SetsunaZ1 Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!

...

...

#StayAtHome

[Let's start]

...

...

Chapter 10 : Good Luck, My Lord

Tower of Excanium, Akademi sihir terbesar yang ada di Kekaisaran yang di bangun oleh mending Kaisar Romanov I. Tujuan dari di bangunnya akademi tersebut adalah untuk menempa penyihir kekaisaran yang bertanggung jawab atas segala urusan di Kekaisaran.

Namun, Sudah 50 tahun akademi tersebut berdiri secara independen dan memisahkan diri dari kuasa kekaisaran dengan gagasan kalau pendidikan dapat di terima siapapun tak memandang status. Mendengar gagasan tersebut, Kaisaran Romanov V sangat tertarik dan melepaskan akademi tersebut walau begitu masih saja ada intrik yang dimainkan di dalam akademi yang sudah mencetak ratusan bahkan juga ribuan lulusan selama pemerintahan 5 Kaisar.

Salah satunya adalah gadis cantik yang sedang berselimut peluh di seluruh tubuhnya. Siluca Meletes, Seorang Penyihir yang di katakan jenius sedang menerima hukuman karena menghina pemilik dari wilayah Namikaze.

Dirinya sendiri sangat terkejut dengan kejadian beberapa hari yang lalu, Dimana Duke Namikaze Naruto memainkan trik di hadapannya. Orang yang dia sangka sebagai Duke tersebut ternyata adalah sepupu dari Naruto yang memainkan perannya dengan sempurna. Dirinya sendiri tidak menyangka jika kharisma dan juga pesona seorang Menma Uzumaki menghalangi penglihatannya yang sudah terbiasa dengan tingkah laku setiap bangsawan, Tentunya Menma juga bangsawan.

"KENAPA AKU MENDAPAT HUKUMAN SEPERTI INI, THEIA-SAMA!" Teriakan gadis itu membuat beberapa pekerja lapangan tersenyum. Mereka sendiri sudah tau apa yang di terjadi kepada gadis tersebut dan jika di sangka semua orang akan marah, Maka itu salah! Malah semua orang tertawa saat mendengar gadis itu bercerita karena mereka semua lupa memberitahu jika Naruto juga merupakan pribadi yang sedikit usil.

"Nak, Aku tau kalau maksud Naruto-sama itu hanya sedikit membuat dirimu jera."

Gadis itu sedikit terkejut dengan suara seorang pria di belakangnya. Yap, Tepat! Seorang pria yang hanya mengenakan pakaian lusuh bercampur tanah dan juga debu sedang tersenyum kepada dirinya.

"Pikirkan saja jika Naruto-sama tidak memberimu pelajaran, Mungkin kau tetap saja akan membuat keributan. Ada maksud tersembunyi dari setiap tindakan yang di ambil Tuan kami jadi aku mewakili Naruto-sama meminta maaf jika kelakukannya berlebihan." Ucap pria itu seraya menundukkan kepalanya di ikuti setiap orang yang ada di area pertanian bahkan untuk prajurit yang sedang Patroli pun menundukkan kepalanya dan membuat Siluca terdiam seribu bahasa. Jujur saja mengingat kelakuan Duke Namikaze itu membuat dirinya kesal, Mulai dari tidak menerima sumpah setianya bahkan menjebaknya dalam drama pertemuan. Namun dirinya sekarang sadar, Dibalik sikap seorang Namikaze Naruto ada orang-orang yang selalu menghormatinya sebagai orang yang di layani.

Dirinya sendiri mengingat pesan ayah angkatnya beberapa tahun silam saat kelas politik.

"Seorang pemimpin tidak mengakui dirinya sendiri sebagai pemimpin namun jika dirinya diakui, dihormati, dan dicintai penduduknya itulah sosok pemimpin terhebat. Saat kalian menemukan orang yang seperti itu, Ikutilah walaupun orang tersebut tidak menganggap kalian karena mau bagaimanapun ada beban yang teramat berat di bahu orang-orang tersebut karena kepercayaan yang ia terima."

Seorang pemimpin yang mendapatkan seluruh kepercayaan warganya. Pemimpin hebat yang bahkan dapat membuat suatu negara sendirian dengan orang-orang yang mengikutinya, Siapa yang tidak mau melayani sosok seperti itu? Seorang pemimpin yang mendapatkan kepercayaan tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan orang-orangnya dan karena itu suatu perasaan aneh muncul di hati kecil gadis itu. Suatu emosi aneh yang seakan mengatakan kalau dirinya akan selalu bahagia saat bersama dengan Duke Namikaze.

"Kepercayaan, kah?" Gumam gadis itu.

...

...

Blacksmith Workshop

Blacksmith atau orang-orang awam menyebutnya sebagai Pandai besi. Orang-orang yang bekerja menciptakan peralatan guna membantu kehidupan sehari-hari setiap manusia yang ada, Entah itu peralatan berburu, Peralatan pertanian seperti cangkul dan juga peralatan perang. Pandai besi adalah orang-orang yang sederhana, Dimana mereka selalu senang mendapati hasil kerja kerasa ya mendapatkan apresiasi dari orang-orang.

Blacksmith tidak mempercayai Divine Trinity namun mereka hanya mempercayai seorang Blacksmith sebagai dewa. Surtr, The Thousand Days Blacksmith, Orang yang mencurahkan hidup dan matinya hanya untuk Blacksmith dan seluruh karyanya bahkan di kagumi para Spirit yang merupakan pembuat Magic Weapon terhebat di 3 dunia. Peralatan-peralatan yang ia buat memiliki estetika yang berbeda dari barang biasa namun hanya ada 1 warisan terbesar Surtr untuk umat manusia.

"Aroma yang sangat menyegarkan." Mungkin orang-orang akan berfikir kalau apa yang di ucapkan pemuda berusia 17 tahun itu sedikit tidak sesuai. Aroma asap pembakaran dari tungku peleburan, Percikan api saat palu dan menghantam landasan, dan juga aroma keringat orang-orang tua yang sudah uzur, sangat menyegarkan?

Orang-orang akan berfikir demikian namun berbeda untuk Naruto Uzumaki. Dirinya sendiri sangat mengapresiasi semangat kerja para Blacksmith dan juga Peralatan-peralatan yang dibuat mereka. Maka dari itu dirinya sendiri datang untuk meminta peralatan pertanian yang di buat oleh orang-orang ini.

"Oya oya oya, lihatlah siapa yang datang kemari teman-teman." Suara bariton khas pria dewasa yang sangat keras memasuki gendang telinga semua orang yang ada di Workshop tersebut, Jika disebut suara itu benar namun intonasinya seperti teriakan.

Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk tak terkecuali Naruto yang memutar tubuhnya kala tubuh seorang pria memasuki penglihatannya. Pria dewasa yang berada di umur sekitar 40-an sedang tersenyum kepadanya. Pria itu memiliki kulit berwarna coklat tua dengan brewok yang memenuhi rahangnya, Otot yang terbentuk dari kerja keras terlihat sangat kokoh dan juga sorot matanya menunjukkan kalau ia selalu mencoba hal-hal baru sebagai pembelajaran seorang Blacksmith.

"Hahahaha... Bukankah ini bocah cengeng yang selalu mengganggu kita saat bekerja?"

"Ya aku rasa itu dia, Bocah berisik yang dulu selalu mengganggu kita sekarang sudah menjadi dewasa dan memimpin wilayah ini ke masa Jaya nya."

Put... Tap... Sreet...

Semua orang yang bekerja sebagai Blacksmith mulai menaruh palu mereka di landasan dan beberapa menaruh besi-besi panas ke dalam air pendingin. Sejenak mereka menghentikan pekerjaannya dan melangkah kaki mendekati Naruto hingga...

Semua orang tanpa terkecuali di Workshop tersebut menundukkan kepala mereka dengan sikap Ksatria. Junjungan mereka, Tuan mereka, Sudah meluangkan semua waktu yang ia miliki hanya untuk keperluan pengembangan wilayah mereka bahkan mereka mendengar kabar dari beberapa pelayan kalau Naruto pernah tidak tidur hanya untuk mengurus berkas-berkas yang ada. Rasa hormat yang mereka mencapai titik tertinggi yang pernah mereka berikan pada mendiang Ibunya.

"Angkat kepala kalian dan berbahagialah karena kalian akan menjadi pelopor dalam pengembangan lebih lanjut wilayah ini." Ucap pemuda itu dan para Blacksmith memiliki sesuatu di dalam hati mereka. Kesabaran, hasrat, dan semangat seorang Blacksmith memenuhi hati mereka dan saat mereka melihat wajah Naruto semangat mereka semakin meledak-ledak!

"Kalian tidak akan pernah bisa beristirahat! Kalian tidak akan pernah ku biarkan merasa lelah dan semua kebutuhan material akan aku sediakan bahkan Magic Stone sekalipun! Apa kalian siap wahai anak-anak Surtr!"

"YA! KARENA ITULAH KAMI ADA! KAMI ADALAH BLACKSMITH!" Teriakan para Blacksmith memenuhi workshop itu. Orang-orang yang percaya bahwa dengan palu dan juga landasan yang mereka miliki mereka dapat memberikan kontribusi besar bagi kemajuan wilayah ini.

"Kalau begitu, Aku ingin kalian melihat gambaran alat yang harus kalian buat." Ucapnya seraya memberikan sebuah kantung dan di dalam kantung itu terdapat puluhan gulungan kertas yang di ikat menggunakan sebuah tali.

"Naruto-sama, Bolehkah?" Ucap seorang Blacksmith dan mengerti maksudnya, Naruto hanya menganggukkan kepalanya. Blacksmith itu, sebut saja namanya Drian, Merogoh isi kantong itu dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Drian sebenarnya sedikit ragu dengan design yang akan ia lihat namun ia menelan keraguan itu dan membukanya tak kala kedua matanya terbelalak.

Dalam perspektif Drian, Sebuah lempengan bilah besi di yang sedikit melengkung di satuan dengan gagang yang terbuat dari kayu membuatnya terdiam. Jika dilihat itu seperti percampuran antara belati dan juga Short sword yang terspesialisasi memberikan luka yang dalam jika terkena daging makhluk hidup.

"Ahhh... Pilihan bagus, Aku menamainya Kukri. Entahlah aku rasa penamaanku sedikit buruk tapi itu adalah senjata pengganti pedang yang sangat bagus untuk pertempuran di area yang sempit seperti hutan dan juga gua. Aku ingin kalian mendistribusikan Kukri kepada orang-orang yang bertugas di perbatasan Abbys di bawah kuasa Alucard, Paham?" Orang-orang yang melihat design itu mengeluarkan pandangan kagum dan juga terpesona dengan tampilan dari senjata tersebut.

"Maafkan aku Tuanku, Tapi jika menggunakan besi maka bilahnya akan cepat berkarat lalu jika menggunakan baja maka bilahnya akan cepat hancur dan jika kami menggunakan Black Iron maka terlihat sia-sia mengingat harga dari Black Iron akhir-akhir ini." Ucap kepala workshop Blacksmith tersebut, Sebut saja namanya Jack, Pria tua brewokan yang sebelumnya menyambut kedatangan Naruto. Pria itu yakin dengan pengalaman kerja yang ia tekuni apa yang ia katakan pada dasarnya adalah kebenaran namun dirinya sendiri tidak dapat mengeluarkan kata-kata saat Naruto mulai berbicara.

"Gabungan dari baja dan juga Black Iron kurasa cocok tentunya dengan perbandingan 1 : 2, Jika-" Tiba-tiba Naruto tercekat dengan sendirinya karena para Blacksmith sendiri terlihat tidak mengerti dengan apa yang ia katakan dan karenanya ia harus menjabarkan secara spesifik, Jujur saja dirinya sendiri sangat membenci menjabarkan hal yang harusnya dapat di pahami dengan cepat apalagi untuk seorang Blacksmith. Namun mengingat ini adalah dunia, Dimana pedang dan sihir bertabrakan tanpa harus mementingkan pembelajaran, Dirinya kau tak mau harus menjabarkan hal itu. "Maksudku disini adalah jika kalian menggunakan suatu material maka gunakan material lainnya lebih banyak 2x lipat. Paham?"

"Jadi maksud anda, Jika kami menggunakan 10 baja maka kami harus menggunakan 20 Black Iron untuk mencampurnya? Begitu?" Pertanyaan dari Blacksmith itu hanya di tanggapi anggunakan kepala dari Main Character kita ini.

"Kami belum pernah mencoba mencampurkan material seperti itu namun entah kenapa hasrat Blacksmith di dalam diriku harus mencobanya sendiri, Terima kasih atas pembelajarannya Naruto-sama!"

"Aku yakin kalian paham dengan apa yang aku maksud dengan cepat, Maka dari itu aku akan meninggalkan gulungan-gulungan ini kepada kalian dan berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat. Di dalamnya ada beberapa alat yang ku buat untuk tujuan perang maka dari itu kalian harus menyimpannya di benteng Alamut. Ah... Tenang saja, Kalian sudah di berikan izin langsung dari King Hassan untuk menaruh alat-alat peperangan di benteng tersebut." Ujarnya seraya berjalan ke arah pintu keluar.

"Aku yakin dengan kemampuan kalian! Maka dari itu ku percayakan semuanya. Sampai jumpa."

Mulai hari itu workshop Blacksmith terus menerus mengeluarkan asap saat Naruto memberikan puluhan kertas dan juga 3 gerbong bijih besi di bawa ke dalam workshop. Mungkin orang-orang akan berfikir kalau Naruto hanya membuat peralatan sehari-hari namun sayangnya pemuda itu membuat alat-alat yang tidak pernah terfikirkan oleh orang-orang dan para Blacksmith memberi julukan The Crafter untuk tuan mereka.

...

...

Selepas kepergian Naruto dari Workshop Blacksmith, Naruto berjalan sendirian di wilayah Marquees Nara. Entah mengapa melihat lokasi dan juga daerah perkotaan Marquees Nara membuat dirinya sendiri iri karena banyaknya pepohonan di pinggiran jalan utama membuat perkotaan sangat sejuk untuk dipandang.

"Wahhh... Naruto-sama!"

"Naruto-sama!"

Teriakan anak-anak yang sedang bermain membuat dirinya menatap mereka tertarik dan dirinya sendiri tersenyum melihat kalau anak-anak di wilayahnya tumbuh dengan baik dan aman. Namun pandangannya sendiri berubah menjadi kosong melihat kilasan masa depan jika dirinya gagal dalam pemberontakan. Anak-anak ini akan menjadi korban perang seperti dirinya di bumi membayangkannya saja dirinya tidak ingin dan mencoba untuk melangkahkan kakinya mendekati anak-anak itu.

"Boleh aku ikut bermain?" Tanyanya saat dia sudah sampai di daerah taman tempat anak-anak itu bermain. Melihat anak-anak itu bermain bersama membuat dirinya sendiri sangat bahagia dan mencoba menciptakan Space Magic miliknya dan mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam seperti telur burung namun tidak berbentuk oval.

"Ayo kita bermain!" Ucapnya seraya menentang bola itu di atas kakinya dan terus menerus menedangnya. Senyuman di wajahnya merekah kala ia melakukan Juggling pada bola yang ia buat sendiri dan kemudian menangkap bola itu di kedua tangannya.

"Ayo anak-anak, Aku ingin kalian membagi menjadi 2 kelompok! Kita akan memainkan benda ini." Mendengar perkataan Naruto anak-anak itu mulai berlarian dan berpisah menjadi 2 kelompok, Dimana masing-masing kelompok berisi 5 orang.

"Baik, Peraturannya sederhana..." Ucapnya seraya membuat lingkaran sihir dan dua buah pilar terbangun di taman bermain itu "... Kalian hanya perlu memperebutkan bola ini dan memasukkannya ke dalam pilar-pilar yang aku buat. Kalian juga tidak di perolehan menggunakan tangan untuk membawa bola itu kedalam pilar, Kalian hanya di perbolehkan menggunakan kaki kalian. Nah, Ayo mulai." Ujarnya sesaat setelah melempar bola ke udara namun ekspetasi tidak seindah kenyataan.

"Ambil bola itu!" Teriakan seorang anak membuat Naruto tersenyum kecil namun tiba-tiba senyumnya menghilang tergantikan ekspresi kosong.

Buaghh... Buagh... Buaghh...

'Kenapa? Kenapa anak-anak ini malah bertindak anarkis!' Dirinya sendiri sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Anak-anak saling menerjang dengan kaki mereka dan beberapa menyerang menggunakan tinjunya.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan apa yang jabarkan dirinya. Namun dirinya salah karena tidak memberitahukan itu secara detail. Memperebutkan! Di zaman ini memperebutkan berarti menumpahkan darah untuk suatu tujuan tertentu dalam hal ini mencetak gol di gawang lawan namun Naruto sendiri tidak menyangka kalau akan terjadi hal demikian.

"Wind Magic : Blow of the Wind" Ucapnya dan sesaat kemudian sebuah hembusan angin memisahkan anak-anak itu. Namun mereka bukan takut pada hembusan angin melainkan Naruto yang sedang menatap mereka dengan wajah penuh emosi.

Buaghh... Buagh... Buaghh...

10 anak yang memainkan permainan itu mendapati kepala mereka di pukul kepalan tangan Naruto. Beberapa orang hanya menatap Naruto dengan senyum di wajahnya melihat interaksi Naruto dalam mengajarkan permainan yang entah darimana terpikirkan di kepala pemuda itu. Mungkin suatu saat permainan itu menjadi ciri khas dari wilayah Duke Namikaze yang mereka tempat saat ini.

Setelah beberapa pelatihan dan juga penjelasan tentang permainan itu anak-anak mulai bermain dengan baik walaupun Naruto belum memberikan penjelasan tentang peraturan dan juga pelanggaran dalam permainan itu dirinya hanya ingin melihat anak-anak itu bermain dengan senang.

"E-etto... Naruto-sama.."

Naruto mengalihkan pandangannya ke sampingnya saat seorang prajurit Patroli Keamanan atau jika di bumi setara dengan kepolisian menyebut namanya.

"Mu-Mungkin ini terdengar tidak sopan namun bisakah kami meminta benda tersebut? Bu-bukannya apa tapi Tim Patroli selalu memiliki giliran tugasnya jadi saat kami istirahat kami tidak melakukan apapun selain berlatih. Kemudian aku lihat kalau permainan itu tidak berbeda jauh dari pelatihan yang sering kami lakukan jadi bi-bisakah anda..." Ucapan penjaga itu terhenti saat sebuah bola Naruto lemparkan ke arah penjaga itu dan Naruto tersenyum ke arahnya.

"Tenang saja, Aku memang ingin memberikan bola itu ke pos-pos penjaga. Yah, Setidaknya kalian memiliki hiburan di saat senggang. Jadi, lanjutkan kerja bagus kalian." Ucap pemuda itu dan penjaga itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan patrolinya.

'Hmm... Aku harus pergi menemui paman Inoichi untuk mendiskusikan penjualan bola sebagai produk khas dari wilayah ini. Mengingat di zaman ini tidak ada bola, mungkin saja nilainya akan sangat mahal.' Pikirnya dan kemudian melenggang pergi sebelum orangtua anak-anak itu memberikan beberapa barang kepada Naruto namun dirinya menolak pemberian tersebut kecuali untuk sebotol susu yang ia terima dari orangtua anak-anak tersebut.

Namun, Sayangnya Naruto tidak tau jika bola yang ia ciptakan akan menjadi suatu olahraga yang sangat disukai oleh para bangsawan hingga nantinya akan terlahir turnamen Magic Football pertama di dunia ini.

...

...

'Oke, Proposal ku sudah di terima paman Inoichi.'

Langkah kaki Naruto saat ini beralih ke arah hutan. Hutan yang lumayan luas dan indah belum lagi suara arus sungai yang sangat kuat membuat suatu ide memasuki kepalanya. Jika saja dirinya berhasil melobby orang-orang dan juga memerintahkan Hassan untuk menyebarkan rumor tentang objek wisata ini maka...

'Uang akan mengalir dengan sendirinya bwahahahaha.'

Langkah kakinya ia percepatan hingga sampai di depan mansion Nara dimana dirinya sendiri melihat kalau Marquees Akimichi saat ini, Akimichi Chouza baru saja keluar dari mansion tersebut.

"Hoho... Ada apa dengan kedatangan tuan kita ini tanpa pemberitahuan, Shikaku?" Walaupun terdengar provokatif namun nyatanya itu hanyalah candaan yang Chouza lontarkan tiap kali mereka bertemu. Bahkan dari ingatan yang ia tau, Chouza selalu menggoda dirinya. Entah kenapa teman-teman ibunya ini sedikit menyebalkan dari dulu hingga sekarang namun merekalah sosok paman yang selalu menjaga Naruto kecil dan bersama-sama menjaga kesetabilan wilayah ini.

"Lama tidak bertemu, Chouza Jii-sama, Shikaku Jii-sama." Sapanya. Chouza sendiri hanya tersenyum melihat pemuda di depannya ini, Berkarisma, Tampan, dan juga memiliki jika kepemimpinan yang sangat kental mirip seperti ayahnya.

"Senang bertemu dengan mu, Naruto. Ada gerangan apa kamu kemari? Orang sesibuk dirimu kemari dengan sendirinya pasti tidak mungkin bukan hanya sekedar berkunjung dan juga menyapa paman mu ini?" Tanya Shikaku. Orang yang merupakan salah satu ahli strategi yang terkenal jenius tanpa pendidikan khusus karena pada dasarnya orang-orang dari klan Nara memang terkenal dengan kejeniusannya di benua Barat bahkan menarik perhatian dari Kaisar Romanov V untuk melayani Kekaisaran. Permintaan yang langsung di tolak kepala klan Nara karena pada saat itu Klan Nara sudah menjadi pengikut dari pasukan yang di Pimpin Vasco Strada.

"Hehe... Bisakah paman bersikap biasa saja sebelum kita masuk ke aula pertemuan? Kalau paman sudah tidak sabar silahkan pimpin diriku ini ke Aula pertemuan." Ucap Naruto namun matanya seketika mengekor Chouza yang mulai mendekati kereta kuda miliknya. "Ahh... Paman Chouza, Aku juga kemari karena ingin mendiskusikan hal yang sama denganmu." Ucapnya yang tentu saja membuat Chouza menatap Naruto dengan pandangan yang seakan mengatakan kalau dirinya tertarik dengan apa yang akan di ajukan pemuda itu.

Mereka bertiga berjalan dengan santai dan terkadang beberapa Maid dan juga Butler menyapa Naruto karena mereka sudah mengenal Naruto sejak dirinya masih menjadi bocah yang sangat berisik. Bukan saja para pelayan senior namun juga pelayan-pelayan baru yang melayani kediaman Marquees Nara dan juga kepala klan Nara saat ini menyapa Naruto dan mengucapkan rasa terima kasih mereka yang sangat mendalam hingga akhirnya ketiga orang tersebut sampai di sebuah pintu yang merupakan pintu masuk Aula pertemuan.

Naruto menempati tempat duduk di pinggir sebelah kiri dan Chouza duduk di kursi sebelah kanan membiarkan Shikaku sebagai Chairman membuka acara saat ini.

"Baiklah, Karena kedatangan tuan kita, Naruto-sama, Dengan maksud tertentu mari kita mulai pertemuan kali ini." Shikaku sebagai Chairman mulai membuka pembicaraan karena pada dasarnya memang kedatangan Naruto memiliki maksud tertentu kemari.

Merasa sudah saatnya ia berbicara Naruto mengeluarkan peta wilayah kerajaannya dan juga menunjuk sebuah lahan berwarna hijau yang pastinya di ketahui sebagai hutan dan sebuah garis berwarna biru yang mereka tau kalau itu adalah sungai dan Naruto mulai menjelaskan.

"Disini, Wilayah hutan dari Marquees Nara dan juga Marquees Akimichi. Sebelum kemari aku melewati hutan tersebut dan terkagum dengan kawasan tersebut dan sebuah ide terlintas. Kenapa aku tidak memanfaatkan hutan ini sebagai lahan pariwisata yang dapat menjadi sumber pemasukan wilayah? Itulah pikir ku. Bagaimana menurut Shikaku-dono dan juga Chouza-dono?"

"Menurutku itu adalah gagasan yang bagus namun apakah hanya dengan pemandangan hutan saja dapat mengundang pengunjung kemari?" Argumen di balas Argumen, Disini adalah meja panas. Orang yang ada di dalam ruangan ini bukanlah musuh berbeda fraksi namun tetap saja harus menimbang baik buruknya dan juga gagal atau tidaknya sebuah proyek.

"Tentunya aku juga berfikir demikian namun setelah melihat lokasi hutan tersebut ada sebuah sungai yang mana sungai itu terlihat seperti ngarai. Aku sendiri sudah melihat lokasi tersebut dan pemandangannya sangat bagus da-" Belum selesai Naruto menyatakan maksud dari gagasannya, Ucapannya sudah di potong oleh pria berjangut dengan model rambut bagaikan buah nanas.

"Maafkan aku kalau menyela perkataan anda, Namun apakah hanya dengan pemandangan dari ngarai dapat menarik minat pengunjung?"

"Aku juga sudah memikirkannya maka dari itu aku sudah membuat langkah antisipasi dan menyiapkan sebuah permainan yang menantang adrenalin mengingat arus sungainya yang terbilang sangat kuat. Belum lagi dalam perjalanan keluar dari hutan aku menemukan batu indah ini." Ujarnya seraya menaruh batu tersebut ke atas meja. Batu itu terlihat seperti permata Ruby namun itu bukanlah ruby.

"Ahhh... Gemstone of Forest, Itu bukanlah permata tuan ku namun itu hanyalah batu biasa. Jika di perumpakan hutan adalah pantai maka Gemstone tersebut adalah lautnya." Chouza yang melihat batu yang dibawa Naruto menaikkan suaranya dan memberitahu jikalau batu tersebut bukanlah permata.

"Baguslah kalau begitu."

"Apanya yang bagus tuanku?" Tanya Shikaku. Dirinya sendiri sangat bingung dengan rencana-rencana Naruto namun mengingat setiap rencana Naruto dalam mengembangkan wilayah ini tidak pernah meleset maka dirinya hanya meminta penjelasan saja.

"Kalian tau kan sifat seorang bangsawan? Bangsawan akan memiliki hobi untuk mengkoleksi barang-barang mewah. Semakin mewah koleksinya semakin tinggi strata bangsawan tersebut, bukan begitu?" Ujar Naruto dan karenanya kedua pria yang menyandang status sebagai Marquees itu semakin bingung dengan maksud tersembunyi dari perkataan Naruto. Sedangkan Naruto? Dirinya hanya tersenyum melihat ekspresi bingung di wajah kedua pria dewasa tersebut.

"Aku berencana mempekerjakan pengrajin permata untuk membentuk batu tersebut sedemikian rupa. Tidak perlu master pengrajin dengan pengalaman kerja yang sangat lama namun pengrajin biasa yang membuka lapak pinggir jalan pun dapat ku pekerjakan. Mengingat tekstur dari batu ini yang berbeda dari permata belum lagi jika ada kesalahan dalam pengerjaannya, Kira memiliki banyak sejati batu tersebut bukan? Kita akan menjual Gemstone itu sebagai asesoris khas dari wilayah kita. Jadi bagaimana pendapat kalian?

Diam...

Hening...

Otak kedua pria itu sedang mencerna setiap perkataan dan maksud Naruto. Menggunakan keindahan alam dan juga arus sungai yang kuat sebagai lahan bermain, Lalu menjadikan Gemstone yang pada dasarnya sama dengan sampah menjadi perhiasan? KENAPA MEREKA TIDAK PERNAH BERFIKIR SAMPAI KESANA?

"Itu sangat luar biasa, Naruto-sama! Anda sampai bisa berfikir menggunakan daya tarik alam sebagai media penghasil uang sangat hebat! Saya dan juga Shikaku-dono tidak pernah berfikir sama kesana. Sekali lagi aku kagum dengan wawasan anda. Jadi apalagi yang di tunggu? Aku menyetujui gagasan anda, Tuanku."

"Saya juga sama dengan Chouza-dono, Saya beserta orang-orang dari Klan Nara akan memberikan bantuan besar kepada anda untuk proyek tersebut."

Shikaku dan Chouza, kedua orang yang sangat hebat, Gagasan dan kebijaksanaan Shikaku dan juga kharisma dari Chouza pasti berhasil mengambil beberapa talenta berbakat untuk membentuk Gemstone of Forest menjadi permata yang sangat indah hingga bangsawan berebut untuk memilikinya.

"Aku akan memberikan kalian wewenang untuk mengelola proyek tersebut. Ku rasa hanya itu saja yang harus aku sampaikan, karena Shikaku-dono dan juga Chouza-dono menyetujui gagasan tersebut maka tidak ada yang harus saya sampaikan lagi."

Setelahnya, Kesepakatan antara Naruto dan juga dua Marquees yang bernaung di bawah dirinya berpisah saat Naruto mulai melanjutkan perjalanannya.

...

...

'Hmm... Persiapan persenjataan di Blacksmith sudah ku tuntaskan dengan kedok produksi peralatan pertanian ataupun peralatan dapur. Budidaya Crimson Bloom semakin meluas begitu juga proposal ku tentang penjualan Bola di terima paman Inoichi. Hutan Nara dan juga Hutan Akimichi yang terkenal dengan keindahannya juga penjualan Gemstone of Forest yang pada dasarnya adalah batu biasa namun memiliki keindahan menjadi pemasukan dalam pariwisata. Hmm... Bagaimana dengan pariwisata makanan? Di bumi banyak makanan enak yang tidak ada sama sekali di zaman ini. Yosh! Kita pergi ke Arthuria!'

Langkah kaki Naruto semakin menjadi-jadi saat mengingat temannya itu. Arthuria Pendragon, Anak dari Earl Pendragon yang berafilasi di wilayah Duke Gilgamesh yang pada dasarnya adalah Kakaknya.

Kenapa dia harus pergi ke Arthuria saat ingin mengembangkan pariwisata makanan? Jujur saja, Temannya itu sangat suka dengan makanan. Dirinya sendiri bingung bagaimana cara Arthuria menjaga bentuk tubuhnya sedangkan gadis itu memiliki nafsu makan yang sangat besar apalagi untuk makanan manis.

Mengingat makanan manis Naruto teringat makanan yang di sukai orang-orang di bumi. Makanan yang sangat menyegarkan jika di makan di hari yang panas, Belum lagi setiap perempuan pasti menyukainya. Apalagi kalau bukan Ice Cream, Itulah alasan Naruto menerima pemberian sebotol susu dari orangtua anak-anak yang ia ajari bermain bola.

Pemuda itu langsung berlari ke dalam dapur menghiraukan sapaan dan juga tatapan heran para pelayan karena tidak biasanya tuan mereka sangat tergesa-gesa hanya untuk mencapai dapur istana. Disana ada seorang Beastman yang sedang memasak bersama dengan seorang anak kecil yang mana kedua sosok itu adalah orang-orang yang sudah Naruto selamatkan hidupnya dan memerintahkan mereka berdua untuk tinggal di mansion miliknya.

"Naruto-sama?"

"Ehh.. Nii-chan? Apa yang mau Nii-chan lakukan ke dapur?"

Kedua Beastman itu yang merupakan ibu dan anak merasa penasaran dengan apa yang akan di lakukan Naruto. Ibu dari anak itu saat ini menjadi Koki pribadi dari Naruto karena sudah mengerti tentang keseimbangan antara sayuran dan juga daging sedangkan untuk anaknya, Naruto mengangkat anak tersebut menjadi adik kecilnya.

"Ahh... Aku hanya ingin membuat sesuatu hehe." Ucapnya di senyum khasnya. Pemuda itu berjalan ke arah meja dapur dan kemudian mengeluarkan sebotol susu dari Space Magic miliknya.

"Rine, Bisakah kamu mengambilkan wadah besi itu?" Pinta Naruto seraya jarinya menunjuk ke arah sebuah wadah yang terbuat dari besi tipis dan saat ia menerimanya ia menuangkan susu kedalam wadah tersebut. Menambahkan gula dan juga menambahkan sedikit garam, sebagai perasa ia memasukkan sari buah berry hutan yang ia kumpulkan selama perjalanan kembali ke Mansion miliknya. Kemudian Naruto memerintahkan Rine untuk mengaduk susu tersebut secara perlahan.

"Baiklah, Ayo kita mulai." Ujarnya seraya mulai berkonsentrasi dan memulai sihirnya.

Wind Magic : Blow of the Wind

Water Magic : Spreading Water

Sebuah lingkaran sihir berwarna hijau mulai tercipta dari ketiadaan dengan beberapa aksara sihir yang menghiasi bingkai lingkarannya. Begitupula sebuah lingkaran sihir berwarna biru yang memiliki atribut air mulai tercipta hingga akhirnya Naruto mencoba menggabungkan kedua lingkaran sihir tersebut.

Double Casting Magic : Ice Magic : Frezee Breath

Dua lingkaran sihir berbeda atribut itu mulai menjadi satu menciptakan sebuah lingkaran sihir baru berwarna putih kebiruan dan kemudian dari lingkaran sihir itu tampak angin yang memiliki suhu dingin menyapu permukaan susu yang sedang di aduk Rine, sang Beastman.

'Yah, Ini akan menjadi mudah jika di dunia ini ada kulkas.' Pikiran Naruto sedikit membuat dirinya sendiri sempat kesal namun sedikit demi sedikit susu yang sedang di aduk tersebut mulai menggumpal walaupun tanpa menggunakan tepung sekalipun, hingga beberapa saat kemudian Naruto menghentikan sihirnya karena melihat tekstur dari Ice Cream buatannya susah cukup.

"Imotou-chan, Bisakah kamu panggilan Art-Nee dan juga Touwa-Nee?" Melihat anggukan kepala dari Beastman kecil itu membuat Naruto tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, Yaitu menata Ice Cream ke dalam gelas kaca yang jika di lihat hasil akhirnya sangat cantik.

"Rine-san, Kau mengingat semua yang kita lakukan bukan?" Pertanyaan yang di ajukan di tanggap anggukan kepala dari wanita tersebut. Setelah beberapa bertukar pikiran dan Naruto juga memberikan informasi tentang makanan tersebut. Itupun mereka lakukan sambil menunggu Arthuria datang.

Tap... Tap... Tap...

Suara langkah kaki terdengar di sepanjang koridor dan dari jumlahnya bisa terdengar kalau itu bukan suara langkah kaki 1 orang.

"Naruto-sama! Ada apa anda memanggil kami berdua?" Tanya seorang gadis yang langsung mengambil sikap Ksatria.

"Tidak ada alasan khusu, Aku hanya ingin kalian mencoba ini."Mendengar perkataan Naruto membuat Arthuria sedikit kesal dan menghela nafasnya. Bis-bisanya Naruto memanggilnya kala ia mengawasi para alcemist yang Naruto pekerjaan di proyek pengolahan getah pohon. Hingga dirinya mau tak mau harus melihat sebuah gumpalan berwarna ungu di dalam sebuah gelas.

"Silahkan kalian coba, Itu adalah makanan yang baru aku buat. Dan setelah kalian makan kalian harus memberikan pendapat kalian tentang makanan tersebut. Silahkan di makan." Ucapnya walaupun tidak ada yang mengambil sendok namun Arthuria yang sedari tadi diam langsung mengambil sendok miliknya. Jujur saja dirinya tertarik dengan wangi khas gula yang bercampur menjadi satu di makanan tersebut. Mengambil sedikit seujung sendok dan memasukkan gumpalan itu kedalam mulutnya hingga...

"Enakkkkk..." Mendengar lenguhan kecil dari Arthuria membuat semua orang mencoba memakan makanan tersebut.

"Wahhh... Enak sekali."

"Nii-chan, Rasa dingin dan segar dari Berry hutan memenuhi mulutku."

"Itu benar Naruto-sama, Saat saya menamasukkannya kedama mulut saja makanan ini langsung mencari begitu saja menciptakan sensasi tersendiri."

Empat orang perempuan yang ia undang untuk menjadi pencicip pertama makanan buatannya menyuarakan kesenangan mereka akan Ice Cream. Menunggu para perempuan menghabiskan makanannya, Naruto hanya bisa tersenyum melihat senyum puas di mata mereka.

"Ok baiklah, Dengarkan, Aku sebenarnya memiliki banyak sekali resep masakan manis namun mengingat wilayah ini sedang terjadi kekurangan dana maka aku ingin membuat sebuah restoran dan menjual camilan ini. Bagaimana menurut kalian?" Naruto sangat mengapresiasi semangat kerja dan juga pendapat para perempuan. Karena pada dasarnya memang target penjualan mengarah pada bangsawan perempuan yang ada di sekitaran wilayah miliknya.

"Jika tuanku berkata demikian saya sebagai bawahannya hanya mendukung apa yang akan di lakukan Naruto-sama." Ucap Arthuria seraya ia menempatkan tangannya di depan dadanya.

"Namun tuanku, Masalah yang ada adalah kita tidak bisa menemukan Koki untuk membuat-"

"Oh tenang saja, Kita sudah menemukannya disini." Ucap Naruto dan semua orang mengikuti arah pandangnya kala menemukan bahwa Naruto menatap ke arah Rine. "Tenang saja, Aku sudah membuat beberapa resep masakan dan untuk makanan ini anggap saja hadiah perpisahan untuk dariku."

Arthuria yang mendengar perkataan Naruto membuat dirinya sendiri kesal. Gadis itu langsung mendorong kursi duduk ya hanya untuk mendapati bahwa Naruto sudah mengangkat tangan kanannya bermaksud untuk menghentikan dirinya.

"Setelah ini, Aku ingin sendirian di ruanganku. Arthuria dan Ikki, Kalian bisa datang jika kalian ingin." Ucap Naruto tak kala langkah kakinya membawa keluar dari dapur meninggalkan dapur dalam keadaan sunyi.

...

...

"Apa maksud anda? Anda baru saja sadar 6 bulan yang lalu dan sekarang anda ingin meninggalkan wilayah ini?!" Suara bernada tinggi seorang gadis memenuhi ruang kerja Duke Namikaze. Gadis itu adalah Arthuria, Orang yang selalu bersama Naruto semenjak pemuda itu masih kecil.

"Aku harus memulainya. Pak tua Hassan mengatakan bahwa aku sudah lulus ujian pertama dan sekarang aku harus lulus ujian kedua sebagai seorang penguasa yang ditakuti musuhnya. Tujuan dari pengembaraanku tidak lain dan tidak bukan hanyalah melatih tehnik beladiri supaya aku menjadi lebih kuat. Aku tidak ingin membebani para bangsawan." Ekspresi di wajah Naruto menunjukkan kalau dirinya sangat sedih dan tertekan, Dendam yang harus ia balasan membuatnya tampak menjadi pribadi yang haus akan kekuatan.

"Jika hanya berlatih untuk menjadi kuat, Disini juga kau bisa melakukannya!"

"AKU HARUS MEMBALASKAN KEMATIAN IBU, ARTHURIA!" Teriakan penuh amarah membuat Arthuria terdiam sedangkan untuk seorang pemuda berambut hitam pemuda itu tetap tenang dan sesekali menyesap teh yang ada sebagai teman mengawasi keadaan.

"Aku... Aku... Ibuku meninggal dengan keadaan yang tidak wajar. Pada Hassan sedang bekerja untuk mengumpulkan bukti pembunuhan terhadap ibu dan selama mereka mengumpulkan bukti tersebut aku harus bertambah kuat."

"Aku tau kekuatan kerajaan sangat besar dan bisa di katakan menyamai Kekaisaran namun aku sudah membuat keputusan. Jikalau benar ada intrik yang dimainkan dari dalam kegelapan di kerajaan ini, Aku harus menyibak tirai tersebut dan membawa orangnya."

"Aku sudah menyiapkan puluhan mesin yang aku buat sendiri dan sudah di tangani para Blacksmith. Aku membangun puluhan lumbung untuk cadangan makanan pasukan. Aku terus menerus merekrut orang-orang untuk bergabung denganku semata-mata untuk membalaskan dendam ini. Aku terlalu lemah."

"Apa kau sudah siap dengan segala konsekuensinya?" Kedua orang yang sedari tadi beradu argumen menatap seorang pemuda berambut hitam yang sedari tadi hanya mengawasi keadaan. Ikki, Dirinya sendiri memang mengatakan kalau hanya Ikki dan Arthuria yang diperbolehkan memasuki ruang kerjanya.

"Ya." Ucap Naruto dengan tatapan mata yang sangat tajam.

"Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain membiarkanmu pergi." Pemuda itu sedikit menghela nafasnya karena melihat keyakinan tuannya yang mau tidak mau membuatnya menyerah.

"IKKI."

"Menyerahlah Arthuria, Dia sudah siap dengan konsekuensinya. Peran pemimpin adalah untuk memimpin rakyatnya dan peran rakyatnya adalah untuk mendukung pemimpin tersebut, Jadi sebagai rakyat dan juga keluarganya, Tugas kita tak lain dan tak bukan hanyalah melayani dan mempercayainya. Bukankah tidak ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya seorang Namikaze Naruto?" Penjelasan panjang lebar dari Ikki pada dasarnya memang benar. Namikaze Naruto, Jika sudah memiliki suatu keinginan memang tidak ada yang bisa mengubahnya. Jika ia sudah mengatakan 'A' maka harus di lakukan.

"Kalau begitu, Saya mohon kembalilah jika anda rasa sudah cukup karena keluarga inilah tempat anda pulang."

Mendengarnya mau tak mau membuat Naruto tersenyum. Keluarga? Dirinya sendiri tidak terlalu paham apa arti dari kata tersebut saat ia hidup sebagai korban perang, Seakan-akan seluruh perasaannya menghilang dan menjadi buta dengan kata keluarga. Namun semakin dewasa dirinya semakin sadar kalau keluarga adalah tempat dimana ia diterima oleh orang-orang dan dirinya sudah menemukannya. Dengan senyuman di wajahnya Naruto mulai berjalan ke arah jendela dan pergi tanpa membawa perbekalan yang berarti.

...

...

TuBerCulosis

...

...