Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

RWBY: Mounty Oum(mokad)/Rooster teeth

Warning: typo, ooc, dll

Start Story


Hentakan sepatu bergema keras pada koridor Beacon Academy, suara yang berasal dari langkah kaki Glynda Goodwitch, seorang wanita dewasa cantik dengan ciri tinggi sekitar 190cm , rambut pirang cerah bergelombang dan mata emerald zamrud indah nan tajam yang bertengger kacamata frameless kecil menambah kesan tegas pada diri. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan garis leher keyhole, rok pensil hitam melingkar di pinggang nya mencapai tepat bawah dada dengan tiga kancing tembaga kusam, kaki serta paha tertutupi oleh legging hitam juga sepatu hak tinggi, dan jubah hitam pendek dengan bagian ungu yang memiliki pola robekan dan bolong seperti bekas anak panah atau lemparan bola api.

Saat ini dia tengah patroli malam menyusuri setiap lorong untuk memastikan tidak ada siswa yang keluyuran ataupun berbuat sesuatu yang aneh-aneh.

"Seharusnya aku tidak melakukan ini, jika saja Ozpin mau mendengar usulan untuk memasang CCTV di sini. Tidak menolak dengan alasan biaya dan pelanggaran privasi siswa " Runtuk Glynda kesal karena harus terus-menerus patroli malam demi memastikan semua baik-baik saja.

"Alasan yang sangat bodoh, seperti aku akan menyuruhnya memasang CCTV itu di kamar mandi saja…" Wanita itu menghela napas ringan, "…Aneh dia mampu memasang ratusan cctv di Emerald Forest." tambahnya yang merasa heran dengan keanehan dari Headmaster Of Beacon Academy yang kini menjabat. Ia memang menghormati Ozpin sebagai seorang Headmaster dan juga Hunters senior namun kadang jalan pikiranya sulit untuk dipahami.

Merasa tidak ada guna mengeluh tentang atasannya, Glynda kembali melanjutkan tugas patrol. Lalu perhatiannya teralih oleh suara tangis yang terdengar dari ruang kelas sebelah. Ia pikir itu adalah ulah murid iseng yang ingin menjahili murid lain, jadi ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kelas yang tengah mengeluarkan suara tangis untuk menangkap dan, mungkin menghukum murid tersebut. Tidak, dia akan menghukum murid tersebut. Aneh, ia tak menemukan seorang pun di kelas dan suara tadi tidak terdengar lagi, merasa tak ada guna berlama-lama di sini ia memutar badan hendak pergi dari sana, tapi langkahnya terhenti saat melihat keranjang mencurigakan berwarna Orange di samping satu-satunya pintu kelas. Glynda merasa ada yang tidak wajar dengan keranjang tersebut, pasalnya jam terakhir pelajaran hari ini adalah Fighting Class yang gurunya adalah ia sendiri dan seingatnya tak ada murid yang membawa keranjang seperti ini dalam kelasnya, terlebih lagi warna terang yang dimana tidak mungkin tidak dia perhatikan. Jadi, ia mendekati keranjang itu untuk memeriksanya... namun,

"OH MY GOD!". Glynda terkejut dengan isi keranjang tersebut. "B-bagaimana bisa ada bayi di sini". Tambahnya ketika ia melihat bayi berambut pirang kuning, seperti matahari yang dia asumsikan sebagai Faunus. Melihat bayi tersebut memiliki tiga guratan menyerupai kumis di setiap pipi, well itu menurutnya.

" Ini gawat, aku harus melapor pada Ozpin", kata Glynda bergegas keluar dari kelas untuk melapor hingga akhirnya berhenti ditengah lorong mengingat bayi itu dia tinggal dikelas. Ah, betapa malam ini 'pasti' akan panjang, batinnya sebelum kembali berlari ke kelas untuk mengambil bayi itu.

Mungkin dia akan menyiapkan beberapa cangkir kopi seperti yang biasa dilakukan Ozpin.

.

In Naruto mindscape

"Menarik. Tubuhmu kembali mengecil seperti saat baru lahir, Naruto,". Ucap rubah raksasa berekor sembilan dengan nada mengejek, seringai lebar seperti maniak terlukis diwajah. Tatapan yang dapat membunuh dia arahkan pada pria berambut kuning—untuk beberapa orang mungkin, tapi tidak untuk Naruto yang mengetahui seberapa lembut rubah berekor Sembilan.

"Jangan ingatkan aku lagi," Balas naruto sambil cemberut mengingat fakta bahwa saat ia tak berdaya karena menjadi seorang bayi.

Ya. Uzumaki Naruto; Anak dari ramalan, penyelamat dunia, pahlawan Konoha, jinchūriki ekor Sembilan, reinkarnasi Ashura, dan yadda…yandda…yadda. Daftarnya masih dapat berlanjut hingga besok. Kini, dia seorang bayi—bayi! Mahluk yang tidak dapat jalan dua kaki, mahluk yang merayap, yang bahkan tidak bisa mengurus perihal membersihkan pantat sendiri setelah buang air. Kenapa dia menyutujui kesepakatan bersama Sage Of Six Path. Oh ya! Karena kakek tersebut tidak pernah menyinggung tentang bayi.

"Ngomong-ngomong. Kemana dia akan membawa kita, Kurama?" Rubah berekor sembilan mengangkat kedua bahu tidak tahu menahu akan dibawah kemana.

" Mungk…, tidak jadi" Perkataan tidak selesai Kurama membuat perempatan di jidat Naruto. Menjelaskan sesuatu kepada Naruto yang dia kenal sendiri seberapa tebal kepalanya untuk mencerna suatu informasi. Dia, Kurama, tidak memiliki tenaga dan kesabaran yang cukup. Tapi mungkin dia akan mengatakan beberapa hal, daripada membuat inangnya kesal dan kembali memasang segel. Dia tahu seberapa mengesalkannya para Uzumaki. "Entahlah gaki aku sendiri tidak tahu tapi aku tidak merasakan niat jahat darinya, lagian aku sangat heran denganmu, kenapa jika melawan mayat hidup kau sangat berani tapi sangat takut dengan hantu?," Tanya Kurama mengingat Naruto yang menangis karena mengira suara langkah perempuan yang kini membawanya adalah hantu.

tanpa di sadari mereka telah berada di sebuah ruangan yang lumayan luas dan mewah, sangat mewah. Perhatian Naruto tertuju pada pria berambut perak dengan mata coklat yang menggunakan kaca mata hitam bulat serta mengenakan syal hijau di leher, jika di perhatikan dengan seksama pria ini mengingatkan dia dengan salah satu gurunya yang bernama Hatake kakashi.

' …Semoga saja tidak memiki sifat mesum sepertinya'.

.

Real World

Dalam ruangan kepala sekolah kini berdiri dua orang berbeda gender dan surai. Satu adalah wanita cantik berambut pirang dan satu lagi adalah seorang pria berambut perak kini tengah memegang cangkir berisi cairan hitam, kopi.

Ozpin. Nama pria berambut perak, tengah menatap asisten yang membawa bayi pada dekapan, menurut pengakuan Glynda. ia menemukan bayi ini di kelas saat melakukan patroli.

" Jadi, kamu menemukan anak itu..." Ozpin menunjuk bayi yang masih di Glynda. "… Dalam kelas tanpa petunjuk siapa yang meninggalkannya,?" Lanjut Ozpin.

" ya, aku tidak sengaja menemukan anak ini berada di ruang kelas dan kita sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa yang meletakan bayi malang ini disana". Jawab Glynda.

hal ini membuat Ozpin bingung. Walaupun academy kekurangan CCTV namun sebagai salah satu dari empat huntsman academy di Renmants, sistem keamanan di Beacons termasuk yang paling canggih dan mutakhir karena semua teknologi berasal dari Atlas.

Tapi masalah itu bisa dikesampingkan untuk nanti. Lebih penting apa yang harus di lakukan kepada anak tersebut.

"Glynda…" Ozpin memijit tulang hidungnya, " …kita tak bisa berbuat apapun untuk menemukan orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini, kita tidak tahu siapa orang tua dari anak ini. jadi satu-satunya pilihan kita adalah menyerahkan anak ini pada pihak panti asuhan". Kata Ozpin berat hati mendengar suara yang keluar dari mulut sendiri.

"Apa kau gila Ozy?!, kita tak bisa menyerahkannya pada panti asuhan, kita tak tahu nasib apa yang akan dialami oleh anak ini". balas asisten Ozpin.

Dia tahu apa yang biasa terjadi pada Faunus. Diskriminasi, perbudakan, dan pembunuhan adalah sedikit dari sekian banyak perlakuan buruk yang biasa diterima Faunus. Walaupun diskriminasi Faunus di Vale termasuk rendah jika di banding dengan Atlas. Tetap saja sering terjadi diskriminasi dan sangat miris melihat kejadian ini.

"aku tahu Glynda, tapi ada hukum yang berlaku di kerajaan ini. Kita tak bisa me-".

"Aku akan mengadopsi bayi ini!, dengan begitu dia tak akan dibawa ke panti asuhan". Glynda tegas, dengan setiap nada makin tinggi pada setiap kata. Sembari memeluk erat bayi naruto dalam dekapan.

Dia tak tahu mengapa ingin melakukan hal ini. Namun, ada sesuatu yang muncul saat dia memandangi bayi Naruto. Seolah olah tak ingin berpisah dengannya.

Glynda kembali teringat pada alasan mengapa ia pensiun dini dari tugas seorang Huntress padahal karirnya terbilang sangat cerah. Bermula saat ia ditugaskan untuk membasmi satu kawan Grimm jenis Beowolve. Dalam misi yang terbilang mudah, dengan mudah memusnahkan hampir semua Beowolves bersama beberapa orang yang yang ditugaskan bersama. Namun saat ia berhadapan dengan Alpha Beowolves yang merupakan Elders Grimm dirinya sudah banyak kehabisan tenaga dan Aura.

walaupun pada akhirnya mereka sanggup mengalahkan lawan mereka, tapi ia menerima luka serius pada tubuh yang membuat dirinya tak bisa memiliki keturunan. semenjak itu ia berhenti menjadi seorang Huntress dan memilih untuk menjadi seorang guru dengan harapan bisa membimbing generasi baru hunter layaknya seorang ibu... walaupun ia seorang guru yang killer

Namun, saat melihat bayi Naruto ia merasakan sesuatu yang berbeda, ia tak tahu perasaan apa itu. Namun rasanya begitu hangat dan begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ozpin yang mendengar pernyataan Glynda hanya diam dan sedikit tersenyum kecil, bahkan tak disadari oleh asistenya. Ia tahu alasan mengapa Glynda mau mengadopsi bayi kecil itu, karena alasan sama pula yang menjadikan Glynda seorang profesor di Academy ini.

Ozpin menyeruput kopinya dan berkata "Baiklah jika itu keinginanmu Glynda. Besok aku akan memberimu cuti untuk mengurus berkas untuk adopsi dan mengatur jadwal mengajarmu agar kau bisa membagi antara pekerjaan serta mengurus bayi".

"terima kasih Oz, aku sangat menghargainya". Sembari menatap pada bayi yang baru saja menjadi anaknya sambil tersenyum saat melihat wajah Naruto.

Glynda melihat kertas yang melingkari tangan mungil, ia mengambil kertas itu dan ternyata ada sebuah tulisan yang mungkin adalah nama bagi bayi ini yang bertuliskan 'Naruto'

"Naruto?, sepertinya ibu kandungmu cukup peduli karena masih memberikan nama padamu. baiklah pusaran kecilku, mulai sekarang aku adalah ibumu" ucap Glynda sembari tersenyum lembut pada bayi Naruto.

"Baiklah Ozpin aku permisi dulu aku harus membawanya ke tempatku". Pamit Glynda berbalik meninggalkan ruangan Head Master dan masuk dalam Lift.

sementara Ozpin yang telah sendirian didalam ruanganya untuk beberapa saat masih diam melamun, ini sebenarnya bukan tanpa alasan.

"ada yang aneh dengan bayi itu. Tak hanya kemunculanya yang misterius, tapi aku dapat merasakan sesuatu yang cukup kuat berasal dari dia."

Ozpin adalah seorang Veteran Huntsman berpengalaman, diatas rata-rata malah. Jadi insting nya jarang mengkhianati dia, tapi ia tak tahu apa itu sebenarnya. Ia merasa anak itu akan menjadi aset yang sangat berharga untuk menghadapi 'The Queen'.

Tapi kini biarkanlah waktu yang akan menjawab semua.

Mindscape .

Kurama yang sedari tadi menyimak percakapan antara Glynda dan Ozpin sama sekali tak menyangka kalau hasil pembicaraan itu berpengaruh pada kehidupan sang inang untuk kedepanya, begitu pula Naruto yang tidak menyangka kalau ini terjadi.

"jadi, bagaimana menurutmu tentang menjadi anak dari wanita bernama Glynda ini?" Tanya kurama pada sipir penjaranya itu.

o"Entahla kurama aku sendiri tak tahu. dulu aku merasa pernah merasa sedih karena tak memiliki orang tua…" wajah naruto menatap ke bawah karena teringat masa kecilnya yang suram. Namun sesaat kemudia ia mengangkat wajah sambil tersenyum dan menatap layar atau apapun itu yang membuatnya tetap bisa melihat dunia dari dalam mindscape, ia melihat Glynda yang tersenyum lembut ke arahnya. "…Namun, kurasa aku akan menerimanya sebagai ibuku walaupun hanya adopsi. Aku juga merasakan kalau wanita ini sangat tulus". Ucap naruto sambil tersenyum bahagia karena ia tahu kalau wanita itu jujur ingin menjadi ibunya.

Mendengar jawaban itu membuat Kurama tersenyum, walaupun ditutupi dengan seringai buasnya. Ia juga merasa bersalah karena dia sendirilah penyebab Naruto banyak menderita di masa lalu, mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan pada Naruto untuk memulai semua dari awal dan juga bisa merasakan kasih sayang seorang ibu di saat masa-masa ia tumbuh kelak.

"baiklah, tapi masalah ini kita kesampingkan dulu...". Ucap kurama yang ekspresinya menjadi serius"…kau tidak lupa alasan kita dikirim ke sini kan?" Tambahnya lagi.

"ya, aku sama sekali tidak lupa tentang tugas kita yang diberikan oleh Rikudou jiji dan orang itu, tapi aku masih belum percaya kalau ada eksistensi yang lebih kuat dari kaguya. Bahkan, membuatnya harus terusir ke Elemental Nation" Jawab naruto dengan memasang ekspreai serius yang jarang digunakan selama ini "aku juga penasaran dengan bantuan yang dia maksudkan". Tambahnya lagi.

"ya. tapi untuk sekarang, kita tak bisa berbuat apapun… mengingat kau itu bayi". Ucap kurama dengan sedikit mengejek kondisi inanganya saat ini. Suatu hal yang lucu, jika melihat mahluk Hypracktive seperti Naruto harus menjalani situasi dimana untuk makan sendiri pun tak bisa. Bahkan, Kurama tahu kalau Naruto akan lebih memilih berbaring di rumah sakit dari pada harus menjadi bayi untuk jangka waktu yang cukup lama.

"Iya-iya aku tahu, kau tak perlu mengingatkan hal itu lagi". Balas Naruto cemberut karena keadaan tubuh yang bisa dibilang menyedihkan baginya. Bahkan, dia harus membutuhkan bantuan orang lain setiap saat. Contohnya saja ia harus disuapi saat makan dan itupun hanya makanan bayi, sama sekali tak ada ramen. Bahkan, yang lebih parahnya adalah ia hanya bisa boker sambil tiduran di keranjang bayi dan pantatnya harus DICEBOKI oleh orang lain.

Sungguh, lebih baik dia melawan kaguya dan madara secara bersamaan dari pada harus seperti ini. walaupun ia agak senang karena memiliki seorang ibu yang akan menyayanginya. Tapi tetap saja, ia benar-benar kesal dengan keadaanya sekarang dan ingin sekali menendang bokong Rikudou Sannin dan pria misterius itu walaupun si kakek legend yang dia maksud adalah leluhur dan pencipta dunia Shinobi.

"Huh, tau begini lebih baik aku tolak saja tawaran itu". Ucap Naruto pundung di pojokan.

"sudah-sudah, jangan banyak mengeluh. Kau sendiri mau menerima tawarannya, dasar bodoh". Ucap kurama kesal karena tingkah inangnya ini, Sekarang dia mulai merasa iri dengan para bijuu yang lain karena mereka semua mendapat orang yang cerdas dan dewasa sebagai inang. Sedangakan dia, selalu saja mendapat para Uzumaki sebagi inang yang menyebalkanya minta ampun.

"Hei kau tak perlu menyebutku bodoh bola bulu". Balas Naruto tak terima dibilang bodoh.

"Huh. Menerima tawaran itu dengan iming-iming kemampuan keren. kalau bukan bodoh lalu apa namanya?" Balas kurama sengit.

"Dasar rubah-"

Akhirnya di dalam mindscape itu terjadi pertarungan silat lidah antara napi dan sipir penjaranya, Mereka sama-sama tak mau kalah dan saling mengejek satu sama lain. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau adu mulut itu akan berubah menjadi adu gelud. Ya lebih baik kita abaikan saja kedua mahluk absurd berbeda wujud itu. Namun, entah mengapa di luar Mindscape bayi Naruto tiba-tiba menangis dan membuat Glynda panik.

Skip 16 Years Later

Beacon Library

Perpustakaan, semua sekolah pasti memilikinya dan begitu pula dengan Beacon. Bahkan terbilang sangat mewah dan berkelas, tapi itu semua tak penting dan bukan itu yang akan kita bahas. Tapi kita di sini karena telah terlihat suatu pemandangan yang tak biasa, jika saja Uchiha Sasuke melihat ini, sudah pasti ia akan mencabut kedua bola mata kebanggaannya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Itu karena saat ini Naruto yang telah berusia enam belas tahun ( lagi) terlihat begitu telaten sedang mencatat sesuatu dan di sampingnya juga ada tumpukan buku-buku tebal. Yap betul, suatu pemandangan yang tak biasa memang melihat orang paling anti-belajar seperti Naruto begitu rajin dan betah berada di perpustakaan. Bahkan sesekali dia membaca sebuah buku tebal kemudian mencatat lagi.

Mungkin ada yang berpikir kalau sejak berpindah dimensi, sifat dan watak Naruto berubah. Namun…,

"Argh sialan, berapa lama lagi aku harus mengerjakan tugas sialan ini?" Rutuk frustasi Naruto karena harus menyalin buku tentang sejarah peperangan karena hukuman dari ibunya.

Ya sebenarnya Naruto sama sekali tak menjadi rajin. Tapi, ia begini karena dihukum oleh ibunya sebab berbuat usil saat profesor Port sedang mengajar dan akhirnya kelas terpaksa di bubarkan karena Naruto melempar gas kentut ke dalam ruangan, sebenarnya para murid sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Naruto. berkat dirinya mereka bisa bebas dari kelas dan tidak harus mendengarkan kisah masa muda profesor Port yang membosankan.

Namun na'as bagi Naruto. Ibunya menangkap dia sebelum bisa kabur dari sana…dan begitulah ia bisa berakhir di sini.

"Huh. diamlah bocah, ini semua karena salahmu sendiri". Ucap kurama yang merasa kesal karena Naruto terus menerus mengeluh dan itu membuat telinganya sakit karena terpaksa mendengar omelan inanganya, seharusnya sipirnya ini sudah berusia lebih dari 30 tahun. tapi mengapa sifatnya tak kunjung dewasa.

'Diamlah Kurama, kau sama sekali tak membantu di sini'. Balas Naruto cemberut.

' Dari pada kau mengeluh lebih baik kau menyelesaikan tugas ini sebelum ibumu datang…' Ucap Kurama yang dari tadi telah merasa bosan dan ingin tidur tapi tak bisa karena Naruto begitu berisik.

"Naruto!". Bagaikan suatu kutukan ataupun hanya kebetulan, ucapan Kurama menjadi kenyataan.

Sedangkan Naruto yang mendengar suara itu langsung menegang dan berkeringat dingin, ia secara perlahan membalikan kepalanya ke arah pintu, dan ia menemukan ibunya berada di sana. Berdiri sambil melipat tangan dengan tatapan sedikit kesal kepada Naruto.

"A-aku tidak mengeluh Mom, aku hampir menyelesaikan tugasku". Ucap Naruto yang sedikit takut dan gugup jika ibunya tadi mendengar ia mengeluh dan menambahkan hukuman lagi.

"Aku tidak datang untuk membicarakan hukuman mu, Naruto." Ucap Glynda menghela napas karena lelah keusilan Naruto dan kadang-kadang korbanya adalah para profesor di Beacon, seperti yang dia lakukan pagi ini pada Profesor Port Walaupun para profesor tidak terlalu menyalahkanya. Bahkan, ikut tertawa jika profesor lain juga jadi korban.

Namun, walaupun seperti itu, Glynda merasa perlu mengajarkan sopan santun pada Naruto bahkan jika harus dihukum. Tapi, Glynda tetap menyayangi putranya itu walaupun Naruto bukan darah dagingnya.

"eh, lalu?" tanya Naruto sedikit lega karena Glynda tak mendengar dia mengeluh tadi tadi."

"Aku akan menemani Ozpin ke Atlas untuk bertemu General James Ironwood. Tapi…" Mendengar hal membuat Naruto berteriak kegirangan dalam hati karena dengan begitu dia bisa terlepas dari hukumannya untuk sementara waktu. "… bukan berarti kau bisa selamat dari hukuman, anak muda. Semua harus sudah selesai saat aku kembali nanti, dan jika terjadi kekacauan saat aku kembali nanti, kita tahu siapa yang harus disalahkan." Ucap Glynda sambil memicingkan matanya. Sedangkan, Naruto yang mendengar ancaman ibunya hanya bisa menelan ludahnya, ia tahu sang ibu adalah orang yang sangat ketat jika menyangkut masalah disiplin dan tak akan segan memberi hukuman jika dia berulah.

Terakhir kali, ia pernah di hukum karena menaruh sambal di dalam celana dalam Dr. Obleck yang akan dipakainya dengan cara menyelinap. Akibatnya, si docktor harus berbaring di rumah sakit selama tiga hari dan Naruto dihukum dengan cara seluruh simpanan ramen instannya dibakar… tepat di depan matanya. Dia merinding jika mengingat itu lagi.

"A-aku paham, mom." Ucap Naruto tunduk dan sedikit berkeringat dingin.

Ekspresi Glynda seketika berubah menjadi lembut dan tersenyum pada Naruto.

"Aku janji akan membawakanmu majalah senjata terbaru dari Atlas, jika kau berjanji untuk tak membuat masalah." Ucap Glynda yang Kini telah memasuki mode ibu yang penyayang

Naruto yang mendengar itu tiba-tiba langsung bersemangat. Bagaimana tidak? Ia adalah seorang maniak senjata sejak datang ke dunia ini, ditambah lagi Semblance nya juga berhubungan dengan yang namanya senjata.

"kau bisa percaya padaku, mom." Ucap Naruto juga tersenyum cerah. Glynda seketika merasa hangat dalam hatinya karena melihat putra tersayangnya tersenyum senang, semenjak Naruto datang dalam kehidupannya malam itu, dia merasa hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan dia bisa merasakan rasanya menjadi seorang ibu yang mencintai putranya.

"Baik. Aku akan berangkat sekarang." Ucap Glynda membalikan badannya dan melangkah pergi dari sana.

"Sampai jumpa, Mom." Ucap Naruto melambai.

"Sampai jumpa juga." Glynda balas melambai tanpa membalikan badannya.

Memastikan bahwa ibunya sudah benar-benar pergi, Naruto bersorak penuh kemenangan karena akhirnya ia bisa terbebas dari hukuman yang dianggapnya laknat itu.

"YAHOO! Akhirnya aku bebas." Naruto bersorak dengan dramatis sambil mengangkat tinjunya ke atas dan menari seperti orang gila, seolah olah dia memenangkan undian ramen gratis seumur hidup. Bahkan, Soundtrack We Are Champion terputar secara ajaib entah dari mana mengiringi tarian gaje nya.

Melihat kesamping kiri, Naruto melihat seorang siswa mengenakan seragam Beacon sedang duduk jongkok sambil memutar Soundtrack tadi dari scroll miliknya.

" Hei bung. Tolong hentikan itu, kau membuatku merasa aneh, lagipula ini perpustakaan." Ucap Naruto sambil menatap aneh pada siswa tersebut. Sedangkan si siswa hanya cengengesan dan segera tancap gas dari sana.

Mengabaikan kejadian absurd tadi. Naruto melirik jam tangannya dan menyeringai

"Kheh. Sepertinya aku belum terlambat untuk turnamentnya." Ucap Naruto beranjak dari sana, meninggalkan tugasnya yang harus di selesaikan sebelum ibunya datang. Oke, ini benar benar prilaku yang tak bertanggung jawab dan sebaiknya jangan ditiru. Meninggalkan tugas dan bolos ke kerajaan lain.

"Mistral. Aku datang" Ucap Naruto pergi mencari Bullheads untuk berangkat ke mistral.

Mistral

Pyrrha Nikos, ia adalah seorang gadis yang cukup populer karena berhasil memenangkan Mistral Tournament sebanyak dua kali berturut-turut. Namun, semua itu tetap membuatnya rendah hati dan tidak sombong. Dia memiliki ciri-ciri rambut berwarna merah yang di ikat Pony tail dan mata berwarna hijau zamrud, ia juga mengenakan baju pelindung berwarna coklat yang sedikit memamerkan belahan dada miliknya , sehingga menambah kesan elegan dan tangguh pada diriniya.

Pyrrha mulai meninggalkan lokernya ketika komentator membuat perkenalan tentangnya, dan ketika masih berada di lorong dia sudah menyiapkan kedua senjatanya masing, Milo dan Akoúo. Hiruk pikuk suara tepuk tangan dapat terdengar dengan meriah saat dia memasuki arena pertarungan. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah sesuatu yang hebat, tapi tidak baginya, ia sudah bosan dengan semua ini karena lawan-lawannya akan cenderung menghindarinya saat pertandinga berlangsung, padahal tujuannya untuk mengikuti Tournament ini adalah supaya bisa mengetahui sampai mana batas kemampuannya dan menjadi lebih baik lagi. Namun, menjadi juara bertahan selama dua tahun membuat harapannya tidak terlaksana dengan baik karena lawannya akan cenderung takut untuk menghadapinya.

Komentator menyelesaikan perkenalannya dengan menambahkan beberapa lelucon yang mengatakan kalau dia tak butuh keburuntungan atau sesuatu untuk memenangkan pertandingan, dan dapat menyelesaikan semuanya dalam sekejap, sebelum akhirnya sang komentator memperkenalkan lawan untuknya di babak final hari ini.

"Dan pemuda yang berusaha menyingkirkan juara bertahan dua kali dari event akbar ini, Naruto Goodwitch!" kata-kata itu keluar dari speaker di stadion, sesaat kemudian sebuah sindiran yang lumayan 'lucu' dikeluarkan oleh komentator dengan nada yang agak sinis. " mari kita berharap semoga dia tidak terlalu cepat di kalahkan."

Pyrrha sedikit meringis mendengar sindiran itu, tapi ia cukup senang karena melihat sepertinya lawannya tak peduli dengan ucapan komentator tadi. Namun, ia juga cukup kecewa melihat bahwa lawannya tidak menganggap ini serius karena dia hanya mengenakan jaket Hoodie dan celana pertempuran biasa dan juga tidak membawa senjata. Namun, jika lawannya itu berhasil sampai di babak ini, maka pasti dia memiliki sesuatu yang disembunyikannya. jika di perhatikan dengan seksama lawannya kali adalah seorang pemuda berambut pirang yang seusia dengannya dan bisa di asumsikan sebagai Faunus.

Sedangkan Naruto sama sekali tak peduli dengan sindiran komentator tadi, toh dia sudah merasa terbiasa saat direndahkan oleh penduduk Konoha dulu. Ia juga memperhatikan lawanya yang bernama pyrrha nikos dan harus menahan keinginan untuk menampar dirinya sendiri karena melihat betapa cantiknya gadis itu.

'Minato akan sangat bangga padamu. Sepertinya kau mewarisi kecintaanya pada rambut merah.' Ucap kurama dari dalam Mindscape, tapi hanya diabaikan Naruto.

Naruto mengalihkan tatapannya pada senjata pyrrha dan menyeringai, mungkin berpikir untuk menyalin kedalam koleksinya.

Keduanya memasang posisi bertarung khas masing masing, Pyrrha memposisikan Akoúo di depannya dan Milo dalam bentuk pedang di samping kanan. Sedangkan Naruto hanya memasang kuda-kuda Taijutsu. Melirik ke layar, Naruto bisa melihat kalau bar Aura mereka telah penuh.

TONG~

Tindakan pertama Pyrrha dalam pertandingan adalah hindaran panik kebelakang demi menghindari tendangan seperti cambuk yang diarahkan ke wajahnya, dia akhirnya berhenti tergelincir setelaha berhasil menstabilkan tubuhnya. Pyrrha memandang lawanya dengan dengan hormat dan kagum karena hampir melayangkan serangan dengan cepat, bahkan tanpa disadarinya.

Naruto harus memuji gadis itu karena kelihaiannya dalam menghindari serangannya tadi, ia merasa babak final ini akan menarik dan tidak membosankan seperti babak sebelumnya. Pyrrha segera menggeser Milo ke mode senapan dan menembakan beberapa peluru kepada Naruto. Namun, dia dapat menghindari semua tembakan dengan gesit sambil bergerak maju, sedangkan Pyrrha masih terus menembak Naruto untuk memberinya waktu menganalisis kemampuan dari si pirang.

Namun, Pyrrha segera menyadarai akan sia-sia saja kalau terus menembak karena Naruto berhasil memangkas jarak antara mereka. Jadi, dengan gesit Pyrrha kembali mengubah senjatanya ke bentuk pedang serta menyiapkan perisainya.

Naruto berlari dengan cepat dan melompat untuk bisa melakukan tendangan sekali lagi. Namun, berhasil diblokir oleh Pyrrha menggunakan perisainya. Menyebabkan ia mundur beberapa meter, Pyrrha menikam pedangnya ke tanah untuk menghentika dirinya mundur lebih jauh lagi. Namun, tiba-tiba wajahnya merasakan kontak langsung dengan sepatu Naruto yang berdampak menyakitkan.

Sebenarnya, ia ingin menggunakan Semblance nya untuk mengendalikan peluru kosong di lantai agar bisa memukul mundur Naruto, namun dia tak ingin terlalu cepat mengeluarkannya. Lagi pula, mungkin Naruto sudah tahu dan menyadari saat ia menggunakan Semblance nya saat pertandingan sebelumnya, walau sudah disamarkan sebisanya, sehingga Naruto melawannya tanpa senjata.

Ia tahu jika ini adalah pertandingan tanpa senjata, maka sudah jelas Naruto lah pemenangnya. Tapi faktanya adalah, dia memiliki senjata sedangkan lawannya tidak dan fakta itu bisa dimanfaatkan.

Kali ini Pyrrha yang akan memulai serangan terlebih dahulu. Ia berlari dengan cepat ke arah Naruto dan membawanya ke dalam tarian pedang, menangkis setiap serangan Naruto menggunakan perisainya. Keuntungan jangkauan senjata yang dimiliki Pyrrha tak bisa diabaikan.

Namun tiba-tiba, Pyrrha harus kembali bersiaga karena Naruto telah melompat dalam ledakan Aura biru. Memposisikan perisanya tepat pada waktunya, ia harus melebarkan matanya karena Naruto menggunakan perisainya sebagai pijakan dan mengirim tendangan keras ke arah kepalanya, sehingga memaksanya menatap birunya langit.

Jika saja Prrha tak memiliki Aura, mungkin saat ini kepalanya sudah hancur seperti sebuah semangka yang jatuh.

Para penonton terkagum-kagum dengan pertandingan ini atau lebih tepatnya kepada Naruto yang berhasil menyudutkan sang juara bertahan.

Pyrrha segera berdiri dengan kaki gemetar, pandangannya menjadi sedikit kabur dan bar Aura nya telah berwarna kuning dan senjatanya terjatuh entah di mana. Ternyata pedangnya tergeletak di belakangnya dan segera saja dia memanggil senjatanya ke arahnya menggunakan Semblance dan dengan cepat mengubahnya menjadi senapan lagi.

Ia menatap Naruto di sana yang berdiri sambil menyeringai padanya dan sepertinya si pirang menikmati pertarungan ini. Mengingat dia kehilangan dua pertiga aura, sedangkan lawannya baru sepersepuluh, maka Naruto punya hak untuk sedikit santai.

'kheh, dia tidak buruk juga.' Batin Naruto. Namun ia harus segera bergerak cepat untuk menghindari peluru yang datang padanya, tapi kali ini Pyrrha menggunakan Semblance untuk membuat laju dari pelurunya semakin cepat.

Pyrrha menyeringai senang. berdiri melawan musuh yang lebih unggul membuat pertarungan ini menyenangkan, hanya akal, Samblance dan keahlian bertarung yang menentukan segalanya. Semua jual beli serangan serta luka yang dialaminya ia nikmati. Jangan salah, ia bukan seorang masokis tapi hanya seorang pejuang yang menikmati pertempuran

Naruto segera menggunakan Semblance nya, banyak partikel cahaya berkumpul di lengannya dan memunculkan sebuah pedang pendek berwarna merah dan kuning yang membuat Pyrhha terkejut, pasalnya pedang itu mirip dengan Milo miliknya

Ini memang kemampuan unik dari Semblance milik Naruto, yaitu memungkinkan dia untuk bisa meniru senjata yang telah dilihatnya. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar senjata yang ingin ditiru bisa proyeksi menjadi nyata dan salah satu adalah ia harus mengetahui serta mengingat bentuk dan bagaimana senjata itu digunakan.

Naruto terus menggunakan Milo tiruan untuk menangkis peluru yang datang padanya menggunakan keterampilanya sebagai seorang mantan Shinobi, walaupun saat ini dia tidak bisa menggunakan Chakra nya. Namun, insting dan keahliannya belum tumpul.

Senapan pyrrha berbunyi Klik yang menandakan kalau peluru dari senapan itu telah kosong, Pyrrha kemudia mengubah senapannya kedalam bentuk pedang lagi, ia sudah tahu kalau akan kalah mengingat bar Aura nya telah berwaran merah, tapi ia ingin menyelesaikan pertarungan ini hingga akhir.

Naruto mulai berlari ke arah pyrrha, begitu pula sebaliknya. Keduanya saling beradu pedang dan pukulan

Trank

Trank

Trank

Tebasan Naruto dapat di tangkis dengan mudah oleh pyrrha menggunakan pedangnya. Namun, sebuah kepala tinju menghantam perut Pyrrha dengan keras, sehingga membuatnya sedikit terseret mundur. Ia mencengkram perutnya yang terasa sakit sambil membungkuk ke depan sebelum akhirnya jatuh berlutut, namun ia belum sepenuhnya kalah karena bar Aura nya belum mencapai batas untuk di nyatakan kalah tapi hanya sedikit sebelum mencapai batasnya, juga dia sudah tidak mampu untuk melanjutkan pertarnungan.

"Masih ingin melanjutkan?" Naruto bertanya sambil menghilangkan Milo tiruannya menjadi partikel cahaya.

"Tentu saja." Balas Pyrrha karena senang karena telah mendapat pertarungan yang memberinya tantangan. Tapi ia tak ingin kalah karena sudah menyerah dan ingin bertarung sampai akhir layaknya seorang pejuang, jadi dia akan kalah dengan cara yang dianggapnya terhormat.

"Baiklah, seperti keinginanmu ." Ucap Naruto, Sejujurnya ia sedikit terkesan dengan Pyrrha karena kemampuan bertarung dan sikap pantang meyerahnya.

Naruto mulai memasang posisi bertarungnya kembali seperti di awal dan bersiap memberikan serangan terakhir. Namun tiba-tiba Scroll miliknya berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Naruto segera membuka dan membaca pesan itu, siapa tahu itu dari ibunya, dugaanya benar karena itu memang berasal dari ibunya,

From: Mother

Naruto. Pertemuanya di tunda, jadi aku akan pulang lebih cepat dan aku harap kau sudah menyelesaikan tugasmu. So, sampai jumpa di rumah.

Wajah Naruto seketika menjadi pucat, karena tak hanya belum menuntaskan tugasnya, tapi juga membolos ke kerajaan lain. Pasti ibunya akan sangat marah nanti saat dia sampai di rumah.

Ia segera berlari meninggalkan arena pertarungan untuk mencari Bullhead yang akan menuju Vale dan mengabaikan fakta kalau dia masih memiliki pertandingan yang harus diselesaikan. Persetan! Dia tak ingin pantatnya menjadi target latihan serangan jarak jauh ibunya... lagi

Sementara itu, Pyrrha masih melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. Lawan yang seharusnya mengalahkannya di saat terakhir malah pergi dengan alasan yang tidak jelas, otaknya benar benar Blank saat ini dan begitu pula penonton yang berpikir pemuda ini bodoh atau apa. Kesempatan untuk merebut gelar juara tinggal sedikit lagi tapi malah disiasiakan begitu saja.

Komentator yang pertama kali sadar dari kejadian tadi segera mengumumkan kemenangan Pyrrha sebagai juara dari Tournament ini. Yah walaupun dia tidak sepenuhnya menang sih

" Ha-hadirin sekalian. Sambutlah sang juara dari Tournament kali ini sekaligus juara bertahan tiga kali, PYRRHA NIKOS !" Ucap si komentator mengumumkan.

"EH!?!" Teriak Pyrrha dan penonton lain karena masih tidak percaya dengan hasil pertandingan ini.

VALE

Naruto Akhirnya berhasil sampai ke rumahnya yang berada di apartement yang dikhususkan untuk para Profesor yang bekerja di Beacon Academy. Ia sampai di sini dengan rasa takut yang luar biasa hebat, takut kalau ibunya lebih dulu tiba. Namun, sepertinya itu tidak terjadi karena lampu rumahnya mati menandakan rumah sedang kosong, oh sekarang dia bisa bernafas dengan lega dan tenang.

"Huuft, syukurlah aku lebih dulu sampai di sini sebelum Mommy." Ucap Naruto sambil menghela nafas lega.

'Tidak. Masalahmu belum selesai, Kid.' Ucap kurama dari dalam mindscape.

'Apa maksudmu?" Tanya Naruto bingung

'Tugasmu kid. Kau sama sekali belum menyelesaikannya' Ucap Kurama sambil berusaha menahan tawa, Melihat sipir penjaranya dalam keadaan seperti ini adalah sesuatu yang menghibur baginya. Namun, ia menyembunyikan sesuatu yang lain dari inangnya itu, terbukti dari seringai licik yang dipasangnya sekarang. Sedangkan Naruto yang saat ini baru teringat dengan tugasnya telah membulatkan matanya selebar bola cesti

"Aaww Shit. Brengsek" Umpat Naruto sambil berbalik untuk segera pergi ke perpustakaan demi menyeleaaikan tuganya. Namun, tiba-tiba lampu ruangan menyala sehingga membuatnya kaget.

"Oh Tn. Goodwitch~ kau dalam masalah~"

Seketika saja wajah Naruto berubah pucat karena mendengar suara itu, ia tahu tahu suara siapa itu dan suara itu yang untuk saat ini tidak ingin didengar oleh telinganya Walaupun suara ini terdengar manis, namun suara ini menjanjikan rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa.

Naruto mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dengan gerakan patah-patah untuk memastikannya. Namun apa, atau lebih tepatnya siapa yang di lihatnya saat ini membuatnya ingin pipis di celanya, tapi ditahan mengingat ada rubah besar yang akan menertawainya jika sampai itu terjadi.

Di sana, seseorang yang duduk di sofa itu adalah ibunya. Glynda Goodwitch yang sedang menatapnya dengan mata menyipit. Naruto bisa melihat ibunya memegang senjata pilihannya, The Disciplinarian yang saat ini memiliki pendar cahaya berwarna ungu, ia tahu itu artinya Semblance ibunya sedang aktif dan Naruto tak suka itu.

Glynda mengeluarkan Scroll miliknya dan menaruh di meja, sesaat kemudian Scroll itu memunculkan hologram yang memutar video pertarungan antara Naruto dan Pyrrha.

Video ini membuat wajah Naruto semakin pucat, ia tak tahu dari mana ibunya mendapat video ini, yang dia tahu ibunya itu sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini dan lebih suka mengurusi pekerjaannya sebagai seorang profesor di Beacon. Kini tamatlah sudah, ia sudah tak punya alasan lagi untuk berbohong.

Glynda berdiri dari sofanya dan bejalan maju ke arah Naruto, membuat perasaan si pirang berkumis itu menjadi tidak enak.

"jadi. Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu sebelum mengikuti Tournament itu?" Tanya Glynda dengan pandang tajam.

Perasaan Naruto semakin tidak karuan dan bingung harus menjawab apa karena pertanyaan dari ibunya itu. Jadi, dia memberikan jawaban paling memmungkinkan dan masuk akal di dalam otaknya saat ini.

"Err... Aku lupa Mom"

Mata Glynda semakin berkilat tajam mendengar jawaban dari putranya itu, sedangkan Naruto saat ini hanya bisa pasrah dengan musibah yang akan menimpa pantatnya.

Tiba-tiba di semua orang di seluruh Beacon mendengar suara jeritan yang cukup menyakitkan. Para siswa serta peofesor yang mendengar jeritan itu hanya bisa berdoa untuk keselamatan orang malang itu.

Bersambung

Oh hai semua, lama tak berjumpa. Hmm, cukup lama saya membuat fic ini hilang dari permukaan dan jujur, saat membaca ini kembali saya ingin tertawa karena tulisan saya yang masih buruk kala itu ... Yah mungkin sekarang juga sama. Tapi jujur, ini adalah fanfic pertama saya.

Tapi saya enggan untuk memperbaikinya. Mungkin fic ini hanya akan jadi selingan di saat saya stuck di King of Heroes dan The Admiral.

See you. Jangan lupa review agar saya tahu kalian membaca ini