Chaldea Academy
Penafian:
Naruto : Masashi Kishimoto
Various anime and movies:
Nilai : -?-
Pasangan : -?-
Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?
Peringatan : Typo, !, OOC, Author Newbie, Isekai, dan lain-lain.
Mulai Cerita
Kini, Naruto tengah bersantai di apartemen barunya hadiah dari Tsunade. Yah, belum seminggu semenjak perang dunia berakhir dan Kaguya berhasil dikalahkan, pemuda itu selama beberapa hari ini hanya kebanyakan bersantai untuk memulihkan luka-lukanya dari perang itu, sejujurnya ia ingin membantu para warga desa untuk melakukan pembangunan. Namun, mereka menolaknya dengan alasan dia adalah pahlawan yang telah berjasa besar bagi semua, tak pantas baginya untuk melakukan pekerjaan ini.
"Huh, entah kenapa rasanya membosankan," ujarnya. Jangan salah, dia memang pencinta kedamaian tapi duduk diam di rumah tanpa diberi pekerjaan benar-benar bisa membuatnya terbunuh. Ia ingin membantu, tapi malah disuruh untuk beristirahat padahal Semua lukanya sudah berada di taraf sehat wal Afiat berkat bantuan Chakra Kurama.
"Merasa tidak berguna, Uzumaki?" Naruto langsung terjungkal dari kursinya ketika merasakan hawa keberadaan yang tiba-tiba di sampingnya.
Di sana, berdiri seorang pria yang tampak tua dan jangkung. Naruto merasa waspada, orang ini entah bagaimana bisa muncul dan melewati penjagaannya. Serius, indranya baru saja dikecoh padahal instingnya yang selalu waspada telah meningkat ke level yang lebih jauh lagi, tapi orang ini dengan mudah menyusup padanya.
"Siapa kau!?" tanya Naruto yang langsung bersiap untuk bertarung dengan memposisikan kunai miliknya di depan. Ia menuntut jawaban!
Namun, orang tua itu sama sekali tidak terintimidasi oleh Naruto malah dengan santainya ia duduk di kursi yang tadi digunakan oleh sang pemilik rumah, bahkan sampai memangku kakinya pula, "Tenanglah anak muda, aku datang ke sini tanpa niat untuk mencari masalah," ujarnya yang tentu saja tidak langsung dipercaya oleh Naruto.
Orang itu hanya menghela nafasnya, "Duduklah, aku punya sesuatu untuk didiskusikan denganmu," Naruto terdiam sesaat memandangi orang itu dengan intens. Namun, pada akhirnya dia menyerah dan mengambil sebuah kursi untuk duduk di depan pria tua ini.
"Baiklah, aku mencoba mendengarkan," jawab Naruto yang sedikit melonggarkan sikap waspadanya, jelas menjadikan orang itu tersenyum padanya.
Si pria tua melambaikan tangannya, dan bersamaan dengan itu pula sebuah kertas melayang ke arah Naruto yang tentunya bisa dia raih dengan mudah, " Chaldea Academy?" ia membaca tulisan yang terpampang jelas pada kertas itu tapi tak mengerti apa semua ini, "Apa maksudnya?"
"Itu adalah sebuah tiket untukmu, tuan Uzumaki. Kau akan berangkat malam ini," jawab pria tua. Oke tahan sebentar, orang asing ini tiba-tiba saja datang menyelinap padanya, dan sekarang anehnya dia memberikannya sebuah tiket dan menyuruhnya untuk berangkat malam ini menuju entah ke mana. Serius, apa-apaan ini?
"Tolong jelaskan apa maksudnya ini padaku?" tanya Naruto.
Raut wajah orang tua itu berubah serius berbeda dengan yang tadi, "Anak muda, ada ancaman di luar sana yang bisa menghancurkan dunia dengan mudah kalau tidak segera cepat diatasi. Asal dari segala ancaman itu berasal dari dunia yang disebut sebagai Reverse side of the world, sebuah tempat yang diisi oleh para monster berbahaya nan kuat,"
Pak tua itu menjelaskan kalau seluruh universe bisa saja dalam kondisi terancam Calamity, hal ini disebabkan karena terkadang adanya portal yang secara tiba-tiba muncul untuk menghubungkan dunia monster itu dengan dunia lainnya sehingga monster yang datang dari sana akan mengamuk dan menciptakan kehancuran yang parah. Dan orang tua ini, telah mendirikan sebuah asosiasi untuk mendidik berbagai orang dari beberapa dunia yang berpotensi untuk bisa menanggulangi ancaman tersebut, dan dia telah banyak melakukan perekrutan untuk itu.
"Kau tidak berharap aku akan percaya ini, kan?" ujar Naruto yang merasa ragu, walaupun dalam hatinya mengatakan untuk percaya pada pak tua ini tapi yang seperti itu jelas terdengar mustahil.
Si pria tua hanya mengangkat bahunya seolah tidak peduli, sepertinya dia tidak akan memaksakan siapa pun untuk percaya pada ceritanya, "Itu terserah padamu. Namun ..." sorot mata yang memandang Naruto itu berubah menjadi dingin bahkan si Ninja pirang bisa merasakan kalau tubuhnya merasa gemetaran untuk sesaat, "... Kuperingatkan padamu, beberapa dunia sudah ada yang hancur dan bisa saja selanjutnya mereka akan datang ke dunia ini. Jika itu terjadi, jangan salahkan aku kalau semuanya sudah terlambat. Bahkan, apa yang Kaguya lakukan hanya akan terlihat seperti sedang berkebun saja," ujarnya yang sepertinya sudah akan beranjak dari sana.
Naruto bisa merasakan tubuhnya mengigil, orang ini dengan mudahnya bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu bahkan tanpa indikasi kalau dia sedang berbohong, tapi tetap saja rasanya sulit untuk mempercayai ini semuanya. Giginya gemeretak, mencoba berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Sesaat kemudian, tubuhnya langsung diliputi oleh Chakra oranye yang meluap-luap di sekujurnya pertanda dirinya telah memasuki mode Chakra Kyuubi.
"Aku akan bertanya padamu, pak tua. Apa kau mengatakan kebenarannya?" yah walaupun pertanyaan yang barusan iti terkesan bodoh, tapi akan lain halnya lagi jika dia sudah memasuki mode ini. Tidak, dia tidak sedang menggunakan ini untuk mengancam 'Pak tua yang terlihat renta' itu tapi untuk sesuatu yang lain.
Si pria tua itu hanya tersenyum dan menjawab penuh keyakinan, "Ya, itulah kebenaran dari apa yang akan terjadi," Naruto menghela nafas, salah satu kegunaan mode ini adalah sangat mampu untuk mendeteksi emosi negatif terutama kebohongan, dan sekarang dia sama sekali tidak merasakan type emosi ini dari pria tua di depannya. Namun, sebenarnya dia berharap jawaban yang dia terima akan berkebalikan dari ini, tapi sepertinya dia harus menerima kenyataan ini dan melakukan persiapan.
"Baik, aku percaya padamu. Malam ini aku akan berangkat," ujarnya membuat pak tua itu menyeringai kecil.
Si orang tua itu berdiri, "Jika sudah siap, carilah tempat yang sepi dan pastikan tidak ada siapa pun yang mengikutimu. Oh dan jangan lupa robek tiket itu nanti agar jemputanmu datang," ujarnya sebelum tertelan oleh portal yang terbuat dari kilatan api ( Bayangkan saja seperti dr. Strange)
Naruto tidak terlalu tahu apa yang dimaksud orang itu dengan jemputan, tapi prioritas sekarang ini dia harus bersiap-siap untuk nanti malam. Dia berencana untuk tak memberi tahukan yang lain soal ini sebelum bisa membuat penjelasan yang baik nanti, oleh karena itu pertama-tama dirinya harus menulis surat terlebih dahulu. Yah, saat dia kembali nanti Tsunade atau Sakura akan membunuhnya tapi setidaknya itu lebih baik dari pada membiarkan dunianya hancur.
Skip Time
Tengah malam dan kini Naruto telah berada di sekitar Training Ground yang berada di sekitar hutan kematian. Yah, alasan mengapa dia memilih ini adalah karena tak akan ada yang mau datang ke salah satu tempat paling berbahaya di Konoha, apalagi di jam malam seperti ini tentunya dirinya juga sudah memastikan tak ada yang melihat atau mengikutinya ke sini setelah berhasil mengecoh para Anbu.
"Okey, pak tua itu mengatakan supaya tiket ini dirobek," ujarnya yang sedikit tak mengerti dengan itu. Ia sudah berulang kali mengecek tiket itu tapi hasilnya nihil untuk menemukan apa pun, satu-satunya hal yang dia temukan di sana adalah nama Kischur Zelretch Schweinorg, ia berasumsi kalau itu adalah nama si pak tua. Yah, benar-benar tak ada yang istimewa dengan tiket ini.
Karena tak tahu harus bagaimana, Naruto memutuskan untuk segera melakukan apa yang Zelretch minta yaitu merobek tiketnya. Bersamaan dengan itu, ia langsung terkejut ketika melihat ada sebuah benda aneh yang datang dari langit, itu adalah kereta yang menurutnya unik di mana Relnya entah bagaimana terus terpasang dan terlepas di angkasa ( Hampir mirip denliner, tapi dengan bentuk yang normal)
"Woah, dia serius soal jemputan," ujarnya yang melihat kereta itu dengan tatapan penuh kekaguman. Seingatnya terakhir kali dia melihat kereta adalah saat melakukan misi dulu sekali, itu pun tidak terlihat bagus seperti ini.
Naruto secara perlahan berjalan mendekati kereta yang berhenti di depannya. Namun, tiba-tiba pintu itu terbuka dan seorang pria yang agak gemuk keluar dari sana. Orang itu untuk sesaat terus mengecek kertas yang berada di tangannya, "Kau yang bernama Uzumaki Naruto?" tanyanya walaupun itu sudah jelas, sih. Mungkin hanya untuk keformalan.
"Ya, kurasa itu aku."
"Namaku adalah Wong. Aku yang akan mengantarmu ke Chaldea. Masuklah, nak" ujarnya dengan nada yang sedikit ramah.
Sesampainya di dalam, Naruto merasa lebih kagum lagi karena tidak seperti yang terlihat di luar, di bagian dalamnya terlihat sangat luas dan lebih panjang lagi, begitu banyak kursi yang berjejer ke belakang. Namun, sepertinya tidak terlalu banyak orang di sini dan itu pun mereka semua duduk di tempat yang saling berjauhan. Pastinya mereka semua masing-masing berasal dari dunia yang berbeda jadi tidak saling mengenal. Yah Naruto sendiri tidak ambil pusing soal itu, mungkin memang rasanya akan aneh jika tiba-tiba dia mengakrabkan diri dengan yang lain, sehingga dia juga memutuskan memilih tempat untuk dia duduk seorang diri.
Namun, tanpa disadari oleh siapa pun, seorang gadis berambut pendek dengan warna Light Gray secara terus-terusan memperhatikan Naruto dari balik kursi di depannya.
"Istirahatlah kalian semua, perjalanan ini akan santai dan memakan waktu beberapa jam," ujar Wong yang mulai berjalan ke bagian depan.
Naruto menatap dengan penuh kekaguman pada tempatnya berdiri sekarang, sebuah bangunan akademi yang terlihat futuristik berdiri kokoh di depannya. Ia baru saja tiba di sini, jadi pemandangan ini benar-benar baru baginya. Ya, dua hari setelah perang dunia Shinobi keempat seorang pria yang menyebut dirinya sebagai Zelretch secara pribadi datang padanya dan memberikan suatu penawaran di mana Naruto akan menghadiri akademi yang diisi oleh orang-orang istimewa dari berbagai Universe untuk dilatih agar bisa menanggulangi ancaman dari Reverse side of the world yang bisa membahayakan banyak dunia.
Singkatnya, setelah melalui berbagai percakapan yang panjang ia akhirnya setuju untuk datang di sini. Lagian menurutnya tugasnya di Elemental Nation sudah selesai, ia meyakini kalau kekuatan dan tenaganya lebih diperlukan di luar sana dari pada dipakai hanya untuk mengurusi dokumen di Kantor Hokage, lagian masih ada Sasuke di sana yang bisa melanjutkan mimpinya untuk menggapai posisi itu. Dan sekarang di sinilah dia. Ngomong-ngomong, sekolah ini tentu saja memiliki asrama bagi para 'Siswa' mereka sehingga sekarang ia harus mencari ke mana tempat itu, satu-satunya petunjuk yang dia miliki adalah kertas yang sepertinya berisi alamat dan nomor kamarnya.
"Hmm, Asrama Camelot. No 72," alis Naruto berkedut karena angka kamarnya. Serius, ada dirinya dengan angka sembilan? Jelas sekali yang barusan itu adalah kelipatan dari angka sembilan.
Baru saja mau melangkah untuk mencari alamat yang tertera itu, tiba saja ada yang menabraknya dengan keras sehingga membuatnya tersungkur ke depan, "Hei, siapa yang melakukan itu!?" dengan kesal, ia segera menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya.
" Oh my God! Maafkan aku, itu benar-benar tidak sengaja!" di sebelahnya, ada seorang gadis yang dengan panik terus-terusan meminta maaf. Sepertinya dialah pelaku penabrakan barusan, tapi tampaknya dia terlihat memang tak sengaja melakukan itu.
Naruto menghela nafas, dia bisa merasakan kalau gadis ini berkata jujur dan yang tadi itu hanyalah kecelakaan semata, "Tenanglah, Red. Aku percaya kau berkata benar," ujarnya. Ia tak tahu siapa nama gadis ini, tapi seperti sepertinya dia memiliki warna merah yang mendominasi dalam penampilannya, sehingga membuat Naruto memanggilnya seperti itu.
Gadis itu sepertinya tampak lega karena Naruto tidak memarahinya. Ia bersyukur ini tidak berakhir seperti ketika dia memasuki akademi di dunianya, ketika dia secara tidak sengaja meledakkan dirinya bersama seorang rekannya, "Oh terima kasih. Ngomong-ngomong, namaku Ruby Rose. Panggil saja Ruby," ujarnya memperkenalkan nama seraya menawarkan tangan.
Naruto membalas jabat tangan itu dengan cengiran lebarnya. Tanpa disadari keduanya, masing-masing dari mereka bersyukur telah mendapat teman baru tanpa masalah di tempat ini, "Uzumaki Naruto, kau boleh memanggilku Naruto."
Akhirnya keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama. Sepanjang perjalanan, mereka saling bertukar cerita tentang dunia asalnya, di mana Ruby menceritakan kalau dia berasal dari dunia bernama Remnant's yang mana tempat itu diteror oleh makhluk tanpa jiwa dengan sebutan Grimm, lalu ada para Hunters yang bertugas untuk melawan ancaman ini. Sebaliknya, Ruby juga terkagum-kagum akan cerita tentang Elemental Nation dan para Ninja di sana, tapi dengan cepat langsung berubah ngeri ketika mendengar seberapa kacau perang di sana.
"Jadi, kau terpisah dari temanmu dan panik karena hal itu?" Ruby mengangguk malu pada pertanyaan itu. Ia memang pada awalnya datang bersama timnya, tapi karena suatu alasan dia terpisah dari mereka. Dirinya berusaha mencari asrama tempat dia akan tinggal, tapi sayangnya tersesat dalam prosesnya dan membuatnya panik.
"Baiklah, apa nama asramamu?" tanya Naruto, sepertinya dia berusaha untuk membantu teman barunya itu, "Siapa tahu aku mengetahuinya."
"Hmm, di sini tertulis asrama Camelot," Naruto melebarkan senyumnya, ia tak menyangka kalau Ruby akan menjadi teman satu asramanya. Yah, itu artinya dia tidak perlu repot-repot lagi berkeliling lagi untuk mencari tempat gadis ini karena berada di tempat yang sama. Benar-benar cukup sekali jalan. Untungnya ketika datang di sini dia sudah mendapatkan informasi dari seorang pria buta bernama Gyomei Himejima tentang nama Asrama dan letaknya.
"benarkah? Kita berada di tempat yang sama!" ujar Naruto membuat Ruby menjadi lebih bersemangat, ia bersyukur setidaknya di tempat dia tinggal nanti ada seseorang yang dia kenali.
Tanpa menunggu lagi, keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju asrama yang rupanya terletak jauh di atas bukit dengan hutan yang sedikit rimbun. Ruby bertanya dalam benaknya, akan seperti apa orang-orang yang tinggal di sana nantinya mengingat semua yang ada di sini datang dari dunia yang berbeda, dirinya penasaran seperti apa cara bertarung dan senjata mereka nantinya. Yah, hal seperti itu selalu membuatnya bersemangat. Berbeda dengan Naruto, sepertinya Shinobi pirang itu lebih berharap akan bertemu dengan orang yang membuatnya tertantang untuk bertarung.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kedua orang itu berhasil menemukan sebuah mansion mewah yang cukup besar, di mana dibuat dari marmer putih berkualitas dengan corakkan emas. Di bagian gerbang, terpajang patung kepala singa perak yang terlihat gagah, bagian dalam lebih luar biasa lagi dikarenakan desain taman yang menawan hati. Sungguh, siapa pun yang menata ini semua benar-benar telah melakukan pekerjaan yang hebat. Kata kagum saja akan sangat meremehkan apa yang mereka rasakan setelah melihat ini.
"Woah, aku merasa Beacon hanya tampak seperti debu di samping emas setelah melihat ini," ujarnya dengan takjub. Ukuran rumah ini sangat besar, tentu membuatnya bertanya-tanya berapa banyak orang yang tinggal di asrama Camelot ini.
Naruto mengangguk di samping Ruby, ia tak tahu seperti apa Beacon itu tapi yang jelas ini terlihat sangat megah, "Oh ya ampun, rumah Daimyo saja tidak terlihat seperti ini," ucapnya sembari mengingat dirinya ketika melakukan misi di sana.
Keduanya langsung masuk ke bagian taman asrama sembari melirik ke sana kemari untuk mencari orang-orang yang tinggal di sini, hanya saja entah mengapa di sini terlihat sunyi sekali. Namun, tentu saja mereka beranggapan pasti ada yang tinggal di sini karena kalau tidak siapa yang merawat semua ini?
Tiba-tiba, mata Naruto menangkap seseorang yang sepertinya sedang melakukan perawatan untuk bunga-bunga di sana, dan sepertinya dia tak menyadari kehadiran mereka karena terlalu asik, "Um, permisi nona," panggil Naruto. Orang itu menoleh padanya, dia adalah seorang gadis ramping dengan rambut pirang kastanye dan mata ungu pucat.
Si gadis baru itu memperhatikan Naruto dan Ruby secara saksama lalu kemudian tersenyum, "Ah, maaf aku tidak menyadari kalian datang. Sepertinya aku terlalu asik di sini," ujarnya dengan tawa kecil karena merasa sedikit malu baru saja tanpa sengaja mengabaikan orang yang baru datang.
"Sama sekali bukan masalah~" balas Ruby dengan nada yang semangat. Tanpa disadari oleh yang lain, matanya terus mengobservasi Gadis untuk mencari senjata seperti apa yang dia gunakan, "Ngomong-ngomong, Aku Ruby Rose, dan yang ini Naruto! Kami baru di sini," ujarnya yang mendapat protes dari Naruto karena si gadis merah hanya memperkenalkan namanya secara singkat.
Gadis itu mengangguk pada informasi barusan, ia membersihkan tangannya dan menawarkan itu sebagai salam darinya, "Salam kenal juga, namaku Yuna. Seorang Saint Athena," ujarnya memperkenalkan diri, membuat mereka berdua bertanya-tanya apa maksudnya itu. Namun, memutuskan untuk menanyakan hal itu nanti.
"Jadi, apa kau adalah Senpai kami atau semacamnya?" tanya Naruto yang penasaran mengingat Yuna sepertinya datang lebih dulu dari mereka jadi ada kemungkinan kalau gadis itu adalah kakak kelas. Namun, Yuna menggelengkan kepalanya sebagai balasan isyarat jawaban tidak.
"Sama seperti kalian berdua, hanya saja aku datang ke sini sejak 3 hari yang lalu," jawabnya dengan tawa kecil. Yuna langsung mengajak mereka untuk masuk ke dalam. Sesampainya di sana, keduanya harus merasa lebih kagum lagi dengan desain interior di dalamnya, karena di dalam sini semuanya terlihat lebih luas lagi, "Sekarang hanya ada kita di sini karena Mama Raikou sedang pergi berbelanja dan mungkin sejam lagi baru kembali," Naruto bertanya-tanya siapa itu yang dimaksud 'Mama Raikou' oleh Yuna? Yah, bisa saja dia adalah orang yang bertugas di sini.
Yuna memberi tahu keduanya kalau asrama saat ini sedang sepi karena senior mereka belum kembali dari masa liburan, sungguh unik karena akademi seperti ini juga menerapkan sistem liburan di dalamnya. Adapun siswa baru, kemungkinan besok atau lusa semuanya akan tiba di sini karena itulah Mama Raikou dengan semangatnya pergi berbelanja bahan makanan untuk menyambut mereka semua nantinya.
Sesaat kemudian ia mengeluarkan sebuah tablet berukuran sedang, sepertinya dia sedang mencari data tentang Naruto dan Ruby. Bukan data pribadi sebenarnya, hanya saja mungkin hal ini dilakukan untuk mencari tahu di kamar mereka berdua akan ditempatkan. Namun, entah mengapa ekspresi wajahnya berubah kering ketika menemukan apa yang dia cari.
"Oke, sepertinya tempat ini tidak memiliki larangan untuk hal seperti itu," ujar Yuna membuat keduanya bingung dengan ucapan ambigu barusan.
"Apa maksudmu, Yuna-San?" tanya Naruto.
Yuna menghela nafasnya dan menjawab, "Di sini tertulis nomor kamar kalian sama, itu artinya teman sekamar," sontak hal itu membuat kedua pendatang baru itu terkejut. Ruby segera mengeluarkan tiket yang dia terima sejak datang kesini dan mencocokkan dengan milik Naruto, dan ya rupanya benar kalau nomor kamar mereka itu sama, nomor 72.
Ruby merasakan kalau pipinya memanas, sejak di dunianya dia terhitung sangat jarang untuk bergaul dengan anak laki-laki terkecuali beberapa orang, bahkan di Beacon teman sekamar dan anggota timnya semuanya adalah perempuan. Dan sekarang, dia baru saja mengetahui kalau remaja pria di sampingnya saat ini akan menjadi orang yang akan berbagi kamar bersamanya. Okey, dia yakin kalau Naruto itu orang baik tapi tetap saja hal seperti ini membuatnya gugup.
Naruto juga sedikit merasa malu, ia berharap kalau nantinya dia akan mendapat teman sekamar tambahan agar dia dan Ruby nantinya tidak saling merasa canggung, "Umm, Siapa lagi yang akan sekamar dengan kami?" tanya Naruto. Setidaknya dia bisa berharap akan ada tambahan pria dan wanita nantinya agar tak ada yang berpikir macam-macam padanya.
Yuna kembali memeriksa tablet miliknya. Yah, memang benar walaupun di sini terdapat banyak sekali kamar tapi mereka menempatkan 4 orang untuk satu kamar, "Untuk saat ini ... Belum ada," jawabnya singkat. Sorot matanya dengan tajam menatap keduanya, khususnya pada Naruto yang satu satunya laki-laki di sana, "Tapi aku berharap kalian berdua tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk hal yang tak senonoh," lanjutnya membuat wajah keduanya memerah.
"MANA MUNGKIN, LAH!" ajaibnya mereka berdua berteriak dalam waktu yang bersamaan.
to be continued.
Author Note
I'm back with a new fanfic!!! Hell yeah
Oke ane mau minta maaf pada kalian yang sedang menunggu The Admiral ataupun King of Heroes, tapi ane malah balek dengan fic baru lagi. Seperti yang ada di narasi, fic ini mengusung konsep multi universe dan sekolah. Tujuannya juga sudah tertera di atas yak.
Para human atau demi human dari berbagai anime diundang untuk belajar dan berlatih di sini demi mengatasi ancaman dari Reverse side of the world. Well, nanti bakal ada penjelasan lebih rinci lagi mengenai ini.
Untuk chapter kali ini mungkin kalian bisa anggap aja prolog atau pemansan. Saya juga masih mencari Chara anime lain untuk ditempatkan di asrama Camelot ataupun Chara yg cocok untuk team Naruto.
Beri saran jika kalian punya ide. Dan alasannya.
Karakter yang muncul;
Kischur Zelretch Schweinorg - Nasuverse
Uzumaki Naruto – NARUTO
Ruby Rose – RWBY
Aquila Yuna — Saint Seiya omega
Wong — Dr, Strange
hal-hal sederhana dalam fic ini;
Seragam sekolah mereka didasari pada seragam Master di Chaldea,
begitu pula dengan baju yang digunakan untuk latihan tempur, di sini mereka menggunakan seragam Combat milik Chaldea
Oke sekian dari saya dan maafkan jika ada kekurangan.
Tanyakan saja yang ingin ditanyakan tapi jangan lewatkan author Note.
