersenyum ngeliatnya, Baekhyun imut banget kalo lagi malu-malu gini.

"Apa yang bikin kamu suka sama anak Tante?"

Baekhyun ngelirik Chanyeol sekilas. "Awalnya saya tertarik karena dia tampan, sebagai perempuan normal, saya benar-benar terpesona akan ketampanan anak Tante. Jujur, sebenarnya saya udah tertarik sama Chanyeol jauh sebelum saya ketemu sama dia. Krystal sering cerita kalo dia punya kakak laki-laki yang tinggal di Amerika, Krystal selalu bilang tentang betapa bangganya dia punya kakak seperti Chanyeol, kuliah di universitas bergengsi dan sukses mengelola perusahaan milik ayahnya dengan baik. Sejak pertama kali Krystal memperlihatkan foto kakaknya, saya sudah merasa tertarik. Diam-diam saya membuat akun palsu untuk mengikutinya di akun media sosial. Saya selalu memberikan like pada setiap postingan Chanyeol tapi saya tidak pernah berani berkomentar. Saya minta maaf jika apa yang sudah saya lakukan ini lancang Tante." Baekhyun menunduk dan dengan penuh rasa malu ia meminta maaf pada Jessica.

"Kenapa harus minta maaf? Tante juga pernah muda, itu hanya sebuah tindakan reaktif ketika seorang wanita jatuh cinta pada seorang lelaki, benar kan, Yeol?"

Chanyeol mengangguk. "Jujur, saya kaget ngedengernya, tapi saya juga senang karena ternyata kamu sudah menyukai saya lebih dulu."

Baekhyun gak berani menatap Chanyeol langsung, dia terlalu malu. :'(

Jessica menyentuh lengan Baekhyun dengan lembut. "Baekhyun, makasih ya karena udah mencintai anak Tante."

Baekhyun agak terkejut. "Tante ... setuju kalo saya sama Chanyeol?"

"Awalnya Tante gak setuju karena perbedaan di antara kalian, seperti apa yang dibilang Krystal tadi, Chanyeol gak pernah seserius ini sama perempuan, setau tante dia bahkan selalu menghindari hubungan dengan wanita. Tapi kali ini, dia keliatan serius. Dan kalo seorang Park Chanyeol bersungguh-sungguh, itu artinya dia bener-bener suka sama kamu. Bagi tante gak ada yang lebih penting dari kebahagiaan anak-anak tante, dan kalo kebahagiaan Chanyeol memang ada sama kamu, gak ada alasan buat tante gak setuju sama hubungan kalian. Kamu gadis yang lugu, kamu polos dan apa adanya. Tante setuju kalo kamu jadi menantu tante."

BLUSSSHH

Wajah Baekhyun memerah malu, Jessica benar-benar wanita yang lembut, Baekhyun seperti merasa punya sosok ibu yang lain selain ibu Eugene.

.

.

"Kyungsoo, belum dateng?"

"Belum, katanya masih di jalan."

Tadinya Jessica nyuruh Chanyeol buat nganterin Baekhyun pulang, tapi Chanyeol bilang dia gak bisa karena sedang dalam proses ta'aruf, mereka belum mukhrim dan belum boleh berdua-duaan. Kyungsoo yang bakalan ngejemput Baekhyun.

"Jadi ... yang kamu suka dari saya cuma karena saya ganteng?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

"Awalnya iya, tapi setelah itu aku sadar kalo kamu beda dari laki-laki lain. Setelah nadzor kemarin, aku benar-benar terkesan sama semua jawaban2 kamu, apa yang kamu bilang kemarin benar-benar apa yang pengen aku dengar dari seorang laki-laki. Kamu bisa menghargai perempuan dan kamu laki-laki dengan pemikiran terbuka, yang sayangnya tidak semua laki-laki di negeri ini punya pemikiran seperti kamu."

Chanyeol tersenyum mendengarnya. "Terima kasih, terima kasih karena sudah menyukai saya."

DEG

Baekhyun berdehem pelan, wajahnya terasa panas, kenapa suasananya jadi canggung begini? Kyungsoo mana lagi? Kenapa gak muncul2?

"Kapan kira-kira saya bisa ketemu sama orangtua kamu?"

"Nanti aku kabarin lagi lewat ka Kyungsoo, kamu harus tau, Mas, keluargaku agak berbeda. Maksudku, mereka keras soal agama, terutama kakak. Aku takut kamu diperlakukan kurang baik."

"Gpp, cepat atau lambat saya memang harus bertemu mereka, kan? Coba katakan, apa yang kakak dan ibu kamu suka? Biar nanti saya bawakan."

"Gausah repot2, Mas."

"Gpp Baekhyun, saya gak enak kalo bertamu ke rumah orang tanpa membawa apa-apa."

"Ibu suka kue lapis, kalo mas Yifan dia suka kurma."

"Okeee, kalo gitu nanti saya bawakan."

Baekhyun tersenyum pelan.

TIIN TIIN

Mobil Kyungsoo sudah terparkir di depan rumah.

"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu yaa. Terima kasih untuk hari ini, aku benar-benar merasa nyaman berada di rumah ini."

"Sama-sama, hati-hati di jalan."

.

.

Baekhyun berjalan mondar-mandir di depan rumah, setelah beberapa hari ia akhirnya mengijinkan Chanyeol untuk datang ke rumah. Ia sudah memberi tau kakak dan ibunya jika ada seorang teman yang akan berkunjung ke rumah, ia belum memberi tau jika ia dan Chanyeol sedang menjalani proses ta'aruf.

Ah, itu dia Chanyeol, ia membawa mobil sendiri sambil membawa makanan. Baekhyun dengan cepat mengambil makanan itu dari tangan Chanyeol.

"Ayo masuk , Mas, ibu sama kakak udah nunggu."

..

Banyak sekali hidangan yang disajikan di meja makan, semuanya masakan khas Nusantara, Baekhyun bilang ibunya yang membuat ini semua. Sepertinya Ny Eugene pandai memasak.

"Silahkan dimakan Mas, semoga suka ya," kata Eugene sambil duduk di meja makan.

Chanyeol mengangguk. "Terima kasih, ah iya, saya membawa sedikit camilan, mohon diterima."

"Apa ini?"

"Kue lapis, Baekhyun bilang Tante suka kue lapis."

Eugene membuka bungkus kue yang diberikan Chanyeol dan terkejut melihat isinya, ini Kue Lapis Madu Besar, kue lapis paling mahal dan paling terkenal seantero Jakarta. Untuk satu kotaknya saja dibanderol sampai harga 500 ribu, setau Eugene untuk memesan kue ini pun harus melalui pre-order, tidak bisa langsung beli di tempat.

"Ini kue lapis yang sangat mahal, gimana caranya kamu ngedapetin ini?"

"Kebetulan pemilik tokonya adalah sahabat ibu saya, jadi saya bisa langsung memesan tanpa harus menunggu."

Eugene terkejut, jika ibunya berteman dengan pemilik toko kue terkenal itu, berarti Chanyeol bukan orang sembarangan, dia anak orang kaya.

"Dan ini ... kurma Arab, semoga Kakak suka." Chanyeol memberikan kurma yang ia beli kepada Yifan.

"Syukron (terimakasih)," jawab Yifan singkat.

Chanyeol tersenyum sambil mengangguk pelan.

"Hmm ... yaudah, ayo dimakan, Mas." kata Baekhyun memecah suasana.

"Maaf ya, kita disini gak nyediain daging babi," celetuk Yifan tiba-tiba.

DEG

"Mas!!" Baekhyun mendelik, kakaknya benar-benar gak sopan.

"Daging babi? Kenapa kamu tiba-tiba ngomongin daging babi?" tanya Eugene heran.

"Ibu gak tau? Temennya Baekhyun ini Kristen Bu, dia biasa makan daging babi."

Baekhyun mencengkeram garpu di tanganya erat, kakaknya udah bener-bener keterlaluan.

Chanyeol tersenyum pelan. "Maaf ya Ka, saya gak pernah makan daging babi, saya alergi babi."

"Oh, gitu? Bagus deh, daging babi emang gak bagus buat kesehatan, banyak cacing pitanya."

"Mas Yifan!!" Baekhyun bener-bener kesal.

"Baekhyun udah." Eugene berusaha melerai.

"Ehmm ... Mas Chanyeol?"

"Iya, Tante?"

"Ini udah malem, Mas bisa bertamu lagi kapan-kapan, biar gimanapun kalian kan bukan mukhrim, gak enak sama tetangga kalo ada laki-laki yang bukan mukhrim berada di rumah perempuan malam-malam."

Chanyeol mengangguk. "Iya, Tante."

"Ayo silahkan dimakan dulu Mas, jangan sungkan."

Baekhyun hanya bisa menutup kedua matanya, ia benar-benar malu sama Chanyeol.

.

.

"Mas Chanyeol." Baekhyun mengejar Chanyeol yang berjalan keluar rumah.

"Mas, saya benar-benar minta maaf, saya merasa malu atas perlakuan keluarga saya."

"Gpp Baekhyun, saya sama sekali gak tersinggung."

"Tapi saya ngerasa gak enak Mas, saya diterima dengan baik di keluarga Mas tapi di keluarga saya sendiri Mas diperlakukan seperti ini, saya benar-benar malu Mas, saya minta maaf."

"Udah gpp, kamu gak perlu ngerasa bersalah. Mungkin saya harus berusaha lebih keras lagi buat ngedapetin hati ibu dan kakak kamu."

"Sekali lagi saya minta maaf, Mas."

"Iya gpp, kalo gitu saya pulang dulu."

"Iya Mas hati-hati di jalan."

..

"Mas Yifan."

Baekhyun mengejar kakaknya yang terus berjalan ke arah dapur, pria 30 tahun itu hendak mengambil minum. Baekhyun dengan segera menarik tangannya.

"Mas!"

"Apa sih?"

"Mas kenapa ngelakuin itu? Mas tau omongan Mas tadi bisa nyakitin perasaan Chanyeol?"

"Mas gak salah, Mas ngomong apa adanya, orang-orang kafir emang suka makan daging babi."

"MAS!!"

"Baekhyun ... kenapa sih teriak-teriak terus?" Eugene sampai berjalan menghampiri anak-anaknya.

"Bu, ibu kenapa tiba-tiba sinis sama Chanyeol? Tadinya ibu seneng2 aja dapat kue dari Chanyeol, tapi kenapa tiba2 sikap Ibu berubah?"

"Baekhyun tenang dulu, ayo kita bicara di kamar."

"Mas Yifan harus minta maaf sama Chanyeol!"

"Gak, ngapain Mas minta maaf sama orang kafir?"

"MAS YIFAN!!!!"

"Baekhyun ... Udah, ayo ikut ibu ke kamar."

.

.

Rasanya sesak banget, Baekhyun sampe nangis, sikap Yifan dan ibunya tadi benar-benar membuat Baekhyun sedih.

"Baek, udah dong Nak, jangan nangis terus." Eugene mengusap airmata putrinya.

"Apa menurut Ibu sikap Mas Yifan itu pantas? Dia gak seharusnya ngomong begitu sama Chanyeol, Bu."

"Ibu tau, kakakmu salah, nanti biar Ibu yang minta maaf sama Chanyeol."

"Terus Ibu sendiri? Kenapa Ibu nyuruh Chanyeol pulang padahal dia baru aja dateng."

"Karena memang gak baik laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim berada di dalam satu rumah, bisa timbul fitnah."

"Gak, Ibu gak biasanya begini. Sikap Ibu tiba-tiba berubah setelah mas Yifan bilang kalo mas Chanyeol bukan muslim."

Eugene menghela nafas. "Yifan udah cerita semuanya sama Ibu, kamu lagi deket sama laki-laki non muslim itu, kan?"

Baekhyun terdiam, apa yang harus dia katakan?

"Ibu gak pernah ngelarang kamu bergaul sama siapapun, tapi kalo sampe kamu berhubungan sama laki-laki non muslim, ibu gak tau apa yang bakalan terjadi. Kamu udah melanggar batas. Ibu ngelakuin ini karena ibu sayang sama kamu, ibu gak mau kamu tergelincir dalam dosa besar, kalo kamu terus berhubungan sama laki-laki non muslim itu sama artinya kamu ngelakuin zina seumur hidup. Ibu dan ayah kamu yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat."

Eugene menyentuh pundak putrinya itu dengan lembut, Baekhyun menatap sang ibu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu mau kan ngejauhin laki-laki non muslim itu?"

.

.

"Kakek?"

Pulang ke rumah, Chanyeol cukup terkejut melihat kakeknya yang sudah lama tidak ia temui sedang duduk santai di ruang tamu ditemani Krystal dan Jessica.

"Oh, Chanyeol cucuku."

Chanyeol langsung berjalan menghampiri dan memeluk sang kakek.

"Padahal rencananya Chanyeol akan berkunjung besok."

Park Changmin, pria setengah baya itu hanya terkekeh. "Gpp, kamu apa kabar, Nak?"

"Puji Tuhan baik, kakek sendiri apa kabar? Asam uratnya masih sering kambuh?"

"Udah sembuh, kakek sekarang udah sembuh."

"Syukurlah kalau begitu."

"Nah, karena Chanyeol udah di sini gimana kalo kita minum wine?" Tanya Jessica.

"Setuju!!" Krystal yang paling antusias.

"Okeee, biar Chanyeol yang ambil."

Kehadiran sang kakek di rumah, membuat Chanyeol bisa sedikit melupakan perasaan buruknya setelah bertemu dengan keluarga Baekhyun.

..

"Jadi Chanyeol, kamu udah punya pacar?" tanya Changmin tiba-tiba.

Chanyeol menggeleng. "Belum, Kek."

"Kakek punya kenalan cucu dari teman kakek, ayahnya pemilik perusahaan konstruksi, ayahnya juga sahabat baik ayah kamu. Anaknya cantik, sopan dan lugu. Kadang kalo ngeliat dia kakek selalu kepikiran kamu, kamu pasti bakalan cocok kalo jadian sama dia."

"Kakek gak usah ngenalin Chanyeol sama siapapun, Chanyeol udah punya calon sendiri."

"Tadi kamu bilang belum punya pacar."

"Pacar memang belum, tapi calon istri sudah."

Krystal dan Jessica tampak terdiam, entah apa reaksi Changmin jika tau cucunya sedang dekat dengan seorang perempuan muslim.

"Oh, ya? Siapa? Kenapa gak kamu ajak ke sini?"

"Nanti setelah kami menikah, Chanyeol akan ajak dia buat tinggal di sini."

"Cantik?"

"Cantik banget."

"Tinggi?"

"Enggak, dia mungil."

"Dia rajin ke gereja?"

Chanyeol langsung terdiam, Baekhyun gak pernah ke gereja.

"Dia gak pernah ke gereja."

Changmin menghela nafas. "Carilah perempuan yang dekat dengan Tuhan."

"Dia sangat dekat dengan Tuhan-nya."

"Tadi kamu bilang dia gak pernah ke Gereja."

Chanyeol menarik dan menghembuskan nafasnya panjang. "Kakek ... "

"Hm?"

"Sebenarnya Chanyeol sedang dekat dengan perempuan muslim.."

Changmin terdiam, kedua bola matanya tampak melebar, ia terlihat sangat terkejut.

"Chanyeol sedang menjalani proses ta'aruf dan-"

"Putuskan!"

"Huh?"

"Jauhi perempuan Muslim itu sekarang juga!!"

.

.

.

TBC

Cerita ini juga di upload di Wattpad ya guys