Chaldea Academy

Penafian:

Naruto : Masashi Kishimoto

Various animanga and movies:

Nilai : -?-

Pasangan : -?-

Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?

Peringatan : Typo, !, OOC, Author Newbie, Isekai, dan lain-lain.

Mulai Cerita

.

.

.

.

Bangunan akademi itu bisa dibilang sangat luas, terlalu luas malahan. Rasanya seperti sesuatu yang wajar mengingat bangunan itu bukan hanya berperan sebagai akademi saja tapi ada bagian pengembangan senjata, riset teknologi, bahkan semacam bandara juga. Ke bagian barat sedikit, terdapat berbagai macam fasilitas olahraga yang bisa digunakan siswa untuk melepas stress mereka karena harus bertarung, dan jangan lupakan stadion sepak bola di sana yang bisa beralih fungsi, tapi mengingat latar belakang siswa di sini maka jangan berharap mereka akan memainkan olahraga yang normal.

Dan di sinilah Naruto sekarang, berjalan seorang diri menyusuri lorong untuk mencari ruang kelasnya dalam balutan seragam Chaldea yang cocok untuknya. Sejujurnya, dia tidak akan bersusah payah mencari ruang kelasnya jika saja para senior dan teman-temannya tidak meninggalkan dirinya sendiri di asrama, tapi sayangnya dia bangun kesiangan karena begadang untuk memainkan FGO Arcade di asrama tadi malam, sehingga sekarang ini dia tidak mendapat info di bagian mana dia akan ditempatkan.

"Sial, aku sangat tersesat di sini," ujarnya seraya menghela nafas. Sudah cukup lama dia berkeliling tak jelas di sini dengan harapan dapat menemukan ruang kelas atau salah satu temannya.

"Kouhai-Kun, kamu butuh bantuan?" ujar seseorang di belakangnya.

Alis Naruto berkedut ketika menyadari siapa pemilik suara ini. Ia berbalik, dan benar saja rupanya di belakangnya saat ini ada Tenka yang memasang cengiran lebar padanya, tapi dia tak sendiri karena di sebelahnya ada seorang gadis berambut putih panjang dengan mata merah.

"Oh, Tenka-Senpai ... Sampai jumpa, ya," seakan mengabaikan keberadaan seniornya, Naruto berniat beranjak dari sana dengan raut wajah yang samar-samar terlihat kesal karena sesuatu.

Namun baru beberapa langkah saja dia beranjak, Tenka secara tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya sehingga membuat Naruto agak terkejut, "Ayolah, Kouhai-Kun. Kau masih marah soal kemarin? Aku benar-benar menyesal, loh," ucap Tenka dengan ekspresi dibuat-buat yang sama sekali tidak membantu.

Naruto hanya bisa menghela nafas saja, karena meladeni seniornya yang satu ini sungguh hanya akan mendatangkan sakit kepala saja. Lihat ekspresinya itu, apa yang dia katakan jelas berbeda dengan raut wajahnya yang seakan puas akan hasil kerjanya 2 malam yang lalu.

"Siapa yang tidak kesal jika dijebak untuk memasuki pemandian wanita, Senpai?" ujar Naruto. Ya benar, pelaku sebenarnya malam itu adalah Tenka yang menggunakan kemampuannya untuk bisa dengan cepat menukar dua papan penanda agar orang lain salah masuk, "Terlebih lagi jika hanya aku yang kena dan harus dihajar oleh Yuna," lanjutnya.

Tenka hanya tertawa garing mendengar kekesalan Naruto sembari berusaha menghindari tatapan si ninja itu, bahkan beberapa orang lewat termasuk gadis berambut putih yang sempat mendengarnya hanya memandangnya aneh, "Maa~ sudahlah, Kouhai-Kun. Aku benar-benar minta maaf, kok," ujarnya walaupun ekspresi wajah gadis ini masih seperti yang tadi. Kedua tangannya tiba-tiba saja ditepuk, seolah baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang, "Nah, sebagai permintaan maaf, bagaimana jika aku akan mengabulkan satu permintaanmu?"

Naruto mengusap dagunya memikirkan tawaran itu. Hmm, sepertinya usulan itu tidak terlalu buruk juga mengingat dia sedang kesulitan di sini, "Yosh, kalau begitu bagaimana jika kau menunjukkan ruang kelasku di mana?" usul Naruto.

Tenka mengerjapkan matanya beberapa kali, mukanya juga berubah cemberut sebelum akhirnya menghela nafas seolah sedang kecewa karena suatu hal, "Hanya itu saja? Rasanya tak adil," tampaknya dia menganggap kalau permintaan Juniornya itu tidak sesuai dengan kemalangan yang dirinya timbulkan kemarin malam, "Ya sudahlah, tapi aku tidak akan menganggap ini masuk hitungan," ujarnya seraya menjentikkan jari.

Naruto ingin bertanya apa maksud dari ucapan senpai-nya barusan. Namun, sebelum sempat dia melakukan itu tubuhnya seketika berasa sedang disedot oleh sesuatu. Ia tak punya waktu untuk merespons apa yang barusan terjadi, sehingga membuatnya agak terkejut. Tapi ketika ia sadar, dirinya mulai memahami kalau sepertinya dia baru saja diteleport oleh Tenka. Lihat saja, apa yang ada di depannya sekarang ini bukan lagi koridor seperti yang tadi tapi melainkan sebuah ruangan yang agak luas dengan banyak kursi dan meja, serta semacam layar hologram yang sepertinya berfungsi sebagai papan tulis.

"Woah, jadi itu kemampuan Tenka-Senpai? Rasanya hampir mirip dengan Hiraishin," ujar Naruto yang sepertinya merasa tertarik. Mungkin kapan-kapan dia juga harus pergi menantang seniornya itu. Sungguh, yang barusan itu sepertinya telah menarik minatnya.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, dan melihat kalau di ruangan ini memiliki meja yang berjejer dari atas ke bawah. Sepertinya susunan itu dilakukan agar pandangan siswa di belakangnya tidak terganggu, tapi rasanya ruangan ini terlalu luas untuk sebuah kelas. Belum lagi baru dia seorang yang berada di dalam kelas.

"Ya sudahlah, karena yang lain belum datang kurasa tidak ada salahnya untuk tidur sebentar," ujarnya seraya duduk di salah satu bangku di sana. Sepertinya efek begadang semalam belum juga hilang darinya

Secara perlahan, Mata Naruto mulai menutup dan jiwanya mulai menyeberang ke alam mimpi yang indah ... Namun, baru juga merasakan nikmatnya tidur tapi kesadarannya harus kembali tatkala merasakan pipinya sedang ditusuk-tusuk oleh sesuatu. Ia segera membuka matanya dan disambut langsung oleh sepasang mata merah unik dengan bentuk bunga. Tak butuh waktu bagi Naruto untuk menyadari kalau itu adalah Hu Tao, walaupun di akademi dia tidak lagi mengenakan pakaian sehari-harinya tapi sepertinya topi yang ia kenakan itu sudah menjadi ciri khasnya, sehingga selalu dia pakai ke mana pun.

"Oh Kau bangun. Kupikir aku harus menyiapkan rumah kedua untukmu," ujar Hu Tao. Entah yang barusan itu bercanda atau bukan, tapi humornya sama sekali tidak lucu dan terkesan aneh.

"Hu Tao ... Dan kalian semua?" ujarnya ketika melihat siapa saja yang datang.

Rupanya tak hanya Hu Tao, tapi sepertinya beberapa angkatan terbaru dari asrama Camelot seperti Ruby dan Percy secara kebetulan juga berada di kelas yang sama, "Bukankah ini hebat? Kita bisa berangkat dan pulang bersama setiap hari," ujar Ruby yang terlihat semangat.

Teman-temannya hanya terkekeh melihat seberapa semangat gadis gula itu, tapi memang benar mereka mendengar dari senior Ben mereka kalau penempatan kelas akan dilakukan secara acak, hanya saja tidak disangka kalau beberapa dari asrama Camelot akan sekelas, "Yap, setidaknya kita memiliki orang yang kita kenal di kelas ini," ujar Percy seraya duduk di sebelah Naruto.

Naruto mengangkat kakinya di atas meja dan menjadikan tangannya sebagai sandaran, ia tampak kepikiran sesuatu ketika melihat meja guru di depan, "Menurut kalian seperti apa Sensei kita nanti?" tanyanya.

Yang lain hanya mengangkat bahu karena tak tahu, tapi mengingat ini sekolah yang seperti apa dan tujuannya didirikan, mereka bisa berespektasi kalau nantinya sosok guru itu bukanlah orang yang biasa. Tidak mungkin, kan, jika mereka merekrut seseorang hanya untuk mengajarkan matematika? Pastinya para guru di sini adalah orang-orang kompeten yang datang dari berbagai dunia.

"Oh rupanya sudah ada orang di sini," ujar suara baru yang terkesan agak feminim di sana.

Naruto menoleh ke arah datangnya suara itu, rupanya di sana ada seorang gadis berambut pendek kastanye yang datang ke arah mereka. Dia tak sendiri, karena bersamanya juga ada seorang lagi di sampingnya hanya kali ini dia adalah gadis Surai putih bermata biru yang memiliki bekas luka yang agak samar.

Ruby yang melihat kedatangan gadis itu seketika langsung terlihat senang, sontak dengan kecepatannya dia langsung melesat menuju ke orang itu dan langsung memeluknya dengan sangat erat, "Weiss! Kupikir aku kehilanganmu!" ujarnya yang sepertinya terlihat agak lebay.

Naruto mengangkat alisnya, mungkin gadis putih itu adalah rekan yang Ruby ceritakan padanya ketika pertama kali bertemu? Yah, sepertinya begitu. Lihat, Ruby tampak sangat lengket padanya, "Kenalanmu, Rube?" tanyanya walaupun sudah menduga itu.

"Ya, kau benar. Dia sahabatku,"

Sementara itu, Weiss hanya menghela nafas melihat tingkah rekannya itu. Namun, jika diperhatikan dengan baik sepertinya bibir Weiss sedikit tersenyum di sana, ia juga tak menghindar ataupun melepaskan diri dari pelukan Ruby. Sepertinya benar jika mereka adalah sahabat, "Kuharap kau tidak meledakkan orang lain saat aku tak melihatmu."

Wajah Ruby cemberut seketika, sepertinya dia tidak begitu suka jika diingatkan dengan momen memalukannya saat pertama kali memasuki Beacon, terlebih lagi jika itu dilakukan di depan banyak orang, " Oh come on, aku tidak seperti itu lagi," ujarnya membuat Weiss terkekeh.

"Yah, siapa yang tahu," Weiss benar-benar menggoda Ruby.

"Ekhem!"

Gadis yang datang bersama Weiss berdehem, sepertinya hal itu dia lakukan untuk menyadarkan kedua gadis merah dan putih yang telah asik dengan dunia mereka sendiri, sehingga lupa kalau sejak tadi mereka belum saling memperkenalkan diri ketika mereka tiba di sini, "Weiss, di mana sopan santun kita?" Weiss yang menyadari keteledorannya hanya bisa menggaruk tengkuknya karena sedikit malu.

Weiss segera membungkuk kecil, dan sedikit mengangkat roknya untuk memberikan sebuah salam layaknya seorang bangsawan. Yah, mungkin dia seperti itu atau semacamnya mengingat tampilannya yang begitu anggun, "Namaku Weiss Schnee. Seperti yang kalian lihat, aku berasal dari dunia yang dengan Ruby, dan aku ditempatkan di asrama Asgard," ujarnya sebelum kembali menegakkan badannya.

Gadis berambut kastanye itu hanya melambaikan tangannya pada mereka, salamnya sepertinya hanya terkesan normal saja dan tidak terlalu mencolok seperti temannya, "Senang berkenalan dengan kalian, namaku Misaka Mikoto," ujarnya sembari tersenyum.

Baru saja ingin membalas salam mereka berdua, tapi tiba-tiba saja seorang pria dewasa berambut panjang muncul di sana dengan memakai sebuah setelan Jaz sehingga perhatian semua teralihkan pada orang ini. Yang membuat mereka kaget adalah, tak ada satu pun di antara semuanya yang menyadari kalau pria ini masuk ke dalam kelas hingga berada di dekat mereka.

"Halo anak-anak, selamat datang di kelasku," ujar pria itu dengan senyuman.

Mendengar hal itu, sontak mereka langsung mengetahui kalau pria yang berdiri di depan itu adalah guru mereka, sehingga membuat semuanya langsung segera duduk di bangku terdekat. Ruby, Naruto, Hu Tao, dan Percy duduk secara sejajar di bagian depan. Di belakang mereka, ada Misaka bersama Weiss. Cukup aneh total mereka hanya enam orang, mengingat ruang ini bisa menampung jauh lebih banyak lagi.

"Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa siswa di sini hanya sedikit saja," ujarnya dengan senyum kecil. Beberapa siswa di sana, seperti Percy dan Naruto mengangguk membenarkan pernyataan itu, "Sebenarnya ada beberapa orang lagi akan bergabung dengan kita di sini. Namun, sepertinya ada sedikit kendala sehingga baru seperti ini yang ada," lanjutnya.

"Ara, sepertinya aku terlambat," seorang mungil yang agak kurus dengan santainya masuk ke dalam kelas, ia memiliki rambut pucat sebahu yang diikat ke belakang dengan pita, "Maaf, Sensei kami berdua terlambat," ujarnya. Si guru hanya mengangguk saja, sepertinya dia tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan kecil mereka berdua. Yah, bersama dengannya juga datang gadis yang agak lebih tinggi darinya. Gadis ini memiliki rambut pirang yang agak panjang.

"Silahkan duduk, kalian berdua. Tapi kumohon jangan ulangi lagi," ujar si guru dengan nada tenang.

Mereka berdua mengangguk dan memilih untuk duduk di sebelah barisan asrama Camelot, si gadis cebol juga sempat memberikan senyumnya pada mereka yang ia lewati. Naruto entah mengapa merasa tak nyaman dengan senyuman itu, tapi ia mengabaikannya saja, "Salam kenal semua, aku Hiiragi Shinoa~"

Shinoa lalu memeluk gadis di sebelahnya dengan nyaman, seolah melakukan itu membuatnya senang. Hanya saja, sepertinya tidak dengan gadis itu yang sepertinya agak kurang nyaman atau malu, "Dan ini Nightingale-San. Kami berdua dari asrama Shimosa," ujarnya. Gadis yang diidentifikasi sebagai Nightingale itu hanya mengangguk saja, tapi samar-samar dia terlihat agak malu. Jujur, Naruto yang melihatnya agak mengingatkan dirinya pada seorang kenalan di Konoha.

"Baiklah anak-anak, mungkin di antara kalian ada yang baru bertemu atau yang sudah saling berkenalan tadi. Sekarang, izinkan saya memperkenalkan diri," pak guru itu terlihat seperti sedang menuliskan sesuatu di atas mejanya, dan apa yang dia tulis tampaknya juga akan muncul pada layar di depan.

Nama yang muncul di layar itu membuat beberapa orang bumi alternatif di sana sedikit tertarik, terutama Percy yang memiliki hubungan dan sangat familier dengan nama itu, pasalnya nama yang tertulis itu memiliki kisah panjang yang cukup melegenda dan selalu menyertai nama besar beberapa pahlawan di dunianya. Terlebih lagi, dia sendiri pernah bertemu dengan pemilik nama itu, dan orang yang di depannya sekarang sama sekali bukan dia apalagi mirip. Lihat, dia bahkan tidak memiliki kaki kuda! Ah! Bagaimana dia lupa? Pasti hanya kebetulan semata dalam hal nama

"Jika kalian bertanya-tanya apakah aku Chiron yang sama dengan pelatih para pahlawan Yunani, maka jawabannya adalah, Ya. Aku adalah Chiron yang itu," ujarnya.

Percy langsung bereaksi pada pernyataan 'orang yang mengaku sebagai Chiron' di depannya, "Sir, aku sangat mengenal Chiron, dia pula yang melatihku. Dan kau sama sekali tidak mirip dengannya," ujarnya seraya berdiri membuat seisi kelas menatapnya.

Anehnya, Chiron sama sekali tidak marah tapi malah tersenyum pada Percy walaupun bagi seorang kesatria yang memiliki kebanggaan itu termasuk penghinaan baginya, tapi bocah itu sama sekali tidak bersalah karena ketidaktahuannya, "Putra Poseidon, kah?" Percy sedikit terkejut, bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya adalah putra penguasa lautan? Tidak mungkin mereka memperkerjakan monster di sini. Sementara itu, Chiron hanya sedikit terkekeh melihat ekspresi anak itu, "Tidak perlu terkejut, aroma lautan cukup kuat di sekitarmu."

"Tapi itu tidak menjelaskan mengapa kau menyebut dirimu sebagai Chiron, Sir," balas Percy membuat Chiron menghela nafasnya. Sementara itu, teman sekelasnya yang tidak terlalu mengerti soal itu malah lebih memilih untuk diam dan menyaksikan saja apa yang akan terjadi.

Chiron langsung berjalan ke tengah kelas, ia mengusap dagunya seolah tertarik dengan Percy. Yah, bukan dalam romantis tentu saja, "Katakan, Pahlawan muda, apa yang membuatmu ragu kalau aku adalah Chiron yang asli," tanyanya.

"Seperti kataku, Sir. Aku dilatih oleh Chiron selama beberapa tahun, dan ..." sorot mata Percy berubah, ia melirik pada kedua kaki pria itu, "Kau bahkan bukan seorang Centaur."

Mengetahui maksud ucapan Percy, Chiron merasa sangat ingin tertawa lebar saat ini tapi ia tahan karena melakukan hal itu dapat membuat muridnya malu, dan hal itu bertentangan dengan posisinya sebagai seorang guru, "Jadi itu masalahnya? Baiklah akan kutunjukkan," secara ajaib, tubuhnya mengeluarkan pendar hijau yang perlahan-lahan semakin terang dan mulai menyilaukan, sehingga para siswa yang hadir di sana harus menutup mata mereka.

Ketika cahaya itu menghilang, semua pasang mata siswa di sana langsung membulat seketika saat melihat penampilan Chiron saat ini, hal itu juga sangat berlaku bagi Percy. Setelan Jaz milik Chiron kini telah berganti dengan Zirah yang terlihat agak kuno. Namun, yang paling mencolok dari semua itu adalah tubuh bagian bawahnya telah berubah menjadi tubuh kuda layaknya Centaur dalam dongeng-dongeng, "Bagaimana?" tanyanya walaupun dia tahu hal seperti ini saja tidak akan bisa meyakinkan Percy.

Memang benar, Percy saat ini masih ragu dengan pria di depannya dan berpikir kalau orang di depannya bisa memanipulasi kabut atau semacamnya, tapi sayangnya dia sama sekali tak merasakan keberadaan hal itu di sini. Namun, dia juga tak bisa menyanggah pernyataan orang ini, "Pernahkah kalian mendengar teori dunia alternatif?" tanyanya. Beberapa siswi di sana terlihat mengangguk, memang benar kalau teori itu pernah dikemukakan oleh beberapa ahli sains.

Chiron melangkahkan kaki kudanya menuju ke arah Percy, sehingga dia berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya, "Fakta kau berada di dunia yang lain adalah sesuatu yang lebih luar biasa dari teori itu. Lalu bagaimana kau meragukan jika ada lebih dari satu Chiron di luar sana, Jackson muda?" ujarnya seraya berbalik dan kembali ke tengah kelas. Namun, ia sempat berhenti dan menoleh sedikit ke arah Percy, "Aku tidak akan memaksamu percaya padaku, tapi jika kau masih ragu dan ingin membuktikannya, dengan senang hati aku menyambutmu di ruanganku," lanjutnya.

Percy mengangguk, walaupun hal itu terdengar masuk akal tapi Chiron dan pengalaman yang telah dia lalui telah mengajarkan padahal untuk tidak langsung percaya pada beberapa hal, terlepas dari nurani atau bukan, "Tentu, Sir. Aku sangat menghargainya," ujarnya. Tanpa dia sadari, hal ini membuatnya terlibat dalam penjelasan dan pembelajaran panjang yang tentunya sangat tidak bagus bagi otaknya.

"Ada apa itu tadi?" tanya Naruto.

"Itu ... Bukan apa-apa," balas Percy dengan senyum kecil.

Naruto hanya mengangkat bahunya, ia tidak terlalu peduli pada masalah Percy barusan. Lagian dia dan anak itu baru bertemu dan tidak terlalu akrab, sehingga dia tidak akan banyak bertanya padanya jika tidak ia ingin dijawab. Ia lebih tertarik pada transformasi yang ditunjukkan oleh Chiron, ia yakin sekali kalau pria itu bukanlah seorang Shinobi seperti dirinya sehingga tak bisa melakukan trik Henge.

Sekali lagi, tubuh Chiron kembali bersinar seperti tadi sebelum akhirnya penampilannya berubah menjadi seperti sebelumnya. Ia menepuk tangannya sekali agar semua memperhatikan dirinya, "Karena kalian baru di sini, hal pertama yang akan kita lakukan berkeliling untuk melihat seluruh akademi," ujarnya. Yah, bukan karena apa tapi ini baru hari pertama dan mereka harus lebih mengenal tempat yang akan menjadi rumah mereka kedepannya.

Semua mengangguk, beberapa bahkan antusias soalnya walaupun sudah berada di sini beberapa hari tapi mereka hanya berada di sekitaran asrama saja, sehingga bisa dibilang para siswa ini cukup penasaran dengan apa saja yang ada di akademi, "Profesor, bolehkah kita mengunjungi arena di sana?" Ujar Ruby yang bersemangat.

Chiron hanya tersenyum melihat seberapa semangatnya siswi yang satu ini, "Tentu, Nona Rose. Itu adalah salah satu destinasi kita," ujarnya seraya berjalan meninggalkan ruangan, dengan diikuti oleh para muridnya termasuk Percy sekalipun.

.

.

.

.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah perpustakaan, suatu tempat yang bagi sebagian orang adalah tempat yang membosankan dan biasa-biasa saja, tapi yang berada di depan mereka saat ini bisa dibilang sangat luar biasa. Ruangan bergaya khas Viktoria dengan interior marmer dan emas yang agak mengingatkan Naruto akan asrama Camelot, perpustakaan ini sendiri memiliki 5 lantai yang dilihat dari bawah sini saja sudah sangat tinggi dengan rak-rak buku yang menjulang hingga ke atap, tempatnya sendiri didesain berbentuk bundaran sehingga rasanya seolah-olah sedang dikepung oleh banyak buku …. Yah, kenyataannya memang seperti itu. Hal yang unik, kita dapat melihat banyak buku terbang berlalu lalang layaknya burung.

"Bukankah ini terlalu berlebihan?" ujar Percy kagum. Mungkin ini setara atau bahkan lebih bagus dari pada yang berada di Olympus. Ia yakin, jika kekasihnya melihat ini pasti dia akan sangat kegirangan.

Chiron hanya mengangkat kedua bahunya untuk menanggapi pertanyaan atau pernyataan muridnya itu, dia sendiri tidak menganggap ini begitu aneh, "Tidak ada yang berlebihan untuk ilmu pengetahuan, Percy," Yah, itu sangat berlaku bagi Akademi seperti Chaldea yang memiliki dedikasi khusus. Ia menoleh ke sisa muridnya sebelum akhirnya menghela nafas, jelas terlihat kalau hanya beberapa saja yang tampak tertarik dengan ini.

"Seberapa banyak koleksi di sini, Profesor?" tanya Weiss. Ia selalu berpikir, kalau perpustakaan tempatnya berasal adalah yang memiliki koleksi terbanyak dan desain paling indah, tapi saat ini pemikiran itu telah terbantahkan tepat di depan matanya, "Dari pada itu, bagaimana kita mencari buku yang kita inginkan di antara sebanyak ini?" Yah, jika mencari satu-persatu rasanya itu seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.

"Sangat mudah, Nona Schnee" suara seorang wanita yang familier di belakangnya membuat Weiss terkejut. Benar saja, ketika dia menoleh ke belakang dirinya langsung mendapati wajah seorang wanita yang dia dan Ruby kenali. Tentunya wanita pirang berkacamata yang terlihat kejam itu tidak akan pernah mereka lupakan.

"Profesor Goodwitch!?" seru Ruby yang tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ia tak menyangka salah satu guru paling dihindari untuk dibuat marah akan ada di sini, padahal seharusnya dia berada di Beacon sekarang ini, "Bukankah kau harusnya berada di Beacon sebagai seorang kepala sekolah sekarang ini?"

Ya, orang ini adalah Glynda Goodwitch, wanita yang pernah menjabat sebagai instruktur tempur di Beacon, tapi sekarang sepertinya telah bekerja di sini entah sebagai apa, "Seperti yang kau lihat, Nona Rose. Sekarang menjadi pustakawan di sini. Dan untuk Beacon? Aku yakin Port akan melaksanakan tugasnya dengan baik," jawabnya.

Ruby yang mendengar itu entah mengapa merasa kasihan dan ingin berdoa pada seluruh siswa yang masih belajar di sana, pasalnya karena suatu alasan profesor mereka yang satu itu hanya banyak bercerita yang membosankan saja, "Oh, kalau begitu senang melihatmu di sini, Professor," balas Ruby dengan tawa kecil yang canggung.

"Professor Glynda, senang bertemu lagi denganmu. Aku lihat kamu mulai terbiasa berada di sini," ujar Chiron sekedar berbasa-basi untuk menyapa wanita bertema penyihir itu, "Bisakah kau menunjukkan pada murid-muridku bagaimana cara mencari buku di sini?"

Glynda mengangguk dengan senyum ramah, sesuatu yang Ruby ataupun Weiss tak pernah lihat, bahkan saat sedang menemani Ozpin pun dia tidak pernah tersenyum, "Psst, apa menurutmu dia menaksir Professor Chiron?" bisik Ruby pada Weiss yang hanya bisa mengangkat bahunya saja.

"Perang," ujar Glynda tiba-tiba membuat Naruto dan semua teman sekelasnya kebingungan. Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kemunculan buku-buku yang terbang menuju ke arah mereka, jumlah totalnya ada sekitar lebih dari 4 lusin yang berhenti dan melayang-layang di depan Glynda dan menunjukkan sampul mereka. Memang benar, dilihat dari judul saja semua buku itu tentang perang, "Apakah kalian mengerti? Sebutkan saja buku apa yang ingin kalian cari, dan mereka akan langsung datang padamu. Semakin spesifik maksudmu maka makin sedikit yang datang. Seperti ini ……. 'Seni berperang'" dan benar saja, buku yang awalnya berjumlah beberapa lusin itu kembali terbang menuju ke rak mereka dan hanya menyisakan satu buku dengan judul Art of War.

Misaka benar-benar merasa terkesan, walaupun dia seorang esper tapi harus dia akui kalau selain megah dan indah, perpustakaan ini juga memiliki cara kerja yang begitu luar biasa untuk memudahkan para siswa. Yah, dia tidak ingin tahu bagaimana bisa seperti karena ia tak akan mengerti sesuatu yang datang dari dunia lain. Namun, dia juga tertarik untuk mencobanya, tapi tidak untuk sekarang, mungkin nanti dia bisa pergi bersama Weiss nanti, "Aku mungkin akan betah di sini,"

"Aku sarankan bagi kalian yang ingin mencari buku untuk pertama kali sebaiknya pergilah untuk meminta saran ke pustakawan agar tidak kerepotan nantinya, " ujar Chiron.

"Baiklah, Professor Glynda. Aku pamit dulu, kami harus melanjutkan ke bagian berikutnya," merasa kunjungan mereka sudah cukup, Chiron memutuskan untuk segera pergi dari sini. Lagi pula beberapa muridnya yang berotak tumpul sepertinya hampir mati kebosanan di sini. Glynda hanya memberikan anggukan singkat sembari tersenyum sebagai balasan terhadap pria itu.

Bersamaan dengan itu pula, Chiron bersama muridnya langsung pergi beranjak dari sana.

.

.

.

.

.

Berbeda dengan saat berada di perpustakaan tadi, sebagian besar siswa Chiron kini menunjukkan rasa tertarik yang luar biasa ketika sampai pada destinasi mereka. Tempat ini layaknya sebuah koloseum raksasa dengan arena yang cukup luas. Naruto melihat sekelilingnya, dan menyadari suatu hal si sini, Tampaknya bukan hanya kita di sini, ya," ujarnya.

Ya itu memang benar, di sini banyak siswa yang mengenakan Combat Uniform sedang berlatih tapi sepertinya mereka telah memisahkan diri menjadi beberapa kelompok kecil, dan antar satu kelompok dengan yang lainnya terlihat sekali kalau setiap dari mereka melakukan pelatihan yang berbeda-beda.

Ruby merasakan ketertarikan pada salah satu kelompok yang ada di sana. Berbeda dengan yang lainnya, kelompok yang dia lihat hanya duduk diam bermeditasi tapi hal itu juga yang menarik minatnya yang biasanya jarang akan hal seperti ini, "Apa yang mereka lakukan, Professor?" tanyanya. Bukankah ini adalah sekolah pertempuran? Lalu, untuk apa mereka melakukan meditasi?

Chiron tersenyum ketika melihat ke mana maksud pertanyaan Ruby. Yah, jarang sekali siswa baru ataupun lama yang tertarik dengan apa yang mereka lakukan, terlebih lagi ketika kelompok ini terlihat hanya melakukan meditasi, "Oh, itu para siswa Jedi yang berlatih untuk memahami koneksi dengan Force mereka. Sebaiknya sekarang kita jangan menganggu," jawabnya seraya menepuk bahu Ruby.

Ruby hanya mengangguk mengikuti kelompoknya yang mulai kembali bergerak. Namun, ia masih penasaran dengan apa yang dimaksud sebagai koneksi Force oleh Chiron dan hal itu cukup menggelitik rasa ingin tahunya, mungkin setelah ini dia bisa pergi bertanya langsung pada mereka, "Baik, Professor," ujarnya.

Namun, baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja Ruby merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang, sehingga ia langsung berbalik untuk melihat siapa itu …. Namun, matanya langsung melebar ketika bertatap muka dengan orang itu, linangan air mata mulai membasahi penglihatannya, ekspresinya antara tak percaya dan Syok ketika melihat wajah di depannya. Yah, hal membawa kembali memori pahitnya ketika malam semuanya bermula. Sungguh, seumur hidupnya dia tidak pernah lupa akan wajahnya wajahnya walaupun rambut merah yang dulu panjang itu kini sudah dipotong pendek sebahu, tapi hal itu tak akan pernah membuatnya lupa akan sosok ini.

"Halo, Rubes."

Sementara itu, orang atau lebih tepatnya gadis yang menepuk bahu Ruby itu hanya tersenyum lembut padanya. Mungkin akan sulit baginya untuk menggambarkan seperti apa yang ia rasakan ketika bisa melihat kembali salah satu sahabatnya, karena awalnya dia juga sempat terkejut dan tak percaya saat melihat rombongan Professor Chiron datang ke sini …. Ia ragu, apakah itu benar Ruby dan Weiss atau hanya imajinasinya saja. Ia juga takut untuk bertemu mereka, karena bagaimanapun juga dia telah dianggap mati di dunia asalnya sehingga akan aneh jika dia langsung muncul di depan mereka. Namun, ia tak peduli lagi, mungkin inilah kesempatan terbaik untuk langsung menyapa mereka tanpa harus menunda lagi.

"P-Pyrrha?!"

To be Continued.

Ya mungkin Chapter ini sangat pendek. Padahal awalnya saya berencana untuk membuat sebanyak 6K tapi entah mengapa saya selalu saja stuck di progres 4K

Well, saya akan mencoba lagi di chapter depan. Ngomong-ngomong the Admiral juga dalam proses pengerjaan.

Untuk beberapa hal dalam Fic mungkin para Chara nya belum bisa saling percaya. Eps kemarin hanya menunjukkan keramahan mereka saja bukan berarti mereka akrab. Dan yah, mungkin baik Naruto ataupun Percy akan sedikit memiliki besar kepala sebagai pahlawan dunia mereka …. Sebelum ego dihancurkan.

Di sini juga diperlihatkan Percy yang tak percaya dan meragukan Chiron. Bagi yg baca novel. Atau nonton film pasti tahu mengapa..

Oh dan lagi, saya berencana menunjukkan bagian bengkel sebenarnya tapi saya batalkan dan menyimpannya untuk nanti saja.

Terakhir, bagi guest, saya yakin yg komen yg kebanyakan itu mungkin satu orang saja dibaliknya. Saya hargai itu tapi komentar saja sekali atau dua kali untuk tiap chap, saya lebih bersemangat dengan itu dari pada komentar guest banyak tapi satu orang saja, apalagi sampai copy paste komentar yg lain. Jika bisa, komentar lah dengan akun kalian saja.

Karakter yang muncul;

Chiron — Nasuverse

Nightingale— Arknights

Weiss Schnee — RWBY

Misaka Mikoto — Toaru Majutsu Index (?)

Hiragi Shinoa — Owari no seraph

Glynda Goodwitch — RWBY

Oke, sekian dari saya.

Untuk yg baca, setidaknya like and Follow lah biar ane semangat dikit.