The Admiral

NARUTO: Masashi Kishimoto

AZUR LANE:

Warning: Typo, OOC, DLL

Start Story


Naruto duduk di kasurnya sembari melihat ikat kepala Konoha yang ada di tangannya. Sebuah kebiasaan yang dia lakukan ketika dirinya bermimpi buruk, yang mana untuk beberapa lama Naruto akan terus mengusap lambang itu dengan jempolnya. Tubuhnya keringatan, nafasnya juga ikut memburu karena mimpi tentang kehancuran Elemental Nation yang dia lihat itu membuatnya gelisah. Firasatnya tak bisa mengatakan dengan jelas, di malam yang lain dia bermimpi kalau di sana baik-baik saja, tapi entah mengapa sekarang dia melihat tempat itu hancur.

"Masih terus memikirkannya, Kid?" ujar suara berat dari dalam pikirannya. Untuk sesaat, dia merasa terkejut karena mendengar suara yang beberapa hari ini tidak dia dengar. Namun, ia kembali tersenyum setelah itu.

"Oh, Kurama. Sepertinya kau sudah pulih jika kembali bersuara seperti itu. Kupikir akan butuh waktu lama," ujar Naruto setengah bercanda karena berhasil berbicara kembali dengan rekan yang menemaninya sejak lahir itu.

" Cih, jangan remehkan aku," balas Kurama membuatnya tertawa. Sesaat kemudian, ekspresi Naruto kembali serius. Sudah beberapa hari ini sebuah pertanyaan terus menjanggal di pikirannya, dan ia berharap Kurama tahu apa yang terjadi sebelum mereka berpindah ke sini.

"Kurama, apa yang sebenarnya terjadi saat pertarungan itu? Jujur, aku tak ingat apa-apa di saat sebelum kita berada di sini," ujarnya. Namun, untuk sesaat Kurama tidak menjawab apa pun. Ia tersenyum miris, tak perlu banyak menggunakan sel otak untuk mengetahui kalau partnernya itu juga tidak mengetahui.

"Aku benar-benar minta maaf, Kiddo. Sama sepertimu, saat terakhir itu sangat kabur bagiku," Naruto hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya untuk sementara ini dia harus bisa beradaptasi dengan dunia ini, " Ada yang datang," ujar rubah itu, Naruto tak bereaksi banyak dan langsung memakai kaosnya.

"Tak apa, mungkin itu hanya rekan kerja," ujar Naruto berniat membuka pintu ... Cklek ... Namun, sebelum ia sempat melaksanakan niatannya pintu itu telah dibuka terlebih dahulu oleh seorang Maid. Naruto pernah melihat orang ini, kalau tak salah kemarin saat dia menolong Enterprise tapi sekarang entah mengapa dia bersama beberapa orang yang tidak dikenalinya.

"Umm ... Ada yang bisa kubantu?" tanya Naruto. Ia yakin sekarang bukanlah jam untuk masuk kerja. Wanita di tengah maju beberapa langkah sampai berdiri tepat di belakangnya, dan anehnya dia malah memberikan salam hormat padanya, begitu pula dua orang di depannya.

"Master, tolong segera lepaskan pakaianmu. Jika kau tak bisa melakukannya sendiri, maka kami bisa membantumu," ujar Belfast dengan tenangnya. Sontak, ucapannya membuat Naruto dengan refleks langsung mundur ke belakang, dan tangannya membuat gerakan seolah melindungi dirinya. Lagian, apa-apaan panggilan barusan?

"Dengar, Nona. Ini masih pukul 4 pagi, jangan bercanda yang tidak-tidak," ujarnya tak habis pikir dengan wanita ini, mengapa dia membicarakan hal itu dengan raut wajah seolah ucapannya barusan adalah sesuatu yang wajar? "Jelaskan saja apa keperluanmu ke sini, dan mengapa dua orang di belakangmu membawa sesuatu?"

Ekspresi Belfast berubah menjadi serius. Tak hanya dia, 2 gadis di belakangnya pun juga sama, "Tuan Naruto, Anda diminta untuk menghadap pemimpin tertinggi Royal Navy, yang mulia Queen Elizabeth," jawabnya.

Naruto mengangkat satu alisnya, "Jelaskan mengapa aku harus bertemu dengan Elizabeth ini?," tanya Naruto. Oke, ia semakin tak mengerti. Kenapa pemimpin seperti Elizabeth ingin bertemu dengannya? Padahal dia sama sekali tak saling mengenal, ataupun berbuat kesalahan apalagi sampai harus menghadap pada pemimpin tertinggi fraksinya Wales, "Seingatku, aku tak memiliki kewajiban untuk menjawab panggilannya," secara teknis itu memang benar. Walaupun atas izin Wales dia bisa bekerja di sini, tapi Enterprise lah yang menyelamatkan dan membawanya ke sini, sehingga membuatnya berada di bawah tanggung jawab wanita itu

Mendengar ucapan Naruto yang seperti tak menghargai, gadis pirang pucat di sebelah Belfast langsung mengangkat pistol nya dan mengarahkan ke kepala Naruto. Sehingga ninja pirang itu juga dengan cepat mencabut kunainya, "Hentikan! Segera sarungkan senjatamu, Shifield. Anda juga, Tuan Naruto," namun untunglah sebelum terjadi hal yang buruk, Belfast sudah lebih dulu melerai mereka berdua.

Shifield mendecih karena ucapan Naruto. Walaupun tak suka, ia tetap menuruti perintah kakaknya untuk menurunkan senjatanya. Bagaimanapun juga, mereka punya tugas dari sang ratu di sini, "Baiklah, Sis," ucapnya. Begitu pula dengan Naruto, dia juga kembali menyimpan Kunainya di meja.

"Mengingat posisi Miss, Enterprise saat ini, tentu saja secara tak langsung Anda berada di yuridiksi Eagle Union. Namun, perlu diketahui kalau panggilan ini datang bersama dengan persetujuan antara Royal Navy dan Eagle Union yang dipimpin oleh Miss, Enterprise," ujar Belfast sembari menyerahkan sebuah surat pada Naruto. Di amplop surat itu, tertera lambang Eagle Union dan Royal serta beberapa yang tidak ia kenali, ini artinya surat itu adalah resmi. Naruto segera membaca satu persatu kalimat yang tertera di dalam situ. Harus ia akui, tak disangka olehnya kalau Enterprise adalah seorang pemimpin fraksi.

Naruto menghela nafasnya. Ia tidak mengerti kenapa dia dipanggil seperti ini, tapi yang sepertinya ada sesuatu yang amat penting, "Baiklah, aku akan datang ke sana," ujarnya setuju. Namun, ia masih bingung untuk apa dua Maid di di belakangnya membawa sesuatu ke sini, tapi ia enggan untuk memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak penting dan lebih memilih untuk segera masuk ke kamar mandi

Naruto segera berhenti tatkala menyadari kalau Belfast mengikutinya dari belakang, "Wow-wow-wow. Nona, aku akan pergi ke kamar mandi, jadi bisakah kau menghargai privasi?" ujarnya seraya menghentikan wanita itu.

Belfast sedikit menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang netral, "Maaf saja, tapi kami telah diperintahkan untuk memastikan Anda siap dalam pertemuannya. Termasuk dalam hal penampilan," jawabnya dengan senyuman kecil yang membuat alis mata Naruto berkedut, "Anda juga harus membiasakan diri untuk hal seperti ini ke depannya, mengingat posisi yang akan ada pegang nantinya."

Naruto menyipitkan matanya pada ucapan terkahir wanita ini. Ia bingung, posisinya di sini hanyalah seorang pelayan sementara sampai dia menemukan sesuatu untuk dilakukan, dan seorang pelayan tak perlu diperlukan seperti ini. Ia juga tak mengerti posisi apa yang Belfast bicarakan, "Apa maksudmu?" Belfast hanya terkekeh pelan sebagai tanggapan atas pertanyaan itu.

"Semua akan jelas saat Anda bertemu dengan ratu nanti ... Master," ujarnya. Karena agak kesal, Naruto langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya, sehingga tak mendengar panggilan Belfast barusan.

Sementara itu ketika Naruto masih sibuk di dalam kamar mandi, ketiga Sister itu mengeluarkan apa saja yang mereka bawa. Mulai dari Shifield yang rupanya memegang sebuah kotak berisi beberapa alat rias untuk pria, si gadis berkacamata yang meletakkan pakaian lipatan pakaian di atas meja, "Baiklah semua, Ayo kita lakukan ini dengan baik. Ingat! Jangan sampai ada kesalahan yang membuat malu kita di hadapan ratu," ujarnya dengan tegas yang langsung direspons anggukan oleh keduanya.

Beberapa saat kemudian, Naruto keluar dari kamar mandi dengan tubuh basah dan handuk yang melilit bagian bawah. Ketiga Sister itu untuk sekejap memperhatikan tubuh Naruto dengan alasan yang berbeda-beda, Belfast sendiri berhasil untuk menyembunyikan kekagumannya atas kumpulan roti itu, "Tidak terlalu berotot tapi tidak terlalu kurus juga," batinnya. Belfast menggelengkan kepalanya demi menghilangkan komentar barusan dan mengambil handuk tambahan untuk melap Naruto.

Walaupun tak suka, Naruto hanya membiarkan wanita itu untuk mengeringkan tubuhnya, sepertinya dia cukup Ngotot untuk melakukan hal ini. Walaupun agak kesal dan merasa malu, tapi Naruto juga tak ingin hal ini menjadi masalah, soalnya dia pernah mendengar dari Nevada kalau para Maid Royal Navy itu sangat totalitas dalam pekerjaan mereka, bahkan jika sampai harus bertarung kalau sudah menyangkut nama ratu mereka.

Tanpa diketahui oleh Naruto, Belfast rupanya cukup menikmati saat mengeringkan tubuh pemuda itu. Rasanya luar biasa saat tangannya menyentuh otot-otot yang keras itu. Namun, ia juga terkesima dengan luka-luka yang ada di tubuh Naruto. Dirinya tahu sejak awal kalau orang ini bukanlah manusia biasa, hanya saja ia penasaran apa yang sudah dilaluinya untuk semua itu. Ngomong-ngomong, ia benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya memotong sayuran di atas otot itu

"Nona, ada apa? Kau melamun," ujar Naruto yang sedikit bingung dengan perilaku wanita itu. Belfast segera berdehem dan memasang senyum seolah tak terjadi apa-apa. Ia merasa malu dengan perilakunya.

"Tidak ada apa-apa. Kita akan memulai persiapannya," jawabnya sembari memosisikan Naruto di depan cermin. Ia melirik kedua saudarinya yang berdiri di belakang, seolah memberikan tanda untuk memulai. Keduanya yang mengerti maksud Saudari mereka pun langsung segera bergerak memainkan tugas masing-masing. Saudari tertua Belfast, Edinburgh, telah mengambil beberapa contoh pakaian dan berusaha mencocokkannya di depan Naruto. Setalah dirasa menemukan yang cocok, Edinburgh langsung memberikan itu pada Naruto untuk dipakai.

Untuk beberapa saat, suasana agak hening di sana karena suatu alasan. Naruto memberikan tatapan pada ketiga Sister itu sebagai isyarat. Mengetahui apa maksudnya, mereka langsung berbalik agar bisa memberikan privasi Naruto untuk berganti pakaian. Namun tanpa disadarinya, ketika sibuk mengenakan pakaian itu Belfast malah mengeluarkan cermin kecil miliknya agar bisa melihat tubuh bagian belakang Naruto yang telanjang. Ia entah bagaimana bisa memposisikan cermin itu dengan baik, sehingga tak ada yang menyadari bahkan kedua saudarinya.

"Fufufu, aku akan mengingat ini untuk selamanya," batinnya.

Skip Time

Kini Naruto tengah berjalan di lorong dengan Belfast di belakangnya. Dengan pakaian yang dia kenakan, Naruto tampak sangat berbeda dengan sebelumnya yang mana dia memakai sebuah setelan Jaz berwarna hitam dengan lipatan sapu tangan merah di saku kiri, bahkan Shifield telah melakukan sesuatu dengan rambutnya sehingga terlihat agak klimis tapi masih mempertahankan sedikit jabrik miliknya. Ia belum pernah berpakaian seperti ini sebelumnya, jadi tentu saja membuatnya Nervous, "Aku tak mengerti ada apa sampai harus datang dengan penampilan seperti ini, tapi bukankah ini terlalu bagus untukku?" ujar sembari menggaruk tengkuknya dengan jari telunjuk.

Belfast menggelengkan kepalanya sebagai isyarat tak setuju dengan ucapan Naruto, "Tidak. Menurut saya itu sangat pantas dan cocok untuk Anda," jawabnya dengan senyum.

Setelah itu, keduanya terus menyusuri lorong dengan keheningan yang menyelimuti karena tak ada satu pun yang kembali memulai percakapan. Sampai akhirnya ... "Saat di kamar tadi ... Kau sengaja mengintipku berganti pakaian, kan?" sontak ucapan sukses membuat Belfast tersentak dan salah tingkah. Bahkan, wajahnya sampai memerah seutuhnya. Ia tak menyangka jika perbuatan memalukannya akan ketahuan, bahkan saudarinya juga tak tahu soal tadi.

Naruto menyeringai, sepertinya ucapannya barusan sangat tepat sasaran, "Hoo, Reaksimu mengatakan kalau itu benar," ujarnya sembari mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Kau tahu? Rasanya sangat memalukan ketika kau tahu ada yang sedang mengintipmu tapi kau hanya bisa diam saja karena alasan tertentu.

"B-Bagaimana-" Sungguh, mungkin ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini. Dirinya yang biasa anggun dan selalu tenang di setiap situasi, kini hancur sudah imagenya itu tapi untungnya tak ada orang selain mereka di sini. Jika tidak, mungkin dia sudah bunuh diri sekarang.

Naruto mendengus atas pertanyaan itu. Jika hal kecil seperti itu saja dia tidak sadari, mungkin sudah lebih dari sekali ia mati. Yah, profesinya sebagai seorang Shinobi membuatnya harus waspada dan jeli sepanjang waktu, "Kau berutang padaku karena tidak membuatmu tertangkap basah," ujarnya seraya menyentil dahi wanita dengan kedua jarinya.

"Ouch!" Belfast meringis sembari mengusap dahinya yang agak merah karena ulah Naruto.

Mungkin alasan mengapa Naruto hanya diam saja ketika itu adalah karena ia tak ingin mempermalukan wanita ini di depan kedua saudarinya. Bagaimanapun juga, karena pesan sang ibu yang juga seorang wanita sehingga membuatnya sangat menghormati kaum hawa. Apa? Terkejut? Yah inilah alasan dia tak pernah pergi mengintip atau menjadi mesum seperti Jiraiya walaupun menghabiskan 3 tahun bersama pak tua itu.

Naruto kembali menyeringai, hanya saja kali ini lebih lebar dan kelihatan licik. Sepertinya dia merencanakan sesuatu yang usil di kepalanya. "Kau tahu? Sepertinya nanti aku memiliki cerita untuk dibagi bersama rekan sesama pelayan di Eagle Union," ujarnya membuat Belfast sedikit panik dan bertambah malu.

Belfast terdiam saat mendengar ucapan Naruto tak kala pemuda pirang itu mengatakan akan memberitahukan perilakunya yang tidak sopan kepada orang-orang Eagle Union. Sedangkan Naruto sendiri hanya terkekeh melihat sikap Belfast yang terdiam di hadapannya dan berniat pergi dari sana setelah menjahili wanita itu.

Namun, baru beberapa langkah saja ia berjalan sebuah gerakan cepat yang tiba-tiba membuat dirinya sendiri terkejut dan instingnya sebagai Ninja Veteran menggelitik untuk sesaat. Hanya saja, bukan serangan melainkan sebuah benda lembut yang menempel di bibirnya, Rasa manis bagaikan buah Peach mulai terasa di bibirnya hingga ia sadar jika Belfast sedang menciumnya.

"Itu ciuman pertamaku! Kumohon Ka-kau tidak boleh memberitahu yang lain kalau tidak..." ocehan Belfast memenuhi ruangan itu. Ekspresi yang di keluarkan sangat lucu dan juga imut, di mana Belfast yang biasanya bersikap anggun saat ini sedang berteriak dengan wajah memerah. Memalukan memang baginya untuk mencium seorang pria yang baru dia temui secara langsung, apalagi yang barusan itu adalah ciuman pertamanya. Namun, ia tak peduli lagi, baginya kehormatan nama Maid Royal Navy setimpal jika itu bisa membuat Naruto merahasiakan ini. Ia tak ingin tersiar kabar kalau kepala pelayan ratu melakukan pelecehan pada seorang pelayan dari Eagle Union.

Naruto terbengong dengan pikiran yang kacau, ia sangat tak menyangka ini sebelumnya. Sepertinya ciuman Belfast barusan itu memiliki efek Stun pada dirinya. Abaikan kecelakaan dengan Sasuke, mungkin inilah dia pertama kali berciuman dengan seorang wanita. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana untuk menanggapi ini, marah atau senang ia juga bingung karena sensasi bibir ranum Belfast masih terasa dengan jelas dirasakan bibirnya.

Sementara itu, Belfast yang sudah terlalu malu langsung berlari pergi meninggalkan Naruto yang masih terbengong. Belfast terus mengutuk kepanikannya yang tiba-tiba. Ia melakukannya ... Ya, dia benar-benar melakukannya. Ah rasanya dirinya ingin mati saja setelah ini. Beruntung, tak ada siapa pun di sini sehingga tak ada yang melihat kejadian barusan. Jika tidak, maka mungkin dia akan mengambil pistol milik Shifield dan langsung melubangi kepalanya sendiri.

Naruto yang baru tersadar dari efek Stun langsung menyadari kalau Belfast telah melarikan diri setelah melakukan apa yang dia anggap sebagai tindakan pelecehan dengan mencuri 'ciuman pertamanya', "WOY, KEMBALI KAU KE SINI, WANITA GILA!" ia langsung memacu kedua kakinya dan mengejar Belfast dengan ekspresi tak terbaca di wajahnya.

Tanpa disadari keduanya, dari kejauhan ada seorang wanita yang berhasil memotret kejadian barusan dengan sembunyi-sembunyi, tampaknya ia sangat puas dengan apa yang dia dapat sehingga seringai lebar menghiasi wajah. Entah dia dari fraksi mana, tapi yang jelas hasil jepretannya mungkin akan berakibat kurang bagus bagi Naruto ... Atau mungkin hanya Belfast.

Ia melihat pada layar kameranya yang menampilkan Belfast sedang mencium Naruto, perasannya sangat senang. Dirinya tak menyangka kalau berkeliling seperti ini akan membuatnya mendapatkan berita yang bagus, "Ini akan menjadi berita yang panas~" ujarnya dengan terkikik dan segera pergi dari sana.


Another Place

Para pemimpin fraksi di Azur Lane kini telah berkumpul, atau lebih tepatnya dua di antara mereka yang hadir. Atau kurang lebih seperti itu, karena yang duduk di sana hanyalah Enterprise dan seorang gadis pirang dengan tubuh mungil. Di belakangnya, seorang yang juga sama mungilnya berdiri sembari menopang pedang yang agak besar, sepertinya dia bertindak sebagai pengawal di sana karena Hornet juga mengambil posisi yang sama di belakang Enterprise.

"Katakan, mengapa kau sampai melakukan ini? Tentunya kau tahu kalau posisi itu adalah sesuatu yang sensitif di antara semua fraksi, bahkan untuk Iron Blood yang telah berpisah dengan kita. Dan sekarang, kau malah mengadakan pertemuan antar fraksi untuk membahas masalah ini," ujar Enterprise mulai membuka percakapan, matanya sedikit menyipit pada sang pemimpin Royal Navy.

Ia tak habis pikir dengan isi kepala Elizabeth, padahal semua tahu kalau posisi yang telah lama kosong itu selalu menjadi topik yang selalu dihindari oleh semua Kansen, terkecuali Sakura Empire karena suatu alasan tidak terlalu peduli dengan hal ini. Kalau tak salah, dia pernah mendengar mereka mengatakan tentang dewa atau semacamnya.

Elizabeth meletakkan cangkirnya sembari menghela nafas berat, sangat jarang bagi orang lain untuk melihat si ratu dengan ekspresi seperti ini, "Aku juga tahu tentang masalah itu, Tapi lihatlah sekelilingmu, Enterprise. Setiap tahun masalah antar fraksi kian meningkat, kita tak bisa terus-terusan membiarkan ini, " ujarnya dengan tenang. Ia sekali lagi menghela nafasnya. Ekspresinya terlihat pahit saat mengatakan semua itu, "Dan jangan lupa, semua bawahan kitalah yang paling merasakan efek buruknya," lanjutnya.

Enterprise tersentak mendengar yang terakhir itu, giginya gemeretak dengan tangan terkepal. Mau bagaimanapun juga, itu adalah fakta yang terhindarkan. Moral para Kansen dari setiap fraksi mereka semakin menurun, ditambah lagi banyaknya para gadis kapal yang tumbang dalam pertempuran melawan Siren ataupun Crimson Axis semakin memperburuknya. Walaupun mereka masih bisa dihidupkan lagi setelah berhasil ditemukan, tapi sayangnya jiwa mereka seolah 'rusak' dan menjadi simbol kegagalan mereka sebagai seorang pemimpin. Elizabeth juga pernah merasakan itu, suatu ketika saat Iron Blood memulai pengkhianatan mereka atas Azur Lane, salah satu Kapal kebanggaannya tumbang dalam konflik itu dan membuatnya begitu terpukul. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan Kapal yang tumbang itu.

Sebagian diri Enterprise merasa kalau itu memang benar, posisi itu sudah menjadi masalah yang krusial bagi mereka semua, mungkin sudah saatnya kursi kosong itu kembali diisi. Namun, sebagian lagi merasa tak enak hati karena meminta Naruto melakukan hal ini. Lupakan rasa tak enak hati dan bersalah, ia lebih berpikir apakah Naruto mau dan mampu memikul tanggung jawab ini. Yah, inilah pemikirannya dari sudut seorang pemimpin.

"Lalu, kenapa kau menyarankan seorang yang bahkan belum kau temui dan baru beberapa hari di sini?" tanyanya. Bagaimanapun juga, mereka tak bisa memilih secara sembarangan untuk orang yang akan menempati posisi ini. Kau tahu? Mereka juga memiliki standar yang ketat dalam menyeleksi orang. Inilah salah satu alasan mengapa kursi itu telah berdebu selama beberapa dekade.

Elizabeth tersenyum, tentunya ia mengerti maksud dari kekhawatiran pemimpin baru Eagle Union. Bayangkan, bekerja sebagai atasan para wanita cantik dengan kekuasaan setara atau dalam beberapa kondisi dapat melebihi pemimpin fraksi tentunya mereka harus memilih baik-baik sifat dan karakteristik orang ini, jangan sampai nantinya orang ini memiliki sifat bejat dalam hatinya.

"Uhuhu, tentunya kau tahu kalau aku memiliki para penilai yang baik di bawah kebangsawananku," jawab Elizabeth dengan senyum licik. Enterprise sedikit melebarkan matanya, sepertinya ia mengerti sekarang.

Pengurus sementara pangkalan ini, Wales, serta para anggota Royal Navy lainnya sepertinya telah mulai mengawasi Naruto semenjak penyerangan Siren hari itu, terlebih lagi dia bisa satu lawan satu menghadapi seorang Siren kelas atas. Sepertinya kekuatan dan perilaku yang Naruto tunjukkan selama berada di sini telah dilaporkan kepada Elizabeth dan itu menarik perhatiannya.

"Oh? Sepertinya aku tidak telat untuk rapatnya," seorang wanita berpakaian musim dingin tiba-tiba muncul di salah satu kursi kosong di sana, ia adalah seorang wanita dewasa dengan rambut putih panjang. Sebenarnya, dia tak muncul seperti hantu, hanya saja itu adalah sebuah hologram, " Maaf, badai salju barusan membuatku sangat sulit untuk terhubung," ujarnya di belakang kursinya, menggantung sebuah spanduk mewah berwarna biru berlambangkan Kepala beruang dan bintang komunis. Sepertinya itu adalah lambang dari fraksinya, mengingat Elizabeth dan Enterprise juga memiliki hal yang sama di belakangnya.

"Sama sekali bukan masalah," jawab Enterprise sembari mengangguk maklum. Ia tahu, terkadang berada di daerah dingin seperti itu bisa membuat sedikit kesulitan. Sejak dulu dia mengakui ketahanan para gadis Northern Parliament untuk terus bertahan di kondisi seperti itu, "Terima kasih sudah meluangkan waktumu, Rossiya. Aku tahu pasti sulit untuk terus tertahan di sana," Rossiya menghela nafasnya dengan raut wajah yang sedikit lelah.

"Ya, kau benar. Satu jam tidur dan sisanya terus terjaga," keluhnya. Sebenarnya ia ingin sekali meninggalkan pangkalan mereka di sana tapi mau bagaimana lagi, kepungan Siren membuat mereka sangat kesulitan, belum lagi masalah salju yang memburuk dan persediaan logistik yang kian berkurang membuat mereka sedikit khawatir. Bagaimanapun juga tempat itu sudah tak bisa dipertahankan atau tak ada gunanya, sehingga dia berniat pindah dari sana bersama anggotanya. Namun, sayangnya di sana banyak sekali Siren yang berpatroli sehingga niatnya itu Sulit dilaksanakan, bahkan beberapa kali pun Armada Azur Lane berusaha menolong mereka tapi kesulitan karena hal ini.

Di sebelahnya, di sebuah kursi dengan lambang bunga Iris dan salib , hologram kembali memunculkan seorang wanita muda dengan rambut cokelat platina dan mata ungu, mengingat lambangnya jelas sekali kalau dia adalah pemimpin dari Iris Libre. Wanita ini menganggukkan kepalanya sebagai salam pada semuanya, " Maaf semuanya, aku sedikit terlambat," sapanya dengan senyum. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan melihat kalau masih ada dua kursi kosong di sana, satunya memiliki lambang seekor naga Asia, sedangkan satunya lagi tidak, "Aku berasumsi kalau orang yang akan kita bicarakan belum tiba di sini," ujarnya mengabaikan kursi fraksi yang masih kosong di sana.

"Ya, kita akan segera mulai ketika tuan Uzumaki tiba di sini," jawab Elizabeth. Sepertinya mereka semua tidak terlalu mempermasalahkan ketidakhadiran satu fraksi di sana, atau lebih tepatnya memaklumi, "Aku baru mendapat pesan dari mereka, Siren akhir-akhir ini membuat mereka sibuk," yang lain mengernyit dahi mendengar berita ini. Sepertinya setiap dari mereka menyadari peningkatan aktivitas yang tak wajar dari Siren.

"Jadi, Yat Sen mempercayai kita dengan hasil rapatnya." Jawabnya. Semuanya mengangguk, sepertinya tak ada yang keberatan dengan usulan ini.

Untuk sesaat, suasana menjadi hening di antara mereka semua, kelihatannya tak ada yang memiliki topik untuk dibicarakan atau sibuk dengan pikiran mereka masing-masing ... Krieet! ... Pintu terbuka secara perlahan, semua pemimpin itu menoleh dan melihat Naruto yang berjalan masuk dengan ditemani oleh Belfast.

Rossiya memperhatikan Naruto dengan ketertarikan. Jadi, orang ini yang telah menarik perhatian orang-orang di markas utama? Jujur, jika saja bukan Elizabeth yang mengirimkan pesan itu maka ia berpikir itu adalah hal paling bodoh yang pernah dia dengar sejak terbangun. Ia memperhatikan matanya, dan seketika itu juga dirinya sadar kalau orang ini pernah 'hancur'. Sekarang, ia mulai sedikit mengerti mengapa Elizabeth merekomendasikannya. Namun, rapat akan menentukan segalanya.

Alis Elizabeth sedikit terangkat ketika melihat ekspresi wajah keduanya, walaupun samar tapi itu tak bisa lepas dari matanya. Terutama Belfast, ada yang aneh dengan kepala pelayanannya itu, "Tunggu, apakah dahinya memerah?" bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Belfast seperti itu adalah sesuatu yang tak terduga.

Harus Enterprise akui, kalau Naruto terlihat gagah dengan penampilan seperti itu, kesan pemuda urak-urakan yang dia temukan di laut, kini telah berganti menjadi seorang yang terlihat bermartabat. Tampaknya Maid Royal Navy melakukan tugas mereka dengan baik. Bahkan, Hornet di belakangnya bersiul kecil karena mengagumi penampilannya, "Kau terlihat sangat berbeda, Naruto," ujarnya yang hanya dibalas dengan senyum canggung dari pemuda itu.

Naruto sedikit membungkukkan badan dengan tangan di dada seperti yang diajarkan oleh Shifield sebelum datang. Ia merasa sedikit canggung ketika merasa kalau setiap pasang mata di ruangan ini memandangnya, walaupun dua di sana tidak benar-benar berada di sini. Ia mulai mengambil di antara Enterprise dan Rossiya tatkala isyarat untuk duduk datang Elizabeth.

"Terima kasih telah bersedia hadir di sini, tuan Uzumaki," ujar Elizabeth secara formal, tentunya Naruto tahu kata bersedia itu maksudnya ia harus hadir. Si ratu pirang itu berdiri, diikuti dengan tiga pemimpin lainnya di sana, "Izinkan kami memperkenalkan diri kami terlebih dahulu sebelum memulai rapat ini," Naruto menaikkan alisnya mendengar hal itu. Rapat? Ia masih bingung mengapa dirinya dipanggil untuk hal seperti ini, terlebih lagi dengan orang-orang penting di tempat ini.

"Izinkan saya memperkenalkan satu persatu orang yang berada di sini," Belfast bersuara, sikapnya sudah jauh berbeda dengan yang tadi, ia telah kembali pada sampul anggunnya walau bekas merah di dahinya masih ada entah sadar atau tidak, tapi sepertinya profesionalitasnya telah kembali. Naruto masih agak kesal dengan wanita ini.

"Perwakilan dari Northern Parliament, sekaligus pemimpin fraksinya saat ini, Lady Sovetskaya Rossiya," wanita di sebelah Naruto tersenyum dan menaruh kepalan tangannya di dada. Sepertinya itu adalah cara orang-orang mereka memberi salam formal atau hormat ... Entahlah, tak ada yang tahu.

"Selanjutnya, yang terhormat Lady Richellieu. Sama seperti yang lain, dia juga seorang pemimpin fraksi di Azur Lane, Iris Libre," Naruto sedikit kesulitan mengeja nama itu, rasanya membuat lidahnya terjepit untuk menyebutnya. Ia hanya membalas salam singkat yang wanita itu berikan padanya.

"Di kiri Anda, dia adalah pemimpin sekaligus petarung terbaik yang dimiliki oleh Eagle Union, Miss Enterprise," tanpa diperkenalkan, Naruto tentu mengetahuinya, hanya saja gadis itu terlihat tidak nyaman ketika dikatakan sebagai petarung terbaik. Secara samar, dirinya bisa merasakan pancaran energi negatif.

"Lalu yang terakhir, Pemegang kekuasaan tertinggi di Royal Navy, yang mulia Queen Elizabeth itu sendiri," gadis terkecil di ruangan itu memberikan salamnya dengan penuh wibawa dan anggun, biasanya sifatnya tak akan seperti ini hanya saja karena sekarang adalah rapat serius, maka ia bertindak layaknya seorang ratu sejati.

Kelima orang itu kembali duduk di kursi mereka. Elizabeth menghentakkan tongkatnya beberapa kali sehingga semu perhatian tertuju padanya, "Tentunya kita semua tahu alasan mengapa rapat ini diadakan," ia melihat pada semua anggota rapat yang mengangguk paham. Selanjutnya, ia menoleh pada Naruto yang jelas terlihat bingung di wajahnya, "Terkecuali tuan Uzumaki yang baru diundang secara mendadak pagi ini," ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi amat serius.

"Biar kutegaskan sekali lagi, kita berada di sini untuk membahas masalah krusial dan menentukan langkah kita selanjutnya dalam peperangan ini, semua itu demi keberlangsungan kemanusiaan!" ujarnya dengan tegas. Namun, Naruto yang bingung dengan semua ini jelas tak mengerti apa-apa. Ia menoleh pada Belfast di sampingnya, tapi sayangnya wanita itu hanya berpura-pura tak menyadari dan berusaha tak melihat matanya.

Akhirnya, Naruto memberanikan diri untuk bertanya dengan mengangkat tangannya, "Umm, maaf sebelumnya ... Tapi aku masih bingung mengapa seorang pekerja sementara seperti diriku juga ikut dilibatkan dalam rapat seperti ini?" ia memang bodoh, tapi tidak cukup bodoh untuk tak menyadari keanehan yang terjadi pagi ini, hanya saja alasan mengapa dia diminta untuk hadir di sini masih membingungkan baginya.

Mendengar hal itu, Seringai lebar tercipta di bibir Elizabeth. Naruto dapat dengan jelas menyadari kalau ada sesuatu yang tersembunyi di balik seringai sang ratu itu, "Nah, karena kau sudah bertanya ... Tuan Uzumaki, bagaimana menurutmu tentang menjadi seorang Laksamana?" seringainya bertambah lebar, malahan sekarang terlihat seperti seorang yang licik dari pada seorang ratu.

Bersambung.


Oke, kali ini update nya cukup lama dan bab yang sekarang terkesan sangat memaksa. Ya, mengalami Writer block itu sangat tidak menyenangkan. Mungkin saya akan beristirahat sejenak untuk memulihkan kepala saya. Ya bukan berarti ini Hiatus ya. Nggak kok.

Hanya saja saya berharap kalian memberikan saya review . Setidaknya itu membuat saya cepat kembali bersemangat, dan tentunya up lebih cepat juga. Ya supaya saya tahu ada yang membaca fanfic saya..

Ya, menunggu ulasan kalian, teman-teman.

Untuk alur, kemungkinan di chap depan akan memulai proses Naruto menjadi seorang Admiral. Ya, saya sendiri telah menyusun alasan mengapa Elizabeth ingin menjadi kan dia seorang Laksamana..

Oh iya, Momen Belfast juga terkesan OOC dan memaksa. Untuk itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya.