Chaldea Academy

Penafian:

Naruto : Masashi Kishimoto

Various animanga and movies:

Nilai : -?-

Pasangan : -?-

Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?

Peringatan : Typo, !, OOC, Author Newbie, Isekai, dan lain-lain.

Mulai Cerita

.

.

.

.

.

.

.

.

Chaldea Security Organization merupakan akademi berbasis multi dunia yang baru beberapa tahun ini dibangun untuk didedikasikan melawan ancaman dari Reverse side of the world dengan cara mengumpulkan dan melatih para individu istimewa yang berasal dari berbagai Universe agar bisa mengantisipasi ancaman dari tempat berbahaya itu.

Namun, pada awalnya organisasi itu tidak berada di dimensi ini tapi di sebuah tempat yang disebut dengan nama Antartika, sebuah gurun es yang membentang luas pada salah satu dunia. Yah, walaupun tujuan Chaldea lama dan yang baru tidak jauh berbeda tapi dari segi pelaksanaan ada hal-hal yang berbeda jauh.

Di sini, mereka melatih berbagai individu muda potensial agar siap menghadapi ancaman makhluk perusak dari dunia tak dikenal itu, tentunya dengan bantuan sumber daya dan teknologi dari berbagai dunia untuk mendukung metode pelatihan mereka yang tidak hanya mengandalkan konsep saja. Namun, di sini para pelajarnya tak hanya mempelajari konsep kekuatan dari dunia asal mereka tapi jika cocok kekuatan itu juga bisa diperkuat dengan konsep dunia lain.

Singkat cerita setelah mengalami berbagai metode pelatihan, para individu yang datang untuk berlatih di dunia tempat Chaldea Academy berdiri mulai bisa menunjukkan kemampuan untuk melakukan perlawanan ketika salah satu dunia ada yang diserang. Kenapa di sebut dunia? Yah, karena Chaldea yang baru ini sendiri tidak dibangun di bumi tapi berdiri sendiri di atas salah satu pohon dunia, dengan kata lain dia memiliki dimensinya sendiri.

Setting kembali berpindah ke salah satu ruangan di Chaldea Academy, lebih tepatnya ini adalah ruang kepala sekolah. Di kursi itu, tampak Zelretch yang sedang duduk sembari memandangi berkas-berkas di tangannya, Seringai kecil tercetak di bibirnya tatkala melihat informasi yang terpampang di sana, "Kita memiliki beberapa tambahan yang menarik kali ini, Strange," ujarnya pada seorang yang duduk di sofa sebelah sana.

Orang yang dipanggil Strange adalah pria berjubah merah dengan rambut hitam sedikit beruban serta potongan janggut yang rapi, "Ya memang, aku melihat potensi pada mereka setelah melakukan banyak pencarian, salah satunya yang berasal dari dunia Shinobi itu, tapi walau kekuatannya kini sudah cukup kuat tetap saja dia akan mustahil mengalahkan Kaijuu tingkat atas," ujarnya sembari mengusap kepalanya yang sakit, bagaimanapun juga melakukan penerawangan ke berbagai dunia itu cukup sulit dan berisiko, fakta dia masih waras sampai sekarang ini saja sudah termasuk keajaiban.

Zelretch terkekeh mendengar ucapan rekannya, "Karena itulah kita mengundangnya untuk berlatih di sini, menurutku potensi anak ini masih belum terbuka sepenuhnya," tangannya mengambil satu lagi berkas di sebelahnya, tapi kali ini berisikan informasi tentang Ruby, "Nona Rose juga cukup menjanjikan, terutama dengan kekuatan matanya," ujarnya. Tapi seperti dengan yang tadi, Ruby mesti perlu dilatih lagi.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah memberitahukan para pemimpin di sana?" tanya Strange, tentunya hal ini penting dilakukan agar mereka melakukan persiapan sejak dini, dan ketika terjadi serangan maka kerusakan setidaknya bisa dikurangi atau bahkan dicegah, , "Tentunya aku berharap mereka akan mendengarkan," hal inilah yang kadang paling mengganggu, terkadang sangat sulit untuk meyakinkan mereka sebelum terjadi bukti yang nyata, hanya saja ketika itu terjadi maka semua sudah terlambat.

Zelretch menggelengkan kepalanya, ia memang belum melakukan itu karena beberapa kendala, "Sesaat setelah Tn, Uzumaki berangkat, aku langsung mendatangi pemimpin mereka dan memberitahukan masalah ini," ia menghembuskan nafas berat seperti orang yang sedang lelah mental, sepertinya pembicaraan itu berjalan tidak terlalu lancar, "Butuh sedikit usaha untuk meyakinkan wanita itu tapi untungnya Naruto meninggalkan sepucuk surat yang berisi jejak Chakranya, sehingga membuatnya percaya," tampaknya anak itu telah memenangkan kepercayaan besar dari orang-orang di sana.

" Sekarang Lady Tsunade telah mengajukan proposal untuk pertemuan 5 Kage, dan aku harus berada di sana untuk menjelaskan semuanya nanti."

Strange mengangguk pada cerita itu, syukurlah kali ini tidak berjalan terlalu sulit untuk menjelaskannya, dan ia hanya berharap pertemuan itu nantinya akan berjalan lancar, "Aku benar-benar berharap tidak akan menggunakan Time Stone kali ini," ujarnya seraya menghela nafas.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, Zelretch menoleh ke sana dan mendapati seorang pria paruh baya yang masuk ke dalam ruangannya, hal yang cukup unik dari orang ini adalah dia mengenakan semacam baju besi berteknologi tinggi dari leher hingga ujung kaki dengan warna merah maroon, "Cukup jarang untuk melihatmu di ruanganku," ujar Zelretch menyapa sembari menuangkan secangkir kopi untuk orang itu, "Ada apa, Tony?"

Pria bernama Tony itu menguap dan merentangkan kedua tangannya seolah begitu kurang tidur, tapi juga mungkin seperti itu mengingat kantung mata yang terlihat jelas, "Persiapannya hampir beres, Z. Dalam beberapa hari kita sudah bisa memulainya," ujarnya seraya menaruh beberapa berkas di meja Zelretch.

Pria tua itu tampak tertarik untuk membaca laporan yang diantar oleh Tony, entah apa pun itu isinya, "Kerja bagus, Stark. Kita akan melihat seberapa layak ini," ujarnya dengan seringai licik yang terlihat jelas.

.

.

..

.

.

.

Kembali ke salah satu siswa baru di akademi, Naruto. Kini sang pahlawan Shinobi tengah melaksanakan tugas penting yang diberikan Yuna padanya sebagai seorang anggota asrama, ya tentu saja tugas itu adalah menyapu halaman depan agar terlihat rapi nanti ketika yang lain akan tiba di sini. Hanya mereka bertiga yang melakukan ini, kepala asrama ini sepertinya masih sibuk berbelanja dan siswa baru ataupun senior belum ada yang datang selain mereka. Yuna mendapatkan bagian untuk beres-beres di bagian dalam asrama yang Membuatnya sedikit ragu mengingat ukurannya yang luas, sedangkan Ruby diberi tugas memotong rumput ... Dengan sabit raksasanya.

Naruto menoleh ke arah jalan masuk kemari, di sana ... Dia melihat seorang gadis berambut pirang madu sedang berjalan kemari sembari membawa koper besar, tanpa diketahui oleh siapa pun mata merahnya sedari tadi terus mengamati Naruto yang sedang menyapu, ada sedikit ketidaksukaan di sana, tapi hal itu tak membuat senyum di bibirnya hilang dari sana.

"Halo, apa kau siswa baru juga?" tanya Naruto dengan sikap ramah, ia sedikit senang ada tambahan baru yang datang dan setidaknya bisa memberikan mereka bantuan di sini.

Namun, gadis itu tidak menjawab sapaan Naruto dan dengan anggunnya ia menunduk seolah memberikan salam pada si Shinobi, "Kau tidak bisa melakukannya dengan baik, berikan saja itu," Naruto berkedip beberapa kali, jelas tidak mengerti dengan apa yang gadis ini katakan.

"Apa maksudmu?"

Namun sebelum Naruto menyadarinya, Sapu yang berada di genggamannya kini telah berada di tangan gadis itu, bahkan dengan cepat orang baru itu telah memulai menyapu sebagian halaman, "A-apa!?"

Bagaimanapun juga, Naruto harus kagum karena gadis baru ini dalam waktu beberapa menit saja sudah hampir menyelesaikan hampir seluruh halaman, yang mana dia saja hanya bisa sepetak kecil. Ia juga penasaran, sejak kapan pakaian gadis itu berganti dengan pakaian Maid.

Tapi Naruto tak terlalu mempermasalahkannya, ya setidaknya dia bisa sedikit bersantai di sini walau agak sedikit merasa bersalah karena melakukan ketidakadilan tugas piket, hanya saja dia berharap Yuna ataupun Ruby tidak memergokinya ketika tugasnya dilakukan oleh orang lain ... Ralat, dipaksa ambil oleh orang lain.

"Kau melakukannya seorang diri? Bahkan itu cepat sekali selesainya!" gadis itu sedikit mengibaskan rambut pendeknya, mungkin merasa bangga pada hasil kerjanya barusan.

"Tak masalah, pekerjaan semacam itu bukanlah apa-apa bagi seorang Maid," balasnya.

Naruto menyodorkan tangannya, untuk sesaat gadis itu terus memperhatikan tangan si pirang sebelum akhirnya membalas jabat tangannya, "Aku Uzumaki Naruto, salam kenal, umm..."

Tanpa diberi tahu sekalipun, si gadis tahu kalau Naruto sedang meminta namanya, "Saya Rita Rossweisse, senang berkenalan dengan Anda, Mr Naruto," ujarnya dengan sopan, sepertinya karena perannya sebagai seorang Maid. Hmm, cukup penasaran dari dunia mana gadis ini berasal.

"Hei Naruto, jangan diam saja! Apa kau sudah selesai di sana?" Ruby tiba-tiba muncul di belakangnya sembari menenteng sebuah sabit merah berukuran besar, tampaknya gadis energik itu baru saja selesai memangkas rumput di bagian belakang. Hanya ... Bukankah itu alat berkebun yang berbahaya? "Eh, siapa dia?" tanyanya ketika menyadari kalau bukan Naruto saja yang ada di sana.

"Ini Rita, dia juga sama seperti kita," jawabnya sembari menunjuk si gadis Maid dengan jempolnya.

"Oh my Gosh! Senang bisa bertemu dengan teman seasrama yang baru! Aku Ruby Rose kuharap kita bisa menjadi teman sekamar yang akur!" tidak! Naruto tidak mengharapkan itu terjadi, karena berada di kamar yang sama dengan Ruby saja sudah membuatnya canggung. Dia tidak butuh satu tambahan lagi untuk sementara ini kecuali akan ada satu tambahan cowok lagi agar situasinya seimbang.

Sementara itu, Rita tampaknya lebih tertarik dengan kecepatan yang Ruby tunjukkan ... Atau senjata dan kelopak mawar itu? Entahlah mungkin hanya dia saja yang tahu, "Senang bertemu denganmu, Nona Rose. Saya Rita Rossweisse," berbeda dengan Ruby, Rita tetap menjawab dengan nada tenang dan sopan, mungkin karena mempertahankan perannya sebagai seorang Maid.

"Ara-ara, jadi kalian anak-anak baru itu ya," karena terlalu asyik mengobrol, mereka sepertinya tidak menyadari kedatangan seorang lagi di antara mereka, barulah orang itu bersuara baru Naruto dan yang lainnya menyadari, tapi kali ini bukan remaja seperti yang lain tapi wanita dewasa berambut panjang yang sedang membawa banyak belanjaan.

Naruto seketika langsung berinisiatif untuk mengambil barang-barang yang dia bawa, tampaknya wanita itu telah berjalan jauh sembari membawa belanjaan sebanyak ini. Wanita itu tersenyum karena mendapat bantuan kecil dari Naruto, "Ara~ terima kasih, aku merasa terbantu," ujarnya.

Ruby agak penasaran dengan wanita ini, jelas dilihat dari rupanya saja dia tahu kalau orang ini bukan siswa Chaldea seperti mereka. Namun, ia tersentak ketika mengingat perkataan Yuna tentang kepala asrama ketika mereka baru saja tiba di sini, "Tunggu! Anda pasti Mama Raikou, kan? Kepala asrama kami," ujarnya. Ia tak tahu bagaimana cara memanggil wanita ini, tapi karena Yuna memanggilnya seperti itu maka ia juga mengikutinya.

Raikou melebarkan senyumnya dan langsung memeluk Ruby dengan erat, sehingga kepala gadis malang itu terbenam di dada Raikou, "Ara, kau gadis imut yang cerdas, aku sama sekali tidak keberatan jika dipanggil Mama olehmu," untungnya sebelum Ruby mengalami kematian, Raikou telah melepaskan pelukan mautnya. Namun, dia kembali merentangkan tangannya dan mengarahkan itu pada kedua siswa lain di sana.

"Ayo, kalian juga ingin pelukan? Tidak usah malu-malu," baik Naruto maupun Rita dengan cerdas memilih untuk mundur dari itu, terlebih lagi setelah melihat Ruby yang sepertinya hampir mati karena kekurangan oksigen.

"M-maaf tapi aku sedang membawa banyak barang di sini, " Naruto berdalih karena tak ingin merasakan apa yang menimpa Ruby juga terjadi padanya, sehingga ninja pirang itu langsung melesat masuk ke dalam asrama.

Sementara itu, Rita dengan sopannya juga menolak tawaran mematikan itu dan lebih memilih untuk pergi dari sana setelah memberikan memberi bungkuk hormat, "Mou, kalian anak-anak terlalu kaku," ujarnya seraya mengangkat tubuh tak bernyawa Ruby dari bawah tanah dan meletakkan gadis itu di bahunya.

"Ayo, setidaknya aku akan membuatkan biskuit cokelat untuk kalian~" entah bagaimana, tapi Ruby tiba-tiba saja seolah kembali mendapatkan kehidupannya setelah Raikou mengatakan itu. Tampaknya, obsesi gadis itu terhadap biskuit cokelat tak akan pernah hilang juga.

"Aku cinta Cookies!!" dengan penuh semangat Ruby langsung turun dari bahu Raikou dan berlari ke dalam asrama dengan kilatan di mata peraknya. Raikou tersenyum melihat tingkah mereka, tahun ini sekali lagi dia mendapatkan anak-anak lucu yang akan mengisi asrama ini. Yah, dia sangat senang setiap kali menyambut mereka semua mengingat asrama Camelot adalah yang paling jarang mendapatkan tambahan anggota.

"Ara-ara~ waktu ke depan pasti akan terasa menyenangkan,"

Skip Time

Kini, 4 penghuni asrama Camelot tengah berada di ruang rekreasi dengan Naruto bersama Ruby sedang memainkan Game konsol. Awalnya, setelah bersih-bersih di seluruh asrama selesai mereka merasa bosan dan tak tahu harus melakukan apa, Raikou juga mendadak mendapat panggilan dari kepala sekolah sehingga membuatnya harus pergi lagi ... Tentunya setelah membuat cemilan untuk anak-anak asuhnya. Dan sekarang di sinilah mereka, memilih bermain game untuk menghabiskan waktu lagian akademi belum akan dimulai hingga lusa nanti dan baru ada mereka di sini, sehingga tak banyak yang bisa dilakukan.

"Ngomong-ngomong Yuna-San, apa kau pernah melihat monster yang datang dari sisi lain dunia?" tanyanya penasaran. Bukan karena apa, ia hanya penasaran seperti apa dan sekuat apa mereka? Soalnya dia pernah mendengar, kalau makhluk yang muncul dari Reverse side of the world adalah monster berbahaya yang dibagi dalam beberapa tingkatan, pastinya mereka memiliki kekuatan luar biasa jika dikatakan mampu menghancurkan dunia. Yah, siapa tahu dia bisa sedikit mendapatkan informasi tentang itu.

Namun, Yuna menggelengkan kepalanya yang artinya dia sendiri tidak tahu apa-apa, "Maaf, ketika itu aku mendapatkan panggilan mendadak untuk datang ke Sanctuary, dan atas perintah Lady Athena aku diminta untuk datang belajar di sini," sejujurnya dia juga tak mengerti mengapa, tapi karena ini adalah perintah langsung yang jarang diberikan oleh Dewinya maka dia menganggap ini adalah sesuatu yang penting.

Namun, ada yang aneh dengan suasana di Sanctuary pada hari itu di mana para Gold Saint sekaliber Seiya dan kawan-kawannya terlihat sangat memucat wajahnya, bahkan Athena sekalipun. Dia pernah ikut bertarung bersama mereka, dan dirinya tahu walaupun musuh jauh lebih kuat mereka tak akan gentar apalagi sampai pucat pasi seperti itu. Namun, ia yakin sekali dengan raut wajah para Saint legendaris itu. Ia tidak banyak bertanya pada saat itu, barulah ketika berada di kereta ia mulai mengerti situasinya. Tapi jujur, ia juga belum pernah sekalipun melihat makhluk ini.

Naruto hanya mengangguk, perhatiannya lalu dialihkan pada Rita yang sepertinya sedang menyeduh teh untuk mereka, "Lalu bagaimana denganmu, Rita-San," gadis Maid itu tampak berpikir untuk sesaat, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Di dunia kami memang sejak dulu telah berperang dengan makhluk yang berusaha menginvasi dunia, tapi aku tak yakin kalau yang ada di sana itu sama dengan yang datang dari Reverse side of the world," ujarnya sebelum duduk di sebelah Yuna. Yah, sepertinya Naruto juga tak bisa mendapat info soal ini dari orang yang ada di asrama ini, mengingat mereka yang hadir saat masih baru, mungkin dia bisa bertanya tentang makhluk ini pada Zelretch nanti.

"Yah, padahal sayang sekali," ujar Naruto seraya menghela nafas.

Ia ingin bertanya pada Ruby, tapi sepertinya gadis itu juga tak tahu apa-apa seperti mereka soal monster ini. Namun, tanpa disadari oleh siapa pun sejak Naruto mulai mengajukan pertanyaannya gesture tubuh Ruby seperti seorang yang sedang merasa tidak nyaman, tapi sepertinya hal itu dapat ia tutupi dengan baik seolah sedang fokus pada gimnya. Sungguh, entah apa yang gadis itu sembunyikan dari mereka.

"D-daripada itu, apa kalian tidak penasaran siapa saja yang akan menjadi teman asrama kita?" ujar Ruby. Naruto sedikit menyipitkan matanya pada gadis itu, ada yang aneh dengannya sekarang ini. Perasaannya saja atau dia seperti sedang mengalihkan topik? Bah, sudahlah mungkin cuman perasaannya saja.

"Aku juga sedikit penasaran, sih. Tapi sepertinya itu akan terlihat nanti jika sudah waktunya," ujar Naruto seraya mengusap dagunya, mungkin dia lebih memikirkan seberapa kuat mereka dan apakah dia bisa melakukan sparing kecil nantinya? "Apa kau tahu sesuatu tentang mereka, Yuna-San?" tanyanya mengingat sepertinya gadis itulah yang saat ini memegang data tentang mereka.

Namun, gadis Saint itu sekali lagi menggelengkan kepalanya, "Sama sekali tidak, data siswa baru akan masuk ketika mereka tiba di sini," ujarnya seraya memakan salah satu biskuit di sana sebelum akhirnya mendesah nikmat karena rasanya. Sungguh, biskuit buatan Mama Raikou sangat luar biasa.

Rita mengangkat bahunya, seolah dia tidak peduli pada orang-orang yang nantinya kemungkinan akan menjadi rekannya, "Siapa pun mereka itu tidak masalah, selama tidak ada yang menghalangi atau menjadi beban nantinya," ujarnya.

Dahi Naruto mengernyit, entah mengapa dia tidak suka dengan cara Rita berbicara barusan, rasanya seperti mengingatkan dirinya pada seorang kenalan di Konoha, "Hei jangan berkata seperti itu," tegur Naruto, ia tidak suka mendengar kata-kata seperti itu.

Rita mendengus, ia adalah hal mutlak dalam kamusnya. Baginya, orang-orang yang hanya akan menjadi penghalang suksesnya misi sangat tidak diperlukan, dan lebih baik dibuang saja dari pada misi penting yang harus gagal.

Tiing~

Pintu bel asrama berbunyi, sepertinya ada tamu atau semacamnya yang datang kemari. Tak mungkin itu adalah Raikou, menurut Yuna pengawas asrama mereka tidak akan repot-repot untuk memencet tombol bel di tempat tinggalnya sendiri, "Oh! Biar aku saja."

Tanpa disuruh, Ruby langsung melesat cepat menuju ke pintu depan untuk menyambut tamu mereka, jelas sekali kalau dia sedang bersemangat sekali. Mungkin dia mengharapkan teman baru," Menurutmu siapa itu?" tanya Naruto.

Yuna mengangkat bahunya, itu bisa jadi siapa saja karena selama beberapa hari dia tinggal di sini kadang kala ada teman Raikou yang datang berkunjung, "Mungkin saja itu kepala asrama Asgard," jawabnya membuat Naruto menaikkan alisnya. Siapa itu memangnya?

" Guys, lihat ini!" tak perlu waktu yang lama bagi Ruby untuk kembali lagi ke sini. Namun, dia tak sendiri karena di belakang ada 2 remaja berbeda gender yang mengikutinya.

Yang pertama adalah gadis berambut hitam pendek dengan kulit yang agak pucat, warna matanya yang seolah memancarkan kehampaan murni terus memperhatikan orang yang ada di sana dengan intens. Mode pakaiannya juga agak unik, di mana ia memakai Kimono yang dipasangkan dengan jaket kulit merah dan sepatu bot sebagai pelengkap, "Yo, salam kenal," ujarnya dengan nada yang sedikit ... Datar? Perasaan mereka saja atau gadis ini agak aneh?

Lalu, di sebelahnya merupakan remaja berambut hitam dengan mata hijau. Ia sedikit melambaikan tangannya dan memberikan senyum percaya diri pada yang ada di dalam sini, tampaknya dia orang yang cukup ramah tapi entah yang lain sadar atau tidak di sekitar pemuda ini Naruto bisa mencium bau laut, "Umm, halo senang berjumpa dengan kalian," ujarnya.

Tablet yang berada di tangan Yuna tiba-tiba menyala, layarnya menampilkan foto kedua orang baru ini beserta data dirinya. Sepertinya Yuna tidak berbohong, data siswa akan otomatis masuk setelah mereka masuk kawasan asrama ini, "Kalian Percy Jackson dan Ryōgi Shikki, kah? Kalau begitu selamat datang di sini."

Naruto menyeringai melihat mereka berdua terutama pada Percy, senang rasanya memiliki teman sesama anak laki-laki di asrama ini yang tadinya ia pikir itu hanya akan dirinya sendiri, "Yo, senang bertemu denganmu, Percy-San. Kuharap kita bisa akrab," ujar Naruto seraya menawarkan tangannya.

Percy juga balas menyeringai dan menerima jabat tangan Naruto, "Kesenangan juga milikku, Kawan," untuk beberapa saat keduanya saling melihat mata masing-masing sebelum akhirnya menghentikan itu, rasanya hampir seperti melihat mata mereka sendiri di cermin.

Tanpa sadar, keduanya saling mengobservasi masing-masing Mulai dari tatapannya, bentuk tubuh, bahkan cengkraman mereka yang terbilang pelan. Mereka berdua mendapat kesimpulan kalau orang yang ada di depannya ini adalah seorang petarung juga, tentunya hal semacam ini sudah biasa baginya dalam sebuah pelatihan.

"Hei, ingin berdebat kapan-kapan?" tanya Naruto.

Percy melebarkan senyumnya, ia sedikit merasa tertarik untuk melakukan itu di sini. Cukup penasaran seperti apa kemampuan orang dari dunia lain, "Oh, tentu saja tapi aku tidak akan mengalah," ujarnya membuat Naruto juga bersemangat.

"Keren, itulah yang aku harapkan,"

Yuna hanya memutar matanya bosan melihat interaksi dari kedua anak laki-laki itu, "Baiklah, kalian bisa lakukan itu kapan-kapan tapi sekarang ajak dulu mereka duduk, Naruto. Aku yakin perjalanan dimensi membuat orang lelah," ujarnya menghentikan percakapan kedua orang itu, tatapannya beralih pada Shikki yang rupanya telah duduk diam di sofa, Ruby sedari tadi berusaha untuk mengajaknya bicara tapi ekspresi wajah gadis itu lebih terlihat kesal karenanya. Ia menghela nafas, mereka sepertinya mendapat tambahan tipe yang seperti ini.


Line Break

Di jalan setapak yang menuju asrama Camelot, kini 3 orang berbeda gender sedang berjalan dengan langkah yang lelah. Ralat, hanya satu yang terlihat lelah di sana sedangkan 2 gadis yang lain tampak baik-baik saja malahan salah satu di antara mereka terlihat memikul sebuah peti mati, "Bersemangatlah, Ben. Kau melakukan tugas dengan baik di sana," ujar seorang gadis berambut pendek dengan warna hijau lemon.

Orang yang dipanggil dengan sebutan Ben itu hanya menghela nafas lelah, ia adalah pria jangkung berambut hitam sebahu, "Bukan itu masalahnya, Tenka," ujarnya pada gadis berambut hijau lemon. Tangannya diacungkan pada si gadis pemikul peti, ekspresinya sekarang ini jelas sekali kalau dia sedang sangat kesal, "Tapi aku akan merasa sangat senang jika dia berhenti menawarkan jasa peti matinya padaku! LIHAT! DIA BAHKAN DARI TADI MEMBAWA PETI BODOH ITU UNTUKKU."

Sementara itu, si gadis yang ditunjuk oleh Ben hanya memasang senyum tanpa dosa, "Ayolah Senpai, sebagai anak baru aku akan memberikan potongan harga yang bagus pada seniorku, kapan lagi kau akan mendapatkan pengalaman menyenangkan seperti ini?" alis Ben berkedut, sepertinya harga diskon yang ditawarkan kepadanya sama sekali tidak membuat itu terlihat baik, terlebih lagi gadis itu entah mengapa mengatakannya dengan niat yang terlihat tulus sehingga membuat Ben semakin kesal.

Tak mau menjadi gila karena berada terlalu lama di sini, Ben segera beranjak pergi dari dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya serta menahan diri untuk tidak memotong peti konyol itu menjadi dua. Yah Tenka dan gadis itu hanya bisa terkekeh melihat teman atau senior mereka menjadi kesal seperti itu, "Arrghh, Terkutuklah Sith!" dari dalam Asrama terdengar suara rutukan Ben yang cukup nyaring, sepertinya kali ini kedengarannya lebih kesal daripada saat ditawari peti mati, tapi entah apa penyebabnya?

Ben keluar dari asrama dengan ekspresi yang sangat marah, di tangannya dia memegang sebuah Lightsaber dengan 3 bilah biru yang mendedas, sedangkan yang kiri membawa satu toples kosong. Melihat hal itu, Tenka hanya bisa menghela nafas sepertinya dia tahu apa yang menjadikan Ben seperti ini, "Siapa yang berani mengambil persediaan Cookies buatan Mama Raikou milikku!?"

Tenka hanya bisa merasa putus asa melihat kelakuan rekannya itu, jika Ben sudah seperti ini maka itu akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan dan itu bukanlah sesuatu yang bagus untuk dilihat, "Ayo, Hu Tao. Kita masuk ke dalam saja, aku juga lelah," ujarnya seraya merangkul gadis itu untuk masuk ke asrama mereka. Ben akhirnya keluar dari kawasan asrama dan terus mengutuk, yah setiap kutukannya selalu diiringi oleh bunyi pohon yang tumbang. Hmm pohon malang, sayang sekali mereka harus menjadi sasaran pelampiasan si Kesatria Jedi itu.

Beralih sedikit dari Jedi yang sedang mengamuk dan berpotensi menjadi seorang Sith lagi, kita dapat melihat Naruto yang sekarang ini sedang mendesah bahagia menikmati menjadi yang pertama di kolam air panas. Rencananya ia akan pergi bersama Percy, tapi dia mengatakan untuk pergi saja terlebih dahulu, "Ahh, kemewahan adalah menjadi yang pertama di Onsen, kurasa aku akan cepat terbiasa di sini," ujarnya.

Ia tahu tempat ini sangat luas, tapi sama tidak menyangka itu memiliki tempat pemandian sendiri di dalamnya terlebih lagi memiliki gaya yang sama seperti di Elemental Nation, cukup jauh berbeda dengan penampilan tempat ini. Bah, biarlah dengan penampilannya tapi setidaknya tempat ini luar biasa, "Kenapa Percy lama sekali ya? Terlalu lama berendam sendirian juga terasa membosankan."

Tiba-tiba pintu onsen digeser dan Naruto dapat merasakan seorang sedang masuk ke dalam sini, "Hei, Percy kau lama seka-" Naruto berdiri dan berbalik pada orang yang datang itu. Namun, sayangnya itu bukan Percy ... Melainkan Yuna yang masuk hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya, baik Naruto maupun Yuna sama terdiam di sana. Naruto yang menyadari situasinya sekarang ini langsung berjongkok untuk menyembunyikan tubuhnya ... Walaupun itu sudah dilihat oleh Yuna, sih, "Yuna-San!? Apa yang kau lakukan di sini?!" ujarnya yang sedikit malu.

Namun Yuna tak menjawab, wajahnya sedikit menunduk sehingga melihat ekspresinya saat ini tapi sedikit terlihat kalau dia berubah merah sekarang ini, dengan langkah pelan dia berjalan mendekati Naruto, tangannya terkepal kuat hingga gemetaran dan muncul cahaya hijau di sana sebelum akhirnya menghilang menunjukkan itu terlapisi armor hijau, "Seharusnya aku yang tanya itu..." Naruto bisa merasakan kemarahan pada kata-kata gadis itu, ia ingin langsung kabur sekarang ini tapi bagaimana?! Lagian bukankah dia tidak bersalah di sini mengingat masuk lebih dulu dan ini adalah pemandian pria? "APA YANG KAU LAKUKAN DI PEMANDIAN WANITA!?"

Tak ada yang bisa digambarkan lagi setelah itu. Tapi yang jelas, hanya ada teriakan rasa sakit yang menggema nyaring di seluruh asrama sehingga membuat orang-orang yang mendengarnya langsung berhenti sejenak untuk mengirim doa pada jiwa malang itu, Bahkan Ben yang sedang asik menebas pohon juga ikut berhenti dan mengatakan, "Semoga Force menyertaimu," sebelum akhirnya melanjutkan kembali amarahnya.

Sementara itu, orang yang diduga kuat sebagai pelaku kini sedang duduk di sofa dan tersenyum puas mendengar hasil dari karya kecilnya, " ini selalu menyenangkan untuk dilakukan setiap kita memiliki pendatang baru," ujarnya seraya menikmati gelas anggur miliknya.

Teman berambut merah yang duduk di sebelahnya hanya menghela nafas melihat kelakuan temannya. Terkadang dia bisa cukup iseng untuk menukarkan antara papan pemandian laki-laki dan perempuan, padahal dia baru saja pulang saat ini, "Yah, aku akan menghentikan mereka sebelum terjadi pembunuhan di sini," ujarnya seraya menghela nafas dan pergi dari sana.

Di sisi lain, Hu Tao yang juga duduk di sana hanya tersenyum sendiri karena sepertinya dia akan mendapatkan Job setelah ini. Yah, datang kemari sepertinya tidak terlalu buruk dan cukup menguntungkan juga. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah seolah baru saja mendapat pencerahan, "Jika ini sering terjadi, sepertinya akan cocok untuk membuka cabang di sini," ujarnya. Hmm, mungkin Funeral Liyue akan memiliki nama di sini tapi sebelum itu dia butuh seseorang sebagai pegawainya.

To be Continued

Well, sebelum itu saya meminta maaf karena. Harus saya akui sendiri kalau Chapter 2 ini terbilang risak. Yah, itu mungkin karena kesalahan saya sendiri. Pertama, saya sepertinya terlalu terburu-buru dalam mengetik sehingga melupakan poin-poin penting yang akan berpengaruh di masa depan.

Yah saya berharap ini tidak terjadi lagi di masa depan.

Saya benar-benar minta maaf, terutama pada pak Kadek dan Chess yang sudah banyak membantu. Maaf bre wkwkwk

Untuk beberapa hal dalam fanfic ini, awalnya saya bingung bagaimana menyebut monster yang datang dari Reverse side of the world ini, ya untuk sementara ini saya akan menyebut Kaijuu dulu.

Juga mungkin beberapa karakter di Fic akan sedikit OOC sifatnya nanti

Terima kasih dukungannya

Baiklah, saatnya menjawab beberapa review

Jaran; Ya, mereka bakal ada tapi tidak untuk sekarang dan akan disesuaikan.

Gues Ren199: terima kasih. Mungkin kamu bisa cari Hassan I Sabbah. Fp sama seperti cover reading birth to human faction

Kingston: saya telah menetapkan minimal 5, dan untuk team Naruto saat ini masih proses penyusunan tapi 3 nama telah dipastikan

Kirito Kun: Santai ae, di sini Naruto kagak goblok" amat kok

Saber face; Mari kita beranggapan pertarungan itu tidak terjadi ataupun kalau terjadi tangan mereka tidak sampai putus.

Axe: tergantung juga, sih. Jika basic mereka bagi saya memadai

Oke sekian itu dulu dari saya, maaf untuk yang tidak sempat saya balas. Tapi harap kedepan jika bertanya kalian bisa menggunakan akun agar bisa langsung saya jawab

Dan jangan lupa review kalian guys.

Karakter yang muncul dalam Chapter kali ini;

Rita Rossweisse — Honkai Impact 3

Minamoto no Raikou — Fate Grand Order

Ben Solo/ Skywalker — Star wars. (mungkin kalian lebih suka nama Kylo Ren?)

Hu Tao — Genshin impact

Izumo Tenka — Mato Seihei no Slave

Stephen Strange — Marvel

Tony Stark — Marvel

Percy Jackson — Percy Jackson and olympians

Ryōgi Shikki — Kara no kyoukai

Oke cukup segitu saja, ingatkan saya jika ada yang ketinggalan

Sampai jumpa di next chapter