The Admiral

NARUTO: Masashi Kishimoto

AZUR LANE:

Warning: Typo, OOC, DLL

Start Story


Naruto terdiam, otaknya berusaha memahami pertanyaan Elizabeth barusan. Dia tidak bodoh untuk tidak mengerti pertanyaan yang sangat jelas itu. Hanya saja, apa maksud di balik ini semua? Mengapa itu ditujukan padanya?

"Apa maksudmu?" tanyanya dengan alis terangkat. Ia menoleh pada Belfast yang berada di dekatnya, tapi sayangnya wanita itu hanya diam menunduk dalam mode pelayannya. Ia yakin Belfast tahu sesuatu dilihat dari kata-katanya sewaktu di kamar tadi.

Tatapannya beralih pada Enterprise seolah meminta penjelasan. Namun, sayangnya entah mengapa gadis itu terlihat gelisah karena suatu hal, "Maaf, Naruto. Sepertinya kau belum diberitahukan apa-apa, tapi Royal Navy lah yang mengajukan petisi ini jadi mereka yang akan menjelaskan."

Tawa kecil keluar dari bibir mungil Elizabeth, "Maaf-maaf, aku begitu menikmati wajah bingung itu," ujarnya yang masih tertawa sehingga Naruto sedikit cemberut karena merasa diejek. Di belakang Elizabeth, Warspite hanya bisa menghela nafasnya karena melihat ratunya sudah kembali ke mode 'Tanpa beban' bahkan di rapat seperti ini.

Menyadari situasinya, Elizabeth segera berdehem untuk memperbaiki sikapnya dan dengan cepat kembali ke sikap seriusnya, "Seperti ucapanku barusan, kami ingin menawarkan sebuah posisi penting padamu," ujarnya.

Naruto terdiam sesaat, bahkan tanpa mengaktifkan sensor emosi miliknya pun dia tahu kalau Elizabeth saat ini sedang serius dan tak berbohong. Namun, ia tak tahu mengapa dia ditawari untuk itu. Walau seorang Shinobi, dia juga tahu makna kata dari 'Admiral', "Kenapa?" ujarnya membuat Elizabeth sedikit memiringkan kepalanya. Jika asumsinya benar, maka dia saat ini tengah ditawari sebuah posisi yang membuatnya memiliki kuasa untuk pangkalan ini.

"Kenapa Anda menawariku hal ini? Bukankah sudah ada kalian sebagai sebagai pemimpin di sini?" tanyanya membuat Elizabeth menghela nafas. Bukan hanya dia, tapi ia bisa melihat kalau semua gadis yang hadir di sini semuanya memiliki ekspresi yang Sulit dibaca. Kesedihan, keputusasaan, kemarahan, dengan sensor miliknya dia dapat merasakan beberapa emosi negatif mengitari ruangan ini. Walau yang dua itu hanya hologram, tapi Naruto bisa melihat ekspresi mereka yang masam.

"Umm ... Apa aku salah bicara?" tanyanya yang dibalas gelengan oleh mereka semua.

Elizabeth menghela nafas dan bangun dari kursinya, ia melangkahkan kakinya pada sebuah tirai merah besar di sana. Ketika tirai itu terbuka, dibalik sana ada sebuah potret foto yang terlihat usang dan cukup rusak. Bahkan, Naruto tak bisa melihat wajah siapa yang terpampang di sana.

"Telah beberapa dekade ini hidup kami didedikasikan untuk melawan Siren. Dulu sekali, pernah ada sosok yang memimpin kami dalam pertempuran titik balik melawan Siren. Namun, karena suatu insiden dia menutup usianya dengan tragis" ujar Elizabeth dengan sendu. Sebagai salah satu generasi pertama, dia juga ikut dalam pertempuran itu bersama Admiral pertama, dia juga ada di sana saat sosok itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Enterprise menatap lekat potret itu dan menaruh topinya di dada, sepertinya dia melakukan itu menghormati orang dalam potret, "Beberapa tahun setelah kematiannya, beberapa fraksi mulai saling berselisih dan terpecah dikarenakan tiada pemimpin sebagai sosok penyatu. Yang lebih parah lagi, moral kami juga ikut terpengaruh karena tidak adanya seorang 'Pemimpin'. Naruto, pemimpin fraksi dan Admiral itu adalah sesuatu yang berbeda," walaupun memiliki wujud dan pemikiran seperti manusia, tapi tetap hal itu tidak menyangkal fakta kalau mereka pada awalnya adalah kapal.

Seperti sebuah armada yang membutuhkan seorang Laksamana sebagai seorang pengatur dan pemimpin, mereka juga membutuhkan seorang yang mampu memimpin serta mengeluarkan potensi penuh mereka. Sepertinya itu adalah sifat alami yang mereka bawa sebelum berubah menjadi seperti ini. Beberapa generasi pertama, tahu benar bagaimana perbedaan bertarung di bawah komando seorang Admiral dan bertarung sendiri. Walaupun bersama Tim, tetap saja itu sangat berbeda.

"Lalu, kenapa harus aku yang kalian pilih? Bukankah ada orang lain di luar sana yang lebih memahami apa yang terjadi pada dunia ini? Aku yakin mereka lebih mampu dariku," yah, mengingat dia adalah seorang Shinobi yang bertarungnya menggunakan taktik-taktik licik, ia merasa pertempuran laut tak akan cocok dengannya, "Pikirkanlah, aku mungkin tak pantas menerima kehormatan atas posisi seperti ini" lagian tanpa diberi posisi sekalipun dia akan tetap membantu jika diperlukan.

Seringai kecil terbentuk di bibir Rossiya. Pesan yang dia terima benar, orang ini sangat menarik. Entah dia bodoh atau apa. Sadar tidak sadar, dia baru saja melewatkan kesempatan untuk memiliki kuasa atas pangkalan dan gadis-gadis cantik di dalamnya, "Ya mungkin ucapanmu ada benarnya juga, tapi ada alasan tersendiri mengapa hingga saat ini kami belum menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi itu," ujarnya yang diiringi anggukan oleh yang lain.

Mereka sebenarnya adalah kelompok yang bertindak secara independen sehingga militer manusia tidak memiliki hak untuk menempatkan orang mereka menjadi seorang Admiral di sini. Bahkan, Beberapa di sini memimpin negara dari balik layar seperti Elizabeth misalnya sehingga manusia tidak bisa sesuka hati mencampuri urusan para Kansen, walau pada awalnya mereka adalah kapal yang diciptakan oleh manusia.

Jadi secara tidak langsung, memimpin mereka sama seperti memiliki kekuasaan hampir setara atau sama seperti penguasa negara. Namun, para Kansen sendiri memiliki kriteria yang tinggi dan ketat untuk memilih siapa yang pantas memimpin mereka.

"Jangan merendahkan dirimu, anak muda. Membantai armada Siren seorang diri, bahkan dapat memberikan kerusakan fatal pada Siren tingkat atas bukanlah prestasi yang kecil," ujar Richelieu. Mungkin, inilah pertama kalinya dia bersuara semenjak rapat dimulai, "Aku bersumpah, jika Bismarck ada di sini maka dia yang akan mengatakan itu," tambahnya membuat Naruto sedikit penasaran. Siapa dia?

"Namun, tentu Anda tahu kalau kekuatan saja tidak tidaklah cukup untuk menjadi pemimpin," sanggahnya. Ia tahu ini dengan sering usianya bertambah, dulu ia berpikir kalau untuk menjadi Hokage yang diperlukan hanyalah kekuatan mutlak semata. Namun, setelah mengalami berbagai banyak peristiwa dalam hidupnya ia jadi menyadari kalau seorang pemimpin jauh lebih dari itu.

"Ya memang benar, butuh lebih dari kekuatan saja untuk posisi ini," jawabnya membuat Naruto mengangguk. Dia memang kuat, tapi kepandaian juga perlu dalam pertempuran tapi sayangnya dia merasa ragu untuk hal yang satu ini. Namun, Naruto tak menyadari kalau dirinya terkadang bisa menjadi ahli taktik yang tak terduga sewaktu-waktu, ambil contoh saja saat melawan Neji atau Kiba. Tapi sayangnya dia kurang percaya diri dengan yang ini," Tapi jika Anda berpikir kecerdasan adalah hal yang utama maka Anda telah salah."

Elizabeth menghela nafas, "Ada beberapa kualifikasi untuk posisi ini dan kepintaran adalah salah satunya. Namun, ada hal yang jauh lebih penting dari pada itu, dan sejauh kami mengawasimu, kau sepertinya telah memenuhi kualifikasi terpenting ini dan itup merupakan hal yang utama" ujarnya seraya kembali duduk di kursinya.

Dahi Naruto mengernyit. Mengawasi? Itu artinya selama beberapa hari ia di sini orang-orang Royal Navy telah secara intens terus memperhatikan dirinya, ia ceroboh karena menganggap mereka tak berbahaya sehingga mematikan sensor miliknya. Yah, lagian dia tidak terlalu mempermasalahkan itu. Namun, masalahnya adalah perang. Dirinya baru saja mengalami perang besar dalam hidupnya dan harus dikatakan kalau dia kehilangan banyak untuk itu. Jika dia menerima posisi ini, maka sudah pasti itu akan melibatkan dirinya kembali dalam perang. Tanpa sadar, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

Enterprise menepuk bahu Naruto, membuatnya terkejut dan sadar dari lamunannya, "Naruto, kami butuh bantuanmu. Menemukan orang yang tepat sepertimu adalah sesuatu yang langka. Tentu saja kesempatan seperti ini tak bisa dilewatkan," ujarnya. Mungkin, dia mulai merasa kalau pertemuannya dengan Naruto di malam aneh itu bukanlah sebuah kebetulan tapi sebuah takdir. Di saat masa mereka hampir putus asa dengan semua masalah ini, Naruto entah muncul dari mana dan menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

"Mungkin ini terdengar egois, tapi dapatkah kau bayangkan keadaan suatu pasukan jika tidak memiliki pemimpin yang dapat mengarahkan mereka?" lanjutnya. Tak perlu dijawab Naruto tahu jawabannya, dapat dipastikan kalau moral pasukan itu akan hancur cepat atau lambat. Malahan, dia pernah mengalami hal itu ketika Sandaime Hokage tewas terbunuh. Ketika itu terjadi dia bisa merasakan kalau hampir semua Shinobi di desa kehilangan semangat juang mereka.

Sepertinya dia mulai mengerti situasi yang terjadi di antara para Kansen ini. Bukan hanya perpecahan yang terjadi, tapi juga terjadi masalah signifikan lainnya yang cukup bahaya jika dibiarkan dan itu akan menghalangi upaya mereka dalam melindungi umat manusia. Naruto sekali lagi menghela nafasnya, "Baik. Aku terima posisi dan kepercayaan kalian," jawabnya. Mungkin ini terdengar naif, tapi dia tak bisa mengabaikan orang yang membutuhkan bantuannya. Yah, baginya tidak masalah untuk menjadi naif. Lagian dia juga punya utang budi dengan enterprise di sini.

Semua orang tersenyum mendengar jawabannya. Namun, sesaat kemudian Naruto mengangkat tangannya sebagai isyarat, "Tapi aku memiliki beberapa syarat yang harus kalian penuhi sebelum aku secara resmi menduduki jabatan ini," ujarnya dengan raut wajah serius.

Seringai muncul di wajah Elizabeth, kedua tangannya digunakan untuk menyangga kepalanya. Dirinya merasa tak terlalu keberatan dengan syarat apa yang akan diajukan Naruto nanti, baginya yang terpenting adalah masalah ini untuk sekarang telah teratasi, "Baik, mari kita dengarkan."


Skip Time

Kata kagum akan sangat meremehkan untuk menggambarkan apa yang Naruto rasakan saat ini. Setelah dia menyetujui untuk menerima posisi Admiral, ia langsung di bawa menuju sebuah ruangan megah dengan interior yang sangat indah. Sialan! ini lebih luas dari pada apartemen nya di Konoha.

"Bukankah ini namanya pemborosan?" ujarnya tak percaya. Dia dapat menebak kalau rancangan ruangan ini dibuat oleh Royal Navy. Sepertinya fraksi yang satu itu memang memiliki selera yang tinggi untuk kemewahan.

Wanita di belakangnya terkekeh ucapan dari komandan barunya, "Aku rasa tidak. Apa pun untuk Admiral baru kami," kali ini bukan Belfast yang menemaninya, melainkan Wales yang ditugaskan secara khusus untuk memandunya mengenal seluk-beluk pangkalan dan tugasnya, "Tempat ini nantinya akan menjadi ruangan kerja Anda," lanjutnya.

Naruto sedikit tersenyum mendengar nama posisi yang dia pegang sekarang ini, "Admiral, ya," dulunya dia pernah memimpikan untuk menjadi seorang Hokage suatu hari nanti. Namun, Sekarang di sinilah dia, menjadi seorang yang nantinya akan bertanggung jawab dalam pertempuran laut. Ya, dua posisi ini hampir tak jauh berbeda.

Mungkin untuk saat ini dia akan menjalani tugasnya saat ini, lagian dia tidak tahu apakah dirinya bisa kembali ke dunianya atau tidak, tapi ia berharap di sana baik-baik saja.

"Ada apa, Admiral?" ujar Wales membuatnya segera sadar dari lamunannya. Naruto hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia baik-baik saja.

"Ngomong-ngomong, Wales-San. Kau tidak perlu bersikap formal padaku," ujarnya seraya duduk di salah satu sofa di sana. Harus dia akui, dirinya bukanlah orang yang terbiasa bertindak formal selama hidupnya, apalagi jika bersama Wales yang telah banyak membantunya.

Dahi Wales berkerut mendengar ucapan Naruto barusan, matanya sedikit menajam sehingga membuat Naruto agak takut dan mundur karena wanita itu juga mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto, "Admiral, Anda tidak boleh seperti itu. Terkadang keformalan adalah sesuatu yang penting," ujarnya. Ada alasan khusus mengapa dirinyalah yang ditugaskan untuk mendampingi Naruto saat ini, yaitu untuk mengajari dan memastikan Naruto untuk bertindak layaknya seorang Laksamana yang terhormat. Secara tidak langsung, ini berarti dia ditugaskan untuk menjadi asisten pertama sang Admiral.

Namun, sesaat kemudian raut wajahnya kembali tersenyum dan menjadi agak santai, "Yah, setidaknya di depan umum, tapi kurasa aku bisa melakukan itu jika hanya kita berdua saja," lanjutnya membuat Naruto terkekeh geli, dia pikir Wales akan memarahinya karena mengatakan itu.

Krieet!

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Keduanya segera menoleh untuk melihat siapa yang datang dan rupanya itu adalah Illustrious yang seperti biasa senantiasa tersenyum. Namun, kali ini dia tak sendiri karena Naruto bisa melihat di sebelahnya ada seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Orang itu sama pirang sepertinya, dan mengenakan gaun biru yang dihiasi bulu dan sulaman emas.

"Oh, Illustrious-San, lama tidak berjumpa," sapa Naruto.

Illustrious tersenyum sebagai balasan sapaan itu, " Ara, Komandan, kita baru bertemu kemarin, lo. Atau kau merindukanku sehingga merasa seperti itu," ujarnya seraya meletakkan tangannya di pipi.

Naruto mengutuk karena salah memilih kata-katanya. Walaupun dia tahu itu hanyalah godaan semata, tapi tetap saja rasanya memalukan, dan dia harus melakukan yang terbaik agar tak salah tingkah di sini. Jujur, pesona Illustrious masih terasa sangat kuat baginya.

"Lady Illustrious, hentikan candaan itu," ujar wanita di sebelahnya. Ia maju selangkah dan memberikan salam menawan yang khas dimiliki oleh gadis-gadis Royal Navy, "Komandan, ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung. Namaku adalah Hood," ucapnya dengan kedipan mata di bagian akhir.

Naruto sedikit terkejut ketika Hood tiba-tiba dengan cepat langsung menarik tangannya pergi dari sana, sehingga membuatnya agak bingung, "Ayo, kita tak punya waktu. Setelah mengukur baju kita harus segera latihan," ucapnya yang masih menyeret Komandan baru itu

"Latihan apa!?" tanya Naruto. Ia memang tahu soal mengukur baju nantinya karena Elizabeth yang secara langsung memintanya untuk menemui seseorang bernama Arc Royal, tapi dia tak mengerti mengapa ada latihan segala.

Mendengar pertanyaan itu, Hood melebarkan senyum cantiknya, "Tentu saja menari, kami harus mempersiapkan Anda secara sempurna untuk Nanti," jawabnya yang sama sekali tak membantu menghilangkan kebingungan Naruto. Memangnya akan ada apa nanti malam? Oh, sepertinya dia tidak mengetahui rencana Elizabeth dan yang lainnya. Namun, dia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya lagi karena Hood yang menyeretnya membuat dia tak berdaya.

Illustrious dan Wales hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat yang barusan itu, sepertinya salah satu rekan mereka itu sedang bersemangat. Yah, sangat jarang melihat Hood Bertingkah seperti, "Aku merasa angin bagus sedang berembus sekarang ini," ucap Illustrious seraya mengikuti Hood dan Naruto. Ia harus mengawasi mereka berdua, kalau tidak entah apa yang akan terjadi nanti. Hood mungkin adalah salah satu orang yang memiliki cara cepat membuat seseorang pintar menari , tapi sayangnya ... Mari kita tidak usah menyebutnya.

Wales hanya tersenyum saja dan mengikuti wanita bertema putih itu pergi, satu lagi insting Illustrious yang tepat sasaran. Yah, sepertinya memang setiap ucapannya tak bisa diragukan.


Line break

Elizabeth kini tengah bersantai di taman miliknya seorang. Ya, hanya sendiri, tak ada Warspite yang biasa mengawalnya, tak ada pelayanan dari para Maid terbaiknya. Yang menemaninya hanyalah segelas Wine yang dia nikmati pelan-pelan. Dirinya mendesah lega, hal yang menjadi beban pikirannya selama bertahun-tahun rasanya telah diangkat.

"Aku tidak pernah menyangka ucapanmu akan menjadi kenyataan, Admiral. Entah intuisi mu yang kuat atau memang seorang cenayang," bukan Naruto yang dia maksud, melainkan sosok Admiral pertama yang dulu pernah memimpin mereka.

Mungkin terdengar cukup aneh mengapa dia begitu menginginkan Naruto untuk menduduki posisi ini. Ya, sebenarnya memang ketika Wales mengabarinya tentang Naruto dia sudah merasa tertarik dan kemunculan orang ini bukanlah sesuatu yang biasa. Pada waktu itu, ketika mendengar itu dirinya bersumpah kalau dia hampir menjatuhkan tongkat kerajaannya.

Ia kembali teringat dengan ucapan sang Admiral kala itu ketika dia masih hidup "Mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Namun, jangan bersedih wahai anak-anakku. Kelak, pasti akan ada yang memimpin kalian jauh lebih baik dariku. Dia terkait denganku, tapi tidak berhubungan," ya itulah kata-kata terakhir yang dia dengar dari Adrmiral-nya sesaat sebelum mereka berangkat bertempur. Dirinya yang masih muda tentu saja merasa bingung dengan itu, tapi hanya bertanya apa maksudnya. Namun, sang Admiral tersenyum hangat dan mengatakan kalau dirinya sendiri tidak tahu apa yang dia katakan.

Setelah kematiannya, semua orang begitu terpukul dengan ini. Karena kematiannya pula, perpecahan mulai timbul. Iron Blood adalah yang paling merasa bersalah karena menganggap diri mereka lemah tak bisa melindungi nyawa Komandan. Karena sebab itulah fraksi itu mulai mengutamakan kekuatan di atas segalanya.

Karena masalah-masalah itu, dia memutuskan menyimpan kata-kata itu untuk dirinya sendiri, lagian mengatakan hal itu tanpa mengetahui maknanya hanya akan menyebabkan masalah yang lebih rumit lagi. Beberapa tahun kemudian setelah itu, dia mulai mengatur sebuah rencana kudeta untuk menyingkirkan para pemimpin manusia yang dianggap korup dan mulai mendirikan kepemimpinan di balik layar, tentunya hal ini awalnya ditentang oleh beberapa fraksi yang lain. Namun, pada akhirnya dia berhasil meyakinkan mereka agar manusia Busuk itu tidak menggunakan mereka untuk kepentingan pribadi.

Sepertinya Admiral pertama sudah memiliki firasat kalau ini akan terjadi karena jauh sebelum dia melakukan niatnya, orang itu sudah menghancurkan seluruh data penelitian tentang penciptaan mereka. Setelah berhasil mengukuhkan kekuasaannya, selama bertahun-tahun Elizabeth masih tidak mengerti apa arti dari ucapan dari Admiral pertama. Barulah kini setelah dia melihat wajah Naruto baru dia mulai paham. Orang ini memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Komandan mereka kala itu. Tak hanya wajah, tapi juga dari tingkah laku.. Mungkin sudah takdir kalau Naruto akan menduduki posisi ini. Terkait. Namun, tidak berhubungan. Mungkin inilah maksudnya.

Elizabeth mengangkat tinggi-tinggi gelasnya ke arah langit seolah sedang bersulang, ia tersenyum bahagia karena suatu alasan, "Sekarang kau sudah bisa tenang, Admiral Minato," ujarnya. Ia yakin Naruto akan memimpin dan menyatukan semua Kansen seperti dulu, malahan jauh lebih baik.


Line Break

Honolulu merasa gelisah, dia sudah menyusuri setiap sudut pangkalan ini tapi apa yang dia cari tak kunjung ketemu juga ... Atau lebih tepatnya Siapa yang dia cari. Padahal ia dengar seharusnya di saat seperti ini orang itu akan berada di Kafetaria untuk membantu, tapi sayangnya orang itu malah tidak ada. Padahal rencananya adalah pura-pura meminta bantuannya agar bisa menghabiskan banyak waktu dengan pirang favoritnya.

Ia tersentak ketika sebuah implikasi memasuki pikirannya, "Enterprise tidak menggunakan kuasanya untuk membuat Naruto sibuk dengannya, kan?" ujarnya seraya menggigit kuku jarinya. Walaupun hal itu tidak mungkin, tapi entah mengapa dia khawatir.

Honolulu segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu dari kepalanya, dirinya hanya tidak ingin berprasangka buruk pada pemimpinnya. Namun, tetap saja dia belum juga menemukan Naruto di manapun, seolah-olah dia menghilang di telan bumi.

Namun, entah mengapa saat mencari si pirang dia merasakan kejanggalan lain yang terjadi di sekitar sini. Perasaannya saja atau memang para Maid terlihat sangat sibuk hari ini. Bahkan, di sini pun dia bisa melihat mereka yang lalu lalang dengan tergesa-gesa. Hmm, ada apa ini?

"Honolulu, bisakah kau membantuku di sini?" panggil suara seseorang di belakang.

Ia segera menoleh, rupanya itu adalah Cleveland yang sedang membawa banyak barang. Namun, ada yang lain dari dia hari ini. Rasanya ... Ekspresinya terlihat bahagia, "Oh, Cleveland. Mau dibawa ke mana barang sebanyak ini?" tanyanya seraya mengambil sebagian beban yang Cleveland bawa.

"Oh, itu mau di bawa ke aula utama."

"untuk apa?"

Namun, apa yang dapat bukanlah sebuah jawaban, melainkan sebuah ekspresi terkejut yang seolah mengatakan 'Apa kau gila?', "Kau tidak mendengar berita itu!?" tanya Cleveland yang terkejut. Honolulu hanya menaikkan satu alisnya karena tidak mengerti. Jika bisa, Cleveland mungkin ingin sekali menepuk wajahnya karena melihat temannya ini tidak update informasi. Padahal berita ini sudah tersebar di seluruh pangakalan seperti api yang membakar daun kering.

"Serius, aku tidak akan terkejut jika itu adalah Nolep seperti Long Island. Tapi ini kau! Memangnya kau tidak keluar seharian ini?" ujarnya membuat Honolulu hanya bisa tersenyum malu-malu. Yah, sebenarnya dia memang mengurung diri di kamarnya karena sibuk mempelajari suatu hal guna rencananya agar bisa menarik si pirang.

Cleveland hanya menghela nafasnya sebelum kembali tersenyum, "Sudahlah, nanti sampai di sana kau akan tahu dan pasti akan sangat terkejut," ucapnya yang kembali melanjutkan perjalanan bersama Honolulu.

Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai di aula utama, dan alangkah terkejutnya Honolulu ketika melihat seluruh ruangan itu entah bagaimana telah didekorasi dengan sangat indah dan mewah. Jika tadi dia melihat di luar tampak lalu-lalang, maka di sini semua terlihat jauh lebih sibuk. Sepertinya yang mendekor ini adalah para Maid Royal Navy. Ya, khas sekali gaya mereka.

Bukan Maid yang sibuk, para Anggota eksekutif mereka pun entah mengapa terlihat bersemangat untuk memastikan semua berjalan dengan baik. Serius, apa yang baru saja dia lewatkan? Ini sudah pasti akan menjadi sebuah pesta yang megah. Hell! Bahkan kue di sana lebih banyak indah dari pada kue pernikahan.

"Yo, Cleveland, Honolulu, cepat bantu aku di sini. Ruangan ini tidak akan menghiasi dirinya sendiri," ujar Nevada yang terlihat sangat sibuk, dia membawa begitu banyak benda seorang diri hingga memiliki begitu banyak peluh yang membasahi wajahnya, "Ayo, kita tidak ingin komandan baru kita merasakan suasana suram nantinya," lanjutnya membuat Honolulu terkejut.

Matanya langsung membola mendengar hal itu. Admiral baru!? Bukankah ini tiba-tiba. Sebenarnya tidak, dirinya saja yang ketinggalan informasi karena malah sibuk sendiri. Tapi tetap saja ini sangat mengejutkan. Namun, rasa penasaran mengalahkan keterkejutannya. Ia ingin tahu, siapa sebenarnya orang yang dianggap layak oleh para pemimpin itu.

"Tapi siapa Komandan baru ini," tanya Honolulu. Namun, Nevada hanya membalasnya dengan sebuah seringai saja sehingga membuatnya bingung dan bertambah penasaran.

"Ya, itu akan sangat mengejutkan," jawabnya yang hanya membuat Honolulu cemberut. Namun, ia tak bisa apa-apa karena Nevada dan Cleveland sudah pergi untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Hmm, aneh kenapa dia tiba-tiba teringat Naruto kembali ... Sudahlah, mungkin hanya karena dia tak bisa menemukannya hari ini.


Line Break

Gugup ... Sangat gugup. Ya itulah yang kini sedang dirasakan oleh Naruto. Oke dia memang setuju untuk menerima posisi ini, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau pelantikannya akan berlangsung malam ini. Hei, bukankah ini terlalu terburu-buru!?

Beberapa kali dia berusaha mengatur nafasnya agar bisa menenangkan dirinya. Namun, sayangnya kerah leher seragamnya yang sedikit mencekik sama sekali tidak membantu. Ya, walaupun seperti itu, harus dia akui kalau seragam ini cukup keren.

Hanya saja dirinya belum terbiasa diperlukan seperti ini oleh lawan gendernya, apalagi dari memakai baju, berdandan, dan semua persiapan lainnya itu dibantu oleh setengah lusin Maid. Umm, bagaimana caranya menjelaskan ini? Oh ya, sangat berdebar-debar.

"Berhentilah Nervous seperti itu, atau kau akan merusak kerja keras Dido dan yang lainnya," ujar Elizabeth yang rupanya juga sudah mengganti pakaian ke gaun pesta berwarna putih yang terlihat cukup bagus.

"Diamlah, ini karena kau tidak memberi tahukan kalau aku akan dilantik hari ini juga," balasnya dengan wajah merenggut. Ia masih kesal karena dipaksa melakukan berbagai hal tanpa diberi kesempatan untuk bersantai sedikit pun. Untungnya bukan Belfast yang bertugas di sini, akan canggung rasanya jika mereka bertemu di sini setelah apa yang terjadi tadi pagi, dan itu akan berefek semakin buruk.

"Sudah selesai, Komandan," ujar Dido sembari menyerahkan padanya sebilah pedang yang dihias dengan baik.

Naruto menatap pantulan dirinya di cermin. Harus diakuinya, penampilannya saat ini terlihat sangat berbeda dengan dirinya biasanya, bahkan dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri di cermin. Rambutnya yang biasanya acak-acakan telah disisir rapi kebelakang walaupun masih sedikit jabrik, dia sekarang telah mengenakan seragam formal militer Jepang berwarna hitam yang dihiasi oleh kancing dan sulaman emas, di bagian dada kirinya terpasang beberapa lencana berlambangkan beberapa fraksi Azur Lane sebagai simbol kalau dia diakui sebagai pemimpin mereka.

Pedang yang tadi dia pegang sudah dipasangkan pada pinggang. Sekarang, sempurnalah penampilannya yang terlihat tegas dan juga bermartabat, "Terima kasih, ya, Dido-San" ujar Naruto yang rupanya tanpa sadar membuat gadis Maid itu tersenyum malu-malu.

"Baiklah, sekarang semuanya sudah siap, tinggal menunggu gadis pendampingmu nanti," ujarnya membuat Naruto sedikit penasaran, karena Elizabeth memang saat pelantikan nanti dia akan didampingi oleh gadis pendamping. Namun, saat dia bertanya pada Elizabeth tentang siapa itu, si ratu pirang itu malah berkata kalau itu akan menjadi kejutan untuk nantinya. Ia penasaran, kira-kira siapa yang akan menjadi gadis pendampingnya di acara pelantikan nanti. Ya, bukan berarti hanya ingin bersama wanita cantik ... Tidak, ini hanya penasaran saja.

"Oh, kau juga sudah selesai, Admiral?" ujar suara seseorang dari belakangnya yang tahu sebagai milik Enterprise.

Naruto harus menahan keinginannya tidak menganga ketika berbalik bada dan melihat paras Enterprise kini. Sungguh, kata luar biasa saja tidak akan cukup untuk menggambarkan sosoknya yang laksana dewi. Kemeja tanpa lengan yang biasanya dia pakai kini telah tergantikan dengan gaun hitam panjang sekelam malam yang cukup terbuka di bagian dada. Sedikit terbuka tapi tidak vulgar. Gaun itu terlihat sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih, serta rambut yang dihiasi dengan aksesoris berbentuk sayap.

"Woah, kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu," Naruto tak tahu harus mengatakan apa untuk mengomentari penampilan Enterprise malam ini, jadi mulutnya mengeluarkan apa saja yang ada di kepalanya saat ini

Wajah Enterprise sedikit merona karena dipuji oleh Naruto, entah mengapa rasanya agak malu dan senang ketika kata-kata itu memasuki indra pendengarannya, "Ya terima kasih, Hornet yang memaksaku memakai ini," ucapnya seraya berjalan ke samping Naruto.

Ia langsung bersikap tegas dan langsung melingkari tangannya di lengan Naruto. Sekarang, mereka berdua akan mulai berjalan ke aula utama dalam posisi seperti ini. Sekarang Naruto pun mengerti kalau yang akan menjadi gadis pengiringnya adalah Enterprise. Ya, berjalan perlahan seperti sampai ke tujuan memang agak kurang nyaman, tapi Elizabeth mengatakan kalau itu adalah serangkaian formalitas yang harus dijalani.

"Sudah siap?" tanya Enterprise.

Naruto memasang senyum rubah licik yang selalu menjadi ciri khasnya, genggamannya menjadi erat pada pedangnya, serta posturnya ditegakkan secara sempurna, "Tentu saja,"

Dalam langkah yang serasi, kedua orang itu mulai berjalan dalam harmoni. Di belakang mereka, berbaris beberapa gadis seperti Hornet yang membawa Panji Eagle Union, Hood yang dipercayakan untuk membawakan lambang fraksinya, Royal Navy. Menariknya, bendera Iron Blood dan Sakura Empire juga ada di sana walaupun yang membawanya bukanlah orang asli dari kedua fraksi itu, melainkan hanya secara simbolis saja. Di belakang itu, Sisanya adalah bendera fraksi-fraksi kecil baik dari Azur Lane ataupun Crimson Axis.

Begitulah, Mulai malam ini Azur Lane akan mengalami perubahan.


TBC.

Daan selesai! Ya, cukup lama untuk bisa bebas dari writer blok. Dan syukurnya hanya butuh satu Minggu untuk menyelesaikan bab ini. Terima kasih untuk beberapa orang di grup dan beberapa reviewers saya, terutama guest tak bernama yang sering memberikan saya ulasan bagus dan panjang itu. Jujur Review anda selalu membuat saya bersemangat. Dan terkadang saya mengambil beberapa ide dari ulasan Anda walaupun niat Anda tak untuk mengusulkan ide. Lain kali, saya harap anda menyertakan nama atau menggunakan akun ketika mengulas.

Oh iya, Di sini saya membuat Admiral pertama iti adalah Minato ... Ya, Minato yang itu. Hanya saja ini bukan dari dunia Shinobi melainkan dari dunia ini.

Di sini saya juga sedikit memaparkan alasan Elizabeth memilih Naruto, dan tentu saja alasannya bukan itu saja. BTW, bagi yang bermain Azur Lane pasti tahu kalau yang digunakan oleh Enterprise adalah Party dress miliknya. Dan Naruto? Lihat saja gambar sampul di gadis bagian kanan.

Sampai jumpa chapter depan.