Change Fate

NARUTO: Masashi Kishimoto

AZUR LANE:

Warning: Typo, OOC, DLL

Start Story


Naruto menghembuskan nafasnya dengan perasaan lelah sembari mengerjakan dokumen-dokumen di mejanya itu, "Huft, kenapa saat itu aku menerima pekerjaan ini?" ujarnya mengeluh. Sudah beberapa hari dia tak tidur karena mengurusi pekerjaannya dan kekacauan yang terkadang terjadi di sini, terlebih lagi terkadang Elizabeth seenaknya meninggalkan tugasnya padanya. Sebenarnya ini sangat melelahkan, tapi ini juga tugas dan kewajiban sebagai seorang laksamana. Walaupun perihal Elizabeth itu dia dipaksa.

"Baiklah, ini yang terakhir," Ia merentangkan kedua tangannya. Akhirnya kertas laknat terakhir berhasil dia selesaikan dan itu membuatnya benar-benar lelah. Seharusnya ini tak selama itu, tapi kali ini dia tak menggunakan Kagebunshin karena Belfast dan Enterprise menghukumnya.

"Aku boleh istirahat sekarang, Bel?" tanyanya pada seorang wanita berambut putih dengan pakaian Maid di sebelahnya. Ya, Belfast sejak awal sudah berdiri di sebelahnya guna mengawasi agar Laksamana mereka tidak berlaku curang.

"Tentu saja, Master. Anda memiliki sisa hari ini untuk beristirahat," jawabnya sembari tersenyum dan mulai mengumpulkan semua dokumen itu, "Tapi jangan sampai Anda melakukan ulah yang sama lagi. Jika tidak ... Anda tahu akibatnya," lanjutnya dengan senyuman yang lebih manis.

"Baik-baik, aku tak akan melakukannya lagi," Naruto dengan cepat langsung mengangkat kedua tangannya seolah memberikan isyarat menyerah. Entah mengapa, tapi terkadang Belfast bisa lebih menakutkan saat marah.

"Baiklah, silakan beristirahat," dengan itu, Belfast berjalan keluar ruangan bersama dengan dokumen dalam dekapannya. Naruto menghela nafasnya, sekarang dia benar-benar bisa istirahat. Ia berpikir, kira-kira sebaiknya apa yang ia lakukan untuk menyegarkan pikirannya setelah berkutat dengan pekerjaannya.

"Hmm, mungkin bersantai menikmati pemandangan dan teh Hijau juga tak buruk," ujarnya berdiri dari duduk. Tujuannya telah ditentukan. Lagian dia pernah berjanji untuk bermain bersama beberapa gadis penghancur di sana.

Sriing

Naruto langsung menghilang tanpa jejak, seolah tak pernah ada di sana sebelumnya. Mungkin, satu-satunya bukti dia pernah berada di sana sebelumnya adalah seberkas cahaya keemasan yang perlahan memudar. Ya, inilah tipe Jutsu ruang dan waktu, Hiraishin.

Sesaat setelah dia menghilang dari sana, pintu ruangannya terbuka menampakkan seorang wanita yang merupakan pemimpin dari Iron Blood, "Huh, dia tidak ada di sini. Padahal aku sudah jauh-jauh kemarin untuknya," wajahnya terlihat kesal dan cemberut setelah orang dia cari keberadaannya tak ada di sini, "Dia pasti sudah teleport entah ke mana," tanpa menunggu lagi, ia langsung pergi dari sana.


Naruto membuka matanya perlahan-lahan. Yang pertama kali ia lihat adalah nuansa ruangan ala Jepang tradisional yang sangat indah. Yah, dia sudah berhasil berpindah tempat. Ini adalah kamarnya jika berkunjung ke Sakura Empire. Sebuah kamar khusus yang dibangun hanya untuknya seorang, "Naruto-Sama!?" suara seseorang mengejutkannya. Rupanya ia tak sendiri di sini. Ia melihat Shoukaku Class sisters sedang bersujud menyembah padanya, "Ini suatu berkah! Anda muncul di depan kami," ujar Zuikaku dengan bahagia. Naruto bagaimanapun juga benar-benar belum terbiasa dengan ini, entah berapa kali pun dia datang ke sini. Karena suatu alasan, Sakura Empire menyembahnya sebagai dewa.

Entah itu kesialan atau keberuntungan, dia hanya bisa menghela nafas saja. Terkutuklah perkamen aneh itu yang menyebabkan semua ini, "Bangunlah kalian berdua," tanpa basa-basi, kedua gadis itu langsung bangun dari sujud mereka, mengikuti perintah sang 'dewa'. Naruto telah lelah untuk terus-menerus melakukan penyangkalan terhadap anggapan mereka, karena para gadis itu pasti menganggap kalau penyangkalannya adalah ujian semata.

Dia tak terkejut mengapa mereka berdua ada bisa berada di kamarnya, karena memang beberapa gadis menawarkan diri mereka untuk membersihkan ruangan ini dengan rutin guna berbakti pada dirinya yang dianggap dewa. Namun, hanya saja para gadis itu sampai bertarung untuk membuktikan siapa yang layak mendapat tugas 'Terhormat' ini.

"Naruto-Sama, ada yang bisa kami bantu?" tanya saudari yang lebih muda. Zuikaku dapat menduga kalau Dewanya pasti habis bekerja keras memenuhi perannya sebagai seorang Laksamana. Dasar orang-orang kafir tak tahu diri! Hanya karena dewa mereka mau berbaik hati memimpin aliansi, mereka malah memanfaatkan kebaikannya! Tapi, ada baiknya juga karena mungkin ini adalah kesempatan agar bisa lebih berbakti.

"Tak apa, Zuikaku-Chan. Mungkin setelah ini aku akan meminta para Manjuu untuk memijat bahuku," jawabnya sembari memutar-mutar lengannya. Memang benar, berjam-jam berkutat dengan kertas membuat lengannya kaku.

Mata kedua saudari itu langsung berkilau karena ucapan Naruto barusan, "Naruto-Sama, jika Anda tak keberatan, izinkan saya yang memberikan pelayanan kepada Anda," ujar Shoukaku dengan cepat. Entah mengapa wajahnya terlihat malu-malu.

"Tidak! Biar aku saja!" Zuikaku menyela. Keduanya saling memandang dengan aura perselisihan yang luar biasa. Walaupun mereka berdua adalah kakak-beradik yang selalu bersama dan saling menyayangi, tapi jika menyangkut kebaktian, mereka berdua adalah saingan.

"Nee-San, bukankah kau lelah? Serahkan saja semuanya pada adikmu ini," ujar Zuikaku dengan senyuman, walau jelas itu bukan senyuman yang tulus.

"Ara, kata siapa? Aku bahkan merasa bisa solo melawan Siren," balas Zuikaku dengan senyuman yang lebih manis lagi.

Naruto hanya bisa menepuk wajahnya saja karena melihat tingkah dari kedua gadis itu, "Tenanglah, kalian berdua!" ujarnya dengan suara yang agak tinggi, seketika membuat kedua gadis itu diam menunduk, "Keluarlah, aku ingin beristirahat sebentar di sini," lanjutnya. Zuikaku nampaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi sudah lebih dulu dibuat bungkam oleh tatapannya.

"Kalau begitu, kami permisi, tuanku," ucap Shoukaku. Keduanya menunduk sesaat sebelum beranjak pergi dari sana. Sebagai seorang pemuja yang baik, mereka tak ingin membuat dewa murka.

Naruto langsung menghela nafas dan membaringkan tubuhnya di tatami itu. Sekarang, tak ada yang bisa mengganggunya bersantai untuk hari ini, "Eh, apa itu?" ujarnya tatkala ekor matanya melihat sebuah gulungan yang berada dekat dengan tangannya. Ia tiba-tiba merasa ada yang janggal di sini, seingatnya benda itu tak ada di sana. Apakah Cuma perasaannya saja? Tapi seingatnya juga dia tak memiliki gulungan seperti ini sebelumnya.

Karena penasaran, Naruto langsung membuka gulungan itu guna melihat isinya. Rupanya ini dipenuhi dengan coretan-coretan Fuin yang tak dia kenali, "Apa ini?" merasa tak puas, Naruto langsung menggigit jempolnya hingga berdarah dan mengoleskannya di atas gulungan itu. Namun, tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan dari gulungan di tangannya dan membuatnya sulit melihat. Lalu, entah mengapa pandangnya juga ikut mengabur. Ia melihat cahaya itu masih terus bersinar terang sebelum kesadarannya menghilang.


Meanwhile

Di dunia dan garis waktu yang berbeda, seorang pemuda Blonde terlihat sedang sibuk mengutak-atik kendaraan perang yang disebut Panzer, "Maaf sudah merepotkanmu," ujar seorang gadis berambut pendek dengan warna coklat tua. Ia mengenakan seragam dari SMA Kuromorimine.

"Tak masalah, lagian aku sangat suka bekerja dengan Panzer," ujarnya sembari masih melepaskan roda-roda dari Tank Tiger itu. Baginya, Panzer adalah sebuah kesenangan dan belahan hidupnya. Lagi pula, sebagai Wakil Komandan tim Oarai dan tuan rumah, dia harus memperhatikan tamunya dengan baik.

Sebenarnya, Oarai bersama Saunders, Kuromorimine, Pravda, dan St Gloriana tengah melakukan Camp pelatihan bersama selama seminggu dan hari ini baru memasuki hari kedua, "lagi pula, aku punya cukup bantuan di sini," lanjutnya.

Maho memperhatikan sekelilingnya dengan keringat di dahi. Bagaimanapun juga, bukanlah sesuatu yang wajar melihat lusinan orang berwajah sama memenuhi garasi ini, "Aku benar-benar belum terbiasa dengan sesuatu yang disebut Kagebunshin ini," ucapnya membuat Naruto hanya bisa terkekeh.

"Ahahaha, Yah, mau bagaimana lagi? Bagi kalian itu sesuatu yang di luar akal sehat."

Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya saja sebelum beranjak pergi dari sana, "Aku akan membuat sesuatu untuk cemilan," ujarnya.

"Kau tak perlu repot-repot, kalian tamu di sini," Naruto berusaha mencegahnya. Ia merasa tak enak untuk merepotkan tamu mereka.

"Apa maksudmu? Apa kau lupa kalau aku ini tunanganmu?" Maho hanya memberikan senyuman manisnya pada Naruto. Yah, karena beberapa kejadian dia bertunangan dengan pria pirang ini. Anehnya, dia dan adiknya mencintai orang yang sama, "Tunggu saja di sini dan biarkan aku melakukan tugasku," lanjutnya yang langsung pergi dari sana.

Naruto kembali teringat dengan kejadian waktu itu di mana Shi-maksudnya calon ibu mertuanya menjebak dirinya untuk bertunangan dengan putrinya. Ia tak menyangka jika wanita Nishizumi itu dapat melakukan hal yang licik. Tapi ia tak menyesalinya. Memang pada awalnya itu adalah sesuatu yang rumit, terlebih lagi ada beberapa gadis juga yang menaruh hati padanya, tapi untunglah semua dapat diselesaikan Sekarang.

"Sudahlah, kuselesaikan saja ini," ujarnya yang ingin melanjutkan kembali pekerjaannya. Namun, tiba-tiba kakinya serasa menendang sesuatu. Ia mencoba melihat apa yang dia tendang itu, rupanya sebuah gulungan berwarna hijau dengan ukiran yang cukup bagus, "Seingatku semua gulunganku sudah disimpan baik-baik," ucapnya sembari membuka gulungan itu yang rupanya dipenuhi dengan coretan-coretan Fuin.

Secara ajaib, tiba-tiba gulungan itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata, seluruh Bunshin miliknya ikut hilang bersamaan dan itu sedikit membawa sakit kepala. Entah mengapa, secara perlahan dia merasakan kesadarannya mulai menghilang.


Sakura Empire

'Naruto' membuka matanya dan yang pertama dilihatnya adalah ruangan dengan interior cukup indah, "Di mana ini? Kenapa tiba-tiba aku berada di sini?" gumamnya. Otaknya masih berusaha mencerna situasinya saat ini dan mengapa dia di sini, padahal seingatnya tadi dia masih berada di garasi untuk memperbaiki Panzer.

Dia dengan cepat langsung berjalan menuju balkon di sana guna memeriksa sekitarnya. Namun, ia langsung dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat. Sekarang ini, bukan pemandangan sekolah atau perumahan Oarai yang dia lihat, melainkan sebuah pulau yang memiliki banyak pohon sakura, tapi yang paling menarik perhatiannya adalah orang-orang yang berjalan di bawahnya ... Mereka memiliki ciri-ciri binatang.

"Apakah ini mimpi?" ujarnya tak percaya. Ia kembali ingat dengan kejadian yang dialaminya sebelum terbangun di sini, "Pasti karena gulungan itu," giginya gemeretak. Semenjak awal dia sudah merasa ada yang janggal dengan gulungan itu, apalagi itu muncul tiba-tiba di sebelahnya.

Tiba-tiba ia mendengar ada yang membuka pintu di belakangnya dan segera berbalik dengan siaga. Di sana, ia melihat seorang gadis dengan telinga kelinci berdiri di sana. Wajah gadis itu terlihat sangat terkejut ketika menatapnya.

"Naruto-Sama!? Hamba tak tahu Anda ada di sini," sekarang lebih aneh, gadis ini tiba-tiba saja bersujud padanya. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia tahu namanya dan apa-apaan panggilan hormat itu?

"Umm ... Kau siapa?" ia bingung kenapa gadis ini berbicara seolah mengenal dirinya, padahal seingatnya tak ada satu pun kenalannya yang seperti ini. Tapi entah kenapa raut wajah gadis ini tiba-tiba berubah orang yang ditusuk menggunakan Kunai.

"Naruto-Sama, apa saya berbuat kesalahan?!" tanya gadis itu yang terlihat seperti akan menangis. Namun, Naruto tak menjawab dan langsung berjalan pergi dari sana melewati gadis itu. Ia sudah merasa aneh dengan gadis ini, jadi dia merasa akan lebih baik ia segera pergi dari sana.

Dia terus melangkah pergi dan tak lagi melihat kalau gadis yang dia tinggalkan di sana sedang menangis dan menandukkan kepalanya di lantai. Beberapa kali dia menggumamkan sesuatu tentang 'telah berdosa besar'

Ia pergi dengan tergesa-gesa, tanpa menyadari kegilaan apa yang akan dia alami di tempat ini.

Bersambung.


oke, memang cerita ini agak Ciringe

lni hanyalah sebuah ide yang terpikirkan saat saya sedang gabut.

cukup aneh, bukan? menukarkan kehidupan dua Naruto dari 2 Fanfic saya yang berjudul The steel fox dan The Admiral.dan satu lagi, secara tidak langsung fanfic ini juga kadang akan memberikan spoiler tentang masa depan yang akan terjadi di kedua fanfic itu. jadi mohon maaf.

tapi mungkin di fanfic utama kedepannya akan saya buat berbeda.silahkan nikmati fic saya yang absurd ini.


Preview:Karena penasaran, Naruto langsung membuka pintu itu dengan kasar. Namun, yang dia temukan di sana hanyalah sebuah ruangan pemandian.

Matanya langsung melebar tatkala melihat seorang Gadis dengan postur kecil sedang telanjang dan berusaha menutupi tubuhnya dengan malu-malu

"Naruto-Sama, hamba tahu diri ini hanyalah milik Anda seorang, tapi bukankah ini terlalu mendadak?" ujarnya dengan perasaan malu karena Dewanya saat ini sedang melihat dirinya tanpa busana, "Setidaknya biarkan aku bersiap-siap dulu."

"What the-"